cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PENGARUH PARAMETER CUACA TERHADAP PROSES EVAPORASI PADA INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA Trinah Wati; Hidayat Pawitan; Ardhasena Sopaheluwakan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7943.338 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.286

Abstract

Evaluasi perbandingan, analisis korelasi dan regresi antara evaporasi panci dengan parameter cuaca dilakukan pada interval waktu harian, dasarian dan bulanan untuk mempelajari ketergantungan evaporasi panci terhadap parameter cuaca dan untuk menduga evaporasi panci menggunakan parameter cuaca di stasiun Darmaga Bogor, Semarang dan Karangploso. Variasi lima faktor utama yang mengendalikan proses evaporasi antara lain radiasi matahari (lama penyinaran), defisit tekanan uap air, kelembaban relative, kecepatan angin dan suhu udara telah dibandingkan dengan variasi evaporasi panci pada interval waktu harian, dasarian dan bulanan. Defisit tekanan uap air memiliki pengaruh dominan dengan evaporasi panci pada semua interval waktu di Darmaga dan Semarang, sedangkan di Karangploso pada interval waktu harian dan dasarian. Kecepatan angin juga memiliki pengaruh dominan dengan evaporasi panci di Karangploso pada interval waktu dasarian dan bulanan. Pemodelan evaporasi panci menggunakan parameter cuaca yang dominan berpengaruh terhadap proses evaporasi menghasilkan persamaan model yang cukup baik dengan nilai R2 > 0,50, berdasarkan validasi data model dengan observasi memiliki. secara keseluruhan kesalahan hasil validasi antara data model dengan data pengamatan kurang dari 12%.. Tren evaporasi panci di Darmaga menunjukkan peningkatan dengan koefisien determinansi > 0.5, sedangkan di Semarang dan Karangploso secara statistik belum mengalami kecenderungan perubahan evaporasi. Comparative evaluation, correlation and regression analysis of pan evaporation with other meteorological variables at daily, 10-daily and monthly time-scales were conducted to learn the dependence of pan evaporation to other meteorological variables and to estimate pan evaporation using other meteorological variables at Darmaga Bogor station, Semarang and Karangploso. Five major factors that control evaporation were solar radiation (sunshine duration), vapor pressure deficit, relative humidity, wind speed and air temperature, which were compared at the different time-scales. Vapour pressure deficit had a good correlation with pan evaporation at all time-scales in Darmaga Bogor and Semarang, while in Karangploso at daily and 10-daily time-scale. Wind speed also had a good correlation with pan evaporation in Karangploso at 10-daily and monthly time-scale. The variable that has the best correlation with pan evaporation in each station was chosen as a predictor for estimating pan evaporation. The Result of Pan evaporation estimation using a meteorological variable that had the best correlation was good with R2 > 0,50, and the result of validation to observation data showed errors less than 12% for all time scales. Trends of pan evaporation in Darmaga Bogor showed increasing while in Semarang and Karangploso statistically not yet showed a trend change.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS RADIO INTERNET Dian Oktari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.113 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.43

Abstract

Penggunaan Ranet tidak hanya untuk desiminasi informasi gempabumi dan tsunami, tetapi juga untuk desiminasi informasi meteorologi dan klimatologi. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadikan informasi yang terdapat di Ranet ditampilkan lebih dinamis berdasarkan area (spasial), yang didukung oleh proses query yang cepat dengan menampilkan atribut: lokasi Ranet, nama kabupaten, toponimi dan mampu dioverlay dengan tema lainnya. Dari teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) diharapkan informasi gempabumi dan tsunami dapat diproses secara spasial dan didesiminasikan secara interaktif. Radio Internet (Ranet) is not only for information dissemination of earthquakes and tsunamis, but it can be used for information dissemination of meteorology and climate. Geographic Information System (GIS) technology makes Ranet information is shown more dynamically based on spatial, which is provided by quick query that shows attributes: Ranet location, name of regency/district, toponimi, and could be overlaid with another layer. From Geographic Information System (GIS) technology earthquakes and tsunamis information can be processed in a spatial way and can be disseminated interactively.
AQUIFER VULNERABILITY EVALUATION IN SOUTHWESTERN NIGERIA FROM AHP-GODT MODEL USING GEO-ELECTRICAL DERIVED PARAMETERS Saminu Olatunji; Ahmed Muyiwa Emiola; Adewale Warith Adebisi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.164 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i1.764

Abstract

The study aimed  to determine the exposure levels of the subsurface aquiferous layers, owing to the alarming rate of contamination of the groundwater within 8.150 0N - 8.156 0N and 4.244 0E - 4.248 0E. Thus, aquifers' overlying layers, resistivity, and thickness anomalies were determined to generate an aquifer vulnerability map. A multi-criteria decision method of estimated Groundwater confinement, Overlying strata, Depth to Aquifer, and Topography index approach was implemented. Schlumberger's Vertical Electrical Sounding technique was implemented to acquire 30 Vertical Electrical Sounding points under a maximum half-current electrode separation (AB/2) of 65 m. IP2Win geophysical software packages were used to analyze the varying layer resistivity, depth, thickness, and also the sounding curves of the study area. The 2D model revealed a maximum of four geo-electric layers. The layers' resistivity and thickness ranges are clayey silt topsoil (52.5-1104 Ωm; 0.5-9.59 m), weathered layer (10.3-804 Ωm; 0.6-12.1 m), fractured basement (5.5-50832 Ωm; 6.7-18.1 m) and fresh basement (8.3-27348 Ωm; infinity m). On the Groundwater Overlying Strata Depth to Aquifer and Topography model scale, the area is generally characterized by the moderate vulnerability. Implying here is that aquifers have a moderate protective capacity in which the overlying strata above the aquifer are mostly impermeable layers (clay and silt) of high thickness and low porosity.
Pengaruh Tenggang Waktu (Time Lag) Antara Curah Hujan Dengan Suhu Permukaan Laut Nino 3.4 Terhadap Performa Model Prediksi Hujan Woro Estiningtyas
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.085 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v8i1.8

Abstract

Dalam pengembangan model prediksi hujan, berbagai skenario dan  modifikasi input dilakukan untuk mendapatkan performa model yang lebih baik. Demikian juga dengan pengembangan model prediksi hujan dengan metode Filter Kalman. Dalam penyusunan modelnya, metode ini menggunakan suhu permukaan laut (SPL) Nino 3.4 sebagai inputnya. Skenario input dilakukan berdasarkan indikasi adanya hubungan beda waktu antara curah hujan dengan SPL Nino 3.4. Hasil analisis pewilayahan hujan di Propinsi Jawa Tengah menghasilkan 7 kelompok hujan, dengan sebaran rata-rata curah hujan tahunan pada setiap kelompok adalah : 1869 mm (kelompok 1), 1925 mm (kelompok 2), 1099 mm (kelompok 3), 3226 mm (kelompok 4), 2096 mm (kelompok 5), 2218 mm (kelompok 6) dan 2077 mm (kelompok 7). Berdasarkan sebaran pada setiap kelompok hujan, maka hasil validasi model pada umumnya memperlihatkan performa yang cukup baik. Hal ini ditandai oleh beberapa nilai parameter validasi yang cukup tinggi, seperti koefisien korelasi (r) validasi yang sebagian besar lebih dari 90%, r model lebih dari 69%, dan RMSE kurang dari 47%. Demikian juga rata-rata dari setiap stasiun menghasilkan r validasi lebih dari 94%, r model lebih dari 75%, dan RMSE kurang dari 36%. Perlakuan skenario time lag 0, 1 dan 2 bulan untuk Jawa Tengah sebagian besar  memberikan pengaruh positif terhadap performa model prediksi hujan. Berdasarkan frekuensi kontribusi nilai koefisien korelasi validasi tertinggi serta persentase kontribusi nilai r validasi tertinggi terutama pada setiap stasiun hujan maupun pada setiap kelompok hujan, maka skenario time lag yang dominan untuk Jawa Tengah adalah 2 bulan.
PENENTUAN NILAI AMBANG VARIABILITY INDEX (VI) SERTA NILAI INTENSITAS CURAH HUJAN OPTIMAL DALAM MELAKUKAN ESTIMASI CURAH HUJAN DI INDONESIA MENGGUNAKAN METODE CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE HASIL MODIFIKASI (CSTm) Endarwin Endarwin; Bayong Tjasyono H. Kasih; Dodo Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9273.302 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i1.141

Abstract

Penentuan nilai ambang dari metode Variability Index (VI) yang digunakan dalam melakukan separasi konvektif dan stratiform serta penentuan nilai intensitas curah hujan optimal baik untuk konvektif maupun stratiform guna menentukan estimasi curah hujan di Indonesia dilakukan pada penelitian ini. Dengan melakukan perubahan terhadap nilai ambang yang telah ada sebelumnya serta pengujian terhadap tingkat akurasi yang dapat diperoleh sebagai dampak dari perubahan tersebut maka nilai ambang baru yang dapat digunakan untuk melakukan separasi konvektif dan stratiform di Indonesia dapat ditentukan. Demikian pula untuk intensitas curah hujan konvektif, dengan mempertimbangkan nilai simpangan rata-rata terkecil terhadap kondisi riilnya dari hasil estimasi curah hujan yang seluruhnya dianggap konvektif, maka nilai optimal dari intensitas curah hujan konvektif di Indonesia dapat diketahui. Dengan memanfaatkan nilai ambang serta nilai intensitas konvektif yang telah ditentukan lebih dahulu, nilai intensitas curah hujan stratiform dapat ditentukan melalui pemanfaatan variasi nilai yang mungkin digunakan  dikaitkan dengan perolehan tingkat akurasi yang dapat diperoleh. Khusus untuk penentuan intensitas curah hujan konvektif dan stratiform, berbagai pendapat para peneliti sebelumnya juga digunakan sebagai dasar pertimbangan. Terakhir, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai optimal yang diperoleh untuk nilai ambang VI adalah 14, adapun intensitas curah hujan konvektif dan stratiform masing-masing adalah 26 mm jam-1 dan 0,8 mm jam-1.  Determination of new Variability Index (VI) threshold and optimal convective and stratiform rain rates were carried out in this research. By making changes to the existing threshold in the rainfall estimation process and in the accuracy test of estimation results, the new threshold value of VI can be determined. Likewise, by considering the smallest value of average deviation against the observation results, the convective rain rate can be determined. Both VI threshold and convective rain rate results could then be utilized for the determination of the stratiform rain rate by acquisitioning  the accuracy value using the possible value of variation rain rate.  Results of previous studies also is taken intoconsideration in determining the convective and stratiform rain rate . Concusively, the results of this research shows that the optimal value of VI is 14, whilst the convective rain rate is 26 mm h-1 and stratiform rain rate  is 0.8 mm h-1. Thus, these results can be used in modification of Convective and Stratiform Technique (CSTm) to estimate the rainfall in Indonesia with better estimation. 
AIR-SEA INTERACTION MECHANISMS IN THE GENERATION OF PERSISTENCE LOW PRESSURE AREA OVER THE EASTERN INDIAN OCEAN SOUTHWEST SUMATERA OBSERVED DURING THE INDONESIA PRIMA 2017 FIELD CAMPAIGN Siswanto Siswanto; Edi Kusmanto; Sri Puji Rahayu
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.101 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.523

Abstract

Pengamatan laut bawah permukaan sampai kedalaman 1000m telah dilakukan selama Expedisi Indonesia PRIMA 2017 dengan meluncurkan instrumen Conductivity Temperature Depth (CTD). Terdapat tujuh stasiun CTD yang terletak di jalur ArusKatulistiwaSelatan (South Equatorial Current, SEC). Pengamatan atmosfer telah dilakukan dengan pelepasan balon radiosonde hingga ketinggian 17 km dan pengamatan meteorologisinoptiktiap jam di atas kapal. Makalah ini membahas analisis data kelautan bawah permukaan (suhu dan salinitas)serta konvektifitas atmosfer yang diperoleh pada saat etape I expedisi menuju 12LS 85BT untuk menyelidiki kemungkinan terusan massa air Arus Lintas Indonesia(ARLINDO) di Samudra Hindia dan kaitannya dengan dinamika pusat tekanan rendah atmosfer di Samudera Hindia barat daya Sumetera. Analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi timbal balik laut-atmosfer pada saat berkembangnya daerah tekanan rendah di Samudera Hindia barat daya Sumatera yaitu keberadaan kolam air yang lebih panas (>28C) dari sekitarnya yang berasosiasi dengan pusat tekanan rendah atmosfer di atasnya. Kolam air hangat berasal dari massa air intrusif yang diduga berkaitan dengan penetrasi massa air ARLINDO di Samudera Hindia. Sea sub-surface observations down to 1000m depth have been done during Expedition Indonesia PRIMA 2017 Indonesia by launching Conductivity Temperature Depth (CTD) instrument. There are seven CTD stations located on the South's Equatorial Current (SEC) pathway. Observations of the atmosphere have been done by releasing radiosonde balloons up to a height of 17 km and the hourly synoptic meteorological observation on board. This paper discusses the analysis of sub-surface marine data (temperature and salinity) as well as atmospheric convectivity obtained at the ship time of Stage I of the Expedition towards 12S 85E to investigate the possibility of Indonesia Throughflow (ITF) water masses penetration in the Indian Ocean and its relation to the dynamics of the atmospheric low-pressure center in the Indian Ocean southwest of Sumatera. The analysis shows that there is an air-sea interaction at the time of the development of the low-pressure-area in the region i.e. the presence of a warm pool region (> 28°C) associated with a low-pressure atmospheric center. The warm pool is possible came from intrusive water masses suspected to be associated with ITF's water mass penetration in the Indian Ocean.
ANALISIS PEMETAAN SAMBARAN PETIR AKIBAT BANGUNAN BTS TERHADAP LINGKUNGAN DAN SEKITARNYA DI KOTA MEDAN Lestari Naomi Lydia Pandiangan; Wisnu Wardono; R. B. Yanuar Harry
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.422 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.68

Abstract

Sumatera bagian utara mempunyai daerah potensi rawan petir karena daerah ini mempunyai topografi yang memungkinkan tumbuhnya awan-awan konvektif di sekitar lereng pegunungan arah timur seperti kota Medan. Bencana petir dapat berupa serangan petir yang mengganggu transmisi listrik tegangan tinggi, dan dapat merenggut nyawa bagi yang terkena serangan langsung. Begitu besar bahaya yang ditimbulkan akibat adanya sambaran petir ini, sehingga masyarakat perlu waspada dan hati-hati pada saat terjadi hujan disertai petir, apalagi bagi masyarakat yang tinggal berada di bawah atau di sekitar menara BTS (base tranceiver station). Hal ini dikarenakan secara umum petir akan dominan menyambar bagian-bagian di permukaan bumi yang memiliki struktur tinggi (gedung-gedung tinggi, tower BTS, menara transmisi tegangan tinggi) dan dominan memilih struktur yang terbuat dari material konduktif seperti metal. Adanya analisis pemetaan sambaran petir akibat bangunan BTS terhadap lingkungan dan sekitarnya di kota Medan dapat membantu semua pihak dalam meminimalisir resiko bencana yang diakibatkan oleh sambaran petir. Berdasarkan hasil overlay peta klasifikasi intensitas sambaran petir menunjukkan intensitas petir tinggi terdapat pada kecamatan yang banyak terdapat bangunan BTS. Northern Sumatra has a lightning-prone areas because it has topography that allows the growth of convective clouds around the mountain slopes direct to the east, such as Medan. Lightning disasters can manifest as lightning attack which with interfere the high voltage electricity transmission, and can be fatal whoever who comes into direct contact with it. The danger caused by a lightning strike is so great, so that the community has to be extra needs to be vigilant and cautious at the time of rain accompanied by lightning, especially for those living under or around the base tranceiver station (BTS). This is because lightning generally prefer to strike parts of the earth that has high structures, such as tall buildings, tower base stations, high voltage transmission towers and are more attracted to structures that made of conductive material like  metal. With the existence of the mapping analysis of lightning strike because of BTS Building towards the environment and its surrounding in Medan can help all parties in minimalize the risk of disaster caused by lightning strikes. Based on the intensity classification map overlay, it is shown that the intensity of a lightning attack high in the area that has many BTS buildings.
ANALISIS MODEL PREDIKSI AWAL MUSIM HUJAN DI SULAWESI SELATAN Alimatul Rahim; Rini Hidayati; Akhmad Faqih; Mamenun Mamenun
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3985.073 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.269

Abstract

Model prediksi awal musim hujan merupakan salah satu kunci yang dapat digunakan untuk mengurangi resiko kegagalan panen padi yang disebabkan oleh faktor iklim di provinsi Sulawesi Selatan. Model prediksi awal musim hujan dibangun  dengan menggunakan data curah hujan observasi Sulawesi Selatan dan anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik dan perairan Sulawesi. Pada studi ini dilakukan analisis pemilihan stasiun hujan observasi, penentuan awal musim hujan, analisis komponen utama dan pengelompokan, analisis korelasi awal musim hujan terhadap anomali suhu muka laut, pembangunan model untuk prediksi awal musimhujan dan verifikasi model.Hasil analisis awal musim hujan menunjukkan setiap stasiun hujan mempunyai perbedaan awal musim hujan dengan rata-rata jatuh pada Julian Date (JD) ke-348 (14 Desember). Berdasarkan hasil analisis PCA dan cluster, diperoleh bahwa di Sulawesi Selatan terbagi menjadi 3 cluster wilayah. Cluster 1 mempunyai pola hujan lokal, sedangkan cluster 2 dan 3 mempunyai pola hujan monsun. Pada peta korelasi antara awal musim hujan di Sulawesi Selatan dan anomali suhu muka laut menunjukkan bahwa terdapat korelasi nyata(r≥0.5) antara kawasan Pasifik dan Laut Sulawesi pada cluster 1 dan 2 pada bulan Juni Juli Agustus September(JJAS). Sedangkan pada cluster 3, korelasi nyata hanya pada bulan Juni di perairan Sulawesi. Model prediksi AMH terbaik, pada cluster 2 terdapat di domain prediktor kawasan pasifik dengan nilai r=0.82, sedangkan pada cluster 1 dan 3, terdapat di domain perairan Sulawesi dengan nilai r=0.78 dan r-0.48. Verifikasi model terpilih pada cluster 3 mempunyai RMSE = 3, sedangkan cluster 1 dan 2, nilai RMSE berturut-turut sebesar 16 dan 29. Model prediction of rainy season onset is one of the keys to reduce the risk of paddy harvest failure because of the climate factor in South Sulawesi province. The model prediction for rainy season onset was build using rainfall data in South Sulawesi and SST anomaly in the Pacific Ocean and Sulawesi Sea. This research is conducted to select the rainfall station, determine onset using rainfall data, analyze PCA and cluster, make a correlation between onset and SST anomaly, develop onset model prediction, and verify the selected model. The onset analysis showed that every rainfall stations have different onset with average is on the 348th of Julian Date (December 14th). Based on the PCA and cluster analysis, there were three clusters of rainfall regions. Cluster 1 has a local pattern, Cluster 2 and 3 have a monsoonal pattern. On the map of correlation between onset in South Sulawesi and SST anomaly showed that there were strong correlations with the Pacific Ocean and Sulawesi Sea in clusters 1 and 2 on JJAS. Moreover, it has a weak correlation in cluster 3 in June in the Sulawesi Sea. The best AMH model prediction for cluster 2 was on the Pacific Ocean domain with r=0.82, on cluster 1 dan 3 was on the Sulawesi sea with r=0.78 and r=0.48. The selected model verification showed that the smallest RMSE (RMSE=3) was on cluster 3, moreover, on clusters 1 and 2, the RMSE model was 16 and 29. 
IMPORTANCE OF UPDATING FOR MONTHLY RAINFALL PREDICTION BASED ON ECMWFs4 Achmad Maulana Rafi; M. Ryan; A. Kurniawan; E. F. Wua
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.944 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.803

Abstract

There is uniqueness in climate services in East Java. Rainfall information is delivered as N-1 analysis for ongoing months N+1, N+2, and N+3 for monthly prediction. This study aims to investigate whether updating monthly predictions improves prediction accuracy. The verification method for this study is based on the percentage accuracy of the rain class category according to SNI 8196: 2015. The data used for this study is ECMWF's monthly rainfall prediction that has three lags system (1, 2, and 3). Rasters of monthly rainfall interpolation from the main rainfall observation (197 locations) in East Java from April 2015 to May 2020 (62 months) are used for the verification process. The temporal and spatial analysis then conducted using R (+ package raster). Studies based on the local governmental zone are also used. In general, the result shows that almost all months need updating, except April-September-October. Verification of ECMWFs4 shows a better verification result (0,56) in the past five years (2016-2020) for March. The regions that need monthly updating are Bawean island, the coast of Gresik, Pasuruan, and Banyuwangi
APLIKASI SENSOR SHT11 PADA PENGUKURAN SUHU TANAH Adi Bagus Putranto; Bayu Imbang Laksono; Boko Nurdiyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.016 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i1.34

Abstract

Penelitian tentang prekursor gempa bumi skala besar sedang dilakukan. Salah satu parameter yang diteliti adalah suhu tanah. Pengukuran suhu tanah secara elektronik dapat menggunakan sensor SHT11 yang merupakan sensor suhu dan kelembaban yang cukup akurat pada rentang suhu 20-30 °C. Sensor ini telah dilengkapi dengan ADC 14 bit dan hanya menggunakan 2 kabel untuk transmisi data digital dan 2 kabel untuk catu daya. Kajian ini menjelaskan aplikasi sensor SHT 11 untuk pengukuran suhu tanah yang dilakukan pada kedalaman 1 m 3 m dan 5 m. Hasilnya didapat data suhu yang cukup baik, meskipun belum terukur tingkat kehandalan dan ketahanan alat ini pada masa pengukuran yang lama secara terus-menerus. Large scale earthquake precursors have being in research. Soil temperature is one of many earthquake precursors being investigated. SHT11 is relative humidity and temperature sensor as used in this electronically soil temperature measurement apparatus. The sensor temperature property in 20-30 °C range has good accuracy with it’s integrated  14 bit ADC. We need 4 wire connection, 2 for digital data transmission and another 2 for power supply. . This paper describes SHT11 application  for  soil temperature’s sensor. The soil temperature measurement will do in 1 m, 3 m and 5 m depth. This device got good temperature data, although reliability and durability is unknown for long and continuously measurement time.

Page 9 of 31 | Total Record : 310