Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 25 No. 2 (2024)"
:
8 Documents
clear
Standardisasi pengukuran dan registrasi tanah di Besuki, 1813-1826
Khusyairi, Johny Alfian
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.468
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui sistem registrasi tanah di kawasan ujung timur pulau Jawa, Besuki. Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles adalah yang pertama kali melakukan pendataan melalui penerapan standar pengukuran dan registrasi tanah di wilayah ini. Artikel ini menggunakan metode sejarah dalam melacak rujukan yang menginspirasi Raffles dalam melakukan standar pengukuran tanah di Besuki. Sebagai pejabat baru, Raffles cepat memahami wilayah kekuasaannya. Standardisasi dan registrasi tanah di Besuki mendesak dilakukan karena isu ini menimbulkan masalah serius di sebelah barat Besuki, Probolinggo. Raffles melakukan pendataan tanah di Besuki sebagaimana Inggris melakukannya di India. Semula Raffles menerapkan menerapkan model Bengal (zamindari), pajak tanah dipungut secara kolektif oleh kepala desa. Lima bulan kemudian di menggantinya dengan sistem India lainnya, ryotwari, pemungutan pajak secara perorangan dengan mendasarkan kepemilikan secara perorangan. Pemberlakukan peraturan ini tetap digunakan hingga dua pemerintahan setelahnya.
Shared poverty as a myth: Agricultural communities in Bojonegoro, East Java, 1880s–1930s
Akhyat, Arif
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.483
This article explains the endemicity of poverty in Bojonegoro 1880-1930s by analyzing the causes and social-economic changes among agrarian communities. Bojonegoro is one of the regions in East Java that is experiencing a paradoxical process, one side has a strategic location for economic networks, but the other side is an endemic area for natural disasters. As a study of social history, poverty in this article focuses more on dysfunctional social institutions due to geographical location, natural disasters, and the marginalization process as a form of the state's absence from the problem of poverty. Historians often conclude that disasters and geographical issues are necessary conditions in explaining the endemicity of poverty. This study shows that poverty is only an easy way to explain the inability to adapt to local economic dynamics and failure to negotiate with the new market. The infrastructure development and financial institutions which are considered to be strategies for overcoming poverty, does not have clear significance. Poverty does not refer to socio-economic realities with various survival strategies using socio-economic networks and job conversion. The strategy of adapting to various economic opportunities, both based on agrarian and non-agrarian economies, is a way to show that the endemicity of poverty is a myth. The poverty is a form of failure to explain socio-economic behavior which is considered to deviate from the view of modern capitalism.
Yasadipura I: Politik nasionalisme pujangga Jawa dalam Babad Giyanti
Fitria, Ajeng Aisyah;
Aprianto, Hendra;
Salam, Aprinus
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.487
Yasadipura I (1729-1803) dikenal sebagai pilar kebangkitan kesusastraan Jawa. Sebagai pujangga Jawa, Yasadipura I memperlihatkan kepiawaian dalam karya-karyanya salah satunya dalam Babad Giyanti. Untuk menggali wacana ideologi dalam karya sastra, digunakan dua teori, yaitu materialisme historis dari Terry Eagleton dan pandangan dunia dari Lucien Goldmann dengan metode deskriptif kualitatif. Dari analisis didapat hasil sebagai berikut. Pertama, ideologi kolonialisme dan kapitalisme Hindia Belanda yang menekan Kasunanan Surakarta menciptakan dua ideologi berupa individualisme dan patriotisme. Hal tersebut diperlihatkan dengan tindakan mengkritisi para penguasa melalui ideologi Islam-Jawa oleh Yasadipura I. Kedua, pandangan dunia Yasadipura I direpresentasikan sebagai subjek yang politis. Posisi Yasadipura I sebagai pujangga dikonstruksi oleh posisinya sebagai santri sekaligus priyayi membentuk pandangan kontradiksi, yaitu sebagai pujangga Kasunanan Surakarta, tetapi secara tersirat subjek berpihak pada Pangeran Mangkubumi. Dari keberpihakan pada kubu kontra kolonial memunculkan ideologi nasionalisme yang muncul atas dasar politik nasionalisme demi mengamankan Surakarta yang lemah kala itu.
Institutionalizing and patronizing science: A history of the founding of Bataviaasch Genootschap
Darojat, Muhamad Hasan
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.516
This article discusses an effort to advance sciences for the public benefit through institutionalization of knowledge production and a significant role of government patronage for science. With the support of the VOC colonial government, Jacob Cornelis Matthieu Radermacher founded Bataviaasch Genootschap der Konsten en Wetenschappen on April 24, 1778, for the advancement of arts and sciences in the Dutch colonies. Using the historical method, this study aimed to construct a historical understanding in explaining the founding of the first European learned society in the Asian colonies. The study found that European experience of institutionalization of knowledge production and establishment of the scientific information exchange network was a significant factor in the founding of BG and that the role of the VOC government’s support was very significant to the point that BG’s foundation became possible due to that support and the lack of it led to BG’s temporary decline in activity from 1792 to 1812.
Peran perusahaan pelayaran dalam kegiatan pariwisata kolonial di Hindia Belanda (1896–1942)
Mujaffar, Irfal
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.520
Lalu lintas turis yang mengarus ke Hindia Belanda selama paruh abad terakhir periode kolonial rupanya telah menarik minat banyak perusahaan pelayaran. Mereka memandang kegiatan pariwisata sebagai sumber pemasukan baru yang potensial. Keterlibatan perusahaan-perusahaan pelayaran dalam kegiatan pariwisata juga menandai lanskap baru industri pelayaran di Hindia Belanda yang semula identik dengan angkutan komersial penumpang dan komoditas. Penelitian ini hendak mendiskusikan peran perusahaan-perusahaan pelayaran dalam kegiatan pariwisata di Hindia Belanda. Sumber-sumber yang digunakan bertumpu pada buku-buku panduan, catatan perjalanan, brosur serta majalah pariwisata sezaman. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan pelayaran tak sekadar hadir sebagai moda angkutan bagi turis belaka, melainkan juga berkontribusi dalam mendorong pengembangan pariwisata secara luas. Berbagai upaya dan strategi promosi yang mereka lakukan telah mendorong wilayah-wilayah di kepulauan Hindia Belanda menjadi semakin dikenal dan mudah diakses.
The fate of Chinese refugees in post-war Indonesia, 1946–1947
Alamsyah, Adi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.521
This article discusses the daily lives of the Chinese community in Indonesia after the proclamation of independence. Chinese community had a very different life compared to when Indonesia was still under Dutch colonial rule. Especially when the indigenous community (Bumiputra) voiced the adage "Siap Sedia" (Be Prepared) to ignite the spirit of Indonesian youth as motivation to defend Indonesian independence, so that Chinese community had to evacuate to secure and save themselves from the consequences of the conflict between the Republic of Indonesia and Dutch forces. This article aims to understand the conditions and daily lives of the Chinese community, considered as part of the colonial legacy. The article uses historical research methods including heuristic, verification, interpretation, and historiography. The article generates an understanding that there is a fluctuating dynamic in the lives of the Chinese community, especially in relation to the indigenous community.
Piyagêm Pagadén-Pamanukan (1808 M): Tradisi Mataram Islam dan keberlanjutannya di wilayah Priangan
Alnoza, Muhamad;
Nely, Rusmia
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.523
Piyagêm Pagadén-Pamanukan berisikan perintah menjalankan syariat agama Islam yang di keluarkan pada tahun 1808 oleh Adipati Sumedang pada masa itu, Suriyanagara II (1791-1828). Artikel ini meneliti motivasi dan sebab yang melatarbelakangi penerbitan piyagêm tersebut lewat penelusuran peristiwa sejarah dan keadaan politik yang kontekstual. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui bentuk pola penulisan prasasti yang dikeluarkan oleh golongan ménak, dengan meninjau hal-hal apa saja yang sekiranya masih dipertahankan dalam penulisan prasasti sejak zaman Mataram Islam dan hal apa saja yang sekiranya diadaptasi oleh Adipati Suriyanagara II. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sejarah dan epigrafi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa motivasi penerbitan Piyagêm Pagadén-Pamanukan adalah bentuk eksploitasi kapital politis Suriyanagara II sebagai Bupati Sumedang di masa itu. Di sisi lain, Suriyanagara II juga melestarikan tradisi penulisan Piyagêm Mataram dalam semangat memperkuat legitimasinya. Dengan mengeluarkan piyagêm berbahasa Jawa, Suriyanagara II mengidentikkan diri dengan kekuasaan Mataram di sebelah timur.
Upaya memaknai kembali Banyu Penguripan: Kearifan lokal masyarakat Kudus sebagai strategi penyediaan air bersih berkelanjutan
Ocsanda, Devina;
Ardianto, Tiyo;
Munir, Adelin Gusman;
Aisyah, Nurma;
Sartini, Sartini
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52829/pw.526
Masjid Menara Kudus di bawah kepengurusan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus membangun sebuah narasi besar mengenai Banyu Penguripan yang lekat dengan ajaran Sunan Kudus. Di luar narasi tersebut, masyarakat mengenal konsep air sebagai kunci kehidupan merespons kebutuhan mutlak akan air. Krisis air bersih menjadi masalah tingkat global yang sangat mendesak untuk diselesaikan. Riset mengenai Banyu Penguripan pada Masyarakat Kabupaten Kudus bertujuan untuk melihat strategi penyediaan air bersih berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Riset ini merupakan riset deskriptif kualitatif dengan menggunakan kerangka teoretis ekologi spiritual sebagai landasan analisis. Riset ini menghasilkan tiga temuan penting. Banyu Penguripan yang dikenal masyarakat Kudus memiliki historisitas terkait sinkretisme kepercayaan terhadap danyang, dewi, dan tokoh penyebar Islam (dalam Masa Pra-Islam, Masa Islam Awal, dan Masa Islam Lanjut). Dalam kerangka ekologi spiritual, Banyu Penguripan memengaruhi masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan dalam dimensi sakral. Banyu Penguripan dapat dipandang sebagai kearifan lokal yang mengajarkan cara konservasi air.