cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2007)" : 6 Documents clear
JALUR MIGRASI DAN AKUMULASI GAS BIOGENIK BERDASARKAN PROFIL SEISMIK PANTUL DANGKAL DAN KORELASI BOR BH-2 DI PERAIRAN SUMENEP, JAWA TIMUR Faturachman Faturachman; Siti Marina
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.548 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.142

Abstract

Pengambilan data seismik pantul dangkal di Perairan Sumenep dan pemboran inti sedalam 42 meter di pesisir selatan Sumenep dilakukan untuk memperlihatkan keadaan lapisan batuan dangkal. Profil seismik pantul dangkal memperlihatkan runtunan seismik A berumur Pra Kuarter dan runtunan seismik B berumur Kuarter – Resen. Runtunan A telah mengalami perlipatan dan pensesaran di mana di beberapa tempat diterobos oleh diapir lumpur, bahkan sampai ke permukaan laut. Runtunan B memperlihatkan pantulan transparan dan di beberapa tempat diterobos oleh diapir lumpur. Bor BH-2 memperlihatkan lempung hitam berumur Holosen – Resen yang ditemukan di atas Formasi Pamekasan yang berumur Pleistosen. Lempung hitam ini tersebar pada kedalaman 13.5 - 41 meter dengan kandungan gas metan sekitar 0.1 % mol yang terdeteksi pada kedalaman 17 – 18.5 meter dan 35.85 – 38.15 meter, serta didominasi oleh bakteri metanogenik Methanosarcina frisia yang menunjukkan lingkungan pengendapan estuaria. Kadar gas biogenik dangkal pada lempung hitam berjumlah kecil sehingga tidak potensial untuk dieksplorasi lebih lanjut. Kurangnya potensi gas biogenik dangkal di Perairan Sumenep kemungkinan disebabkan oleh proses tektonik, kondisi stratigrafi (sistem estuaria) dan struktur (rembesan gas ke atmosfer melalui patahan-patahan minor dan diapir lumpur) yang berpengaruh pada jalur migrasi dan akumulasi gas biogenik. Kata kunci: gas biogenik dangkal, migrasi, akumulasi, estuaria, diapir lumpur, lempung hitam Shallow seismic data acquisition in Sumenep waters and coring to 42 meter depth in shouthern coast of Sumenep were carried out to investigate a shallow sediment layers. The shallow reflection profiles indicate seismic sequence A of pre Quaternary and seismic sequence B of Quartenary Recent. Seismic sequence A was folded and faulted, whre in some places were intruded by mud diapirs which expose above water surface. Seismic sequence B indicates transparency reflection and in some places was intruded by mud diapirs. Core BH-2 indicates Holocene-Recent blacky clay that rest on the Pleistocene Pamekasan Formation. This blacky clay distribute at 13,5 – 41,5 meters depth with methane content about 0.1 % mol that detected at 17 – 18,5 meters depth and 35.05 – 38.15 meters depth, which is also dominated by metanogenic methanosarcinafrisia that indicates an estuaria depositional environment. The content of shallow biogenic gas within black clay is small, therefore it is inpotential to be futher explored. The lack of shallow biogenic gas in Sumenep waters. Key word : Shallow Biogenic Gas, Migration, Accumulation, Estuary, Mud diapir, Black clay.
KARAKTERISTIK PANTAI DAN RESIKO TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI SELATAN YOGYAKARTA Moch. Akrom Mustafa; Yudhicara Yudhicara
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.97 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.143

Abstract

Gempa besar yang terjadi di selatan Jawa yang menimbulkan tsunami pada tanggal 17 Juli 2006, telah menimbulkan dampak kerusakan yang dialami oleh kawasan pantai di selatan Jawa, diantaranya pantai Yogyakarta dengan tinggi maksimum sekitar 3,4 meter. Gempa ini mempunyai magnitude M7,7 (USGS, 2006), pada kedalaman 10 km di bawah dasar laut. USGS menyatakan bahwa gempa ini memiliki mekanisme sesar naik dan berasosiasi dengan zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan pada tahun 2002 memperlihatkan bahwa kondisi batimetri di perairan selatan Yogyakarta dari pantai hingga 12 mil ke arah laut lepas berkisar antara 5 hingga 350 meter, yang berangsur makin dalam ke arah laut dengan pola kontur batimetri yang sejajar dengan garis pantai. Berdasarkan karakteristik pantainya, kawasan pantai Yogyakarta dapat dibagi menjadi 2 zona resiko tsunami, yaitu: (1) Zona Resiko Tinggi terdapat pada lokasi dengan bentuk pantai berteluk dan pantai berkantong (pocket beach) di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangendog ke arah timur hingga pantai Sadeng, khususnya pada pantai-pantai yang dimanfaatkan sebagai kawasan wisata atau pemukiman nelayan yang dibangun relatif dekat dengan garis pantai; (2) Zona Resiko Rendah, diperlihatkan di kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangtritis ke arah barat hingga pantai Pasir Congot, yang meskipun memiliki morfologi pantai relatif landai dengan garis pantai lurus, namun pemukiman dan bangunan wisat dibangun pada jarak yang relatif jauh dari garis pantai dan berada di belakang gumuk pasir (sand dune) yang berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang tsunami. Kata kunci : tsunami, karakteristik pantai, batimetri, zona resiko tsunami Great earthquake that has generated tsunami occurred offshore south of Java in July 17, 2006. The coast of Yogyakarta was one of the impacted areas by tsunami waves and the maximum tsunami height measured in this area about 3.4 meters. This earthquake has Magnitude M 7.7 (USGS, 2006) with depth of about 10 kms under the seafloor. USGS pointed out that this earthquake was thrust fault mechanism associated with subduction zone between Indo-Australia and Eurasian Plates. Study on marine and coastal geology at the coast of Yogyakarta has been carried out by Marine Geological Institute in 2002. Based on this study, it was known that bathymetry along the coast as far as 12 miles seaward are about 5 meters to 350 meter-depth which are gradually increase contour parallel to the shoreline. Coastal characteristic study along the coast of Yogyakarta indicate that this area can be divided into two zones of tsunami risk; (1) First zone is high tsunami risk, which is represented by coastal area along Parangendog to Sadeng, this area is bay-shape, settlement area generally close to the shoreline without sufficient protection; (2) Flat morphology, with sand dune along Parangtritis to the west, dominated by straight shoreline, and settlement area behind the sand dune, make this area has relatively low in tsunami risk. Keywords: tsunami, coastal characteristic, bathymetry, tsunami risk zone.
PROSES PERTUMBUHAN DELTA BARU SUNGAI CIMANUK HINGGA TAHUN 2002, DI PANTAI TIMUR KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT Prijantono Astjario; Nyoman Astawa
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1605.996 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.139

Abstract

Kawasan garis pantai timur kabupaten Indramayu ditutupi oleh endapan aluvium yang cukup luas. Proses sedimentasi pada garis pantai saat ini masih berlangsung, disebabkan oleh sungai Cimanuk yang bermuara di daerah ini. Sungai tersebut membawa material sedimen dalam jumlah besar. Sedimen ini tersebar di L. Jawa dan diendapkan kembali di garis pantai, yang mengakibatkan pantai timur Indramayu mengalami akrasi dan membentuk delta. Tahun 1947 aliran sungai Cimanuk mengalami perubahan, salah satu bagian aliran sungai mengalir ke arah utara-timur, jalan terdekat menuju garis pantai membentuk delta baru dengan tipe telapak kaki burung (birdfoot-type delta). Kandungan lumpur sungai Cimanuk dapat mencapai rata-rata 53,6 juta ton/tahun, akibatnya kawasan muara sungai Cimanuk mengalami pendangkalan (akresi) yang sangat cepat dan luas. Proses pendangkalan ini dapat dipantau dari perubahan garis pantai sejak tahun 1947 hingga 2002 melalui penginderaan jauh citra satelit. Kata kunci : sedimentasi, garis pantai, akresi, delta dan lumpur. The east coast of the Indramayu District is covered by a widely spread alluvial deposit. The sedimentation process is still continuing caused by the drainage of the Cimanuk River flowing to the east coast. This river carries away a huge number of the sediment materials. This material, being widely distributed in Jawa sea water and are redeposited on the coastal zone, causing the east coast of Indramayu accreting and forming delta. In 1947 the drainage of the Cimanuk River has changed, one of the tributary is running away to the north-east direction, which is the shortest way to the coastline, and forming a new birdfoot type delta. The mud material of the Cimanuk River can reach approximately 53.6 million ton/year, consequently, the mouth of the Cimanuk River has rapidly and widely shallowed. The accretion processes can be monitored by the changed of the coastline from 1947 to 2002 by using satellite imagery. Key words : sedimentation, coastline, acresion, delta and mud.
IDENTIFIKASI ALUR PURBA BERDASARKAN SEISMIK PANTUL DANGKAL DI PERAIRAN BANGKA UTARA LEMBAR PETA 1114 Purnomo Raharjo; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.376 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.144

Abstract

Kondisi tektonik dan tatanan geologi yang kompleks di Indonesia menghasilkan pembentukan bermacam-macam mineral. Salah satu mineral adalah timah pada wilayah Paparan Sunda, membentang dari Semenanjung Malaya, Kepulauan Riau, Kepulauan Singkep, Pulau Bangka, Kepulauan Tujuh, dan Pulau Belitung. Jalur timah ini umumnya telah mengalami erosi kuat pada waktu yang lama. Timah letakan adalah salah satu sumber daya mineral lepas pantai yang dapat ditambang. Umumnya mineral-mineral tersebut terperangkap di dalam lapisan sedimen permukaan berumur Kuarter. Pulau Bangka merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai kepulauan timah. Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) pada tahun 1994 telah melakukan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan di daerah perairan Bangka Utara (Lembar Peta 1114), dengan sekala peta 1 : 250.000. Dengan teknologi khususnya seismik refleksi dan penafsirannya, diharapkan akan ada temuan-temuan cadangan timah baru. Morfologi dasar laut daerah penyelidikan digambarkan oleh pola kontur batimetri relatif rapat di bagian barat pantai. Pola ini mencerminkan suatu sisi punggungan (homoklin) dan berarah timur laut – barat daya. Diantara PulauTujuh dan Pulau Bangka pola kontur membentuk tutupan-tutupan (closure) dan membentuk suatu kelurusan berarah timur laut – barat daya berupa cekungan-cekungan kecil merupakan alur selat P. Tujuh dan P. Bangka. Hasil penafsiran rekaman seismik refleksi kondisi geologi bawah permukaan dasar laut dapat dipisahkan menjadi dua sekuen yaitu sekuen A dan sekuen B. Sekuen B adalah sekuen paling bawah (acoustic basement) yang terdiri dari subsekuen B1, B2 dan B3, tidak semua subsekuen ini terekam karena umumnya horizon reflektornya sulit diidentifikasi dan umumnya tertutup oleh pantulan ganda (multiple). Sekuen A adalah sekuen yang diendapkan diatas sekuen B, dibedakan dengan sekuen B yang berada dibawahnya oleh bidang erosi, sekuen A ini terdiri dari subsekuen A1 dan A2. Kedua subsekuen ini jika disebandingkan secara stratigrafi berdasarkan Mangga dan Jamal serta Aleva, merupakan “Young Sedimentary Complex” terbentuk pada Kala Holosen. Kata Kunci : Identifikasi Alur Purba, Seismik Pantul Dangkal, Perairan Bangka Utara, Lembar Peta 1114. In Indonesia minerals occurrence were controlled by tectonic process and regional geological setting. One mineral is tin in the Sunda shelf, area which stretch from Malaya Peninsula, Riau Islands, Singkep Islands, Bangka Island, Tujuh Islands and Belitung Island. This tin belt was strongly eroded in the long period of time. Tin placer is an offshore mineral resource which was already exploited. Generally the mineral is trapped in the surface sediment layers, of Quartenary age. Bangka Island is well known one of many tin archipelago. Marine Geological Institute (MGI) in 1994 has done geological and geophysical mapping in North Bangka waters (Map Sheet, 1114), with map scale 1 : 250.000. The technology used especially seismic reflection and its interpretation was expected discovery of new tin reserves. Sea bottom morphology of area investigation is depicted by bathymetric contour pattern relatively closed to the western coast. This pattern is a ridge (homoklin) of northeast - southwest direction. Between Pulautujuh and Bangka Islands contour pattern is closure and elongated northeast-southwest as small basins which formed a channel between P. Tujuh and P. Bangka. The interpretation of seismic reflection record showed subsurface geology condition divided in to two sequences A and B. Sequence B is a basement acoustic consisted of subsequence B1, B2 and B3, these subsequence were not all recognised due to generally its horizon reflector is difficult to be identified and is generally covered up multiple. Sequence A was deposited above sequence B and was differentiated by erosional truncation. Sequence A is consisted of subsequence A1 and subsequence A2. Both subsequences correlated to Mangga and Jamal, and also Aleva, stratigraphically representing " Young Sedimentary Complex" formed in Holocene. Keyword : Paleochannel Identification, Shallow Reflection Seismic, North Bangka Waters, Map Sheet 1114.
KANDUNGAN KONSENTRAT EMAS PLASER DI PERAIRAN BAYAH KABUPATEN LEBAK Udaya Kamiludin; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.541 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.140

Abstract

Ekstraksi emas berdasarkan hasil amalgamasi terhadap konsentrat gisik pasir (sand beach) pada muka gisik (beach face) menunjukan bahwa di pantai Bayah dan sekitarnya mengandung emas (Au) lantak (bullion) berkisar 6 – 71 ppb dan ikutannya, perak (Ag) 4 – 47 ppb. Kadar tertinggi kandungan emas ditemukan pada muka gisik di daerah pantai Bayah dan terendah di Cihara. Hasil penambangan memperlihatkan semakin besar jumlah berat contoh asal maka kandungan emas dan ikutan yang didapat semakin besar walaupun dalam berat konsentrat yang relatif sama. Adanya penyimpangan kadar emas di pantai Bayah, selain hasil rombakan sumber batuan yang dibawa oleh aliran sungai Cimandur, diduga berasal pula dari lautan dekat pantai yang dibawa oleh gelombang laut. Daerah mineralisasi batuan berupa urat kuarsa, bijih silika dan skarn merupakan komplek Kubah Bayah yang terletak di sebelah utara daerah penelitian. Kata kunci : Gisik berpasir, muka gisik, emas letakan, amalgamasi, hasil penambangan, urat kuarsa, pantai Bayah dan sekitarnya. Gold extractions based on the amalgamation process resulted from the sand beach concentrate of the Bayah beach and its vicinity, contain gold (Au) bullion 6 - 71 ppb and its association, silver (Ag) 4 - 47 ppb. The highest and the lowest of gold content in each samples are found at the Bayah and Cihara beach areas. Result of the traditional gold mining show that the greater bulk sample, hence the greater gold content and its association eventhough in the same weight of concentrate. The occured gold anomalies in Bayah coast is resulted of source rock brought by Cimandur stream, probably deposited in the marine environment brought by wave near the coast. Rock mineralization took the form as quartz veins, ore silica and skarn represent Dome Bayah complex located in the north of research area. Keyword: Sand beach, beach face, gold placer, amalgamation, result of mining, quartz veins, Bayah and its vicinity.
KETERDAPATAN EMAS DAN PERAK DALAM SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN BAYAH DAN CIHARA, BANTEN SELATAN Maman Surachman; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 3 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.319 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.3.2007.141

Abstract

Sedimen permukaan dasar laut di daerah penyelidikan lebih dari 95 % terdiri atas material sedimen klastik hasil rombakan dari batuan di daratan (terrigenous sediment). Berdasarkan teksturnya, sedimen daerah telitian dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis : pasir lanaun, pasir, lanau pasiran, dan pasir sedikit kerikilan. Secara lateral, pasir lanauan merupakan sedimen yang paling luas sebarannya. Berdasarkan ukuran butirannya, komposisi sedimen di daerah telitian didominasi oleh ukuran pasir halus, pasir sangat halus dan lanau. Di blok timur, kadar emas dalam sedimen berkisar antara 0,1 – 0,54 ppm, namun umumnya < 0,3 ppm. Kadar perak berkisar antara 5,62 -30,85 ppm, umumnya < 15 ppm. Di blok barat, kadar emas berkisar antara 0,11 – 0,57 ppm, namun umumnya >0,3 ppm. Kadar perak antara 7,43 – 28,35 ppm, namun umumnya > 15 ppm. Emas dan perak dalam sedimen terutama diperkirakan berasal dari mineralisasi primer yang terdapat di daerah hulu S. Cimadur dan daerah hulu S. Cihara. Kata Kunci : Emas, perak, sedimen, Bayah & Cihara. Submarine surficial sediments of the investigated area consist of more than 95 % land derived sediments. Based on textural classification the sediments are divided into 4 units: silty sand, sand, sandy slit and slightly gravelly sand. Laterally silty sand are the widest distribution. Based on grain size analyses, the composition of the sediment consists of fine sand, very fine sand and silt grain sizes. The Gold (Au) content within the sediment of the east block area ranges beetwen 0,1 – 0,54 ppm, but generally less than 0.3 ppm. The Silver (Ag) content ranges between 5,62 - 30,85 ppm, but generally less than 15 ppm. In west block area, Au content within sediment ranges between 0,11 – 0,57 ppm, but generally > 0,3 ppm. The Ag content ranges between 7,43 – 28,35 ppm, but generally > 15 ppm. The occurrence of Au and Ag within sediments of the investigation area are mainly estimated from primary gold mineralization areas which are located in upstream areas of Cimadur and Cihara Rivers. Keyword : Gold, silver, sedimen, Bayah & Cihara

Page 1 of 1 | Total Record : 6