cover
Contact Name
Nadya Adharani
Contact Email
nadya@unibabwi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallemuru@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ikan Tongkol No. 22 Kertosari
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Lemuru : Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26857227     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Lemuru merupakan jurnal ilimiah dalam bidang ilmu perikanan dan kelautan dengan lingkup naskah yang dimuat adalah teknologi hasil perikanan, pengolahan perikanan, pengelolaan sosial ekonomi perikanan, budidaya perikanan, biotekbologi perikanan, ilmu kelautan, teknologi kelautan, bioteknologi kelautan, dan konservasi perairan.
Articles 127 Documents
TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaus vannamei) DENGAN SISTEM INTENSIF DI PT. BENTALA WINDU DESA BANJARSARI, KECAMATAN SUMBERASIH KABUPATEN PROBOLINGGO PROVINSI JAWA TIMUR Halili, Al Farisi; Adharani, Nadya; Wardhana, Megandhi Gusti
JURNAL LEMURU Vol 6 No 2 (2024): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas udang yang banyak dibudidayakan di Indonesia, udang vaname dikalangan masyarakat familiar disebut dengan udang putih karena berwarna putih dan tubuhnya transparan. Besarnya permintaan terhadap produk perikanan ini disebabkan oleh tingginya permintaan konsumen yang beralih konsumsi dari udang windu ke udang vaname. Metode yang digunakan berupa metode deskriptif dan data sekunder. Mekanisme kegiatan budidaya udang vaname dimulai dari persiapan kolam, persiapan air, penebaran benur, manajemen kualitas air, manajemen pakan dan pertumbuhan udang, manajemen kesehatan udang, dan manajemen panen. Hasil parameter kualitas air yang didapatkan selama kegiatan budidaya selama per minggu yaitu Salinitas 16-31 ppt, TOM (Total Organik Matter) 70-118 ppm, DO (Dissolved Oxygen) 5-8 ppm, pH 7,1-9, Alkalinitas 120-300 ppm, NO₂ 0,5-0,25, NO₃ 20-40 ppm, NH₄ 0,1-1,5, PO₄ 0,5-3. Analisis usaha yang didapatkan dalam 1 siklus pada kegiatan budidaya udang vaname di PT. Bentala Windu Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur modal usaha budidaya udang vaname sebanyak Rp. 702.834.143.
Addition of Euchema cottoni Carrageen to the Characteristics of Kurisi Fish (Nemipterus nematophorus) Pempek TRI ADI WIBOWO; DESY SASRI UNTARI; ARLIN WIJAYANTI
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.7343

Abstract

Gel-based diversified fish products such as pempek generally have a chewy texture due to the formation of a fish protein gel matrix that is reinforced by tapioca starch during mixing and cooking processes such as boiling. However, in their processing, errors in stages commonly occur that can result in a final product that is not chewy. Therefore, a gelling agent is needed to maintain its chewy texture, such as carrageenan. Threadfin bream fish (Nemipterus nematophorus) is a type of fish with white flesh that is high in protein, but its potential as a raw material for diversified fish products has not been fully utilized. This study aims to examine the effect of adding carrageenan extracted from Eucheuma cottonii seaweed on the sensory characteristics of pempek from Threadfin bream fish, including appearance, odor, taste, and texture. The method used was a completely randomized design (CRD) non-factorial with four carrageenan addition treatments (0%, 2%, 4%, and 6%) and three replications. The characteristic tests included appearance, aroma, taste, and texture. The results showed that the addition of carrageenan had a significant effect on the appearance, aroma, and taste of pempek (P<0.05), but did not significantly affect the texture (P>0.05). The best treatment was obtained with the addition of 2% carrageenan. The highest carrageenan concentration (6%) had the lowest value, as it produced a darker product, a slightly rancid aroma, and a firmer texture. Overall, the addition of 2% Eucheuma cottonii carrageenan improved the sensory quality of pempek from Threadfin bream fish
Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan Rumah Makan Seafood XYZ Kota Samarinda Yoaclin Siga
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.8161

Abstract

Rumah makan adalah usaha penyediaan makanan dan minuman dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk penyimpanan dan penyajian di suatu tempat yang tidak berpindah-pindah dengan tujuan memperoleh keuntungan dan laba. Kepuasan konsumen merupakan suatu keadaan dimana harapan konsumen terhadap suatu produk sesuai dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen. Kepuasan pelanggan adalah sebagai perasaan suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu produk setelah membandingkan prestasi produk tersebut dengan harapannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan konsumen terhadap rumah makan seafood XYZ Samarinda dan sejauh mana kualitas pelayanan terhadap konsumen di rumah makan seafood XYZ Samarinda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Acidental Samling dengan teknik Purposive Sampling. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan pada rumah makan XYZ Samarinda dengan diukur dalam lima dimensi (tangible, reliabilty, responsiveness, assurance, emphaty) pada hasil ukur kelima dimensi tersebut memiliki gap skor. Dimensi tangible menunjukan rata-rata sebesar 3.83 dengan gap skor 0.34, dimensi reliabilty menunjukan rata-rata sebesar 3.87 dengan gap skor 0.32, dimensi responsiveness menunjukan rata-rata sebesar 3.78 dengan gap skor 0.34, dimensi assurance menunjukan rata-rata sebesar 3.83 dengan gap skor 0.36, dimensi emphaty menunjukan rata-rata sebesar 3.76 dengan gap skor 0.32 dengan hasil keseluruhan gap skor yang didapat sebesar 1.68 sehingga hasil penilaian terhadap kepuasan konsumen terhadap kualitas rumah makan seafood XYZ Samarinda mendapatkan hasil sangat puas dengan rata-rata gap skor 0.33. Kata kunci : Rumah Makan, Konsumen, Pelayanan
OPTIMASI PEMUPUKAN ORGANIK DAN SISTEM RESIRKULASI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI BIOMASSA TUBIFEX SP. SEBAGAI PAKAN ALAMI BERKELANJUTAN Mafrukhatul Mabruroh; Pungky Slamet Wisnu Kusuma; Dyah Hariani; Erika Saraswati
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.8431

Abstract

Tubifex sp. dikenal sebagai pakan alami bernilai tinggi dalam akuakultur karena kandungan proteinnya tinggi dan sangat baik untuk pertumbuhan larva ikan. Namun demikian, ketersediaannya masih sangat bergantung pada hasil tangkapan alam dan seringkali menyebabkan ketidakstabilan pasokan serta potensi risiko kontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai dosis pupuk kotoran ayam yang dikombinasikan dengan sistem resirkulasi dalam meningkatkan produksi biomassa Tubifex sp. pada kondisi terkontrol. Metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima kali ulangan, yaitu P0 (kontrol), P1 (500 g/0,098 m²), P2 (1000 g/0,098 m²), dan P3 (1500 g/0,098 m²). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan biomassa, tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate/SR), rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR), serta kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kotoran ayam berpengaruh nyata pada produksi biomassa (P<0,05), hasil tertinggi dicapai P3. Peningkatan input bahan organik mampu meningkatkan ketersediaan mikroorganisme yang berperan sebagai sumber pakan utama bagi Tubifex sp. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian berada dalam kisaran optimal, hal ini menunjukkan bahwa sistem resirkulasi mampu menjaga stabilitas kualitas air secara efektif. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi pemupukan organik dan teknologi resirkulasi merupakan strategi yang layak dan aplikatif untuk meningkatkan produksi pakan alami secara berkelanjutan dalam sistem akuakultur.
PENGARUH PENAMBAHAN IKAN PARANG-PARANG (Chirocentrus dorab) TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIS DAN DAYA KEMBANG OPAK SINGKONG Azizah Nuraini; A. Nova Zulfahmi; Dian Fitriarni; Yohanes Harvinda
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.8562

Abstract

Cassava opak is a traditional snack that is widely favored by consumers; however, it has a low protein content. Fortification with parang-parang fish (Chirocentrus dorab) meat has the potential to improve product quality and consumer acceptance. This study aimed to evaluate the effect of adding parang-parang fish meat on the sensory characteristics and swelling power of cassava opak, as well as to determine the optimum concentration that produces the highest consumer acceptance. The study employed an experimental method with three levels of fish meat addition, namely P1 (10 g), P2 (20 g), and P3 (30 g), with P0 serving as the control treatment. The parameters observed included appearance, aroma, texture, taste, and swelling power. Sensory evaluation was conducted using a hedonic test involving 25 semi-trained panelists. Data were analyzed using One-Way Analysis of Variance (ANOVA), followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the addition of parang-parang fish meat had a significant effect (p<0.05) on the sensory characteristics and swelling power of cassava opak. Treatment P1 produced the highest preference scores for appearance and taste, while aroma preference increased with increasing fish meat concentration. Swelling power decreased from 108.45% in the control treatment (P0) to 40.56% in P3. The best treatment was P1, with a swelling power of 90.34% and the highest overall sensory acceptance among the panelists.
Pengembangan PENGEMBANGAN ODENG DARI SURIMI IKAN BULAN-BULAN (MEGALOPS CYPRINOIDES): EVALUASI SENSORI SERTA PERUBAHAN PH DAN KADAR AIR SELAMA PENYIMPANAN BEKU: Indonesia Abdul Rahman; Siti Hajar
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.8542

Abstract

The Indo-Pacific Tarpon (Megalops cyprinoides Broussonet, 1782) is a common by-catch species that remains underutilized despite its high protein content (25,5g of protein/100g of fish). This study aims to innovate a frozen food product in the form of fish "odeng" (fish cake) to increase economic added value for the community. The research employed an experimental method focusing on three different formulations of surimi and tapioca starch: P1 (25%:75%), P2 (50%:50%), and P3 (75%:25%). Parameters tested included hedonic sensory analysis involving 30 untrained panelists based on SNI 2346:2015 standards, alongside moisture content and pH value analysis during 9 days of frozen storage at -18°C. The processing stages involved mixing surimi with salt, seasonings, and tapioca starch, followed by steaming the dough (±0,3cm) at 80°C to 100°C for 15 minutes, packaging, and freezing. The hedonic test results showed that P3 was the best formulation with an accumulative score of 7.9 (liked category), particularly excelling in flavor (8.2) and texture (8.5). During 9 days of storage, the moisture content of P1 dropped drastically to 16.83%, while P2 (45.38%) and P3 (62.40%) increased. The pH value of all formulations surged significantly from day 0 (average of 4.79) to day 1 (average of 6.23) and remained stable below 6.5 until day 9. This indicates that the rate of protein degradation occurred slowly during frozen storage, and the product is safe for consumption
Processing PENGEMBANGAN GYOZA IKAN SELAR (SELAROIDES sp.) SEBAGAI DIVERSIFIKASI PRODUK PERIKANAN: KAJIAN PROSES PENGOLAHAN DAN KARAKTERISTIK SENSORI: Indonesia Nur Fitma Sari; Siti Hajar
JURNAL LEMURU Vol 8 No 1 (2026): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jl.v8i1.8567

Abstract

Ikan selar (Selaroides sp.) merupakan komoditas pelagis kecil yang melimpah di perairan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, namun pemanfaatannya masih terbatas pada produk olahan tradisional bernilai tambah rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan gyoza berbahan dasar ikan selar sebagai bentuk diversifikasi produk perikanan, mengkaji tahapan proses pengolahannya, serta mengevaluasi karakteristik sensori dan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan eksperimen sederhana di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, Politeknik Negeri Nunukan, pada bulan Maret hingga Juni 2026. Gyoza dikembangkan dalam tiga formulasi berdasarkan variasi rasio daging ikan selar dan sayur kol, yaitu F1 (90%:10%), F2 (80%:20%), dan F3 (70%:30%), dengan metode pemasakan pengukusan (mushi gyoza) pada suhu 100°C selama 10–15 menit. Evaluasi sensori dilakukan melalui uji hedonik berskala 9 poin sesuai SNI 2346:2015 oleh 30 panelis tidak terlatih, mencakup atribut kenampakan, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi F1 memperoleh nilai rata-rata tertinggi sebesar 7,63, diikuti F2 (7,38) dan F3 (6,95). Formulasi F1 dan F2 memenuhi seluruh standar mutu organoleptik SNI 2346:2015 dengan nilai minimum 7, sementara F3 tidak memenuhi standar pada atribut rasa dan tekstur. Formulasi F1 dengan proporsi ikan selar 90% ditetapkan sebagai formulasi terbaik dan direkomendasikan untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pangan inovatif berbasis sumber daya perikanan lokal di Kabupaten Nunukan

Page 13 of 13 | Total Record : 127