cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 369 Documents
Hubungan Ekspresi Protein NM23-H1, Densitas Limfovaskuler Peri-tumoral dan Invasi Limfovaskuler dengan Stadium dan Diferensiasi Histopatologi Adenokarsinoma Kolorektal Tejo Jayadi; Harijadi -; Prijono Tirtoprod
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.422 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Salah satu penyebab kekambuhan karsinoma kolorektal adalah metastasis locoregional atau metastasis jauh. NM23-H1 salah satu gen penghambat metastasis yang berperan dalam menurunkan potensi metastasis. Hasil penelitian-penelitian tentang peran NM23-H1 dan invasi limfovaskuler terhadap peningkatan derajat histopatologi dan stadium adenokarsinoma hasilnya masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ekspresi protein NM23-H1 dan invasi limfovaskuler dengan derajat histopatologi dan stadium karsinoma kolorektal. Metode Rancangan Penelitian adalah potong lintang dengan menggunakan 50blok parafin dari pasien karsinoma kolorektal yang diagnosisnya ditegakkan secara histopatologis sebagai adenokarsinoma kolorektal stadium Duke B dan C di RSUP. Dr. Sardjito mulai tanggal 1 Januari 2007. Blok parafin dipotong 4 μm diwarnai dengan antibodi poliklonal anti NM23-H1 dan antibodi monoklonal anti D2-40. Korelasi NM23-H1 dengan invasi limfovaskuler dianalisa dengan uji korelasi Spearman; asosiasi NM23-H1 dan invasi limfovaskuler dengan diferensiasi histopatologi dan stadium dianalisa menggunakan uji Chi-square. Hasil Penelitian ini menunjukkan terdapat korelasi antara ekspresi NM23-H1 dan invasi limfovaskuler dengan stadium adenokarsinoma kolorektal Duke B dan C (p= 0,006 dan 0,013). Ekspresi NM23-H1 tidak berhubungan dengan diferensiasi histopatologi (p=0,644). Invasi limfovaskuler berhubungan dengan diferensiasi histopatologi (p=0,018). Densitas limfovaskuler peritumoral tidak berhubungan dengan diferensiasi histopatologi dan stadium (p=0,556 dan p=0,768). Penelitian ini juga menunjukkan tidak adanya akorelasi antara NM23-H1 dengan densitas limfovaskuler peritumoral dan invasi limfovaskuler (p=0,996 dan p=0,176), dengan rasio odds 1,071 dan 2,1. Kesimpulan Ekspresi NM23-H1 dan invasi limfovaskuler berperan dalam perluasan dan metastasis adenokarsinoma kolorektal, sedangkan derajat diferensiasi sel tumor berhubungan dengan invasi limfovaskuler. Kata kunci : adenokarsinoma kolorektal, diferensiasi histopatologi, invasi limfovaskuler, NM23-H1, stadium. ABSTRACT Background One of the causes of colorectal carcinoma recurrence due to locoregional or distant metastasis. NM23-H1 is one of metastasis suppressor gene, and many studies showed that the influence of NM23-H1 expression and lymphovascular invasion to the grading and staging of colorectal carcinoma still controversial. The aim of this study is to determine the correlation of NM23-H1 expression and lymphovascular invasion with the grading and staging of colorectal carcinoma. Methods The study was retrospective cross sectional using 50 paraffin embedded tissue of patients with adenocarcinoma colorectal Duke B and C paraffin block, which diagnosed as adenocarcinoma colorectal Duke B and C by histopathological examination in Dr. Sardjito Central General Hospital since 1 January 2007. Those embeded tissues were cut 4μm and stained by NM23-H1 polyclonal antibody and D2-40 monoclonal antibodi. t. Correlation NM23-H1 with lymphovascular invasion were analyzed using Spearman test. Chi Square test was performed to analyzed the association of NM23-H1 and lymphovascular invasion with grading and staging of the tumor. Results There were correlations between NM23-H1 expression, lymphovascular invasion with adenocarcinoma colorectal stage B and C (p=0.006 and 0.013). There was no correlation between NM23-H1 expression with the grading of tumor (p=0.644). There was correlation between lymphovascular invasion and grading of the tumor (p=0.018). There was no correlation between peripheral lymphovessel density with grading dan staging of the tumor (p=0,556 and p=0,768). This study showed no correlation between NM23-H1 with peripheral lymphovessel density and lymphovascular invasion (p=0.996 and p=0.176), with odds ratio 1.071 and 2.1. Conclusion NM23-H1 expression and lymphovascular invasion may have a role in the adenocarcinoma colorectal expansion and metastasis, while moderate and high grade have relationship with lymphovascular invasion. Key words: adenocarcinoma colorectal, histopathology differentiation, lymphovascular invasion, Nm23-H1, stage.
Hubungan antara Ekspresi ALDH-1 dan EGFR-1 dengan Karakte-ristik Klinikopatologi Karsinoma Kolorektal Lini Sunaryo; Prijono Tirtoprodjo; Harij -
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.736 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Ekspresi ALDH-1 mempunyai peran penting dalam identifikasi sel yang diduga cancer stem cell sedangkan ekspresi EGFR-1 pada karsinoma kolorektal dinyatakan meningkat dan hubungan ekspresi keduanya dengan prognosis karsinoma kolorektal masih kontroversial. Tujuan Mengetahui hubungan antara ekspresi ALDH-1 dan EGFR-1 dengan karakteristik klinikopatologi karsinoma kolorektal. Metode Studi potong lintang retrospektif (retrospective cross sectional), dengan 50 sampel karsinoma kolorektal tahun 2009-2010 di RSUP Sardjito, Yogyakarta. Data klinikopatologi yang meliputi usia, jenis kelamin, lokasi tumor, derajat diferensiasi histopatologi, dilihat dari data pasien dan hasil evaluasi histopatologi di Instalasi Patologi Anatomik RSUP. Sardjito, Yogyakarta. Dilakukan pewarnaan imunohistokimia dengan antibodi monoklonal anti ALDH-1 dan EGFR-1. Hubungan antara ekspresi ALDH-1 dan EGFR-1 dan tiap variabel klinikopatologi akan dievaluasi menggunakan metoda analisis Pearson Chi-Square,Fisher dan Kruskal Wallis. Hasil Tidak didapatkanhubungan yang bermakna antara ekspresi ALDH-1 dengan usia (p=0,697), jenis kelamin (p=0,615), lokasi tumor (p=0,525), EGFR-1 (p=0,279), namun didapatkan hubungan yang bermakna dengan derajatdiferensiasi histopatologi (p=0,021). Ekspresi EGFR-1 tidak didapatkan hubungan yang bermakna dengan usia (p=0,074), jenis kelamin (p=1,0), dan lokasi tumor (p=0,293), tetapi didapatkan hubungan yang bermakna dengan derajat diferensiasi sel tumor pada histopatologi (p=0,014). Kesimpulan Adanya hubungan ekspresi ALDH-1 dan EGFR-1 dengan derajat diferensiasi histopatologi menunjukkan peran sel punca dan EGFR-1 dalam perkembangan diferensiasi karsinoma kolorektal. Kata kunci: aldehyde dehydrogenase-1, epithelial growth factor receptor-1, karakteristik klinikopatologi, karsinoma kolorektal, sel punca. ABSTRACT Background Expression ALDH-1 is important to identification cells as cancer stem cells, while expression EGFR-1 increase in colorectal carcinoma, however there is still controversion result in correlation between the expression of ALDH-1 and EGFR-1 with prognosis. Aim To investigate the correlation expression ofALDH-1 and EGFR-1 with clinicopathological characteristic of colorectal carcinoma. Methods Cross sectional retrospective study which 50 cases of colorectal carcinoma during 2009-2010 from Sardjito Hospital, Yogyakarta. Clinicopathological data consist of gender, age, tumor location, and differenciated histological type were collected from Instalation of Pathology Sardjito Hospital, Yogyakarta. Paraffin embedded tissue stained immunohistochemically with monoclonal antibody against ALDH-1 and EGFR-1. The correlation between ALDH-1 and EGFR-1 expression and each variable will be evaluated using Pearson Chi-Square analysis, Fisher and Kruskal Wallis. Results There are no significant correlation between ALDH-1 with age (p=0.697), gender (p=0.615), location of tumor (p=0.525), and EGFR-1 (p=0.279), but there is a significant correlation with differentiation of histopathological grading (p= 0.021). There are no correlation between ekspresion EGFR-1 with age (p=0.074), gender (p=1.0), location of tumor (p=0.293), but there is a significant correlation with differentiation of histopathological grading (p=0.014 ). Conclution There are significant correlations between expression ALDH-1 and EGFR-1 with differentiation of histopathological grading indicate the role of stem cells in development of differentiation of cancer cells in colorectal carcinoma. Key words: aldehyde dehydrogenase-1, clinicopathologic characteristic, colorectal carcinoma, epithelial growth factor receptor-1, stem cell.
Hubungan antara Imunoekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 dengan Respon Kemoterapi CHOP pada Limfoma Malignum Non-Hodgkin Tipe Sel B CD20 Positif Roro Wahyudianingsih; Bethy S Hernowo; Abdul H Hassan; Birgitta M Dewayani
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.931 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Limfoma malignum merupakan suatu keganasan dari sel-sel jaringan limfoid. Limfoma non-Hodgkin (LNH) tipe sel B mencakup 90% dari seluruh limfoma di seluruh dunia, dengan angka kejadian mencapai 4% kasus baru per tahun. Regimen kemoterapi CHOP (Cyclophospamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison) merupakan standar terapi penderita LNH, dengan angka respon komplit hanya sebesar 40% sampai 50%. Pada sekitar 30% kasus LNH tidak berespon dengan kemoterapi CHOP dan terjadi progresi penyakit bahkan sampai terjadi kematian. Respon kemoterapi yang efektif ditandai dengan peningkatan jumlah sel yang mengalami apoptosis. Protein bcl-2 berfungsi sebagai anti-apoptosis, sedangkan caspase-3 berperan sebagai eksekutor caspase (pro-apoptosis). Penelitian ini bermaksud menilai hubungan antara imunoekspresi bcl-2 dan imunoekspresi caspase-3 dengan respon kemoterapi CHOP. Metode Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan desain analitik potong lintang terhadap 63 kasus LNH tipe sel B CD20 positif yang memenuhi kriteria penelitian, dari Januari 2009-Juni 2011 di Departemen Patologi Anatomik RSHS, Bandung. Kemudian dilakukan pulasan imunohistokima bcl-2 dan caspase-3, dan dihubungkan dengan respon kemoterapi dari data rekam medis. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Hasil Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara imunoekspresi bcl-2 yang lemah dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,012), antara imunoekspresi caspase-3 yang kuat dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,033), dan terdapat hubungan antara gabungan imunoekspresi bcl-2 yang lemah dan caspase-3 yang kuat dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,009). Kesimpulan Ekspresi bcl-2 lemah dan imunoekspresi caspase-3 kuat menunjukkan respon kemoterapi CHOP yang lebih baik pada penderita LNH tipe sel B CD20 positif. Kata kunci : apoptosis, bcl-2, caspase-3, CD20, kemoterapi CHOP, LNH tipe sel B ABSTRACT Background Malignant lymphoma is malignancy originates from lymphoid tissue. B-cell type non-Hodgkin lymphoma (NHL) accounts for 90% from all lymphoma in the world. The incidence of B-cell type NHL approximately 4% of new cases every year. The chemotherapeutic agents CHOP (Cyclophospamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison) is the standard treatment for NHL patient, with only 40%-50% complete response. In approximately 30% cases of NHL showed non-response with standard chemotherapy and underwent progressive disease until death. The effective chemotherapy response was shown by increasing number of cells that undergo apoptosis. Bcl-2 is a protein functions as anti-apoptotis, on the other hand caspase-3 has a role as excecutor caspase (pro-apoptotic). The aim of this study was to assess the association between bcl-2 and caspase-3 immunoexpression with CHOP chemotherapy response. Methods This is a retrospective study in 63 cases of B-cell type NHL which met the research criterias, using cross-sectional analytic design, at the Departement of Anatomical Pathology, Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung from January 2009 to June 2011. Immunohistochemistry for bcl-2 and caspase-3 were done, and then the clinical chemotherapy response were collected from the medical records. The result was analyzed using Chi-square. Results This study shows significant association between weak bcl-2 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.012), significant association between strong caspase-3 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.033), and significant association between combination of weak bcl-2 and strong caspase-3 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.009). Conclusion The weak bcl-2 immunoexpression and strong caspase-3 immunoexpression show good chemotherapy response in B-cell type LNH. Key words : apoptosis, bcl-2, B-cell type NHL, caspase-3, CD20, CHOP chemotherapy,
Hubungan antara Ekspresi Protein P16 dan Ki67 dengan Faktor Prognostik Histopatologik Melanoma Malignum Kulit Jenis Nodular Riesye Arisanty; Budiana Tanurahardja; Mpu Kanoko
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.092 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Pemahaman mengenai karakteristik biologik dan faktor prognostik melanoma malignum yang merupakan tumor ganas melanositik merupakan hal yang penting karena berhubungan dengan pemilihan terapi serta kesintasan penderita. Agresivitas tumor dapat dinilai dari beberapa faktor histopatologik, antara lain: adanya ulserasi, aktivitas mitosis, dan keterlibatan kelenjar getah bening. Protein p16 dan ki67 merupakan yang memiliki peran dalam prediktif prognostik melanoma malignum.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara ekspresi protein p16 dan Ki67 pada beberapa faktor prognostik histopatologik yang dapat digunakan sebagai penanda agresivitas tumor yaitu ulserasi, aktivitas mitosis dan metastasis pada tumor primer melanoma malignum jenis nodular. Metode Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan metode imunohistokimia menggunakan p16 dan Ki67 pada 25 kasus melanoma malignum jenis nodular. Hasil Ekspresi protein p16 negatif ditemukan pada 40% kasus melanoma ulseratif, 52% kasus dengan aktivitas mitosis tinggi, dan 16% kasus pada metastasis kelenjar getah bening (KGB). Ekspresi Ki67 positif pada 44% kasus melanoma dengan aktivitas mitosis tinggi, dan 20% kasus melanoma metastasis serta 32% kasus dengan ulserasi. Kesimpulan Pada melanoma malignum kulit jenis noduler tidak ditemukan hubungan antara ekspresi p16 dan Ki67 dengan gambaran ulserasi, aktivitas mitosis, dan metastasis KGB. Kata kunci: aktivitas mitosis, faktor prognostik histopatologik, Ki67, melanoma malignum, melanoma nodular kutaneus, p16. ABSTRACT Background To understanding about biological behaviour and prognostic factor of melanoma malignum as a malignant tumor from melanocyte was important, because its relationship with choise of therapy and survival of the patiens. The aggresivity of the tumour, can be predicted from several prognostic factors such as: ulceration of the tumour, mitotic activity, and lymph nodes metastasis. P16 and Ki67 protein expressions can be used as a prognostic markers in cutaneous nodular melanoma malignum. Aim Assesing p16 and Ki67 protein expression and its relatinoship with several histopatological prognostic factors as a marker of aggressiveness of the tumors: ulceration, mitotic activity, and lymph nodes metastasis in cutaneous nodular melanoma malignum. Methods This was a cross-sectional study on 25 cases of nodular melanoma, stained with p16 and Ki67 antibody with immunohistochemical methods. Results P16 negative expression can be found in 40% of ulcerated melanoma cases, and 52% cases with high mitotic activity and 16% of cutaneous nodular melanoma with lymph nodes metastasis. Ki67 positive expression was found in 44% of cases with high mitotic activity, 20% cases of metastasis melanoma and 32% cases in ulcerated melanoma. Conclusion There was no statistically significant association between p16 and Ki67 expression with ulcerated melanoma, mitotic activity, and metastatic melanoma in lymph nodes. Key words: cutaneous nodular melanoma, histopathologic prognostic factors, Ki67, malignant melanoma, mitotic activity, p16.
Hubungan Ekspresi Top 2A dengan Karakteristik Histopatologi dan Status Reseptor Hormon pada Karsinoma Payudara Her-2 Positif Agustine Tinambunan; Henny Sulastri; Fifie Julianita; Erial Bahar
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.52 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Top 2A adalah enzim inti yang berperan penting pada replikasi DNA dan merupakan terapi target banyak agen kemoterapi. Pada karsinoma payudara ekspresinya berhubungan dengan proliferasi sel dan ekspresi berlebih protein HER-2, namun hubungan ekspresi keduanya dengan karakteristik histopatologi dan status reseptor hormon masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ekspresi Top 2A dengan karakteristik histopatologi yang merupakan faktor prognosis dan status reseptor hormon pada karsinoma payudara primer HER-2 positif. Metode Penelitian ini adalah penelitian retrospektif cross sectional. Tiga puluh sampel preparat karsinoma payudara HER-2 positif hasil biopsi, lumpektomi dan mastektomi diambil dari arsip di bagian Patologi Anatomik RSMH, dilakukan pulasan dengan antibodi Top 2A, diteliti hubungannya dengan derajat keganasan, invasi limfovaskular dan status reseptor hormon serta sebaran ekspresinya berdasarkan usia dan morfologi tumor. Enam belas sampel preparat hasil mastektomi diteliti untuk menilai hubungan antara ekspresi Top 2A dengan status kelenjar limfe dan ukuran tumor. Hasil Ekspresi Top 2A positif dijumpai 14 kasus (46,7%) seluruhnya dengan massa tumor berukuran lebih dari 2 cm, derajat keganasan tinggi (71,4%), invasi limfovaskuler (71,4%), status kelenjar limfe sebagian besar negatif (71,4%) dan hanya 50% dengan status reseptor hormon positif. Karsinoma payudara HER-2 positif dengan ekspresi berlebih Top 2A sebagian besar dengan morfologi karsinoma duktal invasif (71,4%) dan pada kategori usia 41-50 tahun (71,4%). Analisis hubungan ekspresi Top 2A dengan ukuran tumor, status kelenjar limfe, invasi limfovaskuler, derajat keganasan dan status reseptor hormon secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Rasio Odds dengan status reseptor sebesar 0,26. Terdapat hubungan bermakna antara ekspresi berlebih Top 2A dengan karakteristik usia kurang dari 50 tahun (p 2cm, and mostly with high degree of malignancy (71.4%), and with positive hormone receptor status (50%). Most of breast cancer with positive Top 2A are invasive ductal carcinoma (71.4%) and have age category 41-50 years old in 10 (71.4 %) cases. There are no significant correlation between Top 2A expression with tumour size, tumour grade, lympho-vascular invasion, lymph nodes status and hormone receptor status in HER-2 positif breast cancer. However, over-expression of Top 2A have a signifiant correlation with age category
Efek Pemberian Madu terhadap Lesi Hepar Maternal Mencit Terpapar Monosodium Glutamate (MSG) selama Masa Kehamilan Sufitni -; Delyuzar -; Emita Sabri
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.789 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Monosodium glutamate (MSG) merupakan zat aditif makanan yang masih kontroversial. Konsumsi MSG yang tinggi meningkatkan metabolisme glutamat, dan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Salah satu antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas adalah madu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek madu terhadap lesi hepar induk mencit yang dipicu oleh pemberian MSG pada saat kehamilan. Metode Penelitian bersifat eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri atas 5 kelompok, yaitu 1 kelompok kontrol (K) dan 4 kelompok perlakuan (P1-P4). Kelompok kontrol hanya diberi akuades selama kehamilan 0-18 hari. Selama kehamilan 0-18 hari, P1 diberi MSG 4 mg/g BB/hari, P2 diberi madu 0,15 g/20 g BB/hari, dan P4 diberi MSG 4 mg/g BB/hari dan madu 0,15 g/20 g BB/hari. P3 diberi MSG 4 mg/g BB/hari pada kehamilan 0-7 hari, dilanjutkan pemberian madu 0,15 g/20 g BB/hari pada kehamilan 8-18 hari. Pada usia kehamilan 18 hari, mencit dikorbankan dengan cara dislokasi leher dan dilakukan nekropsi pengambilan hepar. Hasil Pemberian MSG dengan dosis 4 mg/g BB bersifat hepatotoksik dibanding kontrol (p= 0,041). Pemberian madu mampu mengurangi efek hepatotoksik MSG. Kesimpulan Madu mampu mengurangi efek hepatotoksik dari paparan MSG. Kata kunci : Kehamilan, lesi hepar, madu, monosodium glutamate (MSG). ABSTRACT Background Monosodium glutamate (MSG), a food additive that is still a controversial. High consumption of MSG will increase glutamate metabolism and free radical. Honey as antioxidant can remove free radical. The purpose of study was to determine the effects of honey therapy against hepatic lesions induced by MSG during pregnancy Methods The study was a true experimental with a completely randomized design (CRD), which consists of a control group (K) and four treatment groups (P1-P4). The control group (K) was given distilled water during gestation days 0-18. During of 0-18 days of gestation, P1 were given MSG 4 mg/g body weight (BW)/day, P2 were given honey 0.15 g/20 g BW/day, and P4 were given MSG 0.15 g/20 g BW/day and honey 4 mg/g BW/day. P3 were given MSG 4 mg/g BW/day on days 0-7 of pregnancy, and continued provision of honey 0.15 g/20 g BW/day on days 8-18 of pregnancy. At gestational age 18 days, each treatment and control mice were killed by cervical dislocation and then dissected for liver. Results Giving of high doses of MSG to mice during pregnancy, give hepatotoxic effect compare control (p=0.041). Giving honey can reduce hepatotoxic of MSG effect. Conclusion Honey was able to reduce the hepatotoxic effects of MSG administration. Key words: Hepatic lesion, honey, monosodium glutamate (MSG), pregnancy.
Hubungan Ekspresi Her-2/Neu, Skor Gleason dan Metastasis Tulang pada Adenokarsinoma Prostat Nina Mardiana; Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.697 KB)

Abstract

ABSTRAK Latarbelakang Prediksi sifat biologik adenokarsinoma prostat masih menjadi masalah. Umumnya, kanker prostat tidak menimbulkan keluhan (asimtomatik) walaupun kadang-kadang sudah ada metastasis. Oleh karena itu, dibutuhkan parameter yang bisa dipakai sebagai faktor prognostik sehingga pendekatan terapi bisa lebih tepat. Penelitian ini menganalisis hubungan ekspresi Her-2/Neu dan skor Gleason dengan kejadian metastasis tulang. Metode Penilaian dilakukan terhadap blok parafin penderita adenokarsinoma prostat yang didiagnosis di RSUD. Dr. Soetomo mulai Januari 2009-Mei 2012 dan memenuhi kriteria, sebanyak total 28 sampel. Kemudian dilakukan analisis hubungan masing-masing variabel dengan uji Spearman dan Chi Square. Hasil Ekspresi Her-2/Neu terbesar ialah kategori negatif (16/28 kasus). Sebagian besar kanker berdiferensiasi rendah (17/28 kasus). Jumlah sampel dengan metastasis 16/28 kasus. Uji hubungan antara ekspresi Her-2/Neu dan skor Gleason, antara ekspresi Her-2/Neu dan metastasis serta antara skor Gleason dan metastasis menunjukkan hubungan yang tidak bermakna. Kesimpulan Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara ekspresi Her-2/Neu, skor Gleason dan kejadian metastasis tulang pada adenokarsinoma prostat. Kata kunci : adenokarsinoma prostat, ekspresi Her-2/Neu, skor Gleason, metastasis tulang. ABSTRACT Background Prediction of prostate adenocarcinoma biological behavior is still a problem. Generally, prostate cancersdo not cause complaints although some times there arealready metastasized. Therefore, parameters are required which can be usedas prognostic factorsso that therapeutic approaches can be more precise. This study analyzed the correlation of Her-2/Neu expression, Gleason’sscore and the incidence of bone metastases. Methods Assessment was performed on paraffin blocks of prostate adenocarcinoma patients who were diagnosed in Dr. Soetomo hospital during January 2009-May 2012 and met the criteria, with a total of 28 samples. Each variable was analyzed with the Spearman and Chi Square test. Results Expression of Her-2/Neu was mostly included in the negative category (16/28 cases). Most of the cancers showed low differentiation or high grade (17/28 cases). The number of metastases was 16/28 cases. Statistical test which assa the relationship between expression of Her-2/Neu and Gleason’s score, between HER-2/Neu expression and metastasisas well as the Gleason’s score and metastasis showed no significant correlation. Conclusion There was no significant correlation between the expression of Her2/Neu, Gleason’s scoreand the incidence of bone metastases in prostate adenocarcinoma. Key words : Adenocarcinoma of the prostate, Her-2/Neu expression, Gleason’s score, bone metastases.
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan Karakteristik Kliniko-patologis pada Karsinoma Sel Skuamosa Serviks Linda Fatrisia; Jusuf Fantoni; Ika Kartika; Erial Bahar
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kanker serviks masih menjadi masalah yang signifikan di seluruh dunia. Angiogenesis sangat berperan dalam hal progresivitas, invasi dan metastasis.Vascular endothelial growth factor (VEGF) sebagai faktor angiogenik primer merupakan salah satu faktor prognostik karsinoma sel skuamosa serviks bila ekspresinya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi VEGF dan karakteristik klinikopatologis pada karsinoma sel skuamosa serviks. Metode Penelitian ini adalah penelitian cross sectional. Lima puluh tiga sampel terdiri atas 40 jaringan hasil biopsi dan 13 histerektomi diambil dari arsip di bagian Patologi Anatomi RSMH, dilakukan pulasan dengan antibodi VEGF, diidentifikasi dan dianalisis hubungannya dengan stadium klinis, derajat keganasan histologi, invasi limfovaskular, status limfonodus, kedalaman invasi dan keterlibatan parametrium. Hasil Ekspresi VEGF positif pada karsinoma sel skuamosa serviks lebih banyak dijumpai pada kelompok usia >50 tahun, stadium IIIB dan IVA, derajat keganasan semakin buruk, invasi limfovaskular dan status limfonodus positif serta kedalaman invasi stroma hingga 2/3 bagian luar dan tanpa keterlibatan parametrium. Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi VEGF dengan kategori usia (p=0,038) dan korelasi yang kuat antara persentase positif ekspresi VEGF dengan usia (r=0,709) dan derajat keganasan (r=0,897). Namun, tidak ada hubungan yang bermakna antara ekspresi VEGF dengan karakteristik klinikopatologis (p>0,05). Kesimpulan VEGF belum dapat digunakan sebagai faktor prediktor progresivitas pada karsinoma sel skuamosa serviks Kata kunci : Karsinoma sel skuamosa serviks, VEGF, karakteristik klinikopatologis. ABSTRACT Background Cervical cancer remains a significant problem worldwide. The angiogenesis has an important role in the progression, invasion and metastasis. VEGF is a primary angiogenic factor that is one of the prognostic factor of cervical squamous cell carcinoma if the expression of VEGF increases. This study aimed to determine the relationship between the expression of VEGF and clinicopatological characteristics of the cervical squamous cell carcinoma. Methods It was a cross-sectional study. Fifty-three samples of biopsy and hysterectomy tissue were from the archives of the Anatomical Pathology Department of RSMH, stained with VEGF antibody, identified and analyzed the relation to clinical stage, histological grade, lymphovascular invasion, lymph node status, depth of invasion and parametrial involvement. Results The positive expression of VEGF in cervical squamous cell carcinoma was more common in the age group > 50 years, stage IIIB and IVA, the worse histological grade, the positive invasion lymphovascular and lymph nodes status, deep of stromal invasion up to the outside 2/3 and without parametrial involvement. There was a significant correlation between the expression of VEGF and the age category (p=0.038) and a strong correlation between the percentage of positive expression of VEGF andthe age range (r=0.709) and the histological grade (r=0.897). There was no significant correlation between the expression of VEGF and clinicopatologic characteristics (p>0.05). Conclusion VEGF can not be used as a progression predictor factorof thesquamous cell carcinoma. Key words : cervical squamous cell carcinoma, VEGF, clinicopathologic characteristics
Ekspresi Topoisomerase II α pada Diffuse Large B Cell Lympho-ma dan Hubungannya dengan Respon Terapi Indri Windarti; Endang SR Hardjolukito; Maria Francisca Ham; Tubagus Djumhana Atmakusuma; Wulyo Rajabto
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.276 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kemoterapi pilihan untuk Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) adalah regimen yang mengandung doksorubisin. Doksorubisin merupakan obat kemoterapi golongan antrasiklin yang bekerja sebagai anti Topoisomerase II (Top2). Penelitian sebelumnya terhadap galur sel tumor menunjukkan bahwa ekspresi Topoisomerase II α (Top2A) yang tinggi berhubungan dengan sensitifitas terhadap antrasiklin yang tinggi pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi protein Top2A pada DLBCL dan hubungannya dengan respon terapi. Metode Studi potong lintang dilakukan terhadap 38 kasus DLBCL dengan pulasan CD20 positif, yang telah mendapat kemoterapi minimal 4 siklus. Imunohistokimia dilakukan pulasan terhadap protein Top2A dengan menggunakan H-score. Hasil Ekspresi Top2A ditemukan pada 37 dari 38 kasus (97%) dengan kisaran H-score 101,5-215,0 dan median 124,1. H-score nilai Top2A dikatakan tinggi jika H-score lebih dari 124,1. Analisis statistik menunjukkan bahwa ekspresi Top2A pada DLBCL tidak berhubungan bermakna dengan respon terapi (p=0,670). Kesimpulan Ekspresi Top2A dan respon terapi tidak memiliki hubungan bermakna. Ekpresi Top2A pada DLBCL tidak dapat dijadikan prediktor respon terapi. Kata kunci: DLBCL, Doksorubisin, ekspresi Top2A, respon terapi. ABSTRACT Background Standard of chemotherapy for Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) is a regimen containing doxorubicin. Doxorubicin is a component of anthracycline based chemotherapy that work as anti Topoisomerase II (Top2). Previous study on tumor cell lines showed that high expression of Topoisomerase II α (Top2A) was related to higher sensitivity to anthracycline as well. The aim of this study is to know the expression of Top2A and its relation to treatment response. Methods A cross-sectional study on 38 which DLBCL cases CD20 positive that have been treated with at least 4 cycles of chemotherapy. The immunohistochemical staining was performed on Top2A protein assesed using H-score. Results Expression of Top2A protein were found in 37 of 38 (97%) cases (H-score range: 101.5-215.0 and median 124.1). Value Top2A was defined as high if H-score more was higher than 124.1. Statistical analysis showed that Top2A expression in DLBCL was not significantly related to treatment response (p=0.670). Conclusion There was no significant relation between Top2A expression and treatment response. Top2A expression in DLBCL cannot be used as a predictor of treatment response. Key words: DLBCL, Doxorubicin, Top2A expression, treatment response.
Hubungan antara Microvessel Vessel Density (MVD) dengan Faktor Risiko Histopatologik Retinoblastoma Valentina I Bitticaca; Nurjati C Siregar; Saukani Gumay
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.08 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Retinoblastoma merupakan tumor ganas mata tersering pada anak, terutama usia di bawah 3 tahun. Penanganan kasus retinoblastoma didasarkan pada luasnya invasi sel tumor pada lapisan koroid, nervus optikus pre dan post laminar, sklera dan batas sayatan operasi yang merupakan faktor risiko histopatologi, dan dikelompokkan atas risiko rendah, menengah dan tinggi. Penilaian microvessel density (MVD) telah digunakan sebagai dasar terapi anti angiogenesis pada beberapa jenis karsinoma. Telah dilaporkan bahwa retinoblastoma dengan invasi koroid atau metastasis mempunyai nilai MVD yang lebih tinggi dibandingkan yang tanpa invasi lokal ataupun tanpa metastasis. Dalam penelitian ini dilihat hubungan antara MVD dengan faktor risiko histopatologik, selain itu dipelajari pula hubungan antara MVD dengan diferensiasi tumor dan usia. Metode Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan analitik terhadap 59 kasus retinoblastoma tanpa kemoreduksi di Departemen Patologi Anatomik FKUI-RSCM. Setelah dikelompokkan menurut risiko histopatologik, didapatkan 10 kasus risiko rendah, 17 kasus risiko menengah dan 32 kasus risiko tinggi. Dilakukan pulasan imunohistokimia CD31, dan selanjutnya dihitung MVD pada masing-masing kelompok, diikuti dengan analisis statistik antara MVD dan faktor risiko histopatologik. Hasil Didapatkan hubungan bermakna yang signifikan antara MVD dan faktor risiko histopatologik (p

Page 8 of 37 | Total Record : 369