Articles
240 Documents
Prakarsa Bugis-Mandar dalam Pendidikan Keagamaan di Lalowura Loea Kolaka Timur Sulawesi Tenggara
Yahya, Muh.;
Subair, Muh
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7118.063 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.260
Terbentuknya kota-kota yang multi etnis, multi Bahasa dan multi agamaselanjutnya disebut multi kultur antara lain didorong oleh pola migrasi yangdinamis. Perjumpaan masyarakat multi kultur kemudian mengahdirkan interaksisosial yang saling membutuhkan. Motif-motif awal perjumpaan mereka tidak dapatdominan mewarnai kehidupan keseharian. Pada gilirannya kehidupan sosialmasyarakat multi kultur berjalan saling berkontribusi dengan peran-peranberdsarkan potensi dan karakternya. Pada posisi inilah, tulisan ini hadir denganpendekatan kajian kulitatif deskriptif melalui rangkaian wawancara, observasi danstudi dokumen untuk menguraikan bagaimana peran migran Bugis-Mandar dalampengembangan pendidikan keagamaan di Desa Lalowura Kecamatan LoeaKabupaten Kolaka timur Sulawesi Tenggara. Masratakat etnis Bugis-Mandarsebagai masyarakat religious yang mayoritas mendiami Desa Lalowura memberiperhatian terhadap pendidikan keagamaan dengan upaya terbatas, yaitu terbatasdalam pendidikan cara belajar Alquran dan sedikit pengajian yang tidak rutin.Kendala utamanya adalah segi sumber daya manusia Desa Lalowura yang tidakmemiliki sosok ulama pemersatu yang dapat menjadi pengayom dan panutan.Masuknya faham-faham keagamaan yang ekslusif juga memperkeruh suasanadengan menciptakan friksi dalam masyarakat yang tadinya mayoritas akrab dengantradisi keagamaan. Kini, hadir faham baru yang menyesatkan pelaksanaan tradisikeagamaan yang kemudian menimbulkan polemik dan potensial memicu konflik.Karena itu, diperlukan perhatian dari pihak terkait untuk menurunkan potensikonflik tersebut dengan melakukan kegiatan pencerahan yang menyejukkan bagisemua kelompok masyarakat. Kata Kunci: Migran Bugis-Mandar,, pendidikan keagamaanfaham baru, tradisikeagamaan.
Peran Orang Bugis Mengembangkan Pendidikan Islam di Kota Injil Manokwari
Akmal, Akmal;
Muslim, Abu
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7009.395 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.261
Penelitian ini dilakukan dalam rangka melihat secara deskriptif PeranMigran Bugis di Manokwari Papua Barat dalam pengembanganPendidikan Keagamaan Islam. Posisi penelitian ini menjadi pentingmengingat secara kultural Manokwari dikenal sebagai Kota Injil.Sehingga pengembangan Pendidikan keagamaan Islam di sana menarikuntuk dilihat lebih jauh. Sementara itu, pranata yang dipraktikkan di masyarakat Bugis selalu bersendikan pada ajaran Islam meskipun beradadi tanah rantau. Demikian pula yang mereka lakukan di Manokwari,dimana mereka mengonsentrasikan diri dalam 3 tempat yakni kampungMakassar, Kampung Bugis, dan Andai. Pengembangan Pendidikankeagamaan di Manokwari dapat dipetakan dalam dua aspek, yakni pengembangan Pendidikan keagamaan by Person dan PengembanganPendidikan Keagamaan by Community. Pemetaan ini tidak terlepas dari pembagian peran dari para Migran Bugis ini menurut 3 corak peran yang dikembangkan yakni sebagai Fasilitator, Motivator, dan atau sebagai eksekutor pengembangan Pendidikan keagamaan di tanah rantau. Tidakdapat dipungkiri bahwa peran tokoh tertentu (seperti Haji Nur, Haji Ape,dan Haji Baharuddin Sabolla, serta tokoh lainnya) sebagai penggerak danfasilitator adalah corak yang paling menonjol di Manokwari. Hal ini karena para migran Bugis di Manokwari lebih banyak mendedikasikandirinya di bidang Ekonomi, Pertanian dan aspek Laut. Mereka umumnya menguasai pasar, pekerja proyek, dan penyuplai makanan dari hasiltangkapan laut, juga sekaligus menduduki peran penting di Lembaga keagamaan Islam seperti MUI.
KH. Ahmad Maruf Biografi dan Perannya Mengembangkan Islam di Baruga Kabupaten Majene
Syarifuddin, Syarifuddin
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7118.797 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.262
Kajian ini merupakan studi biografi yang menggambarkan perjalanan hidup KH. Ahmad Ma‟ruf sebagai seorang ulama yang mengabdi di pesantren dan masyarakat. Ahmad Ma‟ruf terlahir di daerah Baruga Majene dari seorang ayah yang juga seorang ulama yaitu KH. Ma‟ruf. Sejak kecil, ia belajar di Madrasah Arabiyyah Islamiyyah Baruga, sebuah lembaga pendidikan yang dirintis oleh bapaknya bersama ulama Baruga lainnya. Hanya saja, ia terpaksa meninggalkan kampung halamannya menuju Kota Jakarta ketika terjadi pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Di Ibukota, ia sempat belajar kepada KH. Abdullah Syafi‟i. Ia sempat bekerja PT. Airbaja, perusahaan besi yang cukup besar pada masa pemerintahan Sukarno. Disamping kesibukan sebagai karyawan, ia juga mengabdi sebagai da‟i dan imam masjid di Ibukota. Pada akhirnya, KH. Ahmad Ma‟ruf ke kampung ulama meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di ibukota dan mengabdi di masyarakat dan Pesantren DDI Baruga hingga ia wafat. Dalam pandangan masyarakat Majene, ia terkenal sebagai ulama yang bisa diterima semua golangan.
Nilai-Nilai Luhur dalam Pappasang Masyarakat Mandar
Ilyas, Husnul Fahima
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6737.735 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.263
Artikel ini membahas tentang pappasang berupa nasihat atau pesan bijak yang disampaikan dalam bentuk tutur (lisan) oleh penyampainya banyak bermuatan wasiat atau pesan-pesan leluhur yang berisi kaidah-kaidah atau norma kesusilaan. Fokus permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: Seperti apa wujud pappasang dalam masyarakat Mandar? Bagaimana masyarakat Mandar menyampaikan nilai-nilai keagamaan dalam pappasang kepada generasinya? Sejauhmana implemantasi nilai-nilai keagamaan pada pappasang dalam kehidupan masyarakat?. Tujuan penelitian untuk mengetahui wujud pappasang dalam masyarakat Mandar untuk mengetahui cara masyarakat Mandar menyampaikan nilai-nilai keagamaan yang ada dalam pappasang kepada generasinya. Mengidentifikasi implementasi nilai-nilai keagamaan pada pappasang dalam masyarakat Mandar. Metode yang digunakan berupa penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosial menelusuri pappaseng secara menyeluruh dari semua aspek. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari informan yang terdiri atas tetuah kampung tokoh adat, agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda. Sedangkan sumber tertulis berasal dari manuskrip atau naskah yang ditemukan di Mandar. Data primer dikumpulkan dengan berbagai macam cara, yaitu wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi pappasang di antaranya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan alamnya. Pappasang sebagai media untuk pembentukan jati diri dan menjadi salah satu landasan dalam mempertahankan nilai-nilai luhur yang ditanamkan oleh para leluhur orang Mandar yang membentuk manusia yang malaqbiq yang mengenal istilah siriq dalam kehidupan, adat istiadat agar mempunyai harga diri, kehormatan, dalam perwujudan sikap.
Relevansi Sejarah dan Budaya Bagi Pembangunan Sulawesi Barat
Idham, Idham
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7214.887 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.264
Mandar adalah nama salah suku bangsa di Sulawesi Selatan selain suku bangsa Bugis, Makassar, dan Toraja. Namun setelah terbentuknya Provinsi SulawesiBarat, Mandar menjadi suku mayoritas provinsi tersebut. Mandar, selain bermakna suku bangsa, ia juga bermakna teritorial dan nilai. Secara teritorial Mandar adalah wilayah provinsi Sulawesi Barat sekarang, dan adapun nilai keMandar-an dapat ditelusuri sebagaimana yang ada dalam tulisan ini. Tulisan ini menggunakan pendekatan studi pustaka. Tulisan ini berfokus pada pengertian sejarah dan budaya, serta memaparkan nilai-nilai puncak ke-Mandar-an yang masih relevan dengan pembangunan sebuah daerah, Sulawesi Barat. Tulisan ini menemukan bahwa kekayaan sejarah dan budaya Mandar mengandung unsur unsur dan nilai dinamis yang dapat menjadi acuan dan pedoman bagi masyarakat Mandar dalam berkiprah di tengah-tengah msyarakat dalam mengisi pembangunan bangsa. Nilai-nilai luhur tersebut juga dapat berdampingan akrab dengan nilai-nilai global (nilai efesiensi, produktifitas, dan nilai -nilai yang lain)yang akan menjadi sangat dominan dalam menyongsong masa depan pembangunan Provinsi Sulawesi Barat yang penuh dengan tantangan.
Pola Interaksi Migran Bugis dalam Pengembangan Pendidikan Agama di Kota Bitung
Nur, Muhammad
PUSAKA Vol 7 No 2 (2019): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6911.951 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v7i2.265
Penelitian ini mencoba menelusuri interaksi orang orang Bugis yang tersebar di belahan nusantara, khususnya di wilayah pesisir laut. Fenomena ini menarik untuk dikaji, tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan tentang bagaimana kehidupan migran Bugis di beberapa daerah khususnya di Kota Bitung, sekaligus menjelaskan peran migran Bugis dalam bidang sosial khususnya pengembangan pendidikan agama. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan tiga pendekatan yaitu studi dokumen, pengamatan langsung, dan wawancara, dengan informan kunci tokoh masyarakat dan agama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mereka orang-orang Bugis dalam perantauan mampu hidup berdampingan dengan suku migran lain dan menjunjung nilai budaya setempat sehingga bisa diterima keberadaannya. Karena itu, mereka hidup rukun bersama warga penduduk lokal. Salah satu sifat orang Bugis yang selama ini dikenal dengan tradisi senang merantau juga tidak terlepas dari keperdulian mereka terhadap pengembangan agama di dunia pendidikan jika berhasil dalam perantauan. Diantara mereka ada yang telah menjadi Pejabat Pemerintah setampat, Anggota DPR, TNI, dan Pengusaha.
Lasadindi: Ulama Pejuang Islam dan Tokoh Gerakan dari Tanah Kaili
Ilyas, Husnul Fahima;
Jefrianto, Jefrianto
PUSAKA Vol 2 No 1 (2014): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (396.983 KB)
Artikel ini mengungkap tentang kehidupan dan peran Lasadindi di Tanah Kaili sebagai ulama lokal yang berasal dari Sulawesi Tengah, yang memainkan peran dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus mengembangkan agama Islam di daerahnya. Selain itu tokoh lokal ini juga melibatkan dirinya ke dalam organisasi gerakan Syarikat Islam untuk memperjuangkan kemerdekaan. Keberhasilannya dalam mengemban misi Islam dianggap bisa membumikan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam kehidupan suku Kaili yang tradisional. Kehadirannya di tanah Kaili juga dikenal sebagai salah seorang Raja di Kerajaan Sindue, suatu kerajaan yang saat ini wilayahnya berada dalam Kabupaten Donggala. Data tersebut diperoleh dengan teknik wawancara, studi dokumen, kajian pustaka, dan observasi terhadap lingkungan tempat ulama semasa hidupnya.
MAKNA INSKRIPSI HURUF ARAB MIMBAR DAN RAGAM HIAS MASJID RAYA WATAMPONE KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN
Sultan, Muslihin
PUSAKA Vol 1 No 1 (2013): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (894.867 KB)
Tulisan ini adalah hasil penelitian arkeo-epigrafi, yaitu inskripsi huruf Arab pada mimbarmasjid raya disebut huruf serang, yaitu huruf Arab dalam bacaan bahasa Bugis yangbermakna tentang seorang perintis pembangunan masjid raya Watampone Bone. Ia adalahLa Mappanyukki Raja Bone ke 32 dan ke 34 pada tahun 1940. Masjid ini juga memilikiragam hias bangunan berciri Timur Tengah berpadu dengan seni bangunan lokal Bugisdisertai dengan hiasan tulisan kaligrafi Arab yang berisi tentang aya-ayat, hadis, kata-katahikmah, dan nama-nama tertentu dan masyhur yang ditulis oleh seorang kaligrafer Mesirbernama Syekh Abd. Aziz Albah. Adapun kandungan makna ragam hias tersebut adalahseruan Islam untuk memahami kandungan dan intisari ajaran Islam yaitu; penguatantauhid yang kokoh dan penegakan syariat Islam yang kuat, menyeimbangkan kehidupanduniawi dan ukharawy.Kata kunci: Inskripsi Arab dan Ragam Hias
Pengabdian Tanpa Pamrih Tangguru Jahido’ untuk Masyarakat Pangkep
Mustafa, Muhammad Sadli
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8947.817 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.311
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap biografi dan peranan Tangguru Jahido’ di masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangkep. Penelitian ini sifatnya kualitatif. Oleh karena itu, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen lalu dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gurunta Haji Abdul Mudjahid atau Tangguru Jahido’ merupakan seorang ulama yang bersahaja. Meski ia keturunan bangsawan dan ulama, namun ia tidak menonjolkan status sosialnya dalam bermasyarakat. Pendidikannya hanya sampai pada tingkat PGA, namun ilmunya pengetahuan dan pemahaman agamanya luas dan mendalam. Meski ia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai PNS namun ia tetap konsisten meluangkan waktunya untuk membina dan bergaul dengan masyarakat. Tangguru Jahido’ berperan penting dalam melayani dan membina agama masyarakat dan memakmurkan masjid. Ia juga berperan di bidang pendidikan bagi masyarakat baik sebagai guru di Madrasah dan PGA maupun sebagai pembina tajwi>d dan tila>wah untuk membebaskan masyarakat dari buta aksara dan ketidak fasihan membaca AlQur’an. Selain itu, cukup banyak karya tulisnya terkait pengetahuan agama yang diwariskannya kepada masyarakat. Prinsip yang ia pegang teguh dalam kehidupannya adalah "qul al-h}aqqu wa law ka>na murran". Ia merupakan sosok teladan bagi masyarakat dan dikenal sebagai ulama yang tawadhu, disiplin, jujur, berani, tegas, santun, serta dikenal dengan keikhlasannya dalam mengabdikan diri dan ilmunya pada masyarakat.
Tanda-Tanda Kematian: Representasi Budaya dan Agama dalam Naskah AOM
Hamsiati, Hamsiati
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8952.36 KB)
|
DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.312
Penelitian ini merupakan kajian naskah Allaibinengenna Orowane Makkunraiyye (AOM) yang mengkhusus pada satu pasal dalam naskah, pasal tentang tandatanda kematian yang terdiri dari 15 halaman dalam naskah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menyingkap gambaran tanda-tanda kematian dalam naskah AOM sebagai representasi budaya dan Agama. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif dipadukan dengan metode filologi. Sumber data penelitian ini adalah file digital naskah AOM yang merupakan koleksi Balai Litbang Agama Makassar dengan nomor katalog 02/Akh/BLA-Bon/2015. Adapun teknik-teknik analisis data yang digunakan melalui empat tahap sebagai berikut: Tahap pertama adalah deskripsi kodikologi naskah. Tahap kedua adalah transliterasi teks. Tahap ketiga yakni penerjemahan teks ke bahasa Indonesia. Tahap keempat yakni menjelaskan makna inti sari yang terkandung dalam teks tentang tanda-tanda kematian dalam naskah AOM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kajian teks naskah terdapat empat kategori tandatanda kematian dimana keempat kategori tersebut dihubungkan dengan femonena alam sekitar, Sesutu yang dilihat, diamati dan dirasakan melalui anggota tubuh, jejakjejak Nabi dan para khulafaurrasyidin serta empat cahaya di sisi yang merupakan cahaya malaikat. Tanda-tanda kematian yang terdapat dalam naskah ini merupakan kepercayaan sebagian masyarakat Bugis Muslim. Dan tanda-tanda tersebut akan terjadi bagi seseorang jika Allah berkehendak.