cover
Contact Name
Heni Indrayani
Contact Email
jurnal.audience@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
heni.indrayani@dsn.dinus.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Audience
ISSN : 26208393     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Audience, Journal of Communication Studies is a scientific journal published by Dian Nuswantoro University. Audience journal publishes original papers, review papers, conceptual framework, analytical and simulation models, case studies, and empirical research. Audience journal aims to develop and communicate widely the development of creative media and business communication both theoretical and pragmatic. Audience journal publishes papers in the fields of journalism, mass media industries, broadcasting media issue, new media studies, media ethics, political communications, media law, strategic communications management, social marketing, political marketing, political campaign, public relations. Audience journal is published both in print and online versions. Audience journal published twice a year, in February and August.
Arjuna Subject : -
Articles 144 Documents
Praktik Budaya Digital dan Penerimaan Label Gizi Masyarakat Urban Fachrudin Ali Ahmad; Achmad Jamil; Tetrian Widyanto
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v9i2.17555

Abstract

Kebijakan pelabelan gizi memasuki ruang digital yang lebih dulu dikuasai konten promosi minuman manis, sehingga tantangan yang muncul lebih bersifat komunikatif ketimbang semata-mata soal gizi dan kesehatan masyarakat. Penelitian ini menganalisis pemaknaan konsumsi minuman kekinian sebagai praktik bermedia, mekanisme kurasi algoritmik dalam mengedarkan makna konsumsi, dan cara masyarakat urban menerima label Nutri-Level yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026. Kerangka analisisnya berlapis. Mediatisasi mendalam dipakai sebagai landasan cara pandang, platformisasi produksi budaya menjelaskan mekanisme sirkulasi, dan media sebagai praktik dipakai untuk membaca kebiasaan konsumsi, sementara model kerentanan diferensial terhadap efek media dan konsep penyatuan makna digunakan untuk membaca penerimaan pesan kebijakan. Penelitian menerapkan studi kasus tunggal dengan subunit tertanam pada empat informan masyarakat urban dari dua kelompok usia, menggabungkan wawancara mendalam dengan dua puluh enam bahan visual berupa arsip unggahan, foto konsumsi, dan tangkapan lini masa. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi dimaknai sebagai ganjaran diri dan penanda kepribadian oleh seluruh informan, kesadaran atas kurasi algoritmik bersifat menyeluruh namun berhenti pada tingkat rekomendasi tanpa membedakan penempatan yang berbayar, dan pesan kesehatan dicerna melalui rentang sikap yang beragam. Jeda menimbang antara paparan konten dan pembelian ternyata tetap muncul meskipun platform menyatukan tontonan dengan transaksi dalam satu layar, serta kesadaran atas bahaya gula yang mendahului sosialisasi kebijakan pada seluruh informan tanpa selalu berlanjut menjadi pembatasan konsumsi. Dari temuan tersebut disimpulkan bahwa komunikasi kebijakan Nutri-Level perlu bergeser dari penyediaan informasi menuju upaya mempertemukan pesan kesehatan dengan makna yang sudah terbentuk di dalam praktik bermedia masyarakat urban.
Examining Hate Speech and Social Media in Indonesia: A Systematic Literature Review Gemilang Bayu Ragil Saputra; Nurliana Nurliana; Dwi Rohma Wulandari; Dyah Fitria Kartika Sari; Kudratullah Kudratullah
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v9i2.17621

Abstract

Hate speech and social media are increasingly prominent topics for scholars in Indonesia, yet prior reviews on the subject tend to remain within a single discipline. Building on the digital boom triggered by the Covid-19 pandemic, we systematically mapped the thematic trends of hate speech and social media research in Indonesia published between 2020 and 2025. We queried our corpus from ScienceDirect and utilised R, RStudio, and the Bibliometrix package as the primary tools to analyse the corpus. Our findings show that this remains a rapidly growing field (CAGR of 45.4% per year), with hate speech and offensive content detection forming its conceptual core, and deep learning and language models. Dominant methods cover deep learning and language models such as BERT and its Indonesian derivative. The thematic evolution shifted from situational triggers of Covid-19 pandemics to long-term structural issues such as hate speech itself and disinformation. Interpreting these patterns through Computer-Mediated Communication (CMC) and the Social Identity model of Deindividuation Effects (SIDE) as primary lenses, with Social Identity Theory (SIT) as a secondary lens, we argue that platform affordances and anonymity intensify group-based hostility in ways the literature has yet to explicitly theorise, particularly within Indonesia's distinct religious and linguistic context.
Two Regimes of Valuation: Commercial Extraction and Administrative Devaluation in the Political Economy of Communication Anita Amaliyah; Anisa Setya Arifina
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v9i2.17632

Abstract

This article develops a critical political-economy analysis of how communicative work becomes economically and legally intelligible. It examines two empirical sites, a) the commercial political commentary of the American podcast Pod Save America (PSA) on Donald Trump's reciprocal tariff policy, and the prosecution of Indonesian videographer Amsal Christy Sitepu over village profile videos produced under a digital-village program. Drawing on Vincent Mosco's political economy of communication, the article argues that the cases should not be treated as symmetrical outcomes of a single process. PSA demonstrates commodification, in which political critique is packaged and circulated through revenue-bearing media infrastructure that can covert content and audience attention into exchange value. The Amsal case reveals administrative devaluation, in which an audit-based valuation process reportedly failed to recognize creative conception, editing and narration as legitimate economic components of audiovisual production, thereby exposing creative labor to legal risk. The finding from this research revealed unequal regimes of valuation. Market actors may recognize communication in order to extract revenue, whereas bureaucratic actors may deny its legitimate value in order to discipline expenditure and define legal responsibility. The article therefore extends a critical reading of Mosco by placing commodification alongside the institutional politics of valuation, ideology, and resistance. It argues that the central question is not only whether communication is commodified, but who has the authority to define value, through which infrastructures, and with what consequences for workers, audiences, and public culture.
Festival Serabi Likuran Sebagai Model Komunikasi Budaya Pembentuk Place Branding Desa Wisata Penggarit Himawan Ristanto; Eko Wahyono; Alfiyani Aisyah; Ahmad Sunardi
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v9i2.17674

Abstract

Tradisi Serabi Likuran merupakan praktik budaya berbasis kuliner yang berkembang di masyarakat Desa Wisata Penggarit. Tradisi ini mulanya sebagai bentuk silaturahmi dan komunikasi sosial pada malam-malam akhir Ramadhan, yang kemudian dikembangkan menjadi festival budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model komunikasi budaya dalam tradisi tersebut serta mengkaji transformasinya menjadi festival budaya dan instrumen place branding desa wisata Penggarit. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi lapangan, studi literatur, dan interpretasi budaya. Penelitian ini menggunakan perspektif komunikasi budaya yang memandang tradisi kuliner sebagai praktik komunikasi simbolik dalam pembentukan identitas kolektif masyarakat dan penguatan Place branding desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serabi adalah warisan dan kekayaan kuliner lokal Desa Penggarit. Serabi berfungsi sebagai media komunikasi simbolik yang merepresentasikan nilai solidaritas sosial, religiusitas, dan identitas kolektif. Transformasi tradisi menjadi festival memperluas fungsi komunikasi dari interpersonal menjadi komunikasi publik dan strategis sebagai atraksi pariwisata. Festival Serabi Likuran berperan sebagai citra desa berbasis kearifan lokal yang memperkuat place branding Desa Penggarit. Penelitian ini menghasilkan model komunikasi budaya berbasis gastronomi "The Four-Stage Cultural Gastronomy Model" menggambarkan tahapan transformasi dari komunikasi interpersonal, simbolik-religius, komunikasi publik menuju komunikasi branding destinasi wisata. Penelitian ini berkontribusi dalam integrasi budaya lokal dan place branding pariwisata perdesaan.