cover
Contact Name
Prama Wahyudi
Contact Email
pramawahyudi@lptik.unand.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltpa@fateta.unand.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 14101920     EISSN : 25794019     DOI : -
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas (JTPA) adalah publikasi ilmiah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian. Artikel yang dimuat berupa hasil penelitian terkait ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian yang belum pernah dipublikasikan di media lain (kecuali dalam bentuk abstrak atau karya ilmiah akademik atau dipresentasikan dalam seminar atau konferensi). JTPA diterbitkan dua kali setahun pada bulan Maret dan September oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas. Cakupan artikel Jurnal Teknologi Pertanian Andalas adalah: Teknologi Pertanian, Teknik Pertanian, Teknologi Hasil Pertanian, Pertanian Agro-Industri, Teknologi Pangan dan Gizi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 30 No 1 (2026)" : 11 Documents clear
PENGARUH APLIKASI EDIBLE COATING PATI KULIT SINGKONG DENGAN VARIASI KONSENTRASI LILIN LEBAH DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU CABAI MERAH Yulistiara, Dena; Putra, Endo Pebri Dani; Subara, Deni
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah besar (Capsicum annum L.) merupakan salah satu komoditas produk hortikultura yang sifatnya mudah rusak sehingga diperlukan penanganan pascapanen yang tepat untuk memperpanjang umur simpan cabai merah besar. Salah satu cara penanganan pascapanen cabai merah besar adalah dengan cara pemberian lapisan yang dapat dikonsumsi atau edible coating. Edible coating dapat dibuat dari bahan turunan karbohidrat seperti pati kulit singkong. Penambahan lilin lebah (beeswax) pada larutan edible coating digunakan untuk memperbaiki sifat pati kulit singkong yang memiliki resistensi rendah terhadap uap air. Penyimpanan pada suhu yang tepat juga harus dilakukan untuk mempertahankan fungsi edible coating  dan meningkatkan masa simpan cabai merah besar. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi lilin lebah (beeswax) pada edible coating dan suhu penyimpanan terhadap mutu cabai merah besar selama 15 hari penyimpanan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yaitu penambahan konsentrasi lilin lebah (beeswax) dengan 4 taraf yautu 0%, 1%, 2%, dan 3%, dan suhu penyimpanan dengan 2 taraf yaitu suhu ruang (26°C ± 2°C) dan suhu refrigerator (4°C ± 2°C). Parameter yang diamati adalah susut bobot, kadar air, kadar vitamin C, total padatan terlarut, dan uji organoleptik. Perlakuan terbaik dalam mempertahankan mutu cabai merah besar adalah perlakuan dengan penambahan lilin lebah 1% dengan suhu penyimpanan pada suhu  refrigerator (4°C ± 2°C) karena memiliki nilai susut bobot paling rendah sebesar 12,46%, Total padatan terlarut sebesar 5% dan menjadi perlakuan dengan skor mutu paling tinggi berdasarkan uji skoring yaitu sebesar 4,56 untuk warna, 4,22 untuk aroma, dan 4,12 untuk tekstur
FORMULASI EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) DAN SODIUM LAURYL SULFAT (SLS) PADA PEMBUATAN DETERGEN CAIR Hairiyah, Nina; Ningsih, Yuliana; Nirmala, Shinta
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sodium Lauryl Sulfat (SLS) sebagai surfaktan dalam pembuatan detergen dapat menimbulkan dampak negatif bagi makhluk hidup dan lingkungan, karena senyawa ini sulit terurai oleh mikroorganisme. Sebagai alternatif, saponin, senyawa alami yang memiliki kemampuan menghasilkan busa, dapat dimanfaatkan dalam pembuatan detergen, sabun, dan shampo. Salah satu sumber saponin yang potensial adalah bunga telang (Clitoria ternatea). Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alami dalam mengurangi penggunaan SLS pada detergen cair, sehingga dapat meminimalisir pencemaran lingkungan. Metode penelitian dimulai dengan persiapan bahan, diikuti dengan pembuatan detergen cair, yang kemudian diuji kualitasnya melalui beberapa parameter, yaitu uji bobot jenis, uji tinggi busa dan stabilitas busa, uji pH, serta uji cemaran mikroba. Formulasi ekstrak yang digunakan terdiri dari tiga variasi konsentrasi: Formulasi I (5%), Formulasi II (10%), dan Formulasi III (15%). Hasil uji stabilitas busa menunjukkan nilai berkisar antara 83,33% hingga 90%, sedangkan pH berada dalam rentang 9,16 hingga 9,22, dan bobot jenis rata-rata mencapai 1,9 g/ml. Kelebihan detergen berbasis ekstrak bunga telang ini adalah sifatnya yang lebih ekonomis, bahan bakunya yang mudah diperoleh dan terjangkau, serta limbah hasil cucian yang dapat terurai oleh mikroorganisme, sehingga berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan.
PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUMENTASI PADA ALAT PENGERING JAGUNG DENGAN TEKNOLOGI INFRARED-ASSISTED BERBASIS IoT Putri, Renny Eka; Albani, Nabil; Iqbal Abdi Lubis, Muhammad
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan utama pascapanen jagung di Indonesia adalah tingginya kerugian susut mutu, yang mencapai 15-20% dari total produksi, disebabkan oleh pengeringan tradisional yang tidak optimal dan rentan kontaminasi aflatoksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menganalisis kinerja alat pengering jagung tipe rotary dryer dengan teknologi infrared-assisted berbasis internet of things (IoT) sebagai solusi peningkatan kualitas dan efisiensi pengeringan. Metode penelitian meliputi pengembangan prototipe berkapasitas 6 kg/batch dengan sistem pemanas infrared (1.125 W) dan perancangan instrumentasi IoT untuk data logging otomatis dan kontrol suhu presisi. Hasil pengujian menunjukkan efektivitas alat dalam menurunkan kadar air jagung dari rata-rata ~23% menjadi 12,9% (wb) dalam 90 menit, memenuhi standar nasional indonesia (SNI 8886:2020). Kinerja teknis menunjukkan kapasitas kerja efektif (KKE) rata-rata 3,45 kg/jam dan efisiensi pengeringan rata-rata 68%. Analisis ekonomi menunjukkan biaya pokok (BP) sebesar Rp 3.595,78/kg dan titik impas (BEP) 1.450,41 kg/tahun. Integrasi infrared dan IoT terbukti menghasilkan sistem pengeringan yang cepat, efisien, dan layak secara ekonomi.
OPTIMASI BLEACHING AMPAS TEBU PADA VARIASI KONSENTRASI HIDROGEN PEROKSIDA DAN SUHU Wulandari, Mega; Permata, Deivy Andhika; Kasim, Fitriani
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ampas tebu merupakan limbah padat dari agroindustri yang mengandung selulosa tinggi dan berpotensi diolah menjadi pulp dan kertas. Adanya lignin menyebabkan kualitas pulp menjadi tidak baik, untuk itu perlu dilakukan delignifikasi dan bleaching. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsentrasi H2O2 dan suhu bleaching yang optimal agar menghasilkan pulp dengan kualitas terbaik. Optimasi dilakukan menggunakan metode Central Composite Design (CCD) dalam pendekatan Response Surface Methodology (RSM) dengan faktor konsentrasi H₂O₂ (15–40%) dan suhu bleaching (80–100°C). Respon yang diamati antara lain kadar air, kadar abu, rendemen, selulosa, holoselulosa, hemiselulosa, lignin, bilangan Kappa, dan derajat putih. Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi H₂O₂ 30,13% dan suhu bleaching 98,26°C, yang menghasilkan pulp dengan kadar lignin dan bilangan Kappa yang lebih rendah, sedangkan kadar selulosa dan derajat putih yang tinggi. Hasil analisis gugus fungsi menujukan spektrum FTIR yang lebih sederhana setelah mengalami delignifikasi dan bleaching, karena berkurangnya struktur aromatik lignin pada pulp. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses bleaching dapat menghasilkan pulp berkualitas tinggi dari limbah biomasa ampas tebu.
KARAKTERISASI FISIK BEADS KOMPOSIT ALGINAT DENGAN PENAMBAHAN PATI BENGKUANG (PACHYRHIZUS EROSUS L.) Yolanda, Neta; Rahmi, Ira Desri; Permata, Deivy Andhika
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beads merupakan mikrokapsul berbentuk bulat yang berfungsi sebagai substrat padat untuk melapisi atau mengenkapsulasi senyawa aktif. Natrium alginat, sering dipilih sebagai polimer pembentuk beads karena keunggulannya, namun seringkali menghasilkan beads dengan karakteristik fisik yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh penambahan variasi konsentrasi pati bengkuang yang berbeda terhadap kualitas beads. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan variasi konsentrasi pati bengkuang dan tiga ulangan, serta dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan uji lanjut DNMRT. Hasil menunjukkan bahwa penambahan pati bengkuang berpengaruh nyata terhadap karakteristik fisik beads, seperti morfologi, diameter, sperikal faktor, densitas, porositas, dan sineresis. Perlakuan terbaik berdasarkan karakterisasi fisik beads terbaik yaitu perlakuan C (penambahan 2% pati bengkuang) dengan karakteristik fisik yaitu diameter 4,57 ± 0,03 mm, berbentuk bulat dengan sperikal faktor 0,02 ± 0,00a , densitas 0,73 ± 0,08 g/cm3, porositas 94,74 ± 0,16 % dan sineresis 35,37 ± 0,21 %. Temuan ini mengindikasikan potensi pati bengkuang dalam meningkatkan kualitas fisik beads berbasis natrium alginate.
RANCANG BANGUN SISTEM RANTAI PASOK INDUSTRI KULIT KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii) BERBASIS TEKNOLOGI BLOCKCHAIN Aulia, Fauzan; Santosa; Azrifirwan
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rantai pasok kulit kayu manis melibatkan petani, pengumpul, industri pengolahan, retailer, dan konsumen dengan tantangan utama berupa pencatatan manual, keterbatasan transparansi asal-usul, kesulitan menjaga konsistensi pasokan, dan lemahnya integrasi informasi antar pelaku. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasi prototipe sistem e-commerce rantai pasok kulit kayu manis berbasis teknologi blockchain yang mampu meningkatkan transparansi, ketertelusuran, dan konsistensi pencatatan. Ruang lingkup penelitian berfokus pada ekosistem domestik di sekitar PT XYZ, sedangkan alur ekspor diperlakukan sebagai konteks di luar cakupan sistem digital yang dikembangkan. Metodologi mencakup analisis proses bisnis eksisting, identifikasi kebutuhan fungsional dan nonfungsional, perancangan arsitektur digital tiga lapisan, implementasi prototipe yang mengelola produk, transaksi, pergerakan stok, dan pencatatan asal usul produk secara bertingkat. Teknologi blockchain dimanfaatkan untuk menyimpan rekaman transaksi dalam bentuk nilai hash dan identitas pihak yang terlibat sebagai bukti transaksi yang sulit dimanipulasi. Hasil pengujian fungsional menunjukkan bahwa seluruh fungsi utama berjalan sesuai kebutuhan, termasuk manajemen akun, transaksi jual beli, transformasi dan agregasi produk, serta ketertelusuran produk dari berbagai sumber. Pencatatan transaksi pada blockchain meningkatkan keandalan bukti transaksi dan mendukung auditabilitas rantai pasok.
EVALUASI KANDUNGAN PROKSIMAT, SERAT KASAR, POLIFENOL, DAN AMILOSA PADA TEPUNG KOMPOSIT BERBASIS TEPUNG BIJI ALPUKAT DAN TEPUNG TERIGU Novitasari, Rifni; Anggraini, Tuty; Hasbullah; Hervani, Dini
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai pembuatan tepung komposit berbasis tepung biji alpukat varietas lokal Sumatera Barat, khususnya Mega Paninggahan, dengan tepung terigu menjadi penting dilakukan sebagai upaya pemanfaatan limbah biji alpukat yang selama ini belum optimal, sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu impor, serta menghasilkan bahan baku pangan alternatif yang berpotensi memiliki karakteristik fungsional dan gizi yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh formulasi tepung komposit antara tepung biji alpukat (TBA) dan tepung terigu (TT). Metode eksperimen adalah dengan rasio TBA : TT yaitu ; 15:85 (A), 20:80 (B), 25:75 (C), dan 30:70 (D) terhadap karakteristik kimia tepung yang dihasilkan setelah proses roasting pada suhu 150 °C selama 30 menit dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 kali ulangan.   Variabel yang diamati adalah kadar proksimat amilosa, serat kasar, dan polyphenol terhadap tepung komposit.  Pengolahan data dilakukan dengan mengunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5% dan 1%.  Formulasi terbaik dari tepung komposit ini diperoleh pada perlakuan B (TBA : TT = 20 : 80) dengan karakteristik sebagai berikut ; kadar air 11.49%, karbohidrat 71.30%, amilosa 29.47%, protein 10.93%, lemak 4.20%, abu 1.72%, polyphenol 0.0924 mgGAE/gr, dan serat kasar 3.51%.
Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Isolasi Nanoselulosa dengan Perbedaan Konsentrasi Asam Sulfat dan Lama Waktu Ultrasonifikasi dalam Proses Pembuatannya Fitria, Devi; Kasim, Fitriani; Permata, Deivy Andhika
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tandan kosong kelapa sawit memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber selulosa yang dapat diolah, salah satunya menjadi material nanoselulosa yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta pengaplikasian yang luas di bidang industri seperti dalam pembuatan komposit, kemasan, biomedis, dan elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pengaruh perbedaan konsentrasi asam sulfat dan lama waktu ultrasonifikasi dalam proses pembuatan nanoselulosa dari tandan kosong kelapa sawit serta mendapatkan konsentrasi asam sulfat dan lama waktu ultrasonifikasi terbaik yang menghasilkan rendemen nanoselulosa tertinggi dan karakteristik nanoselulosa terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor A: konsentrasi asam sulfat (10%, 20%, dan 30%), dan faktor B: waktu ultrasonikasi (30, 60, dan 90 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi asam sulfat dan waktu ultrasonikasi berpengaruh terhadap rendemen nanoselulosa yang dihasilkan yaitu: 89,46; 89,51; 89,52; 84,20; 85,23; 87.84; 78,94; 79,80; dan 81, 83%, dan berpengaruh juga terhadap karakteristik nanoselulosa berupa ukuran partikel nanoselulosa yang didapatkan 268,5; 239,3; 275,0; 224,4; 310,7; 218,9; 170,8; 260,9; dan 380,7 nm. Konsentrasi asam sulfat 10% dengan waktu ultrasonikasi 90 menit menghasilkan rendemen nanoselulosa yang tertinggi yaitu 89,52%. Dan konsentrasi 30% dengan waktu ultrasonikasi 30 menit menghasilkan karakteristik nanoselulosa berupa ukuran partikel nanoselulosa yang relatif kecil yaitu 170,8 nm. Nanoselulosa yang dihasilkan cocok digunakan sebagai biokomposit, karena berada pada rentang 100-500 nm. Kata kunci—asam sulfat, nanoselulosa, tandan kosong kelapa sawit, ultrasonikasi
PENILAIAN KESEGARAN BUAH MANGGA BERDASARKAN PERUBAHAN DINAMIS KANDUNGAN ASAM SITRAT DAN GULA TERLARUT MENGGUNAKAN ANALISIS HPLC Zainal, Putri Wulandari; Daimon Syukri; khandra Fahmy; Irfan Suliansyah
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesegaran merupakan parameter kualitas utama yang menentukan penerimaan konsumen serta derajat kehilangan pasca-panen pada buah mangga (Mangifera indica L.). Penentuan kesegaran mangga (Mangifera indica L.) yang ada saat ini sebagian besar didasarkan pada sifat fisik dan kimia umum, yang seringkali tidak dapat mendeteksi dengan baik pembusukan biokimia selama periode penyimpanan. Tujuan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi kesegaran mangga berdasarkan perubahan dinamis kadar asam sitrat dan kandungan gula terlarut menggunakan high-performance liquid chromatography (HPLC). Buah yang sudah matang disimpan pada dua suhu berbeda, yaitu 25°C dan 10°C, di mana pengamatan kadar asam sitrat, sukrosa, glukosa, dan fruktosa dilakukan setiap hari dari hari ke-1 hingga hari ke-5. Data yang didapatkan dengan jelas memperlihatkan perbedaan pola pada kadar asam sitrat dan gula terlarut buah mangga yang disimpan disuhu 25°C dan 10°C. Pada suhu 25 °C, kadar asam sitrat turun tajam, sedangkan pada suhu 10 °C kadarnya relatif stabil. Peningkatan sukrosa dan penurunan glukosa lebih nyata pada suhu 25 °C dan 10 °C. Kadar fruktosa hanya sedikit lebih tinggi pada suhu 25 °C dibandingkan pada suhu 10 °C. Analisis statistik mengkonfirmasi bahwa suhu penyimpanan berpengaruh pada kadar asam sitrat dan komposisi gula. Perilaku terkoordinasi asam sitrat dan berbagai gula inilah yang menjadi ciri khas 'sidik jari kimia' mangga, yang berarti kita dapat menggunakan kadar zat-zat ini sebagai ukuran kesegaran buah. Semakin tinggi suhu, semakin cepat perubahan metabolisme dan semakin kurang segar buahnya. Penyimpanan suhu rendah menjaga laju metabolisme tetap stabil dan menunda penurunan kualitas, namun tetap saja, kita dapat menggunakan kadar asam sitrat dan gula sebagai cara yang andal untuk mengukur kesegaran mangga.
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN AIR PADA SISTEM IRIGASI TERKONTROL BERBASIS IOT PADA BUDIDAYA TANAMAN MELON Khairil Agustoria; Ashadi Hasan; Vivi Yulianti
Jurnal Teknologi Pertanian Andalas Vol 30 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi penggunaan air pada sistem irigasi tetes berbasis Internet of Things (IoT) dalam budidaya tanaman melon. Sistem irigasi dirancang menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor kelembapan tanah dan pH tanah untuk mengendalikan proses penyiraman secara otomatis berdasarkan kondisi aktual media tanam. Data penggunaan air diperoleh dari pencatatan durasi hidup pompa secara otomatis, kemudian dihitung menjadi volume air irigasi berdasarkan laju aliran pompa sebesar 0,05 liter/detik dan direkapitulasi selama periode pengamatan 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem irigasi berbasis IoT mampu menghemat penggunaan air sebesar 8,74% dibandingkan sistem irigasi manual, dengan efisiensi penggunaan air mencapai 91,26%. Meskipun menggunakan volume air yang lebih rendah, sistem irigasi IoT menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik, ditunjukkan oleh peningkatan tinggi tanaman dan percepatan masuk ke fase generatif, dengan jumlah tanaman berbunga sekitar 3,5 kali lebih banyak dibandingkan perlakuan irigasi manual. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan sistem irigasi cerdas berbasis IoT efektif dalam meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman melon secara optimal, sehingga berpotensi mendukung praktik budidaya pertanian yang lebih efisien. Kata kunci — efisiensi air; Internet of Things; irigasi tetes; pertanian cerdas; tanaman melon

Page 1 of 2 | Total Record : 11