cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Kontribusi Pendidikan Keagamaan Migran Bugis Bagi Masyarakat Pasangkayu Sulawesi Barat Bachrong, Faizal
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8922.414 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.313

Abstract

Suku Bugis merupakan salah satu suku yang bermukim di Sulawesi Selatan, dan menjadi salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia yang sudah terkenal sejak lama dengan kegigihan dalam bekerja keras dan senang untuk merantau. Tentu saja yang menjadi salah satu tujuan mereka untuk merantau adalah dengan memperbaiki taraf hidup dan memperluas jaringan ekonomi agar tepap bisa bertahan. Masyarakat Bugis yang melakukan migrasi kehampir seluruh Wilayah Indonesia bahkan ke manca negara dapat memberikan warna baru dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Masyarakat Bugis yang melakukan migrasi turut dalam memberikan pengaruh dalam pengembangan bidang keagamaan yang menjadi daerah tujuan mereka bermigrasi. Salah satu peran Migran Bugis dalam perjalanan migrasinya ketika mereka berhasil dalam perantauan mereka berusaha megembangkan dakwah kagamaan sebagai salah satu bentuk keberhasilan mereka dan bentuk rasa sukur mereka, maka pengembangan pendidikan keagamaan adalah bentuk meraka dalam mengaktualisasikan dirinya dengan mendidrikan lembaga pendidikan seperti sekolah keagamaan dan Taman Pendidikan Al-Qur’an yang mereka kelola sendiri maupun melibatkan masyarakatsekitar.
Efektivitas Belajar Online Bahasa Indonesia pada Sekolah Dasar dan Madrasah Ibdtidaiyah di Kota Malang Jawa Timur Hamzah, Muh. Zuhdy
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9203.248 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.314

Abstract

Pandemi covid-19 telah merubah sistem pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online. Keterbatasan dan ketidakbiasaan menghadapi situasi sulit menimbulkan kreativitas dan inovasi pembelajaran. Situasi ini dijumpai dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di Kota Malang. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengamatan terhadap pembelajaran online siswa SD Brawijaya Smart School dan MIN 1 Kota Malang. Berdasarkan metodologi pembelajaran bahasa, ditemukan adanya keterbatasan penggunaan metode pengajaran secara online. Khususnya terkait teknis pembelajaran untuk mengoperasionalkan instruksi metode menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Karena itu, diajukan beberapa alternatif penggunaan teknik pembelajaran seperti: simak-kerjakan, simak tulis, membuat rangkuman dan simak-terka. Teknik-teknik ini dapat dikembangkan oleh guru bersama siswa agar tidak bosan dan tetap berorientasi pada pencapaian target belajar.
Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Al Risalah Batetanga Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat Hamid, Wardiah
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8844.103 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.328

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme pembelajaran kitab kuningdi pondok pesantren, serta mendeskripsikan problem dan solusi yang dihadapdalam mempelajari kitab-kitab tersebut. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif deskriptif yang memotret pembelajaran kitab kuning di pondokpesantren. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri sebagai ciri khas dari penelitian kualitatif Teknik pengumpulan data yangdipergunakan adalah wawancara, dokumentasi dan obseservasi. Hasil penelitianini menunjukan bahwa mekanisme pembelajaran kitab kuning di pondokpesantren yang bertipe Salafiyah dalam hal ini Pondok Pesantren Al Risalahmenunjukkan kitab-kitab tersebut digunakan dalam proses pembelajaran. Adapunproblem dan solusi yang dihadapi dalam pembelajaran kitab kuning salah satunyaadalah tingkat kecerdasan anak yang bervariasi sehingga diperlukan tenaga ekstrauntuk mengajar anak-anak ini adalah salah satu kendala proses pembelajaranBeberapa kasus yang terjadi anak-anak yang latar belakangnya berasal dari SDumum belum mampu mengaji dibuatkan kelas khusus serta jam pelajaran metode iqra’. Sehingga pembelajaran pun terasa lambat karena menunggu kemahiran anaksantri dalam mengenal huruf hijaiyah.
Penanaman Karakter Islami Melalui “Pohon Ketaatan” pada Anak TK Taman Ria Tanuntung Bulukumba Halifah, Syarifah
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9094.564 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.333

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penanaman karakter dalam konsep“pohon ketaatan”, yaitu konsep yang mendorong peserta didik untuk mengaplikasikan rasa syukur, meningkat, dan bermanfaat. Penelitian ini adalah studi kasus pada TK Taman Ria Tanutung Bulukumba Sulawesi Selatan. Fokusutama adalah anak usia 5-6 tahun yang diobservasi untuk melihat perkembangan perilakunya. Hasil penelitian menunjukkan adanya anak yang masih berperilaku tidak sesuai konsep pohon harapan. Hal itu disebabkan karena adanya anak tersebut diistimewakan (misalnya dia adalah anak seorang guru), anak yang pendiam, dan aktif. Kemudian setelah penanaman karakter melalui pohon ketaatan diterapkan. Anak-anak yang tadinya berperilaku tidak sesuai dengan “pohon ketaatan” karena faktor diistimewakan dapat mengalami perubahan, sebagaimana tergambar pada anak usia dini kelompok B TK Taman Ria Tanutung, yang mana sudah dapat memahami rasa bersyukur, meningkat dan bermanfaat untuk menanamkan sikap kebajikan, berpikir baik, berperasaan baik dan berperilaku baik. Ini menunjukkan efektivitas pohon ketaatan untuk pembinaan anak usia dini.
Rekonstruksi Makna Syukur dalam Al-Qur’an Berdasarkan Kitab Kuning Subair, Muh
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9504.76 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.337

Abstract

Syukur bukan sekedar berterima kasih atas suatu nikmat atau kebaikan yang diperoleh. Bahkan syukur mempunyai pesan yang lebih luas dari sebuah kata syukur itu sendiri. Melalui pengkajian tafsir maudhui, artikel ini menggali makna syukur dari kitab-kitab kuning, yang menampilkan kedalaman makna syukursecara leksikal dan terkompromi secara maknawi dari ayat-ayat Al-Qur’an. Makna leksikal tersebut digali dari akar katanya yang paling dalam, dengan melakukan perbandingan makna dari pengertian-pengertian yang sinonim, kemduian hasil perbandingan tersebut disandingkan dengan makna yang sesuai dengan pesan Al-Qur’an. Hasil kajian ini menemukan adanya ekspresi syukur yang bersifat umum yang dapat dikenali secara lisan, yang diteguhkan dengan hati dan dibuktikan dengan perbuatan. Terdapat juga ekspresi syukur secara khusus atau secara hakikat, syukur adalah menampakkan nikmat dan menyebarkannya dalam kehidupan. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan hidup, sehingga seorang kaya disebut ghina karena dia diinginkan untuk berbagi untuk mendapatkan keseimbangan. Tanpa berbagi seseorang akan merasakan dampak suram dengn konsekuensi kebencian. Karena itu wujud syukur adalah kebaikan yang bertambah, balasan syukur adalah hakikatnya adalah cinta dan balasan bagi yang tidak syukur hakikatnya adalah benci. Karena itu, manfaat syukur akan senantiasa kembali kepada manusia itu sendiri.
Nilai-Nilai Religius dan Tradisi Ziarah Kubur Makam Syekh Baribin di Desa Sikanco Kecamatan Nusawungu Cilacap Azis, Donny Khoirul; Lestari, Tri
PUSAKA Vol 8 No 1 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9053.204 KB) | DOI: 10.31969/pusaka.v8i1.338

Abstract

Perlakuan sebagian masyarakat dalam menyakralkan atau mensucikan makam orang suci dilakukan dengan cara menziarahi makamnya yang dijadikan tradisi atau bagian dari ibadah. Seringkali mereka melakukan tawasul atau meminta sesuatu kepada Tuhan melalui perantara wali yang disucikan itu. Pada masa dahulu ziarah memang tidak diperbolehkan oleh Rasulullah lalu kembali diperbolehkan karena dalam ziarah terdapat banyak manfaat yang salah satunyadapat mengingat pada kematian. Intinya ziarah kubur bukan dimaksudkan untuk syirik. Tulisan ini merupakan penelitian analisis deskriptif, dengan studi lapangan yang bersifat kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya nilai-nilai religius dalam tradisi ziarah kubur makam Syekh Baribin yang dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu nilai Ibadah, Nilai Aqidah dan Nilai Akhlak. Tradisi Ziarah Kubur Makam Syekh Baribin di Desa Sikanco yaitu tahlil kubur pada malam Jumat yang dilaksanakan pada jam 12 malam dengan membaca yasin 40 kali, tahlil kubur pada malam Jumat setelah maghrib, hari keramat Kamis wage Jumat kliwon acaranya dilakukan dari siang sampai malam.
Tradisi Siklus Hidup Masyarakat Perkotaan di Era Normal Baru Melina, Mita; Sany, Ulfi Putra; Mustolehudin, Mustolehudin
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.413

Abstract

Tradisi merupakan suatu adat kebiasaan atau budaya yang dilakukan secara terus-menerus dalam lingkup kehidupan suatu masyarakat. Umumnya tradisi dilaksanakan di lingkup pedesaan, atau daerah-daerah terpencil yang masih mempraktikkan budaya-budaya lokal dan jauh dari pengaruh globalisasi. Berbeda dari tradisi yang lazim dilakukan di pedesaan, kajian ini membahas tradisi yang hidup di lingkup perkotaan. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif ini, bertujuan untuk mengungkap tradisi siklus hidup yang dilakukan masyarakat di Kota Semarang pada masa adaptasi kebiasaan baru. Dalam penelitian ini ditemukan fenomena bahwa tradisi yang dilakukan masyarakat perkotaan di era normal baru mengalami perubahan disebabkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi virus Covid 19. Meskipun terkendala dengan wabah Corona, tradisi ini tetap dilestarikan dengan mematuhi protokol kesehatan. Tradisi ini mengakomodasi nilai-nilai ajaran Islam dan tradisi lokal. Melalui tradisi siklus hidup ini telah terjadi akulturasi Islam dan budaya Jawa. Dalam ritual upacara mapati, mitoni, puputan, selapanan dan tedhak siten terdapat nilainilai ajaran Al Qur’an pada tradisi tersebut.
Mengilhami Kreativitas Keberagamaan Masyarakat Melalui Perjumpaan Islam dan Patuntung di Tanah Toa Kajang Sylviah, Sylviah; Muslim, Abu
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.414

Abstract

Relasi Islam dan agama lokal sebagai bagian dari perjumpaan keberagamaan dan kebudayaan masyarakat, merupakan kajian khazanah keagamaan yang salah satu tujuannya adalah untuk melihat bagaimana eksistensi agama dan kepercayaan lokal itu dalam menghadapi pengaruh doktrin dan narasi keberagamaan dari luar. Setelah melakukan wawancara, observasi, telaah dokumen naskah, dan inventarisasi tradisi lisan, dengan mengacu pada pendekatan sejarah, penelitian ini menemukan bahwa Tanah Toa Kajang sebagai semua komunitas lokal dengan kepercayaan patuntung yang telah mandarah daging, dapat tetap menjalankan ajaran keagamaan yang dianut, dengan melakukan adaptasi kultural dengan Islam sebagai agama yang hadir dan menawarkan perspektif baru tentang perilaku keberagamaan, namun oleh komunitas kajang justru dengan idealisme dan kepantuntungan yang dimiliki justru menklaim bahwa pada prinsipnya ajaran yang dibawa itu adalah ajaran yang juga telah lama dipegangi. Sesungguhnya Islam itu pada dasarnya lebih duluan lahir di tana toa kajang kemudian tersebar ke luar. Bangunan narasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan Patuntung berhasil melakukan negoisasi keberagamaan dengan Islam, tanpa harus ada yang menaklukkan dan ditaklukkan. Dengan kreatifitas yang mereka miliki, mereka berhasil menerjemahkan Islam sesuai dengan lokalitas dimana mereka berada.
Makna dan Simbol Pada Tradisi Pembacaan Ratek Mauduk di Komunitas Makassar Ilyas, Husnul Fahima
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.417

Abstract

Seni tradisi ratek merupakan bentuk budaya tradisional dilaksanakan dalam bentuk ritual yang disakralkan dalam bentuk pelaksanaan mauduk (maulid). Fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah apa makna dan simbol yang terdapat dalam tradisi pembacaan Ratek Mauduk di komunitas Sayyid Al-adid? apa fungsi dan makna yang terkandung dalam Ratek Mauduk? Tujuan penelitian untuk mengungkap makna simbol yang terdapat dalam tradisi pembaca Ratek Mauduk baik berupa gerak ataupun smbol-simbol yang digunakan dalam proses Mauduk. Selain itu mengungkap fungsi dan makna yang terkandung dalam pembacaan Ratek Mauduk. Hasil temuan penelitian ini mengungkapkan bentuk-bentuk ekspresi dari komunitas Sayyid Al-Aidid yang diekspresikan dengan mengkombinasikan suara dan gerak. Gerak yang dilakukan ketika akratek dideskripsikan sesuai dengan penafsiran masyarakat setempat dan berdasarkan pada teori simbol dan makna. Terdapat enam gerakan inti dalam pembacaan ratek: tafakkuruk, laharak, parrannu-rannuang ri nabiya, dipatarek limayya dan buang takaberek, katterek, dan aknganro. Selain itu terdapat perlengkapan ritual yang wajib hadir dalam ritual Mauduk. Keseluruhan perlengkapan dan gerak ini mnegandung nilai-nilai religius yang bersifat sakral dalam kehidupan komunitas Sayyid Al-Aidid untuk keselamatan dunia dan akhirat. Selain itu makna simbolik berisi tentang pemahaman syariat, makrifat, tarikat, dan hakikat sesuai dengan pemahaman masyarakat Sayyid dalam menerapkan ajarannya.
Korelasi Fungsional Kalender Islam dan Pembayaran Zakat Syarif, Muhammad Rasywan; Naif, Naif
PUSAKA Vol 8 No 2 (2020): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v8i2.419

Abstract

Tulisan ini menjelaskan sejauh mana pengaruh kalender Islam sebagai kalender keseharian umat Islam dari berbagai aspek, baik ibadah maupun muamalah. Adapun jenis penelitian kualitatif kepustakaan (library research) melalui pendekatan normatif kasuistik. Metode analisis data dalam penelitian ini bersifat kualitatif dengan penalaran deduktif. Penalaran deduktif yang disebut juga dengan penalaran bersifat normatif menjabarkan ideal normatif. Hasil penelitian menunjukan di antara salah satu keunggulan praktisnya dibandingkan kalender masehi adalah selisih 11 hari setiap tahun. Betapa besar urgensi penetapan waktu kalender Islam atau Hijriah yang berkaitan dengan ibadah khususnya zakat fitrah dan zakat maal. Eksitensi Kalender Hijriah dapat menguntungkan dan mendapatkan pahala atas keabsahan ibadah sedangkan tidak mempergunakan kalender Hijriah akan bermuara pada kerugian. Sehingga wajib umat Islam melaksanakan kewajibannya dalam pembayaran zakat menggunakan kalender Islam atau sesuai dengan peredaran bulan bukan peredaran Matahari/kalender Romawi. Sebab alangkah naifnya mengatas namakan ibadah namun tidak mempergunakan kalender Islam. Konsekuensinya, hal tersebut berdampak kepada aktifitas dan transaksi ekonomi dengan pertimbangan bahwa pada setiap 30 tahun kalender Masehi tentu menguntungkan satu tahun kalender Hijriah.