cover
Contact Name
EKSPOSE
Contact Email
jurnalekspose@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalekspose@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bone,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan
ISSN : 14122715     EISSN : 26154412     DOI : -
EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan, a scientific journal for disseminating results of conceptual research or studies on law and education, is published two times (June and December) a year. The EKSPOSE: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan is managed by the Institute for Research and Community Service (LPPM) at Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatan Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Materi Faktorisasi Suku Aljabar Darmanto Minggele
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.369

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi belajar pada materi faktorisasi suku aljabar siswa kelas VIII. Prosedur pengembangan perangkat pembelajaran mengacu pada model pengembangan Four - D yang terdiri dari 4 fase, yaitu: (1) Pendefinisian (Define), (2) Perencanaan (Design), (3) Pengembangan (Develop), (4) Penyebaran (Disseminate) namun ini tidak dilaksanakan. Subjek Penelitian siswa kelas VIII MTs N Sumber Bungur Pamekasan. Perangkat yang dikembangkan RPP, LKS, dan THB telah divalidasi dan diperoleh hasil dengan kategori baik, sedangkan setiap butir soal THB yang disusun telah memenuhi kriteria valid dengan nilai 0,4, reliabel dengan nilai 0,511 dan nilai sensitifitas setiap butir soal ≥ 0,342, dan THB digunakan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan data yang yang diperoleh, hasil nilai observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sebesar 3,6 pada pertemuan pertama, 4 pada pertemuan kedua, 3,8 pada pertemuan ketiga, dan 4 pada pertemuan keempat. Nilai tersebut masuk dalam kategori baik. Aktivitas siswa pada setiap pertemuan tergolong dalam kategori efektif. Respons siswa positif yang diketahui dari jumlah siswa yang memberikan respons positif ≥80% untuk setiap aspek. Ketuntasan belajar klasikal telah tercapai karena  80% siswa dalam kelas mendapatkan nilai lebih dari KKM yang telah ditentukan yaitu 75. Dari analisis deskriptif yang dilakukan untuk mengetahui perbandingan peningkatan (gain) motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, diperoleh skor peningkatan (gain) motivasi belajar untuk kelompok eksperimen lebih besar dari kelas kontrol yaitu 0,41 (kategori sedang) pada kelas eksperimen dan 0,18 (kategori rendah) pada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik dari pembelajaran konvensional.AbstractThis study is aimed to produce STAD type cooperative learning set to increase learning motivation on algebra term factorization material for eighth grade students. The procedure of learning set development refers to four-D development model that consist of four phases, those are: (1) Definition, (2) Design, (3) Development, (4) Dissemination, yet, it is not be done. Subject of the study are eighth grade students of MTs N Sumber Bungur Pamekasan. Learning sets to be developed are lesson plans (RPP), Students’ work sheets (LKS), learning outcome test (THB) which have been validated and obtained result with good category, whereas every learning outcome test (THB) question items arranged have fulfilled valid category with value 0.4, reliable with value 0.511 and sensitivity value in every question items ≥ 0.342 learning outcome test (THB) used to know the effectiveness of STAD type cooperative learning.Based on obtained data, observation value results of teacher’s ability to manage learning is 3.6 on the first meeting, 4 on the second meeting, 3.8 on the third meeting, ad 4 on the fourth meeting. The results included on good category. Students’ activities on every meeting are classified on effective category. Students’ responses are positive known from number of students who give positive response ≥ 80 % for every aspect. Classical learning completeness has been achieved because ≥ 80 % of students in the class get score more than minimal completeness criteria (KKM) that have set (75). From descriptive analysis that had been done to know the ratio of the increasing of students’ learning motivation before and after treatment between experiment class and control class, obtained increasing score for learning motivation on experiment group is bigger than class control: 0.41 (medium category) on experiment class and 0.18 (low category) on control class. It shows that STAD type cooperative learning is better than conventional learning. Questionnaire responses of students in the first cycle there were 15 items with an overall percentage of 77.36% and in the second cycle 81.53%.
Pendidikan Berbasis Masyarakat dan Penerapannya Pada Madrasah Aliyah Al-Ma’arif Bilae Kabupaten Bone Sultan Hasanuddin
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.363

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pendidikan berbasis masyarakat pada Madrasah Aliyah Al-Ma’arif Bilae Kabupaten Bone. Penelitian ini membahas tentang penerapan pendidikan berbasis masyarakat, faktor yang menjadi pendukung dan penghambat penerapan pendidikan berbasis masyarakat pada Madrasah Aliyah Al-Ma’arif Bilae kabupaten Bone serta solusinya. Metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian diolah dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Pengolahan data melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat hanya sebatas pada penyediaan saran dan prasaran. Faktor yang menjadi pendukung pada pendidikan berbasis masyarakat Madrasah Aliyah Bilae kabupaten Bone yaitu masyarakat, pemerintah serta sarana dan prasaran karena masyarakat merasa memiliki madrasah tersebut sehingga dengan sukarela menyediakan sarana dan prasarana serta dukungan dari pemerintah. Faktor yang menjadi penghambat adalah belum maksimalnya perencanaan pendidikan berbasis masyarakat serta kurangnya anggaran dalam proses pengelolaannya. Sehingga dibutuhkan perencanaan yang matang dalam proses pendidikan serta sumber anggarannya tidak berpusat pada bantuan pemerintah akan tetapi adanya keterlibatan masyarakat.AbstractThis study aims to determine the application of community-based education at Al-Ma'arif Aliyah Madrasah Bilae Bone Regency. This study discusses the application of community-based education, the factors that become supporters and inhibitors of the application of community-based education to the Aliyah Al-Ma'arif Madrasah in Bone district and the solution. Methods of data collection are observation, interview and documentation study. The collected data is then processed with quantitative descriptive analysis techniques. Processing data through three stages, namely data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of the study indicate that community involvement is only limited to providing advice and infrastructure. Factors that become supporters of community-based education Aliyah Madrasah If Bone regency is the community, the government and facilities and infrastructure because the community feels that they have the madrasa so that they voluntarily provide facilities and infrastructure and support from the government. The factor that becomes an obstacle is not yet the maximum community-based education planning and lack of budget in the management process. So that careful planning is needed in the education process and the source of the budget is not centered on government assistance but the involvement of the community.
Peran Bimbingan Konseling Islam Mengatasi Kecanduan Game Online Ardi Ardi
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.370

Abstract

AbstrakBimbingan dan konseling Islami merupakan kegiatan proses bantuan yang diberikan kepada individu dalam memahami dirinya sendiri untuk menjalani tahap perkembangan menjadi manusia seutuhnya sebagaimana potensi yang dimilikinya sesuai petunjuk Allah dan sunnah Rasul. Terlihat sangat jelas bahwa bimbingan dan konseling Islami adalah proses bimbingan dan konseling yang berorientasi pada ketentraman, ketenangan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Pencapaian rasa tentram (sakinah) itu tercapai melalui upaya pendekatan diri kepada Allah untuk memperoleh perlindungan-Nya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bimbingan dan konseling Islami mengandung aspek spiritual dan dimensi material. Salah satu tantangan di era revolusi industri 4.0 adalah kemajuan teknologi terutama TIK dengan munculnya smartphone. Kemajuan teknologi ini di satu sisi membantu dalam dunia pendidikan misalnya memudahkan siswa dan guru mendapatkan referensi pembelajaran dan penggunaan aplikasi ujian berbasis internet. Namun disisi lain tak dapat dipungkiri banyaknya pelajar mulai dari jenjang SD bahkan sampai jenjang perguruan tinggi mengalami kecanduan bermain game online. Permasalahan mengakses internet yang tidak terkendali pada diri remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karena perkembangan remaja yang masih labil, ketidakmampuan mengendalikan kecanduan bermain game online menyebabkan siswa malas belajar sehingga prestasi akademik dan kualitas kesehatannya menurun. Untuk mengatasi hal tersebut sangat dibutuhkan peran bimbingan konseling Islami. Bimbingan konseling Islami dengan metode yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW seperti keteladanan Rasulullah SAW (modeling), conditioning, tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dan tazkiyatun nuqud (penyucian pendapatan/ibadah sosial) dapat menjadi solusi dalam mengatasi kecanduan game online.AbstractIslamic guidance and counseling is an aid process activity that is given to individuals in understanding themselves to undergo the stage of development to become fully human as they have the potential according to Allah's instructions and the Sunnah of the Prophet. It is very clear that Islamic guidance and counseling is a process of guidance and counseling that is oriented to peace, the tranquility of human life in the world and in the hereafter. The attainment of peace (sakinah) is achieved through an effort to approach oneself to Allah to obtain His protection. Thus, it can be said that Islamic guidance and counseling contains spiritual aspects and material dimensions. One of the challenges in the era of industrial revolution 4.0 is the technological advances especially ICT with the advent of smartphones. The progress of this technology on the one hand helps in the world of education for example facilitating students and teachers to get reference to learning and the use of internet-based exam applications. But on the other hand, it cannot be denied that the number of students starting from elementary school even to college level is addicted to playing online games. The problem of uncontrolled access to the internet in adolescents is influenced by several factors, including because of the development of adolescents who are still unstable, the inability to control addiction to playing online games causes students to be lazy to learn so academic achievement and quality of health decreases. To overcome this, the role of Islamic counseling is urgently needed. Islamic counseling guidance with methods derived from the Qur'an and the Sunnah of the Prophet Muhammad, such as the example of the Prophet Muhammad (modeling), conditioning, tazkiyatun nufus (purification of the soul) and tazkiyatun nuqud (purification of income / social worship) can be a solution to overcome game addiction on line.
Hypothetical Learning Trajectory (HLT) dalam Perspektif Psikologi Belajar Matematika Raizal Rezky
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.364

Abstract

AbstrakMatematika merupakan mata pelajaran yang dipelajari hampir ditiap jenjang pendidikan. Namun fakta yang terjadi di lapangan masih banyak siswa cenderung menganggap matematika sebagai pelajaran yang membosankan dan menakutkan karena penuh dengan angka dan rumus. Untuk itu pembelajaran matematika dilakukan dengan memperhatikan konsep akan menjadikan siswa belajar bermakna (meaningful learning). Konsep yang dipelajari disesuaikan dengan alur belajar yang dimiliki oleh siswa. Alur belajar atau hypothetical learning trajectory sendiri terdiri atas tiga aspek yaitu: (1) tujuan pembelajaran, (2) aktivitas belajar, (3) hipotesis belajar. Hipotesis belajar diperlukan guru guna mendesain pembelajaran yang akan sesuai dengan pola pemikiran siswa di kelas sesuai dengan karakteristik siswa.AbstractMathematics was a subject that was studied in almost every level of education. But the facts that occur in the field are still many students tend to think of mathematics as a boring and scary lesson because it was full of numbers and formulas. For that mathematics learning was done by paying attention to the concept will make students learn meaningfully. The concepts learned were tailored to the learning flow that was owned by students. The learning flow or hypothetical learning trajectory itself consists of three aspects, i.e. (1) learning objectives, (2) learning activities, and (3) learning hypotheses. The learning hypothesis was needed by the teacher to design learning that would suit the thinking patterns of students in the class according to the characteristics of students.
Peningkatan Minat Belajar Siswa Melalui Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Aisyah Nursyam
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.371

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan hasil belajar melalui media pembelajaran berbasis teknologi informasi pada siswa kelas X IPA 3 SMA Negeri 9 Bone. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Class Room Assessment). Instrumen yang digunakan untuk mengunpulkan data adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran (aktifitas guru), lembar observasi aktifitas siswa, angket respon siswa, dan tes hasil belajar pada tiap siklus. Data yang diperoleh dianalisis  menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa, sementara analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui hasil observasi aktifitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media berbasis teknologi informasi dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas X IPA.3 SMA Negeri 9 Bone. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar   siswa kelas X IPA.3SMA Negeri 9 Watampone pada siklus I sebesar 67,34% dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 83,19%. Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran juga mengalami peningkatan, meskipun berdasarkan lembar aktivitas siswa pada siklus I masih dirasakan beberapa kendala namun pada siklus II menunjukan adanya peningkatan secara signifikan. Angket respon siswa pada siklus I ada 15 item dengan presentase rata-rata secara keseluruhan yaitu 77,36% dan pada siklus II 81,53%.AbstractThis study aims to see an increase in learning outcomes through information technology-based learning media in class X IPA 3 students at 9 Bone State High School. This research is a Class Room Assessment. The instruments used to collect data are the implementation observation observation sheets (teacher activities), student activity observation sheets, student response questionnaires, and learning outcomes tests in each cycle. The data obtained were analyzed using quantitative descriptive analysis and qualitative analysis. Quantitative descriptive analysis is used to determine student learning outcomes, while qualitative analysis is used to determine the results of observations of student activities. The results of the study indicate that learning using information technology-based media can increase the learning interest of class X students of Science 3 in Bone 9 High School. This can be seen from the average learning outcomes of class X students of IPA 3SMA 9 Watampone in the first cycle of 67.34% and in the second cycle the average student learning outcomes increased to 83.19%. Student activities in the learning process also experienced an increase, although based on the student activity sheet in the first cycle there were still some obstacles but in the second cycle there was a significant increase. Questionnaire responses of students in the first cycle there were 15 items with an overall percentage of 77.36% and in the second cycle 81.53%.
Arah Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia di Tengah Pluralisme Hukum Indonesia Yaris Adhial Fajrin; Ach. Faisol Triwijaya
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.361

Abstract

AbstrakPerbedaan antara hukum pidana Indonesia yang tercermin dalam KUHP dengan struktur sosial menunjukkan telah terjadi pluralisme hukum. Perbedaan ini karena KUHP sebagai lex generalis berasal dari Belanda yang memiliki latar belakang perbedaan budaya dengan Indonesia. Pembaharuan hukum pidana Indonesia saat ini mengarah kepada usaha mengkristalisasi hukum yang hidup dalam masyarakat kedalam hukum positif. Melalui pembaharuan hukum pidana Indonesia arah pembangunan hukum pidana diarahkan kepada re-orientasi pokok-pokok pikiran, ide-ide dasar, atau nilai sosio-filosofis, sosio-kultural dan sosio-politik yang sesuai dengan keinginan masyarakat Indonesia yang tercermin dalam Pancasila. Pembaharuan hukum pidana yang menyasar re-orientasi substansi hukum pidana Indonesia dapat dilakukan melalui kriminalisasi perbuatan yang oleh masyarakat dianggap sebagai perbuatan jahat namun saat ini tidak dikategorikan sebagai tindak pidana. Kemudian kriminalisasi yang bersumber dari hukum adat juga harus diikuti dengan sanksi adat yang menyertai perbuatan yang di kriminalisasi untuk menjaga eksistensi hukum adat yaitu menjaga keseimbangan.AbstractThe difference the Indonesian criminal law as reflected in the Criminal Code with the social structure indicates there has been a legal pluralism. This difference is due to the Criminal Code as a lex generalis came from Holland with a background in cultural differences with Indonesia. Indonesian criminal law reform currently leads the effort to crystallize the law who live in societies into positive law. Indonesian criminal law reform through the development direction of the criminal law is directed to the re-orientation of the main ideas, basic ideas, or the value of socio-philosophical, socio-cultural and socio-political in accordance with the wishes of the people of Indonesia is reflected in the Pancasila. Criminal law reforms that address the substance of the re-orientation of the Indonesian criminal justice can be done through the criminalization of acts by communities as being evil deed but does not currently classified as a criminal offense. Then criminalization derived from customary law must be followed by the customary accompanying sanctions in criminalizing acts to keep the existence of customary law is to maintain a balance.
Peran Pengawas dalam Meningkatkan Efektivitas Penggunaan dan Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Musbahaeri Musbahaeri
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.367

Abstract

AbstrakKualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu terus ditingkatkan karena PAI adalah mata pelajaran yang berorientasi pada pembentukan akhlak peserta didik khususnya sikap spiritual dan sosial. Salah satu hal yang berpengaruh dalam meningkatkannya adalah media pembelajaran. Guru PAI dituntut untuk menggunakan dan mengembangkan media pembelajaran untuk membantunya dalam pelaksanaan pembelajaran. Media amat penting dalam mengantar dan memudahkan peserta didik untuk memahami materi-materi PAI yang kompleks, apalagi materi pembelajaran yang terkait dengan hal-hal transenden. Pengawas PAI harus pula berperan aktif dalam efektivitas penggunaan dan pengembangan media pembelajaran PAI. Peran pengawas bisa diwujudkan dengan mengoptimalkan supervisi akademik, menjadi motivator untuk menggerakkan guru PAI dalam mengembangkan media, menjadi peneliti untuk melakukan pengembangan-pengembangan media, menjadi penilai untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran, menjadi konsultan untuk membantu menagtasi masalah yang dihadapi guru, menjadi sumber inspirasi agar guru terinspirasi dari peran serta pengawas, dan menjadi pelopor perubahan untuk melakukan kreasi dan inovasi pembelajaran.AbstractThe quality of learning Islamic Education (PAI) needs to be improved because PAI is a subject oriented to the moral formation of students, especially spiritual and social attitudes. One of the things that has an effect on improving it is learning media. PAI teachers are required to use and develop learning media to assist them in implementing learning. The media is very important in delivering and facilitating students to understand complex PAI materials, especially learning materials related to transcendent things. PAI supervisors must also play an active role in the effectiveness of the use and development of PAI learning media. The role of supervisors can be realized by optimizing academic supervision, becoming a motivator to move PAI teachers in developing media, becoming researchers to carry out media developments, becoming an evaluator to evaluate the implementation of learning, becoming a consultant to help address problems faced by teachers, becoming a source of inspiration for teachers inspired by supervisory roles, and became a pioneer of change to make learning creations and innovations.
Internalisasi Nilai Hukum Islam dalam Rancangan KUHP di Indonesia (Studi terhadap Tindak pidana perzinahan dalam KUHP dan RKUHP ) Lisma Lisma
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.281

Abstract

AbstrakHukum pidana yang berlaku saat ini sejatinya sudah usang dan seharusnya diperbaharui untuk mengikuti perkembangan zaman, kendati demikian formulasi hukum pidana warisan kolonial hanya mementingkan aspek individual padahal hukum seyogianya memperhatikan aspek individual dan sosial. Hukum islam sebagai salah satu sistem hukum yang ada di dunia juga diakui dan berlaku di Indonesia bukan merupakan hal yang baru, berbagai aspek yang diatur dalam hukum islam sebenarnya mampu menjawab berbagai keresahan dalam praktik berhukum selama ini yang masih menggunakan hukum pidana warisan belanda. eksistensi hukum islam di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh faktor sejarah melainkan masyarakat yang telah mendiami wilayah Nusantara telah memperaktikan nilai-nilai hukum islam sejak zaman kerajaan, sehingga masyarakat Indonesia yang beradab menolak segala bentuk perbuatan yang menyimpang dari norma agama, moral, sosial dan hukum. Namum praktik hukum islam pada masa penjajahan tidak dapat diberlakukan karena kaidah politik hukum menghendaki rezim politik mempengaruhi jenis hukum yang diberlakukan. Sejak berlakuknya hukum pidana kolonial hingga sekarang banyak menimbulkan persoalan-persoalan dalam masyarakat, seperti kumpul kebo, penistaan agama, perjudian dan minuman keras. Internalisasi hukum islam dalam pembaharuan hukum pidana sejalan dengan hukum kebiasaan dan hukum adat yang tidak memperbolehkan setiap perbuatan yang melanggar hukum kebiasaan dan hukum adat dalam suatu masyarakat seperti dalam budaya bugis siri’ yang tidak memperbolehkan membawa lari anak gadis orang begitupun di hukum adat kajang yang tidak memperbolehkan perempuan dan laki-laki berboncengan atau berdua-duan, di Aceh bahkan telah membuat aturan setingkat daerah tentang larangan seorang wanita dan laki-laki berdua-duan. Internalisasi nilai tersebut mengharuskan setiap formulasi hukum yang ingin dimasukan dalam RKUHP menggali saripati hukum islam yang berasal dari al-Qur’an, Sunnah dan Qiyas. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif analitis dengan pendekatan yuridis normative yang mengkaji peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan persoalan tersebut dan dipadukan bahan-bahan hukum kepustakaan yang dapat menjelaskan fungsi hukum islam dalam memecahkan persolan hukum di Indonesia.AbstractThe current criminal law is in fact absoluete and should be renewed to keep pace with the times, not the formulation yet of the criminal law of the colonial inheritance is concerned only with the individual aspect whereas the law should pay attention to individual and social aspect. Islamic law as one of the existing legal system in the world is also recognized and applicable in Indonesia is not a new thing, the various aspects regulated in Islamic law is actually able to answer the various unrest in the practice of punishment so far that still use the dutch criminal law inheritance. The existence of islamic law in Indonesia is not only due to historical factors but the people who have inhabited the archipelago has been devoted to the values of Islamic law since the time of the kingdom, so that civilized Indonesian society reject all forms of acts deviating from religious, moral, social and legal norms. However, the practice of Islamic law in the colonial period can not be enforced because the political rule of law requires the political regime to influence the type of law imposed. Since the passage of colonial criminal law until now many cause problems in society, such as congregation kebo, blasphemy, gambling and liquor. The internalization of Islamic law in the renewal of the penal law is in line with customary law and customary law which does not allow any act that violates customary law and customary law in a society as in the siri 's bugis culture which does not permit the carrying of child girls as in customary kajang law allowing women and men to rally or to be together, even in Aceh have even made regional-level rules about the prohibition of a woman and a man on a budget. Internalization of these values requires that every formulation of law to be included in the draft penal code unearth the essence of Islamic law derived from the Qur'an, Sunnah and Qiyas. This study uses descriptive analytical method with normative juridical approach that examines the legislation relating to the issue and incorporated library literary materials that can explain the function of Islamic law in solving legal issues in Indonesia.The current criminal law is in fact absoluete and should be renewed to keep pace with the times, not the formulation yet of the criminal law of the colonial inheritance is concerned only with the individual aspect whereas the law should pay attention to individual and social aspect. Islamic law as one of the existing legal system in the world is also recognized and applicable in Indonesia is not a new thing, the various aspects regulated in Islamic law is actually able to answer the various unrest in the practice of punishment so far that still use the dutch criminal law inheritance. The existence of islamic law in Indonesia is not only due to historical factors but the people who have inhabited the archipelago has been devoted to the values of Islamic law since the time of the kingdom, so that civilized Indonesian society reject all forms of acts deviating from religious, moral, social and legal norms. However, the practice of Islamic law in the colonial period can not be enforced because the political rule of law requires the political regime to influence the type of law imposed. Since the passage of colonial criminal law until now many cause problems in society, such as congregation kebo, blasphemy, gambling and liquor. The internalization of Islamic law in the renewal of the penal law is in line with customary law and customary law which does not allow any act that violates customary law and customary law in a society as in the siri 's bugis culture which does not permit the carrying of child girls as in customary kajang law allowing women and men to rally or to be together, even in Aceh have even made regional-level rules about the prohibition of a woman and a man on a budget. Internalization of these values requires that every formulation of law to be included in the draft penal code unearth the essence of Islamic law derived from the Qur'an, Sunnah and Qiyas. This study uses descriptive analytical method with normative juridical approach that examines the legislation relating to the issue and incorporated library literary materials that can explain the function of Islamic law in solving legal issues in Indonesia.
Konsep Pendidikan Ibnu Sina tentang Tujuan Pendidikan, Kurikulum, Metode Pembelajaran, dan Guru Idris Rasyid
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.368

Abstract

AbstrakIbnu Sina atau Evicienna adalah merupakan salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam khazanah keilmuan dalam Islam khususnya yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Disamping itu, pemikiran Ibnu Sina mengenai pendidikan secara terstruktur dari tujuan, kurikulum, metode pembelajaran dan guru atau pendidik ialah faktron daripada unsur-usur determinan dalam pendidikan. Oleh karena itu, pemikiran Ibnu Sina dapat dijadikan acuan penting dalam memajukan dunia pendidikan. Dalam pandangan lain, bahwa hasil pemikiran Ibnu Sina tidak lain merupakan pengalaman hidupnya dalam menemukan ilmu pengetahuan yang sangat luas kemudian dituangkan kedalam media tulis dan menjadi sumber primer ilmu pengetahuan pada masanya. Dalam kaitan ini, kajian yang telah dipaparkan adalah salah satu asumsi menggali sumber primer tersebut dari khazanah keilmuan Ibnu Sina.AbstractIbnu Sina or Evicienna is one of the figures who has a major contribution in the treasures of science in Islam, especially those related to Islamic education. Besides that, Ibn Sina's thinking about education in a structured manner from goals, curriculum, learning methods and teachers or educators is factron rather than determinant elements in education. Therefore, the thought of Ibn Sina can be used as an important reference in advancing the world of education. In another view, that the results of Ibn Sina's thoughts were nothing but his life experience in discovering vast knowledge and then poured into written media and became the primary source of knowledge in his time. In this connection, the study that has been presented is one of the assumptions of exploring these primary sources from Ibn Sina's scientific treasures.
Problematika Pengoptimalan Potensi Wakaf Produktif di Kabupaten Bone Hamzah Hamzah
EKSPOSE Vol 18, No 1 (2019)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/ekspose.v18i1.362

Abstract

AbstrakSubjek penelitian ini adalah bagaimana permasalahan manajemen produktif wakaf di Kabupaten Bone. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan adalah: yuridis normatif, teologis, sosiologis, teoretis utilitarianisme atau utilitisme. Sumber data dalam penelitian ini meliputi; data primer berupa hasil kerja lapangan yang dilakukan di wilayah Kementerian Agama Kabupaten Bone dan data sekunder berupa dokumen yang dianggap relevan dengan penelitian dan mendukung penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk potensi bermasalah dari pekerjaan produktif di wilayah Departemen Wakaf urusan agama Kabupaten Bone memiliki potensi untuk menjadi produktif, tetapi Nazhir dan kurangnya optimisme pemerintah termasuk Kementerian Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai hambatan dalam memproduksi wakaf di Kabupaten Bone. Aset wakaf di Kabupaten Bone sebagian besar ditujukan untuk kepentingan ibadah, dibandingkan dengan manfaat ekonomi dan kesejahteraan umum. Implikasi dari penelitian ini adalah: (1) Potensi optimalisasi wakaf produktif di Kabupaten Bone perlu mendapat perhatian khusus untuk memaksimalkan fungsi Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia dalam melakukan pembinaan dan pengawasan wakaf properti; (2) Rekonstruksi paradigma masyarakat tentang wakaf perlu diprioritaskan dalam pemahaman modern tentang persalinan dalam mengelola wakaf secara produktif (3) Alokasi wakaf harus sesuai dan sesuai dengan kebutuhan Pemerintah Komunitas karena itu harus berkontribusi dalam pengelolaan wakaf dengan mempertimbangkan fungsi wakaf dengan skala prioritas.AbstractSubject matter of the research is how the problematic of productive management of endowments in Bone Regency. This type of research is qualitative research approach belongs to use are: normative juridical, theological, sociological, theoretical utilitarianism or utilitisme. The source of the data in this study include; primary data in the form of the results of the fieldwork conducted in the region Ministry of religious affairs Bone Regency and secondary data in the form of the documents considered to be relevant to the study and supports research. The results showed that the form of problematic potential of productive work in the territory of the Waqf Ministry of religious affairs Bone Regency have the potential to be productive, but Nazhir's and the government's lack of optimism include the Indonesian Waqf Ministry and Agency (BWI) as an obstacle in producing waqf in Bone Regency.Waqf assets in Bone Regency are mostly intended for the benefit of worship, compared to economic benefits and general welfare. The implications of this study are: (1) the Optimisation potential of productive endowments in the Regency of Bone need to attention specially to maximize the functions of Ministry of religious affairs and Indonesian Waqf Agency in doing coaching and supervision of property endowments; (2) The reconstruction of the paradigm of society about endowments need to be prioritized in the modern understanding of the childbirth on managing endowments productively (3) Allocation of endowments must be appropriate and in accordance with the needs of the Community Government must therefore contribute in the management of endowments by considering the function of endowments with a scale of priorities.

Page 1 of 1 | Total Record : 10