cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus" : 7 Documents clear
KOENTJARANINGRAT DAN INTEGRASI NASIONAL INDONESIA: SEBUAH TELAAH KRITIS Ahimsa-Putra, Heddy Shri
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.288

Abstract

Dalam artikel ini penulis membahas pemikiran Koentjaraningrat mengenai masalah integrasi nasional, mulai dari awal karir beliau sebagai ahli antropologi, hingga masa pensiunnya. Penulis mengidentifikasi tiga tahap perkembangan pemikiran Koentjara-ningrat mengenai integrasi nasional di Indonesia. Tahap pertama adalah tahun 1970an, yang merupakan masa awal perkembangan pemikiran beliau. Penggunaan konsep-konsep lebih untuk memenuhi keperluan deskripsi daripada analisis. Tahap kedua ada-lah tahun 1980an, ketika Koentjaraningrat mulai lebih analitis dalam memahami masa-lah integrasi nasional, dan identifikasi masalah-masalahnya menjadi lebih tajam dan rinci. Tahun 1990an merupakan tahap perkembangan terakhir, di mana Koentjaraning-rat menggunakan perspektif yang lebih komparatif dan makro untuk memahami feno-mena integrasi nasional. Paparan di sini merupakan hasil kajian pustaka dengan meng-gunakan metode content analysis.
NARASI DAMPAK (ALAM DAN SOSIAL) LETUSAN GUNUNG TAMBORA 1815 Tantri, Erlita
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.289

Abstract

Indonesia adalah negara yang terletak di jalur ring of fire sehingga kaya akan gunung berapi, gempa tektonik dan vulkanis. Secara umum, sekitar 13 persen gunung berapi dunia ada di Indonesia (129 gunung berapi) namun dalam sejarah bencana gunung berapi dunia, setengah dari korban letusannya ada di Indonesia. Gunung Tambora merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia yang memiliki resiko letusan yang sangat dasyat. Dampak letusannya pada tahun 1815 sedikit banyak terekam dalam sejarah. Namun, bagaimanakah kondisi setelah letusan Gunung Tambora 1815 dan dampaknya (alam dan sosial) dari catatan yang terdokumentasi, baik oleh pemerintah kolonial serta lokal (mapun dari sumber lainnya)? Melalui studi literatur, tulisan ini mencoba menggambarkan secara ringkas tentang kondisi dan dampak pasca letusan Gunung Tambora pada lingkungan dan masyarakat (lokal maupun global). Letusan Gunung Tambora telah memberikan dampak kerusakan pada ekologi akibat masifnya kuantitas material yang dikeluarkan sehingga berakibat pada perubahan iklim dan lingkungan. Bahaya kelaparan, kekurangan air bersih, penyakit, tidak tersedianya pangan akibat kerusakan lahan dan perubahan musim yang berakibat pada kegagalan panen di berbagai wilayah, menjadikan letusan Gunung Tambora 1815 sebagai sejarah bencana besar di tanah air di abad ke-19. Dari kondisi pasca letusan Gunung Tambora 1815, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan dan kewaspadaan terhadap dasyatnya bahaya letusan Gunung Tambora. Dengan demikian, masyarakat maupun pemerintah akan memiliki pemahaman dan kesiapsiagaan dalam menghadapi periode letusan Gunung Tambora berikutnya.
PENGEJAWANTAHAN TARI GENDING SRIWIJAYA: SOCIOCULTURAL DALAM PERSPEKTIF NILAI Mareta, Yoan; Sariyatun, Sariyatun; Sutimin, Leo Agung
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.290

Abstract

Tari Gending Sriwijaya merupakan tari sambut asal Sumatera Selatan yang sejauh ini dipandang sebagai icon cultural. Sebagai warisan nilai estetika dari perjalanan sejarah yang panjang, tari ini dapat difungsikan sebagai bentuk manifestasi nilai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam setiap gerakan tari Gending Sriwijaya, menerjemahkan nilai-nilai tersebut, serta relevansinya dengan realitas yang ada pada masyarakat selama ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik observasi/pengamatan dan kajian literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya sumbangsih literasi makna yang sangat luas dari setiap gerakan tari Gending Sriwijaya. Setelah dikaji melalui pendekatan sociocultural, ditemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tari Gending Sriwijaya terdiri dari nilai sosial, nilai budaya, nilai
INTEGRASI PENGETAHUAN LOKAL DAN ILMU PENGETAHUAN: PENELAAHAN ROTI BUAYA DALAM PERSPEKTIF ZOOLOGI Sihotang, Vera Budi Lestari; Hamidy, Amir; Kurniati, Hellen
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.291

Abstract

Roti buaya merupakan roti khas Betawi yang selalu muncul di upacara pernikahan masyarakat Betawi. Penggunaan roti buaya dalam upacara pernikahan masyarakat Betawi merupakan pengetahuan lokal yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Simbol kesetiaan merupakan makna yang muncul dari roti buaya. Artikel inibertujuan untuk melihat integrasi pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan yang terlihat dalam penggunaan roti buaya dalam pernikahan Betawi. Karakter buaya dalam roti buaya dikaitkan dengan karakter buaya di alam. Penelitian ini dilakukan melalui dua metode, yaitu wawancara dan studi literatur. Dari data yang terkumpul diketahui bahwa jenis buaya yang digambarkan dalam roti buaya adalah buaya muara (Crocodylus porosus). Karakter buaya yang dapat hidup di darat dan di air, ukuran buaya betina lebih kecil dari buaya jantan, merupakan karakter buaya yang digambarkan dalam roti buaya, dan sesuai dengan karakter buaya di alam. Simbol buaya sebagai simbol kesetiaan hanya sesuai ketika buaya ditempatkan dalam sistem kandang pasangan. Meskipun begitu, pemahaman buaya sebagai simbol kesetiaan tetap dipegang oleh masyarakat Betawi. Hal ini ditandai dengan penggunaan roti buaya dalam pernikahan yang bertahan hingga sekarang
PEMUDA, BELAH DAN SOLIDARITAS: KAJIAN MODEL SOLIDARITAS ANAK MUDA GAYO Setyantoro, Agung Suryo; Setiadi, Setiadi; Rosyid, Nur
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.292

Abstract

Tulisan ini membahas bagaimana pemuda Gayo berhadapan dengan signifikansi belah, salah satu dari beban kultural, yang menopang dalam bertindak di lingkungan masyarakatnya. Fokus dari penelitian ini ialah bagaimana belah menjadi faktor penggerak anak muda Gayo dalam beraktivitas sosial di kampungnya. Hal ini menarik karena di tengah makin mencairnya sekat-sekat identitas karena pengaruh kemajuan teknologi dan dorongan sifat materialisme, pemuda Gayo tetap mampu memperlihatkan identitas belahnya sebagai pondasi solidaritas diantara mereka. Kegiatan yang dilakukan bersama oleh para pemuda menjadi sebentuk ruang-ruang pembentukan solidaritas sosial. Belah yang muncul karena hubungan kekerabatan dan memiliki satu ikatan sejarah menjadikannya mudah untuk mengikat dalam satu jaringan dan menjadikannya sebagai modal sosial. Belah juga mampu menginternalisasikan nilai-nilai bersama kelompok, hal ini yang dipahami sebagai atribut atau sebagai identitas individu dan kolektivitas.
MEMAKNAI LUKISAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS BUDAYA VISUAL Rostiyati, Ani
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.293

Abstract

Sebuah lukisan adalah objek dalam bentuk visual yang memiliki makna. Sejalan dengan itu, tulisan ini bertujuan ingin memperlihatkan bagaimana suatu lukisan memadatkan gagasan dan nilai tertentu sebagai media untuk menyampaikan pesan. Penelitian ini menggunakan teori budaya visual dari Barnard dan gender dari Megawangi dan Abdullah. Kajian ini mengungkapkan bahwa empat lukisan perempuan Jawa yang dipamerkan oleh kelompok ”pepeling” Surakarta tersebut menggambarkan perempuan sebagai housewifization dan ibuisme yakni peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melakukan tugas domestik. Kesimpulan dari kajian ini adalah Housewifization dan ibuisme ini merupakan identitas visual yang dikontruksi sehingga menjadi sumber pembentukan atau citra perempuan dalam realitas sosial masyarakat Jawa, terutama di pedesaan. Kajian ini menggunakan metodologi etnografis interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara, studi pustaka, majalah, dan buku.
K.H. SANGIDU, PENGHULU PENEMU NAMA MUHAMMADIYAH Rohman, Fandy Aprianto
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 20 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.294

Abstract

Muhammadiyah mulai berkembang dengan pesat ketika salah seorang pendukungnya, yaitu K.H. Sangidu diangkat menjadi penghulu ke-13 di Kasultanan Yogyakarta dan mendapatkan gelar K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat. Hal ini tidak terlepas dari kesamaan paham antara K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat dengan K.H. Ahmad Dahlan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengembangan Muhammadiyah yang dilakukan oleh K.H. Sangidu atau K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat, hingga pengaruh yang ditimbulkan dari gagasan pembaruannya terhadap kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Berdasarkan kajian yang dilakukan, pandangan Islam berkemajuan yang diperkenalkan oleh K.H. Sangidu telah melahirkan ideologi kemajuan yang dikenal luas sebagai reformisme Islam. Gagasan pembaruannya juga merupakan suatu upaya dalam meluruskan, sekaligus menampik penilaian-penilaian kurang tepat terhadap Muhammadiyah.

Page 1 of 1 | Total Record : 7