cover
Contact Name
Hakimatul Mukaromah
Contact Email
hakimatul.m@ft.uns.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
desakota@mail.uns.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Desa-Kota : Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman
ISSN : -     EISSN : 26565528     DOI : -
Desa-Kota, adalah jurnal perencanaan wilayah, kota, dan permukiman, yang tujuan utamanya adalah untuk memperdalam pemahaman tentang kondisi perkotaan, perdesaan, dan kewilayahan, serta perubahan dan dinamika yang terjadi di area tersebut, baik dari perspektif empiris, teoretis, maupun kebijakan.
Arjuna Subject : -
Articles 96 Documents
Konsep Hutan Bakau sebagai Konsep untuk Mitigasi Tsunami di Banda Aceh, Indonesia Suci Senjana; Tasliati Djafar; Rufia Andisetyana Putri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.70756.163-171

Abstract

Pada tahun 2004, tsunami Samudra Hindia melanda Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dengan gelombang setinggi 11 meter. Peristiwa ini menjadikan banyak pihak sadar dan memberi perhatian untuk melindungi kota dari ancaman bahaya alam tidak terduga di masa depan. Berkembang penelitian-penelitian yang mengusulkan solusi berbasis alam, terutama penggunaan vegetasi untuk dapat mendukung tanggul dalam mengurangi kecepatan aliran air tsunami, diantaranya melalui penggunaan tanaman bakau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan penggunaan hutan bakau untuk mendukung tanggul struktural dalam meningkatkan kapasitas mitigasi tsunami di garis pantai Banda Aceh. Studi ini diawali dengan survei dan observasi wilayah pesisir Kota Banda Aceh yang dilanjutkan dengan penggunaan metode projective design strategy untuk membuat perencanaan skenario hutan bakau pada perencanaan lanskap garis pantai Kota Banda Aceh. Analisis data sekunder dengan menggunakan literatur membantu menyusun kerangka kerja konseptualisasi hutan bakau di Kota Banda Aceh. Tanaman bakau sebagai elemen lanskap dan penerapannya sebagai hutan bakau menjadi fokus penelitian ini. Alih-alih membandingkan mana yang harus dipilih antara tanaman bakau dan tanggul, penelitian ini meninjau bagaimana keduanya digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat dan ekosistem. Hasil dari penelitian ini adalah konsep skenario pemanfaatan hutan bakau dengan jarak 1,5 km dari bangunan dan mendampingi fungsi tanggul serta jalur evakuasi dalam usaha mengurangi kerusakan akibat tsunami yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini tidak mengkritik penggunaan tanggul struktural, tetapi mengembangkan pengetahuan bagi para praktisi dan pemangku kepentingan untuk menyelidiki opsi dalam melengkapi strategi perencanaan dan desain kota dalam isu ini untuk berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan.
Penataan Permukiman Kumuh di Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo dan Dampaknya terhadap Kualitas Hidup Masyarakat Hariz Fakhri; Winny Astuti; Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67515.64-76

Abstract

Permukiman kumuh merupakan kawasan dengan kualitas infrastruktur yang tidak terjamah oleh pertumbuhan dan pembangunan perkotaan. Penataan permukiman kumuh merupakan proses penyelesaian permukiman kumuh dengan fokus penataan pada tujuh komponen, yaitu penataan bangunan, jalan lingkungan, air bersih, sanitasi, drainase, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Upaya penyelesaian permukiman kumuh dapat memberikan dampak bagi kualitas hidup masyarakat setempat. Kondisi kualitas hidup yang diteliti pada penelitian ini adalah kondisi sosial dan ekonomi pada masyarakat Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo, Kota Surakarta. Pemilihan kawasan tersebut didasarkan pada kondisi kawasan permukiman kumuh yang sudah selesai pada tahapan penataan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup pada Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan metode penelitian kuantitatif dilakukan pada pengujian hipotesis untuk melihat perubahan kualitas hidup dengan analisis paired sample t-test. Metode penelitian kualitatif dilakukan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara terhadap masyarakat Kawasan HP 00001. Hasil dari pengumpulan data kuesioner tersebut menjadi input untuk analisis paired sample t-test. Dari hasil pengujian hipotesis paired sample t-test, didapatkan kesimpulan bahwa pada Kawasan HP 00001 terdapat perubahan kualitas hidup baik dari kondisi ekonomi maupun sosial. Perubahan yang terjadi pada kondisi sosial yaitu kondisi kesehatan, perilaku, interaksi sosial, dan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Perubahan yang terjadi pada kondisi ekonomi yaitu perubahan pada pendapatan dan kepemilikan aset masyarakat. Adapun pekerjaan dan kepuasan kerja masyarakat tidak mengalami perubahan sebelum dan sesudah penataan permukiman kumuh. Hal tersebut mengakibatkan adanya dampak signifikan dan dampak tidak signifikan. Dampak signifikan terjadi pada kondisi kesehatan, perilaku masyarakat, interaksi sosial, keamanan terhadap bahaya kebakaran, pendapatan, dan kepemilikan aset. Dampak tidak signifikan terjadi pada pekerjaan dan kepuasan kerja.
Hubungan Perubahan Kerapatan Vegetasi dan Bangunan terhadap Suhu Permukaan Lahan: Studi Kasus di Aglomerasi Perkotaan Surakarta Prasetyo Wibisono; Nur Miladan; Rizon Pamardhi Utomo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.63639.148-162

Abstract

Tingginya tingkat urbanisasi pada suatu kota menimbulkan permasalahan yang kompleks, diantaranya meningkatnya aktivitas masyarakat yang berdampak pada berkurangnya lahan vegetasi pada kawasan perkotaan. Seringkali ditemukan bahwa kerapatan vegetasi wilayah suburban lebih tinggi daripada di pusat kota. Dengan demikian, terdapat perbedaan suhu yang cukup signifikan antara wilayah suburban dan pusat kota. Hal tersebut memicu terbentuknya pulau panas di perkotaan atau yang biasa disebut Urban Heat Island (UHI). Salah satu fenomena UHI dapat dilihat di Kota Surakarta. Peningkatan perubahan tutupan lahan terbangun dan peningkatan konsentrasi aktivitas masyarakat di Kota Surakarta dapat memicu peningkatan suhu permukaan kota. Bertolak pada masalah tersebut penelitian ini berupaya mengetahui hubungan perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan di aglomerasi perkotaan Surakarta terhadap suhu permukaan lahan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 2000-2021, kerapatan vegetasi mengalami penurunan setiap tahunnya. Berbeda dengan kerapatan vegetasi, kerapatan bangunan pada kawasan penelitian mengalami peningkatan setiap tahunnya. Perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan juga diikuti terjadinya peningkatan suhu sebesar 4,24°C. Hal tersebut terjadi akibat peningkatan lahan terbangun tiap tahunnya yang tidak diimbangi dengan peningkatan lahan bervegetasi sebagai peneduh dalam wilayah perkotaan. Berdasarkan analisis regresi linear berganda, diketahui bahwa adanya perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan memiliki hubungan sedang terhadap terjadinya perubahan suhu permukaan dengan pengaruh sebesar 30,2%. Berdasarkan uji T parsial, diketahui bahwa perubahan kerapatan vegetasi dan kerapatan bangunan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan suhu permukaan secara terpisah.
Pemanfaatan Ruang Publik Kawasan Kuliner sebagai Destinasi Wisata di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat Nadhifa Fadhila; Istijabatul Aliyah; Chrisna Trie Hadi Permana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.69452.172-183

Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan hidup manusia, kebutuhan ruang untuk melayani aktivitas manusia sehari-hari semakin meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat dituntut inovatif memanfaatkan ruang. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner. Namun, pemanfaatan ruang publik tersebut dapat menimbulkan beberapa masalah seperti meningkatnya kemacetan kawasan serta masalah kebersihan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Proses identifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota dilakukan dengan melakukan observasi terhadap kondisi fisik ruang publik, kebutuhan wisatawan dan masyarakat setempat, kebijakan dan regulasi yang berlaku, serta hal-hal yang terkait dengan iklim sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang publik yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota memiliki desain, bentuk, dan aktivitas beragam. Kawasan kuliner memiliki desain ruang publik tertutup, ruang publik terbuka, dan ruang publik semi terbuka. Desain ruang publik tersebut memiliki dua yaitu persegi (square) dan memanjang (linier). Dengan adanya ruang publik tersebut, masyarakat memiliki keragaman aktivitas, baik aktivitas utama maupun aktivitas kuliner yang ada di kawasan kuliner. Selain itu, kawasan kuliner memiliki desain yang unik dan menarik, keragaman kuliner, hingga lingkungan yang menarik sehingga memiliki daya tarik wisata bagi para wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Potensi Peningkatan Perekonomian Pelaku Usaha Lokal sebagai Dampak Perubahan Guna Lahan pada Kawasan Wisata: Studi Kasus Kawasan Wisata Rowo Jombor, Kabupaten Klaten Zaimul Azzah Aszahro; Isti Andini; Winny Astuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67560.77-89

Abstract

Kawasan Wisata Rowo Jombor merupakan salah satu pembentuk citra wisata Kabupaten Klaten. Upaya revitalisasi Waduk Rowo Jombor dan penyusunan Masterplan Kawasan Rowo Jombor 2037 bertujuan untuk mengembalikan fungsi waduk yang menurun akibat pendangkalan dan mengembangkan objek wisata, sarana, dan prasarana penunjang wisata di Waduk Rowo Jombor. Pengembangan atraksi, objek wisata, sarana, prasarana destinasi wisata yang memindahkan aktivitas dari atas air ke daratan akan berdampak bagi perubahan guna lahan di sekitar kawasan sebagai manifestasi peningkatan aktivitas masyarakat terutama dalam bidang perekonomian. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi peningkatan perekonomian pelaku usaha lokal sebagai dampak perubahan guna lahan di Kawasan Wisata Rowo Jombor. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis proyeksi perubahan penggunaan lahan dan proyeksi peningkatan perekonomian. Adanya perubahan penggunaan lahan untuk mengakomodasi pengembangan dan pembangunan objek wisata dan sarana penunjang wisata pada tahun 2037 diproyeksikan akan meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal sebesar 462% melalui peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja baru, dan penyerapan tenaga kerja pada objek wisata maupun sarana penunjang wisata. Kontribusi terbesar terhadap peningkatan perekonomian disumbangkan oleh peningkatan pendapatan pelaku usaha pada atraksi Embung Purbosari yang diproyeksikan mengalami perluasan penggunaan lahan wisata sebesar 5,71 ha dengan peningkatan pendapatan sebesar lebih dari Rp 2.576.556.906,10.
Kajian Aksesibilitas dan Konektivitas Stasiun Transit KRL Manggarai dan Depok terhadap Jalur KRL Regional Jakarta-Depok Adjrina Fildzah Pelawi; Paramita Rahayu; Hakimatul Mukaromah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.63805.1-14

Abstract

Masifnya pergerakan akibat fenomena urbanisasi pada kawasan perkotaan Jabodetabek memicu peningkatan permintaan terhadap jaringan transportasi. Permintaan akan jaringan dan moda transportasi kemudian membentuk koridor perkotaan, termasuk Jakarta-Depok. Berbagai jaringan dan moda transportasi saling terhubung melalui jaringan transportasi lokal yang berkembang. Salah satunya adalah Kereta Rel Listrik (KRL) jalur Manggarai-Depok yang memiliki aktivitas komuter yang tinggi. Keberadaan stasiun transit membutuhkan adanya konektivitas dan aksesibilitas lokal yang baik. Jalur Manggarai-Depok dipilih berdasarkan tingginya jumlah penumpang serta status stasiun yang merupakan stasiun kereta kelas besar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, studi literatur, dan kuesioner. Teknik analisis yang dilakukan adalah teknik analisis spasial deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menitikberatkan pada kajian terhadap tingkat aksesibilitas dan konektivitas kawasan stasiun transit ke titik stasiun sebagai bagian dari jalur transportasi regional KRL Jakarta-Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas jaringan jalan lokal pada area delineasi dengan radius 800 m dari stasiun sangat tinggi. Sementara itu, jaringan jalan primer yang berupa jalan arteri sekunder memiliki nilai yang tinggi untuk Stasiun Manggarai dan memiliki nilai aksesibilitas sedang untuk Stasiun Depok. Konektivitas yang menghubungkan kawasan delineasi dengan berbagai pusat kegiatan perkotaan pada kawasan yang lebih luas memiliki nilai sangat baik. Dapat dikatakan kedua stasiun transit terhubung dengan baik, baik secara lokal maupun dengan kawasan perkotaan yang lebih luas. Oleh karena itu, aksesibilitas dan konektivitas Stasiun Manggarai dan  Stasiun Depok mampu mendukung pergerakan regional pada koridor perkotaan Jakarta-Depok.
Tingkat Kesesuaian Fisik Spasial Kawasan Strategis Sektor Perdagangan dan Jasa: Studi Kasus Kawasan Nusukan, Kota Surakarta Nuraini Nuraini; Rizon Pamardhi Utomo; Raden Chrisna Trie Hadi Permana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.70118.184-203

Abstract

Kawasan Nusukan (Joglo dan sekitarnya) ditetapkan sebagai kawasan strategis sektor perdagangan dan jasa sejak sebelum RTRW Kota Surakarta direvisi hingga RTRW versi terbaru tahun 2021-2041. Setelah dua kali ditetapkan sebagai kawasan strategis sektor perdagangan dan jasa, masih ditemui beberapa permasalahan fisik yang menghambat pemenuhan kriteria fisik spasial Kawasan Nusukan sebagai kawasan pusat perdagangan dan jasa. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain belum adanya perkembangan signifikan pada guna lahan perdagangan dan jasa, belum tersedianya jenis perdagangan dan jasa kategori hiburan yang biasanya terdapat pada kawasan pusat perdagangan dan jasa, masih adanya parkir on-street yang mempersempit ruang gerak kendaraan, kurang tersedianya jalur pedestrian, dan kemacetan pada jam-jam sibuk. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tingkat kesesuaian fisik spasial Kawasan Nusukan sebagai kawasan strategis sektor perdagangan dan jasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pembobotan metode weighted product dan analisis skoring. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dari aspek kestrategisan lokasi, Kawasan Nusukan tergolong cukup strategis yaitu memiliki nilai sentralitas tinggi, terhubung dengan pusat-pusat kegiatan yang ada di sekitarnya melalui jaringan moda transportasi umum dengan tingkat kemudahan akses dari segi keterkaitan jarak dan kelancaran lalu lintas kategori sedang. Dari aspek karakteristik spasial aktivitas ekonomi, pola aktivitas perdagangan dan jasa sudah menunjukkan pola klaster, tingkat densitas sedang dengan keragaman aktivitas perdagangan dan jasa yang tinggi. Dari segi kelengkapan infrastruktuktur, sebanyak 41% zona perdagangan dan jasa menyediakan ruang parkir, sehingga masih ditemuinya parkir pada badan jalan. Ketersedian pedestrian hanya sejumlah 27% dari total panjang jalan yang membutuhkan pedestrian sehingga antar bangunan perdagangan dan jasa kurang terkoneksi. Berdasarkan variabel yang telah diujikan, nilai kesesuaian fisik spasial Kawasan Nusukan sebagai kawasan strategis perdagangan dan jasa termasuk dalam kategori sedang, yang berarti sudah cukup memenuhi kriteria fisik spasial kawasan pusat pelayanan perdagangan dan jasa, serta hanya diperlukan sedikit upaya peningkatan dari segi infrastruktur untuk mencapai kondisi ideal.
Kesesuaian Komponen Fisik Taman Kota dalam Mendukung Penerapan Konsep Kota Berkelanjutan di Kota Surakarta: Studi Kasus Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari Nadira Nurul Putri; Galing Yudana; Lintang Suminar
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.68013.90-103

Abstract

Kota Surakarta memiliki visi menjaga keseimbangan kebutuhan lahan dan daya tampung lingkungan dengan pertumbuhan penduduk untuk mewujudkan kota berwawasan pembangunan berkelanjutan. Salah satu indikator lingkungan dalam konsep kota berkelanjutan adalah terkait penyediaan area hijau perkotaan. Berdasarkan dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kota Surakarta tahun 2021, luas taman kota yang tersedia hanya 1,22% dari luas wilayah Kota Surakarta. Hal tersebut menunjukkan belum tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 20% dari luas wilayah kota. RTH juga memiliki fungsi sosial untuk meningkatkan kualitas hidup warga kotanya. Indeks Pembangunan Manusia di Surakarta pada tahun 2021 adalah 82,62 dimana angka tersebut tergolong tinggi dan harus dipertahankan ke depannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian komponen taman kota dalam mendukung penerapan konsep kota berkelanjutan di Kota Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deduktif dengan jenis penelitian kuantitatif. Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari dipilih sebagai sampel penelitian. Teknik analisis yang digunakan adalah skoring yang dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu skoring indikator, skoring komponen, dan skoring keseluruhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa komponen taman kota yang sesuai dengan kota berkelanjutan terdiri atas vegetasi, keanekaragaman hayati, iklim mikro, ragam aktivitas, fasilitas sosial budaya, aksesibilitas, dan kegiatan wisata alam. Komponen taman kota yang tergolong tidak sesuai dengan kota berkelanjutan terdiri atas pengelolaan tata air, pemanfaatan sumber daya terbarukan, identitas budaya, kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan aktivitas ekonomi. Skor Stadion Sriwedari tergolong dalam kesesuaian sedang sedangkan skor Stadion Manahan tergolong dalam kesesuaian tinggi. Secara keseluruhan, skor kesesuaian taman kota dalam mendukung penerapan konsep kota berkelanjutan tergolong dalam kesesuaian sedang yang berarti diperlukan peningkatan kualitas taman kota supaya dapat mendukung Kota Surakarta menjadi kota berkelanjutan dalam rangka mewujudkan visi misi Kota Surakarta, meningkatkan penyediaan taman kota di Surakarta, dan mempertahankan Indeks Pembangunan Manusia Surakarta.
Efektivitas Taman Kota Madiun dalam Memenuhi Kebutuhan Ruang Publik dari Perspektif Pengunjung Shabrina Hapsari; Erma Fitria Rini; Murtanti Jani Rahayu
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.64554.15-34

Abstract

Taman kota merupakan ruang publik yang tersedia di kota guna memenuhi kebutuhan masyarakat untuk beraktivitas, beristirahat, dan berwisata. Kota Madiun sebagai pusat pengembangan wilayah di Provinsi Jawa Timur bagian barat menjadi magnet bagi kabupaten di sekitarnya sehingga meningkatkan aktivitas di Kota Madiun. Meningkatnya aktivitas kota membuat tingginya mobilitas penduduk sehingga keberadaan taman kota penting untuk mengimbanginya. Dalam mencapai perannya, taman kota tidak hanya dilihat dari keberadaannya, tetapi juga bagaimana taman kota tersebut mampu memenuhi kebutuhan pengunjung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas taman-taman di Kota Madiun dilihat dari kebutuhan pengunjung terhadap  ruang publik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan pendekatan deduktif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi, dan studi literatur. Penelitian ini menggunakan teknik analisis skoring dengan pengukuran Skala Guttman. Efektivitas taman kota dilihat dari kebutuhan pengunjung taman kota, yaitu kenyamanan, keamanan, aktivitas, dan aksesibilitas. Berdasarkan analisis terhadap keempat kebutuhan pengunjung di ruang publik tersebut, keamanan merupakan kebutuhan yang terpenuhi di setiap taman kota, sedangkan ketiga kebutuhan lain belum terpenuhi secara keseluruhan di setiap taman kota. Tingkat efektivitas taman kota dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu efektif, cukup efektif, dan tidak efektif. Berdasarkan hasil analisis, tujuh taman kota di Kota Madiun termasuk dalam kategori efektif dan satu taman kota masuk dalam kategori cukup efektif.
Pengaruh Life Course Event terhadap Housing Mobility Silka Azzahra Shafa Aulia; Joko Adianto
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.70576.204-213

Abstract

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Alvara Research Center, diketahui bahwa generasi milenial mendominasi populasi di Indonesia pada tahun 2020 dengan porsi sekitar 34 persen dan diikuti 20 persen generasi X. Milenial lebih memilih tinggal bersama orang tuanya, sehingga mengarah pada keterlambatan kepemilikan rumah. Sebaliknya, Gen X (lahir 1965 hingga 1980) yang dicirikan sebagai pemecah masalah yang baik dan logis memiliki karakteristik dan preferensi kepemilikan rumah yang berbeda daripada generasi milenial. Hal ini menjadikan menarik untuk membahas perjalanan perpindahan rumah para Gen X sebelum akhirnya memiliki rumah kepemilikan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perjalanan hidup (life course) terhadap perpindahan rumah (housing mobility) yang dialami oleh Gen X. Perjalanan hidup (life course event) diartikan sebagai pendekatan untuk menyelidiki perubahan lingkungan individu dan implikasi perkembangannya berdasarkan usia dalam matriks hubungan sosial dan proses perkembangan. Mobilitas perumahan (housing mobility) diartikan sebagai kejadian berpindah–pindah suatu rumah tangga dalam proses menempati tempat tinggal secara pribadi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tidak terstruktur. Narasi yang disusun memungkinkan untuk memeriksa interkoneksi banyak elemen perjalanan hidup yang kompleks. Wawancara dilakukan pada bulan Mei 2022 melalui sambungan telepon. Hasil studi ini mengungkapkan sifat mobilitas perumahan serta kemungkinan menghadapi perubahan arah kehidupan tergantung pada tahapan perjalanan hidup rumah tangga tersebut. Maka dari itu, model perilaku mobilitas perumahan harus memasukkan penyesuaian perumahan dan perubahan dalam perjalanan hidup rumah tangga.

Page 8 of 10 | Total Record : 96