cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
DECONSTRUCTION OF SORI GUSTI POETRY ANTHOLOGY BY DARMANTO JATMAN Rina Zuliana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3840

Abstract

This paper discussed the deconstruction of linguistic structures, forms, and contents in an antology of Sori Gusti's poems by Darmanto Jatman. The aim was to reveal the things behind the form and content of Sori Gusti's poetry text by using the strategy of reading Derrida's Deconstruction. The use of multilinguality in the text to decentering in the use of the concept of language, between local languages and foreign languages, as well as between other language opposition. The reversal and obscurity of the opposition of the language led to the reconciliation of culture represented in the text as a form of diversity. In terms of typography poetry, negation or obscurity of the center (decentering) through the use of the form of speech spoken by “aku lirik” as an inferior voice. At conventions generally speeches had a vertical concept, the speech of the leader to his people, then obscured by a horizontal concept (equivalent line). The vertical-horizontal conception was then formulated to reveal the political content behind the text, neo-imperialism of Orde Baru regim. AbstrakTulisan ini membahas dekonstruksi struktur linguistik, bentuk, dan isi dalam kumpulan puisi Sori Gusti karya Darmanto Jatman. Tujuannya untuk mengungkap hal ihwal di balik bentuk dan isi teks puisi Sori Gusti dengan menggunakan strategi pembacaan Dekonstruksi Derrida. Pemanfaatan  multilingualitas dalam teks untuk meniadakan pusat (decentering) dalam penggunaan konsep bahasa, baik antara bahasa lokal dengan bahasa asing, maupun antaroposisi bahasa lainnya. Pembalikan dan pengaburan oposisi bahasa tersebut  mengarah pada pendamaian budaya yang terepresentasi dalam teks sebagai bentuk keberagaman. Dari segi tipografi puisi dan peniadaan atau pengaburan pusat (decentering) melalui penggunaan bentuk pidato yang dituturkan oleh aku lirik sebagai suara inferior . Pada konvensi umumnya pidato memiliki konsep vertikal, tuturan pemimpin kepada rakyatnya, kemudian dikaburkan dengan konsep horisontal (garis setara).  Konsepsi vertikal-horisontal kemudian diformulasikan untuk mengungkap muatan politis di balik teks, yakni neoimperialisme Orde Baru.
Representasi Unsur-Unsur Multikulturalisme dalam Novel Lukisan Tanpa Bingkai Karya Ugi Agustono J Jafar Lantowa; Nonny Basalama; Riman Kasim
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4783

Abstract

The purpose of this study is to describe the representation of multicultural elements in the novel Painting Without a Frame by Ugi Agustono J. The research uses an interpretive descriptive method, which uses interpretive methods by presenting them in the form of descriptions. Data collection is done by reading and note-taking techniques. The data analysis technique uses a content analysis model. The results of the study show that in Ugi J's Painting Without Frames novel contains seven elements of multiculturalism, namely: (1) solidarity and brotherhood, (2) gender equality, (3) open trade, (4) family values, (5) respect for etiquette, (6) feel enough in life, (7) share and control power. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan representasi unsur-unsur multikultural dalam novel Lukisan Tanpa Bingkai karya Ugi Agustono J. Penelitian menggunakan metode deskriptif interpretatif yakni memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca dan catat. Teknik analisis data menggunakan model analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Lukisan Tanpa Bingkai karya Ugi J mengandung tujuh unsur multikulturalisme, yakni: (1) solidaritas dan persaudaraan, (2) kesetaraan gender, (3) perdagangan terbuka, (4) nilai kekeluargaan, (5) penghormatan terhadap tata susila, (6) merasa cukup dalam hidup, (7) berbagi dan kontrol kekuasaan.
Kepercayaan terhadap Berbagai Larangan pada Wanita Hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Sindy Ardina Ayu Firnanda; Eggy Fajar Andalas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3405

Abstract

The belief of the prohibitions on pregnant women in Tlogorejo, Lawang District, Malang Regency, is considered as one of the oral literary works. The community has various kinds of cultural traditions that still going on to this day, especially Javanese culture which is still preserved until now. This study aims to determine the community beliefs of the prohibitions on pregnant women and uses qualitative methods with data collection techniques using secondary and primary data. The data were obtained by conducting interviews with informants from the village and were analyzed using Roland Barthes semiotic theory. The results showed that the community believe that pregnant women (1) cannot go out at sunset, (2) cannot eat at the door, (3) cannot put a towel around their neck, (4) cannot kick the water, and (5) are not allowed to sleepover from place to place.  AbstrakKepercayaan terhadap larangan wanita hamil di Dusun Tlogorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, merupakan salah satu karya sastra lisan. Masyarakat memiliki berbagai macam tradisi kebudayaan yang melekat sampai saat ini, khususnya kebudayaan Jawa, dan masih dilestarikan, salah satunya kepercayaan terhadap larangan wanita hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepercayaan masyarakat terhadap larangan-larangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder dan data primer. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap narasumber yang berasal dari dusun tersebut. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yaitu analisis dengan menggunakan unsur tanda atau simbol dan terdapat dua makna, yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tlogorejo memercayai jika wanita hamil (1) tidak boleh keluar pada saat magrib, (2) tidak boleh makan di depan pintu, (3) tidak boleh mengalungkan handuk di leher, (4) tidak boleh menendang-nendang air, dan (5) tidak boleh tidur berpindah-pindah tempat.
Perbandingan Cerita Rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih, Cinderella, dan Si Cantik Vasilisa Rosma Kadir; Riman Kasim; Yusrilsyah Limbanadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4799

Abstract

Folklore has several similarities and differences, especially in the folklore of Bawang Merah and Bawang Putih with the folklore of Cinderella and Si Cantik Vasilisa. These three stories have a similar structure even though they are in different countries. In revealing the similarities and differences between the two folklores, the researcher uses a structural approach and comparative literature. This study aims to describe the similarities and differences in the three folklores. The method used in this research is descriptive method. The data were analyzed using a qualitative approach with more emphasis on content analysis techniques. The approach used to analyze the three folklores is a structural approach and a comparative study. The results showed that the folk tales of Bawang Merah and Bawang Putih, Cinderella, and Si Cantik Vasilisa had different settings and storylines, but had similar conflicts through the role of the stepmother which was represented through an evil character. AbstrakCerita rakyat memilki beberapa persamaan dan perbedaan terutama pada cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih dengan cerita rakyat Cinderella dan Si Cantik Vasilisa. Ketiga cerita ini memiliki kemiripan struktur meskipun berbeda negara.Dalam mengungkap persamaan dan perbedaan kedua cerita rakyat tersebut, maka peneliti menggunakan pendekatan struktur dan sastra bandingan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan pada ketiga cerita rakyat tersebut.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang lebih ditekankan pada teknik analisis isi.Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis ketiga cerita rakyat tersebut adalah pendekatan struktural dan kajian bandingan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih, Cinderella, dan Si Cantik Vasilisa memiliki perbedaan latar dan alur cerita, namun memiliki persamaan konflik melalui peran ibu tiri yang terepresentasikan melalui karakter yang jahat.
Kajian Sastra Ekologis terhadap Novel Arah Langkah Karya Fiersa Besari Indah Cintia Lestari; Hetilaniar Hetilaniar; Juaidah Agustina
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.3897

Abstract

 This research uses Fiersa Besari's novel "Arahan Step" as a material object and an ecological study related to local wisdom, the relationship between language and the environment that makes literary works as a formal object. The theories used are ecolinguistics, eco-sastra and eco-culture. Ecolinguistics itself will discuss the study side of the language used in the novel, while ecosastra itself helps, determines and explores and even solves ecological problems in a broad sense. The potential toexpress ideas about the surrounding environment, including the values of environmental wisdom and eco-culture are from real life, developed by the author using imagination. The results of these creatives gave birth to literary works that raised a certain culture as a storyline. Basically ecology, literature and culture are three important things that are closely related, the three complement each other, help each other and inspire each other in creating a work. The research method used is descriptive qualitative method. The focus of this research is the study of literary ecology on the novel Arah Step by FiersaBesari, while the sub-focus of this research is ecolinguistics, eco-sastra and eco-culture on the novel Arah Step by Fiersa Besari. This research was conducted with the aim of identifying and analyzing based on the study of literary ecology in Fiersa Besari's novel Directions of Steps and its relationship to the environment, literature and culture shown in the novel. AbstrakPenelitian.ini.menjadikan novel Arah Langkah karya Fiersa Besari sebagai objek material kajian ekologis yang berhubungan menggunakan kearifan lokal, keterkaitan antara bahasa dan  lingkungan yang mengakibatkan karya sastra sebagai objek formal. Teori yg digunakan artinya ekolinguistik, ekosastra, ekobudaya. Ekolinguistik itu sendiri   akan membahas sisi kajian bahasa yg digunakan dalam novel tadi, sedangkan ekosastra membantu, menentukan, dan  mengeskplorasi bahkan merampungkan dilema ekologi pada artian yang luas. Selain itu, berpotensi mengatakan gagasan wacana lingkungan sekitarnya, termasuk nilai-nilai kearifan lingkungan.Ekobudaya yakni kehidupan konkret yg dikembangkan oleh pengarang memakai daya imajinasi . hasil kreatif tadi melahirkan karya sastra yg mengangkat budaya tertentu sebagai alur cerita. intinya ekologi, sastra,  budaya ialah 3 hal penting yg sangat berkaitan. Ketiganya saling melengkapi, saling membantu, serta saling memberikan inspirasi dalam membangun sebuah karya. Metode penelitian yg dipergunakan metode naratif kualitatif. fokus dalam penelitian ini adalah kajian ekologi sastra terhadap novel Arah Langkah karya Fiersa Besari, sedangkan subfokus penelitian ini adalah ekolinguistik, ekosastra serta ekobudaya terhadap novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Penelitian ini dilakukan menggunakan tujuan buat mengidentifikasi, menganalisis sebuah karya berdasarkan kajian ekologi sastra pada novel Arah Langkah serta hubungannya menggunakan lingkungan, sastra, serta budaya yg diperlihatkan dalam novel tersebut.
Nilai-Nilai Nasionalisme dalam Novel 5 Cm Karya Donny Dhirgantoro Nasirudin Al Mustofa; Atiqa Sabardila
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2580

Abstract

Someone who has read a novel must have a good personality and attitude. This study aims to describe the form of nationalism values in 5 cm by Donny Dhirgantoro. This study uses a qualitative descriptive method to view, analyze, and describe data regarding the values of nationalism in the novel. Data collected by listening and note-taking, while the analysis used analytical techniques according to Miles and Huberman. The results showed that the novel describes the lives of young people in implementing the values of nationalism in the form of (1) respect for the state symbol, (2) participation in the independence ceremony on top of Mount Semeru, and (3) sayings of the figures. From the results of the analysis, it can be said that the values of nationalism in the novel are used to invite the readers to have a spirit of nationalism and love for their nation.  AbstrakSeseorang yang telah membaca novel tentunya memiliki kepribadian dan sikap yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk nilai-nilai nasionalisme di dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melihat, menganalisis, dan mendeskripsikan data mengenai nilai-nilai nasionalisme di dalam novel tersebut. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik menyimak dan mencatat, sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis menurut Miles dan Huberman. Hasil analisis menunjukan bahwa novel 5 cm menggambarkan kehidupan kalangan muda dalam mengimplementasikan nilai-nilai nasionalisme berupa (1) penghormatan kepada simbol negara, (2) keikutsertaan dalam upacara kemerdekaan yang berada di atas puncak Gunung Semeru, dan (3) berbagai ucapan para tokoh. Hasil analisis menyimpulkan bahwa nilai-nilai nasionalisme di dalam novel 5 cm digunakan untuk mengajak para pembaca memiliki jiwa nasionalisme dan rasa cinta terhadap bangsanya.
Psychopoetry/Poetry Therapy dalam Puisi “Sulaman Rindu” Karya Achmat Nasihi MT Rini Damayanti; Agung Pranoto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.4881

Abstract

Psychopoetry is a form of seni-based therapy that psychologists can use for soul-healing. The purpose of this study is to analyse the essay "Sulaman Rindu" using essay-writing techniques. In this study, the deskriptif analytic method was employed. Using the antologia for the essay "Sulaman Rindu" by Karya Achmad Nasihi MT, we may obtain the entire set of factually accurate data that is present in the essay. Poetry from the anthology "Sulaman Rindu" may be used in psychotherapy. Merely studying sufi puisi-puisi will suffice to sooth Tuhan's heart. The reader will likely give their heart to a transcendental persona. AbstrakPsikopoetry adalah salah satu bentuk terapi berbasis seni yang dapat digunakan psikolog untuk jiwa-penyembuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karangan “Sulaman Rindu” dengan menggunakan teknik penulisan karangan. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif analitik. Dengan menggunakan antologia esai "Sulaman Rindu" karya Achmad Nasihi MT, kita dapat memperoleh seluruh rangkaian data yang akurat secara faktual yang ada dalam esai tersebut. Puisi dari antologi "Sulaman Rindu" dapat digunakan dalam psikoterapi. Sekedar mempelajari sufi puisi-puisi saja sudah cukup untuk menyejukkan hati Tuhan. Pembaca kemungkinan besar akan memberikan hati mereka kepada persona transendental.
Sabai Nan Aluih: dari Kaba Klasik ke Komik Lastry Monika
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 1 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i1.2843

Abstract

The discussion in this paper aims to discuss Sabai Nan Aluih which was originally a classic work which was transformed into a new work in the form of a comic. It happened as a reception of a literary form. Both works are analyzed and interpreted by looking at the relationship between works related to the horizon of hope as stated by Hans Robert Jauss. Based on this theory, the presence (those who are present) and the absence (those who are not present) are stated as a form of respect for the two works that are used as object materials. The results of the analysis show that there are a number of presences and absences between the two works. The presence and absence of the two works can be seen based on the plot, setting of the story, and the choice of words used. The number of attendances and absences occurs because or is intended to be adjusted to the different times of the presence of the two works. However, these two things do not change the main idea of the story of Sabai Nan Aluih. AbstrakPembahasan dalam tulisan ini bertujuan untuk membahas Sabai Nan Aluih yang pada awalnya merupakan karya klasik bertranformasi menjadi karya baru berupa komik. Hal itu terjadi sebagai bentuk resepsi sastra. Kedua karya tersebut dianalisis dan ditafsir dengan melihat hubungan antarkarya yang berkaitan dengan horizon harapan sesuai yang dikemukakan oleh Hans Robert Jauss. Berdasarkan teori tersebut dikemukakan presence (yang hadir) dan absence (yang tak hadir) sebagai wujud dari respesi atas kedua karya yang dijadikan sebagai objek material. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat sejumlah presence dan absence antarkedua karya. Presence dan absence yang terdapat dalam kedua karya dapat dilihat berdasarkan alur, latar cerita, dan pilihan kata yang digunakan. Adanya sejumlah presence dan absence terjadi dikarenakan atau bertujuan untuk disesuaikan dengan perbedaan zaman hadirnya kedua karya tersebut. Akan tetapi, kedua hal itu secara keseluruhan tidak mengubah gagasan utama dari cerita Sabai Nan Aluih.
Kritik Sosial dalam Puisi “Berikan Aku Keadilan” Karya Fitri Nganthi Wani dan Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra Widi Sukmawati Trisnatul Rohma; Hidayah Budi Qur'ani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.3361

Abstract

Social criticism in poetry is the author's strategy to respond various problems that exist in society. The poem "Give Me Justice" by Fitri Nganthi Wani is interesting to study because it is considered a form of social criticism that represents the voice of the community with a picture of the impact of the riots during the New Order era, especially family disorganization. This is illustrated through the suffering of the author's life which is also felt by the same fate and struggle. This study aims to describe the various forms of social criticism in the poem and their relevance to literature learning in high school. The study used a qualitative descriptive method with a sociology of literature approach, while data collection technique was carried out by note-taking because it was in writing form. The content analysis technique to analyze the data. The results showed that there were three forms of social criticism, namely (1) social criticism of the arbitrariness of state officials, (2) social criticism in the form of family disorganization, and (3) social criticism of government injustice. The social critique in this poem can be used as a reference for literature learning teaching materials, both in the 2013 curriculum and the independent curriculum in high school. AbstrakKritik sosial dalam puisi menjadi siasat pengarang untuk memberikan tanggapannya terhadap berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Puisi Berikan Aku Keadilan karya Fitri Nganthi Wani menarik untuk diteliti karena dianggap sebagai bentuk kritik sosial yang mewakili suara masyarakat dengan gambaran dampak kerusuhan masa Orde Baru, utamanya disorganisasi keluarga. Hal tersebut digambarkan melalui derita hidup pengarang yang juga dirasakan kaum senasib dan seperjuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai bentuk kritik sosial dalam puisi Berikan Aku Keadilan dan relevansinya dengan pembelajaran sastra di SMA. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak catat karena data berupa tulisan, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan tiga macam bentuk kritik sosial yaitu, (1) kritik sosial terhadap kesewenang-wenangan aparat negara, (2) kritik sosial dalam bentuk disorganisasi keluarga, dan (3) kritik sosial terhadap ketidakadilan pemerintah. Kritik sosial dalam puisi ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi bahan ajar pembelajaran sastra, baik dalam kurikulum 2013 maupun kurikulum merdeka di tingkat SMA.
Deiksis Waktu dan Waktu Referensial dalam Sastra Lisan Minangkabau Sheiful Yazan; Arwemi Arwemi; Gina Havieza Elmizan
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 11, No 2 (2022): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v11i2.5204

Abstract

Minangkabau oral literature is a folk literature that tells the story of the past, when people were not familiar with the clock as a means of telling time or modern time concepts such as hours, minutes, and seconds were not used by the community. This article describes how the Minangkabau people of the past explained the deixis of time and referential time. It also explains about the concept of time or time reference and the indication of time throughout the day, duration, time reference used, and the concepts of past, present, and future time. Katopusako utterances, petatah-petitih, and oral literature, such as Tambo Minangkabau, and kaba, especially the classic one, are used as data sources. Ferdinand de Saussure's semiotic theory was used in analysis to find signified data and the meaning of the signifier of the time deixis. The research findings show that time deixis gives an indication of time, time duration,and time reference. All time deixis of Minangkabau and referential time refer to the surrounding natural conditions and human routine activities, as the Minangkabau philosophy says,“alam takambang (nature) becomes the teacher”. AbstrakSastra lisan Minangkabau adalah karya sastra rakyat yang menceritakan kisah masa lampau ketika masyarakat belum mengenal jam sebagai alat penunjuk waktu, atau konsep waktu modern seperti jam, menit, dan detik belum digunakan. Artikel ini memaparkan bagaimana masyarakat Minangkabau masa lalu menuturkan deiksis waktu dan waktu referensial, menjabarkan konsep waktu atau rujukan waktu, serta menjelaskan indikasi waktu sepanjang hari, durasi, acuan waktu yang digunakan, dan konsep waktu masa lalu, sekarang, dan masa depan.Sumber data adalah tuturan kato pusako, petatah-petitih, dan sastra lisan, seperti Tambo Minangkabau, dan kaba, khususnya kaba klasik Minangkabau. Analisis data menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure untuk menemukan data petanda (signified) dan menemukan makna penanda (signifier) dari deiksis waktu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa deiksis waktu memberikan indikasi waktu, durasi waktu, acuan waktu, dan referensi waktu. Semua deiksis waktu dan waktu refensial Minangkabau merujuk kepada kondisi alam sekitar dan kegiatan rutin manusia sebagaimana filosofi Minangkabau mengatakan alam takambang jadi guru.