Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KUTA DALAM MEMBENTUK KARAKTER WARGA NEGARA BERWAWASAN LINGKUNGAN Bali Widodo; Egi Nurholis
Jurnal Artefak Vol 8, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.627 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i1.5127

Abstract

Perusakan lingkungan sebagai akibat ulah manusia dapat mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang berbasis kearifan lokal masyarakat Kuta dalam membentuk karakter warga negara yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini adalah penelitian konseptual dengan metode library research, yakni mengumpulkan data-data dari laporan penelitian, artikel ilmiah atau sumber lain yang relevan dengan topik. Analisis dari pembahasan ini menjelaskan bahwa kearifan lokal masyarakat Kuta yang secara turun temurun menjaga kelestarian hutan adat atau Leuweung Gede dapat membentuk karakter yang peduli akan lingkungan hidup yang baik dan bersih. Maka untuk membentuk karakter peduli lingkungan peserta didik perlu dilakukan upaya: 1) revitalisasi epistemologi Pendidikan Kewarganegaraan; 2) penanaman nilai keadaban masyarakat lokal terhadap lingkungan dalam proses pembelajaran; Upaya ini kemudian diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sehingga dapat menguatkan karakter peduli lingkungan peserta didik sebagai warga negara.Environmental destruction as a result of human activity can threaten human life itself. This study aims to examine the development of Citizenship Education learning based on the local wisdom of the Kuta community in shaping the character of citizens with an environmental perspective. This research is conceptual research using the library research method, which collects data from research reports, scientific articles, or other sources relevant to the topic. The analysis of this discussion explains that the local wisdom of the Kuta community which has been hereditary to preserve the customary forest or Leuweung Gede can form a character that cares about a good and clean environment. So to form a character that cares about the environment, students need to make efforts: 1) revitalizing the epistemology of Citizenship Education; 2) inculcating the value of the local community's civility towards the environment in the learning process; This effort is then applied in Citizenship Education learning so that it can strengthen the character of caring for the environment of students as citizens.
REVITALISASI EPISTEMOLOGIS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN: UPAYA MEMINIMALISIR BENCANA SOSIAL Bali Widodo; Egi Nurholis
Jurnal Artefak Vol 6, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.367 KB) | DOI: 10.25157/ja.v6i2.2583

Abstract

Tujuan tulisan ini untuk mengetahui bagaimana peranan Pendidikan Kewarganegaraan dalam meminimalisir terjadinya bencana sosial. Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, diuraikan secara jelas bahwa negara Indonesia dibangun atas adanya perbedaan suku bangsa, budaya, adat istiadat dan agama. Keberagaman ini rentan untuk terjadinya bencana sosial. Ketegangan sosial dan konflik horisontal serta teror masih acapkali terjadi. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai dan karakter Pancasila menyiapkan generasi muda menjadi warga negara Pancasilais yang cinta tanah air, mempunyai sikap untuk membela negara dan siap berkorban demi keutuhan bangsa dan negara. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif terhadap realitas yang ada dengan tujuan untuk mendapatkan kebenaran ilmiah yang alamiah dengan melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial dalam bentuk studi literatur. Dari hasil kajian literatur didapat bahwa revitalisasi epistemologis Pendidikan Kewarganegaraan dapat menguatkan karakter bangsa untuk meminimalisir terjadinya bencana sosial.This paper is intended to find out how is the role of Civic Education in minimizing the social disasters. In the history of Indonesia’s struggle, it is clearly explained that the state of Indonesia is built on the differences in ethnicity, culture, customs and religion. This diversity is vulnerable to social disasters. Terror, social tensions and horizontal conflicts among groups or communities still occur frequently. Civic Education as character education based on Pancasila values prepares young generation to become Pancasilais citizens who love the motherland, have attitudes to defend the country and are ready to sacrifice for the integrity of the nation and state of Indonesia. The research method used is a type of qualitative research that is descriptive towards the existing reality with the purpose of obtaining natural scientific truths by interpreting social phenomenon in the form of literature review. From the results of the literature study it was found that the epistemological revitalization of Civic Education can strengthen the nation's character in order to minimize the social disasters.
NILAI-NILAI FILOSOFIS BATIK BANJAR JAWA BARAT Indah Mulyani; Yeni Wijayanti; Egi Nurholis
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 2, No 3 (2021): OKTOBER
Publisher : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GALUH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.668 KB) | DOI: 10.25157/j-kip.v2i3.6008

Abstract

Batik khas Kota Banjar merupakan hasil kerajinan yang tercipta setelah diselenggarakan lomba desain batik oleh Dewan Kerajinan dan Kesenian Nasional daerah Kota Banjar pada tahun 2010, motif batik yang terpilih menjadi juara adalah Motif Tarum yang menggambarkan kondisi lingkungan Kota Banjar karya Heri Susanto, motif batik Tarum dijadikan juara lomba dan dijadikan batik Khas Kota Banjar yang diresmikan pada tahun 2011. Saat ini batik khas Kota Banjar dijadikan sebagai pakaian dinas yang wajib dikenakan oleh seluruh aparatur pemerintahan Kota Banjar setiap hari Kamis yang di atur dalam Perubahan Atas Peraturan Wali Kota Nomor 23 Tahun 2018. Kemudian pada tahun 2020 dilakukannya pengajuan hak paten terhadap motif-motif batik khas Kota Banjar pada Ditjen Haki (Hak Kekayaan Intelektual). Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam batik Kota Banjar meliputi nilai estetik, nilai ekonomi, nilai sosial-budaya dan nilai Pendidikan.
NILAI-NILAI FILOSOFIS TRADISI AMONG-AMONG DESA PURWADADI KABUPATEN CIAMIS Ajeng Febya Anindita Hartanto; Yeni Wijayanti; Egi Nurholis
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 3, No 1 (2022): FEBRUARI
Publisher : FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GALUH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v3i1.6673

Abstract

Tradisi among-among adalah alkulturasi tradisi Jawa yang telah berkembang dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Purwadadi. Tradisi among-among adalah salah satu syukuran sederhana kepada Allah SWT. Metode penelitian yang digunakan yakni metode sejarah (historis). Adapun langkah-langkah penelitian sejarah tersebut meliputi: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: studi literatur, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi among-among merupakan tradisi Jawa yang berakulturasi ke Desa Purwadadi, karena letaknya berbatasan dengan daerah Jawa Tengah. Tujuan adanya among-among yakni bentuk syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang di berikan. Biasanya among-among dilaksanakan pada siang atau sore hari. Makanan dan peralatan yang mengandung makna simbolik among-among yakni: nasi putih, bubur merah dan putih, urab (sayuran yang direbus), telur rebus, tampah, air dalam wadah yang diberi daun dadap, dan jajanan pasar. Nilai filosofis didalam tradisi among-among yakni nilai religi, nilai sosial, dan nilai pendidikan.
PELATIHAN WAWASAN KEBANGSAAN BAGI PERTAHANAN SIPIL (HANSIP) DI DESA KERTAHAYU KECAMATAN PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS Agus Budiman; Egi Nurholis; Terra Erlina
Abdimas Galuh Vol 2, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v2i2.4107

Abstract

Wawasan kebangsaan intinya adalah loyalitas warga terhadap bangsanya. Bentuk loyalitas bagi bangsa Indonesia diantaranya adalah: Mengakui bahwa warga negara Indonesia dengan sadar sebagai pendukung cita-cita dan tujuan yang menjadi jatidiri bangsa indonesia, seperti : Tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat Indonesia Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi berbagai persoalan Melandaskan diri pada keimanan dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa Wawasan kebangsaan harus dijaga, di pelihara dan di perjuangkan terus menerus. Paham integralistik/ cara berfikir integralistik menurut Prof. Mr. Soepomo akan memperkokoh wawasan kebangsaan. Ideologi Pancasila melandasi wawsan kebangsaan kita. Globalisasi akan berdampak positif bila ditujukan untuk perdamaian dunia. Perang modern sulit diidentifikasi sebagai suatu bentuk peperangan yang nyata, sehingga bangsa Indonesia harus hati-hati agar tidak teradu domba.The core concept of nationalism is the loyalty of citizens to their nation. Forms of loyalty to the Indonesian people include: Recognizing that Indonesian citizens are consciously supporting the ideals and goals that constitute the identity of the Indonesian nation, such as: Achieving national unity and integrity Achieving harmony, harmony and balance in all aspects of life Achieving fair welfare is born mind for all Indonesian society Occupying humans according to their nature, dignity and dignity Prioritizing deliberation to reach consensus in dealing with various problems Be based on faith and piety towards God Almighty. National insight must be guarded, maintained and strived for continuously. Integralistic understanding / integralistic thinking according to Prof. Mr. Soepomo will strengthen national insight. The Pancasila ideology underlies our national understanding. Globalization will have a positive impact if it is aimed at world peace. Modern war is difficult to identify as a real form of warfare, so that the Indonesian people must be careful not to be pitted against each other.
Revitalisasi Pancasila Sebagai Upaya Memupuk Pemahaman Multikultural Bagi Mahasiswa Universitas Galuh Egi Nurholis; Agus Budiman; Jeni Danurahman
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.338 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8941

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini terlihat dari kondisi sosial budaya dan geografis Indonesia yang sangat kompleks, beragam dan luas. Indonesia terdiri dari banyak suku, budaya, agama dan kelompok lain, yang semuanya secara bersamaan pluralistik dan heterogen. Namun, keragaman dapat menyebabkan perpecahan jika tidak semua warga memahaminya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu mengumpulkan dan membandingkan beberapa jurnal yang disusun, diseleksi dan diklasifikasi sehingga benar-benar memuat informasi yang relevan dan valid tentang multikulturalisme. Sejak didirikan, telah membentuk budaya Indonesia. Namun hari ini, pemahaman kita tentang multikulturalisme mulai berkembang dari konsep dasar ini. Isu kebhinekaan perlu dikaji secara mendalam agar masyarakat Indonesia tidak terlena dengan semboyan bahwa kebhinekaan adalah anugerah bukan kewajiban. Penamaan nilai-nilai Pancasila merupakan pendekatan konkrit terhadap persoalan multikultural di Indonesia, dengan demikian lima sila yang menjadi inti dari kesamaan semua bangsa yang berbeda warna menjadi prinsip dasar bangsa. , yang terkandung dalam dan merupakan salah satu sila Pancasila, tidak dapat dikembalikan. Bukan pula negara sekuler yang memisahkan urusan negara dan urusan agama, tetapi negara agama adalah negara kesatuan dalam Republik Indonesia yang merupakan negara positif yang disepakati oleh semua negara, termasuk semua penyelenggara negara yang agamanya beragam. berarti membutuhkan hukum. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi semua agama yang diakui, dan negara tidak boleh ikut campur dalam masalah keyakinan.
Ancaman Intoleransi Terhadap Dasar Negara Pancasila Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Ideologi Wilayah (Studi Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Periode 2019-2020) Agus Budiman; Otong Husni Taufiq; Egi Nurholis
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 28, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.61332

Abstract

ABSTRAKPancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia. Penerapan nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan oleh setiap warga negara Indonesia agar terciptanya warga negara yang baik serta mampu mengimplementasikan nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari seperti toleransi umat beragama sehingga akan meningkatkan ketahanan nasional. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui sejauh mana ancaman Intoleransi Terhadap Dasar Negara Pancasila dan Implikasinya Kepada Ketahanan Ideologi Wilayah terutama di Tasikmalaya.Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kasus dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data untuk menggambarkan respon dari suatu peristiwa pada periode tertentu, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi sedangkan untuk teknik analisis data pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan mengambil kesimpulan.Permasalahan mengenai ketahanan ideologi Pancasila saat ini menjadi polemik bangsa Indonesia. munculnya berbagai isu gerakan pembentukan negara berbasis agama sampai dengan praktik-praktik pemahaman dan perubahan ideologi di berbagai aspek kehidupan sikap intoleransi terhadap umat beragama salah satunya adalah pemahaman agama yang bersifat ekstrinsik Pancasila menjadi sebuah alat pemersatu bangsa Indonesia agar tidak terpecah belah,Pancasila adalah ideologi dan dasar negara kesatuan memiliki nilai yang digali dari Indonesia, artinya digali dan diambil dari kekayaan, rohani, moral dan budaya masyarakat dan bangsa Indonesia. Sikap toleransi harus ditegakkan untuk melawan sikap anti toleransi atau intoleransi yang semakin berkembang. Bhinneka Tunggal Ika dan nilai Pancasila dijadikan dasar dalam upaya membina kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Dokdak Desa Baregbeg Kecamatan Baregbeg Kabupaten Ciamis Berbasis Budaya Galuh Aan Suryana; Sri Pajriah; Egi Nurholis; Agus Budiman
Jurnal Artefak Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i1.10166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami sejarah dari kampung dokdak serta nilai-nilai kearifan lokal dari masyarakat kampung dokdak berbasis budaya Galuh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan design etnografi, melalui tahapan 1) Menetapkan informan, 2) Melakukan wawancara kepada informan, 3) Membuat catatan etnografis, 4) Mengajukan pertanyaan deskriptif, 5) Melakukan analisis wawancara etnografis, 6) Membuat analisis domain, 7) Mengajukan pertanyaan struktural yang merupakan tahap lanjut setelah mengidentifikasi domain, 8) Membuat analisis taksonomik, 9) Mengajukan pertanyaan kontras dimana makna sebuah simbol diyakini dapat ditemukan dengan menemukan bagaimana sebuah simbol berbeda dari simbol-simbol yang lain, 10) Membuat analisis komponen, 11) Menemukan tema-tema budaya, 12) Menulis sebuah etnografi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kampung dokdak sudah ada sejak puluhan tahun silam, sehingga selain memiliki nilai kearifan lokal, kampung ini memiliki nilai histori. Adapun nilai-nilai kearifan lokal masyarakat kampung dokdak, yaitu nilai nilai kesederhanaan, nilai kebersamaan, nilai kerjasama/gotong royong, nilai kemandirian, nilai tanggung jawab, nilai kerja keras, nilai kreatif, dan nilai konsisten dan berprinsip. Nilai-nilai keraifan lokal berbasis budaya Galuh dari masyarakat kampung dokdak dapat dilihat dari mata pencaharian yang dijalankan oleh masyarakat sekitar dan teknologi yang digunakan.
Nilai-Nilai Filosofis Simbol Galuh Kembang Cakra Rahayu Kancana Yunie Astrianie; Yeni Wijayanti; Egi Nurholis
Jurnal Artefak Vol 10, No 2 (2023): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ja.v10i2.12296

Abstract

The Cakra Rahayu Kancana symbol is an identity for the Galuh community in Ciamis Regency with philosophical values. The purpose of this research is to find out about the history and philosophical values of the Galuh Kembang Cakra Rahayu Kancana symbol. The method used in this research is a historical method with heuristic, criticism (external and internal), interpretation, and historiography stages. The results showed that the history of the rahayu kancana symbol stems from the legacy of Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475 AD) and the heritage of R.A.A Koesoemadiningrat (1839-1886 AD) during the Sunda-Galuh kingdom. The Galuh Cakra Rahayu Kancana symbol (Kembang Chakra) is found on the Astana Gede Kawali Site in inscriptions I and VI, while in the legacy of R.A.A Koesoemadiningrat, the Chakra is found on a trident or three-pointed spear at the Galuh Pakuan Museum. The philosophical value in the Cakra Rahayu Kancana symbol is about the spirit of leadership values conveyed by previous kings in the Sundanese-Galuh Tatars that the leadership that must be implemented is not only in the form of laws but must be carried out. going out well according to Tritangtu (tekad, ucap jeung lampah) must be aligned and balanced.
PEMANFAATAN SITUS CANDI RONGGENG SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH DENGAN MEDIA MORPH TRANSITION POWERPOINT UNTUK SISWA KELAS X IPS II MA FATHURRAHMAN Fauzan, Ahmad; Wijayanti, Yeni; Nurholis, Egi
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 4, No 3 (2023): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v4i3.11702

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan situs Candi Ronggeng sebagai sumber belajar Sejarah dengan media morph transition powerpoint untuk siswa kelas X IPS II MA Fathurrahman. Metode yang digunakan dalam  penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi/kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran Sejarah di MA Fathurrahman menggunakan metode ceramah. Sumber belajar yang dipakai oleh guru hanya dari buku paket yang disediakan sekolah. Pemanfaatan situs Candi Ronggeng sebagai sumber belajar Sejarah dilakukan melalui media powerpoint dengan fitur morph transition. Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan situs Candi Ronggeng sebagai sumber belajar adalah keterbatasan materi mengenai situs candi tersebut, keberadaan situs yang tertimbun tanah.Kata Kunci: Situs Candi Ronggeng, Sumber Belajar, Pembelajaran Sejarah, Media Morph Transition Powerppoint