cover
Contact Name
Kaliandra Saputra Pulungan
Contact Email
kaliandrasaputra5@gmail.com
Phone
+6285295445764
Journal Mail Official
kaliandrasaputra5@gmail.com
Editorial Address
https://ojs.staituankutambusai.ac.id/index.php/hikmah
Location
Kab. rokan hulu,
Riau
INDONESIA
HIKMAH : JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
ISSN : 20858663     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Hikmah : Jurnal Pendidikan agama islam upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan penelitian tentang pendidikan untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar ummat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2019)" : 9 Documents clear
POTRET PENDIDIKAN ISLAM DI JERMAN Bambang Supradi
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.128

Abstract

Salah satu aspek penting dalam proses kehidupan dan pengembangan diri adalah membanding. Manusia, sadar atau tidak sadar, pada dasarnya selalu melakukan penilaian terhadap dirinya dengan melihat aspek kehidupan yang sama pada orang lain. Tanpa perbandingan, proses kehidupan mungkin akan berjalan lamban, atau mungkin pula hampir-hampir tidak pernah berubah ke arah yang lebih baik.Jerman dikenal salah satu negara yang menjadi rumah bagi banyak mahasiswa internasional. Keunggulan pendidikan dan keunikan budaya menjadi salah satu faktor penarik pelajar dari berbagai negara. Di Jerman juga banyak terdapat penduduk Muslim. Oleh karena itu, dalam jurnal ini kami mencoba membahas dan menguraikan bagaimana Potret sistem pendidikan Jerman dan perkembangan pendidikan Islam di Jerman.
ARAH PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013 Raja Lottung Siregar
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.133

Abstract

Standar Nasional Pendidikan seharusnya ditetapkan berdasarkan konsensus bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, guru, tokoh masyarakat, organisasi profesi, universitas, sekolah, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pengamat pendidikan, dan perwakilan peserta didik. Pelibatan masyarakat ini diarapkan dapat melahirkan dialog yang produktif antara sistem pendidikan dengan stakeholder. Jika dialog ini dilakukan secara efektif, maka akan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat terhadap mutu pendidikan nasional. Penetapan standar kompetensi dan standar mutu pendidikan nasional merupakan jaminan bagi laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas nasional. Disamping itu, merupakan acuan penyelenggaraan serta bentuk akuntabilitas sekolah dan pemerintah daerah kepada masyarakat, yang memberikan kebebasan kepada guru dan kepala sekolah untuk berkreasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika standar kompetensi, dan standar mutu pendidikan telah dikembangkan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional, kemudian dituangkan dalam kurikulum, serta ditunjang oleh guru dan kepala sekolah profesional, maka pendidikan diharapkan dapat menghasilkan SDM berkualitas mampu membawa Indonesia keluar dari krisis yang berkepanjangan, serta dapat mengikuti percepatan informasi dalam era globalisasi.
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM PADA ERA KENABIAN Wahyu Nurdiyati; Erna Mufidah M; Nashiiruddin Addaai; Agus Ishom; Choirul Mahfud
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.129

Abstract

Perkembangan sejarah pendidikan Islam banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan  budaya yang ada di masyarakat sekitar. Pendidikan Islam pada zaman Rasulullah tidak lepas dari faktor sosial dan budaya masyarakat kala itu. Pendidikan dan pengajaran Islam berisikan nilai-nilai ketauhidan, ibadah, akhlak, syariah, dan sosial budaya kemasyarakatan bahkan tata kelola bernegara. Lahirnya sistem pendidikan Islam tentu saja telah dipersiapkan Allah SWT agar manusia kembali kepada fitrahnya sebagai khalifah fil ard yang berarti pengganti di muka bumi. Khalifah disini dapat diartikan sebagai manusia makhluk yang mempunyai akal pikiran, menjunjung nilai-nilai kebenaran dan  beriman kepada Allah dan mampu menjaga bumi dari kerusakan. Melalui Muhammad SAW, Allah telah memberi mandat kepadanya untuk membimbing manusia melalui jalam pendidikan dan pengajaran agar manusia dapat berperan menjadi khalifah dimuka bumi, beriman kepada Allah serta menjalankan kewajiban beribadah kepadaNya.
PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KELUARGA TERHADAP KARAKTER RELIGIUS SISWA SEKOLAH DASAR ISLAM ARRISALAH SLAHUNG PONOROGO Dwi Restiana
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.140

Abstract

Pendidikan yang benar dimulai sejak lahir, karena seorang  anak akan tumbuh besar sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh  orang tuanya. Kedua orang tua adalah manusia yang paling dekat  dengan anak. Anak akan diarahkan baik atau jahat tergantung  tanggung jawab orang tua. Ketika orang tua baik, mungkin anak  akan menjadi baik, dan sebaliknya, ketika orang tua tidak baik anak  juga akan kurang baik. Hal yang menjadi perhatian orang tua  sekarang adalah mempunyai prinsip dan metode dalam  mengembangkan kepribadian anak baik  dalam aspek akidah,  akhlak, fisik,  mental maupun sosial, untuk menciptakan keluarga  yang penuh  kasih,  komunikatif dan patuh dalam melaksanakan  ajaran agama atau hidup religius.Tidak  ada  yang  meragukan  pendidikan  sekolah  sangatlah  mendukung  dan  memikul  tanggung  jawab  terhadap anak-anak  didiknya.  Akan  tetapi,  tentang  siapa yang bertanggung  jawab atas  pembentukan  karakter  religius  anak  sering  dipertanyakan. Orang  tua dan masyarakat pada umumnya memposisikan dirinya “lepas” dari tanggung jawab Pendidikan Agama Islam dan pembentukan karakter religius. Inilah permasalahan utama Pembentukan karakter religius anak dan Pendidikan Agama Islam yaitu terputusnya tiga jaringan yang saling berhubungan dalam pelaksanaan Pendidikan Agma Islam yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Tetapi  semuanya  menyadari  bahwa  orang tua memikul  tanggung  jawab  yang  paling  besar  terhadap  pendidikan karakter  religius  anak  dan  bahwa  sekolah dan  lembaga masyarakat  lain  harus  membantu  dan  melengkapi peranan  dari orang  tua  tersebut.Pendidikan yang benar dimulai sejak lahir, karena seorang  anak akan tumbuh besar sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh  orang tuanya. Kedua orang tua adalah manusia yang paling dekat  dengan anak. Anak akan diarahkan baik atau jahat tergantung  tanggung jawab orang tua. Ketika orang tua baik, mungkin anak  akan menjadi baik, dan sebaliknya, ketika orang tua tidak baik anak  juga akan kurang baik. Hal yang menjadi perhatian orang tua  sekarang adalah mempunyai prinsip dan metode dalam  mengembangkan kepribadian anak baik  dalam aspek akidah,  akhlak, fisik,  mental maupun sosial, untuk menciptakan keluarga  yang penuh  kasih,  komunikatif dan patuh dalam melaksanakan  ajaran agama atau hidup religius.[1]Tidak  ada  yang  meragukan  pendidikan  sekolah  sangatlah  mendukung  dan  memikul  tanggung  jawab  terhadap anak-anak  didiknya.  Akan  tetapi,  tentang  siapa yang bertanggung  jawab atas  pembentukan  karakter  religius  anak  sering  dipertanyakan. Orang  tua dan masyarakat pada umumnya memposisikan dirinya “lepas” dari tanggung jawab Pendidikan Agama Islam dan pembentukan karakter religius. Inilah permasalahan utama Pembentukan karakter religius anak dan Pendidikan Agama Islam yaitu terputusnya tiga jaringan yang saling berhubungan dalam pelaksanaan Pendidikan Agma Islam yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat. Tetapi  semuanya  menyadari  bahwa  orang tua memikul  tanggung  jawab  yang  paling  besar  terhadap  pendidikan karakter  religius  anak  dan  bahwa  sekolah dan  lembaga masyarakat  lain  harus  membantu  dan  melengkapi peranan  dari orang  tua  tersebut.[2][1] M. Ngalim. P, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006. Hal. 140[2] Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Iman dan Taqwa. Yogyakarta: Teras, 2012, 121
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN IN FORMAL DAN NON FORMAL DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT BUYA HAMKA (TELAAH BUKU “LEMBAGA HIDUP”) Dwi Restiana
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.130

Abstract

Family education is an informal education. In the family, children's education is directed in the framework of religious cultivation and forming religious chilren. A very important role in education in the family is the role of parents. In the formation of behaviors, attitudes and habits, the cultivation of values and other behaviors of family influences are very strong and direct. According to Hamka, morals of students can be said as a reflection of the moral form of society where they are residing. This is because the life of every member of society in the social community is a miniature of culture that will be seen and then emulated by every student. The existence of the community is a laboratory and a macro source full of alternatives to enrich the implementation of the educational process. And the main points of childhood education is the responsibility of parents and the community at home. Therefore, the authors review the book of Lembaga Hidup. Hamka explained the role of informal and non formal education with the concept and form of its implementation in Islamic education. The type of this research is Library Research which is part of Qualitative Research. Library research is used to solve the problem of conceptual-theoretical research, either about educational leaders or certain educational concepts. The data were obtained by searching for books compiled by Hamka. In interpreting the text contained in various writings of Hamka, researchers use Content Analysis Methods which is used to describe a specific analytical approach. Based on the data that have studied and analyzed, the results can be summarized as follows: 1) in the view of Hamka, education in schools can not be separated from home education. The first and foremost education, the family plays a leading role and holds the responsibility for the education of his children. Society is an educational institution that is very broad and influential in the process of forming a child's personality.2) the forms of informal education and non-formal education by Buya Hamka, the review of Lembaga Hidup book is to lay the foundations for the development of children such as childhood experience, ensuring the child's emotional life, inculcate the basis of moral education, providing the basis of social education , and laying the foundations of religion.
PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK BERBASIS ISLAMIC CORE VALUE faizatul Husna; Syaiful Islam
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.131

Abstract

Islamic education is an important component in forming the character of a child because Islamic religious education is the foundation that will color the life that children will go through. Meanwhile the number of fights between adolescents, immoral acts among young people, promiscuity, the growth of adultery, consuming illegal drugs is caused by the lack of supervision from the family which makes them so easy to use and do it. By using qualitative methods with interviewing techniques the author wants to know how the Islamic religious education strategy is applied to the family. From the results of interviews with one family that Islamic religious education in families in shaping children's character uses 6 strategies, namely: 1) exemplary strategies, 2) habituation strategies, 3) counseling strategies, 4) disciplinary strategies, 5) punishment strategies, and 6) gift giving strategy. To shape the character of the child in order to become a man of faith and devotion to the Almighty God, as well as a noble character that includes ethics, morality, character, spirituality cannot be separated from the role of the family played by parents because the family is the first and foremost educational institution for children.
PENGARUH DISIPLIN KERJA GURU MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH FATHUL ANWAR KECAMATAN TAMBUSAI KABUPATEN ROKAN HULU Ahmad Zamhuri
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.126

Abstract

Peneliatian ini dilatar belakangi disiplin kerja guru mata pelajaran Aqidah Akhlaq terhadap hasil belajar Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Fathul Anwar Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu. Padahal guru telah disiplin dalam proses belajar aqidah akhlaq.berdasarkan temuan ini, maka maka penulis mengadakan penelitian berjenis deskriptif kuantitatif, yakni penelitian yang menggunakan angka untuk memperoleh dan mangungkapkan data yang sebenarnya, selaini itu penilitian ini tergolong pada penelitian korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah 1 guru mata pelajaran Akidah Akhlak dan seluruh siswa kelas VIIA, VIII A dan IXA di MTs Fathul Anwar Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu yang berjumlah 134 siswa  Dalam pengambilan sampel, jika populasinya kurang dari 100 orang, maka sampel lebih baik diambil semuanya (total sampling) sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Pengumpulan data peneletian menggunakan angket wawacara dan dokumentasi. Sementara  tekni analisa data penelitian ini mengguanakan rekresi liner sederhana dengan rumus.  Rumus : Y = a + bX + e. Untuk memudahkan data tersebut diatas penulis bantuan Program SPSS.21 For windows. dari hasil data yang menunjukan t hitung > t tabel atau, 4,91  > 2,04, dengan demikian maka Ha diterima dan H0 di tolak, sedangkan besarnya pengaruh kedua variabel yakni mencapai 42,3% sedangkan sisanya 57,7% dipengaruhi faktor lain yang tidak di bahas dalam penelitian ini. Dengan dapat disimpulkan bahwa tedapat pengaruh yang signifikan antara disiplin kerja guru mata pelajaran akidah akhlak terhadap hasil belajar siswa di MTs Fathul Anwar Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu.
KONSEP PENDIDIKAN HADHARI BAGI PENDIDIKAN ISLAM Bustari -; Bashori Bashori
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.172

Abstract

Persoalan pendidikan islam sedari dahulu hingga sekarang menjadi kajian sosial yang menarik untuk tetap dikaji. Persoalan relevansi pendidikan islam, kurikulum pendidikan islam, hingga dikotomi pendidikan menjadi hal yang masih eksis dalam kajian akademik. Salah satu peran dalam melihat banyaknya persoalan tersebut, maka diperlukan pembaharuan strategi pendidikan yang membumi, dan untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam diperlukan paradigma pendidikan yang mampu mengarahkan pada tujuan dan sasaran pendidikan Islam. Islam sendiri tidak mengenal adanya dikotomi. Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber umat Islam telah memberikan penjelasan yang lugas adanya ilmu pengetahun (Science) dan pemahaman agama secara baik. Masalah dikotomi keilmuan pun menjadi persoalan yang tidak pernah habisnya diperdebatkan dalam pendidikan Islam. Dari uraian tersebut, secara fundamental pendidikan hadhari adalah pendidikan yang berupaya membangkitkan kembali spirit keilmuan Islam yang integratif tanpa dikotomi dengan menginternalisasikan prinsip-prinsip wahyu dan etika Islam tentang  pendidikan. Ketiga entitas yaitu hadharah al-nash, hadharah al-falsafah dan hadharah al-‘ilm adalah entitas yang tidak dapat berdiri sendiri.  Hadharah al-nash tidak bisa berdiri sendiri tanpa hadharah al-‘ilm dan  hadharah al-falsafah dan sebaliknya. Relevansi pendidikan hadhari dengan permasalahan pendidikan Islam saat ini adalah pendidikan Islam harus mampu menginternalisasikan sumber nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis dalam melihat permasalahan kontemporer sebagai landasan penyelesaian pendidikan Islam.
PENGEMBANGAN PENILAIAN AUTENTIK Moh Maulidin Alif Utama
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55403/hikmah.v8i1.132

Abstract

The purpose of education itself is creating a generation that is not only clever in terms of knowledge, but a generation that has a spiritual attitude, adopting noble and have a beneficial skill for himself, the community, the nation and the State. The purpose of education can be said to achieve optimal results then the need for an assessment of the learning process of learners. The assessment is a general term that includes all the usual methods used to assess the performance of students in learning. In curriculum 2013 of his judgement is one of the cornerstones of authentic assessment, teachers assess competency and learning outcomes based on with what has been achieved by learners in their learning.Authentic assessment is an assessment that is conducted to assess the real teachers who have done good learners process as well as results by using a variety of techniques and instruments of valid assessment so that it can be proved that competence set out really has mastered by learners.  authentic assessment include the competencies, knowledge, attitudes and skills. authentic assessment include the competencies, knowledge, attitudes and skills.The goal of authentic Assessment itself, among others, (1) assess the ability of the individual through a specific task, (2) determine the needs of learning, (3) assist and encourage students. the implementation of the Authentic assessment using many of the techniques that can be used to assess the competency of attitude (observations, self-assessment, peer reviewed, journal entry teacher and interview), knowledge (oral test, test and assignments), and skills (performance assessment, projects, and portfolio assessment). as for the format of the assessment of each competency that exists in the assessment of authentic can be developed by teachers.

Page 1 of 1 | Total Record : 9