cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial
ISSN : 14125153     EISSN : 25028707     DOI : -
Core Subject : Social,
Berbagai hasil penelitian dan kajian model praktik pekerjaan sosial tentang model pelayanan sosial, perlindungan sosial, rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, pengembangan sosial, dan intervensi praktik pekerjaan sosial dapat dipublikasikan melalui jurnal Peksos ini.
Arjuna Subject : -
Articles 143 Documents
IMPLEMENTASI VIDEO MODELING DAN VIDEO SELFMODELING TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL Suwartika, Atrin
Pekerjaan Sosial Vol 13, No 2 (2014): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.749 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v13i2.36

Abstract

AbstractSocial skills are learned behaviors, which is the ability to interact effectively in interpersonal situations in the environment. This research is aimed to analyze the respondents'social skills, the implementation procedures of video modeling and video self-modeling, the implementation of video modeling to social skills respondents to  respond through the appropriate tone of  voice and give appreciation to others, the implementation of video self-modeling to social skills respondents to respond through appropriate tone of voice and appreciation to others and the effectiveness of video modeling and video self-modeling in improving the social skills of the respondents. The method used is an experimental method with a single-subject design model of multiple baseline designs cross variables. Data collection techniques used were observation, interview and documentation study. Furthermore, the results of this research were analyzed by quantitative techniques, using the formula 2 standard deviations. The results showed that the implementation of video modeling and videoself-modeling can improve the social skills of respondents. Implementation of this video-based interventions added reinforcement techniques that can improve the behaviour, ie prompting, positive reinforcement, and fading. Keywords: Video Modeling, Video Self-Modeling, Social Skill, People with Intellectual Disability  Abstrak Keterampilan sosial adalah perilaku-perilaku yang dipelajari, merupakan kemampuan untuk berinteraksi secara efektif pada situasi-situasi interpersonal di dalam lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa keterampilan sosial responden, prosedur implementasi video modeling dan video self-modeling, implementasi video modeling terhadap keterampilan sosial responden untuk memberikan respon melalui intonasi suara yang tepat dan memberikan apresiasi kepada orang lain, implementasi video self-modeling terhadap keterampilan sosial responden untuk memberikan respon melalui intonasi suara yang tepat dan apresiasi kepada orang lain dan efektifitas video modeling dan video self-modeling di dalam meningkatkan keterampilan sosial responden. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan rancangan subjek tunggal (single subject design) model  multiple baseline designs cross variables. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Selanjutnya hasil penelitian ini dianalisis dengan teknik kuantitatif, menggunakan rumus 2 standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi video modeling dan video self-modeling dapat meningkatkan keterampilan sosial responden.Implementasi teknik modeling ini ditambahkan teknik reinforcement yang dapat meningkatkan perilaku, yaitu prompting, positive reinforcement, dan fading. Kata kunci: Video Modeling, Video Self-Modeling, Keterampilan Sosial, Penyandang Disabilitas Intelektual
PENGUATAN KAPASITAS FORUM KOMUNIKASI WARGA DALAM PENANGANAN KONFLIK SOSIAL DI KABUPATEN BANDUNG Harsanto, Joko
Pekerjaan Sosial Vol 16, No 2 (2017): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.059 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v16i2.115

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model penguatan kapasitas forum komunikasi warga RW 04 dalam penanganan konflik sosial. Penelitian ini juga membuktikan bahwa penyebab konflik sosial di RW 04 Desa Ciburial dengan pihak kafe Erginn sesuai dengan teori hubungan masyarakat yang berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan diantara kelompok yang berbeda-beda dalam suatu masyarakat. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dan jenis penelitiannya tindakan. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara, observasi  partisipatif,  diskusi kelompok terfokus, studi dokumentasi, ToP (Technology of Participation), penilaian kapasitas (PEKA) organisasi. Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pelatihan pembuatan rencana kerja organisasi: pelatihan manejemen dan administrasi, pelatihan manajemen konflik dan advokasi sosial, dan pelatihan membangun jejaring kerja dalam penanganan konflik sosial. Hasil intervensi ini terbukti dapat menguatkan kapasitas forum komunikasi warga RW 04 dalam membuat rencana program, manejemen dan administrasi, membangun jejaring kerja dengan lembaga penanganan konflik sosial serta manejemen konflik dan advokasi sosial. Kata kunci: forum komunikasi warga, penanganan konflik sosial, penguatan kapasitas
STRATEGI BERTAHAN HIDUP KOMUNITAS MISKIN DI KAMPUNG KRAMAT SENEN JAKARTA PUSAT Rustanto, Bambang
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 1 (2016): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v15i1.64

Abstract

Abstract The background of this research is the fact of life of poor communities in urban areas should be supported by the carrying capacity of the environment. The Population density and settlements can reduce the ability of the environment to grow well. To maintain the life of poor communities required maintenance of village environment. Socio-liabilities community is measured by peace and social cohesion of the daily life of its citizens.This research uses qualitative research methods with fenomologis study models to see specific picture of social change in poor communities in urban areas. While the data collection tools by using in depth interviews with the support of participant observation and documentation study. Informants involved, among others, the local organization committee, local government officials such as RT/RW, as well as community leaders and other supporters informants from poor communities themselves.The results of this research found that differences in ethnic and regional origins does not cause difficulty in tolerating but trouble occurs in the event of differences of religion and belief. The social life of the community can be distracted and not run stable if one member or several people perform actions that asocial with troublemakers in the village. This is due to social phobia in the community from one group to another group. The conclusion of this research that there is the role of leaders and informal leaders or formal leaders as controlling social life of its citizens, has a duty to maintain social harmony or Latent Maintenance of this, so that the community was able to sustain life even in conditions of poverty and live in slums. Key words: poor communities, urban poverty and social workAbstrakLatar belakang penelitian ini adalah kehidupan komunitas miskin perkotaan yang harus ditunjang dengan daya dukung lingkungan hidupnya. Kepadatan pendudukan dan permukiman dapat menurunkan kemampuan lingkungan hidup untuk berkembang secara baik. Untuk mempertahankan hidup komunitas miskin diperlukan pemeliharaan lingkungan kampungnya. Sosialiabilitas komunitas diukur oleh kedamaian dan kerukunan sosial dari kehidupan sehari-hari warganya.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologis untuk melihat secara khusus gambaran perubahan sosial pada komunitas miskin di perkotaan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan didukung oleh obeservasi partisipasi dan studi dokumentasi sedangkan informan terdiri dari warga setempat, tokoh masyarakat, pengurus RT/RW dan pengurus organisasi sosial lainnya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perbedaan suku dan asal daerah tidak menimbulkan kesulitan dalam bertoleransi tetapi kesulitan terjadi apabila terjadi perbedaan agama dan keyakinan. Kehidupan sosial komunitas dapat terganggu dan tidak berjalan stabil apabila salah satu anggota atau beberapa orang melakukan tindakan yang asosial dengan membuat keornaran dalam kampung. Hal ini disebabkan adanya social phobia dalam komunitas dari golongan satu terhadap golongan lainnnya.Kesimpulannya disini peran para tokoh dan pemimpin informal maupun formal selaku pengendali kehidupan sosial warganya, mempunyai tugas untuk menjaga kerukunan sosial atau laten maintanance ini, sehingga komunitas  itu mampu mempertahankan kehidupannya meskipun dalam kondisi kemiskinan dan tinggal di daerah kumuh.Kata kunci: komunitas miskin, kemiskinan kota dan Pekerjaan Sosial
PENGUATAN PERAN ADVOKASI DAN INFORMASI PENDIDIKAN ANAK BAGI KOMITE PENDIDIKAN MASYARAKAT KELURAHAN KEBON JAYANTI KECAMATAN KIARACONDONG KOTA BANDUNG STKS, Hendrianto
Pekerjaan Sosial Vol 12, No 2 (2013): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.356 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v12i2.27

Abstract

Abstract The emergence of various social problems of children, such as street children, child trafficking, until the child exploitation and sexual economy, mostly due to non-fulfillment of basic rights and needs of children, one of them is the right to education. This research aims to develop a model of prevention and intervention of school drop-outs in the Kelurahan Kebon Jayanti. The research method used a qualitative research method with participatory action research. The results showed that the application of the early models still need to be developed, particularly in strengthening the internal base (knowledge and skills) and external basis (strengthen relations and external support). Identification results in the need for strengthening the role of advocacy and information KPM  for child education, demonstrates the need for improved understanding of the role of caretaker and child education advocacy advocacy action. An reflection of the implementation of the activities showed an increase in the understanding of the role of advocacy KPM board and be able to realize the role well, as did the lobby to the foundation IABRI, socialization activities and campaigns, cooperation with mass media and parliament hearing with the city of Bandung. Keywords: strengthening the role, advocacy and information, community education committee Abstrak Munculnya berbagai permasalahan sosial anak, seperti anak jalanan, perdagangan (trafficking) anak, hingga eksploitasi anak secara ekonomi dan seksual, banyak disebabkan karena tidak terpenuhinya hak dan kebutuhan dasar anak, salah satunya hak untuk memperoleh pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pencegahan dan penanganan anak putus sekolah di Kelurahan Kebon Jayanti. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan partisipatif (participatory action research).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model awal masih perlu dikembangkan, terutama dalam memperkuat basis internal (pengetahuan dan keterampilan) serta basis eksternal (memperkuat hubungan dan dukungan pihak luar). Hasil identifikasi kebutuhan penguatan peran KPM menunjukkan perlunya peningkatan pemahaman pengurus tentang peran advokasi dan informasi pendidikan anak serta melakukan aksi advokasi dan informasi tersebut. Refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengurus KPM terhadap peran advokasi dan mampu merealisasikan peran tersebut dengan baik, seperti melakukan lobby ke yayasan IABRI, sosialisasi kegiatan dan kampanye, kerjasama dengan media massa serta hearing dengan DPRD Kota Bandung. Kata kunci: penguatan peran, advokasi dan informasi, komite pendidikan masyarakat  
PERUBAHAN PERILAKU ANAK JALANAN DALAM MELAKUKAN AKTIVITAS MENDAPATKAN PENGHASILAN DAN IMPLIKASINYA BAGI KEBIJAKAN PERLINDUNGAN ANAK DI KOTA BANDUNG STKS, Suharma
Pekerjaan Sosial Vol 14, No 2 (2015): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.674 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v14i2.50

Abstract

Abstract One social problem which is faced by Bandung Local Government is street children. Various programs and policies have been made in handling street children in Bandung City. But until now the numbers are still much even tend to grow. This research is aimed to gain an understanding about street children behavior change in earning activities, and the implications on policy for the protection of street children. The research design uses quantitative and qualitative descriptive with street children involving 70 respondents. The data collection technique conducted through observation participation and structured interview. There are six changes in behavior done by street children in earning activities, namely; (1) when the street children aged less than 3 years; (2) when the street children aged 3-5 years; (3) when the street children aged 6-8 years; (4) when the street children aged 9-12 years; (5) when the street children aged 13-15 years; (6) when the street children aged 16-18 years. The most dominant factors causing the change of behavior on street children in an activity is reduced income earning of street children. The child social protection policy through strengthening the function and role of the family is the right solution in the treatment of street children. The Family strengthening Strategies can be done through; (1) the provision of assistance to address the most basic needs of the child; (2) the strategy of families economic strengthening through skills training or assistance or mentoring a stimulant and business development; (3) counseling and family consultation; (4) family education, including modeling role plays, discussions or interactive dialogue, training, and counseling; (5) advocating that families receive needed services; and (6) the development and mentoring. Keywords: behavior change, street children, child protection Abstrak Satu masalah sosial yang dihadapi Pemda Kota Bandung adalah anak jalanan. Berbagai program dan kebijakan telah dilakukan dalam penanganan anak jalanan di Kota Bandung. Namun hingga saat ini jumlahnya masih banyak bahkan cenderung bertambah. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan pemahaman tentang perubahan perilaku anak jalanan dalam melakukan aktivitas mendapatkan penghasilan, dan implikasinya bagi kebijakan perlindungan anak jalanan. Desain penelitian menggunakan dekriptif kuantitatif dan kualitatif dengan melibatkan 70 responden anak jalanan. Teknik pengumpulan data melalui partisipasi observasi dan wawancara terstruktur. Terdapat enam perubahan perilaku yang dilakukan anak jalanan dalam aktivitasnya mendapatkan penghasilan, yaitu; (1) ketika anak jalanan berusia kurang dari 3 tahun; (2) ketika anak jalanan berusia 3  – 5 tahun; (3) ketika anak jalanan berusia 6 – 8 tahun; (4) ketika anak jalanan berusia 9 – 12 tahun; (5) ketika anak jalanan berusia 13 – 15 tahun; (6) ketika anak jalanan berusia 16 – 18 tahun. Faktor penyebab paling dominan terjadinya perubahan perilaku pada anak jalanan dalam melakukan aktivitas mendapatkan penghasilan adalah berkurangnya penghasilan anak jalanan. Kebijakan perlindungan sosial anak melalui penguatan fungsi dan peran keluarga merupakan solusi tepat dalam penanganan anak jalanan. Strategi penguatan keluarga dapat dilakukan melalui; (1) pemberian bantuan untuk mengatasi kebutuhan anak yang paling mendasar; (2) strategi penguatan ekonomi keluarga melalui latihan keterampilan atau bantuan stimulan dan atau pendampingan pengembangan usaha; (3) konseling dan konsultasi keluarga; (4) pendidikan keluarga, antara lain dengan modeling role plays, diskusi atau dialog interaktif, pelatihan, dan pennyuluhan; (5) advokasi agar keluarga mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan; dan (6) pengembangan dan pendampingan. Kata kunci: perubahan perilaku, anak jalanan, perlindungan anak
PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL MELALUI RUMAH SOSIAL AMANAH DI KELURAHAN MUARASANDING KECAMATAN GARUT KOTA KABUPATEN GARUT Kuswanda, Dede; Sundayani, Yana Sundayani
Pekerjaan Sosial Vol 12, No 1 (2013): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.93 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v12i1.18

Abstract

Abstract Rumah Sosial Amanah is a social welfare service institution that based on community. Rumah Sosial Amanah established by the Decree of Muarasanding Village Head, Sub-district of Garut City dated December 9, 2011. Research on social welfare service through Rumah Sosial Amanah aims to gain an overview of social welfare services through Rumah Sosial Amanah. Social welfare service is a directed, integrated and sustainable effort to overcome social problems and to meet the needs of social welfare problem as a program that directly linked to the social welfare. The method which used in this research is the participatory action method. Data sources of research are: (1) Rumah Sosial Amanah administrator, (2) Rumah Sosial Amanah field-worker, (3) the village chief/village officials. Data collection techniques using in-depth interview technique, focus group discussions and documentation study. 18 informants were determined by using purposive sampling technique. The research result showed that the activities have been carried out by Rumah Sosial Amanah are socializing program, social problem attribute identification, framing program, determining field-worker and preparing plans  and submitting proposal. Rumah Sosial  Amanah has barriers that related to the institution, human resources, infrastructure facilities and the ability to access programs and budgets. The action taken is to increase the capacity of field-worker and administrator of Rumah Sosial Amanah in accessing programs and budgets for social welfare services. The Recommendation for increasing the social welfare services of Rumah Sosial Amanah is developing the institution, human resources and procurement of infrastructure. Keywords: services, social welfare, social house Abstrak Rumah Sosial Amanah merupakan lembaga pelayanan kesejahteraan sosial berbasis komunitas. Rumah Sosial Amanah ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Kelurahan Muarasanding Kecamatan Garut Kota Nomor: 467.2/06- Kel/2011 tanggal 9 Desember 2011. Penelitian tentang pelayanan kesejahteraan sosial melalui Rumah Sosial Amanah bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pelayanan kesejahteraan sosial melalui Rumah Sosial Amanah. Pelayanan kesejahteraan sosial merupakan suatu  upaya yang terarah, terpadu dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan sosial dan memenuhi kebutuhan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebagai suatu program yang dihubungkan langsung dengan kesejahteraan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan partisipatif. Sumber data penelitian adalah: (1) pengurus Rumah Sosial Amanah, (2) pendamping Rumah Sosial Amanah, (3) Kepala Desa/ aparat desa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, dan studi dokumentasi. Penetapan informan sebanyak 18 orang menggunakan teknik  purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Rumah Sosial Amanah adalah sosialisasi program, identifikasi PMKS, penyusunan program, penentuan pendamping, dan rencana penyusunan serta pengajuan proposal.  Rumah Sosial mengalami hambatan yang berkaitan dengan kelembagaan, sumber daya manusia, prasarana sarana serta kemampuan dalam mengakses program dan anggaran. Tindakan yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas pendamping dan pengurus Rumah Sosial Amanah dalam mengakses program dan anggaran untuk pelayanan kesejahteraan sosial. Saran untuk meningkatkan pelayanan kesejahteraan sosial Rumah Sosial Amanah adalah pengembangan kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia dan pengadaan prasarana sarana. Kata kunci: pelayanan, kesejahteraan sosial, rumah sosial 
PENGEMBANGAN JARINGAN PADA PROGRAM EQUAL EMPLOYMENT OPPORTUNITIES FOR DISABLED IN HOSPITALITY INDUSTRY DI SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG (STPB ., Sepriyandi
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 2 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.245 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i2.147

Abstract

Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk menyempurnakan program intervensi awal yaitu Pengembangan Kegiatan Pelatihan dan Pemagangan Bagi Penyandang Disabilitas Pada Program Equal Employment Opportunities For Disabled People In Hospitality Industry di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, jenis penelitian Participatory Action Research (PAR). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas, uji konfirmabilitas, uji transferabilitas, dan uji dependabilitas. Penelitian ini didasarkan pada terjadinya beberapa permasalahan pada program. Hasil asesmen menunjukkan bahwa : 1) belum adanya kesepakatan bersama dalam koordinasi antara STPB dengan berbagai industri dalam kegiatan pemagangan peserta disabilitas, dan 2) belum adanya kesempatan industri untuk memberikan penilaian kebutuhan mereka terhadap penyandang disabilitas yang akan dimagangkan. Berdasarkan kondisi diatas, maka dirancanglah program yaitu pengembangan jaringan. Program tersebut dielaborasi dalam beberapa kegiatan antara lain : 1) Penyusunan perjanjian kerjasama tentang perlindungan bagi penyandang disabilitas yang menjadi sasaran program Equal Employment Opportunities For Disabled People In Hospitality Industry. 2) Pengembangan Jaringan antara STPB dengan HHRMA Bandung. 3) Supervisi pengembangan jaringan dalam kegiatan pelatihan dan pemagangan tahun 2016. Hasil evaluasi akhir dalam keberhasilan pelaksanaan program, dirasakan oleh STPB dengan meningkatnya jumlah industri yang ingin bekerjasama dengan STPB dalam memberikan job training atau magang kerja kepada penyandang disabilitas, dan terbatasnya waktu untuk melegitimasikan/mengesahkan lembar perjanjian kerjasama antara STPB dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, menyadarkan STPB harus melakukan koordinasi lebih intensif lagi dengan instansi tersebut.  Kata kunci : Jaringan, Program disabilitas STPB, Industri.
PERILAKU BERISIKO TINGGI TERTULAR HIV DAN AIDS DI KALANGAN SUPIR TRUK ANTAR KOTA ANTAR PROVINSI Hakim, Moch. Zaenal; R.A, Rini Hartini; Favourita, Lina; Sutisna, Nono
Pekerjaan Sosial Vol 11, No 2 (2012): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.109 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v11i2.10

Abstract

AbstractHIV/AIDS case in Indonesia more increase by the year, in quality nor quantity. Until 2010, identificated 24.131 people living with HIV/AIDS (PLWHA) from many groups includes high risk infected HIV group. As one of high risk man group, truckers is very susceptible infection by HIV/AIDS. The high risk behaviour in truckers and their knowledges about sexual infection disease and HIV/AIDS are still low bring them pass to suspectible and already infected HIV. This conditions are very felt concerned, because if truckers has been infected by HIV, they are big potentially spreading to the other society group by high riskman or not. Truckers are the the main bridge of spreading of HIV/AIDS between prostitutes and society. This qualitative research purpose to know high risk behaviour to infected HIV/AIDS in truckers group in North Coast Area, Subang, West Java. Aspects which is tested including data about characteristic of truck driver, to know the comprehension of truck driver about understanding, transmission, symptom, prevention and care for HIV/AIDS, to know How truck drivers activities in the time rest at northen coast Subang, and providing recommendation for prevention program of HIV/AIDS among truck driver and their environment. Using purposive sampling tehnique, five informants are choosen as primary data resources with two addition informants as secondary data resources for interviewed.The results are showing that the the knowledge about HIV/AIDS of the five informants are low. High risk behaviour to infected HIV in truckers is having sex with women prostitutes by static spouse or changing spouse, did not using condom, having sex with girl friend, having sex in vaginal or oral. The factors that causing high risk sexual behaviour in truckers are pretention, need, and propensity to do something (internal) dan environment factor (external) such as friend influence, and the existing of rest area and prostitution place in the North Coast Strip, Subang, West Java. The Research are recomendating the importance of trucker to change their knowledge, strengthening  their comprehension and perception about HIV/AIDS problem by formatting educational group, and strengthening the environment factors that possible to make positive behaviour changing in truckers. Keywords: PLWHA, high risk man, truckers, educational group, positivebehaviour change AbstrakKasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat setiap tahun, baik kualitas maupun kuantitas. Sampai dengan tahun 2010 telah ditemui 24.131 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dari berbagai kelompok termasuk kelompok berisiko tinggi tertular HIV. Sebagai salah satu kelompok lelaki berisiko tinggi, supir truk sangat rentan tertular HIV/AIDS. Praktek perilaku berisiko tinggi di kalangan supir truk ditambah dengan kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, menjadikan mereka rentan dan sudah tertular virus HIV. Keadaan ini sangat mengkhawatirkan, karena ketika supir truk telah tertular virus HIV, mereka berpotensi besar untuk menularkannya kepada kelompok masyarakat lainnya baik yang berisiko tinggi maupun tidak. Supir truk merupakan jembatan utama penularan HIV/AIDS antara wanita pekerja seks dengan masyarakat umum. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui perilaku berisiko tinggi tertular HIV/AIDS di kalangan supir truk di kawasan pantai utara Subang Jawa Barat. Aspek yang diteliti adalah karakteristik supir truk; pemahaman supir truk tentang HIV/AIDS dari aspek pengertian, penularan dan gejala-gejala, ujian antibodi, serta pencegahan dan perawatan HIV/AIDS; dan perilaku supir truk dalam memanfaatkan waktu luang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya; serta rekomendasi pelayanan yang diperlukan supir truk untuk menangani HIV dan AIDS.  Dengan menggunakan tehnik purposive sampling, lima informan telah dipilih sebagai sumber data primer ditambah dengan dua informan tambahan sebagai sumber data sekunder, untuk diwawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima informan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang sangat kurang tentang HIV/AIDS. Perilaku berisiko tinggi tertular HIV informan adalah berhubungan seks dengan Wanita Tuna Susila (WTS) baik pasangan tetap maupun berganti-ganti, tidak menggunakan kondom, berhubungan seks dengan pacar, melakukan hubungan seks secara vaginal dan oral. Faktor internal perilaku seksual berisiko tinggi, yaitu keinginan, kebutuhan dan hasrat untuk melakukan sesuatu, dan faktor lingkungan (eksternal) adalah pengaruh teman, dan tempat istirahat atau lokasi prostitusi di sepanjang pantai utara Subang Jawa Barat. Penelitian merekomendasikan perlunya memperkuat perubahan pengetahuan, pemahaman dan persepsi para supir truk terhadap masalah HIV/AIDS melalui pembentukan educational group, serta memperkuat faktor lingkungan yang dapat membawa perubahan perilaku secara positif di kalangan supir truk.  Katakunci: ODHA, lelaki berisiko tinggi, supir truk, kelompok pendidikan, pengubahan perilaku positif
POLA DAN STRATEGI PENGASUHAN ANAK OLEH PEKERJA MIGRAN MIGRAN DI KOTA BANDUNG Riasih, Teta
Pekerjaan Sosial Vol 17, No 1 (2018): Peksos
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.212 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v17i1.132

Abstract

Persoalan perawatan, pemeliharaan, dan pengasuhan anak pada keluarga migran perempuan menjadi sangat krusial, karena dengan bekerjanya ibu, maka di dalam tanggung jawabnya terhadap keluarga ada waktu yang seharusnya mengasuh dan membimbing anak terpaksa tidak dapat melaksanakannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada ibu yang bekerja dengan sendirinya menciptakan keadaan ekonomi keluarga yang lebih baik. Namun perubahan peran perempuan sebagai ibu dan pencari nafkah juga mengkibatkan pengaruh tertentu dalam pengasuhan terhadap  anak.       Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengasuhan anak pada keluarga pekerja migran  di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan metode deskriptif kepada dua  orang  pekerja migran perempuan  yang bermukim di Kelurahan Cipamokolan Kecamatan Rancasari Bandung.Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Persoalan perawatan, pemeliharaan, dan pengasuhan anak pada keluarga migran perempuan di kelurahan Cipamokolan  menjadi sangat krusial, karena dengan bekerjanya ibu selama 8 sampai 12 jam sehari, maka di dalam tanggung jawabnya terhadap keluarga ada waktu yang seharusnya mengasuh dan membimbing anak terpaksa tidak dapat melaksanakannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada ibu yang bekerja dengan sendirinya menciptakan keadaan ekonomi keluarga yang lebih baik. Namun perubahan peran perempuan sebagai ibu dan pencari nafkah juga mengkibatkan pengaruh tertentu dalam pengasuhan terhadap  anak.        Keterbatasan kemampuan para buruh  menyebabkan mereka mengalami keterbatasan dalam pengasuhan anak, dengan perawatan dan pengasuhan seadanya sementara di kota tempat bekerja tidak ada sanak saudara dan kerabat yang dapat membantu dalam mengasuh anak menjadi persoalan tersendiri. Kondisi tersebut apabila tidak ditangani secara serius pada gilirannya akan mengancam pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik, intelektual maupun sosialnya. Kata kunci: Anak, Pengasuhan anak, Pekerja migran .
MODEL PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG KAPASITAS PENGURUS RUMAH RAMAH ANAK DALAM PENANGANAN KENAKALAN REMAJA DI KOTA BANDUNG Chariroh, Elliya
Pekerjaan Sosial Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v15i2.90

Abstract

AbstractThe purpose of the research prove about Handling Model Delinquency in RW 19 SadangSerang Village Coblong Sub-district Bandung. The method used is a qualitative method, with Design Action Research. While the data obtained through documentation study, direct observation, in-depth interviews, focus group discussions (FGD). Data validity check conducted through the extension study, an increase in persistence, triangulation, and examination of peers. The beginning situation of caretaker in Rumah Ramah Anak consist the teenager, parent and society figure shows that there is still a need to increase the capacity of the board to sustain handling juvenile delinquency. The needs assessment showed that the board needs in the aspect of knowledge and information. The Program making conducted participatory which is focused on strengthening the capacity of the board on the aspect of knowledge and information. The activities ofimplementation isdoneby supporting a caretaker capacity building in the aspect of knowledge is doneusing several activities to relate with the causes and effects of juvenile delinquency and effort that could be done by the board to deal with the problem of juveniledelinquency. Increasing the capacity of the information board is done through activities that can encourage Rumah Ramah Anak caretaker to be able to access and utilize information technology and connected to the internet.Key words: Caretaker, Capacity Building, Knowledge and Information AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang Model Penanganan Kenakalan Remaja di RW 19 Kelurahan Sadang Serang Kecamatan Coblong Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan Desain Action Research. Data diperoleh melalui studi dokumentasi, observasi langsung, wawancara mendalam, diskusi terfokus (FGD). Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan penelitian, peningkatan ketekunan, triangulasi, dan pemeriksaan teman sejawat. Situasi awal pengurus Rumah Ramah Anak yang terdiri dari remaja, orangtua dan tokoh masyarakatmenunjukkan bahwa masih ada kebutuhan untuk peningkatan kapasitas pengurus untuk keberlanjutan penanganan kenakalan remaja. Hasil analisa kebutuhan menunjukkan bahwa kebutuhan pengurus pada aspek pengetahuan dan informasi dengan penyusunan program kegiatan dilakukan secara partisipatif. Implementasi kegiatan dilakukan dengan mendorong penguatan kapasitas pengurus pada aspek pengetahuan, dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang berkaitan dengan penyebab dan dampak dari kenakalan remaja dan usaha yang bisa dilakukan oleh pengurus untuk menangani permasalahan kenakalan remaja. Peningkatan kapasitas informasi pengurus dilakukan melalui kegiatan yang mampu mendorong pengurus Rumah Ramah Anak untuk dapat mengakses dan memanfaatkan informasi dan teknologi yang terhubung dengan internet. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pengurus Rumah Ramah Anak pada aspek pengetahuan dan informasi mampu mencegah terjadinya kenakalan remaja. Peningkatan  pada pengetahuan dan informasi juga mendorong peningkatan pada jaringan yang dimiliki oleh pengurus.Kata kunci: Pengurus, Peningkatan Kapasitas, Pengetahuan dan Informasi

Page 10 of 15 | Total Record : 143