JITEKGI Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi
Bidang ilmu Kedokteran Gigi yang disajikan dalam jurnal ini adalah meliputi Ilmu Konservasi Gigi, Periodontologi, Ortodontik, Ilmu Penyakit Mulut, Prostodontia, Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Ilmu Bedah Mulut, Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat & Pencegahan, serta bidang ilmu penunjang Kedokteran Gigi seperti Radiologi Dental, Biologi Oral, Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, juga bidang ilmu kesehatan umum lain. Jurnal ini terbit berkala dua kali setahun (di bulan Mei dan November).
Articles
186 Documents
TOKSIN BOTULINUM (Kajian Pustaka)
Hertiana, Elin
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.849
Toksin botulinum adalah suatu neurotoxin yang diproduksi oleh bakteri Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan paralisis sementara pada otot jika diinjeksikan di sekitarnya. Ada tujuh strain botulinum, yaitu A, B, C, D, E, F, dan G. Botulinum tipe A (BTX-A) dan tipe B (BTX-B) yang banyak digunakan untuk pengobatan. Toksin botulinum bekerja dengan cara menghambat pelepasan asetilkolin sehingga otot tidak dapat berkontraksi dan terjadi paralisis sementara. Penyembuhan parsial akan terjadi dalam 28 hari dan dalam waktu 3 – 6 bulan otot akan berkontraksi kembali.
PRO DAN KONTRA ANTARA HUBUNGAN MENYUSUI DAN EARLY CHILDHOOD CARIES (ECC) (Kajian Pustaka)
Sebastian, Wulan Apridita;
Mayasari, Yufitri;
Ruslan, Mutiara Rina Rahmawati
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.854
Karies awal pada masa kanak-kanak atau ECC adalah suatu bentuk awal dari karies gigi yang disebabkan oleh banyak faktor. Hal ini menjadi sasaran utama dalam menentukan promosi kesehatan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO), menyusui merupakan faktor penting untuk menurunkan angka kematian bayi dan malnutrisi. Air Susu Ibu (ASI) harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ASI disertai Makanan Pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun. Namun pemberian ASI masih merupakan perdebatan dikalangan peneliti, ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa pemberian ASI dalam waktu yang panjang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Early Childhood Caries (ECC). Salah satu penelitian di Jepang pada tahun 2011 menemukan hasil yang signifikan bahwa menyusui merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ECC (p=0,0002;OR=6,373). Penelitian lainnya di tahun yang sama menunjukkan 20,7 % prevalensi karies memiliki hubungan yang signifikan dengan pemberian ASI selama 18 bulan atau lebih. Penelitian di Indonesia tahun 2008 menunjukkan bahwa pemberian ASI dalam jangka waktu yang lama merupakan salah satu faktor risiko terjadinya karies (p<0,0001;OR=1.69). Hasil penelitian yang berlawanan pada tahun 2012, menunjukkan kelompok yang tidak diberi ASI mempunyai risiko 4 kali lebih besar untuk menderita ECC dibandingkan dengan bayi yang masih diberi ASI. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menelaah berbagai penelitian maupun studi ilmiah tentang pro dan kontra hubungan ASI dan ECC. Data yang diperoleh dikumpulkan dari berbagai jurnal, database dan artikel seperti The Journal of The American Dental Association, PubMed, Medline dan BMC Oral Health.
PENGARUH PASTA GIGI PROPOLIS TERHADAP INDEKS PLAK PADA PENGGUNA ORTODONTI CEKAT DI FKG UPDM(B)
Alawiyah, Tuti;
Hadisusanto, Dymi
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.846
Latar Belakang :meningkatnya kebutuhan perawatan ortodonti cekat di seluruh dunia. Plak merupakan deposit lunak yang membentuk lapisan biofilm helic dan melekat erat pada permukaan gigi. Komponen dari alat ortodonti cekat dapat meningkatkan akumulasi plak sehingga sulit dibersihkan. Kontrol plak yang paling aman dan efektif adalah dengan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Propolis merupakan salah satu bahan fenol alami yang mengandung flavonoid sebagai antibakteri terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pasta gigi propolis terhadap indeks plak pada pengguna ortodonti cekat. Metode: jenis penelitian ini adalah eksperimental klinis dengan desain penelitian uji sebelum dan uji sesudah (pre test-post test design). Subjek penelitian sebanyak 32 orang dan dibagi menjadi dua kelompok (perlakuan dan kontrol). Pemeriksaan plak dilakukan dengan menggunakan disclosing solution. Perlakuan pada penelitian ini adalah subjek menggunakan pasta gigi propolis selama 3 hari dengan instruksi menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan metode Charter dan kelompok kontrol menggunakan pasta gigi biasa selama 3 hari dengan instruksi menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan metode Charter. Indeks plak masing-masing kelompok sebelum dan sesudah intervensi diukur dengan Orthodontic plaque index (Attin). Hasil: berdasarkan hasil analisis uji hipotesis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Z untuk mengetahui perbedaan indeks plak antara dua kelompok diperoleh nilai p = 0,211 (p>0,05).Hasil uji hipotesis untuk mengetahui penurunan plak pada kelompok perlakuan menggunakan uji Marginal Homogeneity diperoleh nilai p = 0,000 (p<0,05). Kesimpulan: penggunaan pasta gigi mengandung propolis memiliki pengaruh terhadap penurunan indeks plak sebelum dan sesudah sikat gigi pada pengguna orthodonti cekat. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara pengguna pasta gigi propolis dan pasta gigi biasa.
ESTETIK CROWN LENGTHENING DENGAN METODE MINIMAL INVASIF: EVALUASI 1 TAHUN
Kusumo, Norman
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.785
Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chu’s gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengtheningmerupakan alternatif yang menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.Latar belakang: senyum ideal merupakan hasil evaluasi dari analisa wajah dan komposisi gigi. Prinsip desain senyum seperti kategori tipe muka, posisi incisal edge, komponen gigi dan ketinggian gingival merupakan kunci dari harmoni senyum ideal. Metode konvensional crown lengthening dengan pembukaan flap saat koreksi tulang terkadang dapat menimbulkan resiko black triangle. Laporan kasus: pasien datang ke praktik pribadi dengan alasan keluhan estetik. Profil muka didapat long straight, posisi incisal edge saat senyum terlihat lebih dari 3 mm gingival exposure. Chu’s gauge digunakan untuk mengukur proporsi ideal gigi, gingival dan tulang alveolar. Koreksi tulang saat crown lengthening dilakukan tanpa membuka flap (flapless) pada, sehingga mengurangi resiko black triangle. Pembahasan: laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan teknik crown lengthening tanpa pembukaan flap bedasarkan kontrol 1 tahun pasca pembedahan. Prosedur crown lengthening dengan koreksi tulang alveolar dilakukan tanpa membuka flap dan dilakukan kontrol observasi pasien selama 3 bulan dan 1 tahun. Kesimpulan: observasi klinis 1 tahun terlihat stabil. Pengurangan tulang dengan metode flapless pada crown lengthening merupakan alternatif yang menawarkan hasil yang cukup menjanjikan.
EFEK OBAT KUMUR BERALKOHOL TERHADAP JARINGAN RONGGA MULUT (Kajian Pustaka)
Oktanauli, Poetry;
Taher, Pinka;
Prakasa, Adam Dwi
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.850
Obat kumur merupakan agens kimiawi berbentuk larutan yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan rongga mulut. Berdasarkan komposisinya, obat kumur dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu obat kumur beralkohol, obat kumur bebas alkohol dan obat kumur herbal. Masyarakat lebih memilih obat kumur karena bersifat praktis dan mudah digunakan, namun banyak obat kumur mengandung alkohol beredar di pasaran dan bila digunakan dalam jangka waktu panjang dapat memberikan efek buruk terhadap rongga mulut. Kandungan alkohol dalam obat kumur dapat mengakibatkan terjadinya burning sensation, oral pain dan perubahan warna gigi serta mampu memicu terjadinya kanker mulut. Diharapkan masyarakat dapat lebih memahami efek obat kumur mengandung alkohol terhadap rongga mulut sehingga dapat memilih obat kumur yang aman untuk digunakan.
MANIFESTASI KLINIS RONGGA MULUT SEBAGAI PENANDA AWAL PENYAKIT IRON DEFICIENCY ANEMIA (IDA)
Mersil, Sarah;
Pradono, Siti Aliyah
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.842
Manifestasi klinis rongga mulut dapat sebagai penanda awal kelainan darah, seperti anemia. Anemia defisiensi zat besi / Iron Deficiency Anemia (IDA) adalah kelainan darah yang paling umum dengan manifestasi rongga mulut khas yaitu glossitis, mukosa mulut pucat, dan angular cheilitis. Seorang pasien wanita berusia 46 tahun mengeluh sakit dalam mulut yang berulang terutama di lidahnya selama hampir 5 tahun. Pemeriksaan klinis ditemukan mukosa mulut pucat, fissure pada sudut mulut, dan atrofi papila lidah. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan IDA. Penanganan kasus ini dengan meredakan gejala dalam mulut dan merujuk ke bagian penyakit dalam untuk terapi lebih lanjut. Dokter gigi dapat terlibat dalam menegakkan diagnosis IDA dengan mengetahui tanda dan gejala klinis rongga mulut yang khas.
HIGH CONDYLECTOMY PADA KASUS FRAKTUR KONDILUS (Laporan Kasus)
Maulani, Ika Ratna
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.855
Kondilus adalah bagian dari mandibula yang berada pada puncak vertikal ramus mandibula dan membangun sendi dengan tulang temporal melalui fossa glenoid. Perawatan bedah pada fraktur kondilus bertujuan mengembalikan fragmen fraktur ke posisi anatomi secara benar, yang didapatkan dengan membuka fraktur kondilus, mendapatkan hubungan normal dengan mandibula dan memfiksasi pada posisinya. Kondilektomi pada fraktur kondilus merupakan tindakan yang jarang dilakukan dan diindikasikan hanya pada beberapa keadaan. Dilaporkan seorang laki-laki berusia 33 tahun datang ke Unit Gawat Darurat Bedah Mulut Rumah Sakit Hasan Sadikin setelah kecelakaan lalu lintas 1 hari sebelumnya, dengan keluhan rasa sakit dan bengkak pada sendi temporomandibular kanan, serta bukaan mulut terbatas. Pasien didiagnosa dengan fraktur kondilus kanan dan dilakukan kondilektomi kanan dengan narkose umum oleh Bagian Bedah Mulut Rumah Sakit Hasan Sadikin.
PENATALAKSANAAN PARESTESI PASKA PENCABUTAN MOLAR TIGA RAHANG BAWAH IMPAKSI SECARA NON BEDAH
Dewi, Komang Krisna;
Damayanti, Anisa
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.847
Gigi molar tiga rahang bawah impaksi sering diindikasikan untuk dilakukan pencabutan, yaitu odontektomi. Tindakan pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi sering menyebabkan komplikasi parestesi. Parestesi merupakan suatu sensasi atau keadaan yang menyimpang seperti rasa terbakar, tertusuk, kesemutan atau mati rasa parsial. Parestesi paska pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi secara umum disebabkan karena trauma yang mengenai saraf-saraf di sekitar molar tiga rahang bawah, terutama nervus alveolaris inferior dan nervus lingualis. Parestesi dapat bersifat sementara dan dapat menetap. Penatalaksanaan parestesi paska pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi dapat dilakukan secara non bedah dan bedah. Seorang dokter gigi sangat penting mengetahui dan memahami penatalaksanaan parestesi paska pencabutan molar tiga rahang bawah impaksi terutama secara non bedah, sehingga komplikasi lebih lanjut dapat dihindari.
EVALUASI DIAGNOSTIK LESI ENDO-PERIO YANG MENETAP SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK MENGGUNAKAN RADIOGRAFI PERIAPIKAL DAN CBCT
Kurniati, Novi
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v15i1.821
Latar Belakang: radiografi periapikal dua dimensi merupakan pemeriksaan yang sering dipergunakan untuk mengevaluasi hasil perawatan. Kelemahan inherent seperti superimposed, distorsi dan tidak dapat menampilkan lesi dari berbagai aspek membuat para dokter sulit untuk mendapatkan informasi yang sesuai keadaan yang sebenarnya karena keterbatasan radiograf dua dimensi. Pencitraan CBCT dapat menyediakan informasi yang relevan yang tidak ditemukan dalam radiografi periapikal.Laporan Kasus: pasien laki-laki berusia 38 tahun dengan keluhan utama gigi insisivus sentral rahang atas yang berubah warna karena trauma 10 tahun yang lalu. Pasien dirujuk untuk dilakukan radiografi periapikal, di mana tampak gambaran lesi radiolusen berbatas jelas di apikal disertai resorbsi internal gigi 11, dengan diagnosis granuloma periapical et causa nekrosis pulpa gigi 11. Setelah dilakukan perawatan 2 bulan dilakukan evaluasi I dengan radiografi CBCT, tampak tampak lesi radiolusen berbatas jelas dan tegas berukuran ±3,6 mm di apikal serta adanya perforasi sisi mesial akar gigi yang menyebabkan lesi radiolusen di sisi mesial gigi 11 disertai perforasi kortikal di tulang daerah palatal. Enam bulan kemudian dilakukan evaluasi II menggunakan radiografi periapikal dan CBCT. Pada radiografi periapikal tampak, lesi radiolusen berbatas jelas dan tidak tegas di apikal gigi. Pada radiografi CBCT tampak lesi radiolusen berbatas jelas yang telah mengecil di apikal, namun lesi di bagian mesial dan perforasi kortikal tulang palatal belum terjadi penyembuhan secara signifikan. Berdasarkan hasil radiografi CBCT, pasien di rujuk ke bagian Periodonti.Kesimpulan: pemeriksaan CBCT sangat diperlukan pada evaluasi perawatan kasus kompleks untuk mendapatkan informasi diagnostik yang lebih akurat.
THE MANAGEMENT OF RECURRENT APHTHOUS STOMATITIS WITH GASTROINTESTINAL DISEASE ASSOCIATED WITH HELICOBACTER PYLORI. (Case Report)
Yuditha, Solva
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32509/jitekgi.v13i1.851
Latar belakang: Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan penyakit rongga mulut kronik yang berulang dengan etiopatogenesis yang belum diketahui pasti dan modalitas perawatan yang bermacam-macam. Tujuan: membahas penatalaksanaan pasien dengan SAR dan penyakit saluran pencernaan berkaitan dengan Helicobacter pylori. Kasus: pasien perempuan usia 19 tahun mengalami ulser berulang tiga kali dalam sebulan selama 2 tahun lalu dengan riwayat keluarga disangkal. Pasien menderita gastritis kronik yang disebabkan oleh Helicobacter pylori. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan nilai Hb dan MCV yang normal, MCH dan MCHC yang rendah, nilai leukosit yang tinggi. Pemeriksaan intraoral kunjungan pertama ditemukan ulser-ulser bulat, batas kemerahan, dasar kekuningan, ukuran kurang dari 10 mm di mukosa bukal dan 1 mm di mukosa labial bawah. Seminggu kemudian, ulser-ulser ini sembuh namun timbul ulser baru di gingiva dan mukosa bukal kiri. Diagnosis klinis lesi ini adalah SAR minor. Penatalaksanaan Kasus: setelah pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter ahli gastroenterologi, instruksi meningkatkan kebersihan mulut untuk menghilangkan H.pylori dan mencegah reinfeksi, berkumur Klorheksidin glukonat 0,2%2x sehari. Obat kumur Tetrasiklin 3x sehari selama 3 hari dan multivitamin mengandung vitamin B1,B6 dan B12 peroral selama 10 hari. Kesimpulan: faktor predisposisi terjadinya SAR harus ditentukan untuk mengurangi rekurensi SAR. Eliminasi Helicobacter pylori akan meningkatkan penyembuhan SAR.