cover
Contact Name
Efta Triastuti
Contact Email
efta.triastuti@ub.ac.id
Phone
+62341-569117
Journal Mail Official
pji@ub.ac.id
Editorial Address
Pharmaceutical Journal of Indonesia Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University Jalan Veteran (Kampus Sumbersari) Malang 65145 Tel. (0341) 569117ext 156, 173 ; Fax. (0341) 564755 Website : http://www.pji.ub.ac.id Email :pji@ub.ac.id
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pharmaceutical Journal of Indonesia
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2461114X     EISSN : 2461114X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.pji
Core Subject : Health, Science,
Pharmaceutical Journal of Indonesia (PJI) is an online journal which is published twice a year by Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University. The articles published in PJI cover the themes of Clinical and Community Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Technology, and Natural Product Pharmacy/Chemistry.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2022)" : 10 Documents clear
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Gedi hijau (Abelmoschus manihot (L.) Medik) Dengan Metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) Manalu, Rosario Trijuliamos; Herdini; Danya, Fiki
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.3

Abstract

Daun gedi hijau memiliki potensi sebagai antioksidan, seperti halnya dengan daun gedi merah yang secara tradisional banyak digunakan sebagai pengobatan dan dibuktikan dengan penelitian memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak dan fraksi daun gedi hijau dengan metode DPPH. Bahan uji yang digunakan adalah serbuk kering daun gedi hijau yang diperoleh dari BALITTRO (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi dengan etanol 96%, kemudian dievaporasi menjadi ekstrak kental dengan hasil rendemen sebesar 11,14%, selanjutnya difraksinasi cair-cair berturut-turut dengan pelarut n-heksan, etil asetat dan air. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil uji aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol awal, fraksi etil asetat dan fraksi air tergolong efektif, sedangkan fraksi n-heksan tergolong tidak efektif. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antioksidan paling tinggi dengan nilai IC50 233 bpj.
Studi Pengaruh Jenis Bahan Pengikat Sediaan Tablet Dispersi Solid Kunyit Terhadap Profil Disolusi Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica) Puspita, Oktavia Eka; Ebtavanny, Tamara G.; Fortunata, Fabyoke A.
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.10

Abstract

Inflamasi atau peradangan merupakan mekanisme tubuh dalam melindungi diri dari infeksi mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Salah satu tanaman yang masih digunakan untuk mengatasi inflamasi yaitu kunyit (Curcuma longa). Kandungan senyawa aktif dari kunyit adalah kurkumin. Kurkumin memiliki kekurangan bioavailabilitas dan kelarutan rendah. Sistem penghantaran yang digunakan untuk memodifikasi kelarutan yaitu dispersi solid dengan metode freeze-dry. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan pengikat yang digunakan terhadap disolusi kurkumin. . Bahan pengikat tablet yang digunakan yaitu PVP, Akasia, dan Amilum Pasta untuk memperbaiki sifat alir. Konsentrasi bahan pengikat yang digunakan adalah Formula 1 (PVP 5%), Formula 2 (Akasia 5%), dan Formula 3 (Amilum Pasta 10%). Pembuatan tablet menggunakan metode granulasi basah. Evaluasi granul atau In Process Control yang dilakukan meliputi moisture content, kecepatan alir, sudut istirahat, indeks kompresibilitas, rasio haussner, dan persentase fines. Kemudian dilakukan evaluasi akhir tablet yaitu keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, dan disolusi. Hasil uji keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan, dan waktu hancur telah memenuhi persyaratan. Hasil uji kerapuhan untuk semua formula tidak memenuhi persyaratan. Uji disolusi memiliki hasil fluktuatif di setiap replikasi pada masing-masing formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bahan pengikat mempengaruhi hasil disolusi tablet dispersi solid kurkumin, dengan pengikat yang memiliki hasil disolusi paling tinggi yaitu Formula 1 (PVP 5%).
Ointment Formulation from Collagen Extract of Tilapia Fish Skin (Oreochromis niloticus) for Healing Burns in Mus musculus Nugroho, Romy Triadi; Saputra, Gilang; Aini, Annisa Nurul; Dewi, Aisha Andini Indira; Tarigan, Indra Lasmana
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.2

Abstract

Introduction: Burns are injuries that caused by contact with a heat source. The natural alternative burn treatment can use hydrolyzed collagen derived from aquatic ecosystems, one of them is fish.Objectives: The aim of this research was to find the optimum formulation of tilapia fish collagen extract ointment.Methods: Fish skin that has been separated was prepared using the solution of NaOH 0,1 N and Butyl Alcohol 10%.Then the fish skin was extracted using a 0.5 M acetic acid solution and precipitated with a 0.9 M NaCl solution. Then, dialysis was performed using a plastic membrane (14 KDa) in a 0.1 M acetic acid solution and distilled water to obtain a wet collagen extract which was then in the FreezeDryer to reduce the water content.Results: The collagen extract obtained was used for ointment formulations with different concentrations of collagen extract, that is 5%, 10%, and 15% and 2 additional miana plant extracts were used with collagen extract 5+5% and 10+10%. The results of the formulation were tested on burns with a diameter of 0.715 cm in mice.Conclusion: From the results of the effectiveness test, the formulation with 15% collagen extract showed effective results. Indicated by the rate of wound healing in mice observations
Systematic Literature Review: Metode Preparasi dan Rasio Komponen Chitosan dalam Microneedle Patch untuk Transdermal Delivery System Widyastuti, Ajeng; Puspita, Oktavia Eka; Sobah, Nurus
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.4

Abstract

Sistem penghantaran obat transdermal merupakan sistem penghantaran obat yang potensial untuk pemberian obat lokal dan sistemik. Namun, masih ada beberapa keterbatasan dalam system ini, terutama terkait dengan kebutuhan untuk meningkatkan penetrasi obat melalui kulit. Oleh karena itu, mekanisme penghantaran obat baru berdasarkan microneedle telah dikembangkan. Microneedles dianggap sebagai jawaban atas masalah metode sebelumnya, yaitu banyaknya obat yang tidak dapat menembus kulit untuk mencapai efek terapeutik. Dissolving microneedle, terutama kitosan, dipilih sebagai bahan penyusun karena memiliki karakteristik biodegradabilitas, biokompatibilitas, tidak beracun, polikationik, dan aktivitas antibakteri. Namun metode dan perbandingan komponen kitosan dalam pembuatan microneedle patch belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode preparasi dan rasio komponen kitosan dalam microneedle patch untuk sistem penghantaran obat transdermal. Penelitian deskriptif menggunakan metode review artikel tersturuktur dilakukan pada tiga database digital: Google Scholar, Scopus, dan Crossref. 16 artikel dipilih sebagai sampel setelah proses seleksi dan critical appraisal dilakukan. Hasil sintesis dari 16 artikel akhir terpilih didapatkan bahwa micromolding menggunakan polydimethylsiloxane (PDMS) merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk fabrikasi microneedle kitosan karena memungkinkan replikasi microneedle yang tepat dan akurat sesuai dengan spesifikasi tinggi dan diameter yang diinginkan serta memungkinkan produksi secara massal. Rasio komponen kitosan yang paling banyak digunakan adalah larutan kitosan 2% (b/v) dimana serbuk kitosan dilarutkan dalam larutan asam asetat 1% (v/v). Microneedle kitosan 2% memiliki kekuatan mekanik yang lebih rendah dibandingkan konsentrasi lainnya. Namun dengan kekuatan mekanik yang lebih rendah, microneedle kitosan 2% tetap dapat disisipkan ke dalam kulit. Kesimpulannya microneedles dapat dibuat dari kitosan umumnya dengan teknik micromolding menggunakan PDMS dengan kitosan 2%. Berdasarkan penelitian ini, disarankan bagi penelitian lebih lanjut perlu ditambahkan jumlah sampel dan lama waktu penelitian serta menghubungkan efek sifat zat aktif dan komponen yang terkait metode preparasi terhadap karakteristik microneedle kitosan.
Cost-Effectiveness Analysis Penggunaan Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di RSU Haji Surabaya Rahmadanita, Fathia Faza; Maulina, Novia; Sugihantoro, Hajar; Muhimmah, Ilmiyatul; Saputra, Azian F.
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.5

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Diabetes melitus adalah penyakit kronis akibat proses metabolisme dalam tubuh yang tidak normal yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal dalam tubuh. Diabetes melitus membutuhkan perawatan medis secara terus-menerus sehingga biaya medis yang dikeluarkan besar. Tujuan: Untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas biaya penggunaan antidiabetik oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan di RSU Haji Surabaya. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan data retrospektif berupa rekam medis dan biaya pengobatan pasien rawat jalan dengan penyakit diabetes melitus tipe 2 di RSU Haji Kota Surabaya Periode Juni-November 2021. Analisis data dilakukan menggunakan rumus Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Hasil: Didapatkan 70 pasien diabetes melitus tipe 2 dengan penyakit penyerta yang memenuhi kriteria inklusi. Penggunaan terapi antidiabetik oral monoterapi ditemukan pada 11 pasien dan pada terapi antidiabetik oral kombinasi sebanyak 59 pasien. Antidiabetik oral monoterapi yang paling banyak digunakan adalah glimepiride (8,57%), sedangkan pada antidiabetik oral kombinasi adalah kombinasi metformin dan glimepiride (17,14%). Terapi antidiabetik oral monoterapi yang paling cost-effective adalah gliklazid dengan nilai efektivitas sebesar 100%, nilai ACER sebesar Rp 1.331,15. dan nilai ICER Rp. -641,70 dan Rp. -714.52. Sedangkan terapi antidiabetik oral kombinasi yang paling cost-effective adalah kombinasi pioglitazone, metformin dan glimepiride dengan nilai efektivitas 55,56%, nilai ACER sebesar Rp 3.266,34 dan nilai ICER Rp. 1.491,54 dan Rp. 1.654,43. Kesimpulan: Berdasarkan parameter ACER dan ICER, antidiabetik oral monoterapi yang paling cost-effective adalah gliklazid. Sedangkan antidiabetik oral kombinasi yang paling cost-effective adalah kombinasi pioglitazone, metformin dan glimepiride. Kata Kunci: Diabetes melitus, Cost-effectiveness Analysis, ACER, ICER
Profil Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB Tahun 2020 Utami, Virnia Wanda; Siti Rahmatul Aini; Candra Eka Puspitasari
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.9

Abstract

Skizofrenia merupakan suatu gangguan mental parah dan kronis dimana ditandai dengan adanya distorsi dalam berpikir, perilaku, persepsi, emosi, bahasa, dan rasa diri. Tatalaksana terapi skizofrenia utamanya adalah antipsikotik. Pemberian kombinasi terapi baik antara antipsikotik ataupun antipsikotik dengan non-antipsikotik berpotensi menimbulkan Drug Related Problems (DRPs) yang berisiko keamanan pengobatan ataupun efektivitas terapi. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi profil DRPs atau permasalah terkait dengan terapi obat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain Cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 105 pasien skizofrenia yang telah memenuhi kriteria inklusi (pasien skizofrenia dengan usia 18-60 tahun, ditanggung BPJS dan data rekam medis lengkap dan terbaca) dan eksklusi (pasien hamil, pasien COVID-19 dan pasien skizofrenia dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gagal ginjal, CHF (Congestif Heart Failure), hipertensi, stroke, kanker, dan HIV/AIDS). Penelitian ini berbasis rekam medis pada periode Januari-Desember 2020. Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan pedoman PCNE V9.01 dan diolah dengan software Microsoft excel 2019 sehingga didapatkan hasil berupa persentase kejadian Drug Related Problems (DRPs). Hasil penelitian menunjukkan terdapat kejadian DRPs pada pasien skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB tahun 2020. Berdasarkan 105 pasien skizofrenia, 89,5% mengalami DRPs dengan total 117 kejadian. Kategori DRPs masing-masing dari yang tertinggi adalah kategori efek buruk obat mungkin terjadi (76,9%) dengan risperidon dan lorazepam mendominasi (tingkat keparahan moderat), obat tanpa indikasi (10,3%), dosis obat terlalu rendah (8,5%), waktu pemberian dan/atau interval pemberian dosis tidak tepat (1,7%), obat tidak tepat menurut pedoman/formularium (0,9%), terlalu banyak obat yang diresepkan untuk indikasi (0,9%), dan lama pengobatan terlalu singkat (0,9%). Kata Kunci : Skizofrenia, Drug Related Problems, Antipsikotik
Study Efektivitas Ekstrak Kental Kulit Buah Jeruk Purut Terstandar (Citrus hystrix) Sebagai Antioksidan dan Antijerawat Jessica, Maria Anabella; Darsono, Farida Lanawati; Soegianto, Lisa
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.6

Abstract

Salah satu gangguan di permukaan kulit wajah yaitu jerawat yang disebabkan oleh Propionibacterium acnes. Perlakuan jerawat bisa secara oral atau topikal yang umumnya mengandung antibiotika yang lebih efektif mengatasi jerawat, sedangkan kelemahannya mudah terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik. Salah satunya yang potensial dikembangkan sebagai antijerawat dan anitoksidan yaitu limbah dari kulit buah jeruk purut (Citrus hystrix) memiliki kandungan sebagai antibakteri adalah alkaloid, flavonoid (naringenin dan hesperidin), tanin serta senyawa fenolik memiliki aktivitas antioksidan juga sebagai analgesik dan anti inflamasi. Metode ekstraksi secara maserasi dengan pelarut penyari 95% dengan bentuk ekstrak kental terstandar. Konsentrasi ekstrak kental jeruk purut yang digunakan dalam penelitian ini antara 10% - 20%. Dalam rangka penjaminan mutu ekstrak maka dilakukan proses standarisasi secara spesifik dan non spesifik selanjutnya dilakukan uji efektivitas yang terdiri dari aktivitas antioksidan dengan parameter IC50 menggunakan metode DPPH sedangkan antibakteri dilakukan dengan menggunakan parameter Daerah Hambat Pertumbuhan – DHP secara difusi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi sediaan gel ekstrak kental jeruk purut (10%, 15%, dan 20%) terhadap efektivitasnya serta korelasi antara peningkatan aktivitas antioksidannya dengan antijerawatnya (antibakterinya). Berdasarkan hasil percobaan ekstrak kulit buah jeruk purut terbukti memiliki daya antioksidan, dimana dengan peningkatan konsentrasi diikuti dengan penurunan nilai IC50 yaitu 2,49 mg/mL. Nilai DHP ekstrak kulit buah jeruk purut untuk masing-masing konsentrasi 10%, 15% dan 20% berurutan sebesar 15,58 ± 0,287 mm, 17,45 ± 0,319 mm, 18,27 ± 0,306 mm, dimana semakin meningkat konsentrasi ekstrak maka efek sebagai antijerawat juga meningkat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disimpulkan ekstrak kulit jeruk purut berpotensi sebagai antioksidan dan antijerawat.
Analisis Semikuantitatif Parasetamol Dalam Jamu Pegal Linu Menggunakan Pemrosesan Gambar Digital dari Hasil Kromatografi Lapis Tipis Fernanda, M.A. Hanny Ferry; Wardani, Ratih Kusuma
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.7

Abstract

Jamu is a pharmaceutical preparation derived from plant simplicia and must meet quality requirements, one of which is that it must not contain medicinal chemicals (BKO). One of the herbs widely circulated and can be obtained freely in the community is herbal medicine for aches and pains. In herbal aches and pains, paracetamol is the BKO suspected to be used in this preparation. This study aimed to develop an analytical method to determine the content of paracetamol BKO in herbal pain relief semi-quantitatively using digital images obtained from Thin Layer Chromatography. The semi-quantitative analysis method is carried out by processing digital images using the qTLC application. The results of this study proved the presence of paracetamol BKO in herbal aches and pains qualitatively using the TLC method. Of the five samples analyzed, only one contained paracetamol BKO with an Rf value of 0.15, while the standard Rf was 0.14. The analysis was then continued with the determination of paracetamol levels semi-quantitatively using digital image processing from the Thin Layer Chromatography results. Based on the results of semi-quantitative analysis, it can be seen that the sample suspected to contain paracetamol contains paracetamol with a concentration of 1,491.31 ppm. The results of this study can provide accurate detection of paracetamol BKO compound determination and semi-quantification limits and have the potential for more quantitative analysis in herbal medicine.
The Compounds Activity of Black Potato (Plectranthus rotundifolius) as an Antioxidant Nutraceutical: - Natasya, Cindy; Safrina, Maureta E. R.; Ningrum, Salsabila E. S.; Fitriyani; Zahra, Lisa A.; Ma’arif, Burhan
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.1

Abstract

Black potato (Plectranthus rotundifolius) is one of the horticultural plants that has potential as nutraceutical food and also contain bioactive compounds such as being rich in flavonoids, especially anthocyanins. The potential benefits of black potatoes are not widely known by public, so it is necessary to cultivate one of them by processing it into food such as instant porridge, which is then labeled as B-PORIS product. The reason for choosing instant porridge was because it is a practical food product. This research aimed to prove that instant porridge from black potato contains bioactive compounds flavonoids, especially anthocyanins. These instant porridges are made with the appropriate ratio in 3 formulations with different parameters of black potato flour concentration, formulation 1 10%, formulation 2 9%, and formulation 3 11%. This research was conducted with organoleptic tests, moisture content tests, flavonoids, anthocyanins, and hedonic tests. The results of the organoleptic test obtained soft texture, characteristic chocolate smell, brown color, and slightly sweet and sweeter taste. The results of moisture content test were qualified with water content of not more than 7%. The results of flavonoid and anthocyanin test obtained positive results in all of formulations. The hedonic test result 80-90% of panelists indicate choose an option like, and really like in questionnaires, results demonstrated that formulation 3 was most likely. So it can be concluded that black potato tubers has the potential to become a nutraceutical product as an instant porridge with antioxidant effect that received and liked by various groups of age.
The Quantitative and Qualitative Analysis of Antibiotic Use in Bone Fracture Patients in a Public Hospital in Indonesia Atmajani, Wanudya; Hasmono, Didik; Awdisma, Wien Maryati; Isparnadi, Erwien; Ramdani, Dewi
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.8

Abstract

Pendahuluan: Terapi antibiotik profilaksis memiliki peran penting dalam memfasilitasi penyembuhan pasca operasi yang optimal. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di rumah sakit akan meningkatkan biaya terapi dan kejadian infeksi nosokomial mikroorganisme infeksius. Antibiotik profilaksis preoperasi diyakini dapat mengurangi kejadian infeksi tempat pembedahan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik dan menganalisis penggunaan antibiotik secara kualitatif dengan metode Gyssen dan kuantitatif dengan metode defined daily dose (DDD) pada pasien rawat inap dengan fraktur tulang di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya, Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang dilakukan terhadap 89 sampel. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui rekam medis pada periode Januari-Desember 2019. Data penggunaan antibiotic kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode Gyssen dan DDD. Hasil: Pada penelitian ini, antibiotik yang banyak digunakan sebagai antibiotik profilaksis dan terapeutik pada pasien fraktur tulang adalah seftriakson. Analisis kuantitatif menggunakan metode DDD menunjukkan bahwa nilai ceftriaxone adalah 45,6/100 pasien-hari dan cefazoline adalah 3,1/100 pasien-hari. Analisis penggunaan antibiotik pada pasien fraktur tulang dengan menggunakan metode Gyssen menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional sebanyak 84,3%, penggunaan antibiotik tidak tepat waktu sebanyak 4,5%, dan interval pemberian antibiotik tidak tepat sebanyak 11,2%. Kesimpulan: penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur sudah tergolong penggunaan antibiotik yang rasional namun penggunaan antibiotik masih melebihi standar WHO. Selanjutnya perlu dilakukan penelitian serupa dengan pengambilan data secara prospektif sehingga dapat mengamati kejadian infeksi luka operasi. Introduction: Prophylactic antibiotic therapy has an important role in facilitating optimal postoperative healing. Inappropriate use of antibiotics in hospitals will increase the cost of therapy and the incidence of nosocomial infections of infectious microorganisms. Preoperative prophylactic antibiotics are believed to reduce the incidence of surgical site infections. Objective: This study aims to determine the pattern of antibiotic use and analyse the use of antibiotics qualitatively by the Gyssen method and quantitatively by the defined daily dose (DDD) method in inpatients with bone fractures at the Haji General Hospital Surabaya, Indonesia. Methods: This study was a descriptive observational study conducted on 89 samples. Data were collected retrospectively through medical records in the period January-December 2019. Antibiotic use data were then analysed qualitatively and quantitatively using the Gyssen and DDD methods. Results: In this study, the antibiotic that was widely used as a prophylactic and therapeutic antibiotic in patients with bone fractures was ceftriaxone. Quantitative analysis using the DDD method showed that the value of ceftriaxone was 45.6/100 patient-days and cefazoline was 3.1/100 patient-days. Analysis of antibiotic use in bone fracture patients using the Gyssen method showed that the rational use of antibiotics was 84.3%, the use of antibiotics was not timely as much as 4.5%, and the interval of antibiotic administration was not appropriate as much as 11.2%. Conclusion: the use of antibiotics in fracture surgery patients is classified as rational use of antibiotics but the use of antibiotics still exceeds WHO standards. Furthermore, it is necessary to conduct a similar study with prospective data collection so that it can observe the incidence of surgical wound infection.

Page 1 of 1 | Total Record : 10