Desa-Kota : Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman
Desa-Kota, adalah jurnal perencanaan wilayah, kota, dan permukiman, yang tujuan utamanya adalah untuk memperdalam pemahaman tentang kondisi perkotaan, perdesaan, dan kewilayahan, serta perubahan dan dinamika yang terjadi di area tersebut, baik dari perspektif empiris, teoretis, maupun kebijakan.
Articles
110 Documents
Identifikasi Pemetaan Spasial Matriks Asal Tujuan terhadap Sebaran Covid-19 di Kota Surakarta
Almira Nur Aryani Putri;
Nur Miladan;
Galing Yudana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.77198.60-68
Bencana pada umumnya menimbulkan dampak korban jiwa, dampak psikologis, dan kerugian lainnya. Peristiwa yang telah terjadi di hampir seluruh bagian dunia beberapa tahun lalu adalah pandemi Covid-19. Pada konteks Indonesia, berdasarkan data statistik Pemerintah Jawa Tengah, terdapat tiga kabupaten/kota yang dinyatakan sebagai daerah dengan penyebaran Covid-19 tertinggi pada tahun 2021, salah satunya adalah Kota Surakarta dengan 36.369 kasus. Berbagai pembatasan sosial bagi masyarakat memberikan pengaruh bagi pergerakan perjalanan penduduk yang terjadi selama ini. Pola perjalanan pada dasarnya terbentuk dari masing-masing wilayah yang memiliki aneka ragam bentuk kegiatan yang ada di tiap zona tersebut dan pada akhirnya akan membentuk suatu matriks asal tujuan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh matriks asal tujuan terhadap sebaran Covid-19 di Kota Surakarta. Penelitian dilakukan menggunakan teknik analisis pemetaan spasial dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan Kernel Density. Hasil pada pemetaan matriks menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat melakukan perjalanan pada daerah dengan sebaran kasus tinggi, yaitu pergerakan secara internal pada kawasan Kota Surakarta dan berfokus pada tengah kawasan. Hasil penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa diperlukan adanya peningkatan peran dan pemahaman antar pemangku kepentingan agar terdapat sinergi antara berbagai pihak terkait dalam menangani kejadian luar biasa, baik dalam kasus pandemi Covid-19 maupun bencana lainnya.
Skema Land Value Capture sebagai Alternatif Pembiayaan Penanganan Permukiman Kumuh (Studi Kasus: Kelurahan Kaligawe, Kota Semarang)
Arga Hijrian Pasha;
Jawoto Sih Setyono
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v8i1.109422.1-14
Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi di Kota Semarang mendorong meluasnya kawasan permukiman kumuh, sementara kapasitas fiskal pemerintah daerah dalam penyediaan perumahan layak huni masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan Land Value Capture (LVC) sebagai alternatif pembiayaan penanganan permukiman kumuh di Kelurahan Kaligawe, Kota Semarang. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan analisis regulasi, sistem kelembagaan, serta perhitungan nilai lahan dan skema sewa berbasis Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai lahan di Kelurahan Kaligawe meningkat rata-rata 10,2% per tahun dalam sepuluh tahun terakhir. Proyeksi NJOP tahun 2027 sebesar ±Rp2,24 juta/m² memungkinkan penerapan instrumen development-based berupa sewa lahan melalui pembentukan badan usaha kerja sama pemerintah dan swasta. Skema tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp2,9 miliar per tahun yang dapat digunakan untuk pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) serta pembiayaan infrastruktur lanjutan. Secara regulatif, model ini kompatibel dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang dan ketentuan pemanfaatan Barang Milik Negara/Daerah, meskipun pada saat penelitian dilakukan belum terdapat regulasi nasional yang secara khusus mengatur LVC. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan regulasi nasional yang mengatur prinsip dan mekanisme LVC, serta Peraturan Wali Kota yang mengatur tata kelola sewa lahan, subsidi silang unit, dan pengalokasian pendapatan secara khusus untuk penanganan kumuh. Kelurahan Kaligawe dapat dijadikan proyek percontohan implementasi LVC yang berkelanjutan dan replikatif.
Analisis Ketergantungan Kota Bangkinang sebagai Kota Kecil terhadap Kota Pekanbaru Sebagai Kota Induk di Kawasan Metropolitan Pekansikawan (Pekanbaru, Siak, Kampar, dan Pelalawan)
Yusri Ihza Palensa;
Agam Marsoyo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.80046.171-183
Kawasan Pekansikawan sebagai kawasan metropolitan terdiri dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Pelalawan. Pada kawasan Pekansikawan, terdapat Kota Pekanbaru sebagai inti dan beberapa kota-kota kecil salah satunya adalah Kota Bangkinang sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Kabupaten Kampar. Perkembangan kota satelit akan sangat bergantung terhadap kota induknya sehingga ketergantungan kota kecil akan menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk dari kota kecil menuju kota besar sehingga akan menimbulkan berbagai permasalahan di wilayah asal dan wilayah tujuan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk serta peringkat ketergantungan masyarakat Kota Bangkinang terhadap Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deduktif kuantitatif dan kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif menggunakan scoring. Hasil penelitian menemukan bahwa bentuk ketergantungan Kota Bangkinang terhadap Kota Pekanbaru berupa ketergantungan satu arah (nonfeedback dependent) terhadap kesehatan tingkat lanjut, pendidikan tinggi, industri konstruksi, dan sektor otomotif di Kota Pekanbaru. Pada fasilitas kesehatan, Kota Bangkinang memiliki peringkat ketergantungan sebesar 18,90% pasien dirujuk ke Pekanbaru. Pada fasilitas pendidikan tinggi, Kota Bangkinang memiliki peringkat ketergantungan sebesar 53% siswa melanjutkan pendidikan tinggi di Pekanbaru. Pada sektor industri dan jasa konstruksi, Kota Bangkinang memiliki peringkat ketergantungan tertinggi dibandingkan wilayah lainnya dengan jumlah pelanggan 65 dalam 1 tahun. Pada sektor otomotif, Kota Bangkinang memiliki jumlah pelanggan sebanyak 59 pelanggan/tahun dan nilai kemandirian 72 tertinggi kedua setelah Perawang dan di atas Kota Kerinci.
Perkembangan Kawasan-kawasan Perkotaan Kecil di Kabupaten Wonogiri dan Potensi Perannya dalam Penguatan Keterkaitan Desa-Kota
Okta Bashri Rahma Wati;
Fadjar Hari Mardiansjah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.81373.189-207
Urbanisasi mendorong perkembangan wilayah perkotaan tidak terbatas pada kawasan metropolitan, tetapi juga mencakup kawasan perkotaan kecil. Indonesia telah mengalami pertumbuhan kawasan perkotaan kecil yang sangat cepat, terutama di wilayah kabupaten-kabupaten di Pulau Jawa. Pertumbuhan kawasan perkotaan kecil tersebut juga terjadi pada Kawasan Subosukawonosraten, yang terbentuk dari perluasan kawasan perkotaan Kota Surakarta sebagai pusatnya. Sebagai bagian dari Subosukawonosraten, Kabupaten Wonogiri juga mengalami pertumbuhan perkotaan yang berimplikasi pada tumbuh dan berkembangnya kawasan-kawasan perkotaan kecil di dalamnya meskipun tidak secepat kabupaten-kabupaten lain yang berbatasan langsung dengan Kota Surakarta. Kawasan perkotaan kecil di Kabupaten Wonogiri terbentuk dari aglomerasi desa perkotaan atau desa-desa yang memiliki karakteristik perkotaan. Keberadaan kawasan perkotaan kecil di Wonogiri berpotensi untuk memiliki peranan strategis dalam penguatan keterkaitan desa-kota. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan kawasan-kawasan perkotaan kecil di wilayah Kabupaten Wonogiri dari tahun 1990 hingga 2019 dan menganalisis potensi peningkatan perannya dalam penguatan keterkaitan desa-kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif, dibantu dengan metode analisis spasial, location quotient dan network analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan perkotaan kecil di Kabupaten Wonogiri mengalami perkembangan penambahan jumlah kawasan perkotaan kecil. Setiap kecamatan memiliki potensi aktivitas utama, yaitu pertanian, industri, dan pariwisata, sehingga berpotensi lebih banyak berperan dalam meningkatkan nilai tambah, daya saing dan/atau akses pasar dari produk kawasan perdesaan, dan sekitarnya. Peran kawasan-kawasan tersebut dapat diperkuat untuk meningkatkan keterkaitan desa-kota dengan menyediakan dan/atau menambahkan jumlah fasilitas pengolahan, pemasaran/ transit serta pelayanan umum, termasuk fasilitas pendidikan pelatihan yang dapat meningkatkan transformasi teknologi dan inovasi pada aktivitas ekonomi.
Tingkat Pelayanan Jalur Pedestrian di Kawasan Wisata Malioboro, Kota Yogyakarta
Hifaa Nursabrina Rahmah;
Murtanti Jani Rahayu;
Erma Fitria Fitria Rini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.92430.102-111
Kawasan Malioboro sebagai kawasan wisata di perkotaan perlu memperhatikan fasilitas yang menjadi daya tarik pariwisata perkotaan. Fasilitas perkotaan yang menjadi perhatian di kawasan Malioboro adalah jalur pedestriannya yang merupakan fasilitas yang penting dalam mendukung integrasi pariwisata kawasan Malioboro. Penataan jalur pedestrian oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui realisasi kebijakan relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) pada awal tahun 2022 memberi perubahan signifikan pada jalur pedestrian di kawasan Malioboro. Penelitian ini mengkaji tingkat pelayanan jalur pedestrian dengan memperhatikan enam komponen, yaitu aksesibilitas, daya tarik, keamanan, kenyamanan, inklusivitas, dan kelembagaan dengan indikatornya masing-masing yang didasarkan pada komponen kawasan wisata, ruang publik, dan jalur pedestrian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah jalur pedestrian di kawasan Malioboro sudah dapat melayani dengan baik melalui penilaian tingkat pelayanannya. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan melalui observasi lapangan serta penyebaran kuesioner. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan deduktif. Teknik analisis penelitian menggunakan analisis skoring dengan skala Guttman pada tiap indikator penilaian yang datanya dikumpulkan dengan teknik survei data primer melalui observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas, daya tarik, keamanan, kenyamanan, inklusivitas, dan kelembagaan di kawasan menghasilkan tingkat pelayanan jalur pedestrian kawasan wisata Malioboro sangat baik.
Kesesuaian Amenitas di Sekitar Kawasan Stadion Manahan terhadap Prinsip Pariwisata Berkelanjutan
Dito Suryo Fitrianto;
Galing Yudana;
Nur Miladan
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v8i1.91171.41-50
Stadion Manahan merupakan pusat kawasan pariwisata olahraga yang ada di Kota Surakarta. Dengan adanya pengembangkan Kota Surakarta yang menerapkan prinsip berkelanjutan, maka aspek-aspek di dalam kota juga perlu menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan, termasuk pariwisata. Pariwisata berkelanjutan memiliki beberapa aspek utama yang diperhatikan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Di sekitar kawasan Stadion Manahan, terdapat berbagai amenitas pendukung seperti penginapan, tempat makan, dan toko cenderamata yang tersebar di sekitar kawasan. Meskipun demikian, belum diketahui mengenai penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan pada amenitas tersebut untuk mendukung kawasan Stadion Manahan sebagai kawasan wisata yang berkelanjutan. Dalam rangka untuk mengetahui penerapan prinsip berkelanjutan pada amenitas tersebut, maka dilakukan penelitian terkait daya dukung lingkungan pada bangunan-bangunan amenitas tersebut. Ketentuan yang harus dicapai untuk memiliki daya dukung lingkungan yang baik adalah hasil perhitungan Koefisien Dasar Bangunan berada di bawah 80%. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis skoring untuk menilai kesesuaian kondisi amenitas dengan prinsip berkelanjutan pada tiap-tiap parameter variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan memiliki nilai perhitungan Koefisien Dasar Bangunan seluruhnya di bawah 80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa amenitas di sekitar kawasan Stadion Manahan telah menerapkan daya dukung lingkungan yang baik dalam rangka mendukung penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan di kawasan Stadion Manahan.
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
Ryan Daffa Hantoro;
Istijabatul Aliyah;
Tendra Istanabi
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.78280.184-199
Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah mencakup dataran rendah hingga dataran tinggi Gunung Lawu. Keberagaram alam tersebut membawa berbagai ancaman bencana alam. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Kabupaten Karanganyar,terdapat lima jenis bencana alam yang pernah terjadi di Kabupaten Karanganyar yaitu tanah longsor, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrim. Salah satu bentuk mitigasi bencana untuk menghadapi berbagai macam ancaman bencana alam di Kabupaten Karanganyar adalah dengan menggunakan pemetaan ancaman multi bencana alam. Pemetaan multi bencana alam dapat menunjukan lokasi kritis tingkat ancaman dari salah satu bencana atau lebih. Pemetaan ancaman multi bencana Kabupaten Karanganyar disusun dengan melakukan serangkaian tahapan yaitu membuat peta ancaman dari masing-masing jenis bencana berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang kemudian digabungkan dengan spatial overlay. Metode yang digunakan adalah skoring dan pembobotan serta overlay antar variabel ancaman bencana menggunakan modifikasi rumusan dari Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Nomor 2 Tahun 2012 untuk mendapatkan bobot setiap ancaman multi bencana Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menghasilkan bahwa wilayah Kabupaten Karanganyar didominasi oleh ancaman multi bencana alam dengan tingkat sedang dengan luas 49% dari luas total, tingkat tinggi dengan luas 35%, tingkat sangat tinggi dengan luas 9%, tingkat rendah dengan luas 6%, dan tingkat sangat rendah dengan luas r 1% dari luas total.
Perencanaan Ruang Terbuka Hijau Berbasis Ekologi dan Sosial di Kampung 3-4 Ulu Laut, Kota Palembang
Fadilla Rachmadani Muhammad;
Rian Adetiya Pratiwi;
Ina Winiastuti Hutriani
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.79059.112-126
Kampung 3-4 Ulu Laut merupakan salah satu pemukiman padat penduduk di Kota Palembang dengan permasalahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang tidak memenuhi standar dari kebutuhan ruang terbuka pada kawasan permukiman di area perkotaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) mengidentifikasi potensi dan permasalahan RTH di daerah permukiman Kampung 3-4 Ulu Laut, (2) menganalisis RTH berdasarkan aspek ekologi dan sosial, dan (3) merencanakan rancangan RTH di Kampung 3-4 Ulu Laut berdasarkan aspek ekologi dan sosial. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang digunakan adalah analisis lahan dan SWOT. Metode kuantitatif yang digunakan adalah analisis kesesuaian lahan dan Indeks Hijau Biru Indonesia (IHBI). Berdasarkan hasil yang didapatkan dari perhitungan IHBI, RTH pada tapak mencapai 50% luasan total tapak. Jenis dan luasan tipologi RTH yang ada pada tapak adalah sempadan sungai (1,8 ha), sempadan pejalan kaki (0,6 ha), taman kelurahan (2,1 ha), taman RW (2,1 ha) dan taman RT (0,4 ha). Perencanaan lanskap RTH di tapak dilakukan berdasarkan kebutuhan ruang terbuka sebagai tempat beraktivitas sosial dengan memperhatikan ekologi sebagai ruang perkembangan ekosistem. Rencana pengembangan lanskap mengadaptasi konsep perencanaan kota urban acupuncture dan green links untuk menciptakan RTH sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat.
Pemenuhan Kebutuhan Fasilitas Lingkungan Kawasan Permukiman Kumuh: Perspektif Teori Maslow di RW 05 & RW 11, Kelurahan Cibangkong
Aqilah Syifa Shabrina;
Chrisna Trie Hadi Permana;
Rizon Pamardhi Utomo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.77195.1-11
Kota Bandung merupakan kota dengan tingkat kekumuhan paling tinggi di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas lingkungan permukiman di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, dalam memenuhi kebutuhan para penghuni. Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi tingkat kebutuhan yang belum terpenuhi dengan baik karena kondisi fasilitas eksisting yang belum lengkap dan layak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuesioner yang disebar di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong. Data yang dikumpulkan melalui kuesioner diinterpretasi berdasarkan hierarki kebutuhan dasar menurut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow yang meliputi kebutuhan fisik, keamanan, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi berdasarkan kondisi fasilitas lingkungan permukiman eksisting. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh tingkatan kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisik hingga aktualisasi diri, belum terpenuhi dengan baik di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong. Kondisi fasilitas lingkungan permukiman di kedua kawasan tersebut belum lengkap dan layak untuk memenuhi kebutuhan dasar penghuni. Beberapa masalah yang diidentifikasi adalah penyalahgunaan fasilitas, belum tersedianya transportasi umum, keterbatasan ruang publik, serta keterbatasan akses menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan. Peningkatan fasilitas-fasilitas ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kualitas hidup para penghuni dan memajukan kualitas permukiman secara keseluruhan.
Keragaman Tipe Mitigasi Bencana pada Destinasi Wisata di Kecamatan Ngargoyoso
Wahyu Widyaningrum;
Istijabatul Aliyah;
Tendra Istanabi
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.77445.69-83
Bencana apabila tidak dikelola dengan baik akan berdampak negatif pada ekosistem dan kinerja/performa pariwisata. Selama 20 tahun terakhir, banyak pariwisata di Indonesia tercatat pernah terdampak oleh beberapa bencana berskala besar. Hal tersebut memunculkan kebutuhan untuk implementasi mitigasi bencana pada sektor pariwisata sebagai solusi untuk mengatasi bencana yang merupakan salah satu penyebab krisis kepariwisataan. Implementasi mitigasi bencana pada destinasi wisata juga dapat meningkatkan keberlanjutan dan ketahanan pada destinasi wisata serta menciptakan keselamatan wisatawan yang lebih optimal. Implementasi mitigasi bencana sangat beragam karena setiap wilayah, atau dalam konteks ini destinasi wisata, memiliki karakteristik wilayah masing-masing yang mempengaruhi implementasi mitigasi bencana yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keragaman tipe mitigasi bencana pada destinasi wisata di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deduktif dan induktif. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara dan studi literatur yang kemudian diolah dengan teknik analisis deskriptif spasial, analisis deskriptif kualitatif, dan analisis klasifikasi. Dari beragam data mitigasi bencana yang diterapkan pada destinasi wisata di lokasi studi, penelitian ini berhasil mengidentifikasi adanya delapan tipe mitigasi bencana pilihan. Secara lebih detail, delapan tipe mitigasi bencana pilihan tersebut memiliki perbedaan implementasi yang signifikan antara satu tipe dengan tipe lainnya pada destinasi wisata. Perbedaan implementasi setiap tipe mitigasi bencana pilihan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik destinasi wisata yang terbentuk dari jenis wisata dan jenis ancaman bencana yang ada pada destinasi wisata. Melalui penelitian ini, delapan tipe mitigasi bencana pilihan tersebut apabila dikaji secara lebih mendalam bisa dikelompokkan berdasarkan tingkat kompleksitas implementasi mitigasi bencana dimana kompleksitas tersebut berakar dari perbedaan kombinasi jenis ancaman bencana yang dihadapi oleh masing-masing tipe.