cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmstkik@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 25796402     EISSN : 25796410     DOI : -
Jurnal ini memuat artikel ilmiah dalam bidang Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Setiap artikel yang dimuat telah melalui proses review. Jurnal Muara diterbitkan dalam rangka mendukung upaya pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah di tingkat Nasional. Jurnal Muara ini juga dapat menjadi wadah publikasi bagi para mahasiswa (S1, S2 maupun S3) dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Jurnal ini dikelola oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Tarumanagara (DPPM - UNTAR).
Arjuna Subject : -
Articles 373 Documents
INSTITUSI SOSIAL: PERANNYA DALAM KEBERLANGSUNGAN RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK DI JAKARTA Mei Ling, Loa
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3367

Abstract

The existence of public space has become an inseparable part in the development of city residents. Humans as social creatures need a place where they can gather and interact with each other. Especially in big cities, such as Jakarta, the density that occurs makes the lack of land that can be used as public space. This certainly creates difficulties for the community to find qualified social institutions to meet their needs. It is the Child Friendly Integrated Public Space (RPTRA), an alternative run by the government to get around the function of parks and abandoned areas in Jakarta. The revival of public spaces in the midst of the community is expected to be able to accommodate the needs of citizens while at the same time strengthening community relations between city residents. The thesis used as a reference for evaluation took two locations, namely the Alfa Dahlia RPTRA located in the Tegal Alur area, West Jakarta and the RPTRA Kelapa Nias III in the Kelapa Gading area, North Jakarta. Armed with the basis of this thesis research, it will be understood further how social institutions take part in the success of the RPTRA, as well as exploring the depth of the process of institutionalizing the relationship between each supporting community and the RPTRA. This research was conducted using a qualitative approach. Data is collected and reviewed through field observations, interviews, and documentation. The findings of the study explain that the institutional process plays an important role in the sustainability of the RPTRA in the future. AbstrakKeberadaan ruang publik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan warga kota. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan tempat dimana mereka dapat berkumpul dan berinteraksi satu sama lain. Khususnya di kota besar, seperti Jakarta, kepadatan yang terjadi membuat kurangnya lahan yang dapat digunakan sebagai ruang publik. Hal ini tentu menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat untuk menemukan wadah sosial yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhannya. Ialah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), sebuah alternatif yang dijalankan oleh pemerintah utk menyiasati fungsi taman maupun area yang terbengkalai di Jakarta. Dihidupkannya kembali ruang-ruang publik di tengah masyarakat diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan warga sekaligus menguatkan hubungan kemasyarakatan antar warga kota. Tesis yang digunakan sebagai acuan evaluasi mengambil dua lokasi, yaitu RPTRA Alur Dahlia yang berada di area Tegal Alur, Jakarta Barat dan RPTRA Kelapa Nias III yang berada di area Kelapa Gading, Jakarta Utara. Berbekal dasar penelitian tesis ini, akan dipahami lebih lanjut bagaimana institusi sosial mengambil peranan dalam keberhasilan RPTRA, serta mengekplorasi kedalaman proses pelembagaan hubungan antara masing-masing komunitas pendukung dan RPTRA. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dan dikaji melalui observasi lapangan, wawancara, serta dokumentasi. Hasil temuan penelitian menjelaskan bahwa proses institusional memegang peranan penting dalam keberlangsungan RPTRA di masa depan.
FAKTOR RISIKO UMUR, GRAVIDA, STATUS GIZI DAN KEHAMILAN GANDA DENGAN KEJADIAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM (STUDI KASUS KONTROL DI RSUD ACEH TAMIANG) Purwanti, Mailinda; Brahmana, Netty Etalia; Hidayat, Wisnu
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5106

Abstract

Hyperemesis gravidarum is nausea, vomiting that occurs until 20 weeks' gestation, vomiting is so severe that everything that is eaten and drunk is vomited so that it affects general circumstances and daily work, weight loss, dehydration and acetone in the urine not due to diseases such as appendicitis, pielitis, and so on. This study aims to determine the risk factors for age, gravida, nutritional status and multiple pregnancy against the incidence of hyperemesis gravidarum (case control study in Aceh Tamiang District Hospital 2018). This research was conducted in January 2018-December 2018. The type of research used was analytic observational research with a case-control approach. The population in this study were all pregnant women with a diagnosis of hyperemesis gravidarum treated in the obstetric room of Aceh Tamiang Regional Hospital since January-December 2018 obtained from the hospital's medical record data of 94 people. The sample in this study was divided into two, namely 94 case samples and 94 control samples. Based on statistical tests, the results show that there is a relationship between age and hyperemesis gravidarum with ρ value = 0,000. Value of p = 0,000 which is smaller than a = 0.05, there is a relationship between gravida factor and the occurrence of hyperemesis gravidarum with ρ value = 0,000. Value p = 0,000 which is smaller than a = 0.05, there is a relationship between nutritional status factors and the incidence of hyperemesis gravidarum with ρ value = 0.001. P value = 0.001 which is smaller than a = 0.05 and there is no relationship between multiple pregnancy factors and hyperemesis gravidarum with a value of value = 0.274. Value of p = 0.274 which is greater than a = 0.05 in Aceh Tamiang District Hospital. The researcher suggests that this research can be information in providing maximum services in health facilities and sources of broadening insight for education.  AbstrakHiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, muntah begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi dan terdapat aseton dalam urin bukan karena penyakit seperti appendisitis, pielitis, dan sebagainya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko umur, gravida, status gizi dah kehamilan ganda terhadap kejadian hiperemesis gravidarum (studi kasus control di RSUD Aceh Tamiang Tahun 2018). Penelitian ini di laksanakan bulan Januari 2018-Desember 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasi analitik dengan pendekatan case-control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dengan diagnosa hiperemesis gravidarum yang di rawat di ruang kebidanan RSUD Aceh Tamiang sejak januari-desember 2018 yang diperoleh dari data rekam medik rumah sakit tersebut sebanyak 94 orang. Sampel dalam penelitian ini terbagi 2 yaitu sampel kasus sebanyak 94 orang dan sampel kontrol sebanyak 94 orang. Berdasarkan uji statistik diperoleh hasil ada hubungan faktor umur dengan kejadian hiperemesis gravidarum dengan nilai ρ value = 0,000. Nilai p= 0,000 yang lebih kecil dari a= 0,05, Ada hubungan faktor gravida dengan kejadian hiperemesis gravidarum dengan nilai ρ value = 0,000. Nilai p= 0,000 yang lebih kecil dari a= 0,05, Ada hubungan faktor status gizi dengan kejadian hiperemesis gravidarum dengan nilai ρ value = 0,001. Nilai p= 0,001 yang lebih kecil dari a= 0,05 dan Tidak ada hubungan faktor kehamilan ganda dengan hiperemesis gravidarum dengan nilaiρ value = 0,274. Nilai p= 0,274 yang lebih besar dari a= 0,05 Di RSUD Aceh Tamiang. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat menjadi informasi dalam pemberian pelayanan yang maksimal dalam fasilitas kesehatan dan sumber memperluas wawasan bagi pendidikan.
PENGARUH KONSELING DENGAN MEDIA LEMBAR BALIK DAN BROSUR TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG GAYA HIDUP PADA PASIEN DM TIPE 2 DI POLI RAWAT JALAN RSUD DELI SERDANG Barus, Rosmawati Helmi; Nababan, Donal; Tarigan, Frida Lina
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5425

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a dangerous disease known by the people of Indonesia by the name of diabetes. DM is a metabolic disorder that occurs chronic or chronic because the body does not have enough insulin due to interference with the secretion of insulin, insulin hormone that does not work properly or both. The purpose of this study was to determine the effect of counseling with flipcharts and brochures on lifestyle knowledge in Type 2 DM patients in the Outpatient Clinic of Deli Serdang Hospital in 2019. This study used a quasi experimental design using the two group posttest design. The population was all patients with Type 2 DM in the Outpatient Hospital Deli Serdang as much as 199 and the sample was obtained by 48 respondents with the provisions of 24 for the flip sheet media group and 24 for the brochure media group. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results were obtained: a) There was an influence of counseling with flipchart media (p = 0,000) and media brochures (p = 0,000) on lifestyle knowledge in patients with Type 2 diabetes. B) Media brochures more effectively influenced knowledge about lifestyle in patients with Type 2 diabetes (p = 0.002). From the results of the study it is expected that sufferers of type 2 DM can maintain a healthy lifestyle by doing the right diet to maintain body fitness and control blood sugar levels in the body so that the disease is not a complication and the hospital can counsel with patients with type 2 DM using media brochures and flipchart media as a manifestation of concern for patients and the community. AbstrakDiabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit berbahaya yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan nama penyakit kencing manis. DM adalah penyakit gangguan metabolik yang terjadi secara kronis atau menahun karena tubuh tidak mempunyai hormon insulin yang cukup akibat gangguan pada sekresi insulin, hormon insulin yang tidak bekerja sebagaimana mestinya atau keduanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konseling dengan media lembar balik dan brosur terhadap pengetahuan tentang gaya hidup pada pasien DM Tipe 2 di Poliklinik Rawat Jalan RSUD Deli Serdang Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental design dengan menggunakan rancangan two group posttest. Populasi adalah seluruh pasien dengan penyakit DM Tipe 2 yang terdapat di Poli Rawat Jalan RSUD Deli Serdang sebanyak 199 dan sampel diperoleh 48 responden dengan ketentuan 24 untuk kelompok media lembar balik dan 24 untuk kelompok media brosur. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh: a) Ada pengaruh konseling dengan media lembar balik (p = 0,000) dan media brosur (p=0,000) terhadap pengetahuan tentang gaya hidup pada pasien penderita DM Tipe 2. b) Media brosur lebih efektif berpengaruh terhadap pengetahuan tentang gaya hidup pada pasien penderita DM Tipe 2 (p = 0,002). Dari hasil penelitian diharapkan penderita DM tipe 2 dapat menjaga gaya hidup yang sehat dengan melakukan  diet  yang  benar  untuk  menjaga  kebugaran  tubuh  dan  mengontrol  kadar  gula  darah  dalam  tubuh sehingga penyakitnya tidak menjadi komplikasi serta pihak rumah sakit dapat melakukan konseling kepada penderita DM tipe 2 menggunakan media brosur dan media lembar balik sebagai perwujudan kepedulian kepada pasien dan masyarakat.
TABUNGAN PERUMAHAN RAKYAT (TAPERA) DAN PENERAPANNYA DI DKI JAKARTA Putra, Henriko Ganesha; Fahmi, Erwin; Taruc, Kemal
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5630

Abstract

Occupancy is a basic need of every human being. As mandated by the 1945 Constitution, the State guarantees the fulfillment of citizens' needs for decent and affordable dwellings in the framework of developing Indonesian people who are wholly, self-conscious, independent and productive. The Public Housing Savings (Tapera) in accordance with Law of the Republic of Indonesia number 4 of 2016, is a long-term fund storage program that is used for housing finance, especially for Low-Income Communities (MBR). BAPERTARUM-PNS is an important lesson on how the goals of the housing savings are not utilized as retirement savings by most participants. The problem with this study is whether Tapera can be a solution for MBR in reaching funding for housing or repeating the failure of the BAPERTARUM-PNS program. Data collection from the Central Government, BP Tapera, and the Provincial Government of DKI Jakarta will be analyzed in the form of modeling of potential national and regional participation in and utilization of Tapera in DKI Jakarta Province. The results of the modeling analysis indicate a gap between Tapera's policies and people's expectations of a housing finance affordability solution for the MBR. AbstrakHunian merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Sebagaimana amanat UUD 1945, Negara menjamin pemenuhan kebutuhan warga negara atas tempat tinggal yang layak dan terjangkau dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya, berjati diri, mandiri, dan produktif. Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) sesuai Undang-Undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 2016, merupakan program penyimpanan dana jangka panjang yang dimanfaatkan untuk pembiayaan perumahan, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). BAPERTARUM-PNS menjadi pelajaran penting bagaimana ketidakberhasilan tujuan dari tabungan perumahan yang dimanfaatkan sebagai tabungan pensiun oleh sebagian besar peserta. Permasalahan dari studi ini adalah apakah Tapera dapat menjadi solusi bagi MBR dalam menjangkau pembiayaan untuk memperoleh hunian atau mengulangi ketidakberhasilan program BAPERTARUM-PNS. Pengumpulan data dari Pemerintah Pusat, BP Tapera, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan dianalisis dalam bentuk Pemodelan potensi kepesertaan dan dana pemanfaatan Tapera secara nasional maupun regional di Provinsi DKI Jakarta. Hasil dari analisis pemodelan tersebut mengindikasikan adanya celah (gap) antara kebijakan Tapera dan harapan masyarakat akan hadirnya solusi keterjangkauan pembiayaan hunian bagi MBR. 
PENILAIAN KELAYAKAN OBJEK PUPIL DARI FRAME CITRA MATA PADA APLIKASI PEMERIKSA MYOPIA MENGGUNAKAN STANDAR DEVIASI Mulyana, Teady Matius Surya; Herlina, Herlina
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3448

Abstract

The process of determining vision in patients with myopia based on computer vision requires image frames containing pupil objects that are deemed to meet the requirements before entering the vision determination stage. Image frame requirements that are considered to meet the requirements are image frames that contain objects that are not too small or too large. The extraction of eye image frames in real-time results in eye image frames being captured by the camera when the eyes are blinking, so that they contain too small pupil objects. The process of determining the threshold value in binaryization of an eye image that is too large also results in pupillary objects blending with the shadows around the eye, resulting in objects that are too large. Small samples in eye image taking require treatment for statistical assessment with small samples. The small number of samples can be used to determine the feasibility of the image to enter the next process can be implemented using standard deviations. Standard deviation values can accommodate the need to limit the size range of pupil objects in the eye image that is considered feasible. The final result of this study is the implementation of the method of determining an image considered to have a pupil object of a size that is suitable for observation so that the interval is obtained according to the conditions of each set of eye images recorded by the camera during eye observation. The use of standard deviations in determining which images are considered feasible contributes to increasing the percentage of accuracy of eye vision assessment in the application of myopia vision determination in real time from 54% without standard deviation to 73% in the confidence value for an average one-time interval of 99% in the process of determining myopia vision . AbstrakProses penentuan visus pada penderita myopia berbasis  computer vision memerlukan frame-frame citra yang berisi objek pupil yang dianggap memenuhi persyaratan sebelum masuk ke tahap penentuan visus. Persyaratan frame-frame citra yang dianggap memenuhi persyaratan adalah frame-frame citra yang berisi objek dengan ukuran yang tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar. Pengambalian frame-frame citra mata secara real-time mengakibatkan adanya frame citra mata yang ditangkap kamera ketika mata sedang berkedip, sehingga berisi objek pupil yang terlalu kecil. Proses penentuan nilai ambang pada binerisasi citra mata yang terlalu besar juga mengakibatkan objek pupil berbaur dengan bayangan di sekitar mata, sehingga menghasilkan objek yang terlalu besar. Sampel yang kecil pada pengambilan citra mata memerlukan perlakuan untuk penilaian statistik dengan sampel kecil. Jumlah sampel yang kecil dapat untuk menentukan kelayakan citra untuk masuk proses selanjutnya dapat diimplementasikan menggunakan standar deviasi. Nilai standar deviasi dapat mengakomodasi keperluan membatasi rentang ukuran objek pupil pada citra mata yang dianggap layak. Hasil akhir dari penelitian ini adalah implementasi metode penentuan suatu citra dianggap memiliki objek pupil dengan ukuran yang layak untuk diobservasi sehingga didapatkan interval yang sesuai kondisi masing-masing set citra mata yang direkam oleh kamera pada saat observasi mata. Penggunaan standar deviasi pada penentuan citra yang dianggap layak berkontribusi menaikkan persentase ketepatan penilaian visus mata pada aplikasi penentuan visus myopia secara real time dari 54% tanpa standar deviasi menjadi 73% pada nilai confidence untuk interval satu rata-rata sebesar 99% pada proses penentu visus myopia.
PENERAPAN VALUE ENGINEERING PADA KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH DENGAN MENGGUNAKAN SITE MIX SEBAGAI PENGGANTI BENTONITE (STUDI KASUS PROYEK APARTEMEN DI SERPONG) Asfarina, Sharwanda; Makarim, Chaidir Anwar
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5625

Abstract

In an effort to obtain efficient, stable, and optimal design results with good quality, one of the analytical methods used to evaluate construction project planning is value engineering. The purpose of value engineering is cost savings, performance optimization, and time efficiency, while still considering the function, quality, and aesthetics of the project. Value engineering analysis begins by selecting one activity that has a higher cost than other activities, then analysis to determine an alternative classification of works or materials with basic and secondary functions in accordance with the requirements in order to obtain better costs. In this value analysis aims to obtain the amount of cost savings that can be done in construction after the Value Engineering is done and find more advantages between the two materials. Site Mix was chosen to replace bentonite in retaining wall works. The savings obtained were 10.4% for bored pile work and 36.4% for casting work. Based on the results of the prices that have been obtained, it can be concluded that the use of site mix can provide far greater savings compared to using bentonite. Both from the analysis of the unit price above, it was found both for the overall bored pile foundation work and for the casting work only with K250 quality concrete, giving the result that the use of site mix would be more efficient. In addition to using literature studies and observations, the next method is a questionnaire survey by distributing questions to be filled in by respondents who are then included in the SPSS program and then tested for validity, reliability testing, and RII from the results of the questionnaire obtained results that support that the site mix can used as a substitute for bentonite in retaining wall works. AbstrakDalam upaya memperoleh hasil desain yang efisien, stabil, dan optimal dengan mutu yang baik, salah satu metode analisis yang digunakan untuk mengevaluasi perencanaan proyek konstruksi adalah rekayasa nilai. Tujuan dari rekayasa nilai adalah penghematan biaya, optimalisasi kinerja, dan efisiensi waktu, tetapi tetap mempertimbangkan fungsi, kualitas, dan estetika proyek. Analisis rekayasa nilai dimulai dengan memilih salah satu kegiatan yang memiliki biaya lebih tinggi daripada aktivitas lainnya, kemudian analisis untuk menentukan klasifikasi alternatif karya atau bahan dengan fungsi dasar dan sekunder sesuai dengan persyaratan dalam untuk mendapatkan biaya yang lebih baik. Pada analisis nilai ini bertujuan untuk memperoleh besarnya penghematan biaya yang dapat dilakukan pada pembangunan konstruksi setelah dilakukan Value Engineering dan menemukan keunggulan lebih di antara kedua bahan tersebut. Site Mix dipilih untuk menggantikan bentonite dalam pekerjaan dinding penahan tanah. Penghematan yang didapatkan sebesar 10,4% untuk pekerjaan bored pile dan 36,4% untuk pekerjaan pengecoran. Berdasarkan hasil harga yang telah didapatkan, maka bisa diambil kesimpulan bahwa penggunaan site mix bisa memberikan penghematan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan menggunakan bentonite. Baik dari analisis harga satuan pekerjaan di atas, ditemukan baik untuk pekerjaan pondasi bored pile secara keseluruhan maupun pekerjaan pengecoran saja dengan beton mutu K250, memberikan hasil bahwa penggunaan site mix akan lebih hemat. Selain menggunakan studi pustaka dan observasi, metode selanjutnya adalah survey kuisioner dengan menyebarkan pertanyaan-pertanyaan untuk diisi oleh para responden yang kemudian dimasukkan kedalam program SPSS lalu dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan RII dari hasil kusioner tersebut didapatkan hasil yang mendukung bahwa site mix dapat digunakan sebagi pengganti bentonite dalam pekerjaan dinding penahan tanah.
EVALUASI ASPEK TRANSPORTASI TEMPAT PERISTIRAHATAN DI KM 97 TOL CIPULARANG Setyarini, Ni Luh Putu Shinta; Linggasari, M.I. Dewi; Susanto, Hendra
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3542

Abstract

The density of the vehicle and the length of trip on the Cipularang Toll Road (around 57.5 km) can make the driver feel bored and decrease concentration. Driving a vehicle in a saturated state can endanger yourself and others. The decrease in concentration can cause unfavorable views, causing accidents. So resting is one of the most important needs in driving. In accordance with Government Regulation No.15 of 2005, regarding the technical requirements of toll road construction, that there must be a place of rest and services for the benefit of toll road users at least 1 for every 50 km distance in each direction. The presence of the KM 97 resting place in Cipularang Toll Road can help drivers and passengers to meet all their personal needs. The problem is how the manager of the resort serves visitors to meet the needs of the resort. Minimum Service Standards (SPM) are guidelines that govern the standards of resort services. Each resort does not necessarily have the same facilities and services. Therefore it is necessary to evaluate the facilities and services of the Cipularang Toll KM 97 resting place. The method to be used is the measurement of service quality with the importance performance analysis (IPA) method. Parking needs on Sundays = 375 vehicles> rather than parking capacity = 321 available vehicles. The level of satisfaction of respondents to all points regarding the reliability of the infrastructure of the resort both in terms of aspects of transportation and service facilities get a value of 80.32% which means very good. AbstrakPadatnya kendaraan dan lamanya perjalanan di ruas jalan Tol Cipularang (sekitar 57,5 km) dapat membuat pengemudi merasa jenuh dan menurunnya konsentrasi. Mengemudikan kendaraan dalam keadaan jenuh dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Turunnya konsentrasi dapat menyebabkan pandangan yang kurang baik sehingga menimbulkan kecelakaan. Jadi istirahat merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting dalam berkendara. Sesuai PP No.15 tahun 2005, tentang persyaratan teknis pembangunan jalan tol, bahwa harus tersedia tempat istirahat dan pelayanan untuk kepentingan pengguna jalan tol paling sedikit 1 untuk setiap jarak 50 km setiap jurusan. Hadirnya tempat peristirahatan KM 97 di Tol Cipularang dapat membantu pengemudi dan penumpang untuk memenuhi segala kebutuhan pribadi. Permasalahannya adalah bagaimana pengelola dari tempat peristirahatan melayani pengunjung untuk memenuhi kebutuhan di tempat peristirahatan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah pedoman yang mengatur standar dari pelayanan tempat peristirahatan. Setiap tempat peristirahatan belum tentu memiliki fasilitas dan pelayanan yang sama. Oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi terhadap fasilitas dan pelayanan tempat peristirahatan KM 97 Tol Cipularang. Metode yang akan digunakan adalah pengukuran kualitas layanan dengan metode importance performance analysis (IPA). Kebutuhan parkir pada hari Minggu = 375 kendaraan > daripada kapasitas parkir = 321 kendaraan yang tersedia. Tingkat kepuasan responden terhadap seluruh poin mengenai keandalan dari infrastruktur tempat peristirahatan baik dari segi aspek transportasi maupun fasilitas pelayanan mendapatkan nilai sebesar 80,32% yang berarti sangat baik.
OPTIMASI BIAYA PENCAPAIAN PREDIKAT BANGUNAN HIJAU PADA BANGUNAN TERBANGUN Linggasari, Dewi
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5941

Abstract

Existing buildings are buildings that have operated for at least a year after construction. Green building concept application on buildings is aimed to maintain environment continuity, which is absolutely needed to prevent damage to human habitat and to create a continuous ecosystem to be inherited by the generations to come. A building can be categorized as green building if it fulfills the green building assessment criteria. This becomes a challenge in itself if a building succeeds to achieve Green Building Predicate. The efforts made to achieve Green Building Predicate, of course, requires funding. Therefore, optimal funding to achieve Green Building Predicate according to Greenship “Green Building Assessment Device for Existing Building version 1.0” needs to be determined. To achieve maximum quality enhancement with minimum cost, value consideration on each criteria is needed. Value consideration on each criteria that is determined is done based on five levels which are referred to as level 1 to 5. Each value consideration level has criteria based on value achievement difficulty level as well as amount of funding needed to achieve it. Based on analysis results, buildings J, L, K, and R achieved Gold Predicate, and building M achieved Silver Predicate with additional funding of 16.61%. To achieve that predicate, the building must fulfill the value consideration level that is included in criteria level 1+2, which is a criteria that is achieved relatively easily and without large funding, as well as criteria that is achieved relatively easily but includes obstacles in it’s application. Other enhancements that are done is considered ineffective because enhancement cost isn’t proportional to the resulted value. ABSTRAKBangunan terbangun yaitu bangunan yang sudah lama beroperasi minimal satu tahun setelah gedung selesai dibangun. Penerapan konsep Bangunan Hijau pada bangunan bertujuan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, yang mutlak diperlukan untuk mencegah rusaknya habitat manusia dan untuk menciptakan suatu ekosistem yang berkelanjutan agar dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Suatu bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan hijau apabila telah memenuhi kriteria-kriteria penilaian bangunan hijau. Menjadi tantangan tersendiri apabila suatu bangunan berhasil memperoleh Predikat Bangunan Hijau. Upaya yang dilakukan untuk memperoleh Predikat Bangunan Hijau tersebut tentunya membutuhkan biaya. Dengan demikian perlu ditentukan biaya optimal untuk mencapai tingkat Predikat Bangunan Hijau sesuai Greenship "Perangkat Penilaian Bangunan Hijau untuk Gedung Terbangun versi 1.0". Untuk mencapai peningkatan nilai yang maksimum dengan biaya yang minimum perlu adanya pertimbangan penilaian pada setiap kriteria. Pertimbangan penilaian setiap kriteria yang ditetapkan dilakukan berdasarkan lima tingkat yaitu tingkat 1 sampai tingkat 5. Masing-masing tingkat pertimbangan nilai memiliki kriteria yang didasarkan pada tingkat kesulitan pencapaian nilai serta besaran biaya yang dibutuhkan untuk mencapainya. Berdasarkan hasil analisis, bangunan J, L, K, R memperoleh Predikat Gold dan Gedung M memperoleh Predikat Silver dengan tambahan biaya sebesar 16,61%. Untuk mencapai predikat tersebut maka gedung harus memenuhi tingkat pertimbangan nilai yang termasuk dalam kriteria tingkat 1+2, yaitu kriteria yang pencapaiannya relatif mudah dan tanpa biaya besar, serta kriteria yang untuk pencapaiannya relatif mudah tapi terdapat hambatan dalam penerapannya. Peningkatan lain yang dilakukan dipandang tidak efektif karena biaya peningkatan tidak sesuai dengan nilai yang dihasilkan.  
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL WHATSAPP DAN BOOKLET TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA TENTANG ROKOK DI SMA NEGERI 13 MEDAN Gafi, Aldo Al; Hidayat, Wisnu; Tarigan, Frida Lina
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.5656

Abstract

Smoking is one of the public health problems in Indonesia by remembering that smoking is one of the main risk factors of several chronic diseases that can lead to death. Smoking among adolescents is caused by curiosity or trying out new experiences, trying to eliminate boredom, wanting to be considered more male and want to be accepted in the group. The purpose of this study was to analyze the effect of the use of whatsapp social media and booklets on knowledge about cigarettes and student attitudes at SMA Negeri 13 Medan. This research is a quasi experimental study. The study population was all students of SMAN 13 Medan class 11 in 2018/2019 with 128 male students and the sample was 21 male students for the social media group WA) and 21 male students for the booklet group. Data analysis methods used in this study consisted of univariate and bivariate analyzes. The results were obtained as follows: 1) The use of whatsapp social media affected the knowledge of cigarettes and student attitudes, 2) The use of booklet media influenced the knowledge of cigarettes and student attitudes. From the research results obtained, suggestions are given that students can increase their knowledge through a number of ways including finding information through internet media or books relating to smoking and smoking as well as the dangers posed by smoking so that they can understand it and change attitudes towards more and produce good behavior, also. AbstrakMerokok merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan mengingat bahwa merokok merupakan salah satu faktor risiko utama dari beberapa penyakit kronis yang dapat mengakibatkan kematian.Merokok dikalangan remaja disebabkan oleh rasa ingin tahu atau mencoba-coba pengalaman baru, mencoba menghilangkan kejenuhan, ingin dianggap lebih jantan dan ingin diterima dikelompoknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan media sosial whatsapp dan booklet terhadap pengetahuan tentang rokok dan sikap siswa di SMA Negeri 13 Medan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMAN 13 Medan kelas 11 tahun ajaran 2018/2019 sebanyak 128 orang laki-laki dan sampel diperoleh sebanyak 21 siswa laki-laki untuk kelompok media sosial WA) dan 21 siswa laki-laki untuk kelompok booklet. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari analisa univariat dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh sebagai berikut: 1) Penggunaan media sosial whatsapp berpengaruh terhadap pengetahuan tentang rokok dan sikap siswa, 2) Penggunaan media booklet berpengaruh terhadap pengetahuan tentang rokok dan sikap siswa. Dari hasil penelitian yang diperoleh disampaikan saran yaitu siswa dapat menambah pengetahuannya melalui beberapa cara diantaranya dengan mencari informasi melalui media internet atau buku yang berkaitan dengan rokok dan merokok serta bahaya yang ditimbulkan akibat merokok sehingga dapat memahaminya dan merubah sikap kearah yang lebih dan menghasilkan perilaku yang baik pula.
MULTITASKING ELEMEN BANGUNAN Liauw, Franky
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3573

Abstract

Elements of architectural works in the form of buildings are usually described according to their respective roles. The dictionary is often a reference to understanding the meaning of each word, but it needs to be aware because the dictionary only gives a basic understanding, and often also becomes a barrier of thought that sometimes hinders further development. For example, in the dictionary the roof is defined as the top of the building cover, even though it has long been used as a roof garden. In the midst of many problems in the environment, such as the energy crisis, lack of non-renewable resources, global warming, various types of pollution, etc., empowering building elements for other functions outside their basic role, will provide added value, save costs and space, and various other benefits. This paper uses descriptive qualitative methods, in the form of a comparison of definitions in the dictionary with developments in architectural practice, as well as an analysis of the various possibilities and opportunities for the development of the role of each building element. The benefits of empowering building elements like this can be said to be environmentally friendly designs because they are in accordance with the principles of sustainable development. For example, the roof provides protection for the contents of buildings against uncomfortable external influences, but exposure to the sun with excessive heat can be converted to energy. The roof of the building can also accommodate human activities. Sports activities that release a lot of energy, can actually be converted into electrical energy through the empowerment of various building elements. Efforts to add as many other functions as possible to each building element in the architectural design process might be best taught from the beginning in architecture education courses so that it will become a habit inherent in every designer. Definitions in a dictionary need to be viewed more critically, not directly made as a rigid reference. AbstrakElemen karya arsitektur berupa bangunan biasanya diuraikan menurut peran masing-masing. Kamus sering menjadi acuan untuk memahami pengertian setiap kata, namun perlu diwaspadai karena kamus hanya memberi pengertian dasar, dan sering juga menjadi pembatas pemikiran yang kadang menghambat pengembangan lebih jauh. Sebagai contoh, dalam kamus atap didefinisikan sebagai penutup bangunan bagian atas, padahal sudah sejak lama atap digunakan juga sebagai roof garden. Di tengah banyaknya masalah dalam lingkungan, seperti krisis energi, kekurangan sumber daya tak terbarukan, pemanasan global, berbagai jenis polusi, dan lainnya, pemberdayaan elemen-elemen bangunan untuk fungsi-fungsi lain di luar peran dasarnya, akan memberi nilai tambah, menghemat biaya dan luasan ruang, dan berbagai manfaat lainnya. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, berupa perbandingan definisi dalam kamus dengan perkembangan dalam praktek arsitektur, serta analisis berbagai kemungkinan dan peluang pengembangan peran setiap eleman bangunan. Manfaat pemberdayaan elemen bangunan seperti ini dapat dikatakan sebagai rancangan yang ramah lingkungan karena sesuai dengan prinsip pengembangan berkelanjutan. Sebagai contoh, atap memberi perlindungan bagi isi bangunan terhadap pengaruh luar yang tidak nyaman, namun paparan matahari dengan panas yang berlebihan dapat dikonversi menjadi energi. Atap bangunan juga dapat menampung kegiatan manusia. Kegiatan berolahraga yagn banyak mengeluarkan energi, sebenarnya dapat dikonversikan menjadi energi listrik melalui pemberdayaan berbagai elemen bangunan. Upaya menambahkan sebanyak mungkin fungsi lain pada setiap elemen bangunan dalam proses perancangan arsitektur mungkin sebaiknya diajarkan sejak awal di perkuliahan pendidikan arsitektur sehingga akan menjadi kebiasaan yang melekat pada setiap perancang. Definisi dalam kamus perlu dilihat dengan lebih kritis, tidak langsung dijadikan sebagai acuan yang kaku.