Midwifery Journal
Midwifery Journal publishes the latest peer reviewed research to inform the safety, quality, outcomes and experiences of pregnancy, birth and maternity care for childbearing women, their babies and families. The journal’s publications support midwives and maternity care providers to explore and develop their knowledge, skills and attitudes informed by best available evidence. Midwifery Journal provides an interdisciplinary forum for the publication, dissemination and discussion of advances in evidence, controversies and current research, and promotes continuing education through publication of systematic and other scholarly reviews and updates. Midwifery articles cover the cultural, clinical, psycho-social, sociological, epidemiological, education, managerial, workforce, organizational and technological areas of practice in preconception, maternal and infant care, maternity services and other health systems.
Articles
24 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal"
:
24 Documents
clear
A PENGARUH FAKTOR USIA IBU TERHADAP PENGETAHUAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 6-12
Susila, Ida
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.706 KB)
Pendahuluan: Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menyatakan bahwa di bawah usia 6 bulan telah diberikan susu ASI secara komplementer, sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada bayi, seperti penyakit pada sistem pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI komplementer susu pada bayi usia 6-12 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di RW 02 Desa Sidokepung Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 45 responden. Ukuran sampel adalah 40 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan teknik simple random sampling, analisis data berupa tabel dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berusia> 35 tahun berpengetahuan luas (16,7%). Diskusi: Setelah diolah dalam persentase, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan kurang. Saran untuk petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan konseling tentang tujuan pemberian makanan pendamping ASI, dan waktu untuk pemberian makanan tambahan, sehingga ibu memahami risiko pemberian makanan pendamping ASI pada saat yang tidak tepat. Kata kunci: Pengetahuan, usia, pendamping ASI
PERBEDAAN EFFLEURAGE MASSAGE DENGAN TEKNIK KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI IBU INPARTU FASE AKTIF
darwati, lilik
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (158.604 KB)
Intensitas nyeri ibu bersalin dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti effleurage massage atau kompres hangat. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan effleurage massage dengan teknik kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif. Desain pra-eksperimen one group pretest-postest design. Populasi semua ibu bersalin fase aktif sebanyak 24 orang dengan sampel 20 responden diambil purposive sampling. Variabel bebas effleurage massage, teknik kompres hangat dan terikatnya intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis dengan uji t 2 sampel bebas. Hasil penelitian hampir seluruh responden sebelum diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu 8 responden (90%), hampir seluruh responden sebelum kompres hangat mengalami nyeri sedang (90%), hampir seluruh responden sesudah diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu (90%), hampir seluruh responden sesudah kompres hangat mengalami nyeri ringan (90%), ada perbedaan effleurage massage dengan kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif (uji T p value 0,008<0,05 Ho ditolak). Hal ini disebabkan kompres hangat lebih melebarkan pembuluh darah sehingga menurunkan nyeri sampai tingkat ringan. Disimpulkan kompres hangat lebih efektif menurunkan nyeri ibu bersalin fase aktif. Disarankan agar tempat peenelitian menetapkan kompres hangat sebagai salah satu metode menurunkan nyeri persalinan. Kata kunci : effleurage, kompres hangat, nyeri persalinan
TINGKAT KARAKTERISTIK (Umur, Paritas, Pendidikan) IBU HAMIL TENTANG KEJADIAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI
Pontoh, Arimina Hartati
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (223.931 KB)
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dengan keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayinya (Dinkes jatim, 2010). Angka toleransi kehamilan risiko tinggi menurut Dinkes Jatim tahun 2010 yaitu sebesar 20%. Dalam 3 tahun terakhir ini kejadian kehamilan risiko tinggi di Polindes Desa Sidorejo pada tahun 2014-2016 mengalami peningkatan, yaitu dari tahun 2014 ke tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 3,55%. Sedangkan dari tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 2,45%, tetapi hal ini masih diatas angka toleransi. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian kehamilan risiko tinggi berdasarkan umur, paritas dan pendidikan. Metode: Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang pengambilan sampelnya dilakukan secara total sampling dengan jumlah sampel sebesar 194 orang. Instrumen penelitian dengan memanfaatkan data sekunder dengan melihat data register kehamilan di Polindes Desa Sidorejo kemudian diolah menggunakan tabulasi frekuensi dan dilakukan tabulasi silang. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kejadian kehamilan risiko tinggi sebanyak 71 orang (36,60%). Pada umur didapatkan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada umur ? 35 tahun sebanyak 39 orang (92,86%). Paritas didapatkan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada ibu hamil dengan paritas grandemultipara sebanyak 39 orang (70,91%). Sedangkan pada pendidikan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada ibu dengan pendidikan dasar sebanyak 40 orang (68,97%) Diskusi: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kehamilan risiko tinggi mayoritas terjadi pada umur ? 35 tahun, grandemultipara dan berpendidikan dasar. Oleh karena itu, untuk menurunkan kejadian kehamilan risiko tinggi diperlukan pemeriksaan sejak dini pada kehamilan, sehingga dapat terdeteksi jika terdapat komplikasi dan segera dapat mengobatinya.
PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN USIA MENOPAUSE DI BPS KISWORO PRATIWI SURABAYA
Wilujeng, Rachel Dwi
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (196.771 KB)
Menopause adalah berhentinya haid terakhiratau saat terjadinya haid terakhir setelah mendapat amenorhoe ± 1 tahun, terjadi pada usia antara 40-60 tahun. Hal ini berarti semakin lama atau cepat ibu mengalami menopuse maka semakin besar dampak yang terjadi pada ibu. Menurut data yang diperoleh dari BPS Kisworo Pratiwi Surabaya periode Mei-Juni 2018 menunjukkan bahwa didapatkan 3 orang (20%) mengalami menopause di usia < 45 tahun, dan 4 orang (26,6%) yang memasuki menopause pada usia > 50 tahun. Berdasarkan masalah diatas maka dilakukan penelitian dengan tujuan menganalisis adakah hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan usia menopause Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain penelitian cross sectional dan tipe yang digunakan adalah systematic random sampling, jumlah populasi 80 orang dan sampelnya 45 orang. Pengumpulan data dengan wawancara. Data kemudian diolah dengan tabel frekuensi, tabulasi silang kemudian dianalisa dengan uji Chi-Square Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas penggunaan kontrasepsi non hormonal 64,44% dan mayoritas mengalami usia menopause cepat 57,78%. Dari hasil tabulasi silang, penggunaan kontrasepsi non hormonal mayoritas mengalami menopause cepat 75,86%, sedangkan penggunaan kontrasepsi hormonal mayoritas mengalami menopause lambat 68,75% . Dan dari hasil Chi-Square, (?2) hitung > (?2 ) tabel (8,55 > 3,84). Diskusi: Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan usia menopause. Sebaiknya dalam menghadapi masa menopause diperlukan kesiapan diri, pemahaman ibu tentang menopause dan gejala gejala yang akan timbul pada masa menopause, serta mempersiapkan fisik dan psikologis untuk memasuki masa menopause mengingat kontrasepsi dapat mempengaruhi usia menopause.
TINGKAT PERKEMBANGAN SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA PRASEKOLAH (5-6 TAHUN) BERDASARKAN PEKERAAN IBU
Juaria, Henny
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (185.834 KB)
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak. Pada usia prasekolah perkembangan anak dalam aspek sosialisasi dan kemandirian sudah tampak jelas ( Depkes RI, 2012 ). Namun, kenyataanya perkembangan sosialisasi dan kemandirian anak usia prasekolah (5 ? 6 tahun) di Taman Kanak ? kanak Krisna Murti 3 Surabaya tahun 2018, terutama dari aspek kerjasama dalam bermain belum memenuhi kompetensi mengalami peningkatan dari tahun 2015 ? 2017 (4 ? 5 %). Maka masalah ini di pandang perlu di lakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan sosialisasi dan kemandirian dari aspek kerjasama dalam bermain anak usia prasekolah (5 ? 6 tahun) berdasarkan pekerjaan ibu.Metode deskriptifdengan populasi30 orang anak di Taman Kanak ? kanak Krisna Murti 3 Surabaya dengan menggunakan sampel jenuh yaitu semua populasi di jadikan sampel penelitian kemudian di buat tabulasi frekuensi dan tabulasi silang lalu di analisis. Hasil: hasil penelitian menunjukan perkembangan sosialisasi dan kemandirian anak usia prasekolah (5 ? 6 tahun) dari aspek kerjasama dalam bermain yang belum memenuhi kompetensi adalah di asuh oleh ibu yang bekerja sebanyak 8 anak (80%). Diskusi:Di simpulkan bahwaibu dari anak yang belum memenuhi kompetensi adalah ibu yang bekerja. Oleh karena itu untuk meningkatkan kompetensi anak usia prasekolah (5 ? 6 tahun) salah satu langkah yang di lakukan bidan yaitu melekukan deteksi dini atau pemantauan tumbuh kembang yang dapat di lakukan dengan menggunakan KPSP dan salah satu yang di lakukan oleh pemerintah adalah program PAUD untuk meningkatkan perkembangan sosialisasi dan kemandirian anak.
TINGKAT KEPUASAN IBU BERSALIN BERDASARKAN UMUR, PARITAS, PENDIDIKAN TERHADAP PELAYANAN KEBIDANAN
Christy, Januar Dwi
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (191.368 KB)
Secara sederhana kepuasan adalah suatu sikapyang berdasarkan persepsi mutu yang dirasakan pasien. Kepuasan pasien tergantung kepada penampilan jasa pelayanan yang ditawarkan hubungannya dengan harapannya.Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang diterapkan.Berdasarkan studi pendahuluan di RB Anugerah Surabaya pada tanggal 5 April 2018 didapatkan 4 orang kurang puas Terhadap pelayanan kebidanan yang diberikan.Tujuan dari penelitian adalah mengetahui tingkat kepuasan ibu bersalin Terhadap pelayanan kebidanan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik accidental sampling yang pengambilan sampelnya dilakukan pada individu yang mudah ditemui dengan populasi 72 ibu bersalin dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dari 72 ibu bersalin yang berkunjung di RB Anugerah Surabaya didapatkan 9,7 % merasa sangat puas terhadap pelayanan kebidanan, 87,5 % merasa puas terhadap pelayanan kebidanan dan 2,8 % merasa tidak puas terhadap pelayanan kebidanan Diskusi: Dengan melihat hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan ibu bersalin dapat dipengaruhi oleh pelayanan kebidanan yang diberikan. Oleh karena itu tenaga kesehatan harus memperhatikan kenyamanan, keramahan petugas dan biaya secara terus menerus dan berkesinambungan pada masyarakat khususnya ibu bersalin Terhadap pelayanan yang diberikan, yaitu agar ibu bersalin dapat merasa lebih puas dengan pelayanan yang diberikan baik dari tempat bersalin, tanggapan petugas kesehatan dan kelayakan biaya yang diberikan sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Tetapi apabila ada kekurangan dalam pelayanan diharapkan ibu dapat memberikan saran bagi petugas kesehatan
TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG KEJADIAN RUAM POPOK PADA BAYI DI BPS ZULFIAH SURABAYA
Humune, Hermina
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (166.897 KB)
Diaper rash disebut juga dermatitis popok, adalah kelainan kulit (ruam kulit) yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok, yaitu di alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Penyakit ini sering terjadi pada bayi dan anak balita yang menggunakan popok, biasanya pada usia kurang dari 2 tahun (Tjokronegoro, A., 2000 : 19). Berdasarkan studi pendahuluan di BPS Ny. Retno Soepomo Surabaya pada tanggal 25 April 2018 didapatkan 10 bayi yang datang di BPS Zulfiah Surabaya dan sebanyak 7 bayi (69,97%) mengalami ruam popok. Padahal seharusnya ruam popok tidak boleh terjadi pada bayi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ruam popok pada bayi. Metode : menggunakan metode deskriptif dengan teknik quota sampling yang pengambilan sampelnya dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel periode April 2018dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Tehnik analisa data menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang dengan populasinya adalah semua ibu yang datang memeriksakan bayinya di BPS Zulfiah Surabaya. Hasil :hasil penelitian didapatkan ibu dengan pengetahuan baik (17,5 %), pengetahuan cukup (32,5 %) dan pengetahuan kurang (50 %). Sedangkan dari sikap didapatkan sikap sangat setuju (7,5 %), sikap setuju (20 %), sikap tidak setuju (25 %) dan sikap sangat tidak setuju (47,5 %).Diskusi :.Disimpulkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan kurang, mayoritas bayinya mengalami ruam popok. Hal ini dipengaruhi oleh ketidaktahuan ibu tentang cara merawat bayi dengan benar. Diharapkan petugas kesehatan mampu memberikan informasi tentang cara merawat bayi dengan benar supaya ruam popok tidak terjadi pada bayi.
TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN KEP PADA ANAK USIA (3-5 TAHUN) DI POS PAUD TERPADU MULIA SURABAYA
Setyowati, Endang Buda
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (164.876 KB)
Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (Depkes RI, 2000). Angka kejadian KEP pada anak usia 3-5 tahun di Pos Paud Terpadu Mulia Surabaya cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2017-2018 sebesar 12,5 ? 15 %, diharapkan tidak melebihi angka prevalensi yang sudah ditetapkan oleh MDG?s sebesar 15,5%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu dengan kejadian KEP pada anak usia (3-5 tahun) di Pos Paud Terpadu Mulia Surabaya bulan Juli Tahun 2018. Metode : penelitian yang digunakan bersifat Deskriptif. Populasi sebanyak 80 anak. Pengambilan sampel menggunakan Non Probability sampling dengan teknik sampel jenuh, sampel pada penelitian sebanyak 80 anak. Pengumpulan data secara primer dan sekunder dengan cara melakukan penimbangan pada anak dan melihat tingkat pendidikan ibu dari rapot anak. Data kemudian dibuat tabel frekuensi dan tabulasi silang kemudian dibuat kesimpulan. Hasil : Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ibu yang tingkat pendidikan rendah mayoritas anaknya mengalami KEP. Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang gizi seimbang pada ibu yang mempunyai anak usia 3-5 tahun.
A PENGARUH FAKTOR USIA IBU TERHADAP PENGETAHUAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 6-12
Susila, Ida
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.706 KB)
Pendahuluan: Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menyatakan bahwa di bawah usia 6 bulan telah diberikan susu ASI secara komplementer, sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada bayi, seperti penyakit pada sistem pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI komplementer susu pada bayi usia 6-12 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di RW 02 Desa Sidokepung Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 45 responden. Ukuran sampel adalah 40 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan teknik simple random sampling, analisis data berupa tabel dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berusia> 35 tahun berpengetahuan luas (16,7%). Diskusi: Setelah diolah dalam persentase, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan kurang. Saran untuk petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan konseling tentang tujuan pemberian makanan pendamping ASI, dan waktu untuk pemberian makanan tambahan, sehingga ibu memahami risiko pemberian makanan pendamping ASI pada saat yang tidak tepat. Kata kunci: Pengetahuan, usia, pendamping ASI
PERBEDAAN EFFLEURAGE MASSAGE DENGAN TEKNIK KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI IBU INPARTU FASE AKTIF
darwati, lilik
Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya Vol 5 No 2 (2018): Midfiwery journal
Publisher : Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (158.604 KB)
Intensitas nyeri ibu bersalin dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti effleurage massage atau kompres hangat. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan effleurage massage dengan teknik kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif. Desain pra-eksperimen one group pretest-postest design. Populasi semua ibu bersalin fase aktif sebanyak 24 orang dengan sampel 20 responden diambil purposive sampling. Variabel bebas effleurage massage, teknik kompres hangat dan terikatnya intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis dengan uji t 2 sampel bebas. Hasil penelitian hampir seluruh responden sebelum diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu 8 responden (90%), hampir seluruh responden sebelum kompres hangat mengalami nyeri sedang (90%), hampir seluruh responden sesudah diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu (90%), hampir seluruh responden sesudah kompres hangat mengalami nyeri ringan (90%), ada perbedaan effleurage massage dengan kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif (uji T p value 0,008<0,05 Ho ditolak). Hal ini disebabkan kompres hangat lebih melebarkan pembuluh darah sehingga menurunkan nyeri sampai tingkat ringan. Disimpulkan kompres hangat lebih efektif menurunkan nyeri ibu bersalin fase aktif. Disarankan agar tempat peenelitian menetapkan kompres hangat sebagai salah satu metode menurunkan nyeri persalinan. Kata kunci : effleurage, kompres hangat, nyeri persalinan