cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : -
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, (P-ISSN: 1978-8673 dan E-ISSN: 2656-9620) merupakan jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Sriwijaya yang mempublikasikan hasil penelitian Pendidikan Sejarah, Kajian Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya dalam Pendidikan Sejarah. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2022)" : 9 Documents clear
Peran Kapitan Jonkers Dalam Menolak Tindakan Rasisme Ditinjau dari Kebijakan VOC di Marunda (1684-1689) Ardiansyah Ardiansyah; Jumardi Jumardi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.14671

Abstract

Abstrak: Kapitan Jonkers memiliki merupakan orang kepercayaan pimpinan di VOC. Ia menolak kebijakan untuk pemisahan antar suku yang tinggal di Marunda karena sebagian dari pasukannya berasal dari berbagai macam etnis dan suku yang berbeda. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana upaya Kapitan Jonkers menolak kebijakan rasis di Marunda?. Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk menggenang akan kepahlawanannya dalam menentang konsep rasisme yang sejak dulu tanamkan di Nusantara. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode historis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kapitan Jonkers berupaya mempersatukan etnis-etnis yang tinggal di daerah Marunda. Penolakan yang dilakukannya terhadap kebijakan pemisahan antar etnis di Marunda merupakan bukti bahwa Kapitan Jonkers ialah seorang yang berjuang untuk persatuan antar etnis mengingat kebanyakan pengikutnya berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Pemecahan tiap suku dan etnis di Marunda, menurutnya dapat menimbulkan kecemburuan satu sama lain sehingga perpecahan dapat terjadi antar suku-suku yang tinggal di sana.Kata Kunci: Kapitan Jonkers, Rasisme, VOC, Marunda.The Role of Kapitan Jonkers in Rejecting Racism From the VOC Policy in Marunda (1684-1689) Abstract: Kapitan Jonkers had a confidant of leadership in the VOC. He rejected the policy of segregation between the tribes living in Marunda because some of his troops came from different ethnic groups and tribes. The problem of this research is how is Kapitan Jonkers' efforts to reject racist policies in Marunda?. The purpose of this research is to garner his heroism in opposing the concept of racism that has been instilled in the archipelago for a long time. The research method used is the historical method. The results of this study indicate that Kapitan Jonkers seeks to unite the ethnic groups living in the Marunda area. His rejection of the policy of inter-ethnic separation in Marunda is proof that Kapitan Jonkers is a person who struggles for inter-ethnic unity considering that most of his followers come from various regions in the archipelago. The division of each tribe and ethnicity in Marunda, according to him, can cause jealousy with each other so that divisions can occur between the tribes who live there.Keywords: Kapitan, Jonkers, Racism, VOC, Marunda. 
Upaya Pelestarian Ka Ga Nga Aksara Lokal Suku Rejang Di Kabupaten Rejang Lebong Hudaidah Hudaidah; Tedi Rizki
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.18323

Abstract

Abstrak: Tulisan ini mengkaji aksara  lokal Ka Ga Nga dan upaya pelestariannya pada Suku Rejang Di Kabupaten Rejang Lebong. Adapun permasalahan yang akan diangkat yaitu bagaimana perkembangan aksara Ka Ga Nga dan bagaimana upaya pelestariannya.  Adapun tujuan kajian untuk mendeskripsikan perkembangan aksara Ka Ga Nga dan upaya pelestariannya. Dalam melakukan kajian digunakan metode penelitian sejarah atau historis dengan pendekatan antropologis dan sosiologis, tempat penelitian dilakukan di Rejang Lebong provinsi Bengkulu. Hasil yang diperoleh bahwa aksara Ka Ga Nga diperkirakan berkembang pesat di Sumatera bagian Selatan pada abad ke- 16 hingga abad ke- 17 Masehi sebagai dari perkembangan dari aksara pallawa dan kawi. Aksara Ka Ga Nga sendiri banyak berkembang di wilayah Sumatera dan Sulawesi. Hal ini menandakan bahwa aksara Ka Ga Nga berkerabat dengan aksara di tanah  Bugis.  Namun dengan seiringnya waktu serta adanya penyatuan bahasa kesatuan tanah air aksara Ka Ga Nga sendiri mengalami penurunan penyebaran di kalangan masyarakat Rejang Lebong sehingga pemerintah serta badan adat setempat terus berupaya tetap melestarikan aksara Ka Ga Nga.  Badan Musyawarah Adat melakukan upaya-upaya mengembalikan warisan budaya Suku Rejang Lebong khususnya aksara Ka Ga Nga agar tidak hilang di masa depan dengan melakukan berbagai upaya-upaya prepentif.Kata Kunci : Pelestarian, Ka Ga Nga, Aksara, Lokal, Rejang, Lebong.Effort To Preserve Ka Ga Nga Local Script, Rejang Tribe In Rejang Lebong RegencyAbstract: This paper examines the local Ka Ga Nga and its conservation efforts in Rejang Tribe In Rejang Lebong Regency. The problems that will be raised are how to develop the Ka Ga Nga script and how to preserve it. The purpose of the study is to describe the development of the Ka Ga Nga script and its preservation efforts. In conducting the study, historical or historical research methods with anthropological and sociological approaches were used, where the research was conducted in Rejang Lebong, Bengkulu province. The results obtained are that the Ka Ga Nga is expected to develop rapidly in southern Sumatra in the 16th century to the 17th century AD as a result of the development of the pallawa and kawi.script Ka Ga Nga itself is widely developed in Sumatra and Sulawesi. This indicates that the Ka Ga Nga script is related to the script in Bugis land. However, with the passage of time and the unification of the language of the homeland, the Ka Ga Nga itself has decreased its distribution among the Rejang Lebong people so that the government and local traditional bodies continue to strive to preserve the Ka Ga Nga. The Indigenous Deliberative Council made efforts to restore the cultural heritage of the Rejang Lebong Tribe, especially the Ka Ga Nga so that it would not be lost in the future by making various preventive efforts. Keywords: Preservation, Ka Ga Nga, Local, Script, Rejang, Lebong.
Perkembangan Pemikiran Pluralisme Gus Dur (1971-2001) Nadif Hanan Narendra; Hieronymus Purwanta; Nur Fatah Abidin
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.16184

Abstract

Abstrak: Gus Dur adalah salah satu tokoh yang identik dengan pemikiran pluralismenya. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana perkembangan pemikiran Gus Dur tentang pluralisme (1971-2001)?. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan pemikiran Gus Dur tentang pluralisme (1971-2001). Penelitian dilaksanakan dengan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Gus Dur tentang pluralisme dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Menurut Gus Dur, pluralisme terfokus pada tauhid, hukum (fiqh), dan etika (akhlaq). Kebijakan ini sering menimbulkan kontroversi namun demikian kebijakan pluralisme Gus Dur mampu menghilangkan pengaruh Orde Baru, memulihkan hak asasi para korban diskriminasi seperti korban yang dianggap terlibat dalam partai komunis dan etnis Tionghoa, serta menyelesaikan permasalahan separatisme yang terjadi di Indonesia. Pemikiran pluralism Gus Dur terbentuk berdasarkan dialektika Gus Dur dengan lingkungan sekitarnya mulai dari masa sekolah sampai dengan menjabat sebagai presiden. Meskipun menghasilkan kontroversi, pemikiran pluralisme Gus Dur telah membuka cakrawala bangsa mengenai praktik baik pluralisme yang perlu dilanjutkan pada era saat ini. Kata Kunci: Gus Dur, Pemikiran Islam, Pluralisme, Ulama.The Development of Gus Dur’s Pluralism Thought (1971-2001)Abstract: Gus Dur is well acknowledge as pluralists. The problem this research is how Gus Dur's thoughts on pluralism from 1971 to 2001. This article aims to analyze the development of Gus Dur's thoughts on pluralism from 1971 to 2001. This research used historical method. The research findings show that Gus Dur's thoughts on pluralism were influenced by internal and external factors. According to Gus Dur, pluralism focuses on monotheism, law (fiqh), and ethics (akhlaq). This policy often caused controversy, however, Gus Dur's policy of pluralism was able to eliminate the influence of the New Order, restore the human rights of victims of discrimination such as victims who were considered involved in the communist party and ethnic Chinese, as well as resolve the problems of separatism that occurred in Indonesia. Gus Dur's thought of pluralism was formed based on Gus Dur's dialectic with the surrounding environment from his school days to serving as president. Although it generates controversy, Gus Dur's thinking of pluralism has opened the nation's horizons regarding the good practice of pluralism that needs to be continued in the current era. Keywords: Clerics, Gus Dur, Islamic Thought, Pluralism.
Eventful Man or Event Making Man? Para Tokoh Pejuang Lokal (1945-1950) Berdasarkan Toponimi Nama Jalan di Kota Palembang Aulia Novemy Dhita; Muhammad Reza Pahlevi; Khalidatun Nuzula; Rieca Nona Mutia; Salsabila Nofradatu; Tubagus Rizky Sunandar
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.18385

Abstract

Abstrak: Sidney Hook mengklasifikasikan the hero in history menjadi dua kateogori yaitu eventful man dan event making man. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, dapat mengklasifikasikan para tokoh pejuang (1945-1950) di Palembang yang ditelusuri berdasarkan toponimi nama jalan di Kota Palembang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengklasifikasian The hero in history-Sidney Hook terhadap para tokoh perjuang (1945-1950) di Palembang berdasarkan toponimi nama jalan di Palembang?. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan peran dan nilai-nilai perjuangan para tokoh pejuang (1945-1950) yang ditelusuri berdasarkan toponimi nama jalan di Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan metode historis dalam pemecahan permasalahan dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa hampi sebagian besar nama jalan di Palembang menggunakan nama para tokoh pejuang (1945-1950) di Palembang. Berdasarkan klasifikasi The hero on history-Sidney Hook, A.K. Gani (Jl. A.K. Gani) merupakan eventful man dan event making man. Adapun Abdul Rozak (Jl. Residen Abdul Rozak) dan M. Isa (Jl. dr. M. Isa) merupakan event making man. Selain ketiga tokoh pejuang tersebut, terdapat banyak tokoh pejuang (1945-1950) lainnya di Palembang.Kata Kunci: Sidney, Hook, Pejuang, Toponimi, PalembangEventful Man or Event Making Man? The Local Hero (1945-1950) Based on The Toponymy of Street Names in Palembang CityAbstract: Sidney Hook classifies the hero in history into two categories, namely eventful man and event making man.  Using this approach, it can classify the fighter figures (1945-1950) in Palembang which are traced based on the toponymy of street names in Palembang City. The problem in this study is how to classify ‘the hero in history-Sidney Hook’ against the fighting figures (1945-1950) in Palembang based on the toponymy of street names in Palembang?.  This study aims to describe the role and values of the struggle of the fighter figures (1945-1950) which are traced based on the toponymy of street names in Palembang City. This research uses historical methods in solving problems with heuristic stages, source criticism, interpretation and historiography. Based on the results of the study, it was obtained that most street names in Palembang use the names of fighter figures (1945-1950) in Palembang. Based on the classification of ‘the hero on history-Sidney Hook’, A.K. Gani (A.K. Gani Street) is an eventful man and an event making man. Abdul Rozak (Residen Abdul Rozak Street) and M. Isa (M. Isa Street) are making man events. In addition to these three fighter figures, there are many other fighter figures (1945-1950) in Palembang.Keyword: Sidney, Hook, Fighter, Toponym, Palembang.
Lapangan Merdeka Lubuklinggau sebagai Situs Budaya Lahan Bersejarah Tahun 1934 - 1988 Berlian Susetyo; Muhammad Wahayuni
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.16908

Abstract

Abstrak: Upaya penyelamatan cagar budaya merupakan hal yang wajib dilakukan karena merupakan identitas sebuah bangsa. Melalui penelitian ini akan dijelaskan bagaimana lapangan merdeka Lubuklinggau ini dapat menjadi dasar untuk dijadikan situs budaya lahan bersejarah.  Adapun tujuan penelitian yaitu menjelaskan Lapangan Merdeka Lubuklinggau sebagai situs budaya lahan bersejarah (1934-1988). Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, dengan tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bangunan atau situs umumnya kurang mendapat perhatian. Bangunan-bangunan bersejarah yang penting umumnya berada di pusat-pusat kota. Kini pusat kota dikembangkan menjadi daerah komersial sehingga cagar budaya yang ada di wilayah ini sangat rentan untuk dibongkar dan digantikan dengan bangunan-bangunan pusat belanja atau wisata, seperti misalnya Lapangan Merdeka yang berada di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan. Oleh karenanya, tempat ini merupakan lokasi peristiwa lintas zaman dimulai dari masa kolonial, masa revolusi fisik dan masa orde baru.Kata Kunci: Lapangan, Merdeka, Situs, Budaya, Lahan, Bersejarah.Lubuklinggau Merdeka Field As A Cultural Site Historical Land 1934 - 1988 Abstract: Efforts to save cultural heritage is something that must be done because it is the identity of a nation. Through this research, it will be explained how the Lubuklinggau independent field can be the basis for becoming a historical land cultural site. The purpose of the research is to explain the Lubuklinggau Merdeka Square as a historical land cultural site (1934-1988). The research method used is the historical method, with stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that buildings or sites generally received less attention. Important historical buildings are generally located in city centers. Now the city center has been developed into a commercial area so that the cultural heritage in this area is very vulnerable to be demolished and replaced with shopping or tourist center buildings, such as Merdeka Square in Lubuklinggau City, South Sumatra Province. Therefore, this place is the location of events across the ages starting from the colonial period, the physical revolution period and the new order era. Keywords: Merdeka,  Field, Cultural, Site, Historic, Land.
Eksistensi Kampung Pempek 26 Ilir Palembang Sumatera Selatan Tahun 1993-2010 Destri Ramadhani; Popy Ariska; Syarifuddin Syarifuddin; Supriyanto Supriyanto
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.17557

Abstract

Abstrak: Pempek merupakan makanan khas Palembang yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dengan nama kelesan. Di Palembang juga terdapat sentra kuliner pempek tepatnya di Kampung Pempek 26 Ilir. Permasalahan penelitian ini yaitu bagaimana perkembangan Kampung Pempek 26 Ilir Palembang (1993-2010). Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan Kampung Pempek 26 Ilir Palembang (1993-2010). Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan yaitu metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 1993 sudah ada pedagang yang menjual pempek di Kampung Pempek 26 Ilir tetapi masih sedikit. seiring berjalannya waktu semakin banyak pula yang memproduksi pempek, dan tapatnya pada tahun 2005 penjual pempek di kampung pempek 26 ilir palembang sudah semakin ramai dan terbilang sudah sepenuhnya berjualan pempek. tetapi kampung pempek 26 ilir belum ditetapkan sebagai kampung kuliner, tepatnya pada tahun 2010 Kampung Pempek 26 Ilir resmi dijadikan sebagai sentra perdagangan kuliner pempek palembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakan empat cara yaitu observasi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi.Kata kunci: Kampung, Pempek, Palembang, 26, Ilir.The Existence Of Kampung Pempek 26 Ilir, Palembang South Sumatra 1993-2010 Abstract: Pempek is a typical Palembang food that has existed since the time of the Sriwijaya Kingdom which is known as kelesan. There is also a Pempek culinary center in Palembang, precisely in Pempek 26 Ilir Village. The subject of this research is the development of Kampung Pempek 26 Ilir Palembang (1993-2010). This paper aims to describe the development of Kampung Pempek 26 Ilir Palembang (1993-2020). The method used to answer this problem is a qualitative research method. The results showed that since 1993 there have been traders who sell pempek in Kampung Pempek 26 Ilir but still few. Over time, more and more people were producing pempek, and in 2005, pempek sellers in the village of Pempek 26 Ilir, Palembang became increasingly crowded and were considered to have sold whole pempek. However, Pempek 26 Ilir Village has not been established as a culinary village, precisely in 2010 Pempek 26 Ilir Village officially became the center of the Pempek Palembang culinary trade. This study uses a qualitative research method with a descriptive approach using four methods, namely observation, interviews, literature study and documentation.Keywords: Kampung, Pempek, Palembang, 26, Ilir.
Orang Jawa di Bawah Pelepah Kelapa Sawit Sumatera Selatan: Studi Kasus PT Aek Tarum (1989-2020) Alif Bahtiar Pamulaan; Bondan Kanumoyoso
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.17876

Abstract

Abstrak: Pemerintah Orde Baru yang melihat kelapa sawit sebagai komoditas penting bagi perkembangan ekonomi Indonesia, memulai proyek pembangunan perkebunan kelapa sawit melalui program “Agroindustri” pada periode tahun 1980-an. Bermaksud menciptakan lapangan kerja, perusahaan  justru dihadapkan pada masalah pengadaan tenaga kerja di perkebunan. Penelitian ini dibuat sebagai upaya mendeskripsikan bagaimana perusahaan mengatasi sulitnya mencari tenaga kerja terampil di perkebunan kelapa sawit Sumatera Selatan, dengan studi kasus perkebunan kelapa sawit PT Aek Tarum yang berdiri tahun 1989 di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Kabupaten Komering Ilir. Dengan menggunakan metode sejarah, penelitian ini dilakukan dengan melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini dilakukan dengan memakai pendekatan ekonomi dan sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit, perusahaan sangat mengandalkan tenaga kerja yang didatangkan dari luar daerah. Ketergantungan ini pada akhirnya melahirkan komunitas masyarakat di perkebunan kelapa sawit Sumatera Selatan, yang diidentifikasi sebagai orang Jawa. Kata Kunci: Orang, Jawa, Kelapa, Sawit, PT, Aek, Tarum.Javanese Under Palm Oil Midrib of South Sumatera : Case Study of Aek Tarum CompanyAbstract: The New Order government that saw oil palm as an important commodity for Indonesia's economic development, initiating oil palm plantation development projects through the “Agro-industry” program in the 1980s. Intending to create jobs, the company is actually faced with the problem of procuring labor in plantations. This study was made as an effort to describe how companies overcome the difficulty of finding skilled workers in oil palm plantations in South Sumatra, with a case study of oil palm plantations of PT Aek Tarum which was established in 1989 in Mesuji District, Ogan Regency, Komering Ilir Regency. By using the historical method, this research was conducted through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. This research was conducted using an economic and socio-cultural approach. The results show that to overcome the problem of labor shortages in oil palm plantations, companies rely heavily on workers imported from outside the region. This dependence eventually gave birth to communities in oil palm plantations in South Sumatra, who were identified as Javanese.Keywords : Javanese, Palm,  Oil, Aek,  Tarum,  Company.
Tanah Tua Di Percandian Muarajambi Mirna Dwirastina; Sondang Martini Siregar; Hendra Hendra
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v11i2.16319

Abstract

Abstrak: Kawasan percandian Muarajambi merupakan kompleks percandian Buddha yang berasal dari abad ke-10 Masehi. Kawasan percandian berada pada bentang lahan fluvial dan diatas permukaan tanah yang datar dan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui a) stratifigafi formasi batuan, b) jenis-jenis tanah dan c) hubungan tanah candi dengan kitab agama Manarasilpasastra. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif terdiri dari  pengumpulan, pengolahan dan interpretasi data. Pengumpulan data melalui observasi literatur dan lapangan dengan dokumentasi foto, pengumpulan 22 sampel tanah. Selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk pembuatan peta stratifigrafi formasi batuan, pengiriman 22 sampel tanah untuk dianalisis terkstur ke labortorium dan ke laboratorium untuk mengetahui tekstur tanah dan analisis hubungan jenis tanah di kawasan percandian Muarajambi dengan kitab agama. Hasil penelitian menunjukkan kawasan percandian Muarajambi berada stratifigrafi formasi batuan Muara Enim. Percandian tidak berdiri diatas permukaan tanah sedimen sungai namun berupa lapukan batuan lempung. Maka tapak candi terlihat keras/stabil , Jenis tanah ultisol dan mengacu ke tanah Ksatria dalam kitab agama Manasarasilpasastra.Kata Kunci: Tanah, Candi, Kawasan, Muarajambi.Old Land in Muarajambi TempleAbstract: The Muarajambi temple area is a Buddhist temple complex dating from the 10th century AD. This area is located in a fluvial landscape and on a flat and dry land surface. This study aims to determine a) the stratification of rock formations, b) the types of soil and c) the relationship between the temple soil and religious scriptures in the construction of the temple. The method used is the method of explaining theory through data, with data collection, processing and interpretation. Collecting data through literature and field observations with photo documentation, collecting 22 soil samples. Furthermore, data processing was carried out for making stratigraphic maps of rock formations, sending 22 soil samples for texture analysis to laboratories and laboratories to determine soil texture and analyzing the relationship between soil types in Muarajambi enshrinement area with religious books. The results showed that Muarajambi temple area was in the stratigraphy of the Muara Enim rock formation, with clay content so that the footprint could be seen as hard/stable, the soil type was ultisol and referred to the Ksatria soil in the Manasarasilpasastra religious book.Keywords: Soil, Temple, Region, Muarajambi.
Pola Interaksi Dan Integrasi Budaya Arab-Melayu Palembang Apriana Apriana; Nurhayati Dina; Fatmah Fatmah
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Peneliti dalam penelitian ini  mengangkat permasalahan mengenai pola interaksi dan integrasi budaya Arab-Melayu Palembang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan pola interaksi dan integrasi budaya Arab-Melayu di Palembang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode historis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola-pola interaksi dan integrasi budaya Arab-Melayu Palembang meliput dua pola. Peneliti membagi ke dalam dua pola, yaitu satu sisi telah terjadi pengekalan budaya dan di sisi lain terjadi proses pembauran unsur-unsur budaya Melayu ke dalam budaya Arab di Palembang. Pengekalan budaya Arab di Palembang tersebut dapat dilihat dari sistem perkawinan, dalam kenyataannya laki-laki Arab boleh menikah dengan wanita Melayu tetapi sebaliknya wanita Arab tidak boleh menikah dengan orang Melayu. Tradisi tersebut masih tetap berlangsung hingga sekarang. Adapun dapat dilihat dari pembauran dua budaya dan cara pandang terhadap kebudayaan yang ada, bentuk arsitektur rumah, alat komunikasi, masakan dan minuman, ritual/seremonial, serta nilai-nilai  dan sikap-sikap, dan lain sebagainya.Kata Kunci: Interaksi, Integrasi, Arab, Melayu, Palembang.Patterns of Interaction and Integration of Palembang’s Arab-Malay CultureAbstract: Researchers in this study raised issues regarding the pattern of interaction and integration of the Arab-Malay Palembang culture. The purpose of this study is to explain the pattern of interaction and integration of Arab-Malay culture in Palembang. The method used in this research is the historical method. The results of this study indicate that the patterns of interaction and integration of Arab-Malay Palembang culture include two patterns. Researchers divide into two patterns, namely on the one hand there has been a perpetuation of culture and on the other hand there has been a process of assimilation of elements of Malay culture into Arabic culture in Palembang. The perpetuation of Arab culture in Palembang can be seen from the marriage system, in reality Arab men may marry Malay women but on the other hand Arab women cannot marry Malays. This tradition still continues today. It can be seen from the mingling of the two cultures and perspectives on the existing culture, the architectural form of the house, communication tools, cooking and drinks, rituals/ceremonials, as well as values and attitudes, and so on.Keywords: Interaction, Integration, Arab, Malay, Palembang.

Page 1 of 1 | Total Record : 9