cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Islamisasi di Ajatappareng Abad XVI-XVII Yani, Ahmad
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.420

Abstract

Tulisan ini adalah kajian sejarah tentang islamisasi di Ajatappareg pada abad XVIXVII M. Ajatappareng merupakan kondeferasi lima kerajaan Bugis di sebelah barat danau Tempe dan danau Sidenreng. Kelima anggota konfederasi Ajatappareng adalah: Sidenreng, Sawitto, Suppa, Rappeng, dan Alitta. Islamisasi di Ajatappareng telah berlangsung pada abad XVI M. Namun, raja-raja setempat masuk Islam pada abad XVII M setelah kedatangan tiga muballigh dari Minangkabau Sumatera Barat ke Tanah Bugis. Di antara tiga muballig tersebut adalah Datuk ri Bandang, inilah yang ke Ajatappareng mengislamkan raja-raja setempat yang pada tahun 1607. Kedatangan Datuk ri Bandang di Ajatappareng atas rekomendasi Sultan Alauddin dari Gowa. Ajatappareng merupakan wilayah passeajingeng (kerabat) dari Gowa. Islamisasi di wilayah setempat berlangsung dengan damai.
Merajut Moderasi Beragama dari Tradisi Pesantren Massoweang, Abd Kadir
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.421

Abstract

Pondok pesantren selama ini menjadi salah satu arus balik pemikiran dalam merajut nilainilai moderasi dalam beragama, sehingga radikalisme agama mampu terhindarkan. Penelitan ini dilaksanakan di Pesanteren Lembaga Pendidikan Islam Pondok Karya Pembangunan (LPI-PKP) Manado, fokus masalah yang menjadi pembahasan adalah bagaimana gambaran pemikiran dan praktik moderasi beragama di pondok pesantren PKP yang menjadi sasaran penelitian. Metode pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian dan tidak lepas dari prinsip pengumpulan dan mengelolaan data yang dilakukan secara bersamaan selama proses penelitian di laksanakan. Wawancara dilakukan dengan sejumlah informan yang dianggap mengetahui betul dengan objek permasalahan, sedangkan observasi dilakukan sebagai penelusuran untuk mengamati kondisi objektif lingkungan pesantren dan kehidupan masyarakat sekitar secara langsung. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sistem pendidikan terpadu seperti khalaqah dan klasik adalah sistem pendidikan yang saling melengkapi dalam mencapai tujuan pendidikan di pesantren dan tidak berjalan sendirisendiri, seperti menyiapkan kader ulama yang mandiri, ikut bertanggungjawab atas kemendirian dan kemanjuan bangsa, serta mampu bersaing dan terampil dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan di dunia pesantren. Pemahaman moderasi beragama di pesantren teraktualkan dalam bentuk komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal.
Jaringan Intelektual Ulama Pinrang Syarifuddin, Syarifuddin
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.422

Abstract

Tulisan ini menggambarkan pola jaringan intelektual Pinrang. Studi menggunakan pendekatan ilmu sejarah sebagai sudut pandang dengan mengumpulkan sumber sejarah yang terkait. Oleh karena secara historis, studi ini dibatasi pada fase Abad XX. Beberapa ulama yang menjadi fokus kajian antara lain. Habib Hasan bin Alwi bin Sahl di Lero Pinrang, KH. Muhsen Umar, KH. Abd. Shamad, KH. Abd. Rahman Ambo Dalle. Pola pembentukan jaringan tersebut berupa jaringan intelektual yang belajar ke Mekah seperti Habib Hasan bin Alwi bin Sahl dan KH. Abd. Rahman Ambo Dalle. Secara khusus, KH. Abd. Rahman Ambo Dalle terlebih dahulu belajar ke Madrasah Arabiyyah al-Islamiyyah Sengkang di Wajo sebelum pergi ke Mekah. Pola pembentukan jaringan lainnya yakni berupa jaringan intelektual secara lokal yakni mereka belajar pada lembaga pendidikan yang berkembang pada masanya seperti pengajian tradisional di Salemo. Disamping itu, disebutkan diantara ulama tersebut juga belajar di Arabiyyah al-Islamiyyah Sengkang di Wajo di bawah asuhan KH. Muh. Asad. Selanjutnya, mereka pun kemudian mengembangan jaringan intelektual dengan melaksanakan pengajian kitab secara tradisional, mengajarkan tarekat serta mendirikan lembaga pesantren. Kata Kunci: jaringan intelektual, Darud Dakwah Wal Irsyad, ulama, pengajian tradisional.
Kearifan Lokal Sintuwu Maroso sebagai Simbol Moderasi Beragama Nur, Muhammad
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.423

Abstract

Moderasi beragama akan menjaga kemajemukan dalam masyarakat dan tidak mengandug paham tertentu, modal sosial merupakan nilai yang dimiliki oleh individu maupun kelompok yang dapat menjadikan mereka saling menghargai. Pluralisme sebagai elemen pengikat dan pemersatu bangsa, sedangkan perpecahan akan menimbulkan sikap ekstrem yang bisa memusuhi dan tidak memiliki faktor pemersatu. Kesadaran ini harus dibangun dengan sikap yang mengharuskan setiap individu atau kelempok dengan mengedepankan keseimbangan. Penelitian ini membahas nilai yang terkandung dalam Kearifan Lokal Sintuwu Maroso dapat di katakan bagian dari moderasi beragama serta bagaimana efektifitas nilai Sintuwu Maroso membangun dinamika moderasi beragama juga strategi apa yang mengandung unsur moderasi beragama dapat di implementasikan dalam kebijakan. Metode penelitian deskriptif kualitatif yang di gunakan dalam penelitian ini, melalui penelusuran kearifan lokal di masyarakat Pamona Poso. Dengan melakukan analisis data, informan penelitian terdiri dari informan kunci, informan ahli dan informan biasa, teknik wawancara sebagai instrumen pengumpulan data untuk mendukung penelitian. Hasil penelitian ini menemukan banwa Budaya Sintuwu Maroso merupakan budaya yang di miliki oleh Suku Pamona Poso, Tau Piamo (orang dahulu) merupakan leluhur mereka yang mewarisi budaya ini yang mempunyai ruh yaitu Mesale (gotong royong), mengandung nilai luhur yang bermanfaat dalam kehidupan sosial masyarakat. Kebijakan Pemerintah Daerah untuk menjadikan lambang Adat Suku Pamona Poso sebagai logo dan motto daerah, kesediaan masyarakat dalam mengikuti aktifitas yang disebut dengan istilah Mosintuwu, yaitu turut merasakan kesusahan orang lain dalam bentuk memberi sesuatu, dasarnya adalah kebersaamaan yang merupakan salah satu bangunan relasi sosial. Kebijakan strategis pemerintah daerah seperti himbauan untuk turut berpasrtisipasi dalam pesta adat, membangun simbol budaya, memasukan mata pelajaran muatan lokal pada satuan pendidikan, ikut sertanya aparat pemerintah dalam menjaga dan melestariankan nilai luhur budaya dari warisan para leluhur mereka.
Altruisme Islam, Transplantasi dan Donasi Organ: Pergumulan Agama dalam Wacana dan Praktiknya di Indonesia Mahyuddin, Mahyuddin; K, Abd. Halim; Iskandar, Iskandar
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.474

Abstract

Saat ini praktik tranplantasi sangatlah mendesak. Tranplantasi secara khusus donasi organ dibutuhkan untuk perpanjangan hidup. Karenanya, kebutuhan dan permintaan untuk transplantasi semakin meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menelaah peran lembaga agama dalam wacana dan praktik transplantasi di Indonesia. Penulis menganalisa fatwa ulama dan sikap masyarakat dalam merespons praktik transplantasi maupun donasi organ yang cenderung belum melembaga secara sosial. Penelitian menggunakan studi kepustaan dan menggunakan perspektif sosiologi agama dalam menjelaskan fenomena tersebut. Untuk melengkapi data yang ada, penulis menggali informasi dari penelitian-penelitian terdahulu baik melalui artikel jurnal maupun referensi buku yang merangkum Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) termasuk fatwa Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ada ambivalensi dalam diskursus praktik transplantasi dan donasi organ di Indonesia. Lembaga agama telah menyokong umat untuk membantu orang lain dengan semangat altruisme Islam. Sebaliknya, keyakinan agama telah menghambat praktik transplantasi. Institusi agama memainkan peran signifikan dalam mendorong praktik transplantasi dan donasi organ untuk kemanusiaan, tetapi pada saat yang sama banyak dari kalangan umat Islam sendiri belum bersedia menerima tersebut, di mana pertimbangan agama merupakan alasan utama mengapa masyarakat Muslim menolak untuk berdonasi organ.
Benar-Benar Bugis, di-(Bugis)kan dan Bugis Pura-Pura (Fragmen Adaptasi Kultural Migran Bugis di Sulawesi Utara) Jusman, Jusman; Muslim, Abu
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.475

Abstract

Penelitian dengan jenis Deskriptif Kualitatif migran Bugis ini, dilakukan di Desa Cempaka Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara. Fokusnya pada pengembangan Pendidikan Keagamaan yang dimotori oleh para Migran Bugis di tanah Rantau. Aspek Penguatan nilai-nilai keagamaan yang juga diterapkan di tanah kelahiran menjadi corak pengembangan Pendidikan keagamaan khas dilakukan oleh para Migran Bugis, dengan tetap menjadikan tokoh sentral guru/anreguru sebagai pusat pengajaran dan tempat bertanya. Fragmentasi kebugisan yang berkembang juga turut mempengaruhi kebertahanan nilai-nilai keagamaan khas Bugis yang diejawantah berdasarkan karakteristik masyarakat Cempaka yang spesifik dalam pengembangan di bidang Pertanian. Masjid sebagai pusat kajian keagamaan masih menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan. Asimilasi kebudayaan tempatan juga menjadi perhatian khusus dalam mengejawantah nilai-nilai keislaman yang dikembangkan, khususnya dalam beberapa ritual keislaman yang melibatkan orang banyak. Secara umum pengembangan Pendidikan Keagamaan Islam masih menggunakan dakwah kultural sebagai bagian integral penanaman nilai-nilai kebugisan yang spesifik Islam.
Peran Guru Pada Proses Belajar dari Rumah Selama Covid-19 di SMPN 1 Sungguminasa Gowa Sulawesi Selatan Rismawidiawati, Rismawidiawati; Maryam, Andi
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.479

Abstract

Pandemi COVID-19 ini tidak hanya membuat masyarakat Indonesia berada pada krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi serta krisis pembelajaran. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran nomor 4 tahun 2020 tentang Belajar dari Rumah (BDR) untuk mengatur pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada masa pandemi ini. Hal ini untuk mendorong dan menciptakan proses belajar dari rumah yang lebih efektif. Seluruh satuan Pendidikan memiliki perannya masing-masing. Tulisan ini fokus pada peran guru pada proses belajar mengajar selama COVID-19 di SMPN 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di daerah perkotaan ternyata juga menemukan kesulitan dalam melakukan proses belajar mengajar selama pandemi COVID-19 (Maret – Juli 2020). Peran guru yang tidak dapat berjalan efektif ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu sarana dan prasarana pendukung termasuk jaringan internet, siswa dan orang tua. Faktor internal yaitu kemampuan guru baik penggunaan sarana dan prasana maupun kemampuan membagi waktu karena pengaruh bekerja dari rumah (work from house/WFH). Di tengah keterbatasan pelaksanaan BDR, para guru di SMP 1 Sungguminasa memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk tetap memberikan pengajaran.
Literasi Tafsir Masyarakat Muslim Kota Makassar (Studi Pengajian Tafsir di Masjid al-Markas al-Islami Jenderal M. Yusuf Makassar Tahun 2019-2021) Nurfadilah, Nurfadilah; Mardan, Mardan; Sabry, Sadik
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.480

Abstract

Spirit literasi penting untuk diperhatikan oleh setiap elemen, terutama generasi milenial yang saat ini menjadikan media sosial sebagai wadah untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Spirit untuk mengamalkan ajaran agama diimbangi dengan pengetahuan agama yang mumpuni serta didapatkan dari sumber yang terkredibel pula. Masjid al-Markaz sejak dibangun sampai operasionalnya di tahun 1996, telah mencanangkan dirinya sebagai pesantren terbuka. Pada pengajian tafsir dilaksanakan pada hari rabu bakda magrib oleh narasumber yang berlatar belakang pendidikan tafsir. Pengajian berlangsung selama kurang lebih empat puluh menit. Pengajian yang diselenggarakan di masjid ini disiarkan melalui Radio Al-Markaz frekuensi FM 99.6. Para jamaah merespon baik adanya pengajian tafsir ini, di antaranya bahwa mereka dapat mengetahui makna dan tujuan suatu amalan. Sebab mengetahui makna dan tujuan amalan sangatlah penting, dapat menambah wawasan mengenai isi kandungan al-Qur’an, sebagai rujukan masyarakat dan juga sumber inspirasi untuk menambah wawasan keislaman yang moderat, ingin mendapatkan pahala dan keberkahan dari mengikuti pengajian tafsir di masjid alMarkaz al-Islami Jend. M. Jusuf. Melalui pengajian, masyarakat bisa mendapatkan pembinaan non formal secara efektif dan berkelanjutan.
Moderasi Beragama dalam Masossor Manurung di Bumi Manakarra Provinsi Sulawesi Barat Hamid, Wardiah
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.481

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan Moderasi Beragama dalam Masossor Manurung di Bumi Manakarra Provinsi Sulawesi Barat. Dimana berbagai kearifan lokal tumbuh dan mengandung nilai moderasi beragama diantaranya falsafah-falsafah hidup orang Mandar. Dan yang secara spesifik melihat secara mendalam Masossor Manurung menjadi ritual dan event penting konsolidasi keberagaman bagi masyarakat di tanah Manakarra. Metode pengumpulan data yang pergunakan yaitu wawancara mendalam dengan informan, studi dokumen dan observasi lapangan. Temuan lapangan menunjukan bahwa moderasi beragama dalam Masossor Manurung di Bumi Manakarra Provinsi Sulawesi Barat yang berkembang berupa falsafah-falsafah dan secara spesifik ritual masossor manurung memberi pengaruh efektif membangun potensi moderasi beragama tanpa memandang perbedaan agama dan suku. Kesulitan tentang perbedaan yang melingkupi kemajemukan kadang menjadi bias perbedaan yang saling mencurigai dan menjadi kekacauan suatu wilayah. Tetapi leluhur orang-orang Manakarra sangat jeli melihat kondisi di masa depan. Mereka menanamkan berbagai wejangan lewat falsafah hidup dan ritual untuk saling menghargai di dalam perbedaan agama suku dan strata sosial.
Peran Migran Bugis dalam Pendidikan Keagamaan di Berau Kalimantan Timur Syarifuddin, Syarifuddin
PUSAKA Vol 9 No 1 (2021): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v9i1.482

Abstract

Kehadiran Orang Bugis di Berau sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka kemudian menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sambaliung di Tanjung Redeb. Komunitas orang Bugis dari waktu ke waktu semakin bertambah. Hingga mereka diberikan sebuah wilayah yang akhirnya disebut sebagai Kampung Bugis. Keberadaan kampung tersebut menjadi sebagai gambaran peran penting komunitas Orang Bugis dalam berbagai aspek kehidupan termasuk kehidupan sosial dan ekonomi. Keberadaan mereka dari waktu-ke waktu semakin kuat. Bahkan, pada setiap kontestasi politik pemilihan bupati, orang Bugis termasuk komunitas yang sangat diperhitungkan. Pun demikian, dalam ranah ekonomi, Orang Bugis, banyak mengisi pasar di daerah Berau. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji peran keagamaan orang Bugis di Kabupaten Berau Kalimantan Timur, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara, obervasi dan studi dokumen. Secara garis besar, Orang Bugis banyak menghiasi berkembangnya ormas keagamaan di Berau seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Hidayatullah, Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI), Wahdah Islamiyah, Tarekat Khalwatiyah dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, mereka banyak berperan dalam berbagai macam kegiatan pendidikan keagamaan di masyarakat. aktifitas tersebut meliputi: Taman Pendidikan Alquran (TPA), Majlis Taklim dan Pengajian Muallaf. Di samping itu secara personal, banyak orang Bugis yang aktif sebagai tenaga pengajar di madrasah dan pesantren, serta sebagai dai di masyarakat maupun pembawa materi di Majlis Taklim. Di sisi lain, mereka juga menginisiasi pembangunan beberapa masjid di Tanjung Redeb Kabupaten Berau.