cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2008)" : 6 Documents clear
DINAMIKA MORFOLOGI DAERAH SISI LUAR (OUTER) DELTA MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR, INDONESIA Haryadi Permana; Praditiya Avianto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.878 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.147

Abstract

Bentuk morfologi bagian luar (outer) delta Mahakam, khususnya Muara Pegah, (Kalimantan Timur) sangat dinamis. Pengukuran batimetri pada dua musim dan tahun berbeda menunjukan proses sedimentasi dan erosi serta progradasi delta meskipun tidak diikuti oleh perubahan garis pantai yang jelas seperti diamati dari citra satelit. Peta batimetri 2005 menunjukan proses sedimentasi yang intensif sedangkan batimetri 2006 menunjukan proses erosi pada delta bagian luar. Secara umum, bila dibandingkan dengan peta batimetri 1989, delta bagian luar Muara Pegah telah mengalami progradasi. Proses progradasi delta bagian luar Muara Pegah dicirikan oleh proses pergeseran garis kedalaman (batimetri) 5 m sampai 20 m telah bergeser ke arah laut atau ke tenggara disebabkan telah terjadinya penimbunan sedimen dalam jumlah yang cukup berarti. Ke arah luar dari delta front, pada kedalaman 20 m atau lebih, bentuk batimetri dipengaruhi oleh arus di Selat Makassar yang mengalir secara kontinu ke arah utara. Pemodelan perubahan batimetri pada kawasan Muara Pegah menggambarkan telah terjadinya erosi dasar sungai secara kontinu sebagai pengaruh dari besarnya debit sungai yang mengalir melalui muara menuju laut lepas. Proses erosi sebagai akibat kondisi arus pasang surut juga terlihat di luar muara Pantai Muara Pegah, akan tetapi besarnya sangat bergantung terhadap kondisi arus pasang surut. Kata Kunci: morfologi delta bagian luar, proses sedimentasi, erosi, progradasi, batimetri, pemodelan, pasang surut The outer delta morphology form of Mahakam delta, e.g. Muara Pegah (East Kalimantan) is very dynamic. The bathymetry of different seasons and times indicate sedimentation, erosion processes and delta progradation although do not followed coastal line changes as shown by satellite image. The bathymetry map in 2005 show the intensive sedimentation process while in 2006 the bathymetry map indicate the erosion process of the outer delta. In general, since it is compared to the 1989’s bathymetry map, the outer delta of Muara Pegah had undergone progradation. The delta progradation of Muara Pegah is characterized by seaward displacement (southeastward) of 5 m and 20 m contour depth as it caused by significance sediment accumulations. To the outer delta front at 20 m depth or more, the bathymetry pattern is influenced by Makassar Strait currents flowing continuously to the North. The dynamics bathymetry modeling of Muara Pegah illustrates a continuous erosion of the river base being influenced by the important river debit that flows via delta to the open sea. The tide erosion process is also observed at the outer part of Muara Pegah coast line, but the intensity is depend on tide condition. Keyword: outer delta morphology, sedimentation processes, erosion, prograde, bathymetry, modeling, tide
KAJIAN DINAMIKA PANTAI SELATAN BANYUWANGI BERDASARKAN HASIL PENAFSIRAN CITRA SATELIT LANDSAT TM Undang Hernawan; Kris Budiono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.506 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.148

Abstract

Hasil kajian citra satelit Landsat Thematic Mapper (TM) menunjukkan daerah pantai selatan Banyuwangi mempunyai empat karakteristik dinamika pantai, yaitu daerah akresi, terjadi di muara Sungai Gonggo, Sungai Baru, dan Sungai Pergaul yang terjadi karena tingginya aliran (run off) dari sungai. Daerah abrasi terjadi di Teluk Grajagan yang terjadi karena adanya arus menerus dari laut sehingga sedimen dari Segoro Anakan tidak bisa diendapkan di daerah teluk dan hanya di muka sungai. Daerah abrasi dan akresi terdapat di teluk Rajegwesi dan Pancamaya yang mempunyai daerah akresi di muara sungai dan daerah abrasi di bagian sisi teluknya. Daerah stabil, terdapat di daerah-daerah yang menjorok ke laut dan sepanjang pantai Alas Purwo. Daerah akresi maupun abrasi umumnya terjadi di daerah topografi rendah, landai dan berupa aluvium, sedangkan daerah stabil terdapat pada daerah dengan topografi bertebing dan batuan penyusun berupa batuan keras. Kata kunci : sedimen, dinamika pantai, Landsat TM, pantai selatan Banyuwangi The result of the assesment of Landsat TM imageries show that the coastal area of south Banyuwangi have four coastal dynamic characteristics those are: accretion, abrasion, accretion and abrasion, and stable areas. Accretion area, is located in the river estuary of Gonggo, Baru, and Pergaul rivers that occur by run off from river. Abrasion area, is located in Grajagan Bay caused by continuous current from the sea so that the sediment from Segoro Anakan cannot precipitate in the bay area but only in the river mouth. Abrasion and accretion areas are located in Rajegwesi and Pancamaya Bays where the accretion area is in a river estuary but the abrasion area is in the side shares of the bay. Stable area is located in the peninsula area and along the Alas Purwo coast. Generally the accretion or abrasion areas were occurred in low relief topography and occupied by alluvium, whereas the stable area is characterized by the high relief topography consisting of hard rock. Key words: sediment, coastal dynamic, Landsat TM, south coast of Banyuwangi.
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM-RIAU KEPULAUAN Luli Gustiantini; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.012 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.149

Abstract

Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang. Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3. Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef. The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3). Key words : benthic foraminifera; cluster analysis; environmental indicator; Batam Waters
TINJAUAN GEOLOGI KELAUTAN PERAIRAN SEMENANJUNG MURIA TERHADAP RENCANA TAPAK KONSTRUKSI PLTN Ediar Usman; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2077.956 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.145

Abstract

Semenanjung Muria terletak di pantai utara Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Daerah ini akan dikembangkan menjadi daerah tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Secara geologi, di daerah ini berkembang berbagai fenomena geologi seperti struktur sesar, gunungapi dan kegempaan. Berdasarkan hasil interpretasi rekaman seismik pantul di perairan Semenanjung Muria menunjukkan adanya struktur sesar pada penampang Lintasan L-1 dan L-3. Struktur sesar tersebut terbentuk pada Sekuen B dan di bawah Sekuen A. Adanya struktur sesar di laut tersebut perlu mendapat perhatian dalam perencanaan tapak kontruksi PLTN Muria, sehingga aspek yang dapat membahayakan konstruksi dapat diperhitungkan sebelumnya terhadap perencanaan kekuatan dan stabilitas konstruksi. Kata kunci : sesar, seismik pantul, perencanaan konstruksi, Semenanjung Muria. Muria Peninsula is located at the north coast of Jepara District, Central Java Province. This area will be developed for the foundation of Nuclear Energy Electrics Powers Station. Geologically, the study area has some geological phenomena such as fault structures, earthquakes and volcanisms. Based on seismic interpretation the Muria Peninsula waters shows the occurence of faults on L-1 and L-3. The fault structure formed at Sequence B and under Sequence A as a Quaternary sediment. These faults are seemly the continuation of faults present on land. Therefore, the construction of Muria station should be considered regarding the occurrence of these faults especially in the planning of stability and strength of foundation. Keyword : faults, reflection seismic, planning of construction, Muria Peninsula.
STUDI PENURUNAN SEDIMEN KUARTER DI PERAIRAN CIREBON, PROPINSI JAWA BARAT Kris Budiono; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1373.902 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.150

Abstract

Penelitian ini lebih difokuskan dalam mengaplikasikan data geologi teknik untuk menganalisis kemungkinan potensi penurunan sedimen Kuarter apabila didirikan suatu bangunan laut. Secara umum litologi daerah penelitian diperkirakan terdiri dari sedimen berumur Plistosen sampai Kuarter Data yang dipergunakan adalah data hasil pemboran teknik di laut dengan uji SPT dan hasil analisa laboratorium mekanika tanah. Berdasarkan pada perhitungan nilai SPT untuk setiap tiang pancang menunjukkan bahwa nilai daya dukung dijinkan (Qa) adalah 83,726 ton. Perkiraan nilai penurunan (St) adalah 0,992 cm atau 0,390 inci. Hasil perhitungan untuk dimensi dermaga yang direncanakan memperlihatkan bahwa beban total yang terjadi pada dermaga (q) adalah 2,18 ton/m2. Potensi penurunan lapisan tanah berdasarkan hasil uji laboratorium adalah 2,35 cm. Lamanya penurunan untuk terjadinya konsolidasi 10% adalah 94,81 hari (3,16 bulan), konsolidasi 20% adalah 367,41 hari (1,06 tahun), konsolidasi 50% adalah 2334,81 hari (6,39 tahun) dan konsolidasi 90% adalah 100503,7 hari (27,54 tahun). Berdasarkan kondisi tersebut di atas, menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki potensi penurunan kecil dan dalam dalam waktu yang relatif lama. Kata kunci : geologi teknik, penurunan, bangunan laut, perairan Cirebon The aim of the study is mainly to apply the engineering geological data for analyzing the settlement potency of Quaternary sediments if the sea construction is built. In general, the litology in the study area consist of Plistocene to Recent sediments. The data used in this study are the offshore cores, namely, the SPT test and soil mechanic analyses. The SPT values of each pile shows that the allowable bearing capacity value is 83,726 ton. The estimation of settlement value ((St) is 0,992 cm or 0,390 inches. The total sediment loaded at the port (q) is 2,18 ton/m2, whereas based on the laboratory test analysis, it shows that the potential of soil settlement layer is 2,35 cm. The settlement period for 10% of consolidation is 94,81 days (3,16 months), 20% of consolidation is 367,41 days (1,06 years), 50% of consolidation is 2334,81 days (6.39 years), and 90% of consolidation is 100503,7 days (27.54 years). The above conditions indicate that the settlement in the study area is under going subsidence in small potential and in relatively long period. Key word : engineering geology, settlement, offshore structur, Cirebon waters
PENELITIAN LINGKUNGAN PANTAI DAN LOGAM BERAT PERAIRAN PARIAMAN– PADANG-BUNGUS TELUK KABUNG SUMATERA BARAT Yudi Darlan; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1289.524 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.146

Abstract

Kawasan pesisir Padang merupakan salah satu kawasan andalan yang menjadi prioritas untuk dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kawasan pesisir Pariaman - Padang merupakan daerah pantai abrasi, disusun oleh endapan alluvial berupa kerikil, pasir, dan lempung membentuk pantai lurus dan landai. Kawasan pesisir Padang – Bungus Teluk Kabung berupa pantai teluk, stabil, disusun oleh batuan volkanik membentuk bentang alam perbukitan dan pantai terjal. Abrasi terjadi di daerah telitian sebagai dampak perubahan iklim global dan aktivitas manusia (anthropogenic) seperti dampak kerusakan terumbu karang terutama terjadi di kawasan pantai Pariaman - Padang. Di Padang – Bungus Teluk Kabung sedimentasi terjadi akibat dampak perubahan rona lingkungan di kawasan hulu sungai (hinterland) yang membawa sedimen ke perairan. Mangrove dengan luasan kecil terdapat di kawasan Padang – Bungus Teluk Kabung,. Terumbu karang masih banyak dijumpai di kawasan Bungus Teluk Kabung dan sekitarnya dalam kondisi 50% rusak akibat pemboman dan perubahan kondisi air laut yang disebabkan oleh pencemaran dari limbah kapal, industri dan rumah tangga. Kandungan Logam berat Hg sebagai zat pencemar yang terdapat pada sedimen perairan Bungus Teluk Kabung mencapai 3500 ppb di atas baku mutu sedimen (410 ppb). Kandungan logam lainnya yang punya nilai ekonomis yang terdapat di daerah telitian yaitu emas, Au (4ppb – 22ppb) dan perak, Ag (1ppm – 2ppm). Kata kunci: lingkungan pantai, pencemaran, logam berat, mineral ekonomis, Pariaman, Padang, Bungus Teluk Kabung The coastal area of Padang is one of the target coastal areas that have been prioritised to be developed by the West Sumatra Government. The coastal area of Pariaman – Padang is an erosion coast of alluvial deposits consisted of gravel, sand, and clay which form straight and gentle slope beaches. The coastal area of Padang – Bungus Kabung Bay is a stable embayment coast consisted of volcanic rocks which form undulated hilly land and cliff. Erosion occurred at the research area as impact of the global climate changes and human activities (anthropogenic) for example impact of coastal reef destruction at the area of Pariaman – Padang. At the coastal area of Padang – Bungus Kabung Bay sedimentation occurred as impact of change environments in the hinterland, which transport sediment loads to the coast. Mangroves of small square areas are distributed at the coastal area of Padang – Bungus Teluk Kabung. While coral reef distributed in large area at the coast of Bungus Kabung Bay and adjacent area in 50% condition impacted from explosion and change of sea water quality due to waste disposal from boats, industries, and houses. Heavy metal content of mercury (Hg) as a toxic element in sediment of Bungus Kabung Bay reach 3500 ppb over the sediment quality standard (410 ppb). Economic native metals found at the research area are gold, Au (4ppb – 22 ppb), and silver, Ag (1ppm – 2ppm). Key words: coastal environments, pollution, heavy metals, valuable minerals, Pariaman, Padang, Bungus Teluk Kabung

Page 1 of 1 | Total Record : 6