cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Contemporary Danmei Fiction and Its Similitudes with Classical and Yanqing Literature Aiqing Wang
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3397

Abstract

Danmei, aka Boys Love, is a salient transgressive genre of Chinese Internet literature. Since entering China’s niche market in 1990s, the danmei subculture, predominantly in the form of original fictional creation, has established an enormous fanbase and demonstrated significance via thought-provoking works and social functions. Nonetheless, the danmei genre is not an innovation in the digital age, in that its bipartite dichotomy between seme ‘top’ and uke ‘bottom’ roles bears similarities to the dyad in caizi-jiaren ‘scholar-beauty’ anecdotes featuring masculine and feminine ideals in literary representations of heterosexual love and courtship, which can be attested in the 17th century and earlier extant accounts. Furthermore, the feminisation of danmei characters is analogous to an androgynous ideal in late-imperial narratives concerning heterosexual relationships during late Ming and early Qing dynasties, and the depiction of semes being masculine while ukes being feminine is consistent with the orthodox, indigenous Chinese masculinity which is comprised of wen ‘cultural attainment’ epitomising feminine traits and wu ‘martial valour’ epitomising masculine traits. In terms of modern literature, danmei is parallel to the (online) genre yanqing ‘romance’ that is frequently characterised by ‘Mary Sue’ and cliché-ridden narration. 
HUKUM TARIK-MENARIK DALAM NOVEL KLASIK UNDER THE GREENWOOD TREE KARYA THOMAS HARDY Ayu Fitri Kusumaningrum
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3492

Abstract

Paulo Coelho dalam buku The Alchemist pernah berkata bahwa, “ketika kamu menginginkan sesuatu, alam semesta berkonspirasi untuk membantumu mencapainya.” Mendapatkan apa yang diinginkan pada praktiknya tidak sesederhana itu. Dalam Under The Greenwood Tree, Dick Dewy tidak hanya menginginkan Fancy Day sebatas keinginan saja. Dick harus melakukan beberapa hal guna memastikan Fancy jatuh ke dalam pelukannya. Hukum tarik-menarik (the law of attraction) yang menjadi dasar rujukan penelitian ini bekerja secara universal menarik ke dalam kehidupan seseorang, apa pun (baik positif maupun negatif) yang orang itu berikan perhatian, energi, dan fokus. Menggunakan novel romance klasik karya Thomas Hardy, penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan upaya-upaya Dick dalam mendapatkan Fancy. Penggunaan metode kualitatif dan teori the law of attraction yang dikembangkan Michael J. Losier membuat penelitian ini menemukan bahwa Dick menerapkan tiga proses dalam the law of attraction dalam mendapatkan Fancy. Tiga proses tersebut adalah law of attraction, law of creating, dan law of allowing.Kata-kata kunci: Hukum Tarik-Menarik, Thomas Hardy, Era Victoria, Sastra Banding, Michael J. Losier.
SITI: Javanese’s Beliefs as the Representation of Gender Roles and Inequalities towards Women’s Position Fransiska Rahayu Myrlinda
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.1358

Abstract

ABSTRACT             Being males and females is biologically constructed since human beings were born. Meanwhile, there is also strict distinction done by society to divide people into men and women or usually called as doing gender stereotype. It effects on different assumptions that are attached to them. As the result, people are categorized based on their own gender roles in society. Java, as the symbol of patriarchal society, is the ethnic which agrees with this social phenomenon. Its beliefs symbolize how men and women have different social status. It also results in different gender roles. SITI is the film which deals with this phenomenon. It shows that being “obedient” Javanese women will give effect on social status towards different genders. The theories of sex and gender and also patriarchal society were used to get the reliable data. Keywords: SITI, Sex and Gender, Inequality, Javanese’s beliefs ABSTRAK                 Menjadi pria dan wanita secara biologis dibangun sejak manusia dilahirkan. Sementara itu, ada juga perbedaan mendalam yang masyarakat lakukan untuk membagi manusia menjadi pria dan wanita atau biasa disebut sebagai stereotip di gender. Hal ini berpengaruh pada perbedaan asumsi yang melekat padanya. Sebagai akibat, manusia dikategorikan berdasarkan peran gender mereka sendiri di masyarakat. Jawa, sebagai simbol masyarakat patriarkal, adalah etnis yang setuju dengan fenomena sosial ini. Kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa melambangkan bagaimana pria dan wanita memiliki status sosial yang berbeda. Hal ini juga menghasilkan peran gender yang berbeda. SITI adalah film yang merepresentasikan fenomena ini. Film ini menunjukkan bahwa sebagai perempuan Jawa yang “taat” akan memberikan efek pada status sosial dari gender yang berbeda. Teori seks dan gender serta masyarakat patriarki digunakan untuk mendapatkan data yang sesuai. Kata Kunci: SITI, Teori seks dan gender, Ketidaksetaraan, Kepercayaan Jawa
PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN Asep Yusup Hudayat
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3536

Abstract

Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana  tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial, Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian  ini  adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat  kesewenangan kaum ménak. Adapun kaum ménak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah. Semangat meruntuhkan penindasan kaum ménak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum ménak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci: perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial  AbstractThis article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who "learned" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” "Temptation for Youths" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonial
TOKOH-TOKOH NATIVEPHILIA DALAM ANTOLOGI CERPEN SEMUA UNTUK HINDIA KARYA IKSAKA BANU: ANALISIS PASCAKOLONIAL HOMI K. BHABA Fadlun Suweleh
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2837

Abstract

Pada tahun 2014 antologi cerpen Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu dinobatkan sebagai buku prosa terbaik oleh Kusala Sastra Khatulistiwa. Selain kelihaiannya dalam meramu ruang imaji di celah fakta historis, ada hal lain yang menarik dari antologi tersebut, yakni hadirnya tokoh-tokoh Eropa selaku narator atau tokoh sentral, namun tingkah laku mereka tak seperti orang Eropa pada umumnya. Mereka berpotensi memiliki keberpihakan (empati) pada Pribumi. Empati tokoh-tokoh Eropa tersebut bahkan menjadi konflik berulang. Pada penelitian ini, tokoh-tokoh Eropa yang berhaluan kepada Pribumi diistilahkan sebagai nativephilia. Dengan konsep split (terpecah / terbelah) yang dipopulerkan oleh Homi K. Bhabha, penelitian ini menguatkan pandangan Bhabha bahwa Timur (Pribumi) juga ternyata dapat membentuk Barat (Eropa). Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh Eropa tersebut terbelah jiwanya, antara dirinya yang asli (penjajah) dengan dirinya yang lain yang bersimpati pada pribumi (terjajah).Kata kunci: Pascakolonial, Semua untuk Hindia, Nativephilia, Homi K Bhabha.
WISRAN HADI, REPRESENTASI PADRI, & SUARA-SUARA MODERASI: TELAAH ATAS EMPAT NASKAH SANDIWARA Dedi Arsa
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.2613

Abstract

Artikel ini menelaah empat lakon sandiwara yang terkumpul dalam Empat Lakon Perang Paderi karya Wisran Hadi. Empat lakon ini berbicara tentang suatu periode penting (lagi krisis) dalam sejarah Islam di Minangkabau. Menggunakan pendekatan neo-historisisme, artikel ini melihat gagasan moderasi Islam yang diusung pengarangnya dalam citra-citra tentang tokoh-tokoh Padri yang ditampilkan pada keempat lakon. Menjawabnya sekaligus akan memperlihatkan wacana keislaman yang diketengahkan Wisran Hadi di dalamnya. Dari hasil pengkajian ditemukan bahwa keempat lakon ini merupakan representasi Wisran atas keempat tokoh Padri (tokoh-tokoh utama Padri: Tuanku nan Tuo, Tuanku nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, & Tuanku Sembahyang). Representasi Wisran atas mereka tampak punya garis yang sewarna: representasi Padri yang korektif dan evaluatif atas keradikalan gerakan yang dicetuskan dari dan oleh kalangan mereka sendiri. Di tengah bangkitnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama Tuhan, Wisran tetap memenangkan akal-sehat, kewajaran, dan kepatutan sebagai puncak dari praktik menuju kebenaran. Yang dimenangkannya, dalam konteks ini, adalah suara-suara tokoh-tokohnya yang moderat yang menawarkan jalan-jalan akomodatif untuk mengubah masyarakat, sementara suara-suara yang menginginkan perubahan cepat dengan gerakan kekerasan sebagai pilihan dibuatnya acap tidak berdaya di hadapan suara-suara yang pertama. Tokoh-tokoh radikal mengakui kekeliruan dari kekerasan tindakan mereka dan ‘menyerah’ bersalah di hadapan suara-suara yang lebih moderat. Representasi itu terhubung dengan latar sosial dan politik (semangat zaman) ketika keempat lakon itu ditulis dan terhubung pula dengan latar belakang pengarangnya secara biografis.
HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM CERPEN SUNDA KAWUNG RATU KARYA WAHYU WIBISANA KAJIAN EKOKRITIK Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2834

Abstract

Humans and the natural environment should have a mutually beneficial and mutually beneficial symbiotic relationship. Humans need the natural environment to survive, as well as the natural environment requires humans to maintain their habitat. But in fact, humans actually take advantage of the natural environment and over-exploit it with greed, causing environmental damage. Humans tend to think of themselves as anthropocentric, which then backfires on themselves, because nature is corrupted and humans become miserable. In a Sundanese short story entitled "“Kawung Ratu”" by Wahyu Wibasana, it is described how the human relationship with nature is so close and friendly. Nature and the environment are represented by kawung / aren / enau trees. There is a symbiotic relationship between mutualism that occurs in the main character (human) and the kawung tree (plant) which can then be interpreted as one of the ways the Sundanese are so close to nature. In the short story, the presence of nature and the environment is not to be overexploited but to be used as partners and friends in life. The research method used is a qualitative descriptive method, with a focus on ecocritical ethical studies. The results of his research clearly illustrate how the attitude of the main character Aki Sukarma towards the kawung tree which is named “Kawung Ratu” (nature), such as how responsibility, affection, care and caution are so as not to disturb their natural life. Through the short story “Kawung Ratu”, the Sundanese people can be said to be very close to nature and treat nature as well as they treat themselves. AbstrakManusia dan lingkungan alam seharusnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Manusia membutuhkan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Begitu juga lingkungan alam membutuhkan manusia untuk memelihara habitat hidupnya. Namun, pada kenyataanya manusia justru memanfaatkan lingkungan alam dan mengekspolitasinya secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Manusia cenderung menganggap dirinya antroposentris yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena alam rusak hidup manusia menjadi sengsara. Dalam cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Kawung Ratu” karya Wahyu Wibasana, digambarkan bagaimana hubungan manusia dengan alamnya yang begitu dekat dan bersahabat. Alam dan lingkungan diwakili oleh pohon kawung/aren/enau. Ada hubungan simbiosis mutualisme terjadi dalam tokoh utama (manusia) dengan pohon kawung (tumbuhan) yang kemudian dapat dimaknai sebagai salah satu cara orang Sunda bersahabat dengan alam. Dalam cerpen tersebut, kehadiran alam dan lingkungan bukan untuk diekspolitasi secara berlebihan tetapi dijadikan sebagai mitra dan sahabat dalam menempuh hidup. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan fokus kajian etis ekokritik. Hasil penelitiannya tergambar jelas bagaimana sikap dari tokoh utama Aki Sukarma terhadap pohon kawung yang diberi nama “Kawung Ratu”, seperti bagaimana tanggung jawab, kasih sayang, kepedulian dan kehati-hatiaannya agar tidak mengganggu kehidupan alamnya. Melalui cerpen ““Kawung Ratu””, masyarakat Sunda dapat dikatakan begitu dekat dengan alam dan memperlakukan alam sebaik ia memperlakukan dirinya sendiri.
THE PRESS HISTORY REPRESENTATION BEFORE AND AFTER INDONESIA'S INDEPENDECE IN MENCARI SARANG ANGIN NOVEL Khoirul Mttaqin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.2903

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi sejarah pers di masa sebelum kemerdekaan dan pascakemerdekaan Indonesia dalam novel Mencari Sarang Angin karya Suparto Brata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah. Dalam penelitian ini dimanfaatan teori new historicism. Hasil penelitan ini adalah paparan analisis representasi sejarah pers di masa Hindia-Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, dan sampai masa pemberotakan PKI. Representasi sejarah tersebut berkaitan dengan peran penting pers. Pers digambarkan mempunyai posisi strategis dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia. Hal itu mencerminan bahwa representasi sejarah ini merupakan wujud perlawanan terhadap pemerintah Orde Baru yang sangat membatasi pers. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dala novel Mencari Sarang Angin disusun sebuah sejarah baru yang memposisikan pers sebagai lembaga utama yang berjasa dalam kemerdekaan dan kesatuan Indonesia.Abstract: This study aims to analyze the the press history representation before and after Indonesia's independece in Mencari Sarang Angin novel by Suparto Brata. This study is a qualitative study with a historical approach. In this study, the theory of new historicism is utilized. The result of this study is an analysis of press history representation of Hindia Belanda, Japan, the Independence Period, until the PKI rebellion. This historical representation is related to the important role of the press. The press is depicted to have a strategic position in Indonesia's independence and unity. This reflects that historical representation is a form of resistance against Orde Baru government which severely restricted the press. Therefore, it can be concluded that in the novel Mencari Sarang Angin a new history was compiled that positioned the press as the main institution that contributed to Indonesia's independence and unity.
CULTURAL HYBRIDITY AND ITS COMPLEXITY IN ESMERALDA SANTIAGO’S ALMOST A WOMAN IKWAN SETIAWAN
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2495

Abstract

Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan hibriditas dalam novel Almost A Woman karya Esmeralda Santiago. Novel ini menceritakan permasalahan kultural yang dialami Negi, tokoh utama, sebagai imigran Puerto Rico di New York, di mana ia harus mengapropriasi budaya Amerika agar bisa diterima oleh masyarakat induk. Untuk membahas permasalahan tersebut, kami akan menggunakan teori poskolonial Bhabha. Analisis tekstual digunakan untuk menjelaskan data terpilih dengan cara pandang poskolonial tanpa mengabaikan keterkaitan kontekstualnya dengan dinamika imigrasi dan diaspora. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tokoh utama harus menjalankan strategi kultural berupa mimikri dan hibriditas agar bisa diterima di masyarakat induk dan bisa mendukung impian modernnya. Meskipun menikmati budaya Amerika secara apropriatif, ia masih berusaha untuk tidak melupakan budaya Puerto Rico. Dengan strategi ini subjek diasporik bisa menegosiasikan kepentingannya di tengah-tengah masyarakat induk dan kuasa budaya dominan, tanpa harus meninggalkan sepenuhnya budaya Puerto Rico.   Abstract. This paper discusses hybridity in Esmeralda Santiago’s Almost A Woman. This novel tells about cultural problems experienced by Negi, the main character, as a Puerto Rican immigrant in New York, where she must appropriate American cultures in order to be accepted by the host community. To discuss this problem, we will apply Bhabha's postcolonial theory. Textual analysis is used to explain selected data from a postcolonial perspective without ignoring its contextual relationship with the dynamics of immigration and diaspora. The results of this study show that the main character must carry out a cultural strategy in the form of mimicry and hybridity in order to be accepted in the parent community and be able to support his modern dreams. Despite enjoying appropriately American culture, she still tries not to forget Puerto Rican cultures. With this strategy the diasporic subject can negotiate its interests in the midst of the host society and the dominant cultural power, without having to completely abandon Puerto Rican culture.
Citra Ibu dalam Karya Sastra Anak Indonesia: Kajian Feminisme Ema Apriyani; Yenni Hayati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra perempuan sebagai ibu yang digambarkan oleh pengarang anak-anak dalam kumpulan cerpen Surga di Tangan Ibu. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan kata-kata dan kemudian diinterpretasikan dalam pembahasan. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik baca dan catat. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan. Objek penelitian adalah citra ibu dalam kumpulan cerpen Surga di Tangan Ibu seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kritik sastra feminisme. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengarang anak-anak menggambarkan sosok ibu sebagai ibu super sabar, ibu rumah tangga, ibu yang pekerja keras, ibu sebagai ibu tiri,dan ibu yang rela berkorban demi anaknya. Pengarang anak dalam menciptakan karya sastra cenderung menampilkan citra ibu berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang pernah dialami bersama ibu.

Page 11 of 22 | Total Record : 218