cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PENGARUH FENOMENA SUNSPOT TERHADAP VARIASI SUHU UDARA DAN KELEMBAPAN RELATIF DI KOTA MEDAN Yosafat Donni Haryanto; Nelly Florida Riama; Dendi Rona Purnama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.525 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.781

Abstract

Pengaruh aktivitas Matahari terhadap cuaca dan iklim telah menjadi topik penelitian setelah siklus 11 tahunan sunspot ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sunspot terhadap variasi suhu udara dan kelembapan relatif (RH) di Kota Medan. Dalam penelitian ini digunakan data rata-rata harian suhu udara dan RH selama 30 tahun dari tahun 1985 – 2014 di Stasiun Meteorologi Kualanamu yang diperoleh dari BMKG. Sementara itu, data bilangan sunspot (sunspot number) harian tahun 1985 – 2014 diperoleh dari Solar Influences Data Analysis Center (SIDC) - The Royal Observatory of Belgium (RWC). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien determinasi R² antara sunspot number dengan parameter suhu udara dan RH secara berturut-turut adalah 0,9 dan 2,2. Sementara itu, koefisien korelasi antara sunspot number dengan parameter suhu udara dan RH secara berturut-turut adalah -0,058 dan 0,038. Semua variabel menunjukkan p-value <0,05 yang berarti signifikan secara statistik. Sehingga, peningkatan bilangan sunspot berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan suhu udara dan peningkatan RH di Kota Medan.
PRAKIRAAN CURAH HUJAN TAHUN 2008 MENGGUNAKAN TEKNIK NEURAL NETWORK DENGAN PREDIKTOR SEA SURFACE TEMPERATURE (SST) DI STASIUN MOPAH MERAUKE Robi Muharsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.949 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i1.29

Abstract

Banyak faktor yang memepengaruhi terjadinya hujan, salah satunya adalah Suhu Muka Laut atau Sea Surface Temperature (SST). Dibuat suatu hubungan bahwa SST bulan ke-n-1 mempengaruhi curah hujan bulan ke-n. Data SST kemudian dikorelasikan dengan data curah hujan, sehigga diperoleh SST Terpilih yang berpengaruh banyak terhadap besarnya curah hujan di suatu wilayah. Besarnya curah hujan dapat diprediksi dengan teknik neural network. Pada teknik ini digunakan data masa lampau untuk mempelajari sifat hubungan antara SST dan curah hujan sehingga nanti dapat digunakan untuk memprediksi curah hujan di masa yang akan datang. Teknik neural network terdapat pada Add-In Forecaster X. Dengan Add-In Forecaster XL ini  akan diprediksi besarnya curah hujan pada tahun 2008 di Stasiun Meteorologi Mopah Merauke. Data curah hujan selama 10 tahun (1998 – 2007) digunakan sebagai data target dan data SST Terpilih selama 10 tahun (1998-2007) digunakan sebagai data input. Untuk mendapatkan prediksi curah hujan tahun 2008 digunakan data SST Terpilih untuk tahun 2008 sebagai data input. Validasi dilakukan terhadap hasil prediksi dengan data observasi tahun 2008 untuk menguji keakuratan Add-In forecaster XL dalam memprediksi curah hujan bulanan. Many factors can make rainfall, such as sea surface temperature (SST). We made a relationship that SST in this month will influence the rainfall in the next month. SST data and rainfall data will make a correlation. It makes a preference SST and it influences to rainfall at an area. An immensity rainfall can make a prediction by neural network technique. We used the last data to know the relationship trait between SST and rainfall for this technique. It will be use to make a rainfall prediction in the next time. Neural network technique obtains in Add –In Forecaster XL. It can make a rainfall prediction in 2008 at Meteorology Station of Merauke. Rainfall data used by data target and preference SST used by data input since 10 years (1998-2007). A preference SST in 2008 as a data input used to get a rainfall prediction in 2008. A validation made by prediction process with observation data in 2008 to try an Add-In forecaster XL accuracies when make rainfall prediction in the next time.
KARAKTERISTIK CURAH HUJAN ABAD 20 DI JAKARTA BERDASARKAN KEJADIAN IKLIM GLOBAL Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.863 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i3.165

Abstract

Variabilitas iklim di Benua Maritim Indonesia (BMI) dipengaruhi oleh dinamika iklim global maupun regional terutama yang terkait dengan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD) dan sistem sirkulasi monsun Asia-Australia. Untuk mempelajari bagaimana pola curah hujan di Jakarta pada waktu terjadi fenomena global tersebut, maka pada penelitian kali ini telah dilakukan analisis kuartil. Analisis dilakukan dengan distribusi kuartil tahunan pada tahun-tahun normal yang dibandingkan dengan pada tahun-tahun aktifnya ENSO maupun IOD. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan tahun 1901 hingga 2000 dari Stasiun Jakarta Observatori 745 sebelum pindah ke Kemayoran. Diperoleh hasil bahwa pada saat kejadian El Nino maupun DM+, distribusi curah hujan di Jakarta memiliki kemiripan pola yaitu saat JJA dan SON curah hujan menurun dan saat DJF dan MAM curah hujan meningkat. Sedangkan pada saat kejadian La Nina distribusi curah hujan di Jakarta menunjukkan pola saat JJAdan SON curah hujan meningkat dan saat DJF dan MAM curah hujan cenderung tidak berbeda. Selanjutnya hasil studi ini juga menunjukkan bahwa DM+ mempunyai keterkaitan lebih kuat dibanding El Nino terhadap rendahnya curah hujan di Jakarta sekitar 5 mm hingga 84 mm pada saat JJA dan SON. Sedangkan El Nino mempunyai keterkaitan lebih kuat dibanding DM+ terhadap rendahnya curah hujan di Jakarta sekitar 8 mm hingga 168 mm pada saat DJF dan MAM. Climate variability in the Indonesian Maritime Continent (IMC) is affected by global and regional climate dynamics, especially related to the El Nino Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD) and the Asian-Australian monsoon circulation system. To learn how the pattern of rainfall in Jakarta at the time of the global phenomenon, so in this study has been done quartile analysis. Analyses were performed with annual quartile distribution in normal years are compared with the active years of ENSO and IOD. In this study, the rainfall data from 1901 to 2000 from 745 Observatory Jakarta stations before moving to Kemayoran was used. The results obtained indicate that during El Nino events and DM+, the rainfall distribution in Jakarta have similar patterns, where rainfall decreases in JJA and SON and also rainfall increases in DJF and MAM. Furthermore, the results of this study also showed that compared with El Nino, DM+ is linked more strongly to low rainfall in Jakarta about 5 mm to 84 mm during JJA and SON. Whereas El Nino compared with DM+ is linked more strongly to low rainfall in Jakarta about 8 mm to 168 mm during DJF and MAM.
IDENTIFIKASI MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX (MCC) DAN DAMPAKNYA TERHADAP CURAH HUJAN DI BENUA MARITIM INDONESIA (BMI) SEPANJANG TAHUN 2018 Deni Septiadi; Yudhi Nugraha Septiadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2392.873 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.645

Abstract

One year observation of Mesoscale Convective Complexes (MCCs) over the Indonesian Maritime Continent (BMI) and its impact to the rainfall are analyzed. This study is focused on the area of BMI where the MCCs formed and then the criteria are identified based on the size, initiate, duration, shape, and the eccentricity.  In term of rainfall, this research also confirm that MCCs  will have an impact to the rainfall distribution around the MCCs area.  The first MCCs was developed on March, 15 and covered 348,410 km2 of the area. The most significant of MCCs was contributed to a 108 mm of rainfall occurs on December, 28 with 11 hours of duration and covered 771,448 km2 of area. The lag-time between rainfall and the mature stage of MCCs could be 1-3 hours.  Furthermore, all initiations of the MCC occurred at night with a duration of between 8-15 hours. Throughout the MCCs event,  top cloud of temperature derived by the Multi-functional Transport Satellite (MTSAT)-IR imagery could reached the temperature < -85 °C. Keywords : MCCs, BMI, rainfall, cloud
KAJIAN POTENSI BAHAYA GEMPABUMI DAERAH SUMBAWA BERDASARKAN EFEK TAPAK LOKAL Bambang Sunardi; Daryono Daryono; Januar Arifin; Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Boko Nurdiyanto; Sulastri Sulastri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.171 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.127

Abstract

Telah dilakukan pengukuran mikrotremor di 71 titik di Sumbawa. Daerah penelitian dibatasi pada koordinat 117.21250°-117.22750°BT dan 8.7850°-8.8150°LS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dinamis kondisi geologi lokal diantaranya frekuensi resonansi (fo) dan indeks kerentanan seismik (Kg) serta nilai percepatan getaran tanah (PGA) menurut formulasi Kannai. Pengukuran mikrotremor dilakukan pada masing-masing titik pengukuran selama 30 menit dengan menggunakan Digital Portable Seismograph. Dari analisa data diperoleh nilai frekuensi resonansi (fo) yang relatif tinggi berkisar antara 24,4 hingga 48,14 Hz dan nilai indeks kerentanan seismik (Kg) yang relatif rendah berkisar antara 0,1 hingga 4,8. Hal ini berkaitan erat dengan kondisi geologi lokal berupa batuan yang masif, sehingga daerah dengan frekuensi resonansi tinggi dan indeks kerentanan yang rendah relatif stabil secara seismik. Nilai PGA di daerah kajian berkisar antara 0,25 hingga 0,36 g. Nilai PGA di daerah kajian menunjukkan variasi yang tidak terlalu mencolok yang menunjukkan nilai PGA lebih banyak dipengaruhi oleh input nilai periode dominan di daerah kajian. Microtremor measurements have been done at 71 points in Sumbawa. The research area is restricted to the coordinate 117.22750°-117.21250°E and 8.7850°-8.8150°S. This study aims to determine the local dynamic characteristics including the resonance frequency (fo), seismic vulnerability index (Kg) and peak ground acceleration (PGA) according to Kannai formulation. Microtremor measurements carried out at each point for 30 minutes using Digital Portable Seismograph. From the data analysis obtained the resonance frequency (fo) value are relatively high ranging from 24.4 to 48.14 Hz and seismic vulnerability index (Kg) values are relatively low ranging from 0.1 to 4.8. It is closely related to local geological conditions in the form of a massive rock, so that area with a high resonance frequency and relatively low vulnerability index is seismically stable. PGA values in the study area ranged from 0.25 to 0.36 g. PGA values showed a less variations that indicate PGA value is more influenced by the input value of the dominant period in the study area.
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi di Lahan Tadah Hujan Woro Estiningtyas; Muhammad Syakir
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4764.32 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.406

Abstract

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap curah hujan menjadikan lahan sawah tadah hujan memiliki periode tanam yang terbatas. Sementara curah hujan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Makalah ini menyajikan hasil analisis tentang hubungan perubahan iklim yang dinyatakan dengan perubahan suhu, curah hujan dan konsentrasi CO2 terhadap produksi padi di lahan sawah tadah hujan dengan model simulasi tanaman DSSAT. Lokasi penelitian yaitu Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah dan Ngale, Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Skenario perubahan iklim yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil analisis menggunakan model Coordinated Climate-Crop Modeling Program (C3MP) Sensitivity test Versi 2.0. Uji sensitivitas C3MP dilakukan dengan menyesuaikan kondisi iklim historis untuk mencerminkan perubahan suhu, presipitasi, dan CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim yang diindikasikan melalui perubahan suhu udara dan konsentrasi CO2 sampai tingkat tertentu meningkatkan hasil padi di lahan tadah hujan pada bulan-bulan tertentu, selebihnya berdampak menurunkan produksi.
ANALISIS INTENSITAS CURAH HUJAN WILAYAH BANDUNG PADA AWAL 2010 Annie Hanifah; Endarwin Endarwin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.819 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.95

Abstract

Pada awal 2010 di wilayah Bandung telah terjadi hujan dengan intensitas yang sangat tinggi serta berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini telah mengakibatkan kerugian materil dan immateril akibat terjadinya beberapa bencana seperti banjir, tanah longsor, serta meluapnya bendungan. Berdasarkan hasil analisis intensitas curah hujan diketahui bahwa jumlah curah hujan yang terjadi pada bulan Januari, Pebruari dan Maret 2010, seluruhnya berada di atas normal demikian pula dengan jumlah hari hujannya. Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut dengan kondisi di atas normal jarang sekali terjadi di wilayah Bandung. Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh BMKG Stasiun Geofisika Bandung hal serupa pernah terjadi pada tahun 1952 dan 1966, namun demikian intensitas curah hujan bulanan yang terjadi pada awal 2010 tersebut  yang terjadi selama 3 bulan berturut-turut merupakan yang tertinggi dari yang sebelumnya pernah terjadi. In Early 2010 occurred rainfall with very high intensity and long duration in Bandung and its surrounding. This condition has caused material and immaterial losses caused by floods, landslides and overflow of dam. Based on analysis, it is known that the rainfall intensity in January, February, and March 2010, was above normal as well as the total rainfall days. These conditions are very rare in Bandung. Based on BMKG's record, conditions such that occurred in 1952 and 1966, however the rainfall intensity in the early 2010 was the highest.
ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL DATA LIGHTNING DETECTOR TAHUN 2009-2015 DI STASIUN GEOFISIKA SANGLAH DENPASAR I Putu Dedy Pratama; Pande Komang Gede Arta Negara
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9985.724 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.438

Abstract

Tahun 2016 dicanangkan sebagai Tahun Data BMKG. Pengamatan kelistrikan udara dengan Lightning Detector di Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar sejak bulan Agustus 2008 telah memiliki data yang banyak. Untuk jangka panjang, data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pola sambaran petir wilayah Bali baik secara spasial maupun temporal. Jumlah data yang cukup banyak perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui pola sambaran petir yang terekam oleh sensor dan membuat perbandingan dengan citra satelit. Data yang digunakan adalah hasil rekaman petir Cloud to Groud (CG). Data petir CG digunakan karena sambaran petir CG merupakan sambaran petir yang berdampak langsung pada kehidupan manusia. Pemetaan spasial baik dalam penentuan lokasi sambaran CG pada klaim asuransi dan kejadian Mesoscale Convective System (MCS) pada daerah stratiform dari data citra satelit Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) dan National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA). Dari hasil pemetaan spasial menunjukan bahwa sebagian besar sambaran petir terkonsentrasi pada radius sekitar 50 km dari sensor. Untuk grafik temporal menunjukan bahwa pada musim penghujan grafik petir menunjukan pola semidiurnal dengan dua puncak pada sore hari dan dinihari. Ketika musim peralihan grafik puncak sambaran petir pada dinihari melemah sehingga tampak pola satu puncak diurnal. Sedangkan pada musim kemarau grafik sambaran petir menunjukan pola acak. Fenomena cuaca skala menengah seperti siklon tropis dan perubahan Indeks Nino 3.4 sangat berpengaruh terhadap aktivitas sambaran petir di wilayah Bali. The year 2016 was declared as the Year of Data BMKG. Since August 2008, observations the air electricity using Lightning Detector Sanglah Denpasar Geophysics Station have had a lot of data. For the long term, these data can be used to determine the pattern of lightning strikes on Bali region both spatially and temporally. The amount of data is pretty much needs to be done further analysis to determine the pattern of lightning strikes recorded by the sensor and make comparisons with satellite imagery. The data used is the recording lightning Cloud to Groud (CG). We used the CG lightning data because CG lightning strikes have a direct impact on human life. Spatial mapping both in determining the location of CG strikes on insurance claims and the incidence of Mesoscale Convective System (MCS) in stratiform regions of the Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) and National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA) satellite image data. From the results of spatial mapping showed that most lightning strikes concentrated in a radius of about 50 km from the sensors. For temporal graph shows that in the rainy season, lightning graph shows semidiurnal pattern with two peaks at dusk and dawn. When transitional season chart peak at dawn lightning strikes weakened so that it appears the pattern of the diurnal peaks. Whereas in the dry season chart show a random pattern of lightning strikes. Medium-scale weather phenomena such as tropical cyclones and Nino index 3.4 changes greatly affect the activity of lightning strikes in the area of Bali.
RELATIONSHIPS BETWEEN SEA SURFACE TEMPERATURE, LARGE-SCALE ATMOSPHERIC CIRCULATION, AND CONVECTION OVER THE TROPICAL INDIAN AND PACIFIC OCEANS Orbita Roswintiarti
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.315 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v9i1.19

Abstract

In this paper, the quantitative estimates of the effect of large-scale circulations on the sea surface temperature (SST)-tropical convection relationship and the effect of SST on the large-scale circulation-convection relationship over the tropical Indian and Pacific Oceans are presented. Although convection tends to maximize at warm SSTs, increased deep convection is also determined by the divergence (DIV) associated with large-scale circulation. An analysis of the relationship between SST and deep convection shows that under subsidence and clear conditions, there is a decrease in convection or increase in Outgoing Longwave Radiation (OLR) at a maximum rate of 3.4 Wm-2 °C-1. In the SST range of 25°C to 29.5°C, a large increase in deep convection (decrease in OLR) occurs in the tropical Indian and Pacific Oceans. The OLR reduction is found to be a strong function of the large-scale circulation in the Indian and western Pacific Oceans. Under a weak large-scale circulation, the rate of OLR reduction is about    -3.5 Wm-2 °C-1 to -8.1 Wm-2 °C-1. Under the influence of strong rising motions, the rate can increase to about -12.5 Wm-2 °C-1 for the same SST range. The overall relationship between large-scale circulation and deep convection is nearly linear. A maximum rate of OLR reduction with respect to DIV is -6.1 Wm-2 (10-6 s-1) in the western Pacific Ocean. It is also found that the DIV-OLR relationship is less dependent on SST. For example, the rate of OLR reduction over the western Pacific Ocean for 26°C < SST £ 27°C is -4.2 Wm-2 (10-6 s-1), while that for 28°C < SST £ 29°C is  -5.1 Wm-2 (10-6 s-1). These results are expected to have a great importance for climate feedback mechanisms associated with clouds and SST and for climate predictability.
PENGARUH FENOMENA EL NINO 1997 DAN LA NINA 1999 TERHADAP CURAH HUJAN DI BIAK Welly Fitria; Maulana Sunu Pratama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.075 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i2.156

Abstract

Secara umum, telah diketahui bahwa El Nino mengurangi curah hujan dan La Nina menambah curah hujan di wilayah Indonesia tetapi intensitasnya bervariasi tergantung lokasi dan kondisi lokal. Berkaitan dengan hal tersebut di lakukan kajian untuk mengetahui pengaruh El Nino 1997 dan La Nina 1999 terhadap curah hujan di Biak dengan membandingkan penyimpangan jumlah curah hujan dengan normalnya, dan membandingkan anomali curah hujan dengan Indeks Nino 3.4 dan SOI. Selain juga dilakukan analisa korelasi antara Indeks Nino 3.4 dan SOI dengan curah hujan di Biak tahun 1981 – 2010 untuk mengetahui besar kecilnya sumbangan pengaruhnya terhadap variasi jumlah curah hujan di Biak. Hasil analisa menunjukkan bahwa curah hujan di Biak secara umum mengalami penurunan pada tahun 1997 dan mengalami peningkatan pada tahun 1999. Hasil analisa perbandingan variasi anomali curah hujan dengan variasi Indeks Nino dan SOI tahun 1997 dan tahun 1999 menunjukkan peran Osilasi Selatan lebih dominan pada saat El Nino maupun pada saat La Nina. Hasil analisa korelasi Indeks Nino dan SOI menunjukan peran El Nino / La Nina dan Osilasi Selatan cukup kecil dibanding peran faktor lokal. In general, it is known that El Nino reduces rainfall and La Nina increase the rainfall in Indonesia but their intensities vary depending on location and local conditions. Acknowledging this, a study to determine the effect of El Nino 1997 and La Nina 1999 to rainfall in Biak is conducted by comparing deviations with the normal amount of rainfall and the rainfall anomalies with Nino 3.4 index and SOI. As an addition, the correlation between Nino 3.4 index and SOI with rainfall in Biak years 1981 to 2010 is also analyzed to determine the size effect of the contribution of variation in the amount of rainfall in Biak. The analysis results of the data shows that rainfall in Biak has decreased in 1997 and increased in 1999. The comparative analysis result of variations in rainfall anomalies with Nino index and SOI variations in 1997 and 1999 shows that the role of the Southern Oscillation is more dominant during El Nino and La Nina. The analysis result of Nino index and SOI correlation indicates that the role of El Nino / La Nina and the Southern Oscillation is relatively small compared to the role of local factors.

Page 7 of 31 | Total Record : 310