cover
Contact Name
suhartini
Contact Email
tiensahmad1@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
direktorat@poltekkesbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan)
ISSN : 23561718     EISSN : 26852195     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal ini menggambarkan Media informasi kesehatan scopenya meliputi; keperawatan, kebidanan, analis kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2017): April" : 12 Documents clear
HUBUNGAN TEMPERATUR/SUHU TUBUH, TEKANAN DARAH TERHADAP TEKANAN INTRA KRANIAL (TIK) PADA KLIEN STROKE HEMORAGIK DI RSU KABUPATENTANGERANG Sunardi Sunardi
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.349 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.65

Abstract

Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK) merupakan kedaruratan yang harus diatasi dengan segera. Fenomena sekunder disebabkan gangguan sirkulasi, edema cerebral hingga menyebabkan kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya TIK, adalah jaringan otak, darah dan cairan serebrospinal (CSF), faktor lain diantaranya tekanan arteri, tekanan vena, tekanan intraabdominal & thorak, suhu tubuh dan gas darah, (Kostic et al, 2011). Perubahan TIK lebih banyak dipengaruhi oleh sirkulasi serebral atau cerebral blood flow (CBF), menurut Patria et al, (2006). rata-rata bila terjadi peningkatan pCO2 1 (satu) mmHg dimungkinkan terjadi peningkatan darah 1-2 cc pada cerebral blood flow, ini akan terjadi perubahan peningkatan volume darah di otak hingga menyebabkan peningkatan TIK. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan suhu tubuh, tekanan darah terhadap adanya perubahan intrakranial pada klien stroke hemoragik. Design penelitian adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan November – Desember 2016 di RSU Kabupaten Tangerang dengan populasi penelitian adalah Klien stroke hemoragik yang dirawat di RSU Kabupaten Tangerang, sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 14 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa suhu tubuh tidak mempengaruhi perubahan tekanan intrakranial pada klien stroke hemoragik dengan nilai p : 0,123 (α = 0,05), sedangkan tekanan darah sistolik berhubungan dengan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial pada pasien stroke hemoragik dengan nilai p sebesar 0,005 (α = 0,05), tekanan diastolik tidak berhubungan dengan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial pada pasien stroke hemoragik di RSU Kabupaten Tanggerang dengan nilai p : 0,240 (α = 0,05). Hasil ini merekomendasikan pentingnya observasi atau pemantauan terhadap perubahan TIK, sehingga dapat dideteksi adanya perubahan TIK.
PERSEPSI DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP PEMANFAATAN PELAYANAN ANTE NATAL CARE (ANC) OLEH BIDAN DI WILAYAH I PUSKESMAS KABUPATEN LEBAK TAHUN 2016 Yayah Rokayah; Siti Rusyanti
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.339 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.66

Abstract

Menurut KepMenPAN Nomor 58 Tahun 2002 menyatakan ada tiga jenis pelayanan, salah satunya yaitu pelayanan jasa yang diberikan oleh penyedia layanan yang bersentuhan langsung kepada masyarakat, diantaranya pelayanan asuhan kebidanan pada ibu hamil berupa pelayanan Antenatal Care. Persepsi masyarakat terhadap suatu layanan merupakan suatu tolok ukur untuk menigkatkan kualitas pelayanan yang pada akhirnya akan membentuk kepuasan pelanggan. Hasil penelitian Saputri Reni (2009) tentang persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sebagian besar persepsi masyarakat dalam kategori cukup (52,5%). Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi dan sikap ibu hamil terhadap pemanfaatan pelayanan ANC oleh bidan di wilayah I Puskesmas Kabupaten Lebak. Desain penelitian dilakukan dengan pendekatan Cross sectional. Besar sampel sebanyak 100 responden, populasinya ibu hamil yang mendapatkan pelayanan ANC oleh bidan. Analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil analisis univariat sebagian besar 94.0% ibu hamil mempunyai persepsi baik terhadap pemanfaatan pelayanan ANC oleh bidan, sebesar 66.0% sikap ibu hamil terhadap pemanfaatan layanan ANC oleh bidan adalah baik, dan pemanfaatan layanan ANC yang diberikan oleh bidan sebagian besar 71.0% adalah baik. Hasil analisis bivariat pada variable persepsi didapatkan nilai P 1,000 maka tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi dengan pemanfaatan pelayanan ANC oleh bidan, penelitian ini sejalan dengan Lukiono (2011) bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas tidak dipengaruhi oleh persepsi masyarakat atas mutu pelayanan kesehatan. Pada variable sikap didapatkan nilai P 0.122, maka tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemanfaatan pelayanan ANC oleh bidan, pernyataan ini sesuai Notoatmodjo (2008) bahwa sikap seseorang yang baik tidak bisa menjamin untuk bisa berprilaku yang positif dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan. Bidan hendaknya lebih meningkatkan lagi kualitas dalam memberikan pelayanan ANC terutama keterampilan komunikasi, karena komunikasi dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan perubahan prilaku ibu hamil dalam melakukan perawatan kehamilan. Ibu hamil hendaknya membagikan pengalaman positif tentang perawatan kehamilan kepada ibu-ibu yang lain.
ANALISIS PENERAPAN STANDAR NASIONAL PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR) PADA PUSKESMAS PKPR DI KABUPATEN LEBAK TAHUN 2016 Een Sukaedah; Suhartini Suhartini
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.166 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.67

Abstract

Kelompok remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. Kelompok ini di Indonesia memiliki proporsi kurang lebih 1/5 dari jumlah seluruh penduduk. Jumlah ini sesuai dengan proporsi remaja di dunia dimana jumlah remaja diperkirakan 1,2 miliar atau sekitar 1/5 dari jumlah penduduk dunia (WHO,2003). Melihat jumlahnya yang sangat besar, maka remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani, mental dan spiritual. Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan terbawah dan terdekat dengan masyarakat memiliki andil yang cukup penting dalam optimalisasi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di puskesmas. Pelayanan Kesehatan Peduli remaja di kabupaten Lebak telah dilaksanakan di 5 (lima) Puskesmas,yang aktif melaksanakan program PKPR ada tiga puskesmas, namun sejauhmana penerapan standar nasional layanan PKPR di 3 (tiga) puskesmas ini belum diketahui. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sejauhmana penerapan Standar Nasional PKPR pada puskesmas PKPR di kabupaten Lebak tahun 2016 Metodelogi penelitian ini dengan menggunakan desain “Cross sectional”. Populasi penelitian adalah seluruh pimpinan puskesmas, pengelola program PKPR di puskesmas, petugas pendukung dan remaja yang memanfaatkan layanan PKPR di masing-masing puskesmas. Sampel penelitian ini sama dengan populasi. Lokasi penelitian dilakukan di 3 (tiga) Puskesmas yang melaksanakan kegiatan PKPR yaitu; puskesmas Rangkasbitung, Cibadak, dan Cipanas. Kegiatan Penelitian dilaksanakan sejak bulan Agustus sampai dengan Desember tahun 2016 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencapaian standar SN-PKPR di tiga puskesmas yaitu; puskesmas Cibadak 53%, Rangkasbitung 50%, dan Cipanas 37%). Ketiga puskesmas tingkat pemenuhan Standar SN-PKPR masih minimal (<60%) atau garis merah. angka pencapaian standar SDM tertinggi 72% terendah43%. angka capaian fasilitas tertinggi 76% dan terndah 62%. angka capaian remaja tertinggi 50%, terendah 10%, angka capaian jejaring tertinggi 33% terendah 11%, angka capaian manajemen kesehatan tertinggi 33% terendah 7%. Mengingat secara keseluruhan pencapaian SN-PKPR di tiga puskesmas masih rendah, untuk itu disarankan perlu disusun rencana aksi (workplan), agar pelaksanaan kegitan PKPR di puskesmas dapat berjalan sebagaimana mestinya. Dukungan dari Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas dan institusi terkait lainnya sangat diperlukan dalam mendukung kegiatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR ) di puskesmas Rangkasbitung, Cibadak, Cipanas kabubaten Lebak.
PENGARUH METODA KONSELING TEMAN SEBAYA TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TENTANG OBESITAS DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI I RANGKASBITUNG TAHUN 2016 Ahmad Ahmad; Kadar Kuswandi
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.658 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.68

Abstract

Obesitas adalah keadaan dimana terdapat penimbunan lemak di dalam tubuh yang berlebihan. Pada tahun 2013, di Indonesia prevalensi obesitas penduduk usia lebih dari 18 tahun mencapai 15,4%.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh metoda konseling teman sebaya terhadap pengetahuan remaja tentang obesitas di Sekolah Menengah Kejuruan I Rangkasbitung Tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi ekperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Kejuruan I Rangkasbitung kelas XI. Sampel diambil dari kelas yang berbeda. Satu kelas diberikan promosi kesehatan dengan metoda ceramah yang dilakukan oleh peneliti (kelompok control) dan satu kelas lagi diberikan promosi kesehatan dengan metoda konseling teman sebaya yang dilakukan oleh siswa yang telah diberikan pelatihan tentang konseling teman sebaya mengenai obesitas (kelompok perlakuan). Pengumpulan data dilakukan dua kali yaitu sebelum diberikan promosi kesehatan dengan metoda ceramah dan setelah diberikan ceramah pada kelompok control serta sebelum dilakukan promosi kesehatan dengan metoda konseling teman sebaya dan setelah pemberian konseling sebaya pada kelompok perlakuan Analisis data menggunakan perangkat computer dengan uji T dependen pada masing-masing kelompok dan uji T independen pada kelompok kasus dan kelompok control. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata pengetahuan siswa tentang obesitas pada kelompok Kontrol untuk pengukuran pertama adalah 5,755 dengan standar deviasi 1,04, dan pengukuran kedua rata-rata pengetahuan 6.475 dengan standar deviasi 1.21. Hasil uji statistik ada perbedaan yang signifikan rata – rata pengetahuan siswa pada pengukuran pertama dan kedua Sementara itu, rata – rata pengetahuan siswa tentang obesitas pada kelompok perlakuan, pengukuran pertama adalah 5,500 dengan standar deviasi 0.88. dan pengukuran kedua rata-rata pengetahuan 6.427 dengan standar deviasi 1.10. Hasil uji statistik menunjukan ada perbedaan yang signifikan rata –rata pengetahuan siswa pada pengukuran pertama dan kedua. Hasil analisis lebih lanjut,menunjukan rata – rata pengetahuan siswa tentang obesitas pada kelompok perlakuan adalah 5,500 dengan standar deviasi 0.88, dan pada kelompok kontrol rata-rata pengetahuan 5.755 dengan standar deviasi 1.04. Hasil uji stantistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan rata – rata pengetahuan siswa pada kelompok perlakuanj / teman sebaya dengan kelompok kontrol. Perlunya tenaga kesehatan atau pendidik mengembangkan konseling teman sebaya sebagai pilihan metoda dalam memberikan penyuluhan kesehatan
PENGARUH TERAPI ASERTIF TERHADAP KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING PADA SISWA SMPN 1 RAJEG KABUPATEN TANGERANG Ema Hikmah; Parta Suhanda
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.549 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.69

Abstract

Perilaku asertif tidak bisa.dibentuk secara instan, tetapi harus dilatih secara terus menerus melalui role model, baik di rumah oleh orangtua, di sekolah oleh guru dan teman sebaya. Perilaku yang terjadi pada anak, yang sifatnya menyimpang harus di evaluasi agar guru dan orangtua dapat mengatasi sedini mungkin sehingga perilaku tersebut dapat berubah kearah yang lebih baik. Data menyebutkan 84% anak Indonesia mengalami kekerasan (bullying) baik fisik maupun psikis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi asertif terhadap kecenderungan perilaku bullying. Tempat penelitian adalah di SMPN 1 Rajeg Kabupaten Tangerang periode Juni sampai Nopember 2016. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi-eksperimen. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 84 siswa dengan rincian 43 orang kelompok control dan 41 orang kelompok intervensi. Desain kuasi-eksperimen dalam penelitian menggunakan tipe onegroup design dengan pre dan post test. Analisi bivariat yang digunakan adalah t-test independent. Hasil penelitian pada kelompok intervensi diketahui ada penurunan kecenderungan perilaku bullying yaitu nilai rerata sebelum dilakukan terapi asertif yaitu 45,8 dengan standar deviasi 5,286 dan setelah dilakukan terapi asertif adalah 40,71 dengan standar deviasi 5,098 dengan p value=0,000 α=0,05. Hasil yang signifikan pada penelitian ini menunjukan bahwa hal ini bermakna apabila terapi asertif dilakukan maka kecenderungan perilaku bullying akan menurun.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN IBU BALITA KE POSYANDU DI DESA MEKARSARI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN TAHUN 2016 Darti Rumiatun; Dina Sri Mawadah
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.832 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.70

Abstract

Derajad kesehatan di indonesia masih rendah, hal itu dapat diukur dengan indikator di antaranya adalah angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI).Berbagai faktor dapat mempengaruhi naik dan turunnya AKB dan AKI, diantaranya belum di manfaatkannya sarana pelayanan kesehatan seperti posyandu secara optimal oleh masyarakat. Di Provinsi Banten angka kematian ibu dan bayi menduduki posisi kelima secara nasional.Sedangkan Untuk dikabupaten Lebak kematian bayi dan balita menduduki urutan kedua dari 8 kabupaten yang ada di banten yaitu sebesar 383. Banyak Faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu dan balita keposyandu diantaranya umur balita, jarak tempuh, pekerjaan, pendidikan dan pengetahuan ibu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu balita keposyandu di desa mekarsari lebak banten. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Total populasi 153 balita dan 113 sampel yang dipilih dengan cara Random Sampling. Instrument yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari analisis univariat,untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-masing variable, Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antara varibel independen dan variable dependen dengan menggunakan uji chi squre di maknai dengan bila didapatkan nilai p < 0,05 H0 diterima atau ada faktor – faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu dan balita ke posyandu dan apabila nilai p > 0,05 H0 ditolak atau tidak ada faktor – faktor yang berhubungan dengan kunjungan ibu dan balita ke posyandu,dan analisis multivariat untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang berhubungan dengan kunjungan balita ke posyandu dengan menggunakan uji regresi logistic Hasil penelitian didapatkan ibu balita yang berprilaku baik berkunjung ke Posyandu ke posyandu masih rendah sebanyak 43,4%. Ada 3 variabel yang secara statistic berhubungan dengan perilaku kunjungan ibu balita ke posyandu yaitu pendidikan, pengetahuan dan umur anak. Berdasarkan hasil uji regresi logistic factor yang paling berpengaruh terhadap perilaku kunjungan ibu ke posyandu adalah umur anak. Disarankan untuk melakukan dan meningkatkan monitoring upaya promosi kesehatan dengan supervise langsung keposyandu dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kegiatan yang ada diposyandu.
HUBUNGANANTARA KEIKUTSERTAAN IBU HAMIL PADA PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) DENGAN KEJADIAN KOMPLIKASI PERSALINAN DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS WARUNGGUNUNG KABUPATEN LEBAK 2016 Nintinjri Husnida; Nani Yuningsih
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.38 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.71

Abstract

Tingginya angka kematian ibu setiap tahun dan semakin meningkat, sehingga perlunya melihat hubungan antara keikutsertaan ibu hamil pada program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan kejadian komplikasi persalinan di Wilayah kerja Puskemas Warunggunung Kabupaten Lebak 2016. Berdasarkan gambaran tentang tingginya Angka kematian ibu di Provinsi Banten, maka dirumuskan masalah penelitian bagaimanakah hubungan antara keikutsertaan ibu hamil pada program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan kejadian komplikasi persalinan, sedangkan hipotesis yang dirumuskan terdapat hubungan antara keikutsertaan ibu hamil pada program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan kejadian komplikasi persalinan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi kohort dan menggunakan kuesioner. Jumlah sampel yang digunakan 48 responden, dengan total populasi. Data penelitian diambil secara primer menggunakan kuesioner. Analisis data untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan Chi-Square. Dari hasil penelitian secara univariat menunjukkan jumlah ibu yang tidak memanfaatkan P4K sebesar 31,3 %, kejadian komplikasi sebesar 33,3% . Dari hasil uji bivariat didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara keikutsertaan ibu hamil pada program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) dengan kejadian komplikasi di wilayah kerja Puskemas Warunggunung Kabupaten Lebak 2016 dan nilai 0,008 (p < α) dapat diartikan bahwaada hubungan ibu hamil yang mengikuti P4K dengan kejadian komplikasi. Dapat disimpulkan bahwa Terdapat hubungan signifikan antara pemanfaatan P4K pada ibu hamil dengan kejadian komplikasi persalinan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI IBU DALAM PELAKSANAAN SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIPOCOK JAYA KOTA SERANG PROVINSI BANTEN TAHUN 2016 Afni Yulianti; Melly Halimatussaadiah
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.233 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.72

Abstract

Hasil SDKI 2012 menyebutkan angka kematian ibu (AKI) melonjak drastis 359 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal sebelumnya AKI dapat ditekan dari 390 per 100 Ribu kelahiran hidup (1991) menjadi 228 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI 2007). Angka Kematian Bayi (AKB) juga masih tinggi yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup. Senam hamil adalah terapi latihan gerak yang diberikan kepada ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya, baik persiapan fisik maupun mental untuk mengahadapi dan mempersiapkan persalinan yang cepat, aman dan spontan (Huliana, 2001).Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ibu dalam pelaksanaan senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Cipocok Jaya Kota Serang Provinsi Banten Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik, dengan desain penelitian cross sectional (potong lintang), Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil Trimester II dan III di Wilayah Kerja Puskesmas Cipocok Jaya, Kota Serang. Jumlah Populasi penelitian ini adalah 115 orang Penelitian ini menggunakan teknik sampling, yaitu random sampling terhadap ibu hamil di Trimester II dan III di Wilayah Kerja Puskesmas Cipocok Jaya, Serang, Banten dan bersedia menjadi responden sebanyak 89 orang. Instrumen penelitian kuantitatif dan menggunakan data primer. Dalam penelitian ini dilakukan dengan memakai uji kai-kuadrat. Hasil penelitian dari analisis univariat berdasarkan motivasi untuk melakukan senam hamil (76.4 %), pengetahuan kurang terhadap senam hamil (95,5%), tidak ada media yang menginformasikan tentang senam hamil (76,4%), dukungan dari keluarga untuk melakukan senam hamil (84,3%), sebagian kecil belum memiliki fasilitas untuk melakukan senam hamil (43,8%). Hasil dari bivariate ada beberapa variabel memiliki hubungan yang bermakna antara lain yaitu media informasi dan fasilitas senam hamil dan ada variabel yang tidak terdapat hubungan yang bermakna yaitu pengetahuan dan dukungan keluarga. Secara bivariat diperoleh rata–rata P Value = kurang dari 0,05 (P<α) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dan sedangkan yang tidak berhubungan adalah paritas dengan hasil P Value = lebih dari 0,05 (P>α). Pentingnya senam hamil bagi kesehatan ibu hamil maka diharapkan Puskesmas sebagai tempat pelayanan primer mampu memfasilitasi kegiatan senam hamil dan masyarakat mendukung terlaksananya kegiatan senam hamil secara rutin.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN SERTA KADER POSYANDU DALAM DETEKSI DINI RISIKO TINGGI KEHAMILAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WARUNGGUNUNG TAHUN 2016 Nurul Misbah; Ayi Tansah R
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.703 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.73

Abstract

Peranan kader sangat penting karena kader ikut bertanggung jawab dalam pelaksanaan program Posyandu. Bila kader tidak aktif maka pelaksanaan posyandu juga akan menjadi tidak lancar dan akibatnya pelayanan di posyandu akan terhambat yang berdampak pada cakupan kunjungan ibu dan bayi/balita. Keikutsertaan dan keaktifan kader di posyandu diharapkan mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. Karena Kader merupakan titik sentral dalam pelaksanaan kegiatan posyandu. Namun keberadaan kader relatif labil karena partisipasinya bersifat sukarela sehingga tidak ada jaminan untuk tetap menjalankan fungsinya dengan baik seperti yang diharapkan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi peran serta kader posyandu dalam deteksi dini risiko kehamilan di wilayah Kerja Puskesmas Warunggunung Kabupaten Lebak Tahun 2016. Desain penelitian deskriptif analitik dengan mengunakan pendekatan cross sectional. Jumlah Populasi berjumlah 270 orang sedangkan sampel pada penelitian ini adalah kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Warunggunung sebanyak 75 orang, Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukan Masih ada sebagian kecil peran serta kader posyandu kurang (26,7%), hampir setengahnya pengetahuan kader posyandu kurang (45,3), sebagian besar kader posyandu tingkat pendidikannya rendah (65,3%), sebagian kecil kader posyandu tidak pernah mengikuti pelatihan kader (30,7%), masih terdapat kader posyandu bersikap negatif terhadap deteksi dini pada kehamilan ( 32,0%), hampir setengahnya kader posyandu pengalaman menjadi kader < 10 tahun (48,0%), terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap dan riwayat pelatihan dengan peran kader Posyandu di Kecamatan Warunggunung. Tidak terdapat hubungan antara, Pendidikan dan Pengalaman dengan Peran Kader Posyandu di Kecamatan Warunggunung. Puskesmas khususnya bidan desa hendaknya meningkatkan kegiatan pelatihan dan pembinaan kepada kader-kader posyandu terkait deteksi dini resiko tinggi pada ibu hamil secara periodik.
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN USIA MENARCHE PADA SISWI KELAS VIII SMPN 2 DESA TAMBAK BAYA KECAMATAN CIBADAK KABUPATEN LEBAK TAHUN 2016 Suhartini Suhartini
Jurnal Medikes (Media Informasi Kesehatan) Vol 4 No 1 (2017): April
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.727 KB) | DOI: 10.36743/medikes.v4i1.74

Abstract

Menarche adalah perdarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita. Usia menarche dapat bervariasi pada setiap individu. Secara umum usia menarche terjadi pada usia 12-15 tahun, pada usia ini pendidikan yang ditempuh adalah SMP. Dalam 100 tahun terakhir, usia menarche telah bergeser ke usia yang lebih muda. Semmel weiss menyatakan bahwa 100 tahun yang lalu usia gadis-gadis Vienna pada waktu menarche berkisar antara 15-19 tahun. Sekarang usia gadis remaja pada waktu menarche bervariasi lebar, yaitu antara 10-16 tahun tetapi rata-rata 12,5 tahun. Hasil penjajakan awal melalui wawancara dengan pengelola program UKS di puskesmas Mandala dikemukakan bahwa belum pernah dilakukan penelitian terkait usia menarche pada siswi kelas VIII SMPN 2 desa Tambak Baya kabupaten Lebak yang termasuk ke dalam di wilayah kerja puskesmas Mandala. Penelitian ini bertujuan untuk meanganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada siswi kelas VIII SMPN 2 desa Tambak Baya kecamatan Cibadak kabupaten Lebak tahun 2016. Metodelogi penelitian ini menggunakan desain “crossectional” Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas VIII SMPN 2 desa Tambak Baya kecamatan Cibadak kabupaten Lebak berjumlah 100 orang, Sedangkan sampel penelitian sama dengan populasi. Tehnik pengambilan sampel secara purporsive sesuai dengan tujuan penelitian ditujukan kepada siswi saja. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2016 sampai Nopember 2016. Pada penelitian ini penulis akan mengkaji lebih dalam tentang usia menarche pada wilayah pedesaan, karena dari beberapa penelitian terdahulu dilakukan diwilayah perkotaan. Hasil Penelitian menunjukkan sebagian besar siswi menarche >12 tahun (65%), Hampir seluruhnya pendidikan ibu ≤ SLTP (97%), sebagian besar usia menarche ibu > 12 tahun (82%), sebagian usia pengenalan komunikasi HP usia > 10 tahun (67%), sebagian besar sumber informasi menarche diperoleh melalui media non formal (77%), hampir seluruh siswi aktifitas fisik olah raga ≤ 2 kl per minggu (96%), sebagian besar status gizi siswi ≤ Kurang (63%). Ada hubungan bermakna antara sumber informasi dengan usia menarche (OR 0,3).Ada hubungan bermakna antara status gizi dengan usia menarche (OR 2,5). Tidak ada hubungan bermakna antara pendidikan ibu, usia menarche ibu, usia pengenalan media komunikasi HP, aktivitas olah raga dengan usia menarche. Hasil analisis faktor risiko usia menarche diketahui ada hubungan bermakna antara sumber informasi dan status gizi dengan usia menarche. Kepada pihak sekolah disarankan untuk memberikan informasi formal melalui mata pelajaran terkait kesehatan reproduksi disekolah, mendatangkan nara sumber, serta menyebarluaskan informasi formal tentang menarche melalui buku saku, brosur, Leaflet. Kepada puskesmas diharapkan dapat menyebarluaskan informasi tentang menarche melalui penyuluhan, poster, brosur, leaflet, dan lainnya.

Page 1 of 2 | Total Record : 12