cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Psibernetika
ISSN : 19793707     EISSN : 25810871     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Psibernetika (P-ISSN 1979-3707, E- ISSN 2581-0871) adalah jurnal psikologi yang berfokus pada hasil-hasil penelitian ilmiah psikologi yang mencakup Psikologi Industri dan Organisasi, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Positif. Jurnal Psibernetika diterbitkan oleh Program Studi Psikologi Universitas Bunda Mulia, Jakarta. Jurnal Psibernetika terbit dua kali dalam setahun di bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 180 Documents
PERAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DENGAN ORGANIZATIONAL COMMITMENT PADA KARYAWAN CV. X SURABAYA Honey Wahyuni Elgeka; Maria Yolanda; Heru Hariyanto
Psibernetika Vol 15, No 1 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v1i15.3084

Abstract

Komitmen karyawan menjadi hal yang penting bagi perusahaan, dimana karyawan dapat menunjang dan membantu terbentuknya kemajuan organisasi. Kepedulian perusahaan terhadap pemenuhan kebutuhan karyawan menjadi tolak ukur terbentuknya komitmen karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara perceived organizational support dengan organizational commitment. Subjek pada penelitian ini adalah karyawan CV. X Surabaya sejumlah 110 orang yang didapatkan dengan menggunakan accidental sampling. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment. Hasil pengujian menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara perceived organizational support dengan organizational commitment. Komitmen karyawan dapat muncul karena adanya keyakinan bahwa perusahaan menghargai kontribusi mereka dan perusahaan memperhatikan kesejahteraan para karyawannya. Oleh karena itu CV. X Surabaya diharapkan dapat terus mempertahankan dukungan dan kepeduliannya terhadap para karyawan.
PERILAKU SEHAT DAN DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI PREDIKTOR SUBJECTIVE WELL BEING PADA PURNA TUGAS DI PT PERUSAHAN LISTRIK NEGARA (PERSERO) WILAYAH KOTA AMBON Lidia Kastanya; Sutarto Wijono; A. Ign. Kristijanto
Psibernetika Vol 15, No 1 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v1i15.3371

Abstract

Menikmati masa purna tugas dengan bahagia merupakan harapan semua orang, namun tidak semua orang mampu mencapai kepuasan hidup dan kebahagiaan sebagai bagian dari kesejahteraan psikologis subjektif (subjective well-being) di hari tua. Salah satu penyebab sulitnya seseorang menjalani purna tugas adalah kekhawatiran berlebihan akan hidup dan kesehatan fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perilaku sehat dan dukungan sosial secara simultan terhadap subjective well-being purna tugas PT PLN Persero di kota Ambon berdasarkan status kerja. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan 168 responden yang terdiri dari 90 purna tugas dan 78 karyawan jelang purna tugas menggunakan purposif sampling. Skala Health Behavior Checklist (HBC), Skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support, dan skala Satisfaction With Life (SWLS) dan Positive Affect And Negative Affect Scale (PANAS) digunakan dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya perilaku sehat yang berpengaruh terhadap subjective well-being pada purna tugas maupun juga jelang purna tugas. Pada purna tugas hasil (R=0,632) dengan nilai F=114,020 dan nilai signifikansi= 0,000(p<0,05) dan R2=40,4%, sedangkan jelang purna tugas (R=0,775) dengan nilai F= 205,453 dengan nilai signifikasi 0,000(p<0,05) dan R2=60,44%. Uji Beta t-test subjective well-being antara purna tugas dan jelang purna tugas menunjukan nilai t=1,037 dengan signifikasi sebesar 0,301>0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan subjective well-being pada purna tugas maupun jelang purna tugas.Kata Kunci: perilaku sehat; dukungan sosial; subjective well-being
SUBJECTIVE WELL BEING, PERILAKU AGRESIF DAN ATTRIBUTIONAL STYLE PADA REMAJA YANG BERASAL DARI KELUARGA BROKEN HOME Vivianti Hanania; Garvin Garvin
Psibernetika Vol 15, No 1 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v1i15.3236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara subjective well-being, perilaku agresif dan attributional style. Partisipan dalam penelitian ini adalah 402 orang remaja (72,6% perempuan) berusia 13-19 tahun yang berasal dari keluarga broken home. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah PANAS, Aggression Quesstionnaire, dan The Attributional Style Questionnaire; ketiganya diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan diujicobakan terlebih dahulu. Hasil uji korelasi Spearman menemukan bahwa adanya hubungan negatif yang signifikan antara subjective well being dengan perilaku agresif (rs = 0,430), dan antara attributional style dengan perilaku agresif (rs = -0,111). Temuan ini selaras dengan temuan-temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa attributional style jenis optimism dan subjective well-being berhubungan negatif dengan perilaku agresif. Adapun penelitian ini mengonfirmasi bahwa keterkaitan tersebut tidak hanya muncul pada sampel remaja secara umum, tetapi secara spesifik juga muncul remaja yang mengalami broken home.
Studi Deskriptif: Kesejahteraan Psikologis pada Remaja Sri Widyawati; Martha Kurnia Asih; Retno Ristiasih Utami
Psibernetika Vol 15, No 1 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v1i15.3336

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kondisi kesejahteraan psikologis pada remaja ditinjau dari usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi orangtua, dan aktivitas intensionalnya.. Subjek penelitian adalah 287 remaja Indonesia. Data dikumpulkan dengan menggunakan Skala Kesejahteraan Psikologis. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik  Anova. Teknik anava mengungkap hasil bahwa rata-rata remaja dalam penelitian ini memiliki kesejahteraan psikologis yang tergolong sedang. Hasil analisis juga mengungkap bahwa tidak ada perbedaan kesejahteraan psikologis yang berarti pada remaja jika ditinjau dari jenis kelamin, status sosial ekonomi orangtua maupun keterlibatan dalam aktivitas intensionalnya.
Hubungan antara Mattering to Peers dengan Kesepian pada Dewasa Awal Michelle Christina; Helsa Helsa
Psibernetika Vol 15, No 1 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v1i15.3298

Abstract

Individu dewasa yang mengalami kesenjangan dalam hubungan dengan teman sebayanya, dapat membuat mereka mengalami kesepian. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa persepsi dirinya penting untuk teman sebayanya dapat menjadi prediktor tingkat kesepian yang dialami. Namun, belum ada penelitian serupa yang meneliti pada populasi dewasa awal di Indonesia. Padahal, tingkat kesepian pada dewasa awal di Indonesia cenderung tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mattering to peers dengan kesepian pada dewasa awal di Indonesia. Penelitian kuantitatif ini menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 dan The Mattering Index sebagai instrumen penelitian. Partisipan dalam penelitian ini sejumlah 277 orang berusia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan merasa kesepian (51.3%) dan perasaan kesepian ini memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan persepsi bahwa dirinya penting untuk teman sebayanya (r(277) = -.704**, p = .000). Berdasarkan dimensi dalam mattering to peers, dukungan yang diberikan dari teman sebaya (importance) ternyata memiliki korelasi yang paling kuat dengan tingkat kesepian yang dialami (r(277) = -.694**, p = .000).
PERAN ADVERSITY QUOTIENT TERHADAP FEAR OF FAILURE PADA MAHASISWA BIDIKMISI TINGKAT AKHIR (The Role of Adversity Quotient Toward Fear of Failure On Final Year Bidikmisi Students Ayu Purnamasari Ayu; Novia Ananda Putri
Psibernetika Vol 15, No 2 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v15i2.3818

Abstract

 ABSTRACT              Bidikmisi student is someone who gets educational financial assistance in the form of tuition fees with a predetermined time limit, and required to graduate on time. The maximum funding limit for undergraduate students is eight semesters. The existence of these demands makes Bidikmisi final year students feel burdened, and assume that if they cannot achieve the target they must bear the cost of their own education. In addition, these demands cause Bidikmisi students to experience a fear of failure. The demands and problems in the midst of economic limitations require Bidikmisi students to get out of the situation with an adversity quotient. This research was conducted with the aim of knowing the role of adversity quotient on fear of failure in final year Bidikmisi students. This research uses quantitative methods. The participants used in this study were 145 people, and the trial was conducted on 30 people. Research participants were selected using purposive sampling. There are two measuring tools used, namely the fear of failure scale and the adversity quotient scale. The results of data analysis were carried out using a simple regression method. The results of the regression analysis showed that the adversity quotient had a significant role in the fear of failure with a value of R = 0.514, R-square = 0.264, F = 51.277, and p = 0.000 (p < 0.05). Thus, the results of this study prove that the hypothesis proposed by the researcher is accepted, the adversity quotient contributes to the fear of failure.Keywords: Fear of failure, adversity quotientABSTRAKMahasiswa bidikmisi adalah mahasiswa yang mendapatkan bantuan dana pendidikan berupa tanggungan biaya perkuliahan sampai dengan batas waktu yang telah ditetapkan, dan dituntut untuk dapat lulus tepat waktu. Maksimal batas pembiayaan bagi mahasiswa S1 adalah delapan semester. Adanya tuntutan tersebut membuat mahasiswa bidikmisi tingkat akhir merasa terbebani, dan beranggapan jika tidak dapat mencapai target tersebut diharuskan menanggung biaya pendidikan sendiri. Selain itu, tuntutan tersebut mengakibatkan mahasiswa bidikmisi mengalami fear of failure. Tuntutan dan permasalahan ditengah keterbatasan ekonomi mengharuskan mahasiswa bidikmisi untuk keluar dari situasi tersebut dengan adversity quotient. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peran adversity quotient terhadap fear of failure pada mahasiswa bidikmisi tingkat akhir. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Jumlah partisipan penelitian sebanyak 145 orang, dan uji coba dilakukan terhadap 30 orang. Partisipan penelitian dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Alat ukur yang digunakan ada dua yakni skala fear of failure, dan skala adversity quotient. Hasil analisis data dilakukan dengan menggunakan metode regresi sederhana. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa adversity quotient memiliki peran yang signifikan terhadap fear of failure dengan nilai R = 0,514, R-square = 0,264, F = 51,277, dan p = 0,000 (p < 0,05). Dengan demikian, hasil penelitian ini membuktikan hipotesis yang diajukan peneliti diterima, adanya kontribusi adversity quotient terhadap fear of failure.Kata Kunci: Fear of failure, adversity quotient 
Pengaruh Dukungan Sosial Orang Tua Terhadap Student Well-Being Pada Siswa SMA di Kota Padang Bunga Derima Putri
Psibernetika Vol 15, No 2 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v15i2.3638

Abstract

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat apakah terdapat pengaruh dukungan sosial orang tua terhadap student well-being pada siswa SMA di Kota Padang. Metode penelitian pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan desain korelasi sebab-akibat. Jumlah sampel sebanyak 415 orang siswa SMA di Kota Padang dengan teknik pengambilan sampel yaitu two-stage cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan modifikasi skala dukungan sosial orang tua yang dibuat oleh Selindia (2021) (α = .955) dan modifikasi skala student well-being yang dibuat oleh Fadhilah (2019) (α = .915). Hasil pada penelitian ini membuktikan bahwa adanya pengaruh dukungan sosial orang tua terhadap student well-being pada siswa SMA di Kota Padang (p < .05), semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi student well-being, begitu juga sebaliknya. Adapun nilai sumbangan efektif (R2) sebesar 0.322. Sehingga dukungan sosial orang tua memberikan pengaruh sebesar 32% terhadap student well-being pada siswa SMA di Kota Padang.
ILLNESS PERCEPTION DAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI SALATIGA Stella Karlina Prabowo; Arthur Huwae
Psibernetika Vol 15, No 2 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v15i2.3561

Abstract

Chronic kidney failure is a progressive deviation of kidney function so that the body finds it difficult to maintain metabolic balance. Kidney failure can be treated by complying with the recommended treatment, this is one of the behaviors performed by patients in response to the problems they are experiencing, with one of the factors which affect adherence, namely illness perception. This study aims to determine whether or not there is a relationship between illness perception and medication adherence in patients with chronic kidney failure. Data was collected using quantitative methods with a correlational design. The participants involved were 48 patients with chronic kidney failure in Salatiga using the snowball sampling technique. The data was collected using the illness perception scale and the medication adherence scale. The results showed that there was a significant positive relationship between illness perception and medication adherence in patients with chronic kidney failure in Salatiga. This implies that illness perception is one of the factors that contribute to treatment adherence of chronic kidney failure patients in Salatiga
PENGARUH SELF-COMPASSION TERHADAP SUBJECTIVE WELL-BEING PADA REMAJA PANTI ASUHAN KOTA PADANG Egha Febrianingsih
Psibernetika Vol 15, No 2 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v15i2.3738

Abstract

The aim of this study was to prove the effect of self-compassion on subjective well-being of orphanage adolescents in Padang City. The research method used in this study was a quantitative method with simple linear regression analysis technique. Participants in this study were composed of 150 orphanage adolescents aged 13-18 in Padang City. The participants were collected through accidental sampling technique. The instruments used in this research were the adaptation of The Satisfaction With Life Scale (SWLS)  and The Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) to measure subjective well-being, then Skala Welas Diri (SWD) to measure self-compassion. The result of this study showed that self-compassion has a significant effect on subjective well-being of orphanage adolescents in Padang City. It can be seen from the significance value which is .00 (p<.05). The R2 value was .245, which means that self-compassion effects subjective well-being of orphanage adolescents in Padang City by 24.5%.Keywords:  Subjective well-being, self-compassion, orphanage adolescents
BUILDING EFFECTIVE ORGANIZATION THROUGH QUALITY OF RELATIONSHIP BETWEEN LMX AND OCB: A META-ANALYSIS Samuel Dimas Suryono
Psibernetika Vol 15, No 2 (2022): Psibernetika
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/psibernetika.v15i2.3624

Abstract

Making the organization ideal and effective is every leader dream. Thanks to the “social problem-solving” phenomenon and a leader-centric view of leadership, leader is considered the most important person that bear this responsibility. This burden will eventually lead to high stress levels and affect the leader's performance; hence the ideal and effective organization need the dynamics of leaders and followers, not solely on leader’s shoulder. Leader-member exchange (LMX) is one theory that discusses this, especially the quality of leader-follower relationship. A good leader-follower relationship will give birth to ideal followers who contribute more. This contribution is measured by how much followers are willing to act outside of their usual duties, known as organizational citizenship behavior (OCB). If a leader wants to make the organization run effectively, leader should bring attention to LMX and OCB. This study is a meta-analysis study that aims to determine the effect size correlation between LMX and OCB. This research is based on 14 studies with a total subject of 4031 employees from various backgrounds. The analysis was carried out using the Meta-mar website (free-online meta-analysis service) and was based on the number of samples (N) and the correlation value (r). The results of the analysis of the random effect model obtained a value of r (effect size) of .32, indicating a medium effect size for the correlation of these two variables. Through this finding, the researcher highlights that leader should focus on LMX and OCB. However, it should be noted that the relationship between LMX and OCB is highly dependent on 1) work ethic based on the culture of a country, 2) differences in organizational culture across sectors, and 3) the existence of possible intermediary variables. Membuat organisasi menjadi ideal dan efektif adalah keinginan setiap leader. Berkat fenomena social problem solving dan pandangan leadership yang leader-sentris, leader (pemimpin) dianggap sebagai sosok terpenting yang memiliki tanggung jawab tersebut. Beban yang tinggi ini justru akan memunculkan tingkat stress tinggi dan akan memengaruhi kinerja leader. Sehingga organisasi ideal dan efektif tidak akan tercipta melalui kemampuan leader seorang. Perlu dinamika leader dan follower dalam konstruksi leadership yang efektif. Leader-member exchange (LMX) adalah salah satu teori yang membahas mengenai hal tersebut, khususnya mengenai kualitas relasi atasan (leader) dan bawahan (follower). Relasi leader dan follower yang baik akan melahirkan follower ideal yang berkontribusi lebih terhadap organisasi. Kontribusi ini diukur dari seberapa besar follower mau bertindak di luar tugasnya, atau yang lazimnya dikenal sebagai organizational citizenship behavior (OCB). Sehingga jika seorang leader ingin membuat organisasi berjalan dengan efektif, dapat memunculkan perhatian pada LMX dan OCB. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian meta-analisis yang bertujuan untuk mengetahui besaran effect size korelasi antara LMX dan OCB. Penelitian ini didasari dengan 14 penelitian dengan total subyek sebesar 4031 karyawan dan bawahan dari berbagai latar belakang. Analisis dilakukan menggunakan website Meta-mar (free-online meta-analysis service) dan didasari pada jumlah sampel (N) dan nilai korelasi (r). Hasil analisis dari random effect model memperoleh nilai r (effect size) sebesar .32, menunjukkan adanya medium effect size untuk korelasi kedua variabel ini. Melalui temuan ini peneliti menyoroti bahwa leader perlu membina LMX yang baik untuk memunculkan OCB pada followernya. Namun perlu diperhatikan bahwa relasi LMX dan OCB sangat bergantung pada 1) etika kerja berdasarkan budaya sebuah negara, 2) perbedaan kultur organisasi lintas sektor, serta 3) keberadaan kemungkinan variabel perantara.