cover
Contact Name
Jurnal Artefak
Contact Email
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Artefak
Published by Universitas Galuh
ISSN : 23555726     EISSN : 25800027     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ARTEPAK, diterbitkan olah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh. Jurnal ini memuat hasil penelitian atau kajian teoritis yang berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan profesi guru IPS, kajian Sejarah Lokal & Nasional, Kebudayaan, dan Pendidikan. Diterbitkan secara berkala Dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2019): September" : 6 Documents clear
TRANSFORMASI KESALIHAN SOSIAL ZAKAT, INFAQ, DAN SHADAQAH MASYARAKAT RANGKASBITUNG PADA TAHUN 1978-2017 Weny Widyawati Bastaman; Siti Sri Suhartini
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.099 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2663

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang adat istiadat yang ada pada masyarakat Dusun Kuta, dan bagaimana peran keluarga dalam mensosialisasikan kepada anggota keluarganya. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif serta penemuan kuantitatif yang mendukung. Selanjutnya data diinterpretasi, sehingga menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan dalam proses sosialisasi adat istiadat, keluarga memegang peranan yang amat penting, karena melalaui keluarga inilah anak-anak mengalami proses sosialisasi yang pertama dan mendasari semua proses sosialisasi lebih lanjut. Ibu, bapak mengajari anak-anaknya tentang sikap dan perilaku yang baik menurut adat dan harus dilakukan serta sikap dan perilaku yang tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan adat. Adat istiadat Dusun Kuta yang disosialisasikan itu, antara lain: perilaku dalam hidupan sehari-hari, pekerjaan dalam mencari/mendapatkan nafkah, bentuk dan bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah, syarat dan tatacara penentuan kuncen, larangan-larangan dan keharusan-keharusan yang berkaitan dengan keberadaan tempat-tempat yang dianggap keramat.Zakat, infaq and sadaqah have been known and carried out by Muslims for a long time. Along with the times in managing zakat, infaq and sadaqah experienced changes and developments. The method used in this study is a historical method consisting of topic selection, heuristics, namely; data collection consisting of primary data sources and secondary data sources, verification, namely; historical criticism or the validity of the source by means of internal criticism and external criticism, interpretation of data namely; interpretation of data that has been verified, and historiography, namely; write down the results of the study. The results of this study indicate that in the management of zakat, infaq, and sadaqah there are changes and developments. In the history of its development starting from traditional and now there are institutions that manage zakat, infaq, and sadaqah in a professional manner, in terms of management, which are initially consumptive but now more productive, and changes in social values from the implementation of zakat, infaq and shadaqah (muzakki) can better know the condition of the mustahik (zakat recipients). Whereas institutionally tend to only carry out obligations.
REVITALISASI EPISTEMOLOGIS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN: UPAYA MEMINIMALISIR BENCANA SOSIAL Bali Widodo; Egi Nurholis
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.367 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2583

Abstract

Tujuan tulisan ini untuk mengetahui bagaimana peranan Pendidikan Kewarganegaraan dalam meminimalisir terjadinya bencana sosial. Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, diuraikan secara jelas bahwa negara Indonesia dibangun atas adanya perbedaan suku bangsa, budaya, adat istiadat dan agama. Keberagaman ini rentan untuk terjadinya bencana sosial. Ketegangan sosial dan konflik horisontal serta teror masih acapkali terjadi. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai dan karakter Pancasila menyiapkan generasi muda menjadi warga negara Pancasilais yang cinta tanah air, mempunyai sikap untuk membela negara dan siap berkorban demi keutuhan bangsa dan negara. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif terhadap realitas yang ada dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran ilmiah yang alamiah dengan melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial dalam bentuk studi literatur. Dari hasil kajian literatur didapat bahwa revitalisasi epistemologis Pendidikan Kewarganegaraan dapat menguatkan karakter bangsa untuk meminimalisir terjadinya bencana sosial.This paper is intended to find out how is the role of Civic Education in minimizing the social disasters. In the history of Indonesia’s struggle, it is clearly explained that the state of Indonesia is built on the differences in ethnicity, culture, customs and religion. This diversity is vulnerable to social disasters. Terror, social tensions and horizontal conflicts among groups or communities still occur frequently. Civic Education as character education based on Pancasila values prepares young generation to become Pancasilais citizens who love the motherland, have attitudes to defend the country and are ready to sacrifice for the integrity of the nation and state of Indonesia. The research method used is a type of qualitative research that is descriptive towards the existing reality with the purpose of obtaining natural scientific truths by interpreting social phenomenon in the form of literature review. From the results of the literature study it was found that the epistemological revitalization of Civic Education can strengthen the nation's character in order to minimize the social disasters.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NILAI MULTIKULTURALISME DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH INDOENSIA Syarif Hidayat
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.623 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2582

Abstract

Pembelajaran sejarah Indonesia di kelas multikultural, siswa, guru praktek langsung menanamkan nilai pendidikan multikulturalisme dan terciptanya budaya belajar multikultural mampu menghasilkan motivasi siswa tentang Bhineka Tunggal Ika. Penelitian ini menggunakan metode Classroom Etnografi dengan pertanyaan masalah, implementasi pendidikan nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah Indonesia. Implementasi dari nilai multikulturalisme pada pembelajaran sejarah, siswa membuat konten video vlog dengan materi sejarah Indonesia seperti toleransi, menjaga keberagaman, plurarisme serta multikultural. Konten ini merupakan salah satu bagian dari pengembangan digitalisasi literasi sebagai alat untuk menangkal perang Cyber yang dikhawatirkan akan memecah belah bangsa dampak hoax.Learning the history of Indonesia in multicultural classes, students, practical teachers instill the value of multicultural education and the creation of a multicultural learning culture capable of producing student motivation about Unity in Diversity. This research uses the Classroom Ethnography method with problem questions, the implementation of multiculturalism value education in learning Indonesian history. Implementation of the value of multiculturalism in history learning, students create video vlog content with Indonesian historical material such as tolerance, maintaining diversity, pluralism and multiculturalism. This content is one part of the development of digitization as a tool to ward off the Cyberwarar which is feared to divide the nation's impact of hoaxes.
TRADISI UPACARA PERKAWINAN ADAT SUNDA (Tinjauan Sejarah dan Budaya di Kabupaten Kuningan) Agus Gunawan
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1312.603 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2610

Abstract

Perkawinan adalah peristiwa yang sangat penting, karena menyangkut tata nilai kehidupan manusia. Oleh sebab itu perkawinan merupakan tugas suci (sakral) bagi manusia untuk mengembangkan keturunan yang baik dan berguna bagi masyarakat luas. Hal ini tersirat dalam tata cara upacara perkawinan. Semua kegiatan, termasuk segala perlengkapan upacara adat merupakan simbol yang mempunyai makna bagi pelaku upacara. Di samping itu pelaku memohon kepada Tuhan agar semua permohonan dapat dikabulkan. Problem penelitian disini adalah mengapa masyarakat di Kabupaten Kuningan mayoritas beragama Islam, tetapi dalam setiap upacaranya masih ada yang menggunakan berbagai bentuk sesaji. Secara normatif, Islam mengajarkan bahwa hanya kepada Tuhanlah orang menyandarkan kebutuhannya, tidak melalui sesaji. Manusia bisa mengajukan permohonan secara langsung kepada Tuhan. Upacara perkawinan masyarakat di Kabupaten Kuningan diselenggarakan dengan cara sederhana. Upacara perkawinan ini ada beberapa tahapan, yaitu, pra perkawinan, perkawinan dan sesudah perkawinan. Pra perkawinan, dilakukan sebelum aqad nikah, seperti melamar, seserahan, dan ngeuyeuk seureh. Pelaksanaan perkawinan, seperti aqad nikah dan sungkem. Sesudah perkawinan, dilakukan setelah aqad nikah, seperti upacara sawer, nincak endog (telur), buka pintu, dan munjungan.Marriage is a very important event, because it involves the values of human life. Therefore marriage is a sacred duty (sacred) for humans to develop offspring that are good and useful for the wider community. This is implied in the marriage ceremony procedures. All activities, including all ceremonial equipment are symbols that have meaning for the performers of the ceremony. In addition, the offender pleads to God so that all requests can be granted. The research problem here is why the majority of people in Kuningan Regency are Muslim, but in each ceremony there are still those who use various forms of offerings. Normatively, Islam teaches that it is only to God that people rely on their needs, not through offerings. Humans can submit requests directly to God. The community wedding ceremony in Kuningan District was held in a simple way. This marriage ceremony has several stages, namely, pre-marriage, marriage and after marriage. Pre-marriage, carried out before aqad nikah, such as applying for marriage and making love. The implementation of marriage, such as marriage aqad and sungkem. After marriage, it is done after aqad marriage, such as sawer ceremony, nincak endog (egg), open the door, and munjungan.
TRADISI DAMA NYILI-NYILI DALAM MASYARAKAT TIDORE KEPULAUAN Farida Yusuf; Sidik Dero Siokona; Jamin Safi
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.609 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2441

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masayarakat Tidore Kepulauan, proses serta nilai-nilai dalam tradisi Dama Nyili-nyili pada masyarakat Tidore Kepulaun. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penilitian menunjukan bahwa masyarakat Tidore Kepulauan masih berpegang teguh pada adat dan tradisi leluhurnya karena memiliki makna dalam tata kehidupan masyarakat seperti tradisi dama nyili-nyili. Tradisi dama nyili-nyili adalah tradisi berkeliling masyarakat Tidore dengan membawa dama (obor) dan paji (bendera) dengan mengunjungi wilayah-wilayah atau daerah-daerah kesultanan Tidore. Proses ritual dama nyili-nyili diawali dengan sogoroho gunyihi (membersihkan tempat) yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya ritual, kemudian dilanjutkan dengan ratib taji besi (dabus). Ratib taji besi merupakan bagian dari dzikrullah atau mendoakan keselamatan dan kesejahteraan sultan, boki, (permaisuri), bobato, dan rakyat di Kesultanan Tidore. Setelah prosesi tersebut dilanjutkan dengan upacara kota paji (pelepasan bendera) dan dama. Upacara pelepasan dama dan paji diarak secara bergantian dari soa ke soa menuju kadato kie atau keraton kesultanan Tidore yang berkedudukan di Soasio. Nilai-nilai dalam tradisi dama nyili antara lain nilai-nilai religius dan persatuan. Nilai religius bermakna bahwa selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon kepada-NYA agar dijauhkan dari musibah. Sedangkan Nilai Persatuan bermakna bahwa keberagaman merupakan kodrat yang patut disyukuri. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan baik itu suku, agama, ras atau golongan menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.This study aims to determine the perceptions of the Tidore Islands community, the processes and values in the Dama Nyili-Nyili tradition in the Tidore Kepulaun community. The method used is a qualitative method. The results of the study indicate that the Tidore Islands community still adheres to the customs and traditions of their ancestors because they have meaning in the life order of the community such as the dama nyili-nyili tradition. The Dama Nyili-Nyili tradition is a tradition of traveling around the Tidore community by bringing dama (torches) and paji (flags) by visiting the regions or areas of the Sultanate of Tidore. The dama nyili-nyili ritual process begins with sogoroho gunyihi (cleaning the place) which is used as a place for the ritual, then followed by an iron spur ratib (dabus). Iron spurs Ratib is part of the Dhikrullah or pray for the safety and welfare of the sultan, boki, (empress), bobato, and the people in the Sultanate of Tidore. After the procession continued with the city ceremonies of paji (release of the flag) and dama. The release ceremony of dama and paji was paraded alternately from soa to soa to Kadato Kie or the Sultanate of Tidore sultanate based in Soasio. Values in the Dama Nyili tradition include religious values and unity. Religious value means that always draw closer to Allah and ask Him to be kept away from disaster. While the Value of Unity means that diversity is a nature that is thankful for. In social life, differences in terms of ethnicity, religion, race or class become a force in maintaining the unity and integrity of the nation.
PERAN KELUARGA DALAM SOSIALISASI ADAT ISTIADAT KOMUNITAS DUSUN KUTA Uung Runalan Soedarmo; Aan Suryana
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.852 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2660

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang adat istiadat yang ada pada masyarakat Dusun Kuta, dan bagaimana peran keluarga dalam mensosialisasikan kepada anggota keluarganya. Metode penelitian ini adalah metode kualitatif serta penemuan kuantitatif yang mendukung. Selanjutnya data diinterpretasi, sehingga menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan dalam proses sosialisasi adat istiadat, keluarga memegang peranan yang amat penting, karena melalaui keluarga inilah anak-anak mengalami proses sosialisasi yang pertama dan mendasari semua proses sosialisasi lebih lanjut. Ibu, bapak mengajari anak-anaknya tentang sikap dan perilaku yang baik menurut adat dan harus dilakukan serta sikap dan perilaku yang tidak boleh dilakukan karena bertentangan dengan adat. Adat istiadat Dusun Kuta yang disosialisasikan itu, antara lain: perilaku dalam hidupan sehari-hari, pekerjaan dalam mencari/mendapatkan nafkah, bentuk dan bahan yang digunakan dalam pembuatan rumah, syarat dan tatacara penentuan kuncen, larangan-larangan dan keharusan-keharusan yang berkaitan dengan keberadaan tempat-tempat yang dianggap keramat.This study aims to obtain the custom feature existing in the Kuta community, and how the role of the family in socializing to family members. This research method is a qualitative method and supporting quantitative findings. Furthermore, the data is interpreted, so that it produces descriptive data in the form of written words from people and observable behavior. While data collection techniques use observation and interviews. The results show that in the process of socializing customs, the family plays a very important role because through this family children experience the first socialization process and underlie all further socialization processes. Mother and father teach their children about good attitudes and behavior according to custom and it must be done as well as attitudes and behavior must not be done because it is against the tradition. The socialized customs of Kuta include, among others: behavior in daily life, work in looking for / earning a living, forms and materials used in the making of a house, terms and procedures for determining kuncen, prohibitions and necessities related to the existence of places considered sacred.

Page 1 of 1 | Total Record : 6