Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The Effect of Variation Dextrose Equivalents Maltodextrin Values on the Microencapsulant Characteristic of Teak Leaves (Tectona Grandis L.f) Natural Dye Ernawati, Umi Retno; Khasanah, Lia Umi; Anandito, R. Baskara Katri
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.243 KB)

Abstract

This study was conducted to determine the effect of variations dextrose equivalents maltodextrin values (DE 5, DE 15, DE 25) on the microencapsulant characteristic of teak leaves (Tectona grandis L.f) natural dye. This study used a completely randomized design (RAL) with one factors (variations in Dextrose Equivalents Maltodextrin values) with 3 levels  (DE 5, DE 15, DE 25). The results were compared to teak leaves extract and teak leaves powder dye without coating. The observation was conducted on specimen is randemen, total anthocyanin content, free radicals scavenging activity, the quality of the color (L*a*b, 0Hue), moisture content, solubility in water, microstructure and solvent residue (ethanol). The variations dextrose equivalents  values of maltodextrin (DE 5, DE 15, DE 25) affected the microencapsulant characteristics of teak leaves natural dyes (Tectona grandis L. f .) In terms of randemen, total anthocyanin content, free radical activity arrests, quality color (L*a*b, 0Hue), moisture content, solubility, microstructure and solvent residue (ethanol). The Increasing dextrose equivalents value of maltodextrin increased specimen randemen, free radicals scavenging activity, quality of the color ( L* a* b, 0Hue ), moisture content, solubility in water and solvent residue (ethanol) of teak leaves natural dyes mikroencapsulant. However, the increasing dextrose equivalent value of maltodextrin lead to decreasing total anthocyanins content of teak leaves natural dyes mikroencapsulant. Maltodextrin with a dextrose equivalents values of 15 ​​produced microstructure of teak leaves natural dye with the best characteristics. The resulting microencapsule was expected to be applied in food as natural dye.Keywords : Dextrose equivalents (DE), Maltodextrine, Mikroencapsulant, Natural Dyes
PENAMBAHAN SORBITOL PADA JENANG DODOL : KARAKTERISTIK SENSORIS DAN PERUBAHAN KUALITAS SELAMA PENYIMPANAN Atmaka, Windi; Anandito, R. Baskara Katri; Amborowati, Tri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.825 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sorbitol terhadap karakteristik sensorisjenang dodol dan perubahan kualitasnya selama penyimpanan. Pengujian karakteristik sensoris menggunakanmetode Multiple Comparison. Parameter kualitas jenang dodol yang diuji selama penyimpanan adalah kadar air,aktivitas air, angka TBA (Thio Barbituric Acid), tekstur, dan total kapang. Hasil penelitian ini menunjukkanbahwa penambahan sorbitol dengan konsentrasi 2 %, 4 %, dan 6 % memiliki karakteristik sensoris yang sedikitlebih baik dibandingkan dengan jenang dodol tanpa penambahan sorbitol. Selama penyimpanan 12 hari, kadarair dan aktivitas air (aw) menurun untuk tiap periode pengujian, Sedangkan angka TBA dan tekstur semakinmeningkat untuk tiap periode pengujian. Pengujian Total kapang selama penyimpanan 12 hari menunjukkanbahwa penambahan sorbitol pada konsentrasi 4 % dan 6 % tidak terdapat pertumbuhan kapang, sedangkan padakonsentrasi 0 % dan 2 % telah ditumbuhi kapang pada hari ke-9 dengan intensitas pada konsentrasi 2 % lebihsedikit dibanding kontrol.
KAJIAN KARAKTERISTIK SENSORIS DAN KIMIA BUBUR INSTAN BERBASIS TEPUNG MILLET PUTIH (Panicum miliceum L.) DAN TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) Anandito, R. Baskara Katri; Siswanti, Siswanti; Kusumo, Dewi Tri
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.293 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v9i2.12848

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menentukan formula bubur instan berbasis tepung millet putih dan tepung kacang merah berdasarkan sifat sensoris dan menentukan sifat kimia bubur instan formula terpilih. Bubur instan dibuat dari tepung millet putih (Panicium milaceum L), tepung kacang merah (Phaseolus vulgaris L.), susu bubuk, gula, dan garam. Pemilihan formula terpilih berdasarkan sifat sensoris terhadap lima atribut mutu, yaitu warna, aroma, rasa, tekstur, dan keseluruhan. Selanjutnya, dilakukan analisa proksimat dan nilai kalori pada bubur instan formula terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terpilih bubur instan berdasarkan sifat sensoris adalah 39.59 % tepung millet putih, 31.25 % tepung kacang merah, 17.71 % susu bubuk, 10.41 % gula halus, dan 1.04 % garam. Sedangkan komposisi kimia bubur instan formula terpilih kadar air 5.46 %, kadar abu 4,12 %, kadar lemak 5,42 %, kadar protein 10.73 % , dan kadar karbohidrat 74.27 %. Nilai kalori setiap 48 gram adalah 205.38 kkal.Kata Kunci : bubur instan, tepung millet putih, tepung kacang merah, sifat sensoris, komposisi kimia
KAJIAN PENGGUNAAN TEPUNG GANYONG (Canna edulis Kerr) SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU PADA PEMBUATAN MIE KERING Budiarsih, Dwi R; Anandito, Baskara Katri; Fauza, Gusti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.038 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13634

Abstract

Di Indonesia terdapat berbagai jenis umbi-umbian yang berpotensi sebagai sumber karbohidrat. Salahsatunya adalah umbi ganyong (Canna edulis. Kerr) yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ganyong dapatdiolah menjadi pati atau tepung. Produk pati atau tepung ganyong dapat digunakan untuk industri makanan,misalnya roti (kue), makanan bayi, jenang (dodol), dan lain-lain. Selain itu, tepung ganyong juga dapatdigunakan sebagai bahan substitusi tepung terigu pada pembuatan mie kering. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui pengaruh penggunaan tepung ganyong sebagai substitusi tepung terigu terhadap karakteristik kimiadan sensoris mie kering yang dihasilkan serta untuk mengetahui formulasi mie kering dari tepung terigu yangdisubtitusi dengan tepung ganyong yang masih dapat diterima/disukai konsumen. Rancangan percobaan yangdigunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor dengan variasi konsentrasi tepung ganyong yangdigunakan (0%, 5%, 10%, 15% dan 20%). Data hasil penelitian dianalisa dengan menggunakan ANOVA padatingkat α = 0,05 dan dilanjutkan dengan DMRT pada tingkat α yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwasemakin tinggi konsentrasi substitusi tepung ganyong maka kadar air protein, lemak dan fosfor mie keringsemakin rendah tetapi kadar abu, karbohidrat, serat kasar dan kalsiumnya semakin tinggi serta semakinmenurunkan penilaian panelis terhadap warna, rasa, aroma, elastisitas dan keseluruhan mie kering. Semua miekering hasil penelitian sudah memenuhi SNI 01-2979-1992 tentang syarat mutu mie kering. Akan tetapi, miekering yang masih dapat diterima/disukai konsumen adalah mie kering F0 atau kontrol (100% tepung terigu dan0% tepung ganyong) dengan tingkat penerimaan 5,80 (suka), F1 (95% tepung terigu dan 5% tepung ganyong)dengan tingkat penerimaan 5,07 (agak suka) dan F2 (90% tepung terigu dan 10% tepung ganyong) dengantingkat penerimaan 4,70 (agak suka).
KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN SENSORI COOKIES BERBAHAN DASAR TEPUNG KOMPOSIT UWI (Dioscorea alata), KORO GLINDING (Phaseolus lunatus) DAN TEPUNG TERIGU Kurniawan, Junjung Agung; Anandito, R. Baskara Katri; Siswanti, Siswanti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 11, No 1 (2018): Februari
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.779 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v11i1.29090

Abstract

Functional food is processed foods containing one or more food components having certain physiological functions beyond their basic functions, proven not harmful and beneficial to health. Sources of functional food are found in local food as yam and lima beans. Yam and lima beans has a high water content that is not durable, then made a handler that is used as composite flour. Along with the development of snack products such as pastries are increasingly varied, then necessary to develop new products to improve the quality of existing products both in terms of nutritional content and appearance. This research to determine the effect of composite versus formulation on physical, chemical and sensory characteristics of cookies. This research use Completely Randomized Design (CRD) with one factor, that is variations of composite flour with wheat flour (F1= 0:100; F2= 20:80; F3= 40:60; F4= 60:40; F5= 80:20) (%b/b). The results of this research indicate that there are significantly different results on physical characteristics (texture), chemistry (moisture content, ash content, carbohydrate content, coarse fiber, calories and antioxidant activity) and sensory (color, taste and overall). The best formulation is F2 with the compositions (20% composite flour, fine granulated sugar 30 g, margarine 30 g, butter 7 g, vanilli 0,2 g, egg whites 25 g, egg yolk 7 g, cream of tar-tar 0,4 g, skim milk 14 g, salt 0,8 g, baking soda 0,2 g)Fungsional Food, Yam, Lima Beans, Composite Flour, Cookies
Optimasi Proses Ekstraksi Dan Karakterisasi Oleoresin Daun Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii) Dua Tahap Lia Umi Khasanah; Baskara Katri Anandhito; Qurothul Uyun; Rohula Utami; Godras Jati Manuhara
INDONESIAN JOURNAL OF ESSENTIAL OIL Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Atsiri Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.697 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijeo.2017.002.01.03

Abstract

Oleoresin merupakan campuran antara minyak atsiri dan resin yang diperoleh dari hasil ekstraksi. Oleoresin diharapkan mampu menjadi alternatif bentuk penyimpanan senyawa volatil yang terdapat pada rempah-rempah. Daun kayu manis memiliki kandungan minyak atsiri sebesar 1,8%. Dalam perdagangan internasional oleoresin memiliki kadar minyak atsiri minimal 15%, sehingga diperlukan suatu cara untuk memenuhi kadar tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melakukan pencampuran oleoresin hasil ekstraksi dengan minyak atsiri hasil destilasi. Proses pencampuran ini menghasilkan oleoresin daun kayu manis dua tahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum dalam mendapatkan rendemen oleoresin daun kayu manis dua tahap dan karakterisasinya. Penelitian ini menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan dua faktor yaitu suhu ekstraksi (70, 75, dan 80 ºC) dan waktu ekstraksi (4, 5, dan 6 jam). Dari hasil penelitian didapatkan rendemen predictive value sebesar 12,27% dan experimental value sebesar 10,7%, pada suhu ekstraksi 78°C selama 5 jam 9 menit. Oleoresin daun kayu manis dua tahap yang didapatkan memiliki kandungan senyawa aktif Benzyl benzoat sebesar 42,09 %, kadar minyak atsiri 22,22 % dan kadar sisa pelarut 0,37%.
Pengaruh Rasio Bahan Penyalut Maltodekstrin, Gum Arab, dan Susu Skim terhadap Karakteristik Fisik dan Kimia Mikrokapsul Oleoresin Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) Lia Umi Khasanah; Baskara Katri Anandhito; Titiek Rachmawaty; Rohula Utami; Godras Jati Manuhara
agriTECH Vol 35, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.577 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9325

Abstract

This research was aimed to determine the effect of rasio variation of coating materials which are maltodextrin: arabic gum : skim milk (2 : 0: 4); (2: 2: 2); (0: 4: 2) and (2: 0: 4) on the physical characteristics of two-steps oleoresin microcapsule such as yield, moisture content, solubility in water and the microstructure; and to investigate the chemical characteristics of selected two-steps oleoresin microcapsule which were levels of residual solvent and active compounds. The experimental design used in this research was Completely Randomized Design(CRD) with one factor (rasio variation of coating materials). The results showed that the rasio variation of coating materials had significant effect on the yield and water content, but unsignificantly affected the solubility in water. The results of microstructure observation indicated that the presence of skim milk in larger quantity produced a better microstructure appearance. Residual solvent levels of selected microcapsule (maltodextrin : arabic gum : skimmilk = 2 : 0 : 4) was 0 ppm and the active compound of selected microcapsule were linalool, coumarin, 9-hexadecenoic acid, 1.8-cineole and benzene (3.3 dimethlbuthyl).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan penyalut berupa maltodekstrin, gum arab dan susu skim terhadap karakteristik fisik dan kimia mikrokapsul oleoresin daun kayu manis dua tahap. Dalam penelitian ini dilakukan empat variasi bahan penyalut berupa maltodekstrin: gum arab: susu skim (2:0:4, 2:2:2, 0:4:2 dan 2:0:4). Karakteristik fisik yang diuji meliputi rendemen, kadar air, kelarutan dalam air, dan mikrostruktur. Karakteristik kimia mikrokapsul oleoresin daun kayu manis dua tahap terpilih yang diuji meliputi kadar sisa pelarut dan kadar senyawa aktif. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu variasi rasio bahan penyalut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi rasio bahan penyalut berpengaruh signifikan terhadap rendemen dan kadar air, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap parameter kelarutan dalam air. Hasil pengamatan mikrostruktur menunjukkan bahwa susu skim dalam jumlah yang lebih besar menghasilkan penampakan mikrostruktur yang lebih baik. Kadar sisa pelarut mikrokapsul terpilih terdapat pada rasio 2:0:4 yaitu sebesar 0 ppm. Mikrokapsul ini mengandung senyawa aktif berupa linalool, coumarin, 9-hexadecenoic acid, 1,8-cineole serta benzene (3,3 dimehyl buthyl).
Pengaruh Suhu Ekstraksi terhadap Karakteristik Fisik, Kimia dan Sensoris Minyak Wijen (Sesamum Indicum L.) Sri Handajani; Godras Jati Manuhara; R. Baskara Katri Anandito
agriTECH Vol 30, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.433 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9682

Abstract

The purpose of this study was to examine the effect of extraction temperature (40oC, 45oC and 50oC) on physical (re- fractive index, specific gravity and viscosity), chemical characteristics (water concentration, free fatty acid, iodine value, peroxide value, saponification value and compositions of fatty acid), antioxidant activity and sensory evaluation (color, odor, appearance and overall) of virgin sesame oil (VSO). Raw material used in this study was sesame seeds of Sumberrejo 1 variety from Sukoharjo Central Java. The result showed that extraction temperature produced differ- ent characteristics of  VSO. Optimum extraction temperature was found at 45oC with the highest yield (38,8%), water concentration (0.206%), free fatty acids (1,453%), iodine value (90,174), peroxide value (7,608 meq/g), saponification value (188,909), composition of fatty acid according to Indonesian Standard for sesame oil, carotene (48,70 ppm), tocopherol (505,25 ppm), antioxidant activity (19,09) and the sensory characteristic was accepted by consumers.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suhu ekstraksi (40oC, 45oC dan 50oC) terhadap sifat fisik (indeks refraksi, berat jenis, dan viskositas), kimia (kadar air, asam lemak bebas, angka iod, angka peroksida, angka penyabunan, dan komposisi asam lemak), aktivitas antioksidan, dan sensori (warna, bau, kenampakan, dan keseluru- han) dari virgin sesame oil (VSO). Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji wijen varietas Sum- berrejo I dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu ekstraksi yang berbeda men- ghasilkan sifat-sifat VSO yang berbeda pula. Suhu 45oC merupakan suhu ekstraksi optimum dengan rendemen 38,8 %; kadar air 0,206 %; asam lemak bebas 1,453 %; angka iod 90,174; angka peroksida 7,608 meq/g; angka penyabunan188,909; karoten 48,70 ppm; tokoferol 505,25 ppm; aktivitas antioksidan 19,09; dan hasil sensori yang diterima olehkonsumen.
Formulasi Pangan Darurat Berbentuk Food Bars Berbasis Tepung Millet Putih (Panicum milliaceum L.) dan Tepung Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) Raden Baskara Katri Anandito; Siswanti Siswanti; Edhi Nurhartadi; Rini Hapsari
agriTECH Vol 36, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.899 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10680

Abstract

This study aimed to obtain a formula emergency food in the form food bars made from white millet flour and red bean flour. Foodbars made with Intermediate Moisture Food (IMF) technology with wet dyeing technique. This study used completely randomized design (CRD), which consists of a single factor, namely the variation formula white millet flour and red bean flour. The results showed that the formula food bars with the highest level of consumer acceptance in the composition of 15 g of white millet flour, red bean flour 10 g, 2 g sugar, 10 g margarine, milk full cream 13 g, 6.043 g and the addition of water. In 100 g of food bars contained water, ash, protein, fat, carbohydrate, and caloric value a respectively of 16.45%, 1.45%, 10.99%, 35.39%, 42.26%, 0 , 81 and 233.80 kcallbar.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula pangan darurat berbentuk food bars berbahan dasar tepung millet putih dan tepung kacang merah. Food bars dibuat dengan teknologi Intermediate Moisture Food (IMF) dengan teknik pencelupan basah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor yaitu variasi formula tepung millet putih dan tepung kacang merah (15:10; 12,5:12,5; 10:15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula food bars dengan tingkat penerimaan konsumen tertinggi pada komposisi tepung millet putih 15 g, tepung kacang merah 10 g, gula halus 2 g, margarine 10 g, susu full cream 13 g, dan penambahan air 6,043 g. Dalam 100 g food bars terkandung air, abu, protein, lemak, karbohidrat nilai a  dan kalori berturut-turut sebesar 16,45%,1,45%, 10,99%, 35,39%, 42,26%, 0,81 dan 233,80 kkallbar.
Formulasi Pangan Darurat Berbentuk Food Bars Berbasis Tepung Millet Putih (Panicum milliaceum L.) dan Tepung Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) Raden Baskara Katri Anandito; Siswanti Siswanti; Edhi Nurhartadi; Rini Hapsari
agriTECH Vol 36, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.899 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10680

Abstract

This study aimed to obtain a formula emergency food in the form food bars made from white millet flour and red bean flour. Foodbars made with Intermediate Moisture Food (IMF) technology with wet dyeing technique. This study used completely randomized design (CRD), which consists of a single factor, namely the variation formula white millet flour and red bean flour. The results showed that the formula food bars with the highest level of consumer acceptance in the composition of 15 g of white millet flour, red bean flour 10 g, 2 g sugar, 10 g margarine, milk full cream 13 g, 6.043 g and the addition of water. In 100 g of food bars contained water, ash, protein, fat, carbohydrate, and caloric value a respectively of 16.45%, 1.45%, 10.99%, 35.39%, 42.26%, 0 , 81 and 233.80 kcallbar.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula pangan darurat berbentuk food bars berbahan dasar tepung millet putih dan tepung kacang merah. Food bars dibuat dengan teknologi Intermediate Moisture Food (IMF) dengan teknik pencelupan basah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor yaitu variasi formula tepung millet putih dan tepung kacang merah (15:10; 12,5:12,5; 10:15). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula food bars dengan tingkat penerimaan konsumen tertinggi pada komposisi tepung millet putih 15 g, tepung kacang merah 10 g, gula halus 2 g, margarine 10 g, susu full cream 13 g, dan penambahan air 6,043 g. Dalam 100 g food bars terkandung air, abu, protein, lemak, karbohidrat nilai a  dan kalori berturut-turut sebesar 16,45%,1,45%, 10,99%, 35,39%, 42,26%, 0,81 dan 233,80 kkallbar.