cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 713 Documents
Media dan Keberagaman: Analisis Pemberitaan Media Daring Seputar Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta Junaidi, Ahmad
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.373

Abstract

Media massa berfungsi sebagai alat penyampai informasi, edukasi, hiburan dan mobilisasi. Media massa juga sebagai alat penyampai pesan, ide-ide dan gagasan, seperti gagasan keberagaman. Indonesia semenjak kelahirannya didasarkan atas dasar keberagaman dari banyak aspek, misalnya suku dan agama. Media massa di Indonesia mengalami pasang surut sejak jaman kemerdekaan, demokrasi orde lama, orde baru dan sekarang memasuki era orde reformasi. Kebebasan mulai dirasakan oleh media massa, ketika dimulaiinya era reformasi. Banyak media-media baru tumbuh di era reformasi, termasuk diantaranya media daring (media online). Selain jumlah media massa, era reformasi ini ditandai dengan kebebasan pers, termasuk didalamnya kebebasan mengespresikan gagasan dan mengritik tajam lawan yang menentang gagasan. Kebebasan pers yang dinikmati media sekarang ini banyak dilaporkan telah melewati batas, terutama melanggar kode etik jurnalistik.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis wacana dengan mengambil obyek berita-berita seputar pemilihan kepala daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.Penelitian ini ingin melihat pelanggaran kode etik yang dilakukan media daring dalam meliput Pilkada Jakarta dikaitkan isu keberagaman, khususnya isu agama.Penulis menemukan sejumlah pelanggaran kode etik jurnalistik dalam berita-berita seputar Pilkada Jakarta, terutama terkait penggunaan isu agama.Kata kunci: media massa, agama, pilkada, etik.
PENERAPAN ART THERAPY DALAM MENGATASI LONELINESS WANITA DEWASA AWAL SEBAGAI ANAK TUNGGAL DENGAN ORANGTUA BERCERAI Damanik, Karunia Putri; Satiadarma, Monty P.; Suryadi, Denrich
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.914

Abstract

This study aims to see the role of art therapy in coping loneliness in early adulthood women as only children with divorced parents. The loneliness of an only child with a divorced parent is different from that of a child having relatives who support each other after a parent's divorce. This makes it easier for single children to feel lonely and alone. Therefore, the intervention used in this research is art therapy because it is expected to help an only child to be able to help express feelings and copeloneliness. Psychological examination was performed on two subjects of early adult women (aged 22 to 28 years) as single children with divorced parents. This study took place in the span of five months, beginning in February 2017 until June 2017. The results of this study quantitatively showed significant changes seen from the decrease in loneliness rate by using the UCLA Loneliness Scale questionnaire p(0.021<0.05), while qualitatively less indicate a significant change.Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran art therapy dalam mengatasi loneliness pada wanita dewasa awal sebagai anak tunggal dengan orangtua bercerai. Kesendirian anak tunggal dengan orangtua bercerai berbeda dengan anak memiliki saudara yang saling mendukung satu sama lain pasca perceraian orangtua. Hal tersebut menyebabkan anak tunggal lebih mudah merasa kesepian dan sendirian. Oleh karena itu, intervensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah art therapy karena diharapkan dapat membantu anak tunggal untuk dapat membantu mengungkapkan perasaan dan mengatasi loneliness. Pemeriksaan psikologis dilakukan terhadap dua orang subyek wanita dewasa awal (berusia 22 hingga 28 tahun) sebagai anak tunggal dengan orangtuanya bercerai. Penelitian ini berlangsung dalam rentang waktu lima bulan, dimulai pada Februari 2017 sampai dengan Juni 2017. Hasil penelitian ini secara kuantitatif menunjukkan perubahan yang signifikan terlihat dari penurunan angka loneliness dengan menggunakan kuesioner UCLA Loneliness Scale yaitu p(0.021<0.05), sedangkan secara kualitatif kurang menunjukkan adanya perubahan yang bermakna. 
ART THERAPY SEBAGAI BENTUK DARI ACTIVITY THERAPY BAGI PENDERITA HIV YANG MENGALAMI KECEMASAN Jaman, Elisa Christina; Suryadi, Denrich; Wati, Linda
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1612

Abstract

Penderita HIV/AIDS mengalami krisis kejiwaan pada dirinya, pada keluarganya, pada orang yang dicintainya dan pada masyarakat. Krisis kejiwaan tersebut adalah dalam bentuk kepanikan, ketakutan, kecemasan, serba ketidakpastian, keputusasaan, dan stigma. Penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami secara terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan perasaan negatif seseorang terhadap suatu penyakit. Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan art therapy dapat mengurangi tingkat kecemasan pada warga binaan yang positif mengidap HIV. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuasi-eksperimental. Pengambilan sampel dilakukan pada Lembaga Permasyarakatan X yang melibatkan lima orang warga binaan laki-laki yang positif mengidap HIV dan sedang dalam keadaan cemas. Untuk mengukur tingkat kecemasan alat ukur yang digunakan adalah General Anxiety Disorder 7 (GAD7). Metode intervensi yang digunakan adalah art therapy yang ditemukan dapat menurunkan kecemasan. Setelah sesi intervensi dilakukan, ditemukan adanya penurunan tingkat kecemasan pada kelima partisipan. Hal tersebut terlihat dari perbandingan skor antara skor pre-test dan post-test para partisipan.
Mekanisme Pengembalian Kerugian Negara oleh Terpidana yang Meninggal Dunia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 Erwin Ubwarin; Yonna Beatrix Salamor
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.334

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 mengahapuskan kata“dapat” pada rumusan Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 3, dari rumusan delik formil menjadi delik materiil, pembuktian kerugian negara yang awalnya potential loss berubah ke actual loss, dari berpontensi ke kerugian nyata. Kerugian Negara yang telah dibuktikan harus dikembalikan tidak bisa dilakukan oleh jaksa sebagai eksekutor untuk terpidana yang meninggal dunia.Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan mekanisme pengembalian kerugian Negara bagi terpidana meninggal dunia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukan  dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi, tidak mengatur tentang mekaniseme pengembalian kerugian Negara untuk terpidana yang meninggal dunia karena bertentangan dengan Pasal 83 KUHP, seharusnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi, dapat mengejar kerugian Negara karena Putusan Mahkamah Kostitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah merubah rumusan kerugian Negara dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi menjadi actual loss, jika dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi Pasal 13 ayat 1 dengan meninggalnya terpidana hak melaksanakan perempasan tidak lenyap. kesimpulannya Pasal 103 KUHP dan asas Lex specialis derogat legi generali membuka peluang untuk penyimpangan Pasal 83 KUHP, memasukan mekanisme pengembalian kerugian Negara bagi terpidana dengan merevisiUndang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi.Kata kunci: Mekanisme, Kerugian Negara, Tindak Pidana Korupsi
PERAN PERSEPSI DUKUNGAN ATASAN TERHADAP KINERJA INDIVIDUAL KARYAWAN DENGAN SELF-EFFICACY SEBAGAI MEDIATOR Mutia Kusuma Dewi; Rostiana Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1625

Abstract

Sumber utama untuk mendukung daya saing dan kinerja organisasi ditentukan oleh kinerja individual yang tinggi. Dengan tingginya kinerja individual, maka dapat dipastikan kinerja tim dan organisasi juga meningkat, dengan demikian produktivitas dan kemampuan bersaing perusahaan pun meningkat, dan secara tidak langsung dapat meningkatkan pergerakan pada sektor ekonomi kearah yang positif. Oleh karena itu, tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk dapat menelaah lebih dalam keterkaitan variabel kinerja individual karyawan dengan persepsi dukungan atasan dalam sebuah model mediasi dimana self-efficacy sebagai mediator. Data dikumpulkan dari 130 karyawan millennials di sebuah perusahaan Konsultan di Jakarta. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ), Supervisor Support Scale, Occupational SelfEfficacy. Pengolahan data dengan menggunakan regresi linier telah membuktikan bahwa hubungan persepsi dukungan atasan memiliki tingkat keterkaitan yang rendah dan signifikan dengan kinerja individual karyawan. Namun dalam analisis mediasional, self-efficacy mampu meningkatkan keterkaitan antara kedua variabel tersebut, sehingga disimpulkan bahwa self-efficacy merupakan mediator penuh (full mediator). Dengan demikian, secara keseluruhan temuan ini dengan jelas membuktikan bahwa persepsi dukungan atasan karyawan mampu meningkatkan kinerja individual karyawan millenials dengan adanya mediasi dari self-efficacy.
PERBANDINGAN MANAJEMEN KINERJA KARYAWAN DIFABEL PADA USAHA KECIL MENENGAH X DAN USAHA KECIL MENENGAH Y Agnes Thedora; Rostiana Rostiana; Daniel Lie
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.909

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah permasalahan yang dihadapi oleh UKM X dan UKM Y yang mempekerjakan karyawan difabel. UKM X memiliki tingkat turnover  yang tinggi dan tingkat produktivitas yang rendah. Sebaliknya UKM Y memiliki tingkat turnover yang rendah dan tingkat produktivitas yang tinggi. Diasumsikan kedua UKM memiliki masalah pada praktik manajemen kinerja selama tiga tahun terakhir. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana praktik manajemen performa dijalankan di UKM yang mempekerjakan difabel. Subjek dari penelitian ini adalah dua UKM yang mempekerjakan difabel. Pengambilan data menggunakan metode penelitian kualitatif, yakni dengan menggunakan teknik wawancara mendalam pada subjek penelitian. Manajemen performa didefinisikan sebagai proses sistematis untuk meningkatkan kinerja organisasi dengan mengembangkan kinerja individual dan tim. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa UKM Y yang menjalankan manajemen kinerja sesuai dengan kaidah International Labour Organization (ILO) dan konsep Armstrong & Baron dengan memperhatikan aspek-aspek seperti manajemen rekrutmen, orientasi, kinerja, dan penyesuaian kesetaraan dalam mengelola difabel memiliki tingkat turnover yang rendah dan tingkat produktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan UKM X yang belum sepenuhnya menjalankan manajemen kinerja sesuai dengan kaidah ILO dan konsep Armstrong & Baron. Kata kunci: Manajemen Performa, Karyawan Difabel.
Wisata Kuliner di Sentra Primer Barat Jakarta Putri, Cindy; Kurnia, Andi Surya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.360

Abstract

Kawasan Sentra Primer Barat yang sedang berkembang pesat memiliki suatu fenomena keseharian masyarakat yaitu pasar kaget yang dikenal dengan pasar kaget CNI, karena lokasinya yang berada di depan kantor perusahaan multilevel marketing (MLM) CNI. Pedagang kaki lima (PKL) yang terakumulasi di pasar kaget seringkali dianggap membebani kota, padahal memiliki manfaat sosial-ekonomi. Secara ekonomi, PKL menjadi katup pengaman krisis ekonomi dan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika dilihat dari segi sosial, PKL menjadi rekreasi masyarakat berpenghasilan rendah. Rekreasi diperlukan karena merupakan hak manusia terlepas dari pelaku dan caranya. Penelitian ini bertujuan untuk membuka pemikiran tentang sarana rekreasi sosial yang merangkul masyarakat berpenghasilan rendah tanpa mengabaikan konteks kawasannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian lapangan berupa metode survai dan deskriptif serta metode penelitian bukan lapangan yaitu metode penelitian kepustakaan. Kesimpulan hasil penelitian yaitu diperlukannya sarana rekreasi kuliner berbasis PKL didukung program aktivitas rekreasi anak-anak, pusat perbelanjaan dengan harga terjangkau, dan ruang publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah dan menjembatani kelas-kelas sosial di Sentra Primer Barat.Kata kunci: Arsitektur, Rekreasi, Sosial Humanisme, Wisata Kuliner.
KAJIAN TINGKAT KEBISINGAN PADA RUANG PAMERAN TETAP DI MUSEUM XY JAKARTA Cinthya, Anastasia
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i2.1909

Abstract

Masalah umum pada ruang pameran tetap di museum adalah sunyi saat pengunjung sepi dan gaduh saat pengunjung ramai. Suasana yang sangat sunyi akan membuat suasana mencekam dalam ruang pameran tetap. Sebaliknya, suasana gaduh akan membuat pengunjung tidak nyaman selama berada dalam ruang pameran tetap. Adapun ambang batas Kuat suara <20 dB dalam suatu ruangan termasuk sunyi, susana ruangan akan terasa mencekam. Namun bila kuat suara dalam suatu ruangan melebihi 85 dB, maka kondisi suara dalam ruangan tersebut termasuk bising. Kondisi ruangan yang sunyi dan kondisi ruangan yang bising, akan tidak nyaman secara audio untuk manusia beraktivitas didalam ruangan tersebut. Untuk mengetahui rata-rata kuat suara didalam ruang pameran tetap Museum Nasional Indonesia, penelitian ini menggunakan alat ukur yang Sound Level Meter, sebagai alat utamanya. Dan menggunakan alat bantu penelitian berupa Laser Length Meter untuk mengukur jarak sumber suaranya. Hasil perekaman dan pengukuran dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan standar kenyamanan audio. Hasil penelitian ini untuk mendapatkan data akustik yang berkaitan dengan kualitas suara, material pembentuk ruang yang mempengaruhi akustik, serta data perlengkapan audio yang dimiliki oleh Museum XY. Pada penelitian ini juga diperlukan data tingkat kepadatan pengunjung pada Ruang Pameran Tetap yang berpotensi besar terhadap tingkat kebisingan. Dengan mengetahui kondisi tersebut maka dapat dijadikan acuan nantinya dalam penataan ruang pameran tetap museum. A common issue in the permanent exhibition hall in the museum is how it is quiet when visitors are silent and noisy when visitors are loud. A very quiet atmosphere creates a tense atmosphere in the permanent exhibition hall. Conversely, a noisy atmosphere will make visitors feel uncomfortable while being in the permanent exhibition hall. The sound intensity of <20 dB in a room is deemed quiet, and the atmosphere of the room will feel tense. However, if the sound intensity in a room exceeds 85 dB, then the sound condition in the room is deemed noisy. Quiet and noisy room conditions are uncomfortable for the hearing of those doing activities in said room. To find out the average sound intensity in the permanent exhibition room of the National Museum of Indonesia, this study uses Sound Level Meter measuring instrument, as the main tool. Another research aid in the form of a Laser Length Meter is used to measure the distance of the source of the sound. The results of the recording and measurement are analyzed quantitatively using standard audio comfort. The aims of this study are to obtain acoustic data related to sound quality, acoustic-affecting materials used for the construction of the room, and data of audio equipment owned by the XY Museum. In this study, it is also necessary to obtain data on the density of visitors in the Permanent Exhibition Room which largely contributes to noise level. By knowing these conditions, it can be used as a reference in arranging the permanent exhibition room of the museum.Keywords: Threshold value, Noise level, Museum
Daftar Isi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1 No 2 DPPM UNTAR
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daftar Isi Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan SeniVolume 1 No 2Oktober 2017
GAMBARAN POLA SIBLING RELATIONSHIP PADA ADIK USIA REMAJA DENGAN KAKAK USIA DEWASA AWAL Veronica Lestari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.549

Abstract

Sibling relationship is a relationship between siblings in one family. It is known that sibling relationship influence each sibling, especially younger sibling. Sibling with age gap can make sibling relationship less close because each sibling is at different stages of development. Furman and Buhrmester (1985) said that sibling relationship quality can be showed by four sibling relationship pattern, which are warmth, relative power, conflict, and sibling rivalry. This research aims to describe sibling relationship on adolescence who has young adult older sibling. This research is using qualitative method and purposive sampling to involve five adolescence who has young adult older sibling. The result shows that the five subjects have warmth sibling relationship pattern. Fours subjects have relative power sibling relationship pattern with some of their siblings. Two subjects have conflict sibling relationship pattern with some of their siblings. Moreover, there’s no subjects who shows sibling rivalry with their siblings.Keywords: Sibling Relationship, Age Gap, Adolescence Young Sibling

Page 4 of 72 | Total Record : 713


Filter by Year

2017 2025