cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial
ISSN : 14125153     EISSN : 25028707     DOI : -
Core Subject : Social,
Berbagai hasil penelitian dan kajian model praktik pekerjaan sosial tentang model pelayanan sosial, perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, pengembangan sosial, dan intervensi praktik pekerjaan sosial dapat dipublikasikan melalui jurnal Peksos ini.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
IMPLEMENTASI TEKNIK KONTROL DIRI DAN TEKNIK SELF MANAGEMENT DALAM MENINGKATKAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL BAGI KLIEN “DN” PENYALAHGUNA NAPZA DI YAYASAN GRAPIKS BANDUNG Sihombing, Windi
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 1 (2016): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.289 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v15i1.57

Abstract

Abstract Social functioning included equilibrium exchange, suitability, compatibility, and mutual adjustment among people, individually or collectively, and their environment. This study aims to obtain empirical description and analysis of the techniques of self-control and self-management techniques to improve the recovery of social functioning of clients in an effort to change behavior in a more positive direction of Bandung Grapiks Foundation. The research method used in this study is Single Subject Design (SSD) N = 1. This study uses a model of multiple cross design variables. Data collection techniques used were observation, interview and documentation. The data source used is the primary data source and secondary data source. Test the validity of using a statistical test with the formula of Pearson's product moment correlation and reliability testing using Chronbach Alpha technique. The results of this study were analyzed using the technique of quantitative analysis using the formula 2 standard deviations. The results showed that the applied self-control and self-management techniques can be used for improving the social functioning of subjects, including the ability to implement aspects of social roles, ability to meet the needs and social problem-solving skills. Interventions performed using an individual approach.  Key words: social functioning, drug users, self-control techniques, self-management techniques Abstrak Keberfungsian sosial menunjukkan keseimbangan pertukaran, kesesuaian, kecocokan, dan penyesuaian timbal balik antara orang, secara individual atau secara kolektif, dan lingkungan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara empirik dan menganalisa tentang teknik kontrol diri dan teknik self management dalam meningkatkan pemulihan keberfungsian sosial klien sebagai upaya perubahan perilaku ke arah yang lebih positif di Yayasan Grapiks Bandung.Penelitian ini menggunakan metode Single Subjek Design (desain subyek tunggal) N = 1. Penelitian ini menggunakan model multiple design cross variables. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Adapun sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Uji validitas menggunakan uji statistik dengan rumus korelasi product moment dari Pearson dan uji reliabilitas menggunakan teknik Alpha Chronbach. Selanjutnya hasil penelitian ini dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif menggunakan rumus 2 standar deviasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik kontrol diri dan teknik self management yang dilakukan terhadap subyek dapat meningkatkan keberfungsian sosial yang mencakup aspek kemampuan melaksanakan peran sosial, kemampuan memenuhi kebutuhan dan kemampuan memecahkan masalah sosial. Intervensi dilakukan dengan menggunakan pendekatan individu. Kata kunci: keberfungsian sosial, pengguna NAPZA, teknik kontrol diri, teknik self management
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP PENINGKATAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL PENYANDANG CACAT FISIK DI KECAMATAN CIKAJANG KABUPATEN GARUT Indrakentjana, M.Pd., Ph.D, Bambang
Pekerjaan Sosial Vol 12, No 1 (2013): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.08 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v12i1.22

Abstract

AbstractThis research discusses about social support on social function enhancement of people with physical disability. The aim of the research is to gain depth understanding about: (1) the characteristric of people with disability (2) problems and barriers which is perceived to improve social function (3) the needs required by people with physical disability to increase social function (4) the impact of social function which is perceived by people with disability on social function enhancement. This research used qualitative and quantitaive research approach with explanatory survey method is a causality investigation based on observation of the existing social suppport factors by taking data from population using questionnaires as a tool of data collection. In this research research sample is determined by simple random sampling through lottery to get 25% or 40 respondents (people with physical disability) as a sample of the research.  The result showed that there is an impact of social support perceived by people with physical disability on social function enhancement about 69,1%. The social support for people with physical disability is a social resource that can help them to face an event and increase their social function. The level of social support perceived by people with physical disablity on the enhancement of social function influenced by emotional support, award support, instrumental support and informational support factor.Keywords: social support, disability, cikajang AbstrakPenelitian ini tentang pengaruh dukungan sosial terhadap peningkatan keberfungsian sosial penyandang cacat fisik. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang: (1) karakteristik penyandang cacat fisik (2) Permasalahan dan hambatan yang dirasakan penyandang cacat fisik dalam meningkatkan keberfungsian sosialnya. (3) Kebutuhan yang diperlukan penyandang cacat fisik  dalam meningkatkan keberfungsian sosialnya. (4) Pengaruh dukungan sosial yang dirasakan penyandang cacat fisik terhadap peningkatan keberfungsian sosialnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan metode survei eksplanatori yang merupakan penyelidikan kausalitas dengan cara berdasarkan pada pengamatan terhadap pengaruh faktor-faktor dukungan sosial yang terjadi, yaitu melakukan penelitian dengan mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan angket sebagai alat pengumpul data. Dalam penelitian ini sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan simple random sampling  dengan diundi yaitu mengambil sebanyak 25% atau 40 responden (penyandang cacat fisik) sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan sosial yang dirasakan penyandang cacat fisik terhadap peningkatan keberfungsian sosial penyandang cacat fisik yaitu sebesar 69,1%. Dukungan sosial bagi penyandang cacat fisik merupakan sumber daya sosial yang dapat membantu  mereka dalam menghadapi suatu kejadian  menekan dan meningkatkan keberfungsian sosialnya. Besarnya pengaruh dukungan sosial yang dirasakan penyandang cacat fisik terhadap peningkatan keberfungian sosial penyandang cacat fisik dipengaruhi  oleh faktor dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan informasional.Kata kunci: dukungan sosial, disabilitas, cikajang
PENERAPAN TERAPI PERILAKU KOGNITIF DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR ANAK DI KOTA BANDUNG Herawati, Sofie
Pekerjaan Sosial Vol 16, No 2 (2017): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.552 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v16i2.110

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis penerapan terapi perilaku kognitif yang dapat meningkatkan aktivitas belajar “YS”. Jenis aktivitas belajar yang menjadi fokus penelitian yaitu aktivitas oral. Aspek dalam aktivitas oral ini terkait dengan perilaku menghafal juz’ama. Penggunaan terapi perilaku kognitif ini merupakan upaya untuk mengubah kognisi dan perilaku “YS” menjadi hal yang positif. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan menggunakan Desain Subjek Tunggal. Model penelitian yang digunakan yaitu model ABA yang terdiri dari tiga fase antara lain (a) Fase A1 (baseline) (b) Fase B (intervensi), dan (c) Fase A2 (hasil). Instrumen yang digunakan adalah lembar pencatatan obervasi perilaku. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan pencatatan produk permanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan terapi perilaku kognitif efektif untuk mengubah kognisi dan  meningkatkan perilaku menghafal juz’ama “YS”. Meningkatnya perilaku menghafal juz’ama ini dilihat dari aspek durasi menghafal, frekuensi menghafal, dan jumlah ayat yang dihafal. Kata kunci: aktivitas belajar, perilaku menghafal, Terapi Perilaku Kognitif
URBANISASI DI KOTA BALIKPAPAN: FORMASI SOSIAL KELUARGA PENDATANG MISKIN DI KOTA BALIKPAPAN Mutmainnah, A. Nurul; Kolopaking, Lala M; Wahyuni, Ekawati Sri
Pekerjaan Sosial Vol 14, No 1 (2015): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.883 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v14i1.45

Abstract

Abstract This aims of study to explain urbanization in Balikpapan  and poverty faced by poor migrant families through social processes and social formations that they experienced. The research method used is the method mix or combination of qualitative and quantitative methods. This study also uses primary data through surveys, in-depth interviews, field diaries and secondary data by dokumentation and articles related to the research. Urbanization in Balikpapan is inseparable by entry of poor families from various regions in Indonesia. Ethnic solidarity apparently affected relations of production, in which poor families are bound migrants in ethnic groups and used as cheap labor in production activities. Modes of subsistence and commercial production of social formation forming families of poor immigrants. Lack of capital and the role of market mechanisms in production activities make poor migrant families are in position of the working class with low incomes and experiencing poverty. Keywords: family poor immigrant, social process, social formation, modes of production,  production relationsAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan urbanisasi di kota Balikpapan dan kemiskinan yang dihadapi keluarga pendatang miskin melalui proses sosial dan formasi sosial yang mereka alami. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan data primer  melalui wawancara mendalam dan catatan harian lapangan. Data sekunder yang digunakan adalah dokumentasi dan artikel yang berkaitan dengan penelitian untuk menjelaskan urbanisasi di kota Balikpapan. Urbanisasi di kota Balikpapan tidak terlepas dari masuknya keluarga miskin dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin mencari kerja. Solidaritas dan kerjasama sesama etnis merupakan salah satu bentuk proses sosial yang dialami keluarga pendatang miskin. Moda produksi subsisten dan komersil menjadi pembentuk formasi sosial keluarga pendatang miskin. Kurangnya modal dan peran mekanisme pasar dalam kegiatan produksi membuat keluarga pendatang miskin berada dalam posisi kelas pekerja dengan pendapatan rendah dan mengalami kemiskinan. Kata kunci: keluarga pendatang miskin, proses sosial, formasi sosial, moda produksi   
KEMITRAAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DENGAN PERUSAHAAN UNTUK MENGISI QUO VADIS PENGENTASAN KEMISKINAN INDONESIA Kyantoro, Kris
Pekerjaan Sosial Vol 11, No 2 (2012): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1871.953 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v11i2.13

Abstract

AbstractThe Partnership Model which have been created at the time of the practical activity was designed as an effort to develop local potential and resources in its form an access to the Corporate Social Responsibility (CSR) Program in handling the poverty problem. The local poverty called as artificial poverty that is referred to the poor condition which is caused by internal and external factors. This condition is characterized by lack of income and financial capital of the poor, but they are still having some valuable assets, or they are strong enough  to access certain resources for their own capacity building and welfare. The research result was shown that the early model may just include partnership in the social aspect, while the local economic empowerment aspect in the partnership have not optimally achieved.Its limitation was mainly due to the factor of the company program option which over concentrate on social charity activities in their CSR implementation. Limitations of the CSR Program implementation and also weaknesses and improvement needs of the model which led to the economic empowerment aspect and strengthening of the social aspect further are accommodated in the program design that aimed to strengthen the social economic in the three sectors relationships involving community, local government, and company. The model improvement implementation can be a seedbed media for the principles of the partnership. The Partnership Model of Socio-Economic of the Community with Company for Overcoming Poverty is a pattern of partnership which  able to increase the social awareness, an entrepreneurship spirits, and the community incomes. Keywords: artificial poverty, CSR, socio-economicpartnership, three sectors AbstrakModel Kemitraan yang dikembangkan pada saat kegiatan praktikum didesain sebagai upaya pengembangan potensi dan sumber lokal yang berupa akses pada Program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam penanganan masalah kemiskinan. Kemiskinan lokal disebut artificial poverty yaitu kondisi miskin yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Kondisi ini ditandai dengan kekurangan penghasilan dan modal finansial kelompok miskin, namun mereka masih memiliki aset berharga tertentu atau masih dapat mengakses sumber daya tertentu bagi peningkatan kapasitas dan kesejahteraannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Kemitraan (model awal) baru dapat mencakup aspek sosial sedangkan aspek pemberdayaan ekonomi lokal belum optimal tercapai. Keterbatasan tersebut terutama disebabkan oleh faktor pilihan program dari perusahaan yang bersubstansi pada kegiatan-kegiatan derma sosial pada pelaksanaan CSR-nya. Keterbatasan implementasi Program CSR beserta kelemahan  dan kebutuhan penyempurnaan model yang bermuara pada aspek pemberdayaan ekonomi dan penguatan aspek sosial selanjutnya diakomodir dalam desain penyempurnaan program yang diarahkan pada penguatan kemitraan sosial ekonomi masyarakat dalam  relasi tiga sektor yang melibatkan warga, pemerintah setempat, dan perusahaan. Implementasi penyempurnaan model  telah mampu menjadi media persemaian bagi prinsip-prinsip kemitraan. Model Kemitraan Sosial Ekonomi Masyarakat dengan Perusahaan untuk Mengatasi Kemiskinan (model akhir) merupakan pola kemitraan yang mampu meningkatkan kesadaran sosial, jiwa wirausaha, dan penghasilan masyarakat.Kata-kata kunci: artificial poverty, CSR, kemitraan sosial ekonomi, tiga sektor
Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas : Penguatan Komunikasi Interpersonal dalam Pengembangan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana 313 Desa Langensari kecamatan Lembang Andhika, Angga Novian
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 2 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.597 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i2.142

Abstract

Abstrak  ANGGA NOVIAN ANDHIKA. Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas : Penguatan Komunikasi Interpersonal dalam Pengembangan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana 313 Desa Langensari kecamatan Lembang. Dibimbing oleh Dra. NENI KUSUMAWARDHANI, MS dan ARIBOWO, Ph.D. Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK) merupakan suatu pendekatan yang mendorong masyarakat ditingkat lokal dalam pengelolaan risiko bencana. Dengan pendekatan PRBBK diharapkan akan menghasilkan masyarakat yang mandiri dalam pengelolaan risiko bencana sehingga pada akhirnya masyarakat ditingkal lokal memiliki tingkat resiliensi yang tinggi terhadap risiko bencana. Penelitian ini bertujuan memahami penguatan komunikasi interpersonal terhadap pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat penanggulangan bencana (KMPB) 313 dalam mewujudkan PRBBK. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Participatory Action Research (PRA). Sumber data berasal dari anggota KMPB 313 dengan teknik pengambilan sumber data menggunakan purposive technic sampling. Teknikpengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, diskusi kelompok dan observasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui uji credibility, uji transferability, uji dependability dan uji confirmability. Data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menghasilkan pemahaman bahwa komunikasi interpersonal yang terdiri dari empat jenis 1) interaksi intim 2) percakapan sosial 3) interogasi atau pemeriksaan 4) wawancara masih rendah, dimana bentuk interogasi atau pemeriksaan belum terjadi dan bentuk wawancara masih rendah intensitasnya. Penyebabnya bervariasi, antara lain persepsi negatif anggota terhadap pimpinan, anggapan belum terjadinya bencana, serta ekonomi masyarakat yang rendah. Penguatan komunikasi interpersonal dilakukan dengan kegiatan yang berintikan meningkatkan keakraban dan perekonomian anggota KMPB 313 melalui penetapan jadwal pertemuan triwulan, silaturahim anggota, pembentukan bank sampah serta workshop pemberdayaan sampah.Klasifikasi komunikasi interpersonal. Penguatan terhadap komunikasi dapat memperkuat fungsi komunikasi dan selanjutnya dapat memperkuat hubungan interpersonal di dalam KMPB 313. Implikasi teoritik penelitian menyatakan bahwa komunikasi jenis interogasi atau pemeriksaan belum dapat terjadi pada lembaga yang masih baru dan bersifat informal. Hal tersebut disebabkan organisasi informal memiliki anggota yang bersifat sukarela ditambah karakteristik masyarakat yang cenderung menutup diri apabila terjadi permasalahan dengan warga lain. Sementara implikasi teoritik menyatakan bahwa penguatan komunikasi interpersonal di dalam organisasi dapat memperkuat kinerja lembaga dan selanjutnya dapat mewujudkan PRBBK. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa dalam memperkuat komunikasi interpersonal di dalam organisasi, pekerja sosial komunitas harus memperhatikan faktor persepsi anggota terhadap pimpinan, persepsi terhadap bencana dan faktor ekonomi anggota.  Kata Kunci :Pengurangan Risiko Berbasis Komunitas (PRBBK),komunikasi antarpribadi, pengembangan kelembagaan
KOMPETENSI PEKERJA SOSIAL DALAM PELAKSANAAN TUGAS RESPON KASUS ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM DI CIANJUR Susilowati, Ellya
Pekerjaan Sosial Vol 16, No 1 (2017): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.933 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v16i1.100

Abstract

AbstractThis research aims to assess the competence of Social Workers as a profession mandated by Law Number 11 of 2012 on the criminal justice system children in the handling of children in conflict with the law (ABH), especially in performing the case response task to ABH. This research used qualitative descriptive method to seven people who carry out the task of ABH cases response in Cianjur Regency. Data collection techniques used were interviews, observation and documentation study. The results showed that the Social Worker in Cianjur has implemented ABH case response. The implementation of the ABH cases response under the control of Cianjur Regency social service with the support of the child and family support centre of Save the Children. Implementation of the cases response has not referring to the response stage such cases the guidelines of the Directorate of Social Rehabilitation for Children, in which case the response must perform duty service: 1) the emergency; 2) crisis intervention; 3) assisting the completion of the case; 4) social rehabilitation; and 5) the strengthening of child and family services. However, some Social Workers carry out the case response based on the stage of social work and case management approach. The competence of social workers are already using a framework of knowledge, skills and values of social work especially the practice of social work with children.the  recommendations from this research are to: 1) The Directorate of Child Social Rehabilitation Ministry of Social Affairs to continue to disseminate ABH case response and technical assistance for ABH cases response; 2) the child's social worker conduct periodic discussion and sharing about the competence with regard to the response of social work cases ABH.   Keywords: Case Response, Children in Conflict with The Law, Social WorkerAbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengkaji kompetensi Pekerja Sosial sebagai profesi yang dimandatkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012  tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dalam penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), khususnya dalam melaksanakan  tugas respon kasus kepada ABH.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode deskriptif kepada tujuh orang Pekerja Sosial yang melaksanakan tugas respon kasus ABH di Kabupaten Cianjur. Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pekerja Sosial di Kabupaten Cianjur telah melaksanakan respon kasus ABH. Pelaksanaan respon kasus ABH ini dibawah kendali Dinas Sosial Kabupaten Cianjur dengan dukungan dari Pusat Dukungan Anak dan Keluarga Save The Children. Pelaksanaan respon kasus belum merujuk pada tahapan respon kasus seperti pedoman dari Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak, dimana dalam melakukan respon kasus harus melaksanakan tugas layanan: 1)  kedaruratan; 2)  intervensi krisis; 3) pendampingan penyelesaian kasus; 4) rehabilitasi sosial; dan 5)  layanan penguatan anak dan keluarga. Namun demikian, beberapa Pekerja Sosial melaksanakan respon kasus berdasarkan tahapan pekerjaan sosial dan pendekatan manajemen kasus. Kompetensi pekerja sosial sudah menggunakan kerangka pengetahuan, keterampilan dan nilai dari pekerjaan sosial khususnya praktik pekerjaan sosial dengan anak. Rekomendasi dari penelitian ini adalah kepada: 1) Direktorat Rahebilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial untuk terus melakukan sosialisasi respon kasus ABH dan bimbingan teknis untuk respon kasus ABH; 2) Pekerja sosial anak melakukan diskusi dan sharing berkala tentang kompetensi pekerjaan sosial berkaitan dengan respon kasus ABH. Kata kunci:  ABH, Pekerja Sosial, Respon Kasus
KESEDIAAN BALAI BESAR PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (BBPPKS) DALAM MENANGANI HIV/AIDS Hakim, Moch Zaenal
Pekerjaan Sosial Vol 11, No 1 (2012): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.643 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v11i1.4

Abstract

Abstract As an institution in providing training for social workers, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) has a very important role to play towards the social well-being of the community. A qualitative study was conducted in order to identify the extent of BBPPKS’s involvement in providing training on HIV/AIDS. Aspects which is tested including the profile of BPPKS institution; the institutional assessment concerning HIV/AIDS from the aspects of knowledge, attitudes toward people with HIV/AIDS (PLWHA); policy and requirement of HIV/AIDS training; and HIV/AIDS training curriculum for social worker. With purposive and snowball sampling technique, six institutions throughout Indonesia under the BBPPKS were selected as informants. Results showed that informant had a good understanding about HIV/AIDS and have positive attitudes towards PLWHA. With regards to the training needs of HIV/AIDS for social workers, the BBPPKS in Jayapura understands the problems of HIV/AIDS and has conducted training on HIV/AIDS for their social workers and stakeholders in this region. However, the other five institutions of BBPPKS, namely Padang, Bandung, Yogyakarta, Makassar and Banjarmasin have yet to acknowledge the problems of HIV/AIDS in their areas. Furthermore, the five institutions do not have a training program of HIV/AIDS for social workers. At the same time, the five BBPPKS highlighted that currently there is no stakeholders in the province ever propose for HIV/AIDS training for social workers.  However, results of research showed that there is an important need for HIV/AIDS training. Other factors which cause these institutions for not having any training programs include that there are no curriculum on HIV/AIDS to train the social workers, there are no competent trainers in this area and is not a top priority from the Ministry of Social Affairs of Indonesia to have such training. This study also introduced a curriculum on HIV/AIDS training for social workers which can be implemented by BBPPKS.Keywords: BBPPKS, social worker, stakeholders, training programme, curriculum on  HIV/AIDS training for social worker Abstrak Peranan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BPPKS) sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Penelitian kualitatif ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana BBPPKS terlibat dalam pelatihan tentang HIV/AIDS. Aspek-aspek kajian meliputi profil BBPPKS; penilaian institusi terhadap HIV/AIDS berdasarkan aspek pengetahuan, sikap terhadap ODHA, kebijakan dan keperluan pelatihan HIV/AIDS, serta kurikulum pelatihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial. Dengan menggunakan teknik purposive dan snowball sampling, enam BBPPKS di Indonesia telah dipilih sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan informan mempunyai pemahaman yang baik tentang HIV/AIDS dan sikap yang positif terhadap ODHA.  Terkait dengan kebutuhan latihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial, BBPPKS Jayapura memahami permasalahan HIV/AIDS dan telah menjalankan latihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial dan stakeholder di wilayah kerjanya. Lima  institusi lainnya yaitu BBPPKS Padang, Bandung, Yogyakarta, Makassar dan Banjarmasin belum dapat memahami permasalahan HIV/AIDS dengan baik di wilayah kerjanya. Kelima institusi  ini juga belum mempunyai program latihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial. Kelima BBPPKS juga berpendapat belum ada stakeholder di wilayah kerjanya yang mengusulkan latihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan sudah ada kebutuhan latihan HIV/AIDS. Faktor-faktor lain yang menyebabkan BBPPKS belum mempunyai program latihan, yaitu ketiadaan kurikulum latihan HIV/AIDS untuk pekerja sosial, tidak ada tenaga pengajar yang kompeten melatih HIV/AIDS, dan belum ada keutamaan dalam program latihan HIV/AIDS dari Kementerian Sosial Indonesia.  Kajian ini juga merekomendasikan satu kurikulum latihan HIV/AIDS khusus pekerja sosial untuk diimplementasikan oleh BBPPKS di Indonesia.   
PENINGKATAN PERAN FORUM PEDULI ANAK DISABILITAS DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DISABILITAS DI DESA MEKARSALUYU KABUPATEN BANDUNG B., Natya Luthfiyah
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 1 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.873 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i1.127

Abstract

Aspek peran Forum Peduli Anak Disabilitas (FPAD) adalah status, posisi, dan fasilitasi dalam pemenuhan hak anak disabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan peran, yang mencakup pemahaman dan keterampilan FPAD, dalam pemenuhan hak anak disabilitas, meliputi hak pendidikan, hak rehabilitasi sosial, dan hak bantuan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain action research. Sumber data yang digunakan adalah pengurus dan anggota FPAD dari unsur-unsur masyarakat, serta keluarga dan anak disabilitas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah FGD, wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FPAD sudah memahami statusnya sebagai sistem sumber anak disabilitas, posisi FPAD menjadi organisasi lokal yang independen dalam pembinaan Kepala Desa, dan fasilitas pendukung FPAD meningkat dalam upaya pemenuhan hak anak disabilitas di Desa Mekarsaluyu. Intervensi pada peningkatan peran FPAD cukup efektif dalam memberikan pemahaman dan melatih keterampilan pengurus dan anggota FPAD dalam melakukan pemenuhan hak anak disabilitas. Upaya peningkatan peran tersebut termasuk membangun kerjasama dengan sistem sumber lainnya. Kata kunci : Peran Forum, Pemenuhan Hak, Anak Disabilitas
IMPLEMENTASI TEKNIK TOKEN EKONOMI BERBASIS KELOMPOK PADA PERILAKU PENYALAHGUNAAN INHALAN ANAK JALANAN DI YAYASAN DHARMA INSAN NUSANTARA DAYEUH KOLOT KABUPATEN BANDUNG Suryani, Jesi Dian
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8941.75 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v15i2.85

Abstract

Abstract A Risk that have threaten street children at Insan Dharma Nusantara Foundations is drug abuse and the type of drug is inhalant. Inhalant abuse is seriously endanger to the healthy and safety of children, so that a rehabilitative efforts are needed to deal with inhalant abuse behavior on the street children at Insan Dharma Nusantara Foundation. The purpose of this research is to develop a model intervention to eliminate inhalant abuse behavior on street children at Insan Dharma Nusantara Foundations, by implementing a token techniques group based economy. The involvement of a group of peers increase children's motivation to change the behavior of inhalant abuse, because children get the support from their social circle. This research method is a qualitative approach and using participatory action research methods. Informants in this study are five street children fostered Insan Dharma Nusantara Foundations, they are KH, UJ, YD, BY and DK. Data collection techniques are interviews, observation and documentation. Examination from validity of data use the persistence of observation techniques, triangulation and the adequacy of reference. Data analysis in this research are data reduction, data presentation and conclusion. The results of this study indicate that the application of techniques of group-based token economy are effective in removing inhalant abuse behavior on street children in Insan Dharma Nusantara Foundation. The informants are also able to increase positive behavior, as demonstrated by involvement in working activities skills and exam package, which was organized by Insan Dharma Nusantara Foundation. This implementation is successful because  they get strong support from their neighborhood and their peer. This Techniques are implemented in five phases of activities, they are the preparation of the group, the early stages, the transition stages,working stages and ending phases. Key words: Street Children, Inhalants, Token Economy AbstrakRisiko yang mengancam anak jalanan dampingan Yayasan Dharma Insan Nusantara adalah penyalahgunaan NAPZA dengan jenis inhalan. Kondisi penyalahgunaan inhalan sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan anak, sehingga diperlukan upaya rehabilitatif untuk menangani perilaku penyalahgunaan inhalan pada anak jalanan dampingan Yayasan Dharma Insan Nusantara. Penelitian ini bertujuan melakukan pengembangan model intervensi untuk menghilangkan perilaku penyalahgunaan inhalan pada anak jalanan di Yayasan Dharma Insan Nusantara, dengan mengimplementasikan teknik token ekonomi berbasis kelompok. Keterlibatan kelompok teman sebaya meningkatkan motivasi anak dalam melakukan perubahan perilaku penyalahgunaan inhalan, karena anak memperoleh dukungan dari lingkungan. Metode penelitian yaitu pendekatan kualitatif dengan metode penelitian tindakan partisipatori. Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yaitu KH, UJ, YD, BY dan DK. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data yaitu teknik meningkatkan ketekunan pengamatan, triangulasi dan kecukupan referensi. Analisa data pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik token ekonomi berbasis kelompok efektif dalam menghilangkan perilaku penyalahgunaan inhalan pada anak jalanan di Yayasan Dharma Insan Nusantara. Para informan juga mampu meningkatkan perilaku positif, yang ditunjukkan dengan keterlibatan dalam kegiatan keterampilan menyablon dan ujian paket A yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Insan Nusantara. Keberhasilan implementasi model intervensi pada penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya dukungan kuat dari lingkungan teman sebaya dan adanya pemberian hadiah terhadap perubahan perilaku. Implikasi praktik yaitu model ini dilaksanakan dalam 5 tahapan antara lain tahapan persiapan kelompok, tahapan awal, tahapan transisi, tahapan bekerja dan tahapan pengakhiran.  Kata kunci: Anak Jalanan, Inhalan, Token Ekonomi

Page 9 of 15 | Total Record : 143