cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
MediaTor: Jurnal Komunikasi
ISSN : 14115883     EISSN : 25810758     DOI : -
Core Subject : Education,
Mediator: Jurnal Komunikasi focuses on communication studies and media. Although centered on communication, Mediator is open and welcomes the contribution of many disciplines and approaches that meet at crossroads with communication studies. Type of writing is in the form of scientific articles (the results of field research, conceptual articles, or desk studies). This journal is intended as a medium of scientific study to communicate vision, reflection, conceptual thinking, research results, interesting experiences in the field, and critical analysis-studies on contemporary communication issues.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
Peran Pers Islam dalam Upaya Mendorong Proses Demokratisasi di Indonesia Alex Sobur
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i2.1160

Abstract

Peran pers dalam mendorong proses demokratisasi adalah hal yang mutlak. Namun, pers Indonesia, terutama pers Islam, bagaimanapun diharapkan berperan lebih aktif dalammendudukkan reformasi dalam maknanya yang tepat, sambil tetap mencatat dan melaporkan sejumlah bahaya yang bisa membelokkan transisi demokrasi yang sedang berlangsung sekarang ini. Namun, ironisnya di negara yang penduduknya mayoritas Islam ini justru media pers lebih banyak didominasi oleh medis pers non-Islam. Lalu, bagaimana pers Islam bisa berperan di dalamnya? Dalam konteks ini, kehadiran pers Islam, atau pers yang Islami, yang maju dan bermutu, serta berdaya jangkau luas, mutlak dibutuhkan, agar ia bisa berperan dalam proses demokratisasi di Indonesia.
Perilaku Bermedia Digital Dalam Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi Dikalangan Dosen Unisba Dian Widya Putri; Stephani Raihana Hamdan; Yulianti Yulianti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 10, No 1 (2017): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v10i1.2731

Abstract

Perkembangan teknologi informasi berdampak pada perkembangan Media Massa sebagai channel komunikasi melalui media baru seperti media digital dan konvergensi media. Dari sekian jenis media massa, diantaranya digunakan sebagai media pembelajaran atau yang disebut teks pedagogik atau teks akademik.Teks akademik saat ini hadir dalam bentuk media digital dan media konvergensi, seperti e-book dan e-journal. Dalam memenuhi tiga unsur tridharma, dosen dituntut untuk dapat beradaptasi dengan teknologi informasi dalam bentuk media baru tersebut. Mulai dari penyediaan sumber bahan ajar sampai pada sumber data dan pengunggahan karya ilmiah. dalam hal ini dosen berperan sebagai penerima dan penyedia konten.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku bermedia digital dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi di kalangan dosen Unisba terutama adaptasi dan upaya penggunaanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku serta belum menyeluruhnya penggunaan media digital dalam memenuhi tridharma perguruan tinggi pada dosen Unisba. Selain terlihat adanya tren menggunakan media digital pada perkuliahan, mencari referensi ilmiah dan publikasi hasil penelitian serta PKM. Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan perilaku pada dosen pria dengan wanita dalam penggunaan media digital.
Menjelajah Ranah 'Keterampilan Hidup' Santosa S Hamijoyo
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 3, No 2 (2002): Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif?
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v3i2.768

Abstract

Keterampilan hidup (life-skill) bukan gagasan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Selain pernah di gagas UNESCO pada tahun 1949 lewat program keaksaraannya (Functional Literacy), pemerintah Indonesia pun sudah pernah mencanangkannya sebagai salah satu kebijakan Program B dalam buatan Kurikulum 1984. Sayangnya, ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan pelaksanaan program menjadikan tujuan membekali siswa didik dengan life skill tidak terCapai. Tuntutan pembekalan life skill muncul dari perubahan ciri masyarakat secara global, dari Masyarakat Pertanian ke pola Masyarakat Industri hingga menjadi Masyarakat Informasi, yang mengimbas pula pada struktur masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Melalui pembekalan life skill, siswa didik diharapkan mampu secara jeli mengobservasi peristiwa dan masalah di sekelilingnya, kemudian mahir merekonstruksi dan mengonsolidasikannya. Setelah lulus, siswa diharapkan memiliki modal intelektual, emosional, dan keterampilan manual yang mantap untuk berkiprah dalam kancah perjuangan karier dan kehidupan selanjutnya. Untukitu,dibutuhkan perancang-perancang pengajaran yang betul-betul mahir merancang pola pengajaran terprogram secara 'terpribadi' (ipdividualized). Konsep 'keterampilan' sendiri secara sempit dimaknai sebagai kerja manual dan hastawi. Dalam arti luasnya, 'keterampilan' mengandung makna 'solusi' dan 'realitas '. Makna-makna itu menjadi kunci yang diperlukan siapa pun untuk mengatasi tantangan di setiap pola kehidupan masyarakat, baik itu Masyarakat Pertanian, Masyarakat Industri, maupun Masyarakat Informasi.
Ulama dan Jawara: Studi tentang Persepsi Ulama terhadap Jawara di Menes Banten Selatan karomani karomani
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 6, No 2 (2005): Bagaimana Kita Menjelaskan Penerapan Teknologi?
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v6i2.1191

Abstract

Ulama (religious leader) and jawara (gank leader) become prominent local elites in Menes,South Banten. Long history of those two leaders resulted in amalgamation of both elites:alongside with pure ulama, there is also a group of ulama who is also jawara. Both eliteshave positive perception to each other. Jawara-ulama was perceived by ulama as figures who develop, maintain and preserve Banten cultural art. Jawaras are loyal to ulama and protect ulama as well. On the other hand, jawara from outside of ulama group was negatively perceived, assuming bad habits such as disobedience toward religious principles, bandit, doing many violence act. The perception of ulama toward jawara was affected by a closeness in terms of relationship with jawara, a resemblance of beliefs, values, worldview, religious understanding, prejudice and life experience.
Komunikasi Keluarga Urban dalam Menanamkan Nilai-Nilai Toleransi Antarumat Beragama Reni Dyanasari; Melisa Arisanty
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 11, No 2 (2018): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v11i2.3759

Abstract

Indonesia as a multicultural country has a problem with religious issues that trigger conflict in society. Religious is one of sensitive issue can broke the unity of Indonesia. This is a challenge for government and society to make a harmony with embedding tolerance values among religious people. Family is a medium to embedding tolerance values but it comes with various challenges to socialization the norms and values. Many families in Indonesia embedded homogenous norms and values to the family member. this homogenity  is feared to raise homogenous mindset that’s hard to accepted the diversity.  Urban families mostly has acceptance of diversity. They are do not hesitate to communicate the norms and values as a knowledge that can be understood by their family. This case is interesting to be inspected with qualitative methodology in phenomenology research strategy to get the depth of research data about family communication that used in urban family to embedding tolerance values between religious people. To the further this research will contribute to the society especially for Indonesian family to communicating about norms and values of tolerance in social life.
Political Advertising: Strategi Partai Politik dalam Pemilu: Strategi Partai Politik dalam Pemilu Zulfebriges Zulfebriges
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 4, No 2 (2003): Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v4i2.861

Abstract

Perkembangan periklanan politik, terutama di negara demokrasi, mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak kemunculannya pada awal tahun 1950 di AS. Efektivitasnya membuat kandidat dan partai politik yang bertarung tidak ragu mengeluarkan zaya jutaan dolar untuk mengungguli lawan politiknya. Berbeda dengan periklanan kontroversial, Periklanan Politik sering menyampaikan pesan-pesan politik yang bersifat negatif, mendeskreditkan lawan politik, sebagai cara mudah merebut suara pemrih.
Model City Branding Melalui Revitalisasi Sungai Cikapundung Iis Saidah; Agustin Rozalena
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 12, No 2 (2019): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v12i2.5026

Abstract

This study aims to construct the city branding model through the revitalization of the Cikapundung River. It is a qualitative case study research formulated by contruction paradigm.  Data collection techniques were carried out through Focus Group Discussions (FGD), nonparticipant observation, in-depth interviews and literature as well as data analysis techniques with the Interactive Model. The results are 1). The process of Bandung city branding established through Cikapundung revitalization river effects, which boosted the specific artificial tourism in  Bandung city 2). The branding stategy to promote the river are achieved by publicizing the artificial tourism superiority of Cikapundung river as a tourism spot through some  events, creating the same perception about the river’s image among people and increasing the attractiveness of  Cikapundung river. 3). The city branding design has an Octagone design aspects and adding other important aspect that is preservation of the environment that formed Nanogone model. The conclusion are 1). The revitalization of cikapundung river  create branding of Bandung city 2). The branding stategy increase tourist visit to Bandung city 3). Preservation the environments as forming  the Nanogone design raise the awareness about environments.
Memahami Memori Funny Mustikasari Elita
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i1.1104

Abstract

Memori menjadikan manusia menjadi makhluk sejarah. Menurut Plato, memori berasal dari alam ide yang abadi, yang terlepas dari matreri. Ketika manusia lahir, memori dipanggil kembali melalui penginderaan/pengalaman. Prinsip pengembangan memori, antara lain, mencakup asosiasi, gambaran, dan lokasi. Memori melewati tiga proses: (1) perekaman, yakni pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal; (2) penyimpanan, yaitu menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana; dan (3) pemanggilan, artinya mengingat lagi, yakni menggunakan informasi yang disimpan. Memori juga dikaitkan dengan proses aktif seseorang di dalam mencari, menyimpan/ mengorganisasikan, dan menyebarluaskan informasi yang ada di luar dirinya untuk ditemukan kembali oleh para pencari informasi. Apa yang dicari tersebut adalah informasi yang membantu seseorang dalam memperlancar kehidupannya, baik untuk urusan praktis maupun keilmuan. Dalam hal ini, terdapat dua macam memori yang terlibat: memori internal dalam diri seseorang dan memori eksternal yang umumnya terdapat dalam literatur dan pangkalan data atau memori orang lain terutama memori para pakar, karena dalam memori tersebut terkandung atau tersimpan beragam informasi yang berbentuk pengetahuan, pemahaman, kebijaksanaan atas suatu ilmu yang diinginkan dan dibutuhkannya. Memori adalah tempat komoditas disimpan. Dengan demikkian, memori merupakan sumber energi pemikiran, sumber fakta, sumber data, sumber pengetahuan, juga sumber kebijaksanaan.
Mengomunikasikan Musik kepada Anak Azis Taufik Hirzi
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 8, No 2 (2007): Proses Berkesenian = Proses Berkomunikasi
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v8i2.1248

Abstract

Musical lessons are believed helping children to nurture their brains. Depended on the beat, rhythm, and melody, music triggers young nerves to develop and stimulates it to reach maximum impact. In the field of communication education, music was involved in learning process. A method called accelerated learning uses music to create conducive and healthy atmosphere which is necessary in learning process. Within such atmosphere, children develop their creativity to solve their problem. Musical lessons help children to develop their personality, effective communication and social interaction capability, and who knows—find their ways to musical talents.
Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi Yasraf Amir Piliang
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 2, No 2 (2001): 'Chaos' Komunikasi 'Nothing to Hide'
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v2i2.716

Abstract

Model komunikasi posmodern yang dibangun berdasarkan paradigma simulasi (simulation), banalitas (banality), dan kecepatan (speed), telah menimbulkan tantangan yang serius pada konsep ‘komunikasi’ itu sendiri. Komunikasi yang dituntut berlangsung dalam tempo perubahan dan pertukaran yang tinggi—sebagai logika kapitalisme lanjut—telah menyebabkan terperangkapnya komunikasi dan bahasa di dalam mekanisme kecepatan. Logika kecepatan telah memusatkan kesadaran komunikator pada mekanisme medium, sehingga menjauhkan mereka dari makna (meaning) di balik komunikasi itu sendiri. Komunikasi kemudian digiring ke arah ‘pendangkalan bahasa’, banalitas dan simulakrum, yaitu lebih diutamakannya efekefek permukaan dan provokasi bahasa, ketimbang makna, tujuan dan kebenaran. Yang tercipta adalah bentuk ‘komunikasi skizofrenik’, yaitu bentuk komunikasi yang di dalamnya terjadi kegalauan bahasa, tanda, dan kode, yang menuju pada relativitas makna yang radikal. Model komunikasi posmodern, justru menerima kegalauan, ketidakpastian dan relativitas bahasa sebagai sebuah keniscayaan di dalam dunia yang semakin dibentuk oleh kecepatan.

Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2022): (Accredited Sinta 2) Vol 15, No 1 (2022): (Accredited Sinta 2) Vol 14, No 2 (2021): (Accredited Sinta 2) Vol 14, No 1 (2021): (Accredited Sinta 2) Vol 13, No 2 (2020): (Accredited Sinta 2) Vol 13, No 1 (2020): Terakreditasi Sinta 3 Vol 13, No 1 (2020): (Accredited Sinta 2) Vol 12, No 2 (2019): (Accredited Sinta 3) Vol 12, No 1 (2019): (Accredited Sinta 3) Vol 11, No 2 (2018): (Accredited Sinta 3) Vol 11, No 1 (2018): (Accredited Sinta 3) Vol 10, No 2 (2017): (Accredited Sinta 3) Vol 10, No 1 (2017): (Accredited Sinta 3) Vol 9, No 2 (2008): Dari “Starbucks’ hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar Vol 9, No 1 (2008): Isu Komunikasi Kesehatan yang Ter-”Pojok”-kan Vol 8, No 2 (2007): Proses Berkesenian = Proses Berkomunikasi Vol 8, No 1 (2007): Berkomunikasi dengan Anak Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan? Vol 7, No 1 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan? Vol 6, No 2 (2005): Bagaimana Kita Menjelaskan Penerapan Teknologi? Vol 6, No 1 (2005): Kontroversi Dakwah dan Politik Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya Vol 4, No 2 (2003): Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain Vol 4, No 1 (2003): Merayakan Wacana Kontemporer Vol 3, No 2 (2002): Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif? Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini Vol 2, No 2 (2001): 'Chaos' Komunikasi 'Nothing to Hide' Vol 2, No 1 (2001): “Publish or Perish!” Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka) More Issue