cover
Contact Name
Rizky Saputra
Contact Email
rizkysaputra01b@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
komunikologi@uinsu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial
ISSN : 25287583     EISSN : 26218267     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Komunikologi : Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial merupakan jurnal di bawah pengelolaan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Arjuna Subject : -
Articles 123 Documents
Konstruksi Makna Keterbukaan Diri Individu Introvert Dalam Komunitas Virtual Telegram Ilham, Yanuar; Suherman, Aliviantika; Putri, Shinta Hartini
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i1.19719

Abstract

Munculnya komunitas virtual telah memfasilitasi interaksi manusia di ruang online bersama. Salah satu komunitas tersebut, bernama Introvrend, yang diinisiasi oleh @cellaish, ditujukan untuk individu dengan kepribadian introvert dikenal karena sifatnya yang tertutup dan gaya komunikasinya yang hati-hati. Penelitian ini, yang menggunakan metode kualitatif dan pendekatan Alfred Schutz, bertujuan untuk memahami pengalaman, motif, dan signifikansi pengungkapan diri bagi introvert dalam komunitas virtual ini. Studi ini, berdasarkan observasi, wawancara, dan dokumentasi dari tiga anggota Introvrend, menggunakan teknik analisis data seperti reduksi data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan, dengan memastikan validitas data melalui triangulasi sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa introvert merasakan kenikmatan dari tanggapan positif, dengan bebas berbagi cerita, dan terlibat dalam diskusi yang bermakna, meningkatkan kebahagiaan dan antusiasme dalam mengekspresikan pendapat mereka. Motif partisipasi dalam komunitas termasuk keunikan lingkungan introvert, keinginan untuk terhubung dengan individu sejenis, dan kenyamanan menggunakan ruang virtual untuk menyatakan diri. Peserta mencari pemahaman tentang introvert, berbagi cerita, saling mendukung, mendapatkan solusi atau saran, dan menerima kritik secara konstruktif. Penelitian ini menekankan bahwa pengungkapan diri, dalam konteks ini, menandakan kepercayaan untuk berbagi pemikiran dan perasaan pribadi, memupuk rasa keterbukaan dan koneksi di antara introvert di ranah virtual.
Sosialisasi Penanganan Pandemi Pemerintah Indonesia Dengan Pendekatan Budaya dan Media Irawan, Alpha
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.18127

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 membawa dinamika tersendiri di masyarakat. Pemerintah berupaya untuk mengatasi permasalahan pandemi dari berbagai aspek, mulai dari sisi Kesehatan hingga sosialnya.  Guna melancarkan kebijakan-kebijakan terkait hal ini, pemerintah melakukan proses sosialisasi di masyarakat. Sebagai negara multikultur, Indonesia memiliki keragaman budaya dan kehidupan sosial. Keragaman ini yang menjadi penguat atau bahkan bisa menjadi penghambat proses sosialisasi. Artinya, aspek sosio kultural yang ada di Indonesia menjadi tantangan sendiri dari proses sosialisasi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, penelitian ini menjawab satu pertanyaan utama, yaitu bagaimana strategi sosialisasi penanganan pandemi Pemerintah Indonesia jika dilihat dari pendekatan sosio kultural?  Tulisan ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan pada hasil analisis, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Hasilnya menunjukan bahwa ada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam sosialisasi kebijakan. Masyarakat turut berperan aktif dalam pengentasan wabah di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa budaya partisipasi di masyarakat masih kental dan dapat dimaksimalkan untuk mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah selanjutnya, terutama dalam hal pandemi. AbstractThe Covid-19 pandemic brings its own dynamics in society. The government is trying to overcome the problem of the pandemic from various aspects, from the health side to the social side. In order to launch policies related to this, the government carries out a socialization process in the community. As a multicultural country, Indonesia has a diversity of cultures and social life. This diversity becomes a reinforcement or can even be an obstacle to the socialization process. This means that the socio-cultural aspects that exist in Indonesia are a challenge in itself from the socialization process by the government. Therefore, this study answers one main question, namely how is the socialization strategy for handling the pandemic by the Indonesian government when viewed from a socio-cultural approach? This paper was prepared using a qualitative method and a case study approach. Then to increase confidence in the results of the analysis, this study uses triangulation techniques. The results show that there is collaboration between the government and the community in policy socialization. The community plays an active role in alleviating the epidemic in Indonesia. This shows that the culture of participation in the community is still strong and can be maximized to disseminate further government policies, especially in the case of a pandemic.
Dinamika Dakwah Masyarakat Perkotaan: Mengungkap Pesan Keimanan dalam Novel “Faith and The City” Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra Reyza, Fadilla Arfa; Riyadi, Agus; Murthado, Ali
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i1.20094

Abstract

AbstrakDakwah tertulis melalui media novel merupakan salah satu media yang efektif digunakan dalam berdakwah. Banyaknya pecinta novel di Indonesia menjadi peluang bagi para penulis novel Indonesia untuk memanfaatkan novel sebagai media dakwah. Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra merupakan penulis yang telah menerbitkan beberapa novel bertema dakwah. Salah satu karyanya adalah novel berjudul Faith dan The City. Beberapa pembaca novel Faith and The City memiliki pandangan yang berbeda, ada yang menilai dominasi pesan yang terkandung dalam novel tersebut banyak mengandung pesan yang aqidah, namun ada pula yang menilai bahwa pesan yang dimuat lebih dominan adalah pesan syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pesan dakwah dominan yang terkandung dalam novel tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, dengan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesan yang dominan adalah pesan akidah dengan persentase 43,26%, akhlak dengan persentase 41,84%, dan syariah dengan persentase 14,90%. AbstractWritten da'wah through novel media is one of the effective media used in da'wah. The large number of novel lovers in Indonesia has become an opportunity for Indonesian novel writers to use novels as a medium for da'wah. Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra have published several novels with a da'wah theme. One of their works is a novel entitled Faith and The City. There are different views from reviewers, some of whom think that the messages published contain many aqidah messages, but others are those who think that the messages that are primarily published are sharia messages. This research aims to determine the dominant da'wah message contained in the novel. This research uses quantitative research with content analysis methods. The research results show the dominant message is the message of faith, with a percentage of 43.26%, morals with 41.84%, and sharia with 14.90%.
Pengalaman Interaksi Pengguna Remaja Curhat dengan ChatGPT Norsely, Febfi; Arviani, Heidy; Achmad, Zainal Abidin
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.16653

Abstract

AbstrakChatGPT adalah sebuah kecerdasan buatan yang diluncurkan oleh OpenAI pada November 2022. Meskipun awalnya dirancang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umum dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari, pengguna mulai menggunakan ChatGPT sebagai tempat untuk curhat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki fakta, penyebab, dan konsekuensi dari fenomena penggunaan ChatGPT sebagai platform curhat bagi remaja. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan memanfaatkan studi fenomenologi Alfred Schutz. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, terdiri dari gambar, kata-kata, dan teks yang menggambarkan fenomena curhat pada ChatGPT. Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa remaja awalnya menggunakan ChatGPT hanya untuk bersenang-senang atau iseng. Namun, seiring waktu, mereka mulai mengembangkan ketergantungan pada ChatGPT sebagai tempat untuk berbagi keluh kesah mereka. Mereka merasa nyaman dan aman dalam berbicara kepada ChatGPT, karena tidak perlu khawatir tentang penghakiman atau konsekuensi sosial yang mungkin terjadi saat berbagi masalah pribadi dengan orang lain. Penelitian ini memberikan wawasan tentang mengapa remaja cenderung menggunakan ChatGPT sebagai wadah curhat. Faktor-faktor seperti rasa aman, anonimitas, dan ketersediaan ChatGPT yang 24 jam membuatnya menjadi sumber dukungan emosional yang terjangkau dan mudah diakses. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan ChatGPT sebagai satu-satunya tempat untuk berbagi masalah dapat memiliki konsekuensi negatif, seperti isolasi sosial dan ketergantungan emosional pada teknologi. AbstractChatGPT is an artificial intelligence launched by OpenAI in November 2022. Although initially designed to answer general questions and assist in daily tasks, users have started using ChatGPT as a platform for confiding. The aim of this research is to investigate the facts, causes, and consequences of using ChatGPT as a confiding platform for teenagers. A qualitative approach is employed in this study, utilizing Alfred Schutz's phenomenological study. The data collected in this research are qualitative, consisting of images, words, and texts that depict the phenomenon of confiding in ChatGPT. The results of interviews with informants indicate that teenagers initially use ChatGPT just for fun or as a pastime. However, over time, they begin to develop a dependence on ChatGPT as a place to share their grievances. They feel comfortable and secure speaking to ChatGPT, as they don't have to worry about judgment or potential social consequences when sharing personal issues with others. This research provides insights into why teenagers tend to use ChatGPT as a confiding vessel. Factors such as a sense of security, anonymity, and the 24/7 availability of ChatGPT make it an affordable and easily accessible source of emotional support. However, it is important to note that relying solely on ChatGPT as the primary outlet for sharing problems can have negative consequences, such as social isolation and emotional dependency on technology.
PENGGUNAAN WHATSAPP MAHASISWA MAGISTER ILMU KOMUNIKASI USU DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN DOSEN DITINJAU DARI PERSPEKTIF ETIKA KOMUNIKASI Pohan, Syafruddin; Kamil, Ermila; Sundari, Fitri; Harmaini, Yulie Hanna
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.18188

Abstract

AbstrakWhatsApp adalah salah satu media sosial yang sangat digemari untuk berkomunikasi secara digital. Dengan fiturnya yang banyak dan lengkap saat ini WhatsApp menjadi kebutuhan banyak orang dari berbagai kalangan, baik untuk komunikasi sosial maupun komunikasi profesional. Komunikasi melalui WhatsApp kebanyakan dilakukan secara teks dan kerap kali menimbulkan kesalahpahaman penerima teks. Oleh karena itu, etika berkomunikasi juga dibutuhkan ketika berkomunikasi dengan menggunakan WhatsApp. Pengguna WhatsApp yang paling banyak saat ini adalah generasi Z. Generasi Z memiliki pola atau karakteristik komunikasi yang lebih santai dalam menyampaikan gagasannya dan juga tidak mau ditegur secara terang-terangan. Hal ini terkadang menimbulkan masalah ketika berkomunikasi dengan dosen. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk meneliti etika komunikasi dalam berWhatsApp dengan subjek mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergolong dalam generasi Z dimana mereka mempelajari mengenai etika komunikasi namun mereka memiliki sifat dasar untuk berkomunikasi secara santai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data secara wawancara dan kajian ilmiah lainnya. Pendekatan post-positivistik digunakan untuk melihat fenomena yang ada. Hasil dari penelitian ini merangkum tujuh etika dalam berkomunikasi via WhatsApp yaitu memberikan salam, memperkenalkan diri, menjelaskan maksud dan tujuan, memperhatikan waktu pengiriman pesan, mengikuti peraturan, tidak menyela dan mengucapkan salam penutup. AbstractWhatsApp is one of the most popular social media for digital communication. With its many and complete features, WhatsApp is now a necessity for many people from various circles, both for social communication and professional communication. Communication through WhatsApp is mostly done by text and often leads to misunderstanding of the recipient of the text. Therefore, communication ethics are also needed when communicating using WhatsApp. The most common user of WhatsApp today is generation Z. Generation Z has communication patterns or characteristics that are more relaxed in conveying their ideas and also do not want to be reprimanded openly. This sometimes causes problems when communicating with lecturers. So this study aims to examine communication ethics in WhatsApp with the subject of Communication Science students who belong to generation Z where they learn about communication ethics but they have a basic nature to communicate casually. This research uses qualitative methods by collecting data through interviews and other scientific studies. The post-positivistic approach is used to look at existing phenomena. The results of this study summarized seven ethics in communicating via WhatsApp, namely giving greetings, introducing yourself, explaining the purpose and purpose, paying attention to the time of sending messages, following the rules, not interrupting and saying closing greetings.
Manifestasi Misogini Terinternalisasi (Internalized Misogyny) Pada Tren Tiktok “Pick Me Girl” Indiarma, Verani
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.23668

Abstract

AbstrakFenomena "Pick Me Girl" yang berkembang di platform TikTok merepresentasikan manifestasi dari misogini terinternalisasi, di mana perempuan secara sadar atau tidak sadar merendahkan sesama perempuan demi mendapatkan validasi dari laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tren ini mengungkapkan aspek-aspek misogini yang terinternalisasi dan bagaimana generasi Z memahami serta mengalami fenomena tersebut dalam kehidupan nyata. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis video TikTok serta diskusi kelompok, penelitian ini menemukan bahwa tren "Pick Me Girl" memperkuat stereotip gender, melemahkan solidaritas perempuan, dan menciptakan persaingan tidak sehat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak misogini terinternalisasi dan mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif.AbstractThe Pick Me Girl phenomenon that has emerged on TikTok represents a manifestation of internalized misogyny, where women, consciously or unconsciously, undermine other women to gain validation from men. This study aims to analyze how this trend reveals aspects of internalized misogyny and how Generation Z perceives and experiences this phenomenon in real life. Using a qualitative approach with TikTok video analysis and focus group discussions, this research finds that the Pick Me Girl trend reinforces gender stereotypes, weakens female solidarity, and fosters unhealthy competition. The findings of this study are expected to raise awareness about the impact of internalized misogyny and promote more inclusive social change.  
Penggunaan AI sebagai Atribut Kampanye dalam Pengambilan Keputusan Mahasiswa Memilih Capres dan Cawapres Afrilia, Cicilia Afrilia; Geraldine, Siona
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.19854

Abstract

Pemilu 2024 telah selesai diselenggarakan pada tanggal 14 Februari 2024. Pemilu adalah sarana mewujudkan partisipasi politik dalam bentuk pesta demokrasi yang dilaksanakan secara luber dan jurdil. Sebelum pemilu berlangsung tiap paslon melakukan kampanye. Kampanye adalah cara atau upaya yang dilakukan para paslon untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih paslon pada saat pemilu berlangsung. Saat ini kampanye dilakukan dengan memanfaatkan teknologi AI. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang dapat menirukan gaya manusia dan memiliki cara berpikir layaknya seperti manusia. Salah satu paslon memanfaatkan AI untuk berkampanye dengan tujuan menarik perhatian masyarakat dalam memilih. Penggunaan AI tersebut berupa videotron billboard 3D, reklame AI berbentuk kartun serta website yang diluncurkan untuk foto bersama capres dan cawapres yaitu fotober2.ai. Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengetahui bahwa kampanye dengan memanfaatkan AI menjadi alasan mahasiswa memilih paslon sebagai presiden dan wakil presiden 2024-2028. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif adalah penelitian untuk memahami fenomena pada subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan yang dialami subjek penelitian melalui deskripsi dalam bentuk kata dan bahasa. Sampel dari penelitian ini yaitu mahasiswa yang sudah memiliki hak suara dengan jumlah empat (4) informan. Sumber data yang diperoleh adalah data sekunder dan data primer. Hasilnya menunjukan bahwa AI memang menarik dan dianggap sebagai atribut kampanye yang unik dan modern. Namun, AI tidak menjadi alasan bagi mahasiswa untuk mengambil keputusan memilih karena disamping itu mahasiswa tetap memperhatikan visi, misi serta program kerja kedepan yang akan dijalankan oleh capres dan cawapres berikutnya.Keywords: Atribut Kampanye, AI, Pengambilan Keputusan, Memilih
Makna Simbolik Tradisi Angpao Perayaan Imlek Pada Masyarakat Etnis Tionghoa di Kota Bengkulu Charoline, Novita; Hadiprashada, Dhanurseto; Firmansyah, Mas Agus
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.17542

Abstract

AbstrakAngpao merupakan hadiah berbentuk uang yang dibungkus dalam sebuah amplop merah. Tradisi angpao sangat melekat dan masih di lakukan dalam berbagai acara khususnya perayaan Imlek pada masyarakat etnis tionghoa. Namun kebanyakan dari kalangan masyarakat tidak mengetahui secara utuh makna yang terkandung didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik tradisi angpao perayaan imlek pada masyarakat etnis tionghoa di Kota Bengkulu. Teknik pengumpulan data melalui, wawancara secara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian berjumlah lima orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang berasal dari wawancara terhadap tokoh dan masyarakat etnis tionghoa serta masyarakat non etnis tionghoa yang ikut merayakan tradisi angpao di Kota Bengkulu. Sedangkan data sekunder didapat melalui jurnal penelitian, penelitian terdahulu, buku atau dokumen. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pemaknaan simbol tradisi angpao menggunakan konsep objek interaksi simbolik oleh blumer yaitu objek fisik, objek sosial dan objek abstrak. Pemaknaan atau objek abstrak dari angpao berupa simbol berbagi rejeki, simbol bentuk saling menghormati dan simbol berbagi kebahagiaan. Terdapat ketentuan orang yang memberikan angpao yaitu orang tua dan orang yang sudah menikah memberi angpao kepada orang tua dan anak-anak yang belum menikah. Berdasarkan interaksi simbolik Blumer, manusia dapat memiliki pemaknaan yang berbeda-beda terhadap suatu objek yang sama. AbstractAngpao is a gift in the form of money wrapped in a red envelope. The Angpao (money envelope) tradition is very attached and is still carried out at various events, especially Chinese New Year celebrations in ethnic Chinese communities. However, most people do not know the whole meaning contained therein. This research aims to determine the symbolic meaning of the Angpao tradition for Chinese New Year celebrations in the Chinese ethnic community in Bengkulu City. Data collection techniques included in-depth interviews, direct observation, and documentation. Five informants in the research were obtained using purposive sampling techniques. The data source used was primary data originating from interviews with ethnic Chinese figures and communities as well as non-ethnic Chinese communities who participate in celebrating the Angpao tradition in Bengkulu City. Meanwhile, secondary data was obtained through research journals, previous research, books, or documents. The results of this research explained that the meaning of the Angpao tradition symbol uses Blumer's concept of symbolic interaction objects, namely physical objects, social objects, and abstract objects. The meaning or abstract object of Angpao is a symbol of sharing good fortune, mutual respect, and sharing happiness. There are provisions for people giving Angpao, namely parents and married people giving Angpao to parents and unmarried children. Based on Blumer's symbolic interaction, humans can have different meanings for the same object.
Pengaruh Promosi Penjualan 'Free Photo Card Korean Idol Group' Terhadap Perilaku Membeli Pada Produk E-Commerce Tokopedia Larasati, Maulida; Elita, Rd Funny Mustikasari; Wirakusumah, Teddy Kurnia
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.22532

Abstract

AbstrakPromosi merupakan salah satu kegiatan penjualan dan pemasaran untuk memberikan informasi dan mendorong permintaan produk ataupun jasa dengan membuat ide yang memengaruhi konsumen dan setiap e-commerce memiliki strategi promosi masing-masing, dan semakin banyak promo yang diberikan tentu membuat konsumen makin menyadari kehadiran suatu produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adanya PC Korean Idol Gratis pada setiap pembelian di e-commerce Tokopedia. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif, dengan mengambil responden melalui teknik accidental sampling dengan jumlah 100 orang yang berada di daerah Jakarta dan menggunakan e-commerce dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Sumber data utama mengumpulkan informasi melalui penggunaan kuesioner yang didasarkan pada skala Likert dan menggunakan SPSS 26 untuk melakukan uji data. Hasil dari temuan peneliti yaitu bawa free photocard Korean Idol Group tidak menjadi salah satu strategi yang diminati. Banyak konsumen yang melakukan pembelian di Tokopedia karena produk serta promo lain yang ditawarkan pada platform tersebut. AbstractPromotion is one of the sales and marketing activities to provide information and encourage demand for products or services by creating ideas that influence consumers and each e-commerce has its own promotional strategy, and the more promotions given of course make consumers more aware of the presence of a product. This research aims to analyze the influence of the Free Korean Idol PC on every purchase on Tokopedia e-commerce. This type of research is descriptive quantitative, taking respondents using an accidental sampling technique with a total of 100 people who are in the Jakarta area and have used e-commerce in the last 3 months. The main data source collects information through the use of a questionnaire based on a Likert scale and using SPSS 26 to test the data. The findings of the researcher indicate that free photocards of Korean idol groups are not a preferred strategy. Many consumers make purchases on Tokopedia due to the products and other promotions offered on the platform.
Komodifikasi Boneka Labubu dalam Penampilan Lisa Blackpink pada Akun Instagram @lalalalisa_m Pohan, Syafruddin; Batubara, Siti Aisyah; Rambe, Patimah
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v8i2.22460

Abstract

AbstrakStudi ini mengkaji komodifikasi boneka Labubu yang dipopulerkan oleh Lisa Blackpink dalam konteks filsafat kritis. Fenomena ini mencerminkan bagaimana industri budaya mengeksploitasi produk untuk menciptakan kebutuhan palsu di masyarakat. Tujuannya adalah menganalisis proses komodifikasi tersebut serta implikasinya terhadap kondisi sosial-ekonomi kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi observasi langsung terhadap konten Instagram @lalalalisa_m. Kerangka teoritis yang digunakan adalah ekonomi politik media kritis dari perspektif Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Vincent Mosco. Hasil analisis menunjukkan bahwa melalui popularitas Lisa Blackpink sebagai influencer, boneka Labubu mengalami pergeseran nilai dari sekadar mainan menjadi simbol status dan gaya hidup modern yang dikomodifikasi secara masif. Proses ini mencerminkan fenomena industri budaya pop yang memanipulasi nilai guna menjadi nilai tukar, serta menciptakan kebutuhan artifisial di kalangan konsumen. Temuan ini mengungkapkan bagaimana kekuatan kapital dan media bersinergi untuk mempertahankan struktur kekuasaan kapitalis melalui budaya populer. Studi ini memberikan pemahaman kritis tentang interaksi antara individu, budaya, dan ekonomi dalam era digital, serta implikasi sosial dari komodifikasi produk budaya.AbstractThis study examines the commodification of the Labubu doll popularized by Lisa Blackpink through a critical philosophy lens. The phenomenon reflects how the culture industry exploits products to create false needs in society. The aim is to analyze this commodification process and its implications for contemporary socio-economic conditions. The research employs a qualitative approach with direct observation methodology on the @lalalalisa_m Instagram content. The theoretical framework used is the critical political economy of media from the perspectives of Theodor Adorno, Max Horkheimer, and Vincent Mosco. The analysis reveals that through Lisa Blackpink's influence as an influencer, the Labubu doll underwent a value shift from a mere toy to a commodified symbol of modern status and lifestyle. This process exemplifies how the pop culture industry manipulates use value into exchange value, creating artificial needs among consumers. The findings unveil how capital and media forces synergize to maintain capitalist power structures through popular culture. The study provides critical insights into the interplay between individuals, culture, and economy in the digital era, as well as the social implications of cultural product commodification.

Page 11 of 13 | Total Record : 123