cover
Contact Name
Muhammad Zukhrufuz Zaman
Contact Email
m_zukhruf@staff.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalthp_uns@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian
ISSN : 19790309     EISSN : 26147920     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal “Teknologi Hasil Pertanian”, publishes original articles, review articles, and short communications on the fundamentals, applications and management of Agricultural Product Technology areas. The journal's aim is to offer scientist, researchers and other related professionals the opportunity to share their finding and disseminate knowledge in all the related topics of biotechnology, quality management, and technologies associated with production or product development.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2012)" : 8 Documents clear
KAJIAN KINETIKA FERMENTASI ASAM LAKTAT OLEH Lactococcus lactis FNCC 0086 PADA MEDIA SARI BUAH SEMU JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) DENGAN VARIASI SUMBER NITROGEN Rohula Utami; Esti Widowati; Annisa Kamil
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.056 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13544

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku kinetika fermentasi yang terjadi selama proses fermentasi asam laktat pada media sari buah semu jambu mete dengan penambahan ekstrak tauge sebagai sumber nitrogen melalui parameter kecepatan pertumbuhan spesifik (µ), waktu penggandaan (td), jumlah penggandaan (n), hasil pertumbuhan (Yx/s), pembentukan produk (Yp/s), dan efisiensi pembentukan asam laktat selama fermentasi oleh Lactococcus lactis FNCC 0086. Jenis ekstrak tauge yang ditambahkan adalah ekstrak tauge kacang hijau dan ekstrak tauge kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak tauge dapat meningkatkan pertumbuhan sel. Kecepatan pertumbuhan spesifik (μ) pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebesar 0,551/jam dan ekstrak tauge kedelai sebesar 0,491/jam; waktu penggandaan (td) pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau selama 75,48 menit dan ekstrak tauge kedelai selama 84,68 menit; jumlah penggandaan (n) pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebanyak 3,178 kali dan ekstrak tauge kedelai sebanyak 2,831 kali; hasil pertumbuhan (Yx/s) pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebesar 1,34x106 sel/mg dan ekstrak tauge kedelai sebesar 1,23x106 sel/mg; pembentukan produk (Yp/s) pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebesar 0,069 dan ekstrak tauge kedelai sebesar 0,068; serta efisiensi pembentukan asam laktat selama fermentasi pada penambahan ekstrak tauge kacang hijau sebesar 1,605% dan ekstrak tauge kedelai sebesar 1,569%.
KAJIAN KARAKTERISTIK ALAT PENGURANGAN KADAR AIR MADU DENGAN SISTEM VAKUM YANG BERKONDENSOR Bambang Sigit Amanto; Nur Her Riyadi Parnanto; Basito Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.298 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13532

Abstract

Madu mengandung bahan gizi yang sangat essensial. Madu bukan hanya merupakan bahan pemanis, ataupenyedap makanan, tetapi sering pula digunakan untuk obat-obatan. Madu dihasilkan oleh lebah madu denganmemanfaatkan bunga tanaman. Madu memiliki warna, aroma dan rasa yang berbeda-beda, tergantung padanektar jenis tanaman. Madu Indonesia pada umumnya mengandung kadar air yang tinggi sehingga rentanterhadap fermentasi. Salah satu cara pencegahannya adalah menurunkan kadar air madu. Pada penelitian ini,penurunan kadar air madu dengan menggunakan vakum evaporator. Proses penurunan kadar air dengan vakumevaporator akan mempertahankan kandungan nutrisi dalam madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikarakteristik alat, sifat fisikokimia dan sifat organoleptik madu yang dikentalkan dengan sistem vakumevaporator berkondensat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaituvariasi suhu (40oC, 50oC, dan 60oC). Pengujian sifat organoleptik madu dengan metode Multiple ComparationTest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar air madu dengan sistem vakum evaporator dapatmempertahan kandungan gizi dalam madu. Efisiensi penguapan kadar air berturut-turut adalah 31,6 %, 33,89 %dan 39,6 %. Penurunan kadar air dengan variasi suhu 40oC, 50oC, dan 60oC membutuhkan waktu berturut-turut12 jam, 7 jam, dan 4 jam. Viskositas madu yang telah dikentalkan mengalami peningkatan yaitu 0,1937 Ns/m2menjadi kisaran 1,7114-1,7388 Ns/m2. Kadar gula reduksi total (glukosa dan fruktosa) tidak terdapat perbedaanyang nyata. Kadar gula reduksi madu kontrol 84,0622%, sedangkan madu yang telah dikentalkan denganmasing-masing variasi suhu berkisar 84,8716 85,1806%. Kadar abu dan mineral (kalsium dan magnesium) jugatidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kadar abu madu kontrol dan yang telah dikentalkan berkisar 0,111-0,116%, kadar kalsium berkisar 15,9824-16,3007 mg/100g, dan kadar magnesium berkisar 10,2367-11,7633mg/100g. Penilaian panelis terhadap madu yang telah dikentalkan dengan berbagai variasi suhu evaporasi secarasifat organoleptik tidak berbeda nyata. Penilaian dari panelis dari segi warna, rasa dan overall madu yang telahdikentalkan dengan masing-masing variasi suhu evaporasi dapat diterima oleh panelis dan sedikit lebih baik darimadu kontrol.
PENGARUH PROSES PENYANGRAIAN, PENGUPASAN, DAN DEGUMMING TERHADAP KUALITAS MINYAK JARAK PAGAR Tri Yanto; Rumpolo Wicaksono
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.379 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13546

Abstract

Jarak pagar merupakan sumber energi alternatif renewable yang dapat digunakan untuk mengatasikelangkaan bahan bakar minyak yang sering terjadi akhir-akhir ini. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruhlama penyangraian biji terhadap rendemen dan mutu minyak jarak pagar hasil pengepresan hidrolik, mengetahuiada tidaknya pengaruh pengupasan biji terhadap rendemen dan mutu minyak jarak pagar, dan mengetahuipengaruh degumming terhadap rendemen dan mutu minyak jarak pagar. Penelitian dilakukan dengan metodeeksperimental dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang dicoba adalah lamapenyangraian (5, 10, dan 15 menit), perlakuan pengupasan biji (dengan pengupasan dan tanpa pengupasan),serta metode degumming (tanpa degumming, degumming dengan garam meja, dan degumming dengan asamsitrat). Peubah yang diamati yaitu rendemen, titik nyala, viskositas (pada 250C), bilangan asam, pH, dankejernihan minyak. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan rendemen dan mutu minyak terbaik berdasarkananalisis zero-one adalah lama penyangraian 15 menit dengan perlakuan pengupasan biji dan tanpa degumming.Kombinasi perlakuan tersebut menghasilkan minyak dengan rendemen 23,63 persen, titik nyala 2350C,viskositas 58 cP, bilangan asam 4,57 mg KOH/g, pH 7, dan kejernihan dengan nilai absorbansi 1,037.
PENGARUH GLISEROL TERHADAP KARAKTERISTIK EDIBLE FILM BERBAHAN DASAR TEPUNG JALI (Coix lacryma-jobi L.) R. Baskara Katri Anandito; ed Nurhartadi; Akhmad Bukhori
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.383 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13534

Abstract

Jali (Coix lacryma-jobi L.), merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian (serealia) tropika dari suku padipadian (Poaceae). Kandungan pati jali cukup tinggi, sehingga memiliki potensi untuk dijadikan bahan bakupembuatan edible film. Edible film tepung jali ini menggunakan gliserol sebagai plasticizer. Tujuan penelitian iniyaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan gliserol terhadap karakteristik fisik dan mekanik edible filmtepung jali serta mengetahui konsentrasi penambahan gliserol pada edible film tepung jali yang menunjukkankarakteristik fisik dan mekanik edible film terbaik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan gliserolmeningkatkan kelarutan dan ketebalan edible film, tetapi menurunkan permeabilitas terhadap uap air (WVP).Penambahan gliserol pada awalnya meningkatkan pemanjangan dan kuat regang putus dari edible film. Ketikakondisi jenuh, pemanjangan dan kuat regang putus kemudian turun. Edible film dengan karakteristik fisik danmekanik terbaik terdapat pada penambahan gliserol dengan konsentrasi 20% yang ditunjukkan denganpermeabilitas uap air (WVP) sebesar 0,687 gr.mm/jam.m2 dan pemanjangan (elongation) film 41,022%.
KAJIAN SUBSTITUSI BEKATUL BERAS MERAH DAN BERAS HITAM TERHADAP SIFAT SENSORIS DAN FISIKOKIMIA PADA PEMBUATAN ROTI TAWAR Basito Basito
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.762 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13536

Abstract

Roti gandum bukan hanya sekedar memiliki kandungan serat tinggi saja, tetapi juga anthosianin danvitamin E yang banyak dimanfaatkan sebagai antioksidan. Kandungan senyawa fungsional yang ada pada rotigandum, didapatkan dari kulit ari gandum. Bekatul, sebagai hasil samping penggilingan padi merupakan lapisanluar karyopsis beras yang diketahui memiliki kadar serat pangan dan aktivitas antioksidan. Penelitian inibertujuan untuk mengembangkan roti tawar bekatul sebagai pangan fungsional kaya serat dan antioksidan.bekatul beras hitam sebagai substitusi terigu dalam pembuatan roti tawar diharapkan mampu menambah sifatfungsional yang dimiliki roti tawar. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) formulasi roti tawar dengan variasiproporsi bekatul yang ditambahkan. Formula yang dipilih berdasarkan tingkat penerimaan panelis terhadap rotitawar yang diujikan. (2) untuk mengetahui pengaruh penambahan bekatul beras merah dan bekatul beras hitamterhadap kapasitas antioksidan dan kadar serat pangan pada roti tawar bekatul. Kapasitas antioksidan ditentukandengan pengukuran kadar total fenol (Metode Follin Ciocalteau) dan aktivitas antiradikal (Metode DPPH).Kadar serat pangan meliputi serat pangan total, serat pangan larut dan serat pangan tak larut ditentukan denganmetode AOAC. Roti tawar dengan penambahan 5% bekatul beras merah dan 10% bekatul beras hitammemperlihatkan kualitas warna, aroma, rasa, tekstur dan overall terbaik. Kedua roti tawar bekatul ini selanjutnyaditentukan kapasitas antioksidan dan kadar serat pangannya. Kapasitas antioksidan tertinggi terdapat pada rotitawar dengan penambahan bekatul beras hitam. Sedangkan kadar serat pangan tak larut tertinggi terdapat padaroti tawar dengan penambahan bekatul beras merah, dan kadar serat pangan larut tertinggi terdapat pada bekatulberas hitam.
PRODUKSI BIR PLETOK KAYA ANTIOKSIDAN Dwi Ishartani; Kawiji Kawiji; Lia Umi Khasanah
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.345 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13540

Abstract

Penelitian ini bertujuan memformulasikan bir pletok yang dapat diterima konsumen. Bir pletokdiformulasikan dalam bentuk instan (dua formula) dan sirup (enam formula), dengan bahan dasar jahe, kayumanis, cengkeh, dan serai. Variasi dilakukan pada bahan pewarna alami, yaitu menggunakan secang (merah)dan pandan (hijau), serta pemanis, yaitu gula merah, gula pasir, serta kombinasi keduanya. Bir pletok padapenelitian ini diteliti kadar total fenol (metode Folin Ciocalteau) dan aktivitas penangkapan radikal bebasnya(metode DPPH). Selain itu juga dilakukan analisis sensori untuk mengetahui penerimaan panelis terhadapwarna, aroma, rasa, dan penerimaan keseluruhan bir pletok yang dihasilkan. Total fenol tertinggi terdapat padasirup bir pletok formula 4 (2.72 mg/g berat basah), diikuti sirup bir pletok formula 5 (1.98 mg/g berat basah),sirup bir pletok formula 7 (1.85 mg/g berat basah), sirup bir pletok formula 3 (1.71 mg/g berat basah), sirup birpletok formula 8 (1.38 mg/g berat basah), bir pletok instan formula 1 (1.09 mg/g berat basah), sirup bir pletokformula 6 (0.81 mg/g berat basah), dan bir pletok instan formula 2 (0.49 mg/g berat basah). Aktivitaspenangkapan radikal bebas terbesar juga terdapat pada formula 4 (25.25 %DPPH/mg berat basah), diikutiformula 3 (17.70 %DPPH/mg berat basah), formula 5 (11.42 %DPPH/mg berat basah), formula 2 (8.86%DPPH/mg berat basah), formula 7 (7.95 %DPPH/mg berat basah), formula 8 (7.42 %DPPH/mg berat basah),formula 6 (5.28 %DPPH/mg berat basah), dan formula 1 (3.95 %DPPH/mg berat basah). Formula bir pletokinstan dengan pewarna berbeda memberikan nilai warna, rasa, dan keseluruhan yang tidak berbeda nyata,masing-masing dengan nilai cenderung netral. Penambahan pandan menghasilkan bir pletok instan dengan nilaipenerimaan aroma lebih tinggi daripada penambahan secang. Sirup bir pletok instan yang nilai penerimaanwarna, aroma, rasa, dan keseluruhan paling tinggi adalah formula 7, formula 4, dan formula 3, yaitu dengannilai antara netral dan agak suka.
PENGARUH PENAMBAHAN GULA DAN SUHU PENYAJIAN TERHADAP NILAI GISI MINUMAN TEH HIJAU (Camellia sinensis L.) Andriani, Martina; Amanto, Bambang Sigit; Gandes, Gandes
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.263 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13542

Abstract

Teh hijau merupakan salah satu produk teh yang banyak dikonsumsi masyarakat karena banyakmengandung senyawa polifenol yang termasuk kelompok flavanoida seperti katekin (tanin). Sifat katekin teh iniberhubungan erat dengan pembentukan warna, rasa dan aroma teh yang diseduh. Seringkali masyarakatmenambahkan gula dalam mengkonsumsi teh. Jenis gula yang digunakan biasanya adalah gula pasir, gula aren,gula batu. Cara mengkonsumsi minuman teh juga berbeda-beda. Kadang-kadang teh disajikan dalam suhudingin (es teh), terkadang suhu kamar ataupun dalam kondisi panas. Akibatnya senyawa flavanoid mudahberikatan dengan molekul gula dan jumlahnya dapat bervariasi tergantung suhu dan cara ekstraksinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada nilai gisi minuman teh hijau yangdinyatakan sebagai : kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan dengan penambahan gula serta suhupenyajian. Jenis gula yang digunakan adalah gula pasir, gula aren dan gula batu dengan konsentrasi 0%; 2,5%;5%; 7,5%; 10%; 12,5% dan 15% dan suhu penyajian adalah: 100C ( es teh), 280C ( suhu kamar) dan 650C (tehpanas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa semakin banyak konsentrasi gula yang digunakan dalampembuatan minuman teh hijau maka kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan semakin menurun.Penurunan kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan terbesar terdapat pada minuman teh hijaudengan penambahan gula pasir, sedangkan penurunan terkecil terdapat pada minuman teh hijau yang ditambahdengan gula aren. Penurunan kadar total fenol, kadar tanin dan aktivitas antioksidan terbesar terdapat padaminuman teh hijau yang disiajikan pada suhu 650C, sedangkan penurunan terkecil terdapat pada minuman tehhijau yang disajikan pada suhu 280C. Suhu penyajian 280C tanpa penambahan gula merupakan kondisi yangoptimal untuk mempertahankan komponen polifenol teh yang terlarut.
PENGARUH KULTUR INDIGENOUS LACTOBACILLUS SP. DALAM PEMBUATAN YOGURT UBI UNGU : KAJIAN TINGKAT KEASAMAN, pH DAN TOTAL PADATANNYA A.Intan Niken Tari; Catur Budi Handayani; Ahimsa Kandi Sariri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.786 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13530

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kultur indigenous Lactobacillus sp. dalam pembuatanyogurt ubi ungu terhadap tingkat keasaman,pH dan total padatannya. Rancangan percobaan yang digunakandalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap pola satu arah dengan 3 macam perlakuan campuran kulturbakteri Asam Laktat sebagai starter pada pembuatan yogurt ubi ungu. Perlakuan 1 campuran kulturStreptococcus thermophillus FNCC 0040 dan Lactobacillus bulgaricus FNCC0041 sebagai kontrol, perlakuan 2campuran kultur Streptococcus thermophillus FNCC 0040 dengan kultur indigenous Lactobacillus sp. Dad 13,perlakuan 3 campuran kultur Streptococcus thermophillus FNCC 0040 dan Lactobacillus sp. Mut 7. Masingmasing perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 9 perlakuan. Parameter pengamatan dilakukan terhadap sifatkimia yogurt ubi ungu yaitu tingkat keasaman (metode titrasi), derajat keasaman (pH) dan total padatan(metode gravimetri). Hasil Penelitian terpilih yogurt ubi ungu dengan campuran kultur Streptococcusthermophyllus dan kultur indigenous Lactobacillus sp. Mut 7 yang mempunyai sifat kimia berupa tingkatkeasaman 11.956 mgrek/ 100g bahan, pH 4.378 dan total padatan 13.593%.

Page 1 of 1 | Total Record : 8