cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
FOLKLOR DEWI RENGGANIS SEBAGAI MOTIF DASAR NOVEL CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURIAWAN Teddi Muhtadin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3589

Abstract

Abstrak:Ditulis isi berisi pembacaan novel Cantik itu Luka (2002) karya Eka Kurniawan dengan perspektif folklor. Hal itu dilakukan karena, menurut hemat kami, dunia folklor melandasi keseluruhan novel tersebut. Dengan menggunakan teori folklor dan semiotika Charles Sander Peirce akan dijelaskan ciri folklor, kedudukan folklor dalam struktur novel, serta makna dan ideologi novel. Hasilnya menunjukkan bahwa folklor Dewi Rengganis yang ada di dalam novel merupakan motif dasar atau la mise en abyme ‘tanda kecil yang memiliki acuan besar’ bagi keseluruhan novel. Oleh karena itu, keseluruhan novel dapat diinterpretasikan berdasarkan motif folklor tersebut dan ideologi novel dapat diinterpretasikan berdasarkan sifat-sifat folklor. Dengan mengacu pada motif dasar tersebut maka novel Cantik itu Luka menunjukkan adanya upaya penggabungan dan penjajaran dari hal-hal yang berbeda bahkan bertentangan, serta pengulangan dengan variasi yang berbeda dari motif dasar.
Formula Glorifikasi Pemimpin Dalam Hikayat Banjar Diyah Prilly Upartini
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 9, No 2 (2020): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v9i2.2829

Abstract

Dalam penciptaan teks sastra kuno Melayu, narator tidak terlepas dari formula-formula sebagai gawai untuk menata sistem kebahasaan dengan gaya-gaya retoris tertentu. Formula-formula penceritaan tersebut merupakan salah satu ciri-ciri adanya jejak tradisi lisan yang ditemukan di dalam naskah tertulis. Hal ini juga terjadi pada penciptaan teks Hikayat Banjar (HB). Sebagai salah satu naskah kanon yang berasal dari kerajaan di Kalimantan, di dalam masyarakat Banjar yang memiliki tradisi lisan yang masih berkembang hingga saat ini, HB memiliki formula-formula khusus dalam penceritaannya yang kemungkinan besar merupakan rekaman jejak sastra lisan masyarakat Banjar. Makalah ini berusaha menjelaskan mengenai formula-formula yang digunakan di dalam HB, khususnya formula yang digunakan untuk mengglorifikasikan pemimpin yang dikisahkan di dalamnya. Elemen-elemen yang berkaitan dengan raja atau pemimpin dikisahkan dengan sarana-sarana retorika seperti enumerasi, paralelisme, dan repetisi, baik repetisi dalam jajaran kata, frase, klausa hingga repetisi dalam bentuk wacana. Penggunaan sarana retorika tersebut untuk menekankan betapa dominan dan istimewanya raja yang digambarkan di dalam teks HB.
REPRESENTASI IDENTITAS dan DEMOKRASI DALAM TRADISI LISAN DI WILAYAH 3T (MENTAWAI dan NIAS) Sastri Sunarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 1 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i1.3605

Abstract

Penelitian ini fokus pada persoalan identitas dan demokrasi di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal dengan asumsi bahwa masyarakat 3T merupakan masyarakat yang masih hidup dengan nilai-nilai tradisional dan tertinggal secara ekonomi seperti hak ekosob (ekonomi, sosial, dan budaya). Ketertinggalan pada hak ekosob akan berujung pada ketiadaaan kesetaraan hak sebagai warga negara Indonesia. Untuk mengetahui identitas pada masyarakat di wilayah 3T adalah melalui penggalian cerita asal-usul nenek moyang dan suku bangsa yang biasanya masih tersimpan dalam ingatan para penutur dan pemilik cerita tersebut seperti pada masyarakat Mentawai dan Nias. Melalui cerita asal-usul tersebut juga akan digali bagaimana nenek moyang pada kedua masyarakat di Mentawai dan Nias mewariskan cara menyelesaikan konflik dan perbedaan yang terjadi di tengah mereka. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melaluI kerja lapangan (field research). Data yang tersimpan dalam ingatan masyarakat akan dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan perekaman, baik secara auditif maupun visual. Hasil dari penelitian diharapkan diperoleh gambaran identitas dan demokrasi yang tersimpan dalam tradisi lisan yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah 3T seperti di Mentawa dan Nias. Nilai-nilai lokal yang merepresentasikan identitas dan demokrasi tersebut biasanya dilegalkan dalam sebuah lembaga adat milik masyarakat tersebut. Satu cara bermusyawarah dan mufakat yang disebut dengan Orahu milik masyarakat dari desa Hilinawalo Batusalawa, Nias Selatan adalah model demokrasi lokal yang berhasil ditemukan dalam penelitian ini. Orahu membuktikan bahwa praktik bermusyawarah mufakat dalam penyelesaian konflik masih digunakan oleh masyarakat tradisi di wilayah 3T. Hasil dari penelitian ini juga bertujuan mendukung komitmen pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan pendidikan demokrasi berbasis tradisi lisan di wilayah 3T.
Pandangan Dunia William Faulkner dalam Cerpen A Rose For Emily (Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann) Kahar Dwi Prihantono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.957

Abstract

This study aimed to reveal William Faulkner’s world view (vision du monde) in a short story: A Rose for Emily (ArfE). This study applied a dialectical method and a structuralism genetic approach. Issues discussed in this study covered (1) short story structure; (2) William Faulkner's world view; (3) social structure; and (4) social groups represented by authors. Data research in sentences or paragraphs, dialogues, and monologues is available in William Faulkner’s ArfE. Based on the analysis, the writer found relationships of cultural,  natural, and human oppositions. Cultural opposition was characterized by a domination of modern town people’s attitude on conservative town person. Social opposition could be seen in the opposition between town people and Miss Emily. While, human opposition was represented by modern-communal town people and the individual person of Miss Emily. The structure of ARfE expressed both modern and humanism world views. Through the character of town people (as narrators), William Faulkner did not directly present a rejection on Old South conservative values as they were contradicted with ideal humanism values, e.g., the exaltation of past time aristocratic social status that was not in accordance with the modern time. The world view William Faulkner projected was the rise of a new nation in one flag of the Union in order to build America based on equality. Hence,  any repression of other people in terms of their social status would never occurred. This short story was written around 1929 until 1930, the social structure of the South community was hit by bankruptcy due to the Civil War and the community struggled in the Reconstruction Era until the Great American Depression era. By applying a dialectical method, the writer discovered homology between the short story’s structure and the social structure in which the story occurred. Next, the homology expressed Faulkner’s world view of modern humanism. To strengthen his worldview, Faulkner presented an interaction between modern humanism and traditional antisocial ideologies. Care to other people might build interpersonal communication that could minimalize any necrophiliac cases experienced by Miss Emily. AbstrakPenelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman tentang pandangan dunia William Faulkner dalam cerpen “A Rose for Emily” (ArfE). Penelitian ini menggunakan metode dialektik dengan pendekatan strukturalisme genetik. Masalah yang dibahas mencakupi (1) struktur cerpen; (2) pandangan dunia William Faulkner; (3) struktur sosial, dan kelompok sosial yang diwakili oleh pengarang. Data penelitian berupa kalimat atau paragraf, dialog, dan monolog yang terdapat dalam cerpen ArfE karya William Faulkner. Berdasarkan analisis struktur cerpen, penulis menemukan relasi oposisi kultural, oposisi sosial, oposisi alamiah, dan oposisi manusia. Oposisi kultural ditandai sikap manusia modern mendominasi dan mengalahkan manusia konservatif. Oposisi sosial terlihat dari oposisi warga kota dan Miss Emily. Sementara oposisi manusia diwakili penduduk kota yang modern dan Miss Emily yang individual. Struktur cerpen ARfE mengekspresikan pandangan dunia yang modern dan humanis. Lewat tokoh penduduk kota (sebagai pencerita), William Faulkner secara tidak langsung menolak keras konservasi nilai Old South karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ideal, sebagaimana pengagungan status sosial aristokrat di masa lalu sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Pandangan dunia yang ditampilkan William Faulkner adalah bangkitnya bangsa baru dalam satu bendera Union untuk membangun Amerika dengan kesetaraan derajat sehingga tekanan terhadap manusia atas status sosialnya tidak terjadi lagi. Cerpen ini ditulis sekitar tahun 1929 s.d. 1930, struktur sosial masyarakat selatan sedang dilanda kebangkrutan akibat Civil War dan masyarakat sedang berjuang di era Rekonstruksi sampai dengan era American Great Depression. Dengan menggunakan metode dialektik, penulis menemukan homologi antara struktur cerpen dengan struktur sosial tempat cerpen tersebut dilahirkan yang membentuk pandangan dunia William Faulkner dalam mengekspresikan pandangan dunia humanisme modern. Untuk menguatkan pandangan tersebut, Faulkner menggambarkan persentuhan humanisme modern dengan tradisional antisosial. Kepedulian dengan sesama manusia membuka peluang komunikasi antarindividu sehingga memperkecil peluang kasus nekrofilia seperti yang dialami Miss Emily.
NASIONALISME CHAIRIL ANWAR Radea Hafidh Rakata Iskandar; Bayu Indra Pratama
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.926

Abstract

Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang hidup pada masa perjuangan bangsaIndonesia. Hal ini memungkinkan baginya untuk menulis pesan-pesan nasionalis dalam puisi- puisinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membongkar nasionalisme Chairil Anwar yang tertuang dalam puisi-puisinya. Penelitian ini menggunakan paradigma kritis dengan metode Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer yang didukung dengan Analisis Wacana Kritis Teeun A. Van Dijk untuk menyingkap bagaimana Chairil Anwar memahami praktik ideologi nasionalisme pada masa tersebut dan kemudian menuangkannya dalam puisi-puisinya. Unit data yang dianalisis adalah puisi-puisinya yang bertema nasionalis yang ditulis dalam rentang waktu 1942-1949 sebanyak 13 puisi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa puisi-puisi tersebut merepresentasikan pemikiran nasionalisme Chairil Anwar. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari kognisi individu dan konteks sosial terhadap proses penciptaan puisi.
PENGANTAR REDAKSI DAN DAFTAR ISI Jentera: jurnal Kajian Sastra Volume 10, No 2, Desember 2021
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CITRA TOKOH PEREMPUAN DALAM CERITA RAKYAT JAWA TIMUR Hidayah Budi Qur'ani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.1468

Abstract

Sastra lisan merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mempunyai peran penting dalam perekembangan kesusastraan Indonesia. Salah satu bentuk sastra lisan adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita atau cipta sastra yang hidup atau pernah hidup dalam se-buah masyarakat. Cerita itu tersebar, berkembang, atau diturunkan secara lisan dari suatu generasi ke generasi yang lebih muda. Salah satu bentuk cerita rakyat yaitu cerita rakyat Jawa Timur. Penelitian ini membahas tentang bentuk-bentuk citra tokoh perempuan yang ada di dalam cerita rakyat Jawa Timur. Tokoh perempuan yang dibahas adalah tokoh utama dalam cerita. Pendekatan penelitian ini menggunakan feminisme dengan sumber data sepuluh cerita rakyat dari Jawa Timur. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada enam cerita rakyat Jawa Timur yang menggambarkan citra perempuan. Keenam cerita rakyat tersebut menggambarkan dua bentuk citra tokoh perempuan yaitu citra fisik dan tingkah laku atau psikis. Citra fisik digambarkan melalui kecantikan tokoh perempuan dan citra tingkah laku atau psikis digambarkan melalui kebaikan hati, kesetiaan, penurut, berani mengambil keputusan, dan kesabaran. 
Memori Kolektif dalam Novel Secangkir Teh Melati mohamad akbar pangestu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.2010

Abstract

Penelitiann ini berjutuan mendeskripsikan memori kolektif tentang sejarah Indonesia yaitu tentang peristiwa tentang G30S/PKI hingga orde baru. Sumber data dalam penelitian ini merupakan data primer dari novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono. Gambaran realitas sejarah indonesia periode 1949 hingga 1970. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan data yang disajikan dalam bentuk deskriptif sehingga pembaca dapat mudah memahami tujuan analisis ini karena data yang diambil  merupakan kutipan yang mengandung nilai historis  dari novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Hasil dari penelitian ini adalah mendeskripsikan memori kolektif sejarah   indonesia pada masa peralihan orde baru ke orde lama yang ada dalam novel novel Secangkir Teh Melati karya Bunjamin Wibisono yang meliputi beberapa aspek, yaitu (1) masa peralihan orde lama ke orde baru, (2) memori kolektif peristiwa G30S/PKI, dan (3) memori kolektif tentang stereotip kaum komunis.
Potret Pendidikan dan Kemiskinan di Indonesia dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andre Hirata Rini Widiastuti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.4372

Abstract

This paper will examine and reflect on the relationship between literature and education, by addressing the issues surrounding the development of the education system in Indonesia through Andrea Hirata's Laskar Pelangi "glasses". Andrea Hirata shows through the novel Laskar Pelangi that education is not a place where one seeks knowledge, but how to live it. Significantly, the most prominent problem discussed in the novel Laskar Pelangi is the theme of education in Indonesia, and the author is interested in seeing this problem through the realities of the ups and downs of education in Indonesia. As for this purpose, the author analyzes the problems to be highlighted by using the genetic-structuralism method. The use of this method is based on the reason that education like what is contained in the novel Laskar Pelangi is a reflection of the reality of education in Indonesia. And in order to understand the issue more clearly, the analysis of the novel will not only look at the educational issues as contained in the novel (intrinsic), but also in terms of their references to the real world of Indonesian education (extrinsic).AbstrakTulisan ini akan meneliti dan merenungkan hubungan antara sastra dan pendidikan, dengan menjurus kepada persoalan di sekitar perkembangan sistem pendidikan di Indonesia melalui “kacamata” Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Andrea Hirata menunjukkan lewat novel Laskar Pelangi bahwa pendidikan bukanlah tempat seseorang menuntut ilmu, tetapi bagaimana menjalaninya. Secara signifikan, masalah yang paling menonjol yang dibicarakan dalam novel Laskar Pelangi adalah tema pendidikan di Indonesia dan penulis tertarik untuk melihat masalah tersebut melalui persoalan kenyataan pasang-surut pendidikan di Indonesia. Adapun untuk tujuan tersebut, penulis melakukan analisis atas masalah yang hendak disoroti dengan menggunakan metode genetik-strukturalisme. Penggunaan metode ini didasarkan pada alasan bahwa pendidikan seperti apa yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah refleksi dari suatu realitas pendidikan di Indonesia. Demi memahami persoalan tersebut lebih jelas, maka analisis terhadap novel tersebut tidak hanya dilakukan untuk melihat persoalan pendidikan tersebut seperti apa yang terdapat dalam novel (intrinsik), tetapi juga dalam hal referensinya ke dunia nyata pendidikan Indonesia (ekstirinsik).
Nilai Moral dan Budaya dalam Cerita Rakyat Sakera dari Pasuruan Pradicta Nurhuda; Novi Anoegrajekti; Siti Gomo Attas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 10, No 2 (2021): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v10i2.4364

Abstract

Sakera was a figure whom the people of Pasuruan loved in his day because he opposed the injustices committed by the Dutch on the workers. However, his struggle to defend the weak turns out his love was betrayed by Brodin who had an affair with his wife. This study aims to (1) describe the moral values in the Sakera folklore, (2) describe the cultural values in the Sakera folklore. This research is a qualitative descriptive study. The data source in this study is the Sakera folklore published on the Pasuruan Regency website. The object of this research is the moral values and cultural values of Sakera folklore. Data collection techniques were carried out by reading and note-taking techniques. Checking the validity of the data used in this study is by diligently reading and taking notes and checking the validity of reference stories through published folklore. The results of this study indicate that (1) the moral values found in the Sakera folklore are (a) the value of tolerance, (b) the value of discipline, (c) the value of hard work, (d) the value of independence, (e) the value of democracy, (f) ) curiosity value, (g) friendly value, (h) social care value, and (i) responsibility value; (2) the cultural values found in the Sakera folklore are (a) philosophical values, (b) the value of patience, (c) the value of togetherness (solidarity), (d) the value of courage, and (e) the value of firm stance. AbstrakSakera merupakan sosok yang sangat dicintai rakyat Pasuruan di zamannya karena dia menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh Belanda kepada buruh. Namun, di balik perjuangannya membela kaum lemah, ternyata cintanya dikhianati oleh Brodin yang berselingkuh dengan istrinya. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan nilai moral dalam cerita rakyat Sakera, (2) mendeskripsikan nilai budaya dalam cerita rakyat Sakera. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah cerita rakyat Sakera yang dimuat dalam situs laman Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Objek penelitian ini adalah nilai moral dan nilai budaya cerita rakyat Sakera. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan teknik catat. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan ketekunan membaca dan mencatat serta mengecek kevalidan cerita referensi melalui cerita rakyat yang sudah dipublikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) nilai moral yang ditemukan dalam cerita rakyat Sakera adalah (a) nilai toleransi, (b) nilai disiplin, (c) nilai kerja keras, (d) nilai mandiri, (e) nilai demokratis, (f) nilai rasa ingin tahu, (g) nilai bersahabat, (h) nilai peduli sosial, dan (i) nilai tanggung jawab; (2) nilai budaya yang ditemukan dalam cerita rakyat Sakera adalah (a) nilai filosofis, (b) nilai kesabaran, (c) nilai kebersamaan (solidaritas), (d) nilai keberanian, dan (e) nilai teguh pendirian.