cover
Contact Name
Yufitri Mayasari
Contact Email
yufitrimayasrai@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yufitrimayasari@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
ISSN : 16933079     EISSN : 26218356     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
PENATALAKSANAAN KASUS KANDIDIASIS PSEUDOMEMBRAN AKUT PADA DIABETES MELLITUS Puspa Dewi, Siti Rusdiana
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i2.890

Abstract

Latar belakang: Kandidasis pseudomembrane akut sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk membahas manifestasi oral dan penatalaksanaan kandidasis pada penderita diabetes. Laporan kasus: pasien perempuan berusia 56 tahun datang ke Rumah Sakit Moehammad Hoesin dengan keluhan adanya lapisan putih yang tebal pada lidah sejak 2 bulan yang lalu. Lidah terkadang terasa pedih dan pasien tidak pernah membersihkan lidahnya. Pasien memiliki riwayat penyakit Diabetes Mellitus tidak terkontrol yang terdeteksi sejak 6 bulan yang lalu. Dilakukan pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan mikrobiologi dan pemeriksaan gula darah. Hasil pemeriksaan mikrobiologi menunjukkan Candida albicans (+) dan didiagnosis Pseudomembran Kandidiasis Akut. Hasil pemeriksaan gula darah menunjukkan kadar gula darah sewaktu 306mg/dl, dan HbA1c 7,5%. Pasien diberikan medikasi berupa Nistatin drop 12 ml dengan instruksi pemakaian 2 ml 3x/hari diteteskan ke seluruh bagian dorsum lidah. Betadin kumur 1% 100 ml juga diberikan dengan instruksi pemakaian 3x/hari 10 ml dengan cara berkumur sehingga cairan berkontak dengan seluruh bagian yang terinfeksi kandida. Pasien juga diberikan instruksi untuk menjaga kebersihan rongga mulut, menggunakan obat teratur, dan kontrol teratur terhadap kondisi sistemiknya. Kesimpulan : penatalaksanaan oral kandidiasis sangat penting diikuti dengan mengontrol kondisi penyakit yang diderita oleh pasien, sehingga diperoleh prognosis perawatan oral yang baik pula.
GAMBARAN COMPOUND ODONTOMA DARI RADIOGRAF PANORAMIK DAN CBCT nasution, fitri angraini
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v15i2.698

Abstract

Latar belakang: odontoma adalah tumor odontogenik yang memiliki sifat klinis jinak, dianggap sebagai kelainan perkembangan (hamartoma) dan bukan merupakan tumor sejati (true neoplasm). Tumor odontogenik ini terdiri dari jaringan email, dentin, sementum dan pulpa. Odontoma terdiri dari dua jenis yaitu compound dan complex odontoma. Compound odontoma sering terjadi pada regio insisivus-kaninus maxilla. Tumor ini berhubungan dengan erupsi gigi yang tertunda, impaksi dan persistensi gigi sulung. Laporan kasus: pasien perempuan berusia 10 tahun bersama orang tuanya datang ke bagian Pedodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran Bandung dengan keluhan gigi depan rahang atas kiri belum tumbuh. Kemudian pasien dirujuk ke bagian radiologi untuk dilakukan pemeriksaan panoramik dan Cone Beam Computed Tomography (CBCT). Hasil radiograf panoramik dan CBCT menunjukkan lesi dengan struktur densitas multiple radioopak berbentuk seperti gigi dikelilingi radiolusen dengan batas well-defined corticated. Diagnosis secara radiograf adalah compound odontoma yang menyebabkan impaksi gigi insisivus sentral rahang atas. Kesimpulan: radiograf panoramik dan CBCT dapat digunakan untuk mendeteksi gambaran compound odontoma. 
PENGARUH STROBILANTHES CRISPUS BI TERHADAP KHM DAN KBM PADA BAKTERI AGGREGATIBACTER ACTINOMYECETEMCOMITANS DAN FUSOBACTERIUM NUCLEATUM SECARA IN-VITRO Wantenia, Fenny; Susanto, Chandra; W, M Suksestio
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.1012

Abstract

Latar belakang : penyakit periodontitis adalah penyakit yang dapat merusak jaringan ligamen dan tulang alveolar. Penyebab periodontitis adalah bakteri gram negatif, yaitu bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Fusobacterium nucleatum. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Fusobacterium nucleatum terhadap pengaruh ekstrak daun Strobilanthes crispus BI. Metode : jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorik, sebanyak 5 sampel dalam satu jenis bakteri yang diuji. Sampel di lakukan dengan di larutkan di dalam etanol kemudian dilakukan dengan percobaan 5 replikasi dalam berbagai konsentrasi dan di inkubasikan di dalam tabung reaksi selama 24 jam di dalam inkubator. Hasil : penelitian ini  dilakukan dengan pengujian DMRT (Ducan Multiple Range Test) pada 5% yang menunjukkan pengaruh Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Fusobacterium nucleatum. Dari hasil penelitian ini, ekstrak daun keji beling 100% dapat menujukkan nilai absorbansi terendah pada kadar hambat minimum dan kadar bunuh minimum terhadap bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Fusobacterium nucleatum secara berturut-turut 0.1540 dan 0.4072, yang menunjukkan bahwa larutan tersebut menjadi lebih jernih. Sedangkan pada perlakuan ekstrak daun keji beling 20% dan 40% menujukkan nilai absorbansi 1.3192 dan 1.2120 yang memiliki nilai yang lebih rendah dari kontrol. Kesimpulan : pengaruh ekstrak daun Strobilanthes crispus BI memberikan efek mampu menghambat pertumbuhan pada Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Fusobacterium nucleatum.
UJI TEKAN POLYETHYLENE FIBER DENGAN FERULLE PADA INSISIVUS PERTAMA MAKSILA Anita, Anita
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.911

Abstract

Latar belakang : pasak intraradikuler terbukti dapat memberikan dukungan pada restorasi gigi yang telah dirawat endodontik. Fiber reinforced composite memiliki modulus elastisitas mendekati dentin, dimana hal ini baik untuk menyalurkan tekanan kunyah ke akar. Polyethylene fiber merupakan jenis pasak yang banyak berkembang belakangan ini karena memiliki kelebihan mudah dibentuk serta memberikan estetik yang baik. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tekan polyethelene fiber sebagai bahan pasak inti pada gigi insisivus pertama maksila. Metode : sampel sebanyak 7 gigi insisivus pertama maksila yang telah dirawat endodontik, dibuatkan pasak dan inti. Hasil : dilakukan uji tekan pada permukaan palatal inti komposit dengan sudut 135 derajat terhadap sumbu panjang gigi, diperoleh nilai uji tekan paling tinggi sebesar 661,62 N dan paling rendah sebesar 120,27 N. Hasil uji tekan memiliki nilai rata-rata uji tekan sebesar 438,57 N, dengan standar deviasi 177,82. Daya kunyah rata-rata pada insisivus pertama pada pria yaitu 147,17 N, dan pada wanita yaitu 93,88 N. Kesimpulan :  polyethylene fiber dengan akhiran ferulle dapat digunakan sebagai bahan pasak yang mampu menahan daya kunyah pada gigi insisivus pertama maksila.
PARESTESIA KANALIS MANDIBULA INFERIOR AKIBAT KISTA ODONTOGENIK DITINJAU DARI RADIOGRAF PANORAMIK Keshena, Jatu Rachel
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.887

Abstract

Latar belakang : lesi radiolusen pada rahang dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Lesi ini dapat mewakili variasi anatomi atau merupakan proses lesi inflamasi, jinak hingga ganas. Kista radikular adalah jenis kista odontogenik yang paling umum di rahang, seringkali tidak menunjukkan adanya gejala kecuali terjadi infeksi sekunder. Kista radikular cenderung bertumbuh lambat, namun tergantung pada ukuran lesi dan hubungannya dengan jaringan sekitar. Kista radikular dapat menyebabkan mobilitas gigi, resorpsi akar, perpindahan gigi hingga parestesia. Parestesia terjadi sebagai akibat dari tekanan lokal yang disebabkan oleh patologi periapikal dan berbagai lesi intraosseous mandibula pada jaringan saraf. Laporan kasus ini menginterpretasikan gambaran kista radikular yang mengakibatkan parestesia kanalis mandibula inferior pada radiograf panoramik dan gambaran lesi radiolusen lainnya. Laporan kasus : seorang pasien laki-laki berusia 32 tahun datang ke Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi RSGM Unpad dengan membawa surat rujukan untuk dilakukan pemeriksaan radiograf panoramik. Pada pemeriksaan ekstra oral pasien menunjukkan tidak adanya asimetris wajah. Palpasi menunjukkan adanya krepitasi. Tidak ada kelainan kelenjar getah bening. Pemeriksaan intra oral tampak kavitas di oklusal gigi 47, bengkak, gigi 46 missing, mukosa regio 47 tampak normal sama dengan tampilan mukosa sekitar. Pada sisi yang bersangkutan pasien mengeluhkan adanya rasa baal. Suspek radiodiagnosis pada pemeriksaan radiograf panoramik adalah kista radikular. Kesimpulan : investigasi klinis dan radiografi diperlukan untuk menegakkan diagnosis yang tepat serta memungkinkan dokter mencapai perawatan yang lebih konservatif untuk menyelamatkan integritas baik jaringan lunak dan keras.
THE EFFECT OF HERBAL MOUTHWASH (BETEL LEAF) AGAINST HALITOSIS IN ELDERLY Oktanauli, Poetry
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.611

Abstract

Background: elderly generally experience a decreased in oral hygiene, number of teeth, mucosal sensitivity of the oral cavity and xerostomia. Xerostomia can cause the decreased in oral hygiene and cause an increase in bad breath (halitosis). One of halitosis therapy that can be done is by using mouthwash. Of the various types of mouthwash on the market, the effectiveness of herbal mouthwash against halitosis is unknown. This research is using herbal mouthwash containing betel leaves, becauseit has an antibacterial, antioxidant and antifungal ability. Purpose : to give information on the benefits of herbal mouthwash on decreasing halitosis score in elderly. Method: this was a clinical experimental research with cross sectional approach. Spearman correlation test was used to determine the effect of herbal mouthwash on decreasing halitosis scores. The numbers of subject were 30 and obtained by quota sampling. Data collection was done by measuring initial and final halitosis score after rinsing with herbal mouthwash (betel leaf), using Tanita breath checker. Tanita breath checker is an innovative palm-sized monitor that can detect and measure the presence of volatile sulfur compound (VSC) by displaying the level of halitosis. Result: the result showed a decrease in halitosis score before and after rinsing with herbal mouthwash (betel leaf). A significant decrease in the halitosis score is indicated by the p=0,000 obtained from the results of the Spearman correlation test. There was a significant decrease in the halitosis score after rinsing with herbal mouthwash. Conclusion: the present study showed that the decrease in halitosis score is due to the betel leaf containing essential oils. The largest content of essential oils is kavikol and betlephenol. Kavikol has an antibacterial power five times stronger than phenol. Thus, herbal mouthwash (betel leaf) can be used as an alternative therapy to overcome halitosis in the elderly.
PERBEDAAN KADAR INTERLEUKIN-1β CAIRAN SULKUS GINGIVA PADA AKTIVASI PERANTI ORTODONTI LEPASAN Lia, Kori Nia
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.918

Abstract

Latar belakang : tekanan mekanis yang ringan pada aktivasi peranti ortodonti lepasan dapat menimbulkan respons inflamasi pada jaringan periodontal. Interleukin-1? merupakan salah satu sitokin inflamasi yang kadarnya meningkat dalam cairan sulkus gingiva di sekitar gigi yang bergerak. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar interleukin-1? pada aktivasi peranti ortodonti  lepasan pada waktu 0 jam, 24 jam dan 48 jam setelah aktivasi dengan pemberian tekanan mekanis. Metode : jenis penelitian ini adalah observasional analitik. Sebanyak 6 pasien yang bersedia ikut dalam penelitian diambil sebagai subjek penelitian dengan kondisi maloklusi gigi insisivus bawah yang berjejal. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu : sebelum pemberian tekanan, serta 24 jam dan 48 jam setelah pemberian tekanan. Cairan sulkus gingiva diambil dengan paper point  dari gigi insisivus bawah yang diberi tekanan ringan dengan klamer simpel sebesar 20-26 gr/cm2. Sampel selanjutnya diperiksa dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) dengan reagen Human ELISA kit interleukin-1?. Data yang didapat dianalisis dengan uji t-paired. Hasil : pada penelitian didapat rerata kadar interleukin-1? pada waktu 0 jam, 24 jam dan 48 jam adalah 0,39 pq/ml, 0,93 pq/ml dan 0,69 pq/ml. Hasil uji statistik dengan t-paired menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar interleukin-1? yang signifikan antara 0 jam dengan 24 jam dan antara 24 jam dengan 48 jam, dengan p>0,05. Kesimpulan: dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tekanan mekanis pada aktivasi peranti ortodonti lepasan menimbulkan respon inflamasi akut yang ditandai dengan peningkatan kadar interleukin-1? pada waktu 24 jam dan menurun pada waktu 48 jam.
PERBANDINGAN STABILITAS WARNA BASIS RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS DENGAN RESIN NILON TERMOPLASTIS DALAM LARUTAN COKLAT kusmawati, Fransiska Nuning
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.950

Abstract

Latar belakang : bahan yang digunakan untuk  basis gigi tiruan yaitu resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastis. Kedua bahan tersebut memiliki kekurangan yang sama, yaitu penyerapan air yang tinggi sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada bahan basis gigi tiruan. Bahan dasar makanan dan minuman yang sering dikonsumsi manusia adalah coklat. Kandungan tanin dalam coklat dapat mempengaruhi perubahan warna pada basis gigi tiruan. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menjelaskan stabilitas warna plat basis resin akrilik polimerisasi panas dengan resin nilon termoplastis dalam  larutan coklat. Metode Penelitian : pada penelitian ini digunakan 32 sampel yang terbagi dalam 2 kelompok resin akrilik polimerisasi panas dan resin nilon termoplastis yang direndam dalam 10 ml larutan coklat selama 7 hari. Pengukuran warna dilakukan dengan alat VITA easyshade sebelum dan setelah perendaman.Data yang diperoleh terdiri dari value, chrome, dan hue lalu diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil : hasil perbandingan perubahan nilai warna basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastis sebelum dan setelah perendaman dengan larutan coklat selama 7 hari menggunakan uji Mann Whitney menunjukkan hasil yang signifkan (p < 0.05) untuk value senilai 0.008, chroma 0.000 dan hue 0.000. Terdapat penurunan rata-rata nilai value pada kelompok resin akrilik polimerisasi panas lebih besar dari pada resin nilon termoplastis, peningkatan rata-rata nilai chroma pada kelompok resin nilon termoplastis lebih besar dari pada resin akrilik polimerisasi panas, dan peningkatan rata-rata nilai hue pada kelompok resin nilon termoplastis lebih besar dari pada kelompok resin akrilik polimerisasi panas. Kesimpulan : plat resin akrilik polimerisasi panas lebih stabil terhadap perubahan warna dibandingkan dengan nilon termoplastis dalam perendaman larutan coklat selama 7 hari.
THE RELATIONSHIP BETWEEN DENTAL HEALTH PERCEPTION AND DENTAL SERVICE UTILIZATION AMONG SCHOOL CHILDREN IN SOUTH JAKARTA Januar, Paulus
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v16i1.1016

Abstract

Background: the utilization of dental service is an important factor inoral health. The utilization of dental service is affected by the perception and the importance that the person gives to their oral health and needs. The objective of the study was to analyze the relationship between the perception of dental health and utilization of dental service. Method: a qualitative analytical cross-sectional study was conducted among 120 students of 12 elementary schools in south Jakarta, selected using a proportional sampling method. A questionnaire was administered to elicit data on dental health perception and dental service utilization. Result: Most students perceived their dental health as good and never had dental sickness. Almost half of the sample never utilized dental service and the utilization of dental service mostly for extracting and filling the teeth. Chi-square test showed significant difference between the perception of the occurrence of dental sickness with the frequency and pattern of dental service utilization and no significant difference between the perception of the health of teeth and oral soft tissue with the utilization of dental service. Conclusions: there were relationships between the perception of the occurrence of dental sickness with the frequency and with the pattern of dental service utilization. There was no relationship between the perception of the healthy teeth and oral soft tissue with the utilization of dental service.
PERUBAHAN POSISI BIBIR BAWAH PADA PERAWATAN ORTODONTI DENGAN PENCABUTAN PADA MALOKLUSI KELAS II DIVISI 1 Albert Suryaprawira
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v17i1.1118

Abstract

Latar belakang : maloklusi  adalah kelainan pada gigi dan mulut yang terjadi sejak masa anak-anak pada periode gigi bercampur.  Perawatan ortodonti tidak hanya ditujukan untuk gigi saja, akan tetapi juga untuk memperbaiki penyimpangan morfologis dan komplek dentofasial. Kasus Kelas II Divisi 1 memiliki angka insidensi 20 persen. Dalam perawatan ortodonti, untuk mendapatkan ruangan salah satu metode yang digunakan adalah pencabutan gigi premolar yang dapat mempengaruhi kondisi jaringan lunak mulut terutama posisi bibir bawah pasien ke arah yang lebih mundur dari sebelum perawatan.  Namun respon dari jaringan lunak memang berbeda pada setiap individu.Tujuan : penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan posisi bibir bawah pada perawatan ortodonti dengan pencabutan. Metode : penelitian ini berjenis analitik observasional dengan sampel 20 pasien yang diukur posisi bibir bawahnya menggunakan metode analisa sefalometri E-Line yang kemudian diuji dengan statistik T berpasangan. Hasil : didapatkan p value sebesar 0.000 artinya terdapat  perubahan  posisi  bibir  bawah  terhadap  garis E-Line . Rata-rata (mean) posisi bibir bawah terhadap  garis E-Line  sebelum perawatan adalah 1 (standar deviasi 0.214) dan setelah perawatan adalah sebesar -0.7 (standar deviasi 0.202). Maka secara statistik terdapat  perubahan  posisi  bibir  bawah  terhadap  garis E-Line ke arah posterior. Kesimpulan : pada kasus ortodonti dengan pencabutan gigi premolar atas kanan dan kiri yang mengakibatkan adanya pergerakan gigi ke arah posterior maka terdapat perubahan posisi  bibir  bawah  terhadap  garis E-Line ke arah posterior  pada pasien dengan Maloklusi Kelas II Divisi 1.

Page 5 of 19 | Total Record : 186