cover
Contact Name
Samsuar
Contact Email
samsuarsil@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
samsuarsil@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Agritechno
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 19797362     EISSN : 26562413     DOI : -
Jurnal AgriTechno merupakan publikasi yang diterbitkan oleh Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin. Edisi Perdana terbit dalam bentuk cetakan pada Bulan April 2008. Jurnal ini ditujukan sebagai wahana publikasi hasil-hasil penelitian dasar dan aplikatif yang bermutu dan orisinil. Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang teknik tanah dan air, teknik pasca panen, bangunan dan lingkungan pertanian, aplikasi elektronika dan sistim kendali, peralatan dan mesin budidaya, energi alternatif dan elektrifikasi, teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, keamanan dan mikrobiologi pangan, bioteknologi, dan kimia pangan. Setiap artikel yang dimuat diharapkan dapat memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu dan meningkatkan pengetahuan tentang bidang ilmu dan teknologi yang terkait.
Arjuna Subject : -
Articles 195 Documents
Karakteristik Pintu-pintu Air di Daerah Irigasi Bantimurung Kabupaten Maros Risnawati Risnawati; Mahmud Achmad; Ahmad Munir
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.233 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.56

Abstract

Pintu air merupakan hal urgen dalam operasi pengalokasian air. Karakteristik pintu air memiliki peranan dalam keakuratan/ketepatan alokasi jumlah air sehingga perlu dilakukan pemantauan secara berkala untuk menjamin keberfungsiannya dengan baik. Penelitian ini dilakukan dengan maksud memberikan gambaran kondisi fisik bangunan irigasi dan karakteristik operasi pintu-pintu air irigasi di daerah irigasi Bantimurung Kabupaten Maros. Adapun prosedur penelitian yang dilakukan yaitu inventarisasi, penilaian kondisi fisik, pengukuran (tinggi air di hulu pintu dan kecepatan aliran di hilir pintu), selanjutnya dilakukan analisis koefisien pengaliran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik jaringan irigasi Bantimurung telah mengalami perubahan terutama pada bangunan yang mengatur pengaliran air. Perubahan utama pada karakteristik pengaliran air ditunjukkan dengan terjadinya perubahan koefisien pengaliran yang diakibatkan oleh beberapa faktor termasuk kondisi saluran irigasi, berubahnya profil saluran, perubahan profil saluran (pengaruh sedimentasi dan gerusan), keretakan dan bocoran pada dinding saluran. Penyebab lainnya adalah karena sistem operasi pintu air sudah tidak sesuai dengan pedoman operasi pintu air
Karakteristik Penurunan Kadar Air dan Perubahan Volume Bengkoang (Pachyrizus erosus) Selama Pengeringan Rizka Amaliah; Junaedi Muhidong; Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.775 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.57

Abstract

Pola penurunan kadar air pada pengeringan bengkoang (Pachyrhizus erosus) terjadi akibat perbedaan suhu serta bentuk bahan. Penelitian karakteristik penurunan kadar air dan perubahan volume selama pengeringan menggunakan bahan utama berupa bengkoang (Pachyrhizus erosus). Proses pengeringan bahan menggunakan alat pengering tipe batch dryer, bengkoang dikeringkan dengan menggunakan variasi suhu yaitu 400C, 500C, 600C serta bentuk yaitu bentuk bulat dan kotak. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu, maka akan semakin cepat laju pengeringan baik bahan dengan bentuk bulat ataupun kotak. Sampel dengan suhu 600C (baik bentuk bulat maupun kotak) membutuhkan waktu yang lebih singkat (waktu pengeringan 8 jam) untuk mencapai kadar air kesetimbangan dibandingkan dengan sampel yangmenggunakan suhu 400C ataupun 500C. Penelitian ini menggunakan 6 model pengeringan untuk mendeteksi perilaku MR. Enam model yang dimaksud adalah model Newton, model Henderson dan Pabis, model Page, model Modified Page, model hii et all dan model Two Term. Persamaan model Hii et al untuk 3 tingkatan suhu dan dua bentuk sampel yang berbeda menunjukkan nilai R2 yang lebih besar dibandingkan dengan 5 persamaan model lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa model Hii et al adalah model terbaik untuk merepresentasikan laju pengeringan dari bengkoang karena memiliki nilai kesesuaian yang besar terhadap karakteristik pengeringan pengeringan bengkoang.
Pola dan Kapasitas Drainase Daerah Irigasi Bantimurung Kiri Fika Fikria; Mahmud Achmad; Daniel Useng
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.264 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.58

Abstract

Irigasi yang baik dilengkapi dengan fasilitas pembuangan kelebihan air. Saluran pembuangan dirancang secara teknis untuk mampu membuang limpasan air hujan. Kecamatan Bantimurung tepatnya Desa Minasabaji, hampir setiap tahun pada bulan Januari mengalami banjir atau genangan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu informasi kapasitas maksimum saluran pembuangan yang ada pada wilayah tersebut. Dengan pemanfaatan penginderaan jauh berupa data Digital Elevation Model (DEM) kita dapat menganalisis pola saluran pembuangan. Tujuan dari penelitian ini untuk untuk mengetahui pola aliran dan kapasitas drainase. Pola aliran analisis DEM diolah menggunakan software GIS kemudian membandingkan dengan pola aliran hasil survey. Pengukuran kapasitas saluran dilakukan dengan tiga kali pengamatan banjir dan mencatat perubahan tinggi muka air (TMA) pada setiap 15 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas maksimum saluran pembuangan adalah 4,237 m3/s. Terdapat perbedaan pola aliran hasil analisis flow direction. Ketidaksesuaian antar pola DEM dengan hasil survey disebabkan oleh faktor lahan pertanian yaitu sawah telah mengalami perubahan, faktor DEM itu sendiri baik pada saat pengolahan DEM dan saat perekaman DEM.
Rheology Cokelat Dari Formulasi Bubuk Kakao dan Margarin Suhriani Suhriani; Salengke Salengke; Suhardi Suhardi
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 1, April 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.676 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i1.59

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan tanaman kakao terluas di dunia, dan menjadi negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory Coast dan Ghana. Kakao (Theobroma cacao L) masih merupakan komoditi utama di Sulawesi, sekitar ± 70 % dari volume ekspor kakao Indonesia berasal dari Sulawesi. Karakteristik yang diinginkan dari produk cokelat meliputi rasa yang khas dan tekstur yang lembut. Rasa dan tekstur produk cokelat sangat ditentukan oleh formulasi dan kehalusan partikel sehingga kedua faktor ini sangat mempengaruhi sifat rheology dari cokelat yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui sifat rheology dari formulasi bubuk kakao dan margarin sebagai pengganti lemak dari bubuk kakao, dengan penambahan pengemulsi. Setelah semua bahan ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam mesin pemasta cokelat (ball mill mini) yang sudah diatur suhunya dengan 60°C dan lama proses penghalusan cokelat sekitar 5 jam. Setelah semua bahan tercampur rata menjadi pasta kemudian melanjutkan untuk proses conching. Berdasarkan perhitungan yangdilakukan,Karakeristik rheology cokelat cair dengan formulasi bubuk kakao dan margarin dapat ditentukan dengan menggunakan metode Mitschka.Rheology cokelat cair yang diformulasi dari bubuk kakao, margarin, susu, dan gula memperlihatkan sifat pseudoplastic yang ditunjukkan oleh penurunan viskositas tampak dengan peningkatan shear serta nilai n berkisaran antara 0,3 – 0,6 Pa.s.Sifat rheology cokelat cair yang diformulasi dari bubuk kakao, margarin, susu, dan gula dipengaruhi oleh suhu dan komposisi bahan.Dan pengaruh formulasi terhadap nilai viskositas relatif kecil.
Penentuan Jumlah Butir Gabah dengan Computer Vision Andi Muhammad Tamrin; Junaedi Muhidong; Muhammad Tahir Sapsal
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.337 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.61

Abstract

Perkiraan produksi padi, salah satunya dapat dilakukan dengan menghitung jumlah butir padi atau gabah yang dihasilkan. Metode perkiran ini digunakan dalam berbagai penelitian yang berhubungan dengan peningkatan produksi padi, seperti pengaruh pemberian pupuk, perlakuan metode tanam dan lainnya. Menghitung jumlah butir padi tentu saja membutuhkan waktu, ketekunan dan ketelitian. Untuk itu diperlukan sebuah metode yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah gabah yang dihasilkan dengan cepat dan akurat. Salah satunya dengan Computer Vision.Penelitian ini menggunakan Raspberry Pi tipe B yang dilengkapi dengan kamera 5 MP. Proses pengolahan citra meliputi penentuan Region of Interest (ROI) dan proses deteksi menggunakan ContourFinding. Tingkat akurasi dari hasil deteksi yaitu 99%. Posisi benih yang terdeteksi dengan tepat yaitu posisi benih yang terpisah dengan benih lain lebih dari 1 mm dan posisi benih yang berpeluang tidak terdeteksi dengan tepat yaitu posisi berhimpit dan bertumpuk serta tingkat kesalahan (error rate) pada proses pengujian yaitu pada benih berhimpit sebesar (0,23), pada benih bertumpuk sebesar (0,09) dan benih terpisah sebesar (0,01) serta tingkat kesalahan dalam proses perhitungan sebesar (0,03). Adapun ukuran gambar yang sesuai untuk proses pengolahan citra yaitu ukuran dengan Resize 75% (3,75 MP) dengan kecepatan deteksi 1.34 detik.
Analisis Jenis dan Tingkat Serangan Hama dan Penyakit Pada Tanaman Padi Menggunakan Alat Spektrometer Evi Astriah; Daniel Useng; Totok Prawitosari
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1187.038 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.62

Abstract

Hama dan penyakit merupakan salah satu resiko yang harus dihadapi setiap usaha pembudidayaan tanaman padi. Adanya serangan hama dan penyakit dapat menjadi faktor terjadinya penurunan hasil tanaman padi. Dengan kemajuan teknologi, petani dapat meningkatkan hasil produksi tanaman padi. Salah satu intrumen teknologi yang dapat digunakan yaitu spektrometer. Alat ini dapat mengukur spektrum benda berdasarkan cahaya yang terpantulkan dan menghasilkan panjang gelombang. Tujuan penelitian ini untuk mendeteksi tingkat serangan hama dan penyakit tanaman padi dengan alat spectrometer untuk menentukan panjang gelombang yang spesifik dalam penentuan tingkat serangan hamadanpenyakittanaman. Metode yang digunakan adalah menganalisis kondisi tanaman padi yang terserang hama/penyakit, menggunakan alat spektrometer dengan pengolahan data menggunakan software spektrawiz berdasarkan nilai kanal blue, green, red, dan NIR yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh yaitu untuk varietas dengan serangan hama putih memiliki nilai NDVI R2 maksimum yautu 0,968, nilai RVI R2 maksimum yaitu 0,829, dan NDRE R2 maksimum yaitu 0,994. Varietas dengan serangan hama penggerek batang memiliki nilai NDVI R2 maksimum yautu 0,955, nilai RVI R2 maksimum yaitu 0,994, dan NDRE R2 maksimum yaitu 0,829. Varietas tanaman padi yang tidak terserang hama tertentu (hama putih dan hama penggerek batang) memiliki nilai NDVI R2 maksimum yautu 1, nilai RVI R2 maksimum yaitu 0,89, dan NDRE R2 maksimum yaitu 0,997.
Pengaruh Penggunaan Zat Etefon Terhadap Sifat Fisik Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L) Ari Wirasaputra; Mursalim Mursalim; Abdul Waris
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.81 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.63

Abstract

Buah pisang menempati posisi pertama dengan produksi dan luas panen tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2002 produksinya mencapai 4.384.384 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun. Pisang di Indonesia juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri olahan pisang misalnya Pisang Epe, Pisang Ijo, Barongko, Es Palubutung dan tepung pisang. Hal itu menyebabkan tingginya permintaan buah pisang yang sudah matang sehingga pedagang biasanya melakukan pematangan buah dengan metode zat etefon. Sehingga perlu dilakukan efek mutu dan konsentrasi penelitian menggunakan zat etefon dengan formulasi yaitu 10ml, 15ml, 20ml, 25ml, dan 30ml. Buah pisang lalu direndam untuk membandingkan pengaruh banyakanya formulasi zat etefon terhadap perubahan warna (L*, a*, b*) dan bobot buah pisang selama dua minggu penyimpanan. Buah pisang dengan formulasi zat etefon 30ml menunjukkan perubahan pematangan buah pisang cenderung lebih cepat dari pada formulasi lainnya. Hal tersebut terlihat pada nilai L* buah yang cenderung lebih tinggi yaitu 60,18 pada hari ke tiga penyimpanan. Meskipun demikian, nilai a* tertinggi terjadi pada formulasi 15ml yaitu mencapai 15.68 pada hari ke delapan penyimpanan. Sedangkan nilai b* tertinggi terjadi pada buah dengan formulasi 30ml yaitu mencapai 27,35 pada hari ke depalan penyimpanan. Adapun susut bobot tertinggi yaitu 53,06 pada hari ke-14 penyimpanan. Hal ini terjadi pada buah pisang yang digunakan sebagai kontrol yaitu buah yang tidak direndam pada zat etefon.
Pendugaan Produktivitas Padi Sawah Berdasarkan Reflektansi (Indeks Vegetasi), Warna dan Kerapatan Tanaman Nugrah Pratiwi; Daniel Useng; Suhardi Suhardi
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.08 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.64

Abstract

Jumlah produksi padi sawah dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu upaya dalam meningkatkan produktivitas padi sawah yaitu dengan mengatur kerapatan tanaman. Data produktivitas tanaman padi dapat diperoleh melalui pengukuran di lapangan dengan penggunaan teknologi yang salah satunya yaitu dengan memanfaatkan reflektansi tanaman. Berdasarkan data tersebut maka diperoleh hubungan antara reflektansi (indeks vegetasi), warna, kerapatan tanaman, dan produktivitas padi sawah untuk menduga produksi pada suatu kawasan yang sama. Pengukuran lapangan berupa pengukuran reflektansi menggunakan spektrometer, pengambilan potret kenampakan lahan, pengukuran tinggi tanaman, biomassa, dan produktivitas padi sawah. Hasil yang diperoleh menunjukkan pada awal pertumbuhan hingga 38 HST, reflektansi warna lahan dengan tanaman padi berada pada kuadran IV yaitu antara merah dan biru. Hal ini disebabkan warna kenampakan air dan tanah masih mendominasi. Kemudian akan berubah pada puncak pertumbuhan hingga memasuki masa panen menuju kuadran II yaitu antara hijau dan kuning dimana tanaman padi mendominasi. Estimasi produktivitas tanaman padi yang diperoleh memiliki hubungan yang akurat dengan hasil pengukuran. Kerapatan tanaman memiliki hubungan yang cukup kuat dengan peningkatan produktivitas padi (ton/ha), koefisien determinasi (R2) yaitu 0,7. Tanaman padi pola tanam Legowo 2-1 lebih memiliki pengaruh terhadap peningkatan indeks dibandingkan pola tanam Tegel. Nilai indeks vegetasi tanaman padi memiliki hubungan yang lemah dengan produktivitas padi (ton/ha) pada beberapa indeks kecuali RDVI.
Analisis Biofisik Tanaman Padi dengan Citra Drone (UAV) Menggunakan Software Agisoft Photoscan Elma Irawaty; Daniel Useng; Mahmud Achmad
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.414 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.65

Abstract

Hasil pertanian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia antara lain adalah padi. Akan tetapi, salah satu tantangan dalam membangun pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Salah satu upaya pencegahannya adalah menerapkan sehingga dapat memperoleh informasi berupa data citra penggambaran kondisi fisik tanaman (ketinggian atau kerapatan) sebagai data bantuan untuk menghitung produktivitas lahan sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuitingkat produktivitas padiberdasarkan varietas dan pola tanam menggunakan pengolahan data citra tiga dimensi (3D). Tahapan dari penelitian ini dimulai dari pengambilan data citra dan pengukuran lapangan, kemudian data citra akan diolah menggunakan Software Agisoft Photoscan. Software Agisoft Photoscan ini memanfaatkan metode stereoskopis yang mengubah data citra 2D menjadi 3D. Pengukuran dilakukan pada beberapa sampel yang memiliki varietas dan pola tanam berbeda. Kemudian dilakukan validasi data antar kedua pengukuran agar tingkat akurasi dapat diperoleh. Selain itu, dilakukan juga pengukuran dengan menggunakan data uji yang berfungsi sebagai analisis prediksi nilai pengukuran kondisi fisik tanaman. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan bahwa tingkat akurasi pengukuran menggunakan software Agisoft Photoscan untuk ketinggian tanaman mencapai 70%, sedangkan kerapatan tanaman mencapai tingkat akurasi sebesar 60%.
Sebaran Suhu Buah Terung Belanda (Chyphomandra betacea) pada Berbagai Tingkat Kematangan Selama Proses Pendinginan (Hydrocooling) Fransiska Pagiling; Supratomo Supratomo; Sitti Nur Faridah
Jurnal Agritechno Jurnal Agritechno Vol. 10, Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Depertemen Teknologi Pertanian Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.165 KB) | DOI: 10.20956/at.v10i2.66

Abstract

Terung belanda (Cyphomandra betacea) merupakan salah satu tanaman tropik yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kurangnya perhatian akan penanganan pasca panen pada produk pertanian menyebabkan kemunduran mutu dan berkurangnya nilai jual produk. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan mutu pada produk pertanian dengan menekan laju respirasi dan transpirasi melalui precooling. Pada penelitian ini dilakukan penanganan pasca panen pada buah terung belanda berupa precooling dengan sistem hydrocooling yang bertujuan untuk mempelajari sebaran suhu, pengaruh hydrocooling terhadap sifat fisik dan laju pendinginan pada buah. Parameter yang diamati adalah sebaran suhu, bobot dan laju pendinginan. Laju pendinginan komersial yang diterapkan pada produk pertanian digambarkan dengan 7/8 waktu pendinginan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa distribusi suhu dari permukaan hingga pusat buah untuk mencapai suhu pendinginan pada buah mengkal membutuhkan waktu selama 43 menit, matang optimal selama 56 menit dan matang berlebih selama 36 menit. Untuk mencapai suhu 7/8 waktu pendinginan membutuhkan waktu selama 51 menit pada buah mengkal, buah matang optimal selama 48 menit dan buah matang berlebih selama 42 menit. Sehingga laju pendinginan pada buah akan semakin cepat tercapai seiring kematangan pada buah.

Page 3 of 20 | Total Record : 195