cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
ISM (Intisari Sains Medis) : Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25033638     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Intisari Sains Medis is published by Medical Scientific Community, Indonesia. Intisari Sains Medis is an international, multidisciplinary, peer-reviewed, open access journal accepts papers for publication in all aspects of Science Digest, Medical Research Development, Research Medical Field and Theory. We also publish cases from third world country, that is considered very rare and special cases.
Arjuna Subject : -
Articles 1,063 Documents
Gambaran tingkat pengetahuan tentang Periksa Payudara Sendiri (SADARI) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Indonesia angkatan 2013-2015 Annisa Alviariza; Putu Anda Tusta Adiputra
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.857 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.531

Abstract

Background: BSE (Breast Self-Examination) is a systematic approach to inspection and palpation examination of the chest and armpit independently. BSE can be used as a means of early detection of breast cancer using a simple, inexpensive and safe. This study aims to determine the level of knowledge about BSE among students of Medical Education Faculty of Medicine Udayana University class of 2013, 2014 and 2015.Methods: A descriptive cross-sectional study was conducted among 285 respondents at Faculty of Medicine, Medical Education Program class of 2013, 2014, and 2015. The instrument used in this study was a valid and reliable questionnaire to identify the respondents' knowledge about breast cancer and BSE. Questionnaire data that has been collected is processed in the form of descriptive data analysis by calculating proportion and percentages. Data were analyzed using SPSS version 17 for Windows.Results: The highest average score about SADARI were obtained in Class 2013 (75%), followed by Class 2014 (72%), and Class 2015 (67%) students. A high level of knowledge criteria about SADARI also suggest similar results where Class 2013 was having the highest percentage (63%), followed by Class 2014 (25%), and Class 2015 (8%). However, based on the overall results, the students had a moderate score of 66%. Besides, according to the questions on the questionnaire, the students had an excellent average score about signs and symptoms (83%), cause (79%), and stage of breast cancer (79%).Conclusion: Class 2013 had a good level of knowledge regarding SADARI compared with Class 2014 and 2015. However, overall students still at a moderate average score of SADARI. Latar Belakang: SADARI (Periksa Payudara Sendiri) adalah metode sistematik untuk pemeriksaan inspeksi dan palpasi dada dan ketiak secara mandiri. SADARI dapat digunakan sebagai cara deteksi dini kanker payudara dengan menggunakan cara yang sederhana, murah dan aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai SADARI Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2013, 2014 dan 2015.Metode: Sebuah studi potong lintang deskriptif dilakukan terhadap 285 responden di Fakultas Kedokteran, Program Pendidikan Kedokteran kelas 2013, 2014, dan 2015. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang sahih dan reliabel untuk mengidentifikasi pengetahuan responden tentang kanker payudara dan BSE. Data kuesioner yang telah dikumpulkan diolah dalam bentuk analisis data deskriptif dengan menghitung proporsi dan persentase. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 17 untuk Windows.Hasil: Nilai rata-rata tertinggi tentang SADARI diperoleh pada siswa di Kelas 2013 (75%), diikuti oleh Kelas 2014 (72%), dan Kelas 2015 (67%). Kriteria tingkat pengetahuan tinggi tentang SADARI juga memberikan hasil yang serupa di mana Kelas 2013 memiliki persentase tertinggi (63%), diikuti oleh Kelas 2014 (25%), dan Kelas 2015 (8%). Namun, berdasarkan hasil keseluruhan, para siswa memiliki skor sedang 66%. Selain itu, menurut pertanyaan pada kuesioner, para siswa memiliki skor rata-rata yang sangat baik tentang tanda dan gejala (83%), penyebab (79%), dan stadium kanker payudara (79%).Kesimpulan: Kelas 2013 memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang SADARI dibandingkan dengan Kelas 2014 dan 2015. Namun, keseluruhan siswa masih berada pada skor rata-rata SADARI yang moderat.
Efek pemberian kombinasi jus aloe vera dan glibenklamid terhadap penurunan kadar glukosa darah pada model tikus diabetes yang diinduksi dengan streptozotosin dan nikotinamid I Kadek Dwi Iman Muliawan
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 2 (2019): (Available online: 1 August 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.526 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i2.532

Abstract

Introduction: Antidiabetic oral was not optimal for reducing blood glucose, patients use the various antidiabetic herbs along with antidiabetic drug for controlling their blood glucose level. Aloe vera is one of the plants that are often used by diabetic patients who are also taking antidiabetic medication and susceptible arise interaction between them. Objectives of this study is to determine the effect of Aloe vera juice and glibenclamide combination in reducing blood glucose levels in the diabetic rats model induced by streptozotosin and nicotinamide.Method: Research metodology the diabetic rats were randomized into three groups and administered CMC 0,5%, glibenclamide, or Aloe vera and glibenclamide. The animals were treated orally once daily for twentyeight days. Data were analyzed using one way AnovaResult: Findings of this study indicate that of Aloe vera juice in combination with glibenclamide significantly reduced blood glucose levels significantly in diabetes rats model (p<0,05)Conclusion: Combination of Aloe vera juice and glibenclamide be able to lower blood glucose levels and statistically significant.
Gambaran prevalensi fraktur humerus di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Bali, Indonesia periode tahun 2015-2016 Ni Kadek Dyah Devita Sari; Anak Agung Gde Yuda Asmara
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.203 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.533

Abstract

Background: Fracture is the cause of a high number of disabilities worldwide. One of the fractures is humerus fracture, often occur because of injury. The classic symptoms of a fracture are a history of trauma, pain and swelling in the fractured bone, deformity, and musculoskeletal malfunction. This study aims to determine the prevalence of humerus fracture in Sanglah General Hospital Centre of April 2015 - December 2016.Methods: A retrospective descriptive cross-sectional study by secondary data was conducted among 27 medical records of the patient. The sample population of this study were all inpatients with humerus fracture at orthopaedic installation Sanglah General Hospital during April 2015–December 2016. Data were analyzed using SPSS version 21 for Windows.Results: Most cases were females (51.9%). The age groups of <20 years old and 20-40 years old have the highest frequency (29.6%, respectively). The students had the most common of humerus fracture (33.0%). Closed fracture prevalence was found by 77,8%, and the open fracture was 22,2% from all cases. Management of the most committed to a closed fracture is ORIF while the open fracture is having debridement ORIF as the most committed management.Conclusion: The most prevalence of humerus fracture at Sanglah General Hospital during the 2015-2016 period was females, age group <20 and 20-40 years old, occurred in students, and closed fracture type. Latar belakang: Fraktur merupakan penyebab tingginya angka kecatatan di seluruh dunia. Salah satunya fraktur humerus, sering terjadi karena cedera. Gejala klasik fraktur adalah adanya riwayat trauma, rasa nyeri dan bengkak di bagian tulang yang patah, deformitas, gangguan fungsi muskuloskletal, putusnya kontinuitas tulang dan gangguan neurovascular. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi fraktur humerus di RSUP Sanglah dari April 2015 – Desember 2016Metode: Penelitian potong lintang deskriptif retrospektif dengan data sekunder dilakukan terhadap 27 catatan medis pasien. Populasi sampel penelitian ini adalah semua pasien rawat inap dengan fraktur humerus di instalasi ortopedi RSUP Sanglah selama April 2015 - Desember 2016. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 21 untuk Windows.Hasil: Sebagian besar kasus adalah perempuan (51,9%). Kelompok usia <20 tahun dan 20-40 tahun memiliki frekuensi tertinggi (masing-masing 29,6%). Para siswa memiliki proporsi fraktur humerus yang paling sering (33,0%). Prevalensi fraktur tertutup ditemukan oleh 77,8%, dan fraktur terbuka adalah 22,2% dari semua kasus. Manajemen yang paling banyak terhadap fraktur tertutup adalah ORIF sedangkan fraktur terbuka mengalami debridemen ORIF sebagai manajemen yang paling banyak.Kesimpulan: Prevalensi fraktur humerus yang paling banyak di RSUP Sanglah selama periode 2015-2016 adalah wanita, kelompok usia <20 dan 20-40 tahun, terjadi pada siswa, dan tipe fraktur tertutup.
Gambaran kualitas hidup peserta Pos Binaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Abang I, Karangasem, Bali, Indonesia I Putu Sakamekya Wicaksana Sujaya; Ni Made Sri Nopiyani; Ni Wayan Meni
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.947 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.534

Abstract

Background: Hypertension is a disease that is a significant problem in the world. The prevalence of hypertension worldwide based on JNC-7 covers more than two-thirds of individuals after the age of 65 years. Hypertension can have an impact on the quality of life of patients which is influenced by various complications. PTB with the occurrence of hypertension in UPT Puskesmas Abang I, Karangasem, Bali, Indonesia.Methods: A cross-sectional study with a total sampling technique was conducted to the 5 villages in the Abang I Public Health Services during September-October 2018. A total of 48 respondents who meet the inclusion and exclusion criteria were included in this study. The variables assessed included gender, age group, level of education, occupational status, degree of hypertension, and overall quality of life among respondents based on the SF-36 questionnaire. Data were analyzed using SPSS software version 17 for Windows. Results: The gender proportion of females and males did not differ (50.00%). Most respondents were ≥ 65 years-old (54.17%), followed by low education level (85.42%), jobless (52.08%), hypertension (HT) grade II (56.25%), Rerata systolic blood pressure 159.5±18 mmHg, and diastolic blood pressure of 93±8 mmHg. Most respondents have a good quality of life in the domain of physical roles (100.00%), health (58.33%), vitality (60.41%), emotions (64.58%), and mental health (58.33%).Conclusion: The quality of life among respondents with hypertension at UPT Abang I Public Health Services, Karangasem, Bali, Indonesia showed good results in the domains of a physical role, health, vitality, emotions, and mental health. Latar Belakang: Hipertensi adalah salah satu penyakit yang menjadi masalah utama di dunia. Prevalensi hipertensi di seluruh dunia berdasarkan JNC-7 mencakup lebih dari dua pertiga individu setelah usia 65 tahun. Hipertensi dapat berdampak pada kualitas hidup pasien dimana dipengaruhi oleh berbagai komplikasi penyertanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup peserta POSBINDU PTM dengan kejadian hipertensi di UPT Puskesmas Abang I, Karangasem, Bali, Indonesia.Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan teknik Total Sampling pada 5 Desa di Kawasan UPT Kesmas Abang I selama September-Oktober 2018. Sebanyak 48 orang yang telah memasuki kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan dalam penelitian ini. Variabel yang dinilai meliputi jenis kelamin, kelompok usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, derajat hipertensi, dan kualitas hidup responden secara keseluruhan berdasarkan kuisioner SF-36. Data dianalisis menggunakan piranti lunak SPSS versi 17 untuk Windows.Hasil: Proporsi jenis kelamin perempuan dan laki-laki tidak berbeda (50%). Sebagian besar pasien berusia ≥ 65 tahun (54,17%), diikuti dengan pendidikan rendah (85,42%,), tidak bekerja (52,08%,), hipertensi (HT) derajat II (56,25%), rata-rata tekanan darah sistolik 159.5±18 mmHg, dan tekanan darah diastolik 93±8 mmHg. Sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang baik pada domain peran fisik (100,00%), kesehatan (58,33%), vitalitas (60,41%), emosi (64,58%), dan kesehatan mental (58,33%).Kesimpulan: Kualitas hidup responden dengan hipertensi di UPT Puskesmas Abang I, Karangasem, Bali, Indonesia menunjukkan hasil yang baik pada domain peran fisik, kesehatan, vitalitas, emosi, dan kesehatan mental.
Perbedaan olahraga aerobik intensitas sedang dan High-Intensity Interval Training (HIIT) terhadap kebugaran fisik pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Indonesia Komang Satrya Wirawan; I Putu Adiartha Griadhi
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.384 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.535

Abstract

Background: Exercise is a healthy habit, which is already a lot of becoming obsolete. In addition to able to increase our endurance, it can also indirectly reduce or even cure some disease. This study aims to know the difference in physical fitness between aerobic exercise with moderate intensity and High-Intensity Interval Training (HIIT).Methods: A randomized observational experimental study using pre- and post-test group design was conducted among 16 respondents at Department of Physiology, Faculty of Medicine, Universitas Udayana, Bali, Indonesia during March-April 2016. The respondents were divided into 2 groups: Group 1 for High-Intensity Interval Training (HIIT) and Group 2 for moderate aerobic intensity exercise. Harvard Step Test was carried out to determine the physical fitness between both groups. Data were analyzed using SPSS version 23 for Windows. Results: Most of the respondents were males (68.75%) and age 21 years-old (68.75%). Mann-Whitney test found no significant difference between HIIT and moderate training before and after the exercise (p=0.293; p=0.247). However, a significant difference in physical fitness by Wilcoxon Test before and after exercise was found in HIIT (p=0.001) and moderate exercise (p=0.001) groups.Conclusion: By doing aerobic exercise training, either high or moderate-intensity, can lead to an increase in physical fitness. However, the difference obtained from both types of training is not too visible or insignificant. Latar Belakang: Olahraga merupakan suatu kebiasaan sehat yang selama ini sudah banyak mulai ditinggalkan. Disamping mampu meningkatkan ketahanan tubuh kita, olahraga juga dapat secara tidak langsung mengurangi atau bahkan meyembuhkan beberapa penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara olahraga aerobik dengan intensitas sedang dan High-Intensity Interval Training (HIIT).Metode: Penelitian eksperimental observasional acak menggunakan rancangan kelompok sebelum dan sesudah pengujian dilakukan terhadap 16 responden di Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Bali, Indonesia selama Maret-April 2016. Para responden dibagi menjadi 2 kelompok: Grup 1 untuk Pelatihan Interval Intensitas Tinggi (HIIT) dan Grup 2 untuk pelatihan olahraga aerobic intensitas sedang. Harvard Step Test dilakukan untuk menentukan kebugaran fisik antara kedua kelompok. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 23 untuk Windows.Hasil: Sebagian besar responden adalah laki-laki (68,75%) dan berusia 21 tahun (68,75%). Uji Mann-Whitney tidak menemukan perbedaan yang bermakna antara HIIT dan pelatihan sedang sebelum dan sesudah latihan (p = 0,293; p = 0,247). Namun, perbedaan yang bermakna dalam kebugaran fisik oleh Tes Wilcoxon sebelum dan sesudah latihan ditemukan pada kelompok HIIT (p = 0,001) dan olahraga sedang (p = 0,001).Kesimpulan: Dengan melakukan latihan aerobik, baik intensitas tinggi atau sedang, dapat menyebabkan peningkatan kebugaran fisik. Namun, perbedaan yang didapat dari kedua jenis pelatihan ini tidak terlalu terlihat atau tidak signifikan.
Peranan p53 dalam perkembangan dan prognosis osteosarkoma: tinjauan pustaka I Wayan Juli Sumadi; Nyoman Adiputra
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.192 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.536

Abstract

Background: Osteosarcoma is the most common non hematopoietic primary malignant tumor in the bone. Several factors have been related through the development and prognosis of osteosarcoma. One of them is the mutation of p53 gene that encodes p53 protein. This literature review aims to evaluate the role p53 in the progressiveness and prognosis of osteosarcoma.Methods: A review of relevant literature was performed to elaborate p53 involvement in osetosarcoma. A total of 22 qualified published literature from 2006 until 2017 were collected from several electronic database as well as manual search and included in this review.Results: P53 has an important role in maintaining genome integrity through its ability to induce genes involved in senescence process, DNA repair and apoptosis. Loss of P53 induces progenitor cells to proliferate and experience differentiation disturbances thereby increasing the potential malignant transformation to osteosarcoma. Loss of p53 also increases osteosarcoma progression by increasing proliferation and providing a good microenvironment for tumor cells. P53 causes inhibition to other tumor suppressor proteins such as BMP-2 and CD137L. Loss of P53 has a role in providing a good microenvironment for osteosarcoma cells to invade surrounding tissue, metastasis and suppressed immune response through increased activity of SDF-1, HIF-1α, VEGF, and NO. High mutant p53 expression has a positive association with short-term survival but does not have a strong association to predict long-term survival.Conclusion: A p53 gene has a pivotal role in the progressiveness and prognosis of osteosarcoma through increasing proliferation and providing a good microenvironment for tumor cells Latar Belakang: Osteosarkoma merupakan tumor ganas primer non hematopoietik tersering pada tulang. Berbagai faktor telah dikaitkan dengan perkembangan dan prognosis pasien osteosarkoma, Salah satunya adalah mutasi gen p53 yang menyandi protein p53. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengevaluasi peran p53 dalam progresif dan prognosis osteosarkoma.Metode: Tinjauan pustaka yang relevan dilakukan untuk menguraikan keterlibatan p53 dalam osetosarcoma. Sebanyak 22 literatur yang diterbitkan berkualitas dari 2006 hingga 2017 dikumpulkan dari beberapa basis data elektronik serta pencarian manual dan dimasukkan dalam ulasan ini.Hasil: P53 mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjaga integritas genom melalui kemampuannya untuk menginduksi gen-gen yang terlibat dalam proses penuaan sel, perbaikan DNA maupun apoptosis. Hilangnya p53 menginduksi sel-sel progenitor osteosarkoma untuk berproliferasi dan mengalami gangguan diferensiasi sehingga meningkatkan potensi transformasi keganasan menjadi osteosarkoma. Kehilangan p53 juga meningkatkan progresivitas osteosarkoma melalui peningkatan proliferasi dan penyediaan lingkungan mikro yang baik bagi sel tumor. P53 menyebabkan hambatan fungsi protein penekan tumor lainnya yaitu BMP-2 dan CD137L. Kehilangan p53 berperan dalam menyediakan lingkungan mikro yang baik untuk sel-sel osteosarkoma untuk menginvasi jaringan sekitar, bermetastasis dan menghambat aktivitas sistem imun melalui peningkatan aktivitas SDF-1, HIF-1α, VEGF, dan NO. Ekspresi p53 mutan yang tinggi memiliki hubungan positif dengan angka harapan hidup jangka pendek namun tidak memiliki hubungan yang kuat untuk memprediksi harapan hidup jangka panjang.Kesimpulan: Gen p53 memiliki peran penting dalam progresivitas dan prognosis osteosarkoma melalui peningkatan proliferasi dan menyediakan lingkungan mikro yang baik untuk sel tumor.
Hubungan jenis persalinan dengan kejadian asfiksia neonatorum di ruang perinatologi dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD Wangaya Kota Denpasar Cynthia Jodjana; I Wayan Bikin Suryawan
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.62 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.537

Abstract

Background: Newborn deaths are still a major health problem and several health efforts have been made to improve children's health. Based on the results of the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2017, the Neonatal Mortality Rate (NMR) is 15 per 1000 live births. One of some cause deaths is asphyxia or  respiratory problems 36%. Neonatal asphyxia is a condition of a newborn who fails to breath spontaneously and regular immediately after birth. Based on the annual report of the Sanglah Central General Hospital (RSUP) in Denpasar, the percentage of asphyxia events has increased 11.31% in 2014. Factors that cause neonatal asphyxia including maternal factor, infant factor, placental factor and labor factor. The purpose of this study is  to determine the relationship between types of labor with asphyxia neonatorum.Method: The type of research used is observational analytic study with case-control. In this study, sampling was perfomed at Wangaya Hospital June 2018-December 2018 in the NICU and and Perinatology room until  the number of research samples fullfillig the inclusion and exclusion criteria with 45 cases and 45 samples.The samples was obtained by consecutive sampling method. The case in this research is  neonates who has neonatal asphyxia and controls in this study were neonates who did not have neonatal asphyxia. Data obtained were analyzed analytically, using SPSS 23.0 software using the Mc Nemar test with p value of <0.05 considered significant.Results: There was no relationship between types of labor with neonatal asphyxia (p = 0.481, OR = 1.429, IK95% = 0.368-5,548).Conclusion: There is no significant relationship between the type of labor asphyxia neonatorum. Latar Belakang: Kematian bayi baru lahir masih merupakan masalah kesehatan yang utama dan beberapa upaya kesehatan telah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, Angka Kematian Neonatal (AKN) sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian salah satunya adalah asfiksia atau gangguan pernapasan sebesar 36%. Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang ditandai dengan gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Berdasarkan laporan tahunan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, persentase kejadian asfiksia meningkat kembali 11,31% pada tahun 2014. Faktor yang menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain faktor ibu, faktor bayi, faktor plasenta dan faktor persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis persalinan dengan asfiksia neonatorum.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah studi observasional analitik dengan metode case-control. Pada penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan di RSUD Wangaya periode Juni 2018-Desember 2018 di ruang NICU dan dan Perinatologi sampai jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 45 kasus dan 45 sampel. Sampel diperoleh melalui metode consecutive sampling. Kasus pada penelitian ini adalah neonatus yang mengalami asfiksia neonatorum, sedangkan kontrol pada penelitian ini adalah neonatus yang tidak mengalami asfiksia neonatorum. Data yang diperoleh dianalisis secara analitik, menggunakan perangkat lunak komputer SPSS 23.0 dengan menggunakan tes Mc Nemar dengan nilai p<0,05 dianggap signifikan.Hasil: Tidak terdapat hubungan antara jenis persalinan dengan asfiksia neonatorum (p =0,481,OR=1,429, IK95% = 0,368-5,548).Simpulan: Tidak  terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia neonatorum.
Jejunal atresia in the newborn: three cases after resection and end-to-end anastomoses Ni Made Sukewanti; I Wayan Dharma Artana; Putu Junara Putra; I Made Kardana; Made Sukmawati; Kadek Deddy Ariyanta
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1204.964 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.538

Abstract

Background: Intestinal atresia is a common cause of neonatal intestinal obstruction. Jejunal atresia occurs more frequent than duodenal or colonic atresias while single atresias are most commonly encountered. Jejunal atresia is classified into 4 types: Type I (a mucosal/septal), Type II (a fibrous cord/band), Type III (blind ends are entirely separated without a fibrous cord between them and a large mesenteric defect), and Type IV (combination of atresia type I to III). This study aims to elaborate jejunal atresia in the newborn after resection and end-to-end anastomoses.Case Description: We report three cases of jejunal atresia consists of different types: type IV (first case), type IIIa (second case) and type I (third case). Cases were neonates born with signs of upper gut obstruction. Bile-stained vomiting was reported a few hours after birth and failed to pass meconium in the first 24 hours. Postnatal abdominal X-ray showed dilatation of the gaster and no gas present in the pelvic floor. In the third case, it showed a triple bubble sign on abdominal x-ray and a laparotomy revealed the type of jejuno-ileal atresia. Also, the resection on the atresias and end to end anastomosis were performed. Cases were admitted to neonatal intensive care unit with total parenteral nutrition. The first two cases died due to sepsis, while the third case survived.Conclusion: Jejunal atresia is a rare disease among newborn. All of the patients have provided resection and end-to-end anastomoses, although 2 of them did not survive. 
Gambaran perkembangan kognitif dan bahasa pada anak usia di bawah 3 tahun di Taman Pengasuhan Anak (TPA)/(Daycare) Kota Denpasar, Bali I Gusti Istri Agung Widnyani; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana; Soetjiningsih Soetjiningsih
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.199 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.539

Abstract

Background: Speech and language developmental disorders can affect various functions in learning difficulties. This often happens to children who are less stimulated because today, many parents work so that child care will be reduced. Therefore, the childcare park (TPA) can be a choice of place to leave the child so that it is expected to get proper stimulation according to age level. This study aims to assess the status of cognitive and language development in children under 3 years of age at the Denpasar City, Bali.Methods: A cross-sectional study was conducted to 48 children who were in 4 TPAs in Denpasar during February 2018. Variables assessed in this study included cognitive and language aspects using adaptive cognitive test (CAT) / clinical linguistic & auditory milestone scale questionnaires. (CLAMS) that is valid and reliable. The research data obtained were analyzed using SPSS software version 19 for Windows.Results: Most respondents were female (56.3%), mean age 19.5 ± 10.0 months, and have high levels of education for both fathers (87.5%) and mothers (91.7%). The Caput Scale results show that the average DQ CAT value is 98.1 ± 11.0, DQ CLAMS 92.1 ± 12.0, and FSDQ 95.1 ± 11.0. As many as 27.1% of children in TPA have abnormal FSDQ score. The FSDQ score of the respondent's characteristics showed that most of the normal values were obtained for male (76.2%), high education on fathers (78.5%) and mothers (77.2), as well as jobs as a civil servant for fathers (73.3) and mothers (78.6)Conclusion: About 27.1% of children experience cognitive and language impairment in TPA through CAT/CLAMS examination. In this regard, further assessment with a better research design is needed to find a causal effect. Latar Belakang: Gangguan perkembangan bicara dan bahasa dapat memengaruhi berbagai fungsi dalam kesulitan belajar. Hal ini sering terjadi pada anak yang kurang mendapat stimulasi dikarenakan saat ini banyak orang tua bekerja sehingga pengasuhan terhadap anak akan berkurang. Oleh karena itu Taman pengasuhan anak (TPA) dapat menjadi pilihan tempat untuk menitipkan anak sehingga diharapkan mendapatkan stimulasi yang baik sesuai dengan tingkat usia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status perkembangan kognitif dan bahasa pada anak di bawah usia 3 tahun di TPA Kota Denpasar, Bali.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang terhadap 48 anak yang berada pada 4 TPA di Denpasar pada bulan Februari 2018. Variabel yang dinilai pada penelitian ini meliputi aspek kognitif dan bahasa dimana menggunakan kuisioner cognitif adaptive test (CAT)/clinical linguistic & auditory milestone scale (CLAMS) yang sahih dan reliabel. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan piranti lunak SPSS versi 19 untuk Windows.Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (56,3%), usia rata-rata 19,5±10,0 bulan, dan tingkat pendidikan yang tinggi baik pada ayah (87,5%) maupun ibu (91,7%). Hasil Caput Scale menunjukkan bahwa rata-rata nilai DQ CAT adalah 98,1±11,0, DQ CLAMS 92,1±12,0, dan FSDQ 95,1±11,0. Sebanyak 27,1% anak di TPA memiliki nilai FSDQ tidak normal. Nilai FSDQ karakteristik responden menunjukkan sebagian besar nilai normal diperoleh pada laki-laki (76,2%), Pendidikan tinggi ayah (78,5%) dan ibu (77,2), maupun pekerjaan PNS pada ayah (73,3) dan ibu (78,6)Simpulan: Anak yang mengalami gangguan fungsi kognitif dan bahasa di TPA sebanyak 27,1% melalui pemeriksaan CAT/CLAMS. Berkaitan dengan hal tersebut maka penilaian lebih lanjut dengan desain penelitian yang lebih baik diperlukan untuk mencari hubungan sebab akibat.
Gambaran klinis akibat intoksikasi metanol pada pasien yang di rawat di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2010-2015 Khairul Abrar; Dudut Rustyadi
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 1 (2020): (Available online: 1 April 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.738 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i1.541

Abstract

Introduction: Methanol is a colorless and odorless with a little chemical formula CH3OH. Methanol is also called methyl alcohol, wood spirit, carbinol, wood alcohol, wood and naphtha. Methanol for consumption was not allowed because methanol is not for consumption and the substances is toxic for the body. Compared to alcohol, methanol has a higher toxic dose. Alcohols toxic dose is 100 mg/dL and a minimum lethal dose of alcohol is 300 mg/dL, whereas methanol toxic dose of 100 mg/kg (10 mg/dL) and letal minimal 300-1000 dose mg/kg body weight (30-100 mg/dL). The main effect of methanol can be intoxicating, metabolic products can cause metabolic acidosis, blindness, and death after a latent period of 6-48 hours.Method: The research data obtained from the Installation Medical Record Sanglah General Hospital by taking samples of patients suspected methanol poisoning based on medical records of patients in the form of medical records from 2010 to 2015. Sample already obtained 11 patient. Based on the results in this study, clinical organ damage in systemic samples, results of physical examination and lab tests shows that are interrelated. In patients with methanol poisoning can be found some characteristic changes in body organs both in general and microscopic. In almost all patients treated regularly consume alcohol and when it happens poisoning complaints and clinical symptoms are the same. Some disorders such as headache, blurred vision, nausea, vomiting, difficulty breathing often to be found in every case of methanol poisoning.Conclusion: Symptoms caused by methanol poisoning are systemic, laboratory tests are very important because it provides an overview of the extent of organ damage that occurs. Latar Belakang: Metanol adalah cairan tidak berwarna dan sedikit berbau dengan rumus kimia CH3OH. Metanol disebut juga methyl acohol, wood spirit, carbinol, wood alcohol, dan wood naphta. Penggunaan metanol untuk konsumsi tidak lah dibenarkan karena metanol adalah zat tidak layak konsumsi dan beracun bagi tubuh. Dibandingkan alkohol, metanol mempunyai dosis toksik yang lebih tinggi. Dosis toksik alkohol adalah 100 mg/dL dan dosis letal minimal alkohol adalah 300 mg/dL, sedangkan methanol dosis toksiknya 100 mg/kgBB (10 mg/dL) dan dosis letal minimal300-1000 mg/kgBB (30-100 mg/dL). Efek utama metanol dapat memabukkan, produk metaboliknya dapat menyebabkan asidosis metabolik, kebutaan, dan kematian setelah periode laten 6-48 jam.Metode: Data penelitian didapatkan dari Instalasi Rekam Medis RSUP Sanglah dengan mengambil sampel pasien yang diduga keracunan metanol berdasar catatan medis pasien  dalam bentuk data rekam medis dari tahun 2010 hingga 2015. Didapatkan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 11 pasien.Hasil: Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Gambaran Klinis kerusakan organ pada sampel bersifat sistemik, Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lab menunjukan hasil yang saling terkait. Pada pasien keracunan metanol bisa ditemui beberapa karakteristik perubahan asam-basa dalam tubuh baik.  Pada hampir keseluruhan pasien yang di rawat rutin mengkonsumsi alcohol dan ketika terjadi keracunan memiliki keluhan dan gejala klinis yang sama. Beberapa gangguan seperti Nyeri kepala, penglihatan kabur, mual, muntah, hingga susah bernapas seringkali di temukan pada setiap kasus keracunan metanol.Simpulan: Gejala yang diakibatkan oleh keracunan methanol bersifat sistemik, pemeriksaan laboratorium sangat penting dilakukan karena memberikan gambaran sejauh mana kerusakan organ tubuh yang terjadi.

Page 45 of 107 | Total Record : 1063