cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol eleutherine americana. merr. terhadap trichophyton tonsurans secara in vitro Ledi RN Sulistyawati; Diana Natalia; Mahyarudin Mahyarudin
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.214 KB) | DOI: 10.22338/mka.v41.i1.p22-31.2018

Abstract

Dermatofitosis adalah infeksi pada epidermis kulit, rambut dan kuku disebabkan oleh jamur dermatofita. Salah satu spesies dermatofita yang tersebar di seluruh dunia yaitu Trichophyton tonsurans. Eleutherine americana. Merr. dipercaya memiliki kemampuan untuk mengobati penyakit kulit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol umbi bawang Dayak dan mengetahui aktivitas anti jamur ekstrak etanol umbi bawang Dayak terhadap pertumbuhan Trichophyton tonsurans. Metode: Ekstraksi umbi bawang Dayak menggunakan metode maserasi dengan etanol 96% sebagai pelarut. Analisis metabolit sekunder ekstrak etanol umbi bawang Dayak menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Uji aktivitas anti jamur ekstrak etanol umbi bawang Dayak pada penelitian ini menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Variasi konsentrasi ekstrak etanol umbi bawang Dayak 60%, 30%, 15%, 7,5% dan 3,75%. Kontrol positif yang digunakan adalah itrakonazol 8 µg/disk sedangkan kontrol negatif yang digunakan Tween-80 10%. Hasil: Analisis senyawa metabolit sekunder pada ekstrak etanol umbi bawang Dayak didapatkan kuinon, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, steroid dan triterpenoid. Ekstrak etanol umbi bawang Dayak tidak membentuk zona hambat terhadap Trichophyton tonsurans. Kesimpulan: Ekstrak etanol umbi bawang Dayak tidak memiliki aktivitas anti jamur terhadap Trichophyton tonsurans.
INFEKSI NEISSERIA GONORRHOEAE AKIBAT SEXUAL ABUSE PADA SEORANG ANAK PEREMPUAN Satya Wydya Yenny
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 2: Agustus 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.14 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i2.p%p.2008

Abstract

AbstrakInfeksi Neisseria gonorrhoeae pada anak akibat sexual abuse sangat jarang dilaporkan.Dilaporkan satu kasus infeksi Neisseria gonorrhoeae pada seorang anak perempuan usia 6 tahun setelah mengalami sexual abuse satu minggu yang lalu.Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis adanya keputihan sejak 5 hari sebelum berobat. Pada pemeriksaan fisis tampak cairan berwarna krem menempel pada celana dalam, cukup banyak, serta sedikit kemerahan dan duh genital pada vulva. Hasil pemeriksaan mikroskopis ditemukan diplokokus Gram negatif dan kultur didapatkan Neisseria gonorrhoeae. Berdasarkan hasil tes sensitivitas, pasien diterapi dengan ceftriaxon 125 mg i.m, dosis tunggal dan memberikan kesembuhan.Infeksi ini membutuhkan penatalaksanaan yang komprehensif karena mempunyai dampak psikologis baik bagi anak maupun keluarga seumur hidupKata kunci : Neisseria gonorrhoeae, sexual abuse, anakAbstractNeisseria gonorrhoe infection in childhood caused by sexual abuse is considered rare reported.A young girl 6 years old suffering gonococcal infection was reported. The diagnostic procedure were base on clinically and laboratory findings. The source of transmission was sexual abuse by an adult man. Physical examination revealed purulent discharge, cream in colour that stains the underwear with minimal vaginal discharge and vulval erythema. Laboratory examination showed Gram-negative diplococcic and isolation of Neisseria gonorrhoeae. This patient had been treated with ceftriaxon 125mg given intramuscularly in a single dose. Result of the treatment was good.The psychological sequelae of sexual abuse and the turmoil in the family produced by suspicions and allegations are largely unknown, but are probably life long.Keywords: Neisseria gonorrhoeae, sexual abuse, childLAPORAN
THE ROLE OF CHEMOTHERAPHY OF BREAST CANCER Samuel J Haryono
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.711 KB)

Abstract

THE ROLE OF CHEMOTHERAPHY OF BREAST CANCER
PENCAPAIAN KOMPETENSI MAHASISWA PADA KEPANITERAAN KLINIK DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS Hardisman Hardisman; Yulistini Yulistini
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.342 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p88-104.2010

Abstract

AbstrakTujuan akhir dari pendidikan kepaniteraan klinik adalah untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, yang mana setelah menyelesaikan kepaniteraan klinik tersebut, mahasiswa harus mencapai level kompetensi sesuai yang ditegaskan dalam kurikukulum. Untuk menilai pencapaian kompetensi mahasiswa setelah menyelesaikan kepaniteraan klinik tersebut, sebuah penelitian evaluatif dilakukan dari Februari hingga September 2009 di Bagian Penyakit Dalam, Bedah dan Kesehatan Anak. Standar Kompetensi Dokter dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) digunakan sebagai dasar penilaian pencapaian kompetensi. Data-data dianalisa secara deskriptif, dengan fokus pada standar kompetensi level 3 dan 4. Penelitian dilakukan pada dua siklus rotasi kepaniteraan klinik. Dua ratus dua puluh empat mahasiswa dari total 249 (response rate 90%) berpartisipasi pada penelitian ini, dengan jumlah masing -masing bagian secara berurutan 72, 75 dan 77 orang. Didapatkan, mahasiswa mencapai level kompetensi dalam melakukan tindakan pemeriksaan klinik pada semua bagian tersebut. Pencapaian kompetensi dalam melakukan tindakan terapeutik dan invasif hanya tercapai pada Bagian Kesehatan Anak. Akan tetapi, mahasiswa tidak mencapai level kompetensi yang diharapkan dalam melakukan penatalaksanaan kasus pada Bagian Penyakit Dalam, Bedah dan Kesehatan Anak. Mereka mencapai level kompetensi pada level sedang (mencapai rata-rata 3 dari level 4 yang diharapkan) dalam melakukan penatalaksanaan kasus-kasus penyakit infeksi virus pada anak. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa perlu dilakukan peningkatan penataan dalam proses pendidikan klinik yang mencakup bimbingan yang optimal dan pengalaman penatalaksanaan kasus-kasus yang cukup.Kata Kunci: Kepaniteraan klinik, pengalaman dan kompetensi.ARTIKEL PENELITIAN89AbstractThe goal of clinical clerkship is to achieve professional of medical competencies. The students have to achieve required competencies as stated in the core curriculum after completing the clerkship. An evaluative research was conducted between February and September 2009 to assess clinical performance and competencies of Andalas Medical Students, in Department of Internal Medicine, Surgery and Pediatrics. Standard of clinical competencies from Indonesian Medical Council was used as standard levels the competencies. Later, the data was analyzed descriptively which focus on competencies of level 3 and 4. The study was conducted on two periods of clinical rotation. Two hundreds and twenty four students out of 249 (response rate 90%) participated in this study, which consist of 72, 75 and 77 in each department respectively. The students achieve required level of skill competencies in conducting clinical examination in all departments. However, they achieve required level of competencies in conducting invasive procedure and therapeutic skills are only in Department of Pediatrics. The students do not achieve required level of competencies in management of clinical cases in the Department of Internal Medicine, Surgery and Pediatrics. They achieve competencies only within medium level (level 3 of required level 4) in management of viral infections in pediatrics. The finding of the study implies that the implementation of clinical clerkship should be improved, which includes optimal supervision and exposure to clinical cases.Key words: Clerkship, experiences and clinical competencies.
KEJADIAN DEMAM NEUTROPENIA PADA PASIEN KANKER PAYUDARA YANG MENDAPAT KEMOTERAPI Rulli Firmansyah; Daan Khambri; Edison Edison; Zelly Dia Rofinda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.258 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i1.p12-19.2015

Abstract

AbstrakKemoterapi memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan kanker payudara. Obat ini bekerjamembunuh sel-sel kanker, namun dapat juga menghancurkan sel-sel sehat termasuk sel darahsehingga dapat menyebabkan neutropenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadiandemam neutropenia pada pasien kanker payudara yang mendapat kemoterapi. Jenis penelitianini adalah obsevasional dengan desain cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 98 orangpenderita kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUP Dr. M Djamil Padang.Pemeriksaan yang dilakukan adalah differential count dan suhu tubuh oral, kemudian dilakukananalisis statistik dengan uji non parametrik. Kejadian demam neutropenia ditemukan pada 10pasien (10,2%), dimana didapatkan hubungan yang bermakna antara regimen kemoterapidengan kejadian demam neutropenia (p=0,028), dan tidak terdapat hubungan yang bermaknaantara kejadian demam neutropenia dengan umur pasien (p=0,683) serta setting kemoterapi(p=0,631). Hubungan antara kejadian demam neutropenia dengan siklus kemoterapi tidak dapatdianalisis secara statistik. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa regimen kemoterapi non FACmeningkatkan resiko kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara yangdikemoterapi.AbstractChemotherapy has an important role in breast cancer management. Chemotherapy works bykilling cancer cells in the body. However, healthy cells including blood cells are also destroyedleading to a condition called neutropenia. This study aimed to determine the incidence ofneutropenia febrile in patients with breast cancer who received chemotherapy in thechemotherapy unit of Dr. M. Djamil Padang Hospital. This study was a cross-sectional study of98 samples. Leucosite differential count and oral body temperature were examined and wereanalyzed with non parametric test. Neutropenia febriles were found on 10 out of 98 patients(10.2%). There was a significant association found between chemotherapy regimen and theincidence of neutropenia febrile (p=0.028), however, there were no significant associationbetween the incidence of neutropenia febrile with patient’s age (p=0.683) and the setting ofchemotherapy (p=0.631). While the correlation between the incidence of neutropenia febrile andchemotherapy cycle can not be statistically analyzed. It is concluded that chemotherapy causesincidence of neutropenia febrile at 10.2% patient. Non FAC chemotherapy regimens increasesthe risk of neutropenia febrile in patients with breast cancer patient receiving chemotherapy.
HEREDITARY NON-POLYPOSIS COLORECTAL CANCER (LYNCH SYNDROME) PADA WANITA UMUR 16 TAHUN Asril Zahari; Sudiyatmo Sudiyatmo
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.452 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i2.p172-180.2011

Abstract

AbstrakKanker kolorektal menduduki peringkat ketiga jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia. Sekitar 3% kasus kanker kolorektal merupakan jenis hereditary non polyposis colorectal cancer (HNPCC)/Lynch syndrome, yang sering muncul pada usia muda. Dilaporkan satu kasus di rumah sakit Dr. M. Djamil Padang, wanita berumur 16 tahun dengan keluhan nyeri perut kanan bawah. Didapatkan riwayat penyakit serupa pada kakek, bibi pasien dan enam anggota keluarga yang lain. Pada pemeriksaan fisik abdomen teraba massa dengan konsistensi keras dan terfiksir. Pada kolonoskopi dan biopsi ditemukan tumor jenis adenocarcinoma colon moderatly differentiated di fleksura hepatika dan polip di kolon sigmoid. Berdasarkan kriteria Amsterdam pasien didiagnosa Lynch syndrome. Pada Pasien dilakukan subtotal kolektomi, anastomose ileorectal dan kemoterapi ajuvan. Identifikasi genetik sedang dikerjakan untuk melihat adanya kelainan genetik pada pasien. Pasien melakukan skrining berkala untuk mencegah kanker HNPCC jenis yang lain.Kata kunci : Hereditary non polyposis colorectal cancer, Lynch syndrome, Microsatellite instability, skrining.AbstractCarcinoma colorectal is the third most common type of cancer that occurs in the world. About 2% -3% of cases of colorectal cancer is hereditary non-polyposis colorectal cancer (HNPCC)/Lynch syndrome, which often appear at a young age. Amsterdam and Bethesda criteria have been used to identify patients with Lynch syndrome.one case was reported at the Dr. M. Djamil Padang hospital, a 16-year-old girl with right lower abdominal pain. Obtained a history of similar disease in grandparents, aunts and six other family members. On physical examination found palpable fixed abdominal mass with hard consistency in the lower right abdomen. At colonoscopy and biopsy found a moderatly differentiated adenocarcinoma colon type at the hepatic flexure and the sigmoid colon polyp. Based on the Amsterdam criteria, patients diagnosed with HNPCC/Lynch syndrome. Patients treated with subtotal colectomy, ileorectal anastomose and adjuvant chemotherapy.LAPORAN KASUS173Genetic identification is underway to see any genetic abnormalities. Patients be screened regularly to prevent other types of cancer HNPCC.Key word : Hereditary non-polyposis colorectal cancer, Lynch syndrome, Microsatellite instability, screening.
DIAGNOSIS AND MANAGEMENT OF A FISH BONE FOREIGN BODY AT ESOPHAGEAL INTROITUS WITH AND WITHOUT RETROPHARYNGEAL ABSCESS Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Yolazenia Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.69 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p238-247.2015

Abstract

AbstrakBenda asing yang tertelan merupakan kegawatdaruratan di bidang telinga hidung tenggorok (THT). Tulang ikan merupakan salah satu benda asing di tenggorok yang banyak ditemukan. Abses retrofaring merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat tersangkut benda asing ini. Foto polos leher posisi lateral perlu dilakukan untuk kecurigaan adanya lesi di daerah faring. Pasien dengan gejala menetap harus dievaluasi dengan endoskopi, walaupun pada pemeriksaan radiologi tidak tampak. Benda asing harus segera dikeluarkan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Abses retrofaring diterapi dengan medikamentosa dan drainase pus. Jika terdapat benda asing harus dikeluarkan. Dilaporkan dua kasus benda asing tulang ikan di introitus esofagus. Kasus pertama pada seorang pasien laki-laki umur 42 tahun tanpa abses retrofaring dan kasus kedua pada anak laki-laki berusia 8 tahun dengan abses retrofaring. Tulang ikan terlihat pada ronsen foto leher jaringan lunak posisi lateral. Pada kedua pasien dilakukan esofagoskopi untuk mengambil tulang ikannya dan pada pasien kedua dengan abses retrofaring, absesnya sudah pecah dan pus didrainase dikombinasikan dengan pemberian antibiotik intravena.AbstractForeign body ingestion is an emergency in otorhinolaryngology. One of the most common ingested foreign body is a fish bone. Retropharyngeal abscess is well-documented complication from foreign body ingestion. The soft tissue neck radiograph lateral position is the most significant radiologic examination performed in a patient with a suspected pharyngeal lesion. In patient with persistent symptoms should be evaluated with endoscopy, although radiological examination was negative. We have to extract foreign body immediately to prevent further complication. Retropharyngeal abscess should be treated with medical and drainage of pus. If there is a foreign body must be removed. Two cases of a fish bone foreign body at esophageal introitus was reported. First case in 42 year-old male without retropharyngeal abscess and second case in 8 year-old boy with retropharyngeal abscess. Fish bones were seen from lateral neck soft tissue x-ray. Esophagoscopy were performed to removed fish bones and in the second patient, the abscess had ruptured and the pus was drainage as the treatment combined with intravenous antibiotic.
PERBANDINGAN EKSPRESI TUMOR NECROSIS FACTOR-α (TNF-α), INTERLEUKIN-1 (IL-1), DAN INTERLEUKIN-10 (IL-10) PADA LESI DAN NON-LESI PSORIASIS VULGARIS di RS. Dr. M. DJAMIL, PADANG Sri Lestari; Irma Primawati; Eryati Darwin
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.446 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakPatogenesis psoriasis dipengaruhi oleh sitokoin proinflamatori TNF-α, IL-1, dan sitokin anti-inflamatori IL-10. Dengan tehnik imunohistokimia dapat dideteksi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada jaringan kulit.Membandingkan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada lesi dan non-lesi kulit dengan pemeriksaan imunohistokimia, dan hubungan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 dengan derajad keparahan penyakit (skor PASI).Merupakan penelitian observasional dengan disain nested case control pada pasien psoriasis yang datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin, tahun 2003-2006. Untuk menghitung derajad keparahan penyakit dipakai skor PASI. Didapat 21 pasien (umur 21-68 tahun) yang ikut penelitian ini. Dilakukan biopsi dengan pewarnaan HE dan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal. Perbandingan jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 dihitung dengan student’s t-test. Skor PASI dihitung dengan regression equation simplex, dan hubungan skor PASI dengan TNF-α, IL-1 dan IL-10 menggunakan Pearson’s correlation coefficient (r).Sebanyak 21 pasien (14 laki-laki, 7 perempuan), umur rata-rata 44,67±13,309. Lama menderita sakit antara 1-20 tahun (rata-rata 4,9±4,939). Nilai skor PASI antara 8,0 – 32,7(rata-rata 19,362±7,241). TNF-α, IL-1, dan IL-10 terwarnai kuat di dermis lesi psoriasis : TNF-α (20-35, mean 27.95±4.056) dibandingkan non-lesi kulit (0-1, mean 0.10±0.301), p< 0.0001; IL-1 (19-31, mean 23.67±3.411); and IL-10 (4-13, mean 8.52±2.562).Tidak terdapat ekspresi IL-1 and IL-10 pada non-lesi kulit. Tidak terdapat hubungan antara skor PASI dengan ekspresi TNF-α (r=0,365, p>0,05), IL-1(r=0.267, p>0.05), and IL-10 (r=0.054,p>0.05).Jumlah ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 meningkat secara signifikan pada lesi dibandingkan non-lesi kulit. Tidak terdapat hubungan antara skor PASI dengan ekspresi TNF-α, IL-1, dan IL-10 pada lesi kulit psoriatik.Kata kunci : Psoriasis vulgaris, TNF-α, IL-1, IL-10, PASIARTIKEL PENELITIAN30AbstractThe inflammatory cytokines (TNF-α, IL-1) and anti-inflammatory cytokine (IL-10) have been implicated in patogenesis of psoriasis. Immunohistochemistry has been used to detect TNF-α, IL-1, and IL-10 in skin.To compare the amount of TNF-α, IL-1, and IL-10 expressions in lesion and non- lesion psoriatic skin by immunohistochemistry examination, and the correlation of amounts of TNF-α, IL-1, and IL-10 expressions to disease severity degree (PASI score).A nested case control study was done among psoriatic pasients who attended to our policlinic during 2003-2006.The PASI score was used to measure of disease severity degree. There were 21 patients (ages 21- 68 yo). We did biopsy and stained using HE and histochemistry examination using monoclonal antibody. The expression amount of TNF-α, IL-1, and IL-10 were compared by student’s t-test. PASI scores were expressed using regression equation simplex, and the correlation between of PASI scores to TNF-α, IL-1, dan IL-10 were using Pearson’s correlation coefficient (r).Twenty one patients (14 men, 7 women), mean age 44.67±13.309. The duration of the disease were 1-20 tahun, mean 4.9±4.939. PASI score range 8.0 – 32.7 (mean 19.362±7.241). There were strong staining in dermis of skin lesions; TNF-α (20-35, mean 27.95±4.056) compared non-lesion skins (0-1, mean 0.10±0.301), p< 0.0001; IL-1 (19-31, mean 23.67±3.411); and IL-10 (4-13, mean 8.52±2.562).There were no expressions of IL-1 and IL-10 in non-lesion. No correlation between PASI scores and expressions of TNF-α (r=0,365, p>0,05), IL-1 (r=0.267, p>0.05), and IL-10 (r=0.054,p>0.05).The amount of TNF-α, IL-1, dan IL-10 expressions were increased significantly in the lesions compared non-lesion skin and there were no correlation between PASI scores to the expressions of the TNF-α, IL-1, and IL-10 in psoriatic skin.Keywords : Psoriasis vulgaris, TNF-α, IL-1, IL-10, PASI
HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KEPATUHAN KEMOTERAPI PADA PENDERITA KEGANASAN YANG MENGALAMI ANSIETAS DAN DEPRESI Gina Sonia; Helmi Arifin; Arina Widya Murni
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.461 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i1.p32-37.2014

Abstract

AbstrakPenderita keganasan mendapat kemoterapi banyak menunjukkan gejala psikologisseperti ansietas dan depresi yang sangat berpengaruh terhadap kepatuhan penderita dalammenjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan mekanisme kopingdengan kepatuhan melakukan kemoterapi pada penderita keganasan yang mengalamiansietas dan depresi. Penelitian dilakukan selama 3 bulan pada penderita keganasan yangmenjalani kemoterapi di RSUP M.Djamil dengan metode cross sectional. Jumlah pasienadalah 59 pasien, 38 diantaranya mengalami ansietas dan/atau depresi. Mekanisme kopingdinilai dengan Brief Cope. Kepatuhan dinilai dengan wawancara dan kuesioner. Ansietasdan depresi dinilai dengan HAD Scale. Data di analisa dengan SPSS menggunakan uji Chi-Square dan korelasi koefisien kontingensi dengan tingkat kebermaknaan p<0,05. Kesimpulandari penelitian ini adalah prevalensi depresi lebih tinggi dari pada ansietas pada penderitakeganasan yang menjalani kemoterapi, dan ada hubungan kuat yang bermakna secarastatistik antara mekanisme koping dengan kepatuhan melakukan kemoterapi pada penderitakeganasan yang mengalami ansietas dan depresi.AbstractPatients with malignancies who received chemotherapy show psychological symptomssuch as anxiety and depression that correlated with their adherence to chemotherapy. Thisstudy aims to see the relationship between coping mechanisms with chemotherapy adherencein patients with malignancies who experience anxiety and depression. The study was conductedfor 3 months in patients with malignancies undergoing chemotherapy at Dr M.Djamil usingcross sectional design. The number of patients was 59, 38 of them experienced anxiety and/ordepression. Coping mechanism was assessed using the Brief Cope. Compliance was assessedby interview and questionnaire. Anxiety and depression were assessed by the HAD Scale. Datawas analyzed with SPSS using Chi-Square and coefficient contingency correlation, significancelevel of p <0.05. The final conclusion of this study is that the prevalence of depression washigher than the prevalence of anxiety in patients with malignancies who undergo chemotherapy,and there was a strong relationship between coping mechanism and chemotherapy adherencein patients with malignancies who experienced anxiety and depression.
Disfonia akibat polip pita suara Ade Asyari; Novialdi Novialdi; Fachzi Fitri; Nur Azizah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p52-63.2017

Abstract

Disfonia merupakan gejala utama disebabkan adanya kelainan pada pita suara. Kelainan bisa berupa lesi jinak seperti polip pita suara, sering terjadi karena fonotrauma yang disebabkan vocal abuse. Polip pita suara yang tidak hilang dengan terapi konservatif maka pembedahan merupakan pilihan terapi. Tujuan: Memahami penyebab dan penanganan yang tepat pasien dengan disfonia.  Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus polip pita suara kanan pada seorang perempuan usia 30 tahun dengan keluhan utama disfonia. Disfonia pada pasien membaik setelah dilakukan terapi pembedahan. Kesimpulan: Polip pita suara merupakan salah satu lesi jinak dengan keluhan utama disfonia. Disfonia karena polip pita suara umumnya membaik setelah polip diangkat.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue