cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA
ISSN : 23560215     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal AL - AZHAR SERI HUMANIORA merupakan jurnal ilmiah yang memuat makalah dan artikel hasil penelitian atau kajian teoristis dalam bidang Humaniora. Kata Al-Azhar berakar dari z-h-r. Verba zahara bermakna to shine, give light, be radiant, to glow, gleam, glare, shine, to blossom, be in bloom (Wehr, 1974:384). Dengan demikian kata Al-Azhar berarti sesuatu yang bersinar, yang memberi cahaya, yang berseri-seri atau yang mekar. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu pada bulan Maret dan bulan September.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017)" : 7 Documents clear
Hubungan Sikap Terhadap Seksual Pranikah dengan Tingkat Penilaian Moral Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia Eny Suwarni; Radhiya Bustan
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.564 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.267

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran hubungan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah korelasional, dengan subjek penelitian 50 orang mahasiswa UAI yang diambil secara accidental sampling. Alat ukur penelitian menggunakan model dari Likert, dan data yang diperoleh dianalisis dengan Pearson’s correlation. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral pada mahasiswa dengan nilai r  .072. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral prakonvensional dengan r .115. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral konvensional dengan r .053. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap seksual pranikah dengan tingkat penilaian moral pascakonvensional dengan r -.072. Tetapi hasil perbedaan mean dari variabel sikap terhadap seksual pranikah, pada aspek kognitif sebesar 92.96. aspek afektif 81.32. dan aspek konatif 61.68. Artinya  unsur kognitif atau pemikiran lebih dominan ketika mereka diminta untuk bersikap terhadap seksual pranikah. Tingkat penilaian moral mahasiswa lebih tinggi pada tahap konvensional (35.34) dibandingkan dengan tahap prakonvensional (22.24) dan pasca konvensional (12). Artinya mahasiswa dapat menginternalisasi standar dari figur otoritas, mereka peduli dan dapat mempertahankan aturan sosial jika dihadapkan pada penilaian moral terhadap seksual pranikah. Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah mahasiswa perlu lebih banyak diajak diskusi dan menalar untuk meningkatkan pengetahuan bagaimana bersikap terhadap seksual pranikah, agar mereka dapat menegakkan aturan agama, aturan hukum dan aturan sosial disaat mereka menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pihak universitas maupun orang tua dapat membuat program bersama yang dapat menstimulasi penilaian moral mahasiswa dengan memberikan perhatian yang lebih tentang bagaimana seharusnya mahasiswa menilai sikap terhadap seksual pranikah. Aturan yang diterapkan dikampus, perlu diterapkan juga di saat mereka berada di rumah agar penilaian moral mereka terhadap sikap pada seksual pranikah menjadi lebih baik dan mengurangi perilaku yang mengarah pada seksual pranikah. Selain itu untuk meningkatkan penilaian moral terhadap seksual pranikah pihak universitas dapat bekerjasama dengan insitusi terkait misalnya BKKBN, dengan membuat program edukasi dikampus tentang bahaya penyimpangan perilaku seksual pranikah Kata Kunci - Sikap terhadap seksual pranikah, Tingkat penilaian moral prakonvensional, Konvensional dan pasca konvensional Abstract - This study aimed to obtain the relationship between attitudes toward premarital sexual with moral assessment level students. This type of research is correlational, with research subjects 50 students of UAI taken by accidental sampling. Measuring instrument studies using models of Likert, and the data were analyzed by Pearson's correlation. The results showed no significant correlation between attitudes toward premarital sexual with the level of moral judgments in students the value of r .072. There is no significant relationship between attitudes toward premarital sexual with the level of pre-conventional moral judgments with r .115. There is no significant relationship between attitudes toward premarital sexual with conventional levels of moral judgment with r .053. There is no significant relationship between attitudes toward premarital sexual level moral judgments post-conventional with r -.072. But the results of the mean difference of the variable attitudes toward premarital sex, on cognitive aspects of 92.96. 81.32 affective aspects. and conative aspects 61.68. That is an element of cognitive or thinking more dominant when they are asked to act against premarital sex. The level of moral judgments of students was higher in conventional stage (35.34) compared with prakonvensional stage (22:24) and conventional post (12). This means that students can internalize the standards of authority figures, they care and can maintain social rules when faced with moral judgments against premarital sex. Advice can be given on the results of this study are students need more invited to discuss and make sense to increase the knowledge of how to behave towards sex before marriage, so that they can enforce the rules of religion, rule of law and social rules when they are in a relationship with the opposite sex. The university and parents can create together a program to stimulate the moral assessment of students by providing more attention on how to assess student attitudes toward premarital sexual. Rules are applied campus, need to apply also when they are at home so that their moral assessment of the attitudes on premarital sexual getting better and reduce behaviors that lead to premarital sex. In addition to increasing premarital sexual moral judgments against the university can collaborate with relevant institutions BKKBN for example, by making the campus educational programs about the dangers of premarital sexual deviant behavior Keywords - Attitudes about premarital sexual, Pre-conventional level of moral judgment, Conventional and post-conventional
Budaya Timur Tengah Pasca Arab Spring (Analisis Deskriptif Budaya Arab) Zulkarnen Zulkarnen
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.413 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.260

Abstract

Abstrak - Musim Semi Arab adalah fenomena yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang timbul dari dinamika sosial yang menginginkan orde baru yang dapat mengubah keadaan suatu negara dalam bentuk protes atau pemberontakan yang dilakukan oleh pro-demokrasi di Timur Tengah dan Afrika Utara melawan rezim otoriter di wilayah yang dimulai sekitar tahun 2010 hingga 2011. Dalam studi Budaya Arab bukanlah fenomena baru di Timur Tengah, karena Hitti (2006) mengatakan bahwa budaya Arab egaliter dan geografi gurun tandus khas adalah faktor yang membentuk karakter dan kepribadian utama yang keras dan pantang menyerah. Analisis deskriptif tentang pendekatan kualitatif terhadap budaya Arab fenomena Musim Semi Arab sangat langka sehingga, penulis berharap tulisan ini bisa menggambarkan studi budaya Arab dalam fenomena Musim Semi Arab. Orde baru yang merupakan harapan utama dinamika sosial masih jauh dari harapan, sehingga dalam tulisan ini penulis memberikan alternatif untuk pembentukan sebuah teori berbasis masyarakat regional dan berbasis masyarakat masyarakat Arab pasca Islam. Kata Kunci – Arab Spring, Dinamik, Budaya, Arab Abstract - Arab Spring is a phenomenon that occurs in the countries of the Middle East arising from a social dynamic who want a new order that can change the state of a country in the form of protest or rebellion committed by the pro-democracy in the Middle East and North Africa against authoritarian regimes in the region that started around the year 2010 up to 2011. In the Arab Cultural studies is not a new phenomenon in the Middle East, because Hitti (2006) says that Arab culture egalitarian and typical barren desert geography is a factor which form the main character and personality are hard and unyielding. Descriptive analysis of the qualitative approach to the Arab culture of the Arab Spring phenomenon is so rare that, the author hopes this paper can describe the Arab culture studies in the phenomenon of the Arab Spring. New order which is the main hope of social dynamics is still far from the hope, so in this paper the authors provide an alternative to the establishment of a regional and community based theory of post-Islamic Arab society institutions. Keywords - Arab Spring, Dynamics, Culture, Arab
Ketahanan Keluarga dan Kontribusinya Bagi Penanggulangan Faktor Terjadinya Perceraian Rizqi Maulida Amalia; Muhammad Yudi Ali Akbar; Syariful Syariful
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.95 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.268

Abstract

Abstrak - Faktor ketidak harmonisan di dalam keluarga menjadi salah satu sebab terjadinya perceraian keluarga. Ketidak harmonisan keluarga ini disebabkan oleh adanya pergeseran nilai perkawinan. Pasangan suami istri kurang memahami esensi tujuan pernikahan dan berkeluarga yang menjadi salah satu nilai dalam ketahanan keluarga. Hal itu menyebabkan adanya ketidakcocokan, perselisihan, akhlak yang buruk, cemburu dan gangguan fihak luar serta adanya faktor ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa data dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Hasil kajian nya ialah (1). Diperlukan pemahaman kepada masyarakat tentang ketahanan keluarga agar setiap individu pasangan memahami konsep dan tujuan berumah tangga. (2). Optimalisasi lembaga BP4 dalam menjembatani penyelesaian konflik rumah tangga. (3).     Penguatan sendi keluarga dari berbagai aspek baik ekonomi maupun sosial dan lainnya agar dapat meminimalisir tingkat perceraian. Kata Kunci – Ketahanan keluarga, faktor cerai, pernikahan Abstract - Factors of disharmony in the family became one of the causes of family divorce. This family harmony is caused by a shift in marital values. Married couples lack understanding of the essence of the purpose of marriage and family which became one of the values in family resilience. It causes discrepancies, disputes, bad morals, jealousy and external interference and economic factors. This research used qualitative method. This research also used secondary data in the form of data from South Jakarta Religious Court. The results of study are (1). understanding of family resilience is needed so that each individual couple understand the concept and purpose of marriage, (2). Optimization of BP4 institutions in mediator the settlement of domestic conflict. (3). Strengthening family bond in every aspect (economy, social, etc) to decrease the divorce rate.   Keywords - Family resilience, divorce facto, marriage
Metonimia dan Metafora dalam Norma dan Eksploitasi Tipe Semantis Adjektiva Value Frasa Nomina Eye pada Coca Ria Herwandar; Lusi Lian Piantari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.931 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.262

Abstract

Abstrak - Penelitian ini berjudul Metonimia dan Metafora dalam  Norma dan Eksploitasi Tipe Semantis Adjektiva Value Frasa Nomina Eye Pada COCA ‘Penelitian ini mengkaji kolokasi terdekat dengan kata eye untuk mendapatkan  makna prototipe dalam norma dan makna eksploitasi norma. Analisis kajian bertumpu pada The Theory of Norms and Exploitations, TNE karya Hanks (2013), sebuah teori bahasa yang berfokus pada kajian leksikal, berbasis kelola korpus dan teori bawah atas. Metodologi yang digunakan adalah metode pendekatan gabungan antara kualitatif sebagai pendekatan yang utama dan kuantitatif berdasarkan frekuensi kata dalam korpus. Lima puluh frasa nomina tertinggi dan lima puluh frasa nomin terendah dari 500 frekuensi di seleksi dan dipilah berdasarkan kategori tipe semantis ajektiva dengan fokus pada tipe semantis value. Jenis makna dalam norma dan eksploitasi bervariasi dengan inti perluasan makna literal terhadap metonimia dan metafora. Metonimia konseptual dan metafora konseptual di tingkat dasar yang diterapkan untuk frasa nomina eye adalah organ perseptual bersanding sebagai persepsi dan metafora konseptual melihat adalah menyentuh. Pada tingkat abstrak metafora konseptual menjadi  berpikir, mengetahui atau mengerti adalah melihat. Kata Kunci – Norma dan Eksploitasi, Jenis dari Nilai Semantik, metonymy, metaphor, Frase kata benda “ eye”  Abstract - This reseach entitled  ‘Metonymy and Metaphor in Norm and Exploitation Semantic Types Adjective Value of Noun Phrase Eye in COCA’. This research analyse adjacent collocation the noun eye in oder to identify the prototype meaning of norms and extention meaning of the exploitations. The research is based on The Theory of Norms and Exploitations, TNE by Hanks (2013), a lexical and bottom-up theory, based on corpus data. The methodology used is a mixed-method of qualitative and quantitative of frequency of word in corpus. 50 highest frequency of noun phrase eye and 50 lowest frequency noun phrase from 500 frequncy  are selected and sorted out within the semantic type of the adjectives and focus on the semantic types of value. Type of meaning in norms and exploitations are varied with the core literal meaning extension towards metonymy and metaphor. The basic  conceptual Metonymy and the conceptual of metaphor for eye is perceptual organ stands for perception and for metaphor seeing is touching.In the abstract level of conceptual metaphor is describes as thimking, knowing aand understanding is seeing. Keywords - Norms and Exploitations, Semantic Type of Value, Metonymy, Metaphor, Eye noun phrase.
Pemahaman Identitas dan Toleransi Keberagaman Budaya Mahasiswa Sastra Inggris UAI Melalui Puisi Multikultural Kesusasteraan Inggris: Sebuah Kajian Multikulturalisme Sherien Sabbah; Paramita Ayuningtyas
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.586 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.264

Abstract

Abstrak - Penelitian ini dilakukan untuk melihat respon mahasiswa Sastra Inggris UAI dalam memahami konflik keberagaman dan pemahaman identitas budaya terkait dengan ideologi multikulturalisme melalui puisi  multikultural kesusasteraan Inggris. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode reader-response (respon pembaca) dengan subjek penelitian yaitu mahasiswa Sastra Inggris UAI yang mengambil mata kuliah Pengkajian Puisi sebanyak 26 orang. Dengan menggunakan teori  Identitas  oleh Stuart Hall sebagai kajian multikulturalisme dan teori intrinsik puisi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai respon mahasiswa Sastra Inggris terhadap teks-teks sastra bertema multikultural dan juga gambaran jelas sejauh mana pemahaman lintas budaya mereka. Pada akhirnya hasil ini secara garis besar menunjukkan bahwa pemahaman keberagaman, kepedulian sosial dan toleransi di kalangan mahasiswa sastra Inggris UAI belum baik karena sebanyak 53.86% responden terlihat mengalami kesulitan untuk memahami dan menginterpretasikan isi puisi serta tidak bisa mengaitkan tema puisi dengan kondisi keberagaman di kehidupan mereka sehari-hari.  Kata Kunci – Multikulturalisme, Identitas Budaya, Identitas Budaya, Tanggapan Pembaca Abstract – This research is done to see the English Department students’ response in understanding cultural identity and issues of differences related to the ideology of multiculturalism through interpreting a multicultural poem in English. This research is a qualitative research implementing a reader-response method using 26 students of the English Department in UAI as the subject of research. By conducting Stuart Hall’s theory of Identity as a multiculturalism analysis and theory of Poetic devices, this research is done to give a clear perspective on the students’ response towards a multicultural theme in a literary text as well as giving view on their intercultural understanding. In the end, this research shows that overall these students’ understanding towards the issue of differences and tolerance is unsatisfying seeing that 53.86% respondents were unable to understand and interprete the poem as well as were unable to relate the theme of the poem to the condition around them in reality. Keywords - Multiculturalism, Cultural Identity, Poetic Devices, Reader’s Respond, Stuart Hall
Tantangan “Role”/ Peran yang Dihadapi oleh Mantan Perawat IJ-EPA Setelah Kembali ke Indonesia Mutiawanthi Mutiawanthi
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.423 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.265

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dari sisi “role”/ “peran” yang dihadapi oleh para perawat Indonesia sekembalinya mereka dari Jepang ketika mereka  mulai bekerja sebagai perawat di rumah sakit di Indonesia. Data utama dalam penelitian ini berasal dari data kuisioner dan interview dengan 10 orang perawat Indonesia yang pernah bekerja di Jepang dalam kerangka IJ-EPA. Teori “peran”/ “role” digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisa tantangan yang para perawat ini hadapi ketika mulai bekerja di rumah sakit di Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah para perawat ini cukup menghadapi kesulitan dan perlu beradaptasi kembali ketika melakukan tindakan medis seperti menyuntik, menginfus dan mengambil darah pasien. Hal ini disebabkan adanya peraturan di Jepang yang melarang mereka untuk melakukan tindakan medis apabila belum lulus ujian lisensi keperawatan Jepang. Akibatnya, sekembalinya di Indonesia dan mulai bekerja di rumah sakit di Indonesia mereka tidak dapat melakukan “role”/ “peran”nya sebagai perawat secara maksimal. Kata Kunci - IJ-EPA, Perawat Indonesia, Tantangan, “Role”/ peran. Abstract - This study focused to identify the challenge of the role that is faced by Indonesian nurse after they back from Japan and start to work as a nurse in hospital in Indonesia. The main data of this research is from questionnaire and interview, the author sent questionnaire and interviewed 10 respondents. From 10 respondents, 6 respondents have a work experience as nurse assistant and 4 respondents have a work experience as care worker assistant in Japan through IJ-EPA program. The author use role theory to analyze the challenge that is faced by Indonesian nurse after they back from Japan and start working as a  nurse in hospital in Indonesia. The conclusion is all of the respondents faced difficulties and need adaptation when they start working in hospital, especially in medical action such us doing injection, infusing, etc. This is because their skill in medical action decrease after they back from working in Japan. The reason why their medical action skill decrease is because they can not do medical action when they work as nurse assistant or care worker assistant in Japan, this is related to the regulation in Japan. Because of this, when they start to work in hospital in Indonesia they can not fullfil their role as a nurse maximally. Keyword - IJ-EPA, Indonesian Nurse, Challenge, Role
Interferensi Fonologis Bahasa Arab “Analisis Kontrastif Fonem Bahasa Arab Terhadap Fonem Bahasa Indonesia Pada Mahasiswa Universitas Al Azhar Bukan Jurusan Sastra Arab” Thoyib Thoyib; Hasanatul Hamidah
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.405 KB) | DOI: 10.36722/sh.v4i2.257

Abstract

Abstrak - Peristiwa gangguan fonologis dapat terjadi karena kontak dua bahasa. Interaksi Arab dan Indonesia memungkinkan kontak bahasa yang dapat menyebabkan pengguna bahasa asing mengalami gangguan fonologis dan gramatikal. Penelitian ini difokuskan pada gangguan fonologis pada siswa non-Arab Universitas Al-Azhar Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang gangguan fonemik pada pelajar pemula bahasa Arab. Studi ini juga memberikan manfaat bagi guru bahasa Arab di Indonesia untuk menemukan metode dan strategi pembelajaran yang sesuai. Metode deskriptif dan metode kontrasif digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan rekaman suara pada 12 siswa dari 6 fakultas dengan cara membaca fonem bahasa Arab. Berdasarkan rekaman, ditemukan 14 gangguan nada konsonan: / ġ / direalisasikan sebagai [g], / q / direalisasikan sebagai [k], / ś / direalisasikan sebagai [s], / ʕ / direalisasikan sebagai [?], / ŧ / disadari sebagai [ṣ], / ṣ / direalisasikan sebagai [s], / x / direalisasikan sebagai [h] dan [ħ] / ħ / direalisasikan sebagai [h], / đ / direalisasikan sebagai [d] dan [ð], / ð / direalisasikan sebagai [z], / θ / direalisasikan sebagai [s], / ż / direalisasikan sebagai [z] dan [ð], / h / direalisasikan sebagai [ħ]. Intervensi vokal ditemukan dalam 4 vokal: pendek / a / vokal yang direalisasikan sebagai [ɔ], long / a: / vokal yang direalisasikan sebagai [o], / i: / disadari sebagai [i] dan / u: / disadari sebagai [u] . Penyimpangan yang paling sering ditemukan dalam konsonan / ż / direalisasikan sebagai [z] dan konsonan / θ / direalisasikan sebanyak 29,76%. Tingkat gangguan masing-masing responden dipengaruhi oleh dua hal: durasi belajar dan frekuensi penggunaan bahasa sehari-hari. Kata Kunci – Gangguan, Konsonan, Vokal, Artikulasi Abstract - Phonological interference events may occur due to two-language contacts. An Arab and Indonesian interaction allows a language contact that can lead foreign language users to experience phonological and grammatical interferences. This study is focused on phonological interferences on non-Arabic students of the Al-Azhar University of Indonesia. The objective of this study is to provide information on phonemic interferences in novice Arabic learners. This study also gives merits to Arabic teachers in Indonesia to find appropriate learning methods and strategies. Descriptive method and contrastive method were employed in this study. Data collection was conducted using sound recordings on 12 students of 6 faculties by way of reading of Arabic phonemes. Based on the recordings, 14 consonant-tone interferences were found: /ġ/ realized as [g], /q/ realized as [k], /ś/ realized as [s], /ʕ/ realized as [?], /ŧ/ realized as [t], /z/ realized as [ṣ], /ṣ/ realized as [s], /x/ realized as [h] and [ħ]/ħ/ realized as [h], /đ/ realized as [d]  and [ð], /ð/ realized as [z], /θ/ realized as [s], /ż/ realized as [z]  and [ð], /h/ realized as [ħ]. Vowel interferences were found in 4 vowels: short /a/ vowel realized as [ɔ], long /a:/ vowel realized as [o], /i:/ realized as [i] and /u:/ realized as [u]. The most frequent deviations were found in consonant /ż/ realized as [z] and consonant /θ/ realized as [s] as much as 29.76%. The interference level of each respondent was influenced by two things: the duration of learning and the frequency of day-to-day language use. Keywords - Interference, Consonants, Vowels, Articulation

Page 1 of 1 | Total Record : 7