cover
Contact Name
Rika Titandria
Contact Email
rika.titandria@umk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
hidayatullah@umk.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Suara Keadilan
ISSN : 1829684X     EISSN : 26219174     DOI : -
Core Subject : Social,
Fokus dan Scope artikel yang bisa dimuat dalam jurnal ini adalah: 1. Ilmu Hukum 2. Hukum Pidana 3. Hukum Perdata 4. Kebijakan Publik 5. Politik Hukum 6. Hukum Ekonomi Bisnis
Arjuna Subject : -
Articles 163 Documents
Subordinasi Norma Pidana Lingkungan dalam Penegakan Hukum terhadap Tambak Udang Ilegal Berdasarkan Teori Sistem Hukum Friedman Rahma, Laela Novitri Ervia; Rifqi, Muhammad Raikhan Nur
Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 No. 2 (2025): Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 Nomor 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/sk.v26i2.15912

Abstract

Environmental criminal law enforcement in Indonesia faces structural challenges due to the normative subordination between Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management and Law No. 5 of 1990 on Conservation. This study aims to analyze the effectiveness of environmental criminal norms in judicial practice and their implications for ecological protection. The method employed is normative legal research using a juridical-normative approach, with primary and secondary legal materials and descriptive qualitative analysis. Results indicate that legal authorities tend to apply administrative conservation norms, overlooking scientific evidence and the potential application of Article 98 of Law No. 32/2009, preventing optimal operationalization of environmental criminal law. The novelty of this study lies in mapping normative subordination as a structural factor hindering substantive ecological protection. Reforming norm hierarchies, strengthening institutional capacity, and changing legal culture are necessary to make environmental criminal law the primary instrument of ecological protection.
RATIO LEGIS THERAPEUTIC JURISPRUDENCE (TJ): STRATEGI PELINDUNGAN DAN PEMENUHAN HAK KESEJAHTERAAN MENTAL TAHANAN PEREMPUAN DALAM RUU KUHAP Saputra, Dimas; Bisri, M. Mustofah
Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 No. 2 (2025): Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 Nomor 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/sk.v26i2.15915

Abstract

  Penelitian ini mengkaji urgensi dan relevansi penerapan Therapeutic Jurisprudence (TJ) dalam pembentukan norma hukum pada Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP), khususnya dalam upaya pelindungan dan pemenuhan hak atas kesejahteraan mental tahanan perempuan sebagai kelompok rentan. Latar belakang penelitian ini berangkat dari masih maraknya diskriminasi dan kekerasan psikologis yang dialami perempuan dalam sistem peradilan pidana, meskipun Indonesia telah meratifikasi instrumen hak asasi manusia internasional seperti CEDAW dan UDHR. Dengan menggunakan metode yuridis normatif melalui pendekatan konseptual dan komparatif, penelitian ini menelaah sejauh mana prinsip TJ terintegrasi dalam RUU KUHAP serta membandingkannya dengan penerapan di Belanda dan Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Draf RUU KUHAP per Maret 2025 telah mengalami kemajuan melalui Pasal 138 yang mengatur hak-hak perempuan dalam proses hukum, namun masih ditemukan kekosongan, seperti belum adanya penerapan trauma-informed approach, keterbatasan peran proaktif aparat penegak hukum, dan belum tersedianya mekanisme pengawasan untuk menjamin konsistensi perlakuan terapeutik. Oleh karena itu, diperlukan penguatan eksplisit terhadap peran aktor hukum dalam menjamin proses hukum yang humanis, berperspektif gender, dan berorientasi pada kesejahteraan mental bagi tahanan perempuan. 
PARRICIDE DENGAN PELAKU ANAK DI INDONESIA DITINJAU DARI PERSPEKTIF KRIMINOLOGI Akbar, Muhammad Zainuddin
Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 No. 2 (2025): Jurnal Suara Keadilan Vol. 26 Nomor 2 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/sk.v26i2.15927

Abstract

Abstract  This study analyzes juvenile parricide cases in Indonesia from the perspective of criminology theory. The purpose is to identify the factors that drive juvenile offenders to commit parricide. Using a normative legal research method with a conceptual approach, this study finds that family dynamics, particularly child abuse and neglect, trigger psychotic disorders, are central factors contributing to the occurrence of parricide. Prolonged child abuse produces strain that generates negative emotions and feelings of humiliation or worthlessness in juveniles. At its peak, this pressure creates a condition in which deep shame or a severe sense of threat makes killing parents appear to be the only possible escape. Parricide driven by this factor tends to be based on rational calculation. In contrast, prolonged emotional neglect may lead to emotional disturbances that develop into psychotic symptoms, such as hallucinations and delusions. As these symptoms get worse, juveniles may see, hear, or perceive things that aren’t real. Lack of parental responsiveness to juveniles condition may further provoke hallucinations that culminate in parricide. This second factor tends to result in irrational decision-making by the juvenile in committing parricide AbstrakArtikel ini menganalisis kejahatan pembunuhan orang tua oleh anak (Parricide) dengan pelaku Anak di Indonesa dari perspektif teori kriminologi. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui faktor yang menyebabkan Anak melakukan Parricide. Menggunakan metode Normatif dengan pendekatan konseptual, ditemukan bahwa faktor dinamika keluarga yaitu kekerasan di masa kecil dan penelantaran yang menyebabkan gangguan psikosis Anak menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya parricide. Kekerasan di masa kecil dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan strain (tekanan) yang melahirkan emosi negatif dan perasaan dipermalukan/tidak berarti terhadap Anak. Keadaan tekanan ini bertemu momentun puncak, yaitu rasa malu yang mendalam atau rasa terancam yang buruk sehingga membunuh orang tua menjadi satu-satunya jalan keluar bagi Anak dari keadaan tersebut. Parricide dengan faktor ini cenderung terjadi atas dasar pertimbangan yang rasional. Sementara itu, Anak dengan penelantaran emosional dalam jangka waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan gangguan emosional Anak yang berujung pada gejala psikosis (halusinasi dan delusi). Gejala psikosis yang semakin parah dapat berakibat pada Anak yang melihat, mendengar, atau merasakan suatu yang tidak nyata. Tidak responsifnya orang tua terhadap keadaan Anak dapat memicu halusinasi Anak yang mengarah kepada Parricide. Faktor kedua ini cenderung membuat Anak membuat keputusan irasional dalam melakukan parricide.