cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
PENATALAKSANAAN KASUS MALOKLUSI SKELETAL KELAS III (HIPOPLASIA MAKSILA) DENGAN TEKNIK ORTODONTI DAN BEDAH ORTOGNATIK : LAPORAN KASUS Suryaprawira, Albert
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien dengan kelainan maloklusi skeletal kelas III disertai bentuk muka yang panjang memerlukan perencanaan dan penatalaksanaan dalam bidang ortodonti yang cukup rumit.  Perbaikan dalam hal fungsi dan estetik adalah sangat diperlukan.  Dalam laporan kasus ini dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 19 tahun yang mengeluhkan keterbatasan saat bicara dan mengunyah.  Pasein memiliki bentuk wajah bagian tengah yang kurang berkembang (hipoplasia maksila) dengan profil konkaf.  Pasien terdiagnosa memiliki maloklusi skeletal kelas III berat, dengan dimensi vertikal yang berlebih disertai gigitan terbuka anterior sebesar 2,5 mm.  Tujuan perawatan ini adalah untuk mencapai hasil estetik dan fungsi yang optimal.  Perawatan dilakukan dengan kombinasi antara teknik ortodonti dan bedah ortognatik.  Perawatan ortodonti meliputi ekspansi lengkung gigi dan pencabutan pada gigi geligi rahang atas.  Kemudian alat ortodonti cekat dipasang pada kedua rahang dengan memperhatikan koordinasi antar rahang dan proses dekompensasi sebelum prosedur bedah.  Badah orthognahic meliputi osteotomi Le Fort 1 disertai pergerakan maksila ke arah superior.  Didapat hasil akhir dengan bentuk skeletal kelas I dan dental kelas I dengan fungsi stomatognatik yang normal dan penampilan wajah yang baik.  Walaupun kasus ini cukup berat, namun dengan perawatan interdispliner antara ortodonti dan bedah orthognatik, maka didapat hasil yang memuaskan dan kestabilan perawatan yang baik.
PENGARUH BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU TERHADAP HALITOSIS (DI PESANTREN KHUSUS YATIM AS-SYAFI’IYAH) Oktanauli, Poetry
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Halitosis adalah bau mulut yang tidak sedap. Sebagian besar masyarakat yang mengalami bau mulut tidak menyadarinya dan hanya sebagian kecil masyarakat yang datang ke dokter gigi mengeluhkan halitosis. Anggapan bahwa halitosis tidak memerlukan penanganan khusus, tidak sepenuhnya benar karena halitosis dapat memberikan dampak sosial yang mempengaruhi citra seseorang. Apabila berbicara terlalu dekat dengan penyandang halitosis, maka lawan bicara akan menutup hidung atau bahkan menghindar. Tujuan: melalui penelitian ini, dapat diketahui apakah air seduhan teh hijau dapat menurunkan skor halitosis. Bahan dan cara: alat dan bahan yang digunakan adalah halimeter dan air rebusan teh hijau. Subjek penelitian tidak diperkenankan untuk makan dan minum selama 90 menit sebelum penelitian dilakukan, skor halitosis diukur sebelum dan sesudah berkumur dengan air rebusan teh hijau. Kesimpulan: penyebab utama dari halitosis adalah gas Volatile Sulfur Compounds (VSC). Teh hijau adalah jenis teh yang memiliki kandungan katekin yang sangat tinggi. Katekin adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab halitosis. Berkumur dengan air rebusan teh hijau telah terbukti mampu mengurangi skor halitosis. Oleh sebab itu, masyarakat dapat mulai memanfaatkan teh hijau sebagai alternatif lain dalam mencegah terjadinya halitosis.
POTENSI LARUTAN CHITOSAN 0,2% SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN IRIGASI DALAM PERAWATAN SALURAN AKAR GIGI Deviyanti, Sinta
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Irigasi dan instrumentasi merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam perawatan saluran akar gigi. Penggunaan instrumen manual dan instrumen yang digerakkan mesin, akan menghasilkan smear layer yang menutupi dinding saluran akar dan tubuli dentin yang terbuka.Pembersihkan debridement secara menyeluruh serta pembersihan smear layer merupakan landasan untuk mencapai keberhasilan perawatan saluran akar gigi. Irigasi dengan sodium hipoklorit (NaOCl) yang dikombinasi dengan bahan khelasi seperti Ethylenediaminetetraacetic (EDTA) telah direkomendasikan untuk pembersihan komponen organik dan komponen inorganik dari smear layer secara efektif. Namun, EDTA dapat bersifat erosif terhadap dentin, konsekuensinya mempengaruhi sifat kekerasan, permeabilitas dan pelarutan dentin di bagian dalam akar gigi. Penggunaan NaOCl tidak mampu membersihkan smear layer, karena hanya efektif terhadap debris organik. Oleh karena itu,dibutuhkan  penelitian untuk mencari larutan irigasi yang lebih kompatibel, efesien membersihkan smear layer dan menyebabkan erosi dentin yang lebih rendah. Saat ini, chitosan telah diteliti di bidang kedokteran gigi.Chitosan adalah polisakarida alamiah, berasal dari deasetilasi chitin yang terdapat pada cangkang kepiting dan udang. Chitosan memiliki kemampuan khelasi, biokompatibel, biodegradasi, bioadhesi dan tidak toksik terhadap tubuh manusia. Hasil-hasil penelitian terbaru telah menyimpulkan bahwa irigasi akhir dengan larutan Chitosan 0,2% setelah irigasi dengan larutan NaOCl, lebih efesien dalam membersihkan smear layer dibanding bahan irigasi lainnya dan menyebabkan erosi lebih sedikit pada dentin akar gigi. Chitosan dapat dipertimbangkan sebagai alternatif bahan irigasi dalam perawatan saluran akar gigi karena memiliki kemampuan khelasi pada dentin saluran akar gigi.
MODIFIED FEEDING BOTTLE FOR INFANT WITH CLEFT LIP AND PALATE AT THE PERIPHERAL AREA: A CASE REPORT Mardiyantoro, Fredy; Hapsari, Diwya Nugrahini; Milla, Lalita El
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.695

Abstract

Introduction:A newborn can suck at breast and latch well to get breast milk, but infants born with cleft lip and palate have difficulties to press the nipple by their tongues towards palatal direction. Case:A 10-day-old female infant came with complaint of not being able to breastfeed from a normal bottle and accordingly need to use spoon for milk feeding. She was planned to perform first step operation at 3 months with minimum 10 pounds of body weight. For nutrient intake, nasogastric tube had been placed on the patient. Case management :At the first visit, impression procedure was performed using red wax material that previously warmed thus it can be shaped according to the defect on infant’s palate. Subsequently, feeding obturator was fabricated using the resulting cast. Fabrication of feeding obturator used putty impression material combined with feeding bottle nipple. Thereafter, the modified feeding bottle was tried in the patient’s mouth. Conclusion:the use of putty material combined with feeding bottle nipple in infants with cleft palate may function as obturator. Furthermore, correction using the one of the modified feeding bottle can be carried out every 1-2 weeks until surgical repair of the cleft palate is performed.Keywords: cleft palate, feeding bottle, putty material, nutrition
SEMEN TRIKALSIUM SILIKAT SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF UNTUK PENATALAKSANAAN HIPERSENSITIF DENTIN (Kajian Pustaka) Deviyanti, Sinta
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.852

Abstract

Hipersensitif dentin adalah rasa sakit yang timbul khususnya sebagai respon terhadap rangsangan suhu, uap, kimiawi, taktil atau osmotik pada dentin yang terbuka. Hal ini berkaitan dengan terbukanya dentin karena hilangnya email oleh proses abrasi, erosi atau terbukanya permukaan akar gigi akibat resesi gusi atau perawatan periodontal. Rangsanganrangsangan ini akan menyebabkan pergerakan cairan dentin di dalam tubuli dentin yang terbuka sehingga menimbulkan eksitasi saraf dan rasa sakit. Rasa sakit yang timbul pada hipersensitif dentin memiliki variasi sifat yang ekstrim mulai dari kisaran intensitas tidak nyaman sampai sakit sekali. Meskipun berbagai pilihan perawatan menyatakan keberhasilannya dalam menghilangkan keluhan hipersensitif dentin, saat ini belum ada satupun bahan desensitisasi yang dianggap ideal untuk penatalaksanaan kondisi ini. Semen trikalsium silikat kini telah diperkenalkan sebagai bahan kedokteran gigi yang bersifat bioaktif dan biokompatible. Reaksi hidrasi dari semen trikalsium silikat dengan air akan membentuk kalsium hidrat silikat dan reaksi pengerasan. Selama proses hidrasi, bahan ini tetap mampu meresap ke dalam tubuli dentin dan berpotensi memicu penutupan tubuli melalui pengendapan kristal hiroksiapatit. Penutupan tubuli dentin merupakan hal utama yang penting untuk desensitisasi. Penelitian secara in vitro pada semen kalsium silikat telah menunjukkan efektivitasnya dalam mengurangi permeabilitas dentin dan penutupan tubuli. Penggunaan semen trikalsium silikat secara klinis sebagai bahan desensitisasi, layak dipertimbangkan sebagai alternatif penatalaksanaan hipersensitif dentin.
DISTRIBUSI FREKUENSI PERUBAHAN GINGIVA PADA PEROKOK Oktanauli, Poetry; Taher, Pinka; Andini, Nabilla Putri
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.844

Abstract

Pendahuluan: rokok dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada setiap jaringan tubuh termasuk rongga mulut, salah satunya gingiva. Dampak negatif merokok antara lain gingivitis dan pigmentasi gingiva. Tujuan: untuk memberikan informasi mengenai frekuensi perubahan gingiva pada perokok, sehingga diharapkan para perokok dapat menghentikan kebiasaan merokok. Hasil: hasil penelitian menunjukkan dari 30 subjek penelitian yang diperiksa, sebanyak 27 subjek mengalami pigmentasi gingiva, 29 subjek mengalami gingivitis, 18 subjek memiliki skor gingiva berupa inflamasi ringan dan 12 subjek mengalami inflamasi sedang. Diskusi: pigmentasi gingiva disebabkan karena kandungan nikotin dan benzopyrene dalam asap rokok yang merangsang produksi melanin berlebihan yang berasal dari melanosit. Gingivitis pada perokok terjadi karena kandungan tar yang mengendap pada gigi, menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar sehingga plak mudah melekat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa di FKG UPDM(B) dengan jumlah subjek penelitian 30 orang yang diambil dengan cara quota sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis gingiva secara visual dan pemeriksaan status gingiva berdasarkan indeks gingiva. Kesimpulan: merokok terbukti dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada gingiva.
PENGARUH REBUSAN DAUN SIRIH 50% DAN 70% TERHADAP PENURUNAN JUMLAH Candida albicans PADA PLAT RESIN AKRILIK Heat Cured nuning, fransiska
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.783

Abstract

Gigi tiruan yang terbuat dari resin akrilik sering menjadi tempat pertumbuhan Candida albicans, dan bila tidak dibersihkan dengan baik akan menyebabkan Candidiasis. Gigi tiruan dapat dibersihkan untuk menghilangkan pertumbuhan Candida albicans, salah satunya adalah menggunakan tanaman daun sirih. Daun sirih (Piper betle L.) diketahui berkhasiat sebagai antijamur dan desinfektan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental laboratorium dengan desain posttest control group design. Sampel penelitian yang digunakan yaitu 27 plat resin akrilik heat cured berukuran 10x10x2 mm. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 9 plat resin akrilik heat cured, yang direndam dalam rebusan daun sirih 50%, 70% dan aquadest sebagai kelompok kontrol selama 30 menit. Sebelum penelitian, plat resin akrilik direndam dalam saliva buatan selama 1 jam. Setelah dibilas dengan larutan NaCl fisiologis 0,85%, plat resin akrilik diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC didalam suspensi Candida albicans 108 CFU/ml. Kemudian dilakukan pengenceran seri 10-3, diambil 1 ml diteteskan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) lalu diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37oC. Selanjutnya perhitungan Candida albicans dengan colony counter.Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis.  Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai p= 0.000 (p<0.05), hal ini menunjukkan bahwa  terdapat perbedaan bermakna antara masing-masing kelompok sampel. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rebusan daun sirih 50% dan 70% dapat menurunkan jumlah Candida albicans pada plat resin akrilik heat cured. Rebusan daun sirih 70% lebih menurunkan jumlah Candida albicans pada plat resin akrilik heat cured dibanding rebusan daun sirih 50%.
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA SISWA SEKOLAH DASAR USIA 8-10 TAHUN Wulandari, Ninis Yekti
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.637

Abstract

Karies gigi merupakan salah satu gangguan kesehatan gigi dan mulut. Gigi molar satu merupakan gigi tetap yang pertama erupsi pada umur sekitar 6-7 tahun, sehingga menjadi gigi yang paling berisiko terkena karies. Prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun merupakan jumlah orang dalam satu populasi yang mengalami karies gigi.            Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun dilakukan di SDN 04 Pagi Pasar Minggu, SDN 05 Pagi Pasar Minggu, SD Al-Hikmah dan MI Darul Mutaqqin pada bulan Oktober 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional. Populasi pada penelitian ini adalah semua anak sekolah usia 8-10 tahun. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling.            Data hasil pemeriksaan karies gigi molar satu permanen pada anak umur 8 – 10 tahun diperoleh melalui pemeriksaan karies yang bersifat objektif. Pada 236 sampel terdapat 944 gigi molar satu permanen dan hasil penelitian menunjukkan gigi yang mengalami karies sebanyak 108 gigi pada anak umur 8 tahun, 233 gigi pada anak umur 9 tahun dan 137 gigi pada anak umur 10 tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan penyebab karies gigi masih tinggi adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut baik dari anak dan orangtua.
HUBUNGAN pH PLAK TERHADAP TERJADINYA EARLY CHILDHOOD CARIES (ECC) (Studi Pada Anak Usia 6-48 Bulan di Kecamatan Neglasari Kota Tangerang) Pindobilowo, Pindobilowo; Setiawati, Febriana; Darwita, Riska Rina
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.845

Abstract

Latar Belakang : salah satu tindakan pencegahan Early Childhood Caries (ECC) adalah menjaga pola makan yaitu dengan membatasi makanan kariogenik, menjaga frekuensi makan, dan selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut, karena dengan mengontrol pola makan dan menjaga kesehatan gigi dan mulut maka pH plak dapat terkontrol sehingga gigi akan terhindar terhadap karies, serta di dukung oleh perbaikan status gizi anak dan peran ibu dalam mencukupi gizi selama masa kehamilan. Tujuan : untuk menganalisa hubungan pH plak terhadap terjadinya ECC. Metode : cross sectional pada 287 anak usia 6-48 bulan di kecamatan Neglasari kota Tangerang, wawancara pada ibu, dan pemeriksaan intra oral pada anak, metode sampling multistage cluster random sampling. Hasil : proporsi ECC terbanyak terdapat pada pH plak 6,5- 6,9 sebanyak 79,2% dengan nilai p=0,000 (p<0,005) dan merupakan salah satu prediktor yang baik terhadap terjadinya ECC . Simpulan: terdapat hubungan yang bermakna pH plak terhadap terjadinya ECC, variabel ini sesuai dengan pencegahan terjadinya ECC karena termasuk dalam model prediktor ECC , besar variasi model ini 56,9% dengan akurasi prediksi 81,9%.
SUPERIMPOSISI SEFALOMETRI PADA MALOKLUSI SKELETAL KELAS III DENGAN BEDAH ORTOGNATIK Suryaprawira, Albert
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.833

Abstract

Latar BelakangMetodeHasilKesimpulan

Page 2 of 19 | Total Record : 186