cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmstkik@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 25796402     EISSN : 25796410     DOI : -
Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Setiap artikel yang dimuat telah melalui proses review. Jurnal Muara diterbitkan dalam rangka mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di tingkat Nasional. Jurnal Muara ini juga dapat menjadi wadah publikasi bagi para mahasiswa (S1, S2 maupun S3) dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Jurnal ini dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Tarumanagara (DPPM - UNTAR).
Arjuna Subject : -
Articles 431 Documents
STUDI KOMPARATIF FAKTOR KESUKSESAN DALAM MERANCANG ARSITEKTUR BANGUNAN UNTUK MENINGKATKAN KEBERHASILAN IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI Kosasih, Wibowo; Budiastuti, Dyah; Abbas, Bahtiar Saleh; Manurung, Adler Haymans
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5918

Abstract

Industry 4.0 Era leads Information Technology to become a Strategic asset for companies to develop innovative and dynamic business models. Until recently the success rate of IT implementation is still relatively low. This research is a comparative study by comparing best practices and success factors in building construction industry with IT implementation. The construction industry was chosen as a comparison because this industry has a high level of reliability and successful implementation. The research method was conducted using the Comparative Research approach, through literature studies, depth interviews with subject matter expert. Then a Comparability Analysis is performed by comparing the best practices between construction operations and IT implementation. The information obtained is processed qualitatively to produce recommendations and design guidelines in designing IT solutions to improve success rate of IT implementation. The results of comparative analysis identify 7 factors that cause a good success rate in the construction industry. It also identified 5 challenges and 4 obstacles facing the IT industry, which hampered the success rate of implementation. This study compares the Architect-Contractor work patterns in the construction industry and Analyst-Developers in the IT industry. It further discusses the synergy and the relationship between AMO (Architecture Management Office) and PMO (Project Management Office) in the construction industry and IT industry. In conclusion, this study identified three characteristics of design guidelines for designing IT solutions, which is: Governance, Operation, and Growth. This explorative research can be continued by developing empiric research to develop design guidelines for designing IT solutions that uniqe in related industries. AbstrakEra Industri 4.0 membawa Teknologi Informasi menjadi aset strategis bagi perusahaan dalam mengembangkan model bisnis inovatif dan dinamis. Namun sampai saat ini tingkat keberhasilan implementasi TI masih relatif rendah. Penelitian ini melakukan studi komparatif dengan membandingkan best practice dan faktor kesuksesan  industri konstruksi dalam pembangunan gedung dengan implementasi TI. Dipilihnya industri arsitektur dan konstruksi bangunan sebagai pembanding, karena industri ini memiliki tingkat kemapanan dan tingkat keberhasilan implementasi yang cukup tinggi. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan Comparative Research, melalui studi literatur, wawancara (depth interview) dengan pelaku bisnis. Kemudian dilakukan Comparability Analysis dengan membandingkan best practice antara kegiatan operasional konstruksi dan implementasi TI. Informasi yang diperoleh diolah secara kualitatif untuk menghasilkan rekomendasi dan design guideline dalam mendesain solusi TI, agar tingkat keberhasilan implementasi TI lebih baik. Hasil analisa komparatif mengidentifikasikan 7 faktor penyebab tingkat keberhasilan yang baik pada industri konstruksi.  Selain itu juga diidentifikasi 5 tantangan dan 4 kendala yang dihadapi industri TI, yang menghambat tingkat keberhasilan implementasi. Penelitian ini membandingkan pola kerja Arsitek-Kontraktor di industri konstruksi dengan Analyst-Developer pada industri TI. Lebih lanjut membahas sinerji dan hubungan antara AMO (Architecture Management Office) dan PMO (Project Management Office) dalam industri konstruksi dan industri TI. Sebagai kesimpulan penelitian, diidentifikasi tiga karakteristik design guideline untuk mendesain solusi TI, yaitu: Governance, Operation dan Growth. Penelitian eksploratif ini dapat dilanjutkan lebih dalam secara empirik untuk pengembangan design guideline perancangan solusi TI dengan industri terkait.
PERBANDINGAN HASIL KUESIONER GERD-Q DAN GEJALA GERD PADA KELOMPOK YANG MENJALANKAN PUASA RAMADHAN DAN TIDAK Buntara, Ivan; Firmansyah, Yohanes; Hendsun, Hendsun; Su, Ernawati
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v4i2.7998

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a form of gastrointestinal motility disorder, where stomach contents reenter the esophagus and oral cavity, causing symptoms and complications. GERD is a condition that is quite often experienced, where the prevalence estimated at 8 - 33% worldwide. One of the suspected cause of  GERD is Ramadan fasting, which has been routinely carried out by Muslim groups. This study aims to prove whether Ramadan fasting triggers GERD. A cross-sectional study (survey) conducted online via Google form on the last three days of the fasting month (21 May 2020 - 23 May 2020). The variables in this study were respondents who fasted Ramadan and those who did not fast, also the total value of the GERD-Q questionnaire along with the final conclusions. Statistical analysis using Chi square with Yates Correction and Independent T-test with Mann Whitney Alternative Test. 311 respondents met the inclusion criteria. The results of Mann Whitney statistical test found that there was no difference in the mean value of the total GERD-Q questionnaire between the fasting and non-fasting groups (p-value: 0.313). Pearson Chi Square with Yates Correction results found no significant relationship between fasting and incidence of GERD (p-value: 0.552), although clinically there was a possibility of fasting had a risk of 1,228 (95% CI: 0.772 -2,088) times to trigger GERD incident.as Conclusion, Ramadan fasting has not been shown to improve GERD symptoms. Further research needs to be done through longitudinal studies. Keywords: GERD; digestion; Ramadan fastingABSTRAKGastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu bentuk gangguan motilitas saluran cerna, dimana isi lambung masuk kembali ke dalam esofagus dan rongga mulut, sehingga menyebabkan gejala dan komplikasi. GERD merupakan kondisi yang cukup sering dialami, dimana prevalensinya diperkirakan mencapai 8 – 33% di seluruh dunia. Salah satu faktor yang diperkirakan sebagai penyebab GERD adalah puasa Ramadhan yang selama ini rutin dijalankan oleh kelompok Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah puasa Ramadhan mencetuskan kejadian GERD. Penelitian potong lintang (survei) yang dilaksanakan secara online melalui google form pada tiga hari terakhir bulan puasa Ramadhan 2020 (21 Mei 2020 – 23 Mei 2020). Variabel dalam penelitian ini adalah responden yang berpuasa Ramadhan maupun yang tidak berpuasa Ramadhan dan nilai total kuesioner GERD-Q beserta kesimpulan akhir dari kuesioner GERD-Q. Analisis statistik menggunakan uji statistik Chi square with Yates Correction dan Independent T-test dengan Uji Alternatif Mann Whitney. 311 responden memenuhi kriteria inklusi. Hasil uji statistik Mann Whitney tidak terdapat perbedaan rerata nilai total kuesioner GERD-Q antara kelompok yang berpuasa dan tidak berpuasa (p-value : 0,313). Hasil uji statistik Pearson Chi Square with Yates Correction didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara berpuasa dengan kejadian GERD (p-value : 0,552), walaupun secara klinis ditemukan adanya kemungkinan yang berpuasa lebih berisiko 1,228 (CI 95% : 0,772 -2,088) kali untuk mencetuskan kejadian GERD. Sebagai kesimpulan, Puasa Ramadhan tidak terbukti meningkatkan gejala-gejala GERD. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut melalui studi longitudinal untuk tindak lanjut hasil penelitian ini.
PREVALENSI OBESITAS SENTRAL BERDASARKAN LINGKAR PINGGANG PADA PENGEMUDI BUS ANTAR KOTA Frisca, Frisca; Karjadidjaja, Idawati; Santoso, Alexander Halim
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3911

Abstract

Central obesity has become a public health problem which is currently rapidly increasing throughout the world, including in developing countries like Indonesia. The World Health Organization states that central obesity is a major risk factor for various cardiometabolic diseases, such as diabetes and hypertension. Inter-city bus drivers are high-risk occupations of cardiometabolic disease, this is due to unhealthy lifestyles and work patterns such as high consumption of fatty foods, smoking habits, lack of physical activity, long driving times and irregular sleep patterns. This study aims to determine the prevalence of central obesity based on waist circumference in inter-city bus drivers. This research is a descriptive cross sectional study. Data obtained from measurements of body weight, height and waist circumference, as well as calculation of body mass index (BMI) on 176 subjects obtained through consecutive sampling method. Obesity is said if BMI ≥25 according to WHO criteria for Asia-Pacific and central obesity if waist circumference> 90 cm for men and> 80 cm for women. In this study all subjects were men with an average age of 42.45  10.50 years. Based on the calculation of BMI there are 54.3% of subjects obese. Through measurement of waist circumference there are 50.6% of subjects with central obesity. Providing education is very important so that subjects can make lifestyle changes for the better so as to prevent cardiometabolic disease in inter-city bus drivers. AbstrakObesitas sentral telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang saat ini sangat meningkat pesat di seluruh dunia, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. World Health Organization menyatakan bahwa obesitas sentral merupakan faktor risiko utama terjadinya berbagai penyakit kardiometabolik, seperti diabetes dan hipertensi. Pengemudi bus antar kota merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi terkena penyakit kardiometabolik tersebut, hal ini disebabkan karena gaya hidup dan pola kerja yang tidak sehat seperti tingginya konsumsi makanan berlemak, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, durasi menyetir yang lama dan pola tidur yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui prevalensi obesitas sentral berdasarkan lingkar pinggang pada pengemudi bus antar kota. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Data diperoleh dari pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar pinggang, serta  perhitungan indeks massa tubuh (IMT) pada 176 subjek yang diperoleh melalui metode consecutive sampling. Dikatakan Obesitas jika  IMT ≥25 menurut kriteria WHO untuk Asia-Pasifik dan obesitas sentral jika lingkar pinggang >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan. Pada penelitian ini semua subjek adalah laki-laki dengan usia rata-rata 42.45 ± 10.50 tahun. Berdasarkan perhitungan IMT terdapat 54.3% subjek mengalami obesitas. Melalui pengukuran lingkar pinggang terdapat 50.6% subjek dengan obesitas sentral. Pemberian edukasi sangat penting agar subjek dapat melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih baik sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit kardiometabolik pada pengemudi bus antar kota.
BUSINESS INTELLIGENCE FRAMEWORK FOR PERFORMANCE MEASUREMENT IN HIGHER EDUCATION STUDY PROGRAMS Trisnawarman, Dedi; Imam, Muhammad Choirul
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v4i2.8877

Abstract

Business Intelligence (BI) is an online application and realtime, needed by large and modern organizations to increase competitive advantage in the global competitive environment. Higher Education (HE) is a current organization that houses excellent resources, with the number of students reaching up to tens of thousands, thus requiring an application that can be used as a tool to achieve the organization's business goals. This study aims to build a BI model and framework aimed at developing decision-making applications for measuring the business performance of HE. The method used in this research is the BI development method which is derived from the software engineering development method and adapted to the Study Program Accreditation Instrument (IAPS) 4.0. The case study used is the Information Systems Study Program at Tarumanagara University. The BI development methods are: Business Case Assessment, Enterprise Infrastructure Evaluation, Project Planning, Project Requirements, Data Analysis, Prototyping, Meta Data Analysis, Database Design, ETL Design, Meta Data Design, ETL Development, Application Development, Data Mining, Meta Data Repository Development, Implementation, Release Evaluation. The results of this study are a development stage model and framework that can be used to build BI applications for study program performance measurement.ABSTRAK Business Intelligence (BI) adalah aplikasi daringdan terkini, dibutuhkan oleh organisasi besar dan modern untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dalam persaingan global. Perguruan tinggi adalah organisasi saat ini yang memiliki sumber daya yang sangat baik, dengan jumlah mahasiswa mencapai puluhan ribu, sehingga membutuhkan aplikasi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan bisnis organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model dan framework BI yang bertujuan untuk mengembangkan aplikasi pengambilan keputusan untuk mengukur kinerja bisnis PT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengembangan BI yang bersumber dari metode pengembangan rekayasa perangkat lunak dan disesuaikan dengan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 4.0. Studi kasus yang digunakan adalah Program Studi Sistem Informasi Universitas Tarumanagara. Metode pengembangan BI adalah: Business Case Assessment, Enterprise Infrastructure Evaluation, Project Planning, Project Requirements, Data Analysis, Prototyping, Metadata Analysis, Database Design, ETL Design, Metadata Design, ETL Development, Application Development, Data Mining, Metadata Pengembangan Repositori, Implementasi, Evaluasi Rilis. Hasil dari penelitian ini berupa model tahapan pengembangan dan kerangka kerja yang dapat digunakan untuk membangun aplikasi BI untuk pengukuran kinerja program studi. Kata Kunci: Kerangka kerja Business Intelligence; Pengukuran Performa; Perguruan Tinggi 
PENGARUH LATIHAN ISOMETRIK DAN ISOTONIK TERHADAP NYERI OTOT NON SPESIFIK PADA MAHASISWA DI MASA PANDEMI
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.9948

Abstract

During pandemic, learning process changed into online method which often cause musculoskeletal complaint. This research aimed to discover the effect of isometric and isotonic exercises to nonspecific muscle pain on college students who went through online learning process. This study used qualitative quasi experiment to observe changes after exercise. The subjects were 40 college students aged 20-22 years old. Visual Analog Scale was used to measure paim grade before and after exercise. Exercise contained of isometric and isotonic exercises on neck, shoulder and back muscles. This exercise conducted 3 times a week, within 4 weeks and the duration of exercise was 20 minutes each. After 4 weeks of exercise muscle pain changed from average scale of 4 to 1 (p=0,001) with CI 95%. Conclusion of this study is isometric and isotonic exercises has effect on nonspecific muscle pain. Keywords: isometric. Isotonic; Non Specific Muscle PainAbstrakPada masa pandemi proses pembelajaran dilakukan secara daring, sehingga menyebabkan keluhan muskuloskeletal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh latihan isometrik dan isotonik terhadap nyeri otot non spesifik pada mahasiswa yang menjalani kuliah daring. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen kuantitatif yaitu memberi perlakuan dan mengukur akibat perlakuan. Subyek penelitian terdiri dari 39 mahasiswa berusia 20-22 tahun. Digunakan visual analog scale (VAS) sebelum dan sesudah latihan untuk mengukur derajat nyeri subyek. Latihan terdiri dari latihan isometrik dan isotonik otot leher, bahu dan punggung sebanyak 3 kali seminggu selama 4 minggu dengan durasi 20 menit per latihan. Setelah latihan 4 minggu terdapat perubahan derajat nyeri dari rata-rata VAS 4 menjadi rata-rata 1 (nilai p=0,001) dengan CI 95%. Disimpulkan latihan isometrik dan isotonik mempunyai efek terhadap nyeri otot non spesifik. 
STUDI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FUNGSI HUNIAN DI KELURAHAN GLODOK
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.12164

Abstract

Glodok Village is one of the areas surrounded by commercial centers on Jl. Hayam Wuruk. The development of this commercial center took place in 1970 which was better known as the center of eloctronic trade. Many people are looking for their needs in the Glodok area, but as time goes by many malls or shopping centers are emerging that are more modern and trendy, as a result the economic shift from this region moves to the South Jakarta area, Sudirman CBD, Thamrin. If viewed from the utilization of urban space activities, then the conversion of land use functions on Jl, Hayam Wuruk is transforming physical condition.The contrast conditions occur in the internal part of Glodok Village, which is a residential area. Changes that occurred on Jl. Hayam Wuruk, as well as the emergence of many new shopping centers put pressure on existing housing to follow or adapt, and efforts to take economic benefits from the pressures of commercial development.Adaptation by creating business opportunities indirectly encourages residents to make the same adaptation. Thus giving rise to changes in occupancy function to be a more useful function by the owner. Changes that occur result in social problems and increase the economic value of the region. Using descriptive qualitative methodologies, this study investigates the elements that influence the transition from domestic to commercial use. The study's findings are presented as recommendations for a well- balanced domestic spatial design.Keywords: Transformation, Adaptation, Changes in Occupancy Function. AbstrakKelurahan Glodok merupakan salah satu area yang keberadaanya di kelilingi oleh pusat-pusat komersial di Jl. Hayam Wuruk. Perkembangan pusat komersial ini terjadi pada tahun 1970 dimana lebih dikenal sebagai pusat perdagangan eloktronik. Banyak masyarakat yang mencari kebutuhan mereka di kawasan Glodok ini namun seiring berjalannya waktu banyak bermunculan mall atau pusat perbelanjaan yang lebih modern dan tren, akibatnya pergerseran ekonomi dari kawasan ini berpindah ke daerah Jakarta Selatan yaitu CBD Sudirman, Thamrin. Apabila ditinjau dari aktivitas pemanfaatan ruang kota, maka alih fungsi guna lahan di Jl, Hayam Wuruk tersebut merupakan transformasi kondisi fisik. Adapun kondisi kontras terjadi pada bagian internal kelurahan Glodok yang merupakan kawasan hunian. Perubahan yang terjadi di Jl. Hayam Wuruk, serta muncul banyaknya pusat perbelanjaan baru ini memberikan tekanan kepada hunian yang ada untuk mengikuti atau beradaptasi, serta upaya mengambil manfaat ekonomi atas tekanan perkembangan komersial. Adanya adapatasi dengan menciptakan peluang usaha secara tidak langsung mendorong penduduk melakukan adaptasi yang sama. Sehingga menimbulkan adanya perubahan fungsi hunian menjadi fungsi yang lebih bermanfaat oleh si pemilik. Perubahan yang terjadi mengakibatkan masalah sosial dan meningkatkan nilai ekonomi kawasan tersebut. Studi ini mengkaji apa saja faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi hunian menjadi  komersial melalui metode kualitatif deskriptif.  Hasil studi ini  berupa hasil rekomendasi terhadap penataan ruang hunian yang seimbang.
PENGARUH DURASI TIDUR DENGAN KLASIFIKASI TEKANAN DARAH PADA USIA PRODUKTIF DI KOTA MEDAN
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.8976

Abstract

Hypertension is defines as elevated blood pressure in adult, where systolic above 140 mmHg and diastolic above 90 mmHg. Blood pressure classification can be divided into: optimal, normal, normal- high, hypertension grade 1, hypertension grade 2, and hypertension grade 3. Hypertension, especially primary hypertension can be caused by several factors, one of them is sleep duration. This study includes 352 subjects which are suitable to the inclusion criteria with cross sectional method in several factories and offices in Medan, August 2014. This study will be analyzed with Kruskal Wallis, followed by Post Hoc Mann Whitney. The result is short sleep duration (less than 6 hours) is associated with elevated hypertension incidence (p- value < 0,001), where there are significant differences in several groups such as, optimal with hypertension grade 1 (p- value = 0,001); optimal with hypertension grade  2 (p-value : 0,003); optimal with hypertension grade 3 (p-value : 0,027), normal with hypertension grade 1 (p-value : 0,002), normal with hypertension grade 2 (p-value : 0,003), normal with hypertension grade 3 (p-value : 0,003), normal- high with hypertension grade 1 (p-value : 0,028), normal- high with hypertension grade 2 (p-value : 0,012), and normal- high with hypertension grade 3 (p-value : 0,023). Conclusions of the study is there is an effect between sleep duration and hypertension incidence. Keywords: Hypertension; Sleep Duration; Productive Age AbstrakHipertensi merupakan peningkatan tekanan darah pada dewasa dimana sistolik lebih dari 140 mmHg dan diastolik lebih dari 90mmHg. Kejadian hipertensi terdapat pada dua per tiga negara berpenghasilan rendah, dan menengah. Klasifikasi tekanan darah dibagi menjadi optimal, normal, normal tinggi, hipertensi derajat 1, hipertensi derajat 2, hipertensi derajat 3. Hipertensi terutama hipertensi primer dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah durasi tidur. Penelitian ini meliputi 352 responden yang termasuk dalam kriteria inklusi dengan metode pengambilan data potong lintang di beberapa pabrik dan kantor di Kota Medan periode Agustus 2014. Analisis dilakukan dengan uji Kruskal Wallis, dilanjutkan dengan Post Hoc Mann Whitney. Hasilnya, durasi tidur yang pendek (kurang dari 6 jam) berhubungan dengan meningkatnya kejadian hipertensi (p- value  <0,001), dimana terdapat perbedaan signifikan antara kelompok optimal dengan hipertensi tingkat 1 (p-value : 0,001), optimal dengan hipertensi tingkat 2 (p-value : 0,003), optimal dengan hipertensi tingkat 3 (p-value : 0,027), normal dengan hipertensi tingkat 1 (p-value : 0,002), normal dengan hipertensi tingkat 2 (p-value : 0,003), normal dengan hipertensi tingkat 3 (p-value : 0,003), normal tinggi dengan hipertensi tingkat 1 (p-value : 0,028), normal tinggi dengan hipertensi tingkat 2 (p-value : 0,012), dan normal tinggi dengan hipertensi tingkat 3 (p-value : 0,023). Kesimpulan dari penelitian ini terdapat pengaruh antara durasi tidur dengan kejadian hipertensi.
PENGARUH DAUN ARA (FICUS AURICULATA) TERHADAP KADAR GLUTATION JANTUNG TIKUS YANG DIINDUKSI HIPOKSIA SISTEMIK KRONIK
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.10962

Abstract

Hypoxia can increase ROS and trigger oxidative stress that can affect the heart. The body has an antioxidants defense system to prevent oxidative stress, one of glutathione (GSH). Antioxidants can also come from secondary plant metabolites such as fig leaves (Ficus auriculata). However, there is still very little research on the effect of giving Ficus auriculata on GSH. The aim of this study was to examine the effect of antioxidant fig leaves on GSH rats that induced by chronic systemic hypoxia. This research was in vivo experimental, using Sprague Dawley rats which were divided into 8 groups (n=4), namely four groups were given fig leaf extract (14days) thick dose (300mg/KgBW) and four were given a dilute dose (150mg/KgBW). Extract of fig leaves using maceration method with ethanol. After being given fig leaf extract, the thick and dilute groups were further divided into normoxia, hypoxia (8%O2, 92%N2) 1, 3, and 7 days. At the end of the study, the experimental animals were anesthetized, and the heart are taken. Measurement of GSH levels using the Ellman method. The results showed a significant decrease (Mann-Whitney, p<0.05) levels of GSH in the heart of rats in the thick and dilute dose groups induced by hypoxia for 3 and 7 days when compared to controls. GSH levels were found to be higher in the thick dose group because its action in eliminating free radicals was assisted by antioxidants contained in fig leaf extract. It can be concluded that the administration of fig leaf extract can help GSH work in dealing with free radicals caused by hypoxia. Keywords: Fig leaves (Ficus auriculata); Glutathione (GSH); Hypoxia; Reactive Oxygen Species (ROS); Heart AbstrakHipoksia dapat meningkatkan ROS dan mencetuskan keadaan stres oksidatif yang dapat merusak organ, termasuk jantung. Tubuh memiliki sistem pertahanan antioksidan untuk mencegah stres oksidatif, salah satunya glutation (GSH). Antioksidan juga dapat berasal dari metabolit sekunder tumbuhan seperti daun ara (Ficus auriculata). Akan tetapi masih sangat kurang penelitian mengenai pengaruh pemberian antioksidan eksogen (ekstrak Ficus auriculata) terhadap antioksidan endogen (GSH) ini. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh antioksidan daun ara terhadapat GSH pada tikus yang diinduksi hipoksia sistemik kronik. Penelitian eksperimental in vivo terhadap hewan coba Sprague Dawley yang dibagi menjadi 8 kelompok (n=4), yaitu 4 kelompok yang diberi ekstrak daun ara (14 hari) dosis kental (300 mg/KgBB) dan 4 diberi dosis encer (150 mg/KgBB). Ekstrak daun ara dengan metode maserasi menggunakan etanol. Setelah diberikan ekstrak daun ara, keempat kelompok yang diberi dosis kental dan encer tersebut dibagi lagi menjadi kelompok normoksia, hipoksia (8%O2, 92%N2) 1, 3, dan 7 hari. Diakhir penelitian, hewan coba dianestesi dengan ketamin (75-100mg/kgBB) dan xylazin (5-10mg/kgBB), dan diambil organ jantungnya.  Pengukuran kadar GSH jantung dengan metode Ellman. Hasil penelitian menunjukan penurunan bermakna (Mann-whitney, p<0.05) kadar GSH jantung tikus pada kelompok dosis kental maupun encer yang diinduksi hipoksia 3 dan 7 hari bila dibandingkan kontrol. Kadar GSH didapatkan lebih tinggi pada kelompok dosis kental karena kerjanya dalam mengeliminasi radikal bebas dibantu oleh antioksidan yang terdapat dalam ekstrak daun ara. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun ara dapat membantu kerja GSH dalam menghadapi radikal bebas akibat hipoksia.
HUBUNGAN MOVEMENT BEHAVIOUR TERHADAP TINGKAT STRES PADA REMAJA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.13012

Abstract

In December 2019 in city of Wuhan, China there were many pneumonia patients, where this pneumonia is called COVID-19 which is caused by SARS-CoV-2. Children’s health depends on adequate physical activity, lack of sedentary activity, and adequate sleep which are included in movement behaviour. However, this movement behaviour has been difficult to achieve since the COVID-19 pandemic. These three components of movement behaviour play an important role in dealing with stress. The purpose of this research to determine the relationship between movement behaviour and stress levels in adolescents at Kharisma Bangsa High School, South Tangerang by using a cross-sectional study. This research was conducted on high school student grade 1-3 with 160 students, consisting of 54 male students and 106 female students. Retrieval of data using an online questionnaire. The results showed there were most male students only met 1 movement behaviour guideline (48.1%), while most female students did not meet movement behaviour guidelines (57.5%). The level of stress on the respondents, It was found that male students who experienced low stress levels were 24.1%, those who experienced moderate stress levels were 64.8%, and those who experienced high stress levels were 11.1%, while female students who experienced low stress levels were 4.7%, those who experienced moderate stress levels were 80.2%, and those who experienced high stress levels were 15.1%. Based on the statistical test, there was no correlation between movement behaviour and stress levels with correlation coefficient (r) of -0.102 and the p value of 0.099. Keywords: Adolescents; COVID-19; Movement behaviour; Stress level AbstrakPada Desember 2019 di kota Wuhan, Cina terdapat banyak pasien pneumonia, yang kemudian disebut COVID-19 dimana SARS-CoV-2 merupakan penyebabnya. Kesehatan anak-anak tergantung pada cukupnya aktivitas fisik, kurangnya kegiatan sedentari, dan tidur yang cukup, dimana ketiga hal ini termasuk ke dalam movement behavior. Akan tetapi, movement behavior sulit tercapai semenjak pandemi COVID-19. Ketiga komponen movement behaviour ini berperan penting dalam menurunkan stres. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan movement behaviour terhadap tingkat stres pada remaja di Sekolah Menengah Atas Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan menggunakan studi cross-sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa-siswi SMA kelas 1-3 sebanyak 160 responden yang terdiri dari 54 siswa dan 106 siswi. Pengambilan data menggunakan kuesioner online. Untuk menganalisis hasil data, digunakan uji pearson chi-square. Hasil penelitian yang didapatkan adalah siswa paling banyak hanya memenuhi 1 pedoman movement behaviour (48.1%), sedangkan siswi paling banyak tidak memenuhi pedoman movement behaviour (57.5%). Untuk tingkat stres pada responden, didapatkan siswa dengan tingkat stres rendah sebanyak 24.1%, dengan tingkat stres sedang sebanyak 64.8%, dan dengan tingkat stres tinggi sebanyak 11.1%, sedangkan siswi dengan tingkat stres rendah sebanyak 4.7%, dengan tingkat stres sedang sebanyak 80.2%, dan dengan tingkat stres tinggi sebanyak 15.1%. Berdasarkan uji statistik, tidak terdapat korelasi antara movement behaviour terhadap tingkat stres dengan koefisien korelasi (r) yaitu -0.102 dan nilai p yaitu 0.099.  
GAMBARAN ACTIVE LEARNING DAN CRITICAL THINKING DALAM IMPLEMENTASI PBL PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v6i1.11084

Abstract

Problem based learning (PBL) is a student - centered learning method that provides problem for students to discuss together. One of the benefits of PBL is to encourage students to be actively involved in the learning process and stimulates students to think critically. The purpose of this research is to describe active learning and critical thinking ability in medical students of Universitas Tarumanagara. This is a descriptive study with a cross-sectional design that involves 113 medical students. The data were obtained using a questionnaire of Self-Assessment Scale on Active Learning and Critical Thinking (SSACT). The results of this research shows a mean score of 31,05 (5,36) for active learning and 45,17 (5,23) for critical thinking. From the three classes of the academic stage (2017, 2018, 2019), the highest mean scores of active learning and critical thinking were seen in students of class 2019, while the lowest were seen in class 2017. Students of class 2019 got a mean score of 33,00 (5,11) for active learning and 47,26 (5,04) for critical thinking. Meanwhile, students of class 2017 got a mean score of 29,14 (5,19) for active learning and 43,49 (5,03) for critical thinking.Keywords: active learning; critical thinking; problem based learning AbstrakProblem based learning (PBL) adalah metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa dengan menyajikan sebuah masalah untuk didiskusikan bersama. Salah satu manfaat PBL yaitu mendorong mahasiswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran (active learning) dan menstimulasi berpikir kritis (critical thinking). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kemampuan active learning dan critical thinking pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara tahap akademik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional dan melibatkan 113 mahasiswa. Data diambil dengan menggunakan kuesioner Self-Assessment Scale on Active Learning and Critical Thinking (SSACT). Hasil penelitian menunjukkan rerata skor active learning sebesar 31,05 (5,36) dan critical thinking sebesar 45,17 (5,23). Dari tiga angkatan mahasiswa pada tahap akademik (2017, 2018, 2019), rerata skor active learning maupun critical thinking tertinggi tampak pada mahasiswa angaktan 2019, sedangkan yang terendah yaitu angkatan 2017. Mahasiswa angkatan 2019 memiliki rerata skor active learning sebesar 33,00 (5,11) dan critical thinking 47,26 (5,04). Sedangkan mahasiswa angkatan 2017 memiliki rerata skor active learning sebesar 29,14 (5,19) dan critical thinking 43,49 (5,03).

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (IN PRESS) Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1 (2022): APRIL 2022 Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan More Issue