cover
Contact Name
Ahmad Ihwanul Muttaqin
Contact Email
ihwanmuttaqin@gmail.com
Phone
+6285258606162
Journal Mail Official
tarbiyatunaiais@gmail.com
Editorial Address
Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Jl. Pondok Pesantren Kiai Syarifuddin Kedungjajang
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
TARBIYATUNA
ISSN : 20856539     EISSN : 24424579     DOI : DOI: 10.36835/tarbiyatuna
Core Subject : Education,
Tarbiyatuna adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel-artikel tentang pendidikan Islam, pendidikan Agama Islam dan bahkan manajemen Pendidikan Islam. Dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan baik akademisi, agamawan, intelektual, mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang Pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 127 Documents
Eksplorasi Pendidikan Karakter Era Revolusi Industri 4.0 Muhammad Ardy Zaini; Moch Shohib
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13 No 2 (2020): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v13i2.620

Abstract

Abstract: Cyber ​​technology is another term for education in the era of the industrial revolution 4.0, the emergence of artificial intelligence (IoT) by utilizing Artificial Intelligence "AI" is not impossible if the role of teachers will be replaced by AI and moral degradation, even though morals are the basic foundation of one's character. Based on this, the researcher examines cyber technology, educator analytics and character education alteration. This study uses a qualitative descriptive approach to the type of library research, which is to collect data that aims as an object of research. The technique used in data collection is by collecting library materials that are relevant to the intended object of discussion. The results show that learning in the industrial era 4.0 is actually the same as conventional learning, it's just that it is updated with a digitalization system, so that the term blended learning combines conventional learning and digital learning. The industrial era 4.0 really needs the presence of an educator, because in essence educators are not people who simply transfer knowledge, but there are still many roles and functions of educators, the most important of which is to become role models for students in character building. Character education in the Industrial 4.0 era can be applied through exemplary, Targhib (motivation), habituation and tadzkirah (warning).
Relevansi Pendidikan Kritis Paulo Freire dengan Pendidikan Islam Ainul Yaqin
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 1 (2015): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Criticisms which always come up in Islamic Education is a doctrinal, dogmatic learning model that gives no freedom to learners. It is theoretically on the basis of the epistemology of Paulo Friere on oppressed people. According to him the oppressed people who internalize themselves with those oppressing them and adapted themselves with their way of thinking will bring a feeling of severe threat. Islam prioritizes mankind, upholds democratic values and justice, appreciates what men have done, teaches people how to speak truly and behave properly, and loves the week and the oppressed. It is in this position that freedom fits those values.
Multiple Inteligences; Suatu Alternatif Pengembangan Kecerdasan Peserta Didik Eva Maghfiroh
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10 No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah proses Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai perkembangan fisik, pikiran, perasaan, kamauan, sosial, sampai kepada perkembangan iman. Selanjutnya Perkembangan ini membuat manusia menjadi sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dan kehidupan alamiah menjadi berbudaya dan bermoral. Sasaran pendidikan adalah manusia.Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaannya merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia.Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.
Kurikulum Pendidikan Tinggi Empat Negara Indonesia, India, Irak dan Turki Siti Aimah
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i2.400

Abstract

Kurikulum sebagai sebuah konsep pendidikan di perguruan tinggi khususnya harus mampu mengakomodir perkembangan ilmu pengetahuan (scientific vision), kebutuhan masyarakat (societal needs) dan tentu saja kebutuhan pengguna lulusan (stakeholder needs). Tanpa meninggalkan ciri khas, masing-masing negara memiliki kurikulum terstuktur dan sistematis yang menjadi panduan dalam pelaksanaan pendidikan yang dikembangkannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Meskipun secara umum kurikulum pada setiap negara memiliki persamaan akan tetapi secara spesifik masing-masing negara memiliki keunikan yang berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Diantara Empat negara; Indonesia, India, Irak dan Turki, persamaannya adalah sama-sama fokus mengkaji dan mengembangkan teori-teori Islam klasik yang terdapat pada kitab-kitab salaf menggunakan sistem-sistem modern dengan mengadopsi pola pendidikan barat, meskipun dengan tetap mempertahankan ciri khas dari pola pendidikan Islam yang cenderung berorientasi pada pembinaan karakter dan budi pekerti yang mulia. Sedangkan perbedaannya yaitu pada orientasi mutu pembelajaran seperti yang terjadi di Indonesia dan India, perbedaan pada otoritas pelaksanaan kurikulum seperti yang ada di Indonesia dan Irak, dan perbedaan pada otonomi akademik seperti yang terdapat di Indonesia dan Turki.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN DENGAN TUJUH HURUF Zainil Ghulam
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7 No 1 (2014): FEBRUARI (Terbit secara daring sejak Februari, 2015)
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah) yang timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, mereka telah menjadikan bahasa Quraish sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari keyataan diatas, sebenarnya kita dapat memahami alasan al-Qur'an diturunkan dengan menggunakan bahasa Qurraish.1Fenomena al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad saw ternyata bagaikan magnet yang selalu menarik minat manusia untuk mengkaji dan meneliti kandungan makna dan kebenarannya. al-Qur’an yang diturunkan atas ‘tujuh huruf’(sab’at ahruf) menjadi polemik pengertiannya di kalangan ulama', polemik ini bermuara pada pengertian sab’ah dan ahruf itu sendiri.
Sex Education dalam Paradigma Pendidikan Islam Faizal Amin
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2016): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan seks yang Islami merupakan bagian dari kurikulum pendidikan Islam secara umum. Pendidikan seks Islami ini sangat perlu dan penting untuk diajarkan pada umat muslim sesuai dengan perkembangan usianya, karena pendidikan seks ini menekankan pada hukum-hukum ajaran Islam dan moralitas seksual, tidak seperti pendidikan seks barat yang lebih mementingkan pada gaya seks, seks bebas dan safe sex (seks aman)-nya saja, tidak peduli dengan siapa saja harus berhubungan seks, apa saja dampak buruknya melakukan seks bebas yang penting mereka puas dan aman dari penyakit hubungan seks. Fenomena demikian jelas sangat bertentangan dengan ideologi dan ajaran Islam yang sangat mulia. Islam telah mengajarkan pada umatnya untuk melampiaskan hasrat biologisnya (berhubungan seks) lewat jalan yang halal dan baik yakni pernikahan, jadi tidak sembarang melakukan hubungan seks. Setelah dianalisis, pendidikan seks islami sangat mutlak dan segera untuk di berikan pada umat muslim terutamanya pada kaum remaja. Pendidikan seks yang ditawarkan Islam ini merupakan bentuk perlindungan dari pendidikan seks barat yang tidak bermoral, umat muslim saat ini terutama remaja sudah penuh dengan ajaran seks barat sehingga mereka meniru dan melakukan pelanggaran-pelanggaran norma, pelecehan seksual, zina dan kekerasan ada dimana-mana semua itu karena pengaruh pendidikan seks barat yang tak bermoral tersebut.
Pengambilan Keputusan di Pesantren Aminatuz Zahroh
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12 No 1 (2019): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v12i1.349

Abstract

Life is choice, Choice is decision (hidup adalah memilih. Memilih adalah keputusan). Sebuah organisasi adalah wadah bagi beroperasinya manajemen. Dalam konteks tugas manager, pengambilan keputusan merupakan salah satu peranan manajer yang disebut peranan decisional. Semua fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan memerlukan keputusan.Demikian halnya dengan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam, perlu memiliki pengelola yang mampu mengambil keputusan yang tepat secara efektif dan efisien. Pada kondisi obyektifnya, sering kali kita mendapatkan pengelola pesantren dengan tidak sadar telah melakukan pengambilan keputusan yang tidak efektif bahkan kesalahan dalam mengambil keputusan. Hal ini berimbas pada kurang mapannya manajemen pesantren, bahkan dapat memicu konflik pesantren baik internal maupun eksternal. Sebagai konsekuensi logisnya, pesantren tidak dapat mencapai tujuan semestinya dan tidak mengarah pada visi dan misinya. Menyimak kondisi di atas, penulis memandang pengelola pesantren perlu mengetahui konsep dasar, model pengambilan keputusan, langkah-langkah mengambil keputusan bersama maupun personal secara efektif serta kesalahan-kesalahan dalam pengambilan keputusan. Lebih dari itu, pengelola pesantren diharapkan mampu menganalisis keputusan yang sudah diambil dan dilaksanakan di pesantren, bahkan menganalisis keputusan yang akan diambil berikutnya.
Learning Design of Citizenship Education in Indonesia After Ahok Tragedy, a Shape of Social Media and Critical-Literacy in Educational Process Husniyatus Salamah Zainiyanti; Atmari Atmari
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11 No 1 (2018): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v11i1.266

Abstract

From the fist decade when Soekarno declared Indonesia as Pancasila State, until 71th independence nowaday. Educationally, Indonesia had not an ideal concept how to indoctrine its form of pluralistic cultures and religions, which were emerged and lived in. Differently from another democratic countries, like USA, Australia, and Europian-Community, which faced the multi-ethnic diaspora, new social movement groups, and imigrant people, they reconcile the new concept of citizenship education system within social and cultural changs, as well as they faced. In facts, citizenship education often deliver as a political education as usual. There are no new approaches and systimatic curricular changes to adopt and adapt what presently heppend in the grassroot-society. So that, this articles will explore some progresive problems that shifted the pluralistic stance of Indonesian People. Eventually, in based on educational system and teaching learning posses in general school. The ultimate aims are growing approaches to teach pure Indonesian citizenship values, seem like, what democratic countries did for their citizen, after political abnormal contestation, such as the rise of radicalism, ethnic or racial conflict, and so on. Thus, this article also will focuss on ‘Ahok Tragedy’ which are re-contested a a living historical conflict; Islamic and Nationalist stance of Indonesian identity.
Majelis Taklim sebagai Transformator Pendidikan, Ekonomi dan Sosial Budaya pada Komunitas Muslimah Urban Triana Rosalina Noor; Isna Nurul Inayati; Maskuri Bakri
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14 No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v14i1.797

Abstract

Salah satu wadah untuk menuntut ilmu agama Islam adalah majelis taklim, terlebih di era globalisasi yang mengarah pada kehidupan hedonisme, materialisme dan individualisme. Kegiatan majelis taklim tidak terikat waktu dan bisa dihadiri oleh semua lapisan masyarakat. artikel ini menggambarkan majelis taklim sebagai transformator pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya di masyarakat. Artikel ini adalah hasil riset yang dilakukan di Majelis Taklim Husnul Khotimah, Surabaya melalui pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumen dengan melibatkan lima orang secara purposive sampling. Hasil penelitian ini menggambarkan terjadinya proses pengembangan kelembagaan di Majelis Taklim Husnul Khotimah dari awal hanya sebagai lembaga pendidikan agama kelompok kecil warga menjadi sebuah lembaga yang lintas kawasan yang telah mengalami diversifikasi fungsi menjadi lembaga sosial melalui kegiatan-kegiatan filantropi dan pemberdayaan ekonomi melalui program bank sampah yang dicanangkan. Majelis taklim Husnul Khotimah juga berperan sebagai tempat silaturahmi antar sesama warga dan tempat pengembangan kreativitas para muslimah. Melalui majelis taklim terinternalisasi nilai-nilai sosial bermasyarakat yang baik seperti nilai kasih sayang, tolong menolong, tanggung jawab khususnya pada kondisi masyarakat kota yang majemuk.
Relevansi Ayat-Ayat Qur'ani dengan Muatan Materi Pendidikan Kewarganegaraan SMP dalam Pendidikan Anti Korupsi Hermawan Hermawan
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2015): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur`an berjumlah 6236, ribuan ayat tersebut membahas tentang berbagai macam persoalan kehidupan dunia dan akhirat. Salah satunya adalah adanya ayat-ayat Qur`ani yang membahas nilai-nilai pendidikan anti korupsi, memang ayat-ayat tersebut tidak secara langsung membahas anti korupsi, namun ayat tersebut menjelaskan melalui tatanan nilai sosial, hukum dan beragama. Di satu sisi, pendidikan anti korupsi dewasa ini memang sudah menjadi wabah penyakit, sehingga salah satu bentuk pencegahannya dilakukan melalui dunia pendidikan. Dalam hal ini Kemendikbud sudah menempuh cara, salah satunya dengan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan anti korupsi ke dalam muatan materi Pendidikan Kewarganegaraan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada relevansi ayatayat Qur`ani dengan materi pendidikan kewarganegaraan dalam pendidikan anti korupsi? kemudian ayat dan nilai apa saja yang terintegrasi? serta bagaimana strategi untuk mengaplikasikan ayat dan nilai yang terintegrasi tersebut?. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, Sedangkan metode penentuan subyek menggunakan teknik purposive sampling. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Setelah data terkumpul maka dilakukan analisis data, dengan mereduksi data, kategorisasi data, sintesisasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah adanya relevansi atau relasi antara ayat-ayat Qur`ani dengan muatan materi pendidikan kewarganegaraan dalam pendidikan anti korupsi seperti : Kejujuran dengan Q.S At-Taubah ayat 119. Kepedulian dengan Q.S. An-Nisa’ ayat 36 dan Q.S al-Maidah ayat 2. Kemandirian dengan Q.S. Hud ayat 123. Kedisiplinan dengan Q.S An-Nisa ayat 59. Tanggung Jawab dengan Q.S. An-Nisa’ ayat 58. Kerja keras dengan Q.S al-Ankabut ayat 69. Kesederhanaan dengan Q.S Al-Furqan ayat 67. Keberanian dengan Q.S. Ali-Imran ayat 104. Keadilan dengan Q.S. An-Nisa’ ayat 135. Strategi untuk internalisasi ayat dan nilai tersebut dengan pembelajaran dan pemahaman di kelas, program pembiasaan dan kegiatan ekstrakurikuler.

Page 4 of 13 | Total Record : 127