cover
Contact Name
Muhammad Zukhrufuz Zaman
Contact Email
m_zukhruf@staff.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalthp_uns@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian
ISSN : 19790309     EISSN : 26147920     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal “Teknologi Hasil Pertanian”, publishes original articles, review articles, and short communications on the fundamentals, applications and management of Agricultural Product Technology areas. The journal's aim is to offer scientist, researchers and other related professionals the opportunity to share their finding and disseminate knowledge in all the related topics of biotechnology, quality management, and technologies associated with production or product development.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2011)" : 8 Documents clear
UJI ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGI MINUMAN SINBIOTIK DARI EKSTRAK CINCAU HIJAU (Premna oblongifolia Merr) A. S. Suharyono; Fibra Nurainy; Samsul Rizal; Muhamad Kurniadi
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.517 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13594

Abstract

Telah dilakukan uji organoleptis dan mikrobiologi minuman sinbiotik hasil ekstrak cincau hijau (Premnaoblongifolia Merr). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penambahan sukrosa pada minumansinbiotik dari ekstrak cincau hijau yang menghasilkan karakteristik organoleptik dan mikrobiologi yang sesuaidengan standar minuman laktat supaya dapat diterima konsumen. Penelitian ini menggunakan satu faktorperlakuan dengan tiga pengulangan. Faktor tersebut adalah konsentrasi penambahan larutan sukrosa terhadappembuatan minuman sinbiotik dari ekstrak cincau hijau. Perlakuan penambahan sukrosa (PS) terdiri dari 0%(PS0), 5% (PS5), 10% (PS10), dan 15% (PS15) (b/v). Produk disimpan selama 28 hari, pengamatan dilakukansetiap satu minggu sekali terhadap penerimaan rasa, meningkatnya total bakteri asam laktat dan tingkat stabilitas.Data dari hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa karakteristik minuman sinbiotik dari ekstrak cincau hijau masih mampumemenuhi standar minuman laktat untuk dapat diterima konsumen selama penyimpanan (28 hari). Berdasarkanuji organoleptik minuman sinbiotik ekstrak cincau hijau pada setiap pengamatan selama penyimpanan, produkyang paling disukai panelis yaitu produk dengan penambahan larutan sukrosa 65% (b/v) sebanyak 15% (v/v),produk masih memenuhi standar total bakteri asam laktat minimal 1,0x107 cfu/ml dan penerimaan tertinggiterhadap skor uji organoleptik. Semakin banyak larutan sukrosa dan lama waktu penyimpanan maka nilai tingkatkekeruhan produk semakin tinggi, berarti produk minuman sinbiotik tersebut semakin tidak stabil.
KAJIAN KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI SNACKBARS DENGAN BAHAN DASAR TEPUNG TEMPE DAN BUAH NANGKA KERING SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN CFGF (CASEIN FREE GLUTEN FREE) Nur Her Riyadi Parnanto; Rohula Utami; Rizki Amalia
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.244 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13596

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik fisikokimia dan sensori (penerimaan konsumen)snackbars dengan bahan dasar tepung tempe dan buah nangka kering dengan tiga variasi perbandinganpenggunaan tepung tempe dan buah nangka kering yaitu 40:60, 50:50, dan 60:40. Karakteristik fisikokimia yangdiuji meliputi tekstur, kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, serat pangan, total fenol, aktivitas antioksidandan total kalori. Karakteristik sensori yang diuji meliputi warna, aroma, rasa, tekstur dan keseluruhan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa semakin banyak penggunaan tepung tempenya maka tekstur snackbars akansemakin kompak (keras) dan kadar abu, protein, lemak, serat pangan, total fenol, aktivitas antioksidan dan totalkalorinya semakin meningkat sedangkan kadar air dan kadar karbohidratnya semakin menurun. Sedangkan padakarakter sensori, semakin banyak penggunaan tepung tempenya maka warna, aroma, rasa, tekstur dankeseluruhannya semakin tidak disukai.
KAJIAN EFEK SINERGISTIK ANTARA CHITO-OLIGOSAKARIDA (COS) DAN PROBIOTIK (Lactobacillus acidophilus FNCC 0051) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL SECARA in vivo Agnes Sri Harti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.224 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13586

Abstract

Chitooligosakarida (COS) merupakan senyawa kompleks golongan glikoprotein yang memiliki ikatan 1,4glukosamin, hasil proses deasetilasi kitin dan sebagai oligosakarida yang berasal dari hewani dari limbah kulitkepiting yang sangat potensial dan berlimpah di Indonesia. Konsep sinergistik yaitu campuran COS sebagaiprebiotik alami hewani dengan probiotik (Bakteri Asam Laktat) diharapkan dapat digunakan sebagai sebagaisatu bahan yang berpotensi sebagai food additive, antibiotik alternatif, imunostimulan penurun kolesterol yangbersifat ekonomis, multiguna khususnya di bidang kesehatan. Tujuan penelitian adalah mengkaji efek sinergistikChitooligosakarida dan Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 terhadap penurunan kadar kolesterol secara invivo. Analisis mutu meliputi rendemen, kelarutan, derajat deasetilasi, viskositas serta pengkajian efek sinergistiksinbiotik secara in vitro meliputi pengukuran pertumbuhan probiotik dalam media kultur. Analisis datamenggunakan analisis varian general linier models univariate. Hasil penelitian diperoleh sintesis dan analisismutu COS dari kulit kepiting meliputi rendemen 51,36%, kelarutan 58,59%, derajat deasetilasi 88,76% danviskositas 122 cp. Adanya efek sinergistik Chitooligosakarida dan Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 COSterhadap penurunan kadar kolesterol secara signifikan.
APLIKASI MADU SEBAGAI PENGAWET DAGING SAPI GILING SEGAR SELAMA PROSES PENYIMPANAN Windi Atmaka; Rohula Utami; Sigit Raharjo
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.079 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13598

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan madu terhadap karakteristikmikrobiologis, kimia, dan fisik daging sapi giling segar selama proses penyimpanan serta mengetahuikonsentrasi madu yang memberikan efek penghambatan pembusukan daging sapi yang baik untuk pengawetandaging sapi giling segar berdasarkan karakteristik mikrobiologis, kimia, dan fisik daging sapi giling segar selamaproses penyimpanan. Penelitian ini menggunakan enam macam analisis. Diantaranya adalah Total Plate Pount(TPC), Total Volatile Bases (TVB), Thiobarbituric Acid (TBA), aw, pH, dan warna. Penelitian ini menggunakanrancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan berdasar perbedaan konsentrasi madu yang digunakan. Padapenelitian ini digunakan 5 perlakuan dengan penambahan konsentrasi madu yang berbeda yaitu 0% (kontrol),5%, 10%, 15% dan 20%. Dilakukan pengamatan pada hari ke-0, hari ke-1, hari ke-3 dan hari ke-5. Data yangdidapat dianalisis dengan ANOVA dengan alfa 0,05. Percobaan ini dilakukan dengan 2 kali ulangan. Hasilanalisis menunjukkan bahwa penambahan madu pada daging sapi giling segar berpengaruh terhadap nilai TotalMikroba, TBA, TVB, aw, pH, dan warna. Penambahan madu dapat mengurangi jumlah mikroba total yangterdapat dalam daging sapi giling segar. Semakin tinggi konsentrasi madu maka nilai TVB yang dihasilkansemakin rendah. Semakin tinggi konsentrasi madu maka semakin rendah nilai aw dan pH daging. Semakin tinggikonsentrasi madu maka kecerahan warna daging semakin menurun, tetapi tingkat penurunannya lebih rendah.Konsentrasi madu yang memberikan efek penghambatan pembusukan daging sapi yang baik untuk pengawetandaging sapi giling segar berdasarkan karakteristik mikrobiologis, kimia, dan fisik daging sapi giling segar selamaproses penyimpanan adalah 10%.
SIFAT FISIK, KIMIA, DAN ORGANOLEPTIK PADA PEMBUATAN DODOL YANG DISUBSTITUSI DENGAN WORTEL (Daucus carota, Linn) Basito Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.927 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13588

Abstract

Dodol merupakan makanan semi basah yang pembuatannya dari tepung beras ketan, santan kelapa, dangula dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan makanan lain yang diijinkan. Untukmemperbaiki nilai gizi pada dodol dapat dilakukan dengan menambah bahan – bahan lain sebagai sumbervitamin salah satunya adalah wortel. Umbi wortel mengandung karoten dalam jumlah yang tinggi, sehinggaberpotensi sebagai sumber vitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi worteldalam pembuatan dodol terhadap sifat kimia, fisik dan organoleptik dodol.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 3 kali ulangan. Ada 2 variabeldalam rancangan penelitian ini yaitu variabel tetap dan variabel tidak tetap. Variabel tetap dalam penelitian iniadalah variasi bentuk penambahan wortel (bubur wortel dan tepung wortel) dan variasi konsentrasi wortel dantepung beras ketan (40:60, 30:70, 20:80, dan 0:100 (kontrol)). Sedangkan variabel tidak tetap yang diamatiadalah sifat kimia meliputi: kadar air, karoten dan sifat fisik meliputi: tekstur, serta sifat organoleptik (warna,aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Metode Univariatekemudian dilanjutkan dengan menggunakan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikasi 5%.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa substitusi wortel dalam bentuk bubur maupun tepungwortel pada pembuatan dodol dengan variasi konsentrasi wortel dan tepung ketan berpengaruh terhadap kadarair, karoten dan tekstur dodol yang dihasilkan. Pada uji organoleptik menunjukkan bahwa dodol yang disukaiadalah dodol dengan penambahan wortel dalam bentuk bubur wortel dengan konsentrasi bubur wortel dantepung ketan 30:70. Dodol tersebut mengandung air 17,57%, karoten 9,26 µg/g, dan memiliki tingkat kekerasan2,24 N serta tingkat elastisitas 6,16 mm.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI YEAST AMILOLITIK DARI RAGI TAPE Nurhartadi, Edhi; Rahayu, Endang Sutriswati
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.857 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13600

Abstract

The demand of sugar increases every year caused by people growth. Indonesia has starchy materialslike tapioca and for long time used to produce food by traditional fermentation with ragi tape. Ragi tapecontains many amylolytic and fermentative microbial. The object of this study was to isolate amylolytic yeastfrom ragi tape, which could be used to produce amylolytic enzymes as an alternative source of amylolyticenzyme from microbial origin. Isolation was done by dilution and spread plate methods on peptone glucoseyeast extract soluble starch (PGYS) agar medium, incubated 30C, for 2 days and purified with same medium.The isolates were then identified based on morphology and physiology profiles. Selection of the strongest isolatewith high amylolytic potent was done with amylolytic activity. The chosen isolate was then used to produceamylolytic enzyme in yeast extract malt extract soluble starch (YMS) medium with variation of soluble starchcontent. 15 amylolytic yeast isolates have been isolated, and then identified with taxonomic keys were suspectedas Debaryomyces vanriji (4 isolates), Saccharomycopsis fibuligera (3 isolates), and Pichia burtonii (8 isolates).They could grow well on starch medium. The result of selection based on amylolytic activity showed that S.fibuligera E-3 was the strongest among the others. From the fermentation, this research obtained the cellscontent increased or obtained logarithmic phase in 1st day of fermentation, and after 2nd day reached stationaryphase medium. The reduction sugar content increased in 1st day of fermentation, after 2nd day was increasedslowly. The soluble starch content was decreased rapidly in 1st day, after 2nd day was decreased slowly. Theglucoamylase activity was high at 1st day, but in 2nd day was low. S. fibuligera had glucoamylase activity 44.13mg glucose/L/min/1 ml enzyme solution.
KAJIAN TOTAL BAKTERI PROBIOTIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN YOGHURT TEMPE DENGAN VARIASI SUBSTRAT Widowati, Esti; Andriani, MAM; Kusumaningrum, Amalia Putri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.623 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13590

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui substrat yang akan menghasilkan yoghurt dengan karakterpaling baik yaitu total bakteri probiotik tertinggi, kadar asam laktat dan pH sesuai SNI 01-2981-1992 danaktivitas antioksidan tertinggi. Variasi perlakuan yang digunakan adalah substrat tempe kedelai, tempe jagung,tempe kombinasi (kedelai 90% dan jagung 10%), dengan yoghurt susu skim 15% sebagai kontrol. Bahan yangdigunakan untuk membuat yoghurt tempe adalah tempe kedelai, tempe jagung, tempe kombinasi, susu skim,starter yoghurt komersial yang berisi bakteri probiotik L. acidophillus LA5, Bifidobacteria BB12, dan S.thermophillus. Susu tempe yang telah ditambah susu skim (15% b/v) dipasteurisasi pada suhu 800C selama 30menit kemudian didinginkan sampai suhu 400C. Susu tempe kemudian diinokulasi secara aseptis dengan 5%starter dan diinkubasi pada suhu 400C selama 12 jam. Parameter yang diuji dalam penelitian ini adalah totalbakteri probiotik dengan metode Total Plate Count (TPC), kadar asam laktat dengan metode titrimetri, pHdengan menggunakan pHmeter yang dilakukan setiap satu jam selama 12 jam dan aktivitas antioksidan denganmetode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydraztl) setiap tiga jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaansubstrat tempe dari berbagai variasi substrat dapat meningkatkan total bakteri probiotik dan aktivitas antioksidan.Total bakteri probiotik tertinggi pada yoghurt tempe jagung, aktivitas antioksidan tertinggi pada yoghurt tempekedelai dan kadar asam laktat dan pH seluruh variasi substrat sesuai dengan SNI 01-2981-1992.
KAJIAN KADAR KURKUMINOID, TOTAL FENOL DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) PADA BERBAGAI TEKNIK PENGERINGAN DAN PROPORSI PELARUTAN Kawiji Kawiji; Windi Atmaka; Prima Riska Otaviana
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.833 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13592

Abstract

Penelitian dengan judul “Kajian Kadar Kurkuminoid, Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan EkstrakTemulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Pada Berbagai Teknik Pengeringan dan Proporsi Pelarutan”bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik pengeringan, warna kain penutup dan proporsi pelarutan terhadapkadar kurkuminoid, total fenol dan aktivitas antioksidan ekstrak temulawak. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu variasi teknik pengeringan (solar dryer dan sinarmatahari langsung) dan warna kain penutup (tanpa penutup, kain hitam dan kain putih). Penelitian terdiri dari 2tahap, tahap pertama dilakukan untuk mengetahui ekstrak temulawak dengan perlakuan teknik pengeringan danwarna kain penutup yang terbaik. Tahap ke dua dilakukan untuk mengetahui pengaruh proporsi pelarutan (1:10,1:12,1:14) pada sampel terbaik.Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dengan menggunakan solar dryer danpenggunaan kain penutup mendapatkan kadar kurkuminoid, aktivitas antioksidan dan total fenol yang tinggi.Namun perbedaan warna kain tidak berpengaruh terhadap komponen aktif pada simplisia temulawak. Sedangkanrasio perbandingan proporsi pelarutan yang semakin tinggi menunjukan kadar kurkuminoid dan aktivitasantioksidan semakin rendah. Akan tetapi proporsi pelarutan tidak berpengaruh terhadap total fenol pada ekstraksimplisia temulawak.

Page 1 of 1 | Total Record : 8