cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 384 Documents
Ekspresi hector battifora mesothelial epitope-1 (HBME-1) pada lesi jinak dan ganas tiroid Meilany Feronika Durry; Djumadi Achmad; Truly D. Dasril
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.775 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangLesi kelenjar tiroid merupakan kelainan yang sering ditemukan, namun penegakan diagnosisberdasarkan gambaran histopatologik sesuai kriteria morfologi WHO, seringkali sulit dilakukanterutama pada tumor folikuler berdiferensiasi baik. Antibodi HBME-1 adalah antibodi yangdiproduksi dari suspensi sel mesotelioma yang bereaksi dengan antigen yang tidak diketahui padamembran sel mesotel. Antibodi ini juga dilaporkan terekspresi pada lesi ganas tiroid terutama yangberasal dari sel epitel folikel dan tidak terekspresi pada lesi tiroid jinak seperti nodular goiter danadenoma folikular.CaraDesain penelitian ini adalah cross sectional yang dilakukan di Bagian Patologi Anatomik FakultasKedokteran Universitas Hasanuddin. Sampel diperoleh dari jaringan tiroid selama periode Januari –Desember 2008. Dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal HBME1 pada 30 jaringan lesi tiroid ganas (karsinoma papiler dan folikuler) dan 30 jaringan tiroid jinak(nodular goiter) menggunakan metode labelled streptavidin biotin peroxidase.HasilEkspresi HBME-1 ditemukan pada 25 dari 30 (83,3%) lesi ganas dan hanya ditemukan pada 1 dari30 (83,3%) lesi jinak. Penelitian ini memiliki angka sensitifitas 83%, spesifisitas 96,6%, nilai prediksipositif 96,1%, nilai prediksi negatif 85,3% dan Odds Ratio (OR) 145 (Conficence Interval 95% (15,9-1325))KesimpulanPewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi HBME-1 dapat menjadi pemeriksaan tambahanbagi pewarnaan hematoksilin eosin (HE) terutama untuk kasus-kasus lesi tiroid yang sulit dalammembedakan antara lesi jinak dengan ganas
Aspirasi Jarum Halus dan Pemeriksaan Imunositokimia pada Diagnosis Kasus Timoma Mediastinum Diah Setiawati; Lisnawati
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.883 KB)

Abstract

Timoma adalah tumor primer yang berasal dari sel-sel epitel timus. Pada umumnyabersifat asimptomatik dengan gejala klinik yang tidak khas, kadang-kadang disertaisindrom paraneoplastik seperti miastenia gravis. Perilaku biologi timoma tidak dapatdiprediksi. Gejala yang dapat menyebabkan keadaan darurat seperti dispneu dansindrome vena cava superior perlu penanganan yang segera dan tepat. Makalah inimenyajikan sebuah kasus timoma pada wanita usia 29 tahun yang cukup menarik yangdidiagnosis dengan Fine needle Aspiration Biopsy (FNAB) dan dibuktikan denganpemeriksaan imunositokimia. Laporan ini menekankan pentingnya peranan diagnosissitologi dengan tehnik FNAB pada kasus kegawatan. Gambaran sitologi timomamenunjukkan campuran populasi sel-sel epitel dan limfosit. FNAB dan imunositokimiamemainkan peranan yang penting dalam penetapan diagnosis dan berperan sebagaidasar diagnosis penatalaksanaan segera yang tepat pada pasien berisiko.
Ekspresi CD10 dan Bcl6 pada Limfoma Malignum Sel B Jenis Sel Besar Difus dan Hubungannya dengan Skor Indeks Prognostik Internasional Jimmy Hadi Widjaja; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.986 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang.Limfoma malignum sel B jenis sel besar difus adalah Limfoma malignum non-Hodgkinyang sering dijumpai. Penyakit ini memiliki gambaran klinis, morfologik, perubahangenetik, dan molekular yang heterogen. Sel limfoma dapat memiliki fenotip serupadengan sel sentrum germinativum normal ditandai dengan ekspresi CD10 dan Bcl6 yangdapat berhubungan dengan gejala klinis dan prognosis yang baik. Penelitian ini inginmenilai hubungan imunoekspresi CD10 dan Bcl6 dengan skor Indeks PrognostikInternasional (IPI).CaraPenelitian dilakukan secara retrospektif pada 22 sediaan kasus Limfoma malignum sel Bjenis sel besar difus dari Januari 2007 sampai Juni 2009 di Bagian Patologi AnatomikRumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Semua bahan dilakukan penilaian ulang untukmenentukan diagnosis berdasarkan klasifikasi WHO 2001 berupa pulasan HE danimunohistokimia dengan CD10 dan Bcl6. Uji korelasi kontigensi digunakan untuk analisadata.HasilHasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara ekspresi CD10 danekspresi Bcl6 dengan skor IPI (p< 0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antaraekspresi CD10 dengan Bcl6 (p > 0,05).KesimpulanEkspresi CD10 dan Bcl6 berkaitan dengan prediksi prognosis.
Ketepatan Pemeriksaan Terpadu Sitologi Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Si-BAJAH) dan Ultrasonografi pada Nodul Tiroid di RSUP Adam Malik Medan Juliana Lina; Gani .W Tambunan; Netty .D Lubis
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.949 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangPembesaran nodul tiroid merupakan keadaan yang biasa ditemukan dan hanya sebagian kecil sajayang merupakan neoplasma (5-10%). Sitologi biopsi aspirasi jarum halus (Si-BAJAH) merupakanmetode pemeriksaan prabedah dan untuk memilih pasien yang memerlukan tindakan pembedahanpada kelainan neoplasma atau pengobatan (medikamentosa). Ultrasonografi (USG) dapat dipergunakan sebagai pengarah pada Si-BAJAH, agar jarum biopsi dapat lebih jelas dan akuratdiinsersikan ke lesi yang dicuriga. Ultrasonografi secara signifikan meningkatkan sensitivitas danspesifitas Si-BAJAH pada nodul tiroid dibanding jika hanya menggunakan Si-BAJAH.CaraPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang untuk menilaiketepatan pemeriksaan Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid di RSUP Adam Malik Medan, danpemeriksaan histopatologi sebagai baku emasnya. Semua penderita dengan nodul tiroid ukuran≥2cm dilakukan biopsi aspirasi dan USG, kemudian dilakukan biopsi aspirasi ulang. Hapusandiwarnai dengan Giemsa.HasilHasil pengukuran menunjukkan sensitifitas Si-BAJAH mencapai 13,0% (1/8) dan spesifisitas100,0% (26/26). Akurasi diagnostik Si-BAJAH dan USG pada nodul tiroid lebih tinggi dibandingkanjika hanya dengan Si-BAJAH, dimana sensitifitas mencapai 25% (2/8) dan spesifisitas 100,0%(26/26).KesimpulanKesimpulan dari penelitian ini adalah pemeriksaan USG meningkatkan nilai akurasi diagnostik SiBAJAH pada nodul tiroid, terutama pada lesi jinak dengan ukuran ≥2 cm.
Penghambatan aktivitas proliferasi sel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak benalu teh Hidayat Sulistyo; Awal Prasetyo; Tjahjono
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.128 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangEfek scurrulla atropurpurea (SA) sebagai anti kanker telah banyak dibuktikan hingga tingkat molekuler, namunsebagaian besar dilakukan secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan inhibisi aktivitas proliferasisel dan perubahan histopatologik epitel mukosa nasofaring mencit C3H dengan pemberian ekstrak SA.MetodePenelitian eksperimental menggunakan 15 mencit C3H, dibagi menjadi tiga kelompok: kelompok kontrol (K)diinduksi dengan uap larutan formalin 10%, diberi diet standar AIN-93M mengandung 54 mg/kg BB formalinselama 9 minggu; kelompok P1 diinduksi uap formalin dan diet standar berformalin selama 6 minggu, lalu diberi1,5 g/kgBB ekstrak SA selama 3 minggu; kelompok P2 diberi ekstrak SA selama 3 minggu, kemudian diinduksiuap formalin dan diet standar mengandung formalin selama 6 minggu. Di akhir penelitian dilakukan pemeriksaanhistopatologik dan hitung AgNOR.HasilSkor perubahan histopatologik epitel nasofaring kelompok K (3,72±0,46), P1 (2,07±0,62), dan P2 (1,69±0,48).Rerata hitung AgNOR kelompok K (3±0,15), P1 (1,72±0,07), dan P2 (1,76±0,08). Uji Mann-Whitney terhadapvariabel perubahan histopatologik antara P1 vs P2, K vs P2, dan P2 vs P3 bermakna. Uji Mann-Whitneyterhadap variabel hitung AgNOR antara K vs P1 dan K vs P2 bermakna, namun antara P1 vs P2 tidakbermakna.KesimpulanEkstrak SA sebelum dan sesudah induksi formalin menimbulkan pengaruh berbeda bermakna pada perbaikanskor histopatologik dan aktivitas proliferasi sel epitel mukosa nasofaring mencit C3H
Pemeriksaan helicobacter pylori dengan PCR dari lambung penderita gastritis kronis Novi Triana; Mezfi Unita; Jusuf Fantoni; Theodorus; Yuwono
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.66 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangHelicobacter pylori (H.pylori atau Hp) adalah bakteri yang hidup pada mukus dan epitel lambungmanusia. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab terjadinya gastritis, ulkus duodenum danlambung, atau salah satu faktor penyebab keganasan lambung. Di negara berkembang prevalensiH.pylori dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Angka prevalensi juga tergantung daristatus sosialekonomi, budaya, lingkungan dan genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbandingan nilai sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan PCR dengan pemeriksaan histopatologik dalam mendeteksi H.pylori serta mengetahui nilai dugaan positif dan negatif pemeriksaanPCR.MetodeSampel diambil dari arsip slide dan blok parafin di Laboratorium Patologi Anatomik, dan cairanlambung dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah SakitDr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah sampel yang diperlukan untuk penelitian ini sebanyak30 sampel, kemudian dilakukan review oleh spesialis Patologi Anatomik, dilakukan pulasan Giemsadan pemeriksaan PCR untuk cairan lambung.HasilPada penelitian ini didapatkan 30 sampel, tujuh sampel (23,3%) dengan atrofi kelenjar, 5 sampel(16,7%) dengan metaplasia intestinal dan 14 sampel H.pylori positif (46,7%). Hasil pemeriksaansequen DNA H.pylori positif sebanyak 28 orang (93,3%) dan sequen DNA H.pylori negatif sebanyak2 orang (6,7%). Setelah dilakukan uji diagnostik didapati nilai sensitifitas 92,85%, spesifisitas6,25%, prediksi positif 46,4% dan prediksi negatif 50%. Sampel terbanyak (27) adalah gastritiskronik aktif, diikuti oleh gastritis kronik nonaktif.KesimpulanUntuk mengetahui adanya H.pylori pada lambung, pemeriksaan dengan metode PCR ini bisadijadikan pemeriksaan alternatif apabila pasien menolak untuk dilakukan biopsi lambung.
Gastorintestinal stromal tumor: gambaran klinik, histopatologik dan imunohistokimia Wiwit Ade Fidiawati; Ening Krisnuhoni
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.395 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangTumor mesenkimal traktus gastrointestinal mempunyai gambaran histopatologik yang sulit untukdibedakan. Tumor tersebut dapat berasal dari otot dan saraf maupun campuran keduanya.Beberapa tahun belakangan ini tumor mesenkimal traktus gastrointestinal dinyatakan berasal dariIntertitial Cells of Cajal (ICC) dan disebut sebagai Gastrointestinal Stromal Tumor (GIST).Bahan dan caradata arsip Departemen Patologi Anatomik selama dua tahun (2006-2007) terdapat 25 kasus yangdidiagnosis sebagai GIST dengan pulasan Hematoxillin & Eosin, CD117, CD34, S100 dan SMA.Langkah berikutnya dilakukan analisis gambaran klinik, histopatologik dan imunohistokimia.HasilDari 25 kasus GIST, 84,9% terdapat pada pria dan usia terbanyak antara 40-49 tahun. Gastermerupakan lokasi GIST tersering (72%), kemudian diikuti oleh usus kecil (16%), usus besar (8%)dan esophagus (4%). Gambaran histopatologik yang terbanyak adalah subtipe sel kumparan(52%), kemudian subtype campuran (28%) dan subtype epiteloid (20%). GIST dengan diferensiasisaraf merupakan jenis diferensiasi terbanyak, kemudian diikuti oleh GIST yang tidakberdiferensiasi, berdiferensiasi otot polos dan GIST berdiferensiasi campuran otot polos dan saraf.KesimpulanPada penelitian ini, kasus GIST lebih banyak terdapat pada pria dan lokasi tersering adalah gaster.Sub tipe histopatologik terbanyak adalah subtipe spindel dan diferensiasi saraf merupakandiferensiasi tersering. Diagnosis GIST dapat ditegakkan bila sel tumor positif dengan pulasanCD117.
Analisis korelasi antara ekspresi reseptor progesteron dengan protein p53 mutant pada meningioma hubungannya dengan derajat keganasan tumor Fathul Djannah; Suparman
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangMeningioma adalah tumor terbanyak kedua pada susunan saraf pusat. Studi sebelumnya menunjukkanbahwa reseptor progesteron (RP) mempengaruhi meningioma. Protein p53 mutant mempunyai peran pentingpada keganasan namun hubungan antara RP dengan protein p53 mutant masih belum jelas.Bahan dan CaraDilakukan penelitian retrospektif pada penderita meningioma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sebanyak 176kasus meningioma didapatkan selama Januari 2004 sampai Mei 2009. 2 meningioma atypic dan 4 meningiomaanaplastic seluruhnya disertakan dalam penelitian ini dan dikelompokkan sebagai meningioma WHO grade II-III.10 kasus yang diambil secara acak dari 170 meningioma jinak dikelompokkan sebagai meningioma WHO gradeI. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi yang spesifik dengan RP dan protein p53mutant. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman rho dan dianggap bermakna bila p<0,05.Hasil3 dari kelompok meningioma WHO grade II and III mengekspresikan IRS 4 dan 3 IRS 0 sementara ekspresi p53mutant +1 sebanyak 5 kasus dan 1 kasus +2.7 meningioma WHO grade I IRS 6,1 IRS 9 dan 2 IRS 12sedangkan semuanya tidak mengekspresikan p53 mutant. Hasil analisis statistik RP dan derajat keganasanmeningioma menunjukkan p=0,00. Hasil analisis statistik p53 mutant dan derajat keganasan meningioma yaitup=0,00. Hasil analisis statistik RP status and p53 adalah p=0,00.KesimpulanTerdapat hubungan yang negatif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi reseptor progesteron,terdapat hubungan yang positif antara derajat keganasan meningioma dengan ekspresi p53 mutant danterdapat hubungan yang negatif antara ekspresi progesterone receptor dengan ekspresi p53 mutant padameningioma
Nilai Numerik Sitomorfometri Keliling dan Densitas Inti pada Fibroadenoma, Karsinoma Duktus dan Karsinoma Lobular Payudara fitriani Lumongga; Muhammad Nadjib D Lubis; Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.998 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar BelakangPemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus penting dalam diagnosa preoperatif lesi payudara. Sampai saatini interpretasi sediaan sitologi sering bersifat subjektif. Untuk mendapatkan diagnosa yang lebih objektif,diperlukan aplikasi tambahan dengan menggunakan komputer melalui images analysis. Morfometri yangdilakukan dengan komputerisasi dan analisa gambar dapat digunakan untuk menghitung ukuran sel, sepertikeliling inti (perimeter) dan densitas inti.TujuanTujuan studi ini membandingkan ukuran perimeter dan densitas inti antara fibroadenoma, karsinoma duktus dankarsinoma lobular payudara dengan menggunakan image analysis.Bahan dan CaraPenelitian menggunakan studi potong lintang dengan jumlah sampel 10 pada setiap kelompok. Sediaan hasilbiopsi aspirasi diwarnai Diff-Quik dan dilakukan pengukuran morfometri dengan pewarnaan Fuelgen. Penilaianmorfometri inti menggunakan MCID Analysis software pada 50 sel tiap slide dan dinyatakan dengan angka yangdapat dipindahkan ke dalam bentuk histogram. Perbedaan beberapa variabel diuji statistik dengan tesBonferroniHasilRata-rata keliling inti fibroadenoma mammae: 0,513 µm, karsinoma duktus : 0,887 µm, karsinoma lobular: 0,634µm. Rata-rata densitas inti fibroadenoma 0,45006: Relative optical density (ROD) dan karsinoma duktus: ROD.0,5338KesimpulanPada hasil penelitian terdapat perbedaan rata-rata keliling inti pada lesi fibroadenoma, karsinoma duktus dankarsinoma lobular payudara serta terdapat perbedaan densitas inti lesi payudara fibroadenoma dan karsinomaduktus dengan menggunakan pewarnaan Fuelgen.
Deteksi Mikrometastasis pada Bulky Kelenjar Getah Bening Karsinoma Serviks Stadium IA-IIB Menggunakan Sitokeratin AE1/AE3 Reni Angeline; Hartono Tjahjadi; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 29 No 3 (2020): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.503 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v29i3.441

Abstract

BackgroundCervical uterine carcinoma is a primary malignant disease of the uterine cervix. The presence or absence of metastasis in lymphnodes does not alter the stage but affects recurrence, survival, and therapy. Immunohistochemistry stains of the AE1/AE3cytokeratin can assist in the diagnosis and determine the small focus of carcinoma metastasis. In this study, we analyzedimmunohistochemistry cytokeratin AE1/AE3 could determine micrometastasis in bulky lymph nodes negative.MethodsThis study used cross-sectional design. The sample consisted of 52 cases of stage IA-IIB cervical carcinoma performed by radicalhysterectomy and lymphadenectomy accompanied by negative bulky lymph nodes at the Department of Anatomical PathologyFaculty of Medicine University of Indonesia/Cipto Mangunkusumo Hospital (FKUI/RSCM) from January 2011 to June 2017. Allcases stained by immunohistochemistry cytokeratin AE1/AE3.ResultsBulky Lymph Nodes Cervical Carcinoma stage IA-IIB, histopathologic diagnose of non keratinized squamous cell carcinoma,moderate differentiation degree, no lymphovascular invasion and deepest invasion >5.0 mm. Immunohistochemistry staining ofAE1/AE3 cytokeratin showed no micrometastasis in all cases.ConclusionThe immunohistochemistry staining of AE1/AE3 cytokeratin used in Bulky Lymph Nodes Cervical Carcinoma stage IA-IIB could notdetected micrometastasis in all cases.