cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
ISSN : 08539030     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Art,
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Arjuna Subject : -
Articles 137 Documents
EFEK ERUPSI SUPER TOBA ~ 73 RIBU TAHUN YANG LALU TERHADAP LINGKUNGAN BERDASARKAN BUKTI TEPRA; SUMBER DARI TERBITAN JURNAL INTERNASIONAL Octavianus Sofian, Harry
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.16

Abstract

Erupsi super Toba di Sumatera Utara terjadi ~ 73 ribu tahun yang lalu. Letusan ini tercatat merupakan salah satu letusan terbesar pada periode Pleistosen. Letusan yang terjadi telah mempengaruhi perubahan iklim dan lingkungan di dunia pada saat itu. Tulisan ini memaparkan erupsi super Toba berdasarkan bukti-bukti keberadaan tepra yang menjadi penanda kronologi.
Back Cover Siddhayatra Vol. 20 (2) November 2015 Siddhayatra, Jurnal
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.88

Abstract

SUNTINGAN TEKS DAN ANALISIS ISI TEKS PADA NASKAH ULU SUMATERA SELATAN DALAM KOLEKSI PETI PNRI NO 91/3+ Ramadhona, Nuzulur
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.149

Abstract

Sumatera Selatan telah mengenal tradisi tulis mulai dari Abad VII hingga saat ini dengan ditemukannya artefak beraksara Sanskerta, Arab Melayu, ulu, Jawa, dan Latin. Naskah Ulu merupakan naskah yang banyak berkembang dan tersebar di daerah perdalaman Sumatera Selatan. Naskah Peti 91/3+ merupakan salah satu naskah koleksi PNRI beraksara Ulu dan berdialek Melayu daerah Sumatera Selatan. Masalah penelitian ini yaitu bagaimana Suntingan dan analisis isi naskah Peti No. 91/3+ tersebut. Tujuan penelitian untuk menyunting dan mengetahui isi naskah tersebut. Metode filologi yang digunakan dalam penelitian ini yang menyajikan edisi teks dengan menggambarkan fisik naskah yang akan diteliti. Naskah Peti No.91/3+ berbahan bambu berwarna coklat masih dalam keadaan utuh.Naskah Peti No.91/3+ menceritakan tentang sebuah perjalanan seorang pelaut dan hukum suatu perkara. Naskah ini ditulisan oleh penulis naskah sekitar akhir abad ke 15 atau awal abad ke 16.
ARKEOLOGI DAN TANTANGANNYA PADA MASA KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI Sarjiyanto, Sarjiyanto
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.63

Abstract

Naskah Dalam masa kemajuan teknologi informasi, arkeologi memiliki tantangan yang cukup berat. Dalam satu sisi kemanjuan teknologi informasi dapat mengikis kelestarian budaya, namun disisi lain, teknologi informasi dapat dijadikan wahana mengembangkan budaya untuk tujuan yang positif. Melalui metode kualitatif deskriptif, persoalan yang terkait dengan budaya dan teknologi informasi dibahas untuk mencapai tujuan. Tujuannya memberikan perspektif tentang peran dan sikap yang harus dilakukan oleh penanggung jawab arkeologi, agar warisan budaya tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara positif sesuai zamannya. Hasilnya yang diperoleh berupa perntaaan dan upaya-upaya tentang peran dan sikap yang harus dilakukan arkeologi dalam dalam menjaga kelestarian budaya sesuai perkembangan zaman, agar dapat memperlihatkan bentuk identitas budaya dan berguna membangkitkan rasa kebangsaan.
TULISAN ARAB: PEMBINA TAMADUN ISLAM DI NUSANTARA Cho, Taeyoung
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.136

Abstract

This paper describes the role of Arabic script on a view of establishing Islamic civilizationin Indonesian archipelago. Arabic script, apart from a tool for writing, its characteristicis so intensive to symbolize Islamic civilization. The arrival of Islamic civilization intothe archipelago has not only spread the religion, but also influenced the change of socialsystem in which Arabic script wrote the various spheres of Islamic civilization and transferredthem into the local communities. The appearance of variant graphemes into the Arabic-based local scripts (Jawi, Pgon, Srang, and Buri Wolio) is a result from the modificationof Arabic script to the local languages for transmitting the elements of Islamic civilizationto the contexts of local communities. In other words, Arabic script shifted Indonesianarchipelago from the age of Jahiliah to the age of Islamic civilization.
PENELITIAN ASPEK MEGALITIK PADA BATU MEJA DI SITUS DESA WAEYASEL, KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT PROVINSI MALUKU Surbakti, Karyamantha
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.21

Abstract

Batu meja dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai media pemujaan ataupun altar persembahan. Batu ini hingga sekarang masih terletak insitu di Desa Waeyasel. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai upaya dalam melihat tinggalan batu meja yang penggunaannya masih menunjukkan tradisi megalitik yaitu pemujaan roh leluhur. Penelitian ini menggunakan tiga cara dalam pengumpulan data yaitu, survei, observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah pengunaan beberapa sajian di batu meja seperti rokok, makanan dan uang logam dijadikan media sesembahan untuk ritual tertentu oleh masyarakat hingga dewasa ini. Kesimpulan penelitian adalah adanya faktor keselarasan penduduk dengan roh leluhur menyebabkan ritual ini masih terus berlangsung dalam masyarakat setempat.
Manfaat Sumber Daya Arkeologi di Situs Lesung Batu Siregar, Sondang Martini; Putri, Zelin Nofena
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.98

Abstract

Sumber daya arkeologi adalah semua bentuk fisik atau sisa budaya yang ditinggalkan oleh manusia masa lampau pada bentang alam tertentu yang berguna untuk menggambarkan dan menjelaskan proses perubahan budaya. Situs Lesung Batu yang terletak di Kabupaten Musi Rawas Utara merupakan salah satu situs arkeologi yang memiliki potensi sumber daya arkeologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan data yang ada di Situs Lesung Batu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif interpretatif. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui sumber daya arkeologi di situs Lesung Batu adalah pondasi candi, struktur batu tuf, fragmen wadah keramik dan tembikar dan arca yoni. Sedangkan manfaat dari sumber daya arkeologi di situs Lesung Batu adalah untuk kepentingan akademis, ideologi dan praktis.Kata kunci: sumber, daya, arkeologi, manfaat, kepentingan
PEMANFAATAN WARISAN KEDATUAN SRIWIJAYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN Susanti, Retno
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.154

Abstract

Sriwijaya Kadatuan founded by Dapunta Hiyang Sri Janayasa in 682 had been widely developed and later became as one the famous maritime kingdom in the history. Most of the people lived from sailing and trading. This fact was closely related to the availability of ample natural resources they used for trading commodities. Sumatra had been a well- known place for trading goods based on forest and mining products, as well as other natural resources. Having these wealthy commodities, many foreigners from overseas countries such as Arab, Persian, Indian, and Chinese, had been deliberately come to visit Sriwijaya for trading. The existence of Sriwijaya in Sumatera along with its rich natural resources and its vital position in regional trading had triggered the place turn out into the prominent kingdom. During 8-12 century, this kedatuan had controlled over Melaka strait; a main sailing and trading channels during the period. Moreover, Kadatuan Sriwijaya presumably had taken control over the western sea of archipelago. Although the existence of Sriwijaya have been widely known, in actual fact, most of the people have not yet well informed about its preeminence in the past. This is because a number of valuable information still tied up. The similar circumstances in educational setting, inadequate information about Sriwijaya have an effect on the childrens understanding and perception on glorious and great values of our nation in the past. Even if there were some accessible information, but they were only scrappy and extraneous historiographies. As the consequences, a number of important aspects for the historical information have faded away that brought about barriers to the children in appreciating the historical inheritances from the past. Considering the important of recognizing the historical inheritances for our national living, there should be an adequate knowledge and understanding on the historical inheritance to be passed on to children since the early beginning. So, the utilization of historical inheritance as the learning resources in education becomes a need and a necessity. Therefore, the process for digging great values from the past prominent could be used in more appropriate and meaningful for the purpose of nowadays and future needs.
Seni Lukis dan Seni Gores Pada Megalitik Pasemah, Provinsi Sumatera Selatan Indriastuti, Kristantina
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.84

Abstract

Pada masyarakat prasejarah seni dianggap sebagai ungkapan religi mereka tehadap kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan alam sekitar, begitu pula dengan manusia prasejarah yang hidup menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sebagai ungkapan akan kehidupan mereka yang lebih baik, maka mereka mengungkapkannya dalam bentuk karya lukis yang menggambarkan berbagai bentuk dan corak. Keberadaan karya lukis prasejarah di Pasemah mempunyai makna tertentu yang berafiliasi dalam kehidupan relegi-magis mereka. permasalahan yang timbul terhadap karya seni prasejarah yang diciptakan parapesohor seni saat itu yakni apakah makna pola hias motif manusia, binatang, flora dan motif geometris yang menjadi obyek lukisan prasejarah di beberapa situs megalitik di dataran tinggi Pasemah, provinsi, Sumatera Selatan. Setelah melalui pengkajian pada beberapa situs maka dapat disimpulkan sementara bahwa adanya seni lukis dan seni gores pada dinding batu di Pasemah tampaknya merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan pendukungnya. Mereka percaya akan adanya arwah nenek moyang sebagaikekuatan gaib yang dapat melindungi kehidupan manusia di dunia. Bukan tidak mungkin bahwa goresan-goresan berupa manusia-manusia kecil yang ada di situs Tegurwangi dan di situs Jarakan itu dimaksudkan sebagai penambah kekuatan gaib dan digunakan sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesuburan, keamanan, kesehatan dan lain-lain
GEOARKEOLOGI CEKUNGAN SOA, FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR Intan, Fadhlan Syuaib
Siddhayatra Vol 23, No 1 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i1.111

Abstract

Cekungan Soa yang termasuk wilayah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo terletak di Pulau Flores, banyak menyimpan tinggalan budaya yang antara lain berasal dari masa Paleolitik, yang selama ini belum terlalu diperhatikan oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang mencakup kondisi geologi secara umum. Adapun maksud penelitian ini adalah melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya menyajikan informasi geologi terkait dengan situs arkeologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi di situs-situs arkeologi. Metode penelitian dilakukan melalui kajian pustaka, survei, analisis data lapangan dan interpretasi. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang bentang alam daerah penelitian yang terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah. Sungainya berpola aliran centripetal, berstadia Sungai Dewasa-Tua, sungai tua, Sungai Periodik/Permanen, dan Sungai Episodik/Intermittent. Batuan penyusun adalah breksi vulkanik, tufa, konglomerat, dan endapan aluvial. Struktur geologi berupa patahan dari jenis patahan normal. Eksplorasi di Cekungan Soa telah mendata 12 situs paleolitik. Dari klasifikasi petrologi, alat-alat litik terbuat dari batuan jasper, chert, andesit, dan basal. Batuan sebagai bahan baku alat litik, banyak ditemukan di Cekungan Soa dan sekitarnya, baik dalam bentuk singkapan maupun boulder.Kata kunci: geologi, plistosen, paleolitik, situs terbuka, bahan alat litikSoa Basin, which belongs to Ngada Regency and Nagekeo Regency, is located on Flores Island, with many cultural stays, among others, from the Paleolithic period, which has not been too concerned by environmental researchers, especially geoarkeology. This is the issue that covers general geological conditions. The purpose of this research is to mapping the surface geology in general as an effort to present geological information related to archeological site. The aim is to know the geomorphological, stratigraphic aspects of the archaeological sites. The research method is done through literature review, survey, field data analysis and interpretation. Environmental observations provide information on the landscape of the study area consisting of terrestrial morphology units, and weak wavy morphology units. The river is centripetal flow pattern, with the old river, mature-old river, periodic/permanent river, and episodik /intermittent river. Constituent rocks are volcanic breccias, tuffs, conglomerates, and alluvial deposits. The geological structure is a fracture of the normal fault type. Exploration in the Soa Basin has listed 12 paleolithic sites. From the classification of petrology, litik tools made of jasper, chert, andesite, and basalt rocks. Rock as a raw material litik, found in Soa Basin and surrounding areas, both in the form of outcrops and boulder.Keywords: geology, pleistocene, paleolithic, open site, lithic tools materials