Siddhayatra: Jurnal Arkeologi
Siddhayatra publishes papers devoted to a broad scope in archaeological research comprises quaternary and prehistory, classical archaeology, colonial archaeology, maritime archaeology, epigraphy, ethnoarchaeology, paleoanthropology, zooarchaeology, geoarchaeology and other applied science related with human past.
Articles
137 Documents
Arkeologi Makam Sultan Muhammad Ali Ternate, Maluku Utara
Ali, A Mujib
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.81
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti menggambarkan tinjauan arkeologis makam Sultan Muhammad Ali yang memerintah Ternate pada awal abad ke-19. Makam Sultan Muhammad Ali terletak tidak jauh dari Kedaton dan Masjid Tua Kesultanan Ternate. Nisannya terbuat dari batu berukuran tinggi 150 cm berhiaskan inskripsi nama dan tahun sebagai monumen yang menjadi penanda eksistensi Sultan Muhammad Ali. Gambar hati terletak antara inskripsi nama dan tahun, serupa gambar hati lambang kesultanan, menyiratkan hubungan erat antara yang dimakamkan dengan Kesultanan Ternate. Sultan Muhammad Ali semasa hidupnya mempunyai perhatian yang cukup besar dalam hal agama Islam dengan membangun Masjid sebagai simbol agama dan Istana yang megah sebagai simbol kerajaan, pada masa pemerintahannya status kesultanan menjadi bagian dari kerajaan Belanda dengan traktat yang ditandatanganinya bersama Belanda, praktis hanya urusan dalam negeri dan keagamaan yang menjadi wewenang kesultanan. Bentuk nisan yang sangat jauh berbeda dengan dengan nisan lainnya serta peletakannya ditempat yang cukup tinggi memperlihatkan posisi seorang pemimpin yang dijunjung tinggi semasa hidupnya
REL KERETA DAN DINAMIKA TAMBANG TIMAH MASA LALU DI PULAU BANGKA: KAJIAN ARKEOLOGI INDUSTRI
Fahrozi, Muhamad Nofri
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.139
Artifacts are the main study in archeological studies, from an artifact, archaeologists tryto uncover events that took place in the past. This article seeks to do this process by linkingit to other information that has been collected so that a description of past events can beobtained. By focusing on the findings of the Rail in Sungailiat, this article seeks to link pastevents, especially in the Dutch colonial era. From the results of the research, it is hopedthat it can be an inspiration for knowledge in the field of history and technology in the pastto be a consideration in making policy in the future.
RITUAL ASYEIK SEBAGAI AKULTURASI ANTARA KEBUDAYAAN ISLAM DENGAN KEBUDAYAAN PRA-ISLAM SUKU KERINCI
Sunliensyar, Hafiful Hadi
Siddhayatra Vol 21, No 2 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i2.23
Penelitian terhadap ritual Asyeik ini bertujuan untuk mengetahui percampuran antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra Islam Kerinci. Akulturasi ini tercermin dari berbagai benda-benda arkeologi yang digunakan dalam ritual Asyeik serta dari mantra-mantra yang diucapkan. masalah percampuran kebudayaan maka dalam penelitian ini digunakan teori akulturasi. Penelitian ini dilakukan di wilayah kecamatan Siulak dan Siulak Mukai yang dilakukan secara bertahap. Pada tahap observasi dilakukan studi kepustakaan bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan dan digunakan dalam riset lapangan yaitu wawancara dan observasi. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis data yang telah terhimpun yakni dengan membuat pemerian yang terinci pada unsur-unsur ritual Asyeik baik unsur-unsur kebudayaan Kerinci maupun unsur-unsur kebudayaan Islam dalam ritual Asyeik. Sebagai hasil penelitian diketahui bahwa ritual Asyeik telah berkembang sesuai dengan perkembangan keyakinan masyarakat suku Kerinci. Terdapat banyak unsur-unsur kebudayaan Islam dalam penyelenggaraan ritual Asyeik dilihat dari material yang digunakan dalam upacara.
PENYELAMATAN ARCA-ARCA MEGALITIK SITUS PADANGPERIGI KABUPATEN LAHAT
Sudaryadi, Agus
Siddhayatra Vol 21, No 1 (2016): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v21i1.13
Penemuan benda purbakala atau sekarang disebut cagar budaya seringkali terjadi karena adanya laporan masyarakat. Itu pun terjadi pada arca-arca megalitik di Desa Padangperigi. Hasil peninjauan menunjukkan arca-arca tersebut dalam kondisi memprihatinkan karena terkena/terendam air sepanjang hari dari sebuah parit. Arca yang lain terkubur sebatas leher dengan kepalanya di dalam parit. Untuk itu perlu dilakukan ekskavasi penyelamatan agar benda cagar budaya tersebut tidak mengalami kerusakan. Ekskavasi ditujukan untuk mengetahui keseluruhan bagian arca, mengalihkan parit, sekaligus untuk menata lingkungannya.
Jalur Pelayaran Perdagangan Sriwijaya yang Strategis dan Perekonomiannya pada Abad Ke-7 Masehi
Sholeh, Kabib
Siddhayatra Vol 22, No 2 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i2.104
Secara geografis Sriwijaya memiliki letak kestrategisan pada jalur pelayaran perdagangan yang dilewati para pedagang asing pada abad ke-7 Masehi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jalur pelayaran perdagangan Sriwijaya yang menguntungkan perekonomian Sriwijaya, untuk menganalisis kegiatan perdagangan Sriwijaya dan bagaimana strategi Sriwijaya dalam mempertahankan perekonomiannya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode historis dengan pendekatan keilmuan ekonomologis, politikologis dan sosialogis. Langkah-langkah metode historis adalah heuristik atau pengumpulan sumber, verifikasi sumber, interpretasi atau penafsiran sumber dan historiografi atau penulisan sejarah. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang berkuasa di laut dan hasil perekonomiannya diperoleh dari berdagang dan hasil bea pajak. Sriwijaya mampu menjadi penguasa sekaligus pengendali perdagangan di jalur-jalur pelayaran milik Sriwijaya. Sriwijaya menerapkan monopoli perdagangan bagi para pedagang asing yang singgah di Sriwijaya. Dalam mempertahankan keamanan di jalur-jalur pelayaran perdagangan, Sriwijaya mengerahkan seluruh kekuatan armada lautnya dengan dibantu oleh para perompak yang sudah ditaklukan Sriwijaya serta dengan sebuah perjanjian yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak.
HUBUNGAN SITUS GEDE ING SURO DAN KEKUASAAN JAWA DI PALEMBANG PADA MASA PASCA-SRIWIJAYA
Alnoza, Muhamad
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.159
Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 604 Saka/682 Masehi. Kedudukan Palembang sebagai kota pelabuhan internasional membuat kota ini berkembang di bawah kuasa Sriwijaya. Menjelang abad ke-11, Sriwijaya runtuh karena serangan Kerajaan Cola dan Malayu. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Palembang berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Jawa, utamanya Majapahit. Tulisan ini membahas kepenguasaan Jawa di Palembang berdasarkan tinggalan arkeologis, terutama tinggalan di Situs Gede Ing Suro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode arkeologi. Situs Gede Ing Suro merupakan multicomponent site yang di dalamnya terkandung beberapa tinggalan arkeologis dari pelbagai zaman, mulai dari candi, arca, keramik maupun makam Islam. Mengenai data sejarah Palembang pada masa ini dapat ditemukan dalam kitab Nagarakrtagama dan kronik Ying Yai Sheng Lan. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa Situs Gede Ing Suro merupakan monumen kekuasaan Jawa di Palembang sebagaimana sebelumnya merupakan monumen kekuasaan Sriwijaya
Megalitik Dalam Konteks Kekinian; Legenda Dibalik Batu Larung (Kajian Etnografi Mengenai Hubungan Mitos dan Artefak Megalit)
Fahrozi, Muhamad Nofri
Siddhayatra Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v20i2.86
Batu larung merupakan satu dari tinggalan megalitik yang masih tersebar di wilayah merangin. Eksistensi batu larung saat ini memiliki makna tersendiri dalam struktur masyarakat merangin. Batu larung saat ini dimaknai sebagai simbol tertentu yang memiliki fungsi dalam masyarakat. Penelitian ini mengkaji fenomena batu larung di tengah masyarakat merangin. Dengan metode wawancara etnografi dan merefleksikan data arkeologi penelitian ini mendefinisikan masyarakat merangin modern dan mengkaitkannya dengan konsep Batu Larung tersebut. hasil penelitian menunjukan bahwa mitos tertentu yang menyebabkan eksistensi batu larung tetap terjaga
MODERNISASI TEKNOLOGI KERETA API DI SUMATERA BARAT MASA HINDIA BELANDA (1871-1933)
Rahman, Aulia
Siddhayatra Vol 24, No 1 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i1.146
Ide pembangunan ker eta api dimulai untu k memudah kan pengangkutandan distribusi dari pedalaman Minangkabau ke Pesisir Pantai barat Sumatera. Pengangkutan kopi yang semuaa memakai transportasi tradisional seperti Pedati. Namun, Ide ini terkendala kondisi alam yang berbukit menjadi kendala utama. Setelah berbagai perdebatan akhirnya lahir sebuah bentuk adaptasi pembangunan Jalur-Jalur Kereta Api, Pembangunan stasiun, terowongan, jembatan. Adapatasi yang paling kentara terdapat pada Pembangunan rel bergerigi, Kontruksi bangunan jembatan dan terowongan. Teknologi kereta api di Sumatera Barat yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda mengadaptasi dari kondisi geografis. Keadaan alam yang berbukit-bukit, menjadi kendala utama dalam perluasan jaringan kereta api. Mengatasi kendala itu, diperlukan kontruksi rel kereta api yang sesuai dengan daerah yang memiliki tanjakan yang cukup tinggi. Penyesuaiaan terhadap kondisi alam itu melahirkan 2 tipe kontruksi rel. selain itu, kehadiran teknologi transporasi kereta api di Sumatera Barat awal abad ke 20 memberikan pengaruh pada tatanan sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan.
PEMUKIMAN ORANG MELAYU DI BANGKA
Novita, Aryandini
Siddhayatra Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v22i1.61
Sejarah lokal menyebutkan bahwa pemukiman Melayu yang tertua di Pulau Bangka terdapat di Kota Muntok, yaitu Kampung Tanjung. Dalam perkembangan selanjutnya pemukiman tersebut berkembang lagi ke arah timur yaitu Kampung Pekauman Dalam, Kampung Pemohon dan Kampung Petenun. Saat ini Kampung Pemohon dikenal sebagai Kampung Ulu dan Kampung Petenun dikenal sebagai Kampung Teluk Rubia; sedangkan Kampung Pekauman Dalam sudah tidak diketahui lagi. Persebaran etnis Melayu di Pulau Bangka erat hubungannya dengan sejarah pertambangan timah di pulau ini. Dengan didirikannya pusat-pusat pengawasan penggalian timah yang dinamakan pangkal yang tersebar di sejumlah wilayah Bangka menyebabkan adanya pemukiman-pemukiman baru yang salah satunya didiami oleh kelompok etnis Melayu. Hingga saat ini selain di Muntok pemukiman Melayu juga masih ditemukan di Kota Pangkalpinang dan Sungailiat.
TIPOLOGI LESUNG BATU DI SITUS PULAU PANGGUNG DAN PAJAR BULAN, KABUPATEN LAHAT, PROVINSI SUMATERA SELATAN
Azmi, Seffiani Dwi;
Indriastusti, Kristantina
Siddhayatra Vol 23, No 2 (2018): Jurnal Arkeologi Siddhayatra
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/siddhayatra.v23i2.134
Increasing food needs equire people to create equipment that can help their daily lives byutilizing local wisdom. One of the tools created was stone mortar which serves as a containerfor pounding grains or rice. The number of stone mortar findings can indicate that morecommunity needs must be met. This makes the manufacture of stone mortar which can beseen from the remains scattered in Pajar Bulan Subdistrict so that a typological study of theshapes and reliefs that develop there is needed. The method used is quantitative and qualitativemethods with data sources from literature studies. The analysis used is a special analysis,namely through morphological and stylistic analysis to observe the physical characteristicsof artifacts. The results obtained are there are 3 types of stone mortar, Oval Circuit(A1) mortar, rectangle with sharp angle (B1), Oval Easimove (A2) type.