cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 369 Documents
Pola Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Dikaitkan dengan Pertumbuhan Tumor dan Edema Peritumoral pada Astrositoma Diah Prabawati Retnani; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.524 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Astrositoma adalah tumor dari sel astrosit dengan variasi derajat histopatologik, disertai ukuran edema peritumoral. Peningkatan derajat keganasan, ukuran tumor dan pembentukan edema peritumoral diperlukan proses angiogenesis. Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) adalah salah satu faktor penting dalam proses angiogenesis. VEGF diperlukan dalam proliferasi, survival dan migrasi sel endotel dan permiabilitas vaskuler. Peranan VEGF dalam pembentukan edema peritumoral masih dalam perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola ekspresi VEGF dan peningkatan derajat histopatologik, ukuran tumor dan insiden edema peritumoral pada astrositoma. Metode Arsip histopatologik astrositoma derajat II, III, IV (Glioblastoma) dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama kurun waktu Januari 2009 hingga Januari 2012 dikumpulkan. Pada tiga puluh kasus astrositoma yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan VEGF Rabbit. Hubungan pola ekspresi VEGF dan derajat histopatologik, ukuran tumor dan kejadian edema peritumoral dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Sebanyak 29 dari 30 kasus menunjukkan ekspresi VEGF positif. Dari 29 kasus dengan ekspresi VEGF positif tersebut, 13 kasus adalah astrositoma derajat IV, 22 kasus dengan ukuran tumor > 2cm, dan 17 kasus disertai edema peritumoral. Analisis statistik ekspresi VEGF memiliki pengaruh terhadap peningkatan derajat histopatologik (p=0,023), rs=0,413) dan ukuran tumor (p=0,005, rs= 0,499) namun tidak berpengaruh terhadap kejadian edema peritumoral (p=0,273). Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan bahwa ekspresi VEGF dapat meningkatkan derajat histopatologik dan besar tumor, namun tidak berpengaruh terhadap pembentukan edema peritumoral pada astrositoma. Kata kunci: Astrositoma, VEGF, derajat histopatologik, edema peritumoral. ABSTRACT Background Astrocytoma is a glial tumor that derived from astrocyte cells with various tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema. Angiogenesis plays role in tumor grading, tumor size and formation of peritumoral edema. VEGF is needed for proliferation, survival, migration of endothel cell and vascular permiability. The role of VEGF to regulate peritumoral edema in brain tumor is still debated. The purpose of this study was to analyze the relationship between VEGF expression and tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema of astrocytoma. Methods Pathology archives of grade II, III and IV astrocytomas were retrieved at Dr Soetomo Hospital Surabaya between Januari 2009-Januari 2012. Thirty cases of astrocytomas that fulfilled the conclusion criteria were stained with VEGF rabbit monoclonal antibody (clone EP1176Y). Relationship between VEGF expression and histopathologic grading, tumor size and peritumoral edema were analyzed using Spearman correlation test. Results There were 29 of 30 cases of astrocytom showing positif VEGF expression, 13 cases of grade IV astrocytoma, 22 cases had tumor size more than 2 cm, and 17 cases showing peritumoral edema. Statistical analyzis revealed that VEGF expression had a significant association with histopathologic grading ( p=0.023; rs=0.413) and tumor size (p=0.005; rs=0.499). In contrast, VEGF expression had no significant assoiation with peritumoral edema (p=0.273). Conclusion This study revealed that VEGF plays role in increasing histopathologic grading and tumor size in astrocytoma but its role in peritumoral edema is not significant. Key words : astrocytoma, VEGF, histopathologic grading, peritumoral edema.
Ekspresi Imunoglobulin A pada Sel Plasma di Sekitar Sel Tumor Karsinoma Nasofaring Tidak Berkeratin, Tidak Berdiferensiasi yang Terinfeksi Virus Epstein-Barr Ratna Handayani; Lisnawati -; Budiana Tanurahardja
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.055 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan salah satu keganasan yang sering ditemukan di Indonesia dengan insiden 6,2/100.000 penduduk. Pemeriksaan serologik imunoglobulin A (IgA) terhadap viral capsid antigen (IgA-VCA) merupakan petanda tumor yang digunakan sebagai standar serodiagnostik karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terhadap KNF. Titer antibodi IgA terhadap Epstein-Barr Virus (EBV) meningkat lebih dulu sebelum tampak tumor, dan titer pada usia ≤ 30 tahun lebih rendah daripada usia > 30 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekspresi IgA pada jaringan biopsi KNF tidak berkeratin, tidak berdiferensiasi (WHO tipe 3) yang terinfeksi EBV pada kelompok usia ≤ 30 tahun dan usia > 30 tahun. Metode Studi potong lintang terhadap jaringan biopsi pasien KNF WHO tipe 3 yang terinfeksi EBV yang ditandai dengan positifitas EBER pada 13 pasien usia ≤ 30 tahun dan 20 pasien usia > 30 tahun, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia terhadap IgA. Hasil Positivitas EBER ditemukan pada seluruh kasus KNF WHO tipe 3. IgA terekspresi pada epitel permukaan jaringan tumor dan terdapat positifitas ekspresi IgA sel plasma yang berbeda-beda di stroma sekitar jaringan tumor, dengan rerata pada kelompok usia ≤ 30 tahun lebih rendah dari kelompok usia > 30 tahun. Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara ekspresi IgA sel plasma pada KNF WHO tipe 3 pada kelompok usia ≤ 30 tahun dan > 30 tahun dengan nilai p=0,025. Kesimpulan Ekspresi IgA sel plasma disekitar jaringan tumor pada jaringan KNF WHO tipe 3 dipengaruhi oleh usia. Kata kunci : Karsinoma nasofaring, virus Epstein-Barr, EBER, IgA. ABSTRACT Background Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is one of the most frequent malignant tumors in Indonesia, with incidence rate 6.2/100.000. The IgA-VCA serologic examination is considered as a useful marker for early detection of NPC because its high sensitivity and specificity to NPC. IgA antibody titer to Epstein-Barr Virus (EBV) increased before the tumor arise, and it lower in ≤ 30 years old patients compare to > 30 years old patients. The aim of this study is to evaluated the expression of IgA in biopsy specimen of EBV infected undifferentiated NPC among both ≤ 30 and > 30 years old patients. Methods A cross-sectional retrospective study was performed in 13 young and 20 old groups of age of undifferentiated NPC. The EBER positive undifferentiated NPC was stained with IgA by immunohistochemistry, and then analized it between the two of age groups. Results EBER positivity was found in all undifferentiated NPC. IgA was expressed in the normal surface epithelial submucous plasma cells and stromal plasma cells surounding the tumor mass in all cases of undifferentiated NPC with differented positivity. Statistical analysis with unpaired t test showed that IgA expression is significantly lower in ≤ 30 years old patients than > 30 years old patients with p value 0.025. Conclusion IgA is expressed in plasma cell cytoplasm in the stromal site of undifferentiated NPC and influenced by age. Key words : Nasopharyngeal carcinoma, Epstein-Barr Virus, EBER, IgA.
Analisis Hubungan antara Ekspresi MMP-2 dengan Derajat Neoplasia Serviks pada Pap Smear Berbasis Cairan Marini Stephanie; Lisnawati -; Rahmiati -
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.312 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang MMP (matrix metalloproteinase) merupakan protease yang memiliki peran yang sangat penting pada proses invasi dan metastasis. Seiring dengan perkembangan pengetahuan mengenai akivitas MMP dan matriks esktraseluler, MMP dipikirkan juga ikut berkontribusi dalam lesi-lesi intraepitelial neoplasia serviks, salah satu diantaranya adalah MMP 2. MMP 2 merupakan salah satu anggota kelompok gelatinase yang sering dilaporkan kaitannya dengan progresifitas lesi kanker serviks, yang penelitiannya pada umumnya dilakukan pada jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ekspresi MMP 2 dengan derajat neoplasia serviks yang dilakukan pada bahan sitologi berbasis cairan. Metode Penelitian ini dilakukan secara prospektif, menggunakan studi deskriptif analitik dengan disain potong lintang pada sediaan pap smear berbasis cairan yang telah didiagnosis sesuai dengan klasifikasi Bethesda 2001. Kasus dengan papsmear abnormal akan dilanjutkan dengan imunositokimia MMP 2. Hasil Terdapat hubungan bermakna antara ekspresi MMP 2 dengan derajat neoplasia serviks (p=0,001). Kesimpulan Ekspresi MMP 2 dapat ditemukan pada lesi atipikal, prekanker dan kanker invasif pada serviks. Tampak proporsi positifitas ekspresi MMP 2 lebih tinggi secara bermakna pada lesi derajat tinggi dibandingkan pada lesi derajat rendah. Kata kunci: MMP 2, derajat neoplasia serviks, pap smear berbasis cairan. ABSTRACT Background MMP (matrix metalloproteinase) ia a protease which have important role in the invasion and metastatic process. Resent study of the activity and extracellular matrix of MMP, especially MMP-2 is suspected contribute in the cervical intraepithelial neoplasia MMP-2 is one of the gelatinase group, that have been reported having correlation with cervical cancer progresivity. Many studies concerning the activity of MMP-2 in the tissues had been done. The aim of this study is to learn the relation of MMP-2 expression with cervical neoplasia grading using liquid base cervical cytology specimen. Methods This is a prospective study by cross sectional analysis using liquid base cytology slides, that was diagnosed according the Bethesda 2001 classification. All cases were reviewed and the abnormal cases were continued to immunocytochemistry staining using MMP-2 antibody. Results There were significantly association between MMP 2 and degree of neoplasia cervical lesion with p=0.001. Conclusion MMP 2 expression can occur in atypical, precancer and cancer lesions of the cervix. It was shown that high grade cervical lesions had higher proportion of MMP 2 positivity than low grade cervical lesions significantly. Key words : MMP 2, degree of neoplasia cervical lesions, liquid based cytology.
Hubungan Ekspresi VEGF dan Skor MAGS Terhadap Kejadian Metastasis pada Osteosarkoma Tri Nugraheni; Sjahjenny Mustokoweni; Ferdiansyah -
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.335 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Osteosarkoma memiliki prognosis buruk oleh karena kejadian metastasis yang tinggi dan kemoresisten. Angiogenesis berperan dalam pertumbuhan osteosarkoma dan Vascular endothelial growth factor (VEGF) adalah faktor penting di dalamnya. Microscopic angiogenesis grading system (MAGS) merupakan teknik menghitung derajat angiogenesis pada tumor yang mudah untuk dikerjakan. Metode Penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah penderita osteosarkoma yang telah diagnosis secara histopatologik di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo selama tahun 2007-2011. Data metastasis diperoleh dari rekam medik. Pemeriksaan imunohistokimia dengan menggunakan poliklonal antibodi VEGF. Derajat ekspresi VEGF dinilai berdasarkan jumlah sel tumor yang menunjukkan imunoreaktifitas secara semikuantitatif. Skor MAGS didapatkan dari menilai vasoproliferasi (N), hiperplasia sel endotel (E) dan sitologi endotel (X) dengan formula MAGS = KnN+ KeE + KxX. Hubungan dianalisis dengan uji Mann-Whitney, uji t dua sampel bebas dan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil Didapatkan 9 dari 31 kasus osteosarkoma dengan metastasis. 7 dari 9 (77,8%) menunjukkan ekspresi VEGF sangat kuat (+3). Rata-rata skor MAGS pada osteosarkoma dengan metastasis 39,44. Analisa statistik dengan uji Mann Whitney menyatakan bahwa hubungan antara ekspresi VEGF dan skor MAGS dengan kejadian metastasis (p=0,014 dan p=0,000) dan adanya hubungan positif antara ekspresi VEGF dan skor MAGS (p=0,000). Kesimpulan Peningkatan ekspresi VEGF dan skor MAGS berperan terhadap kejadian metastasis pada osteosarkoma. Ekspresi VEGF dan skor MAGS memiliki korelasi positif. Kata kunci : VEGF, skor MAGS, osteosarkoma, metastasis ABSTRACT Background Osteosarcoma is associated with poor prognosis due to its high incidence of metastasis and chemoresistance. Angiogenesis plays a role in the progression of osteosarcoma, and it is most commonly assessed by vascular endothelial growth factor (VEGF) expression. MAGS scoring is an easy quantitative technique of measuring degree of angiogenesis in a tumor. Methods This study an analytic observational with cross sectional approach. Study samples patients with osteosarcoma that histopathologically diagnosed at the Laboratory of Anatomic Pathology Dr. Soetomo Hospital during 2007-2011. Incidence of metastasis was collected from medical record. Immunohistochemical examination using polyclonal antibody VEGF. Expression of VEGF were assessed based on the number of tumor cells that showed imunoreactivity semiquantitatively. MAGS score was resulted from measuring vasoproliferation (N), endothelial cell hyperplasia (E) and endothelial cytology (X) with formula MAGS = KnN+ KeE + KxX. Correlations were analyzed with Mann-Whitney test, two independent samples t test and Spearman correlation test with significance on p
Ekspresi Antibodi Terhadap Human Papilloma Virus Type 16 pada Karsinoma Serviks Neni Wahyu Hastuti
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.979 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Virus Human Papilloma adalah virus yang dapat menimbulkan kanker serviks. HPV tipe 16 adalah jenis virus yang sering dijumpai pada kanker serviks invasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi antibodi terhadap human papilloma virus type 16 pada karsinoma serviks. Metode Pada penelitian ini dilakukan potong lintang terhadap 34 kasus karsinoma serviks (21 karsinoma sel skuamous, 5 karsinoma undifferentiated, 4 adenokarsinoma, 2 karsinoma adenoskuamous, dan 2 karsinoma insitu) yang diwarnai dengan antibody primer Papilloma virus tipe 16 (HPV-16), Monoklonal, Mouse IgG2a [CaamVir-1], Supersensitive, Cat No. AM362-5M, Biogenex. Hasil Reaksi HPV-16 dijumpai pada 19 (55,9%) dari 34 kasus kanker serviks dengan rinci: 15 (71,4%) dari 21 kasus karsinoma sel skuamous, 2 (100%) dari 2 kasus karsinoma undifferentiated, 2 (100%) dari 2 kasus karsinoma insitu, 0 (0%) dari 2 kasus karsinoma adenoskuamous, 0 (0%) dari 2 kasus adenokarsinoma. Analisa statistik tampilan HPV-16 positif antara kasus karsinoma skuamous dan karsinoma nonskuamous menunjukkan perbedaan bermakna HPV (0,05
Hubungan Imunoekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) dengan Stadium Dukes pada Karsinoma Kolorektal Fenny Ariyanni; Sri Suryanti; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.861 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Epidermal growth factor receptor (EGFR) berperan dalam patogenesis dan progresivitas karsinoma kolorektal. Stadium Dukes menunjukkan luas penyebaran tumor dan digunakan sebagai pedoman terapi. Pada stadium Dukes A tumor masih terbatas pada tunika submukosa, stadium Dukes B tumor sudah menembus tunika muskularis dan stadium Dukes C sudah bermetastasis ke kelenjar getah bening. Penggunaan kemoterapi adjuvan pada stadium Dukes B masih kontroversi sehingga hanya diberikan pada stadium Dukes B yang high risk. Diperlukan penanda molekuler yang dapat menunjukkan tumor yang agresif. Pada penelitian ini akan diteliti hubungan imunoekspresi EGFR dengan stadium Dukes pada karsinoma kolorektal. EGFR diharapkan dapat digunakan menjadi penanda karsinoma kolorektal yang agresif. Metode Pewarnaan imunohistokimia EGFR dilakukan terhadap 45 blok parafin karsinoma kolorektal yang dilakukan kolektomi (masing-masing stadium Dukes A, B, C 15 kasus). Hasilnya dihubungkan dengan stadium Dukes. Hasil Pada stadium Dukes A sebanyak 2 kasus (13%) menunjukkan imunoekspresi positif dan stadium Dukes B sebanyak 8 kasus (53%) menunjukkan imunoekspresi positif dan pada stadium Dukes C sebanyak 11 kasus (73%) menunjukkan imunoekspresi positif. Imunoekspresi EGFR secara statistik (p=0.004, uji Chi-Square) lebih sering ditemukan pada stadium Dukes C. EGFR berperan penting dalam diferensiasi dan proliferasi sel. Pada sel normal pengaktifan sinyal EGFR menyebabkan proliferasi sel, migrasi, metastasis, penghindaran apoptosis dan angiogenesis. Kesimpulan Imunoekspresi EGFR lebih sering ditemukan pada stadium Dukes C dibanding Dukes A dan B. Kata kunci: EGFR, imunoekspresi, karsinoma kolorektal, stadium Dukes. ABSTRACT Background Epidermal growth factor receptor immunoexpression may clarify the effects of the pathogenesis and determine the prognosis of colorectal carcinoma (CRC). Dukes’ stage explained the extension of the tumor. Dukes’ stage A was defined as malignant tumour in which growth extends into the submucosa, but not into the muscle coat; Dukes’ stage B was defined as the tumour growth extends into the muscle coat; and Dukes’ stage C was defined as the presence of lymph node metastases. Adjuvant chemotherapy in Dukes’ stage B is controversial, which only given to high-risk Dukes’ stage B. Hence, we need to identify high-risk Dukes’ stage B. This research will study association EGFR clone H11 and CRC Dukes’ stage. Methods Immunohistochemistry was performed in paraffin-embedded specimens of 45 cases colorectal carcinoma (each Dukes’ stage A, B, C was 15 cases) for the assesment of clone H11 EGFR expression. The results were correlated with colorectal carcinoma Dukes’ stage. Results At Dukes’ stage A there were 2 cases (13%) showed positive immunoexpression and Dukes’ stage B there were 8 cases (53%) showed positive immunoexpression and Dukes’ stage C there were 11 cases (73%) showed positive immunoexpression. clone H11. EGFR clone H11 immunoexpression (p=0.004, Chi-Square test) was significantly more frequent in Dukes’ stage C. EGFR play an important role in cell differentiation and proliferation. The activation of EGFR signaling would lead to cell proliferation, migration, metastasis, evasion of apoptosis or angiogenesis. Conclusion EGFR immunoexpression was more frequent in colorectal carcinoma Dukes’ stage C explain clearly that EGFR play important role in pathogenesis colorectal carcinoma. Key words: colorectal carcinoma, Dukes’ stage, EGFR, immunoexpression.
Ekspresi EBER pada Berbagai Tipe Histopatologi Karsinoma Nasofaring Kenty Wantri Anita; Bambang Endro Putranto; Awal Prasetyo; Dewi Kartikawati Paramita
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.249 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Etiologi kanker nasofaring (KNF) sudah terbukti merupakan interaksi dari infeksi Epstein-Barr Virus (EBV), paparan lingkungan dan kerentanan genetik. Infeksi EBV mendominasi etiopatogenesis KNF terutama untuk tipe WHO-3. Di Indonesia, saat ini belum ada publikasi tentang ekspresi Epstein-Barr-virus-encoded small nuclear RNA (EBER) yang dikaitkan dengan klasifikasi histopatologi KNF. Tujuan penelitian ini menganalisis ekspresi EBER pada berbagai tipe histopatologi KNF untuk menambah informasi dalam diagnosis etiologi KNF, sehingga bermanfaat dalam strategi terapi. Metode Penelitian dengan desain cross sectional ini menggunakan sampel biopsi nasofaring yang didiagnosis sebagai KNF antara tahun 2009 sampai 2012 di Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP. Dr. Kariadi dan RS. St. Elisabeth Semarang. Sediaan dievaluasi ulang dan dilakukan in situ hybridization dengan probe fluorescein-conjugated peptide nucleic acid (PNA) pada jaringan blok parafin. Hasil Sebanyak 29 dari 31 kasus (93,5%) KNF tipe WHO-3 mengeskpresikan EBER positif dan terdapat perbedaaan bermakna (p=0,024) dengan KNF tipe WHO-1 dan 2. Uji korelasi antara ekspresi EBER dengan tipe histopatologi KNF positif kuat (koefisien korelasi Lambda = 0,667, p=0,034). Kesimpulan Ekspresi EBER terdapat lebih banyak pada KNF WHO tipe 3 yang berarti EBV lebih sering ditemukan pada KNF WHO tipe 3. Kata kunci: EBER, hibridisasi in situ, karsinoma nasofaring, virus Epstein-Barr. ABSTRACT Background The factors contributing nasopharingeal carcinoma (NPC) has been proven to be the interaction of viral, environmental and genetic factors. Etiopathogenesis of NPC is dominated by Epstein-Barr virus (EBV) infection, especially for WHO type 3. In Indonesia, there has been no publication about the expression of Epstein-Barr-virus-encoded small nuclear RNA (EBER) associated with histopathological classification. The aim of this study is to analyze the expression of EBER in various histopathological types of NPC and provide information onetiological diagnosis ofNPC that can be useful for therapeutic strategies. Methods This study was an descriptive designed as cross sectional study. Nasopharyngeal biopsies that were diagnosed as nasopharyngeal carcinoma, between the year 2009 and 2012, in Dr. Kariadi Hospital and St. Elisabeth Hospital Semarang were reevaluated. In situ hybridization with fluorescein-conjugated peptide nucleic acid (PNA) probe was performed on paraffin embedded tissue sections. Results This study found that 29 of 31 (93.5%) WHO-3 type NPC cases were EBER positif that significantly differed from WHO-1 and WHO-2 type NPC (p=0.024). There were strong positive correlation between histopathological types of NPC and expression of EBER (Lambda coefficient correlation=0.667, p=0.034). Conclusion EBER expressions found more in NPC WHO type 3 which mean EBV is often found in NPC WHO type 3. Key words: EBER, Epstein-Barr- virus, in situ hybridization, nasopharyngeal carcinoma.
Ekspresi Protein p53 Mutan dan Ki-67 pada Kondiloma Akuminata dan Karsinoma Sel Skuamosa Agustin Nurliani; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.089 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Diagnosis kondiloma akuminata (KA) dan karsinoma sel skuamosa (KSS) dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Sebagian besar kasus gambaran mikroskopik kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa berbeda nyata. Pada kasus tertentu seperti pada karsinoma sel skuamosa tipe verrucous dapat menyerupai kondiloma akuminata. Beberapa penelitian telah dikembangkan untuk membantu penegakan diagnosis dengan melihat ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada lesi-lesi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi protein p53 mutan dan Ki-67 dalam diagnosis kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa. Metode Penelitian yang dilakukan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin dari sediaan kulit dengan diagnosis kondiloma akuminata, karsinoma sel skuamosa diferensiasi baik atau tipe verrucous yang diarsipkan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo periode Januari 2010-Desember 2012. Sampel penelitian terdiri dari 15 kasus KA dan KSS dari seluruh kasus yang ditemukan. Sampel dipulas menggunakan pulasan imunohistokimia dengan antibodi primer p53 dan Ki-67. Ekspresi p53 mutan dan Ki-67 dinilai berdasarkan jumlah inti sel yang tercat dalam 100 sel. Perbedaan ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada KA dan KSS dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Hasil Dari 15 kasus KA rerata usia penderita 36,07+12,30 tahun, dan 15 kasus KSS rerata usia penderita 49,93+15,65 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna ekspresi protein p53 mutan pada KA dan KSS (p=0,131). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein Ki-67 pada KA dan KSS (p=0,001). Kesimpulan Ekspresi protein Ki-67 dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Ekspresi protein p53 mutan tidak dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Kata kunci : karsinoma sel skuamosa, Ki-67, kondiloma akuminata, p53 mutan. ABSTRACT Background The diagnosis of condyloma accuminata (CA) and squamous cell carcinoma (SCC) can be made based on histopathological examination. In most cases the microscopic picture of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma clearly different. However, in certain cases such as SCC, verrucous type can form a picture that resembles condyloma accuminata. Several studies have been developed to assist in the diagnosis by looking at the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in these lesions. To analyze the differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Methods Analytical observational research with cross sectional approach. Population of this study was paraffin blocks from skin preparation with a diagnosis of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma well differentiated and squamous cell carcinoma verrucous type stored in the Anatomical Pathology Laboratory Hospital Dr. Soetomo within the period January 2010 to December 2012. The samples used in this study were taken, respectively-each of the 15 cases from all cases were found. Paraffin blocks that met the criteria were stained with immunohistochemical method using antibody p53 and Ki-67. The degree of expression of p53 mutant and Ki-67 were assessed by quantity of cells was staining in 100 cells. Differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma were analyzed using statistical tests. Results 15 cases of condyloma accuminata mean patient age 36.07 +12.30 years, and 15 cases of squamous cell carcinoma patients mean age 49.93 +15.65 years. The test results showed statistically no significancy in the expression of p53 mutant protein both condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.131). There is a significant in the expression of Ki-67 in condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.001). Conclusion Expression Ki-67 protein play a role in distinguishing condyloma accuminata with squamous cell carcinoma. Expression of protein p53 mutant protein do not play a role in differentiating condyloma accuminata with squamosa cell carcinoma. There was no relationship between the expression of protein p53 and Ki67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Key words : condyloma accuminata, Ki-67, p53 mutant, squamous cell carcinoma.
Penggunaan Pulasan Imunohistokimia p53, Ki67 dan Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) dalam Membedakan Adeno-karsinoma Serosum Ovarium Tipe I (Low grade) dan Tipe II (High grade) Hartono Tjahjadi; Tantri Hellyanti
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.04 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Adenokarsinoma serosum ovarium tipe II (high grade) lebih sering ditemukan dibandingkan tipe I (low grade). Tumor tipe II bersifat agresif, namun lebih sensitif kemoterapi. Hal sebaliknya terjadi pada tumor tipe I. Mutasi p53 berperan dalam patogenesis berbagai jenis keganasan, termasuk organ genitalia wanita. Ki67 terlibat dalam semua fase aktif pada siklus sel (G1, S, G2 dan mitosis). EGFR mengaktifkan jalur sinyal yang menginduksi onkogenesis dan proliferasi sel. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran p53, Ki67 dan EGFR dalam patogenesis adenokarsinoma serosum ovarium dan peluang penggunaannya sebagai alat bantu diagnostik untuk membedakan tumor tipe I dan tipe II. Metode Penelitian observasional analitik potong lintang, pada 25 kasus adenokarsinoma serosum ovarium dari arsip Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM 2011-2013, dengan bahan blok parafin. Dilakukan pulasan imunohistokimia p53, Ki67 dan EGFR dengan metode indirect. Pada kedua kelompok dihitung dan dibandingkan persentase positivitas pulasan inti p53 dan Ki-67, serta H score ekspresi EGFR. Hasil Median ekspresi p53, Ki67 dan H score EGFR pada kelompok tipe I adalah 15 (4-50), 15 (5-30), dan 46,5 (30-180); sedangkan pada tipe II adalah 80 (0-90), 20 (10-60), dan 40 (0-160). Perbandingan ekspresi p53, Ki67 dan H score EGFR pada kedua kelompok tumor: p=0,03, 0,37 dan 0,05. Kesimpulan Protein p53 berperan penting dalam patogenesis adenokarsinoma serosum ovarium tipe II (high grade). Ekspresi p53 dapat digunakan untuk membedakan adenokarsinoma serosum tipe II dari tipe I, sedangkan ekspresi Ki67 maupun EGFR tidak. Kata kunci: adenokarsinoma serosum, EGFR, Ki-67, ovarium, p53. ABSTRACK Background Serosum ovarian adenocarcinoma tipe II (high grade) is more common than type I (low grade). Type II tumors are aggressive, but more sensitive to chemotherapy. The opposite occurs in tumor type I. p53 mutation plays a role in the pathogenesis of a variety of malignancies, including female genital organs. Ki67 actively involved in all phases of the cell cycle (G1, S, G2 and mitosis). EGFR activate signaling pathways that induce oncogenesis and cells proliferation. The aim of this study are to determine the role of p53, Ki67 and EGFR in the pathogenesis of serosum ovarian adenocarcinoma and to determine the possibilities to use them as diagnostic tool to differentiate tumor type I and type II. Methods A consecutive cross-sectional observational study, in 25 cases of serosum ovarian adenocarcinoma from archives in Department of Anatomical Pathology Faculty of Medicine University of Indonesia/RSCM 2011-2013, with material paraffin blocks. Indirect immunohistochemical staining of p53, Ki67 and EGFR were performed. Results in both groups were calculated and compared the percentage of core outward positivity p53 and Ki-67, and H scores EGFR expression. Results Median expression of p53 , Ki67 and EGFR score in group H type I was 15 (4-50), 15 (5-30), and 46.5 (30-180); where as in type II was 80 (0-90), 20 (10-60), and 40 (0-160). Comparison of expression of p53, Ki67 and H score of EGFR in both tumor groups: p=0.03, 0.37 and 0.05 . Conclusions P53 protein plays an important role in the pathogenesis of type II serosum ovarian adenocarcinoma (high grade). P53 expression can be used to distinguish the type II adenocarcinoma serosum of type I, neither the EGFR nor Ki-67 expressions can be used. Key words : EGFR, Ki67, ovarian, p53, serosum adenocarcinoma.
Ekspresi Imunositokimia Hector Battifora Mesothelioma Cell-1 (HBME-1) pada Nodul Tiroid Diferensiasi Sel Folikel Evi Darwin; Lisnawati -; Benyamin Makes
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.055 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Pemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus (BAJaH) nodul tiroid sangat diperlukan sebagai pemeriksaan prabedah karena diagnosis sitologi yang akurat akan menjadi acuan klinisi dalam penatalaksanaan pasien. Terdapat gambaran sitomorfologik intermediet yang menyulitkan dalam menentukan lesi jinak atau lesi ganas, sehingga perlu dilakukan pulasan imunositokimia untuk meningkatkan akurasi diagnostik. HBME-1 telah banyak digunakan pada spesimen jaringan sebagai salah satu penanda karsinoma tiroid dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai diagnostik pemeriksaan imunositokimia HBME-1 pada spesimen BAJaH tiroid. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik uji diagnostik menggunakan desain potong lintang. Pemilihan sampel dengan cara konsekutif periode tahun 2010-2012 yang didiagnosis berdasarkan klasifikasi Bethesda 2007 mendapatkan 54 kasus sitologik BAJaH. Dilakukan pulasan imunositokimia HBME-1 diikuti dengan penilaian positivitas ekspresi dan dilanjutkan dengan penilaian sensitivitas, spesifisitas menggunakan diagnosis histopatologik sebagai baku emas. Uji statistik menggunakan SPSS 20 dengan uji Fisher’s exact. Hasil Terdapat 43 dari 45 (96%) kasus karsinoma tiroid diferensiasi sel folikel menunjukkan HBME-1 positif dan hanya 1 dari 9 kasus jinak (11%) menunjukkan hasil positif. Terdapat hubungan yang bermakna antara positivitas HBME-1 dengan karsinoma tiroid diferensiasi sel folikel (p

Page 9 of 37 | Total Record : 369